FATE [Chapter 4]

Posted on

Title: Fate

Cast/pair: Lee Donghae – Kim Kibum/KiHae

Genre: Romance, Hurt (?), Family

Rating: K

[CHAPTER 4]

Donghae tengah termenung, meratapi kejadian Satu tahun yang lalu, saat Eunhyuk, saudara kembarnya masih ada bersamanya..

“Apa kau begitu ingin jam tangan itu, Hae?”

Donghae mengangguk lemah, saat Eunhyuk bertanya padanya. Mereka tengah duduk di atas ranjang, mengingat ruang tidur yang memang milik berdua. Tak ada ruangan lain di rumah mereka, selain satu kamar tidur, satu kamar mandi, juga ruang tengah dan sedikit ruang dapur menempel disana.

Kehidupan dua kembar itu, memanglah sedikit kurang beruntung setelah ditinggal kedua orang tuanya. Mereka masih duduk di kelas 2 sekolah atas saat itu, saat kedua orang tuanya meninggal bersamaan dalam sebuah kecelakaan.

“Kau tak usah pikirkan. Aku akan membelinya jika sudah bekerja nanti.” Balas Donghae sambil merebahkan dirinya. Ia lalu menepuk ruang kosong dipinggirnya. “Tidurlah. Kau pasti lelah bekerja seharian.” Ujar Donghae, yang saat itu mengganjalkan kedua tangannya di bawah kepalanya.

Keduanya terdiam, hingga Donghae menggulingkan badannya, menghadap ke arah Eunhyuk. “Kau sebenarnya dapat uang darimana?” Tanyanya tiba-tiba.

Eunhyuk berdehem, lalu membalikkan badannya ke arah lain, menghindari pertanyaan juga tatapan kesungguhan dari seorang Lee Donghae saat itu. “Sudah kubilang jangan tanyakan itu! Kau hanya harus fokus pada kuliahmu. Selesaikan! Bekerja, lalu giliranmu membalasnya padaku..”

“Itu yang jadi bebanku!! Itu yang selalu menggangguku..” Timpal Donghae.

Eunhyuk kembali terbangun, lalu menghadap ke arah Donghae. “Kenapa harus berfikir seperti itu? Kau hanya harus menghargai usahaku, dan belajar dengan lebih giat!” Omel Eunhyuk.

Donghae tersulut amarah, turut mendudukkan badannya. “Aku, aku berfikir, bagaimana mungkin, aku hanya duduk manis di bangku sekolah, sementara kau membanting tulang untuk membiayai semuanya! Kita bahkan seumuran. Seharusnya kau merasa tak adil akan hal itu!!”

“Aku rela, untukmu Hae-ya!” Balas Eunhyuk, menepuk pundak Donghae sambil tersenyum. Memanglah dirinya merelakan masa depannya untuk saudaranya. Salahkan otaknya yang tak sepintar Donghae, juga biaya yang tak mencukupi, membuatnya mengambil keputusan, memutuskan sekolahnya, bekerja demi membiayai saudaranya. Ia juga tak pernah mengijinkan Donghae bekerja. Lalu darimana ia mendapat uang untuk membiayai hidupnya juga Donghae?

Donghae mendapati ponselnya yang terus saja berdering. Sejenak ia melihatnya, lantas melemparnya ke ranjang, saat tahu itu adalah Kibum. Ia benar-benar sedang tak ingin diganggu oleh Kibum yang sempat membuatnya mengingat masa lalu pahitnya. Ia tengah membenci orang yang sangat dicintainya tersebut. Donghae menutup matanya, kembali terbuai akan masa lalunya yang buruk, saat satu tahun lalu pula ia mengetahui darimana uang yang selama ini dihasilkan saudaranya.

“Kau memukul orang demi mendapatkan uang? Apa sejak dulu kau menjadi seorang tukang pukul? HAH?!” Raung Donghae saat itu. Ia mendapati wajah Eunhyuk yang babak belur saat pulang. Dan Donghae? Juga sempat melihat perkelahian Eunhyuk, lalu membuntuti Eunhyuk, dan akhirnya tahu, Eunhyuk yang dibayar setelah saudaranya itu, memukul orang lain hingga tak sadarkan diri.

“Maafkan aku, Hae!”

Donghae menutup telinga juga matanya. Ia hendak pergi meninggalkan Eunhyuk jika saja Eunhyuk tak menahannya. “Lepaskan! Kau menyebalkan!! Kau jahat!! Ibu dan ayah tak mengajari kita hal seperti itu, Lee Hyukjae! Lebih baik aku tak sekolah daripada memakan uangmu!!” Raung Donghae.

