MIANHAE

Posted on

Title : Mianhae

Cast : Lee Donghae – Kim Kibum

Genre : Romance – Fluff (?)

Summary : Mereka hanya ingin menghabiskan waktu bersama. Dimanapun dan kemanapun, dalam keadaan saling memiliki. 

.

*Cerita singkat nan sederhana dari saya. Masih dengan couple kesayangan saya😄. Semoga berkenan.. ^^


MIANHAE

[Oneshot]

Dalam redup, perlahan, dengan suara pelan mengiringi akibat bergeseknya benda, baik yang tidak, ataupun yang sengaja ia sentuh. Ia sentuh beberapa benda itu, ia pindahkan ke tempat lain. Sangat pelan.

Baju, serta peralatan pakaian yang lain. Hanya itu. Ia masukkan ke dalam tas hitam yang sudah siap dalam keadaan terbuka di sampingnya. Ia masukkan semua pakaiannya, hingga tak bersisa satupun dalam lemari yang bahkan telah terisi oleh baju-bajunya tersebut hingga 15 bulan lamanya.

“Hiks.”

Suara isakan turut mengalun, mengiringi tiap helaian baju yang memasuki tas hitam miliknya. Ia begitu terlihat rapuh. Air mata yang berjejalan di kedua matanya, telah membuktikan sebuah rasa sakit yang tengah dirasa olehnya.

Selang beberapa menit, semua nampak selesai. Ia benahi tasnya, lantas menutupnya rapih. Tak ada alasan untuk terus terdiam, hingga akhirnya ia beranjak sambil membawa tasnya. Ia berjalan ke arah pintu, hingga mendapati sosok lain yang tengah berdiri, memunggunginya, sambil menatap lurus ke arah jendela yang basah, terkena terpaan hujan yang beberapa jam lalu mengguyur kediaman itu.

“Kibumie..” Ucapnya terdengar memanggil dengan suara serak sambil menahan tangisnya. Tak ada jawaban dan itu membuatnya semakin menundukkan kepalanya, juga merekatkan kepalan tangan yang tengah menggenggam tali tas miliknya.

Kemudian, dengan keberanian yang tersisa, juga sebuah keyakinan untuk menguatkan dirinya, ia dongakkan kepalanya, meski itu membuat air matanya bertumpahan dengan seketika. Namun ia tak bergeming, dan lalu mengatakan “aku pergi..” ucapnya.

Sosok lain di depan jendela itu akhirnya sedikit menolehkan kepalanya, lantas berucap “Hm. Pulanglah.” Dengan sangat dingin.

Kata itu sangat dingin. Begitu menyakitinya. Bukan itu yang ia harap. Bukan seperti itu. Adakah niat bagi seseorang yang telah ia panggil namanya itu, untuk melarangnya pergi? Nyatanya itu tak ada. Kim Kibum di depannya saat ini, bahkan tak melarangnya pergi. Kim Kibum yang bagai orang lain baginya..

Maka, dengan suatu kepasrahan, ia langkahkan kakinya dengan gontai sambil sedikit menyeret tas di tangannya menuju pintu keluar. Ia benar-benar tak mempunyai alasan untuk tinggal, mengingat sang pemilik rumah, nampaknya tak menginginkannya lagi. Begitulah pikirnya..

Ceklek..

Bahkan pintu tertutup, dengan sangat pelan, mengantar kepergiannya dalam sebuah keraguan. Ia benar-benar tak ingin pergi sebenarnya, namun, semua tetap pada keputusan sang pemilik rumah bukan?

Sang pemilik rumah, Kim Kibum, yang kini, juga nampak memandang nanar ke arah pintu yang sudah tertutup kembali dengan sangat rapih.

“Selamat tinggal.” Ucapnya kemudian sambil menunjukkan sebuah senyuman yang bahkan terlihat sangat pahit. Terlalu dipaksakan.