“Ini..” raungan Donghae terhenti, saat Eunhyuk menunjukkan sebuah jam tangan yang sangat diinginkan Donghae.

Donghae terpaku, ia akhirnya melihat Eunhyuk dengan mata berkaca. “Aku tak butuh ini. Aku tak ingin ini jika kau harus terluka!!”

“Aku hanya ingin memberimu ini. Aku janji, aku akan berhenti berkelahi, aku akan mencari pekerjaan. Tapi terimalah ini..”

Untuk sesaat Donghae ragu. Namun ia mengambil jam itu, meski wajahnya masih mendung. “Kau janji?” Ucapnya.

“Aku berjanji ini yang terakhir kalinya.”

Donghae kembali termenung. “Jam ini mahal sekali Hyuk! Dari upahmu yang kulihat tadi, kau tidak mungkin. Kau dapat uangnya darimana?” Selidik Donghae. Ia seperti tak ingin tertipu untuk kedua kalinya.

“Ini.. Ini tabunganku. Percayalah!”

“Maaf aku telah marah.” Tutur Donghae selanjutnya. “Aku hanya hawatir padamu. Aku..” Donghae yang cengeng menangis sekarang.

Eunhyuk memeluk Donghae, ditepuknya punggung saudaranya itu. “Aku tak apa-apa. Jangan menangis.”

“Kau tahu, hanya kau yang kupunya di dunia ini!”

“Aku tahu.. maaf.”

Donghae tersenyum. Ia membuka laci lemari di dekat ranjangnya. Nampaklah sebuah jam tangan dari sana. “Ini?” Ucap Donghae mengacungkan jam tangan tersebut. “Benda ini bahkan telah membunuhmu. Aku tak percaya!” Decak Donghae. “Aku bersumpah! Akan mengembalikkan ini kepada pemiliknya.” Tuturnya tersenyum miris.    

Kibum membanting ponselnya. Berulang kali ia menghubungi Donghae, namun Donghae tak kunjung mengangkatnya. Ia menganggapnya wajar, mengingat Donghae memang sangat marah padanya.

“Ada apa?”

Kali ini Heechul kembali bergabung, menemani Kibum. Ia terduduk di samping Kibum lalu merangkul adiknya tersebut. Ini jarang terjadi. Bahkan Siwon dan Sungmin, terharu melihat kedekatan adik kakak tersebut.

“Dia tak mau mengangkat telponku.” Adu Kibum.

“Hm.. biarkan aku menemuinya kalau begitu.”

“Huh?”

“Aku akan menemuinya, tidak boleh?” Ujar Heechul, terlihat kesal karena Kibum terlihat tolol saat ini, berpura-pura memasang wajah kaget.

“Tidak! Kau malah akan memperburuk suasana.” Tolak Kibum.

“Ya! Anak kurang ajar! Tentu saja tidak. Aku akan membantumu.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu mari pergi..”

Donghae sedang membersihkan ruangan tengah di rumahnya saat pintu di ketuk seseorang. Awalnya ia ragu untuk membuka pintu. Takut bila itu adalah Kibum. Namun, akhirnya ia tahu yang di luar pintunya kini bukanlah Kibum, melainkan orang asing yang sepertinya baru ia lihat.

“Siapa?” Tanyanya saat ia bertatap muka langsung dengan sang tamu. Tamu yang begitu cantik, meski Donghae yakin, ia adalah laki-laki seperti dirinya. Laki-laki itu sangat cantik.

Tamu itu mengulurkan tangannya, sambil berucap “perkenalkan” dengan sangat ramah, “aku Kim Heechul.”

“Eh?” Donghae diam mendengar marga kekasihnya turut hadir di dalam nama orang tersebut.

“Aku adalah hyung dari seorang Kim Kibum.” Jelas Heechul.

Memanglah Donghae sedang sangat marah pada Kibum. Namun tak ada alasan baginya untuk ikut serta memarahi sang hyung. Donghae lalu membungkukkan badannya dengan hormat lalu membalas uluran tangan Heechul. “Aku Lee Donghae, sepertinya anda sudah tahu.” Ucap Donghae, mencoba tersenyum, sebagai bentuk sambutan positif yang ia berikan kepada Heechul.

“Tentu saja, makanya aku kemari. Aku ingin membicarakan adikku. Ada yang perlu kau ketahui, umh, bolehkah aku masuk?”

“Oh! Tentu saja. Silahkan masuk. Kita bicara di dalam.”

Kibum mempererat kepalan jari-jari tangannya. Ia terlihat gelisah apalagi disaat ia melihat Heechul yang dengan mudahnya dapat membuat Donghae tersenyum, juga dapat masuk ke dalam rumah Donghae. “Mereka sedang bicara apa?” Gumamnya, membuat Sungmin yang tengah berada di kursi kemudi melirik Kibum, sambil tersenyum. “Mana kutahu!!” Balas Sungmin.

“Kuharap dia berhasil.”

“Ya.” Sungmin tersenyum. “Jika ada Siwon, maka aku akan punya teman untuk menggodamu sekarang. HaHa..”

“Ish.. jangan mengejekku hyung!!”

Sementara di dalam rumah, Heechul tengah terlibat perbincangan kecil dengan Donghae sambil sesekali menyeruput teh yang disuguhkan Donghae. “Dia tak seperti yang kau kira. Dia orang baik. Percayalah padaku.” Ujar Heechul.

“Tapi aku melihatnya sendiri, dia begitu mudahnya dikuasai emosi.” Ucap Donghae dengan sedikit bantahan akan ucapan Heechul tentang seorang Kim Kibum.

“Dia mencemaskanmu, tentu saja.”

“Tapi..”

“Jujur, dia memang agak sedikit keras. Itu karena salahku, salahku yang mendidiknya. Maaf.. karena suatu hal, aku agak keras padanya. Itulah sebabnya, bahkan ia lebih dekat dengan bodyguardku daripada denganku. Aku meminta maaf padamu..”

“Bukan begitu maksudku..”

“Tolong maafkan dia, Donghae.” Tutur Heechul penuh penyesalan. “Aku berjanji dia akan lebih baik bila bersamamu. Dia akan merubah semuanya. Dia begitu mencintaimu.”

Hyung..”

“Maafkan dia, ya?”

Donghae menatap Heechul dengan mata sayunya. Ia sedikit terkejut saat Heechul ternyata menggenggam tangannya, dan menatapnya penuh harap. Detik berikutnya Donghae mengangguk kecil.

“Oh, terima kasih!!” Ucap Heechul riang, menepukkan kedua telapak tangannya pada pipi Donghae. “Dia ingin bertemu denganmu sekarang juga.” Lanjutnya.

“Sekarang?!!” Tanya Donghae terlihat panik seketika.

“Dia ada di mobil. Kau tak keberatan, bukan?!”

Hyung pulang. Nanti Siwon yang menjemputmu.” Pesan Heechul sambil tersenyum setelah sebelumnya menyuruh Kibum untuk masuk, karena ia bilang, Donghae dapat menerimanya kembali, dengan mudah? Sangat mudah malah.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Giliranmu yang menurut sekarang, Kim Kibum. Anggap saja kau berbalas budi padaku.”

“Shit! Pulang sana!”

“Anak sialan! Aku pulang. Kita berangkat Lee Sungmin!!”

“Baik.” Ucap Sungmin dengan patuh.

Akhirnya Kibum dapat bernafas lega. Ia menatap kepergian Heechul dengan senyumnya. Lantas selanjutnya, ia melangkah mendekati kediaman Donghae, meski dengan sedikit ragu. “Ugh, benarkah kau tak marah lagi?” Gumamnya, terdengar pula sebuah ringisan kecil.

Ia menatap bagian depan rumah Donghae tersebut, dan beberapa kali menelan paksa ludahnya. Ia juga benar-benar menghentikan langkahnya disana. Jika boleh jujur, Kibum sangat takut saat melihat Donghae marah kemarin. Ada banyak musuh yang sudah banyak dijumpainya, dan ia tak pernah gentar. Namun Donghae? Sungguh membuatnya takut. Sangat takut! Rasa kehilangan, itulah jawabannya. Kibum terlalu takut kehilangan Donghae..

“Tak ingin masuk?”

Tanpa Kibum sadari Donghae tengah berjalan ke arahnya, dan Kibum terdiam menatap Donghae yang mendekat. Terkunci pada Donghae yang juga menatapnya sambil berjalan ke arahnya. “Hae..”

“Menyuruh kakakmu untuk membujukku, eoh? Anak-anak sekali!!” Sindir Donghae.

“Bukan. Itu..” Kibum menghentikan ucapannya. Terkejut saat Donghae meraih jemarinya.