Kemudian ia beranjak. Mengambil posisi terduduk di atas sofa, seperti enggan memandang kepergian sosok itu, yang sepertinya akan nampak pada sebuah jendela yang sejak tadi ia lihat. Dan ia? Tak ingin melihat langkah sosok itu, yang akan menjauh, menjauh, dan semakin menjauh.

Senyuman kembali nampak di bibirnya, bersamaan dengan gurat kesedihan yang terlihat di sebagian wajah yang tak tertutupi tangannya, yang tengah memijit pelan keningnya.

“Maafkan aku, Hae..” Kembali ia bergumam, menggumamkan nama sosok itu. Sosok yang bahkan telah hidup bersamanya dalam waktu yang lama. “Maaf..” Ujarnya, hingga, suara petir menggelegar, sangat menyeramkan, membuatnya terlonjak kaget. Ia melihat ke arah jendela, dan mendapati hujan yang semakin deras diiringi beberapa suara petir menyambar.

Kibum mengingat, saat dimana ia masih bersama, dan meninggalkannya seorang diri di rumah, ditemani hujan yang mengguyur seperti saat ini. Dengan terisak, ia mendengar suaranya di balik telpon, yang sebenarnya, membuatnya harus tertawa saat itu.

“Aku takut petir, Bumie. Pulanglah..”

Begitulah katanya. Namun saat ini, kata itu terngiang dan menimbulkan rasa hawatir yang begitu dalam. Ia, yang membuat Kibum hawatir. Ia yang berada di bawah hujan dan petir, yang sangat ditakutinya. Ini adalah pikiran Kibum.

Maka tanpa berfikir apapun, ia terburu-buru, memburu pintu, lantas sedikit berlari menerobos hujan deras, sambil terus bergumam “Donghae” juga “Donghae” dan “Donghae” yang terus di ucapkannya.

Hujan di malam hari, memanglah sangat mengerikan. Begitu gelap, dan juga sangat dingin.

Kibum masih saja melangkahkan kakinya, tetap bertahan di bawah hujan, dan juga mengabaikan rasa dingin yang seolah menusuk setiap kulit di tubuhnya. Matanya tak berhenti memandang setiap sudut jalan yang mungkin saja dilalui Donghae, namun seolah tertelan hujan, bahkan Donghae tak meninggalkan jejak. ‘Mungkinkah ia pergi secepat ini?’ Batin Kibum.

“Kau dimana Hae?” Tanya Kibum, dengan suara yang hanya dapat termakan oleh suara derasnya hujan. Ia terus mencari, terus dan terus, ditemani rasa sesal yang begitu membuncah.

Menyesal karena telah menyakiti Donghaenya. Menyesal karena telah mengabaikan Donghaenya belakangan ini. Menyesal karena bahkan berani mengusir Donghae dari rumahnya. Kim Kibum, menyesal atas segalanya.

Rasa sesal, yang begitu menunjukkan, bagaimana ia mencintai Donghae. Donghae yang bahkan menemani harinya, ataupun sebaliknya, dalam waktu yang sangat panjang.

“Ini rumahmu?”

Begitulah kata pertama Donghae saat Kibum, membawa pria manis itu ke rumahnya yang terbilang sederhana.

“Maaf, karena ini bahkan tak bisa dibandingkan dengan rumahmu yang bagai istana itu, Hae.”

Kala itu, Donghae tersenyum sangat manis dan tulus, serta sedikit menepuk lengan Kibum. “Aku tak akan membiarkanmu merendahkan diri seperti itu, Kim Kibum!” Rutuknya dengan tawa ringan terlontar.

Kibum membalas senyum itu, sambil mengambil nafas lega. Ia tahu, Donghae, yang menurutnya, berada pada status yang lebih tinggi di atasnya, mengingat ia adalah salah satu pewaris tunggal, pemilik perusahaan terbesar di Korea Selatan, tak memiliki hati yang begitu tinggi. Buktinya, bahkan Donghae mencintainya. Mencintai seseorang yang sesungguhnya, bahkan tak mempunyai siapapun dalam hidupnya.

“Boleh aku masuk, Bumie?” Tanya Donghae kemudian, memecahkan sepi yang beberapa menit lalu melanda.

“Oh! Tentu saja.” Balas Kibum, dan pintu, pintu di rumahnyapun terbuka, mempersilahkan sang pujaan hati untuk segera memasukinya.

“Kecil tapi sangat nyaman!” Komentar Donghae, sambil menyimpan tasnya di atas sofa. Ia tak henti memutar pandangnya ke segala penjuru ruangan, atau lebih tepatnya, salah satu ruangan yang tengah ditempatinya saat ini.

“Terima kasih.” Balas Kibum sambil mengangkat tas Donghae. Membawanya menuju ruangan lain.

Donghae mengekori Kibum dari belakang. Ia tahu, kemana Kibum akan membawanya juga barang miliknya. Hingga tiba di sebuah ruangan yang ditempati sebuah ranjang kecil, juga terdapat lemari yang juga kecil disana.

“Maaf.” Kembali Kibum membuka percakapan, sambil menyimpan tas Donghae di atas ranjang. “Ruangan yang kecil, ranjang, juga lemari yang bahkan tak memadai untukmu.”

Donghae mencibir. Sejenak ia berkacak pinggang, lantas dengan cepat, kedua tangannya menyambar pipi Kibum, lalu dengan sedikit berjinjit, meraih bibir Kibum dengan bibirnya, menciptakan sebuah kecupan singkat. “Kubilang jangan merendah!” Ujarnya, terlihat memberikan sebuah peringatan.

“Aku tak janji.” Jawab Kibum, sambil meraih pinggang Donghae, lantas memeluk tubuh Donghae. “Sebaiknya kau pulang sebelum kau menyesal nanti.” Tuturnya kemudian.

Donghae nampak tersenyum di balik bahu Kibum. Lalu ia menggeleng yakin. “Rumahku adalah disini, bersamamu.” Bisiknya pelan, sambil mengeratkan pelukannya. Menempel erat pada tubuh Kibum, yang nyatanya tak melakukan hal lebih. Atau lebih tepatnya, Kibum, seolah tak berani menyentuh Donghae lebih jauh.

“Terima kasih.” Gumam Kibum..

Donghae tengah membenahi baju-bajunya ke dalam lemari yang sepertinya memang disiapkan Kibum untuknya. Ia tentu harus melakukan itu, di hari pertamanya ia menginjakkan kaki di rumah yang baru itu baginya.

Di menit lain Kibum kembali datang, lalu terduduk di dekat Donghae yang tengah duduk menyilang menghadap pada lemari yang terbuka. “Apa benar mereka tak apa-apa?” Tanyanya.

Donghae menoleh. “Ayah ibukah maksudmu?” Tanyanya dengan sebuah senyuman yang sepertinya tak ingin meninggalkan wajah manis itu.

Kibum mengangguk.

“Tentu saja mereka akan marah! Kau tahu seperti apa mereka bukan?” Jawab Donghae kemudian, sambil melipat salah satu bajunya. “Kau itu, bukan satu atau dua hari menjadi pengawalku, Kim Kibum!!” Peringatnya kemudian.

Kibum mengangguk. Memang benar adanya. Ia adalah satu-satunya orang yang mendampingi Donghae sejak Donghae masih kecil. Kedua orang tuanya memang terlalu sibuk, bahkan hingga sekarang.

“Tapi, aku merasa telah menghianati majikanku sendiri, Hae. Aku membawa kabur putra kesayangan mereka.”

Kembali Donghae tesenyum, kali ini sambil tertawa renyah. “Aku menyukai pernyataanmu itu, Bumie!” Ucapnya.

“Bukankah kau harus menyangkalnya? Setidaknya untuk mengobati rasa bersalahku pada mereka, yang bahkan turut memberikan pendidikan yang layak untukku, tapi balasanku?”

“Jangan salahkan dirimu.” Sanggah Donghae. “Salahkan mereka yang membuatku tak betah dirumah, juga salahkan aku yang mencintaimu.”

“Lalu kenapa kau mencintaiku?” Tanya Kibum setelahnya.