“Apa ini sakit?” Tanya Donghae, memperhatikan tangan tersebut. Ada sedikit memar disana. Kibum bahkan tak ingat ada luka disana, karena ia sibuk menenangkan hatinya yang sakit setelah mendapat cacian dari Donghae kemarin.

“Tak apa. Luka kecil..” Sergah Kibum, menarik tangan tersebut.

“Tetap saja itu adalah sebuah luka. Ini yang kutakutkan. Mengapa aku benci kekerasan. Itu akan membuatmu terluka.” Tutur Donghae, kini menyentuh wajah Kibum. “Mengertilah. Jangan anggap aku berlebihan. Aku hanya takut.”

Kibum begitu terharu akan ucapan Donghae, yang bahkan ia yakin, Donghae sangatlah tulus, setelah melihat mata sayu Donghae yang kini mulai berair. Kibum memegang tangan Donghae yang tersampir di wajahnya. “Jangan takut pada apapun selama aku di sampingmu.” Ujarnya menatap lembut ke arah Donghae.

“Bodoh! Aku takut kau pergi meninggalkanku suatu saat nanti.”

“Tidak akan. Aku berjanji.”

“Jangan katakan janji apapun padaku. Jangan pernah berjanji!!” Seolah teringat, Donghae kembali teringat akan janji yang sebenarnya, bisa berubah tanpa dapat di duga.

“Aku sungguh-sungguh..”

“Kau tahu? Karena aku pernah mengalaminya, Kim Kibum.”

Kibum mendengar Donghae yang berujar lirih kini. Menunduk menyembunyikan tangisnya. Dan Kibum tak dapat berbuat apapun selain memeluknya dengan hangat.

“Aku pernah kehilangan!” Ucap Donghae yang mulai menangis dalam pelukan Kibum. “Jadi jangan pernah menjanjikan apapun. Jangan!”

Mereka akhirnya larut dalam sebuah keheningan, meski sebuah kehangatan tercipta sejak mereka, saling menyatukan tubuh mereka, diiringi isak seorang Lee Donghae.

Mereka berbaikan. Kabar bagus, meski semuanya masih samar bukan?! Yang tahu hanyalah Kim Heechul, beserta Choi Siwon juga Lee Sungmin, yang berusaha dengan ketat, menjaga hubungan itu demi kebahagiaan keduanya. Manis bukan? Tak ada orang ketiga. Tak ada pertimbangan status sosial dalam hubungan itu. semua terjalin sempurna. Sangat sempurna!!

“Kau bisa mengantarku bukan?!” Tanya Donghae sambil mengaitkan tangannya pada tangan Kibum, yang kini tengah terduduk di atas sofa ruang tamunya.

“Kemana?” Tanya Kibum singkat.

“Bukankah kau ingin tahu saudaraku?”

Kibum menatap Donghae sekilas, lalu tanpa aba-aba, langsung berdiri. “Sekarang?”

“Ya.”

Keduanya berjalan beriringan. Menuju sebuah tempat, dimana Donghae ingin menunjukkan saudaranya pada Kibum. Semua sudah jelas bukan? Tak perlu menebak, karena memang benar. Donghae membawa Kibum ke tempat pemakaman, yang tak jauh dari kediaman Donghae.

Kibum mencoba berfikir, berulang kali menatap Donghae, lalu menatap sebuah nisan di depan mereka bergantian. “Dia meninggal?” tanyanya tak percaya, karena sungguh ia sama sekali tak tahu.

“Hm.. satu tahun yang lalu.”

“Oh. Maaf, aku tak tahu..”

“Bukan salahmu.” Balas Donghae, lalu berjongkok di depan nisan saudaranya tersebut. Ia melontarkan beberapa ucapan juga do’a, bahkan sempat mengenalkan Kibum.

“Namanya Lee Hyukjae?” Tanya Kibum memecah keheningan.

“Iya.”

“Oh.” Kibum mengernyitkan keningnya. “Aku merasa pernah mendengarnya, tapi dimana ya?” Gumamnya sangat pelan, tak ingin mengganggu Donghae yang tengah serius berdo’a.

“Sekarang kita kemana?” Tanya Kibum. Baru saja mereka mengunjungi pemakaman saudara Donghae, sekarang Donghae mengajak Kibum ke tempat lain.

“Kantor polisi.” Jawab Donghae singkat.

“Huh? Untuk apa kau kesana?”