“Apa kau begitu menginginkan alasannya?” Donghae balik bertanya, sambil menutup lemari yang sudah dipenuhi bajunya. “Aku begitu nyaman bersamamu, Kim Kibum.” Terangnya kemudian. “Mungkin karena kita terlalu sering bersama.” Lanjutnya, kemudian nampak berfikir “atau mungkin juga karena kau terlalu sering melindungiku..”

Kibum berdecak, lantas mengusap wajah Donghae dengan telapak tangannya, menghentikan lontaran kata Donghae, sebelum berubah menjadi sebuah monolog panjang dan terdengar cerewet. “Sudahlah!” Sanggahnya. “Aku tahu kau terlalu mengada-ada, Lee Donghae!!”

“Bukankah kau bertanya tadi?” Cibir Donghae. Kemudian, ia lingkarkan kedua lengannya di leher Kibum. “Aku hanya menjawab.” Ucapnya.

Kibum hendak melepaskan lengan Donghae di lehernya jika saja Donghae mengijinkan. Namun pria manis itu, malah memicingkan matanya ke arah Kibum. “Kau seperti takut menyentuhku!” Rutuknya pelan.

“Bukan begitu, Hae!” Sanggah Kibum.

“Benarkah? Tapi kau bahkan tak pernah menciumku lebih dulu.” Rutuk Donghae lagi. “Cium aku kalau begitu!” Tantangnya sambil mendongakkan wajahnya ke arah Kibum.

Namun Kibum terdiam tak menanggapi Donghae, membuat Donghae melepaskan diri dengan sedikit hentakan di kakinya. Ia terus saja merenggut, hingga tiba-tiba dapat ia rasakan, tubuhnya berbalik dengan cepat akibat tarikan tangan Kibum pada lengannya.

“Bumie, ngh!” Donghae tak sempat melontarkan komentarnya, saat dengan cepat Kibum meraih pinggangnya, merapatkan tubuh masing-masing dengan wajah menyatu.

Tangan Kibum menekan belakang kepala Donghae, guna memperdalam ciumannya. Menumpahkan sebuah hasrat yang sebenarnya sudah lama ia tahan. Ya! Hari itu, adalah kali pertama ia menyentuh Donghae.

Di sisi lain, Donghae sedikit tersenyum dalam mata terpejam. Ia begitu menikmati sentuhan Kibum, hingga kembali dilingkarkan tangannya pada leher Kibum, mencoba membalas sentuhan Kibum.

Hari berlanjut dengan sangat baik. Berbulan-bulan sudah mereka tinggal bersama dalam sebuah kebahagiaan yang tercipta dalam hubungan yang hangat.

Mereka, Kim Kibum dan juga Lee Donghae, terbilang sering menghabiskan waktu bersama, meski ada kalanya mereka harus berpisah saat harus menjalani pekerjaan mereka masing-masing. Kibum yang merupakan seorang sopir pribadi, entah untuk siapa, juga Donghae yang hanya berkerja di sekitar rumahnya, memberikan pelajaran musik pada anak-anak disana, meski nyatanya, ia harus melindungi identitas aslinya.

Semua benar-benar berjalan lancar, hingga sore itu, Kibum terkejut saat mendapati suara ribut di rumahnya. Bergegas ia memasuki rumahnya, dan kembali ia dikejutkan saat mendapati, sang tuan, atau lebih tepatnya Tn. Lee, ayah dai seorang Donghae, tengah membujuk Donghae yang ternyata sedang mengacungkan sebuah pisau, tepat di lehernya, sambil terisak.

“Ada apa ini?!” Gumam Kibum. “Donghae! Jauhkan pisau itu!” Sergahnya, bahkan menyadarkan Tn. Lee akan kedatangannya.

Tn. Lee menatap ganas ke arah Kibum. “Semua karenamu brengsek!! Kau tak tahu terima kasih!!” Bentak Tn. Lee, dan..

Plak.

Sebuah tamparan menghampiri Kibum seketika. Ia tak melawan. Sungguh tak dapat melawan, karena nyatanya, dengan apa ia dapat melawan? Selain pria paruh baya di depannya saat ini, adalah majikan yang sangat ia hormati, ia juga ayah dari seseorang yang ia cintai.

Tn. Lee segera meraih kerah Kibum. “Kau membawa kabur putraku, huh?!”

Donghae semakin bergerak gelisah. Ia takut sang ayah berbuat macam-macam kepada Kibum. “Cukup!” Teriaknya sambil menangis. “jangan sakiti dia!!” Pekiknya lagi.

Namun Tn. Lee seolah tak mendengar dan malah hendak melayangkan satu pukulan lagi, jika saja ia tak melihat setitik darah keluar dari leher Donghae. “Hey! Jangan lakukan itu, Hae!!!” Teriaknya panik.

“Lepaskan dia jika begitu! Lepaskan atau kau akan melihatku mati disini, saat ini juga!!!!” Tantangnya kemudian, membela Kibum sebisa yang ia mampu.

Maka saat itu juga, Tn. Lee melepas cengkramannya pada Kibum. “Baiklah!” Ucapnya pasrah. “Tapi ayah tetap berharap kau akan pulang, Hae. Pulanglah, nak.” Pintanya lirih.

Donghae tetap pada pendiriannya. Ia menggeleng keras sambil berteriak “Aku tidak mau!!” Ucapnya lantang, hingga tanpa sepengetahuannya, Kibum meraih lengannya. Lantas melempar pisau di tangannya, lalu menamparnya, meski itu tak sekeras yang di bayangkan.

“Jangan lakukan itu lagi!” Ucap Kibum singkat, lantas memeluk Donghae erat sambil terus mengelus punggung Donghae. Ia membenamkan wajah Donghae pada dadanya, lalu setelahnya, diliriknya Tn. Lee yang terdiam. Ia memberikan sebuah isyarat, entah apa itu, yang jelas, Tn. Lee berlalu meninggalkan mereka.

“Aku tak akan memaafkanmu jika kau melakukan ini lagi!” Kibum kembali memperingati Donghae untuk kesekian kalinya, sambil menempelkan plester pada luka kecil di leher Donghae.

“Kenapa begitu, Bumie!” Balas Donghae, sedikit merengek. “Aku melakukannya untuk kita!” Rutuknya, dengan wajah merenggut.

“Tapi itu berbahaya! Bagaimana jika kau benar-benar mati, huh? Maka aku akan menyusulmu ke akhirat nanti dan akan memarahimu disana!!” Omel Kibum.

Donghae masih menekuk wajahnya, hingga Kibum mencuri satu kecupan manis di bibirnya, lantas mengusap pipinya perlahan. “Aku tak akan membiarkanmu terluka Hae. Jika ini terulang, maka aku tak akan memaafkan diriku sendiri.” Terang Kibum membuat Donghae luluh, melepas semua amarahnya, lalu memeluk Kibum dengan mata berkaca sambil bergumam “maafkan aku.”

Kibum mengecup kepala Donghae, sambil menghirup aroma pada rambut Donghae. “Sebaiknya kau beristirahat.” Bujuknya, membawa Donghae terbaring. “Tidurlah..”

Begitulah hingga Donghae terlelap. Maka, tanpa sepengetahuan Donghae, Kibum kembali menuju ke arah luar rumah, dimana Tn. Lee, ternyata masih menunggunya disana, sesuai dengan isyarat yang diberikan Kibum tadi.

Kibum menundukkan tubuhnya sesaat setelah berada di depan Tn. Lee.

Tn. Lee, masih dengan wajah angkuhnya, meski sedikit melembut, menatap Kibum. “Jadi apa pembelaanmu?” Tanyanya.

Kibum mendongak. “Sepertinya saya tak dapat membela diri. Saya bersalah pada anda. Maaf..” Ucapnya.