“Ingin memberikan sesuatu pada seseorang disana. Tenang saja, bukan selingkuhanku.” Jawab Donghae, mendelik nakal ke arah Kibum.

“Ada begitu banyak hal yang tak kuketahui tentang dirimu ternyata.” Ucap Kibum tiba-tiba. Ia lalu merangkul Donghae. “Aku begitu penasaran. Dan lebih menyukaimu sekarang.”

“Akupun begitu..” Ucap Donghae, tersenyum sambil menyampirkan tangannya di pinggang Kibum. Mereka kembali berjalan beriringan, melawan arus angin yang tengah dengan sejuknya, menerpa tubuh keduanya, mengusap helaian rambut mereka.

Kibum tengah terduduk di kursi depan, menuju sebuah kantor polisi. Sebelumnya ia telah meminta ijin pada Donghae, agar tak ikut masuk, dan Donghae menyetujuinya. Dengan sabar ia menunggu Donghae, sambil sesekali bersiul, yang sebenarnya, siulan itu, ia ciptakan untuk menghilangkan rasa gugupnya sekarang. Ya. Kibum terlihat sangat gugup semenjak meginjakkan kakinya di depan gedung kantor polisi tersebut. Ia bahkan beberapa kali menundukkan wajahnya saat beberapa polisi melewati tempatnya. “Kenapa disini!!” Rutuknya pelan.

Ia terus menguatkan diri, melawan rasa gugupnya, hingga di dengarnya suara teriakan Donghae dari dalam. Tanpa mengingat apapun, Kibum berlari ke dalam. Ia sungguh mendengar Donghae menjerit dan berteriak.

“Itu tak adil!! Kenapa hukumannya dengan cepat berakhir!! Aku tak rela, ia hanya dihukum satu tahun setelah menghilangkan nyawa saudaraku!! Aku tak terima!!!!!” begitulah racauan Donghae disana.

Para polisi ikut berdiri, menyaksikan Donghae yang mengamuk di salah satu meja polisi. Dan semua? Beralih menatap ke arah Kibum saat Kibum datang. Tentu saja!!

“Donghae, ada apa?” tanyanya menghampiri Donghae yang histeris.

“Dimana keadilan di negara ini, HAH?!!!” teriak Donghae.

“Hey! Tenanglah..” Bujuk Kibum. Ia menahan tangan Donghae, yang sepertinya akan mengobrak-abrik meja di depannya tersebut, meski semua polisi di ruangan tersebut, hanya menatap Kibum, tak percaya.

“Bagaimana bisa diam, mereka..” Pekik Donghae, namun tak berlanjut, setelah ia berbalik dengan kasar ke arah Kibum, dan melihat sesuatu, suatu tanda di salah satu tangan Kibum, yang baru disadarinya, juga mampu membuatnya benar-benar berhenti bicara. “Kau?” bisiknya menatap Kibum..

TBC

Apa ceritanya terlalu sulit? Tidak kan ya? Kecepetan? Maaf.. >.<

22 thoughts on “FATE [Chapter 4]

    isfa_id said:
    Oktober 27, 2012 pukul 5:14 pm

    masih bingung *saya memang selalu bingung*

    LANJUUUTTTTT!!!!!!!!!!

    Mea Hae said:
    Oktober 27, 2012 pukul 5:43 pm

    sesek, kecepetesan sih eon, tapi aku deg2n,
    menghrukan, sayang soalnya eon kesanya terburu2…
    ahh, kupikir hae itu tahu tapi pura2 ga tahu,
    trus tiba2 bawa bum kekantor polisi,

      sugihhartika responded:
      Oktober 27, 2012 pukul 10:44 pm

      Hm. bener Mea. Aku juga ngerasa, ini berasa terburu-buru banget. setelah baca ulang. nanti chapter berikutnya akan lebih apik, semoga.🙂

      Hae belum tahu lho. tar lah tunggu chapter selanjutnya aja.😀

    haerkim said:
    Oktober 28, 2012 pukul 3:00 am

    donghae liat euhyuk dbnuh tp g tau klo nyank bunuh kibum gtu..
    Dtangan kbum da tanda pa?
    Donghae ngenalin pembunuh.a dr tanda ntu..?
    Duh tambah pnsaran..
    Update kilat eon..,

    #btw tu polisi kagak da yg knal kibum y?#

      sugihhartika responded:
      Oktober 28, 2012 pukul 6:52 am

      tu polisi kenal ama Kibum. makanya mereka pada liatin Kibum daripada liatin Hae yang ngamuk. ada kan penjelasannya?😀

    Eun Byeol said:
    Oktober 29, 2012 pukul 9:26 am

    Mianhae bru bs comment, eonn..