“Bagus jika kau sadar! Sebaiknya kau segera membujuk Donghae untuk pulang. Aku yakin, kau mengerti bahwa kami sangat menginginkan yang terbaik untuknya.” Jelas Tn. Lee.

“Saya mengerti akan hal itu.”

“Jadi? Kau tahu apa yang akan kau lakukan bukan?”

Sepeninggalnya Tn. Lee, Kibum masih tetap berfikir. Benarkah? Yang terbaik adalah, ia melepas Donghae, dan membiarkan Donghae, hidup dalam sebuah kemewahan, yang sesungguhnya tak dapat ia berikan kepada Donghae?

Ini, adalah sebuah fikiran yang sama sekali tidak buruk bukan?!

Sejak itulah, berbulan-bulan sudah Donghae hidup dalam kesedihan mendalam. Ia tetap bertahan, di tengah berubahnya sikap Kibum padanya. Ia bertahan, disaat Kibum tak lagi sering menghabiskan waktu bersamanya.

Kibum yang berubah dingin padanya. Bahkan sangat sulit untuk mengajaknya bicara.

“Kibumie, kita jalan-jalan?”

“Aku sibuk, Hae!”

Begitulah percakapan yang terjadi antara mereka. percakapan yang selalu terjadi dengan sangat singkat dan terkesan dingin itu, menorehkan luka, sedikit demi sedikit dalam hati Donghae, seolah mencabiknya perlahan.

“Apa kau tak akan pulang?”

Bahkan Donghae harus berkali-kali menelan sebuah rasa kecewa, saat Kibum malah selalu menghabiskan waktu di luar. Kibum terlihat seperti, bukan lagi miliknya. Hingga pada puncaknya, “Kau harus pulang, Hae.”

Pernyataan singkat Kibum, yang nyatanya, benar-benar menjatuhkan Donghae, dari segala sakit yang sempat ia tahan. Sekejam itukah Kim Kibum?

“Kenapa?” Donghae bertanya, dengan sedikit merajuk, yang mungkin, akan membuat Kibum kmbali menarik kata-katanya, atau berkata bahwa kata-katanya adalah sebuah candaan.

“Kau tak seharusnya disini. Kau tak layak tinggal disini.” Terang Kibum, meski iapun, enggan menatap wajah Donghae saat mengatakan kata tersebut.

“Kenapa? Aku tak apa-apa! Bukankah kita sudah lama tinggal bersama, disini..” Donghae, membantah tiap kata Kibum.

“Tidak, Hae! Aku ingin kau pulang!!”

“Bumie..”

“Segera kemasi barangmu.”

“Bumie!!” Rajuk Donghae, kali ini disertai sebuah tangisan. Namun, tangisan itu, tak cukup mampu untuk membuat Kibum kembali menarik kata-katanya. Ia malah beranjak, lantas mengundurkan dirinya dari hadapan Donghae, diakhiri dengan sebuah suara..

BLAM.

Suara bantingan pintu, menyempurnakan sisa hati Donghae, hingga hancur berkeping, tak bersisa. Dan ia? Kemudian menangis tersedu.

Kembali pada Kibum, yang akhirnya kembali menuju rumahnya, dalam keadaan basah kuyup, disertai langkah yang begitu pelan. Tatapannya, begitu penuh dengan penyesalan. Ia terus berjalan, kembali pulang dengan tangan kosong, tanpa Donghae.

Cukup lama, hingga ia sampai di pagar rumahnya, dan langkahnya terhenti seketika. Seolah tak percaya, juga disertai desahan nafas lega dari bibirnya. Ia melihat Donghae, tengah membenamkan wajahnya di antara lutut yang ia tekuk. Donghae terlihat termenung sambil  menyandarkan tubuhnya pada dinding di dekat pintu. Kibum bahkan tak melihat Donghae disana saat ia keluar tadi.

“Hae..” Gumam Kibum, lantas menghampiri Donghae, lalu berjongkok tepat di depan Donghae. “Kupikir kau sudah pergi, hn?” Tanya Kibum kemudian, mencoba mengeluarkan suaranya yang terdengar bergetar akibat menahan dingin. Ingatlah bahwa tubuhnya, memang basah kuyup.

Diluar dugaan, Kibum melihat Donghae yang malah enggan menunjukkan wajahnya, serta menggeser tubuhnya menghadap ke arah lain. Kibum mengernyit heran. Inilah Donghae jika sedang marah. Ia akan merenggut seperti anak kecil.

“Lihat aku!” Titah Kibum.

Doghae tak bergeming. Ia malah semakin asik menyembunyikan wajahnya, hingga Kibum, harus menarik tubuhnya itu, ke dalam dekapannya.

“Jangan sentuh aku!!” Teriak Donghae kemudian, sedikit menghempaskan Kibum. “Aku benci padamu!!!” Pekiknya lagi, meski itu teredam, karena ia berteriak saat wajahnya masih bersembunyi di antara lututnya.

Kibum menahan tawanya. Donghae benar-benar terlihat sangat lucu. “Baiklah. Maafkan aku.” Tutur Kibum, terdengar tulus. “Ini salahku, memang! Aku yang salah. pukullah aku, Hae.”

Seketika Donghae mengangkat wajahnya, dengan gurat kemarahan, lantas bendungan air mata di kedua matanya, detik berikutnya, ia langsung memukul lengan dan juga dada Kibum. “Jahat!!” Teriaknya. “Beraninya kau mengusirku! Beraninya kau mengabaikanku, Kim Kibum!! Beraninya kau membiarkanku pergi di saat hujan turun!!! Kenapa tak melarangku sejak tadi!!” Donghae terus mengumpat serta memukuli Kibum yang nyatanya, Kibum menerimanya dengan senang hati. Donghae, menumpahkan semua kekesalannya selama ini, meski tak ada nada benci disana, karena Donghae, akan tetap mencintai Kibum.

Kibum mengernyit, lantas menahan kedua tangan Donghae, untuk selanjutnya, ia kembali mendekap tubuh Donghae. “Sakit Hae! Cukup! Kau tak kasihan padaku?” Ucapnya, sambil mendekap tubuh, dimana sang pemiliknya, kini terisak pilu dalam dekapannya itu.

“Aku takut Bumie..” Adu Donghae kemudian. “Petirnya besar sekali..”

Kibum mengelus punggung Donghae. “Karena itulah aku mencarimu.” Jawabnya.

“Kau masih menghawatirkanku? Apa itu artinya, kau masih mencintaiku? Kau tak akan menyuruhku pulang lagi, kan?!”

Kibum tak dapat menjawab setiap pertanyaan Donghae. Ia malah sibuk meminta maaf..

Di sisi lain,

“Kau begitu ingin bersamanya, Hae? Anakku yang manis..” Ucapnya lirih di bawah lindungan payung yang tengah ia pegang. Ia seorang pria paruh baya, yang tengah melihat, atau lebih tepatnya, menjadi saksi, bagaimana kuatnya cinta Donghae dan Kibum. Ia percaya setelah melihatnya sendiri, lantas membantah egonya..

END

*Ini apa ya? HeuHeu. Maaf~ malah membuat sesuatu yang tak bernilai seperti ini. Sedang iseng saja. Silahkan komentarnya, bila berkenan.🙂

 

28 thoughts on “MIANHAE

    gaemwon407 said:
    Desember 1, 2012 pukul 6:50 am

    aku pertamakahh??:D
    Eon lama banget gak update2,setiap aku kesini belum adaaa u,u
    Hehehe gak nyangka akhinya happy end:)
    Akhirnya tn.lee sadar,kihae tak bisa dipisahkaan:D
    eon kurang akhirnyaa,buat lagi yang happy!!!!!epilog epilog epilog!!:p

    lee sae hae said:
    Desember 1, 2012 pukul 10:36 am

    Kerennn eonn..
    Kihae emang gak bakal bisa dipisahin..
    Serumit apapun keadaan, kihae tetep harus nyatu.
    Dan akhirnya tuan lee luluh juga, mgeliat seberapa besar cinta kihae.. Hahaahha
    Kerennnnnn, bagusss eonn..

    isfa_id said:
    Desember 1, 2012 pukul 11:15 am

    “aku takut Bummie…” ngebayangin muka lucunya Donghae waktu ngomong gitu, xDDD

    mau lagi, ini belum END!