    Ngebut bacanya ini..

    Trnyta Kibum yg mmbunuh hyungnya toh..

    Trs gmna nasib percintaan KiHae??

    Lanjuuuut, eonn..

    Osi Dwi Olyvia said:
    Oktober 29, 2012 pukul 9:48 am

    agak2 ngebut di chap ini eon
    nggak kebayang kalau KiHae tau yg sebenarnya ><
    ditunggu lnjutannya eon😉

    Nelly Key Donghae said:
    Oktober 30, 2012 pukul 4:51 am

    kau apa ??? donghae melihat tanda apa ??

    hyukkie,,, knapa kau harus mati dngn cara sperti itu.. hiks.. segitu sayangnya kh kau pada adikmu,,😥 #terharu

    haera said:
    Oktober 30, 2012 pukul 7:32 am

    bleh mnta password fate ep 1 & 2 ga?
    klo bleh tlong krim ke email 151096haera@gmail.com nie ya…
    Terima kasih sebelumnya…
    ^_^

    lee sae hae said:
    Oktober 30, 2012 pukul 10:07 am

    Jadi?? Yang bunuh Hyuk itu Kibum?? Yahhhh.. Pasti bakalan ribet deh hubungan Kihae.. Kasian Kihae harus menderita terus.
    Tapi pasti bakal jadi seru juga ceritanya..
    Kerennnn eonn ceritanya. Bagus banget.
    Seruuuuuuu

    ainun_lara said:
    Oktober 31, 2012 pukul 12:35 am

    Apa-apa ?,kau apa Hae ?,Hae tau kalo Kibum yg membunuh Hyukjae? Ngenes banget pas baca part EunHae ,Hyukjae banyak berkorban dan mati ditangan orang yg kemudian dicintai Donhae.

    Raihan said:
    Oktober 31, 2012 pukul 2:06 am

    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaa manis…kaga ada org ketiga, kaga ada org tua yg menghalangi tapi keadaan ohh Sugih, aku ingin menjitak mu sekarang juga, akkkhhhhhhhhhhh..

    Donghae udah tau kalo Kibum yg ngebunuh Eunhyuk?..pasti dendam pake banget dah?..aku baca part 5nya sekarang #meluncurrrrrrrrr

    Kerennnnnnnnnnnnn ^_<

    hima_kawaii said:
    November 2, 2012 pukul 10:14 am

    wah… tanda apa itu di tangan kibum????
    uhm admin, minta pswdnya untuk chap 5 dong😀
    umur 19 (klo dibutuhin -___-)😄

    kawaii_jj@yahoo.com

    thank you🙂

      sugihhartika responded:
      November 2, 2012 pukul 11:57 am

      Heu.. makasih udah mau review. Ufufufu~

      chap 5 bukan NC kok. Heu~ tar dikirim ya.

    LeeLee said:
    November 2, 2012 pukul 10:28 am

    wooaahhh ! di sini udah update chap 5 !
    Blog nya unyuk-unyuk !
    ikan ikan gitu , terus ada umpannya lagi ! hahah . .

    donghae tau ? UDAH TAU ?
    tanda hitam itu ya ?
    ADUHHH penasaran baca chap selanjutnya , yang di protect itu LHO .

    arumfishy said:
    November 3, 2012 pukul 5:45 pm

    kiarin chapter 4 nya udh di ffn,pnts aku bc part 5 g nymbung hehehe…

    Lullu said:
    Desember 28, 2012 pukul 8:50 am

    Apa hae mulai sadar..?
    Andwaeee.. Mereka baru aja baikkan…

    Eonni, maafkan aku, ne…?

    niea_clouds said:
    April 25, 2013 pukul 8:48 am

    Huh , nyesek . . .
    Hae ngliat tanda di lengan Kibum ,apa itu tnda yg di kenali Hae sbg pembunuh eunhyuk ?

    NemoSnower said:
    Juni 14, 2013 pukul 5:58 pm

    Chap yg ni lbh pndk ,,,
    Kirain hae bkl d apa2in chul 0_0 ,ternyata cmna ngbujuk hae doank…. Fiuhh untnglha ga d gebukin

    casanova indah said:
    Oktober 10, 2013 pukul 8:36 am

    sumpah ikut nyesek baca’a…
    penasaraaaan…….
    lanjut ah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s