    Shizuku M said:
    Desember 1, 2012 pukul 12:50 pm

    ckckck hey Tn.Lee lihatlah anakmu itu, restuin restuin restuin. lucu deh ngebayanginnya kalo hae marah gara” diusir pas lagi ujan, udah gitu bersikap kaya anak kecil, kalo aku jadi bum aku udah nyubitin pipinya hae wkwkwk xD

    hima_kawaii said:
    Desember 1, 2012 pukul 1:40 pm

    kyaaaaaaaaaaa yes yes no one could separate them kekekekeke
    awwww lucu banget waktu hae marah sambil mukulin kibum hehehehehehe

    “Anakku yang manis…” aigoo~ aku suka kalimatmu mr. Lee kekekekekeke😀

    RiHae said:
    Desember 1, 2012 pukul 3:23 pm

    he..he..he…jdi Hae g’ jdi pergi, krna tkut petir???
    critanya lucu thor…..

    nia na yesung said:
    Desember 1, 2012 pukul 5:42 pm

    Teriak dulua ah Kyaaaaaaaaaaaaa he, , , he, , , he , , ,
    Ceritanya Lanjut dong jgn oneshot , , ,
    aku kEcAnduan KiHae nih lanjut lanjut , , ^^

    Eun Byeol said:
    Desember 1, 2012 pukul 10:56 pm

    Eonnie~
    ff nya manis(?) bgt!!
    So sweeeeet~
    nggak bosen deh baca ff nya eonnie..
    Bukan Bum yg bawa kabur Hae tp Hae yg ngekor trs sama Bum tuh..

    Raihan said:
    Desember 2, 2012 pukul 4:06 am

    Kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
    simple manis dan wow..
    keinginan bersama selamanya..ihh kasya kisah kenyataannya yah Kibum dan Donghae yg dipisahkan si Sooman *dijitak* tpi bisa bertemu dan melepas rindu di sela-selaan waktu sibuk mereka..

    Keren dah pokoknya kerennnnnnn ^_<

    mira haefishy said:
    Desember 2, 2012 pukul 5:46 am

    ff yg sweet :’)
    apalgi waktu hae ngambek di tengah hjan
    ckck lucu bayanginnya ^-^

    MyHae said:
    Desember 2, 2012 pukul 7:49 am

    akhirnya bisa baca setelah lupa alamat
    ini penuh anti klimaks
    nyesek,
    tapi sweettttttttttt
    seperti biasa, bahasa eon bisa ngobrak abrik hatiku
    walau lama ga update
    aku simpulin BUm usir hae itu karna mau nguji hae
    bapakknya hae aku malah kasian sama dia,
    tapi ga baik juga kalau ortu maksa anak
    kan ada saatnya anak buat pilihan sendiri asala itu ga ngerugiin dia
    bum juga baik, walau beda drajat

    kyaaaaaaaaaaa BUAT FF LAGII EONNN

    Arum Junnie said:
    Desember 2, 2012 pukul 1:03 pm

    Baru pertama kali nemu karakter Donghae yang meski jadi uke tapi sikapnya lumayan dewasa, g terlalu manja n kekanakan.

    Arum Junnie said:
    Desember 2, 2012 pukul 1:04 pm

    Sequelnya dong thor. yang secara resmi bokapnya ngerestuin mereka…

    Laila .r mubarok said:
    Desember 2, 2012 pukul 4:26 pm

    Aku setuju ma isfa eon..
    ” Aku takut bummie” byngin ekspresinya hae pasti lucu bnget..
    Sama pas bagian hae marah sambil mukulin kibun ntu juga aku suka..
    Hah pokonya suka lah haha

    Shin Y said:
    Desember 3, 2012 pukul 2:29 am

    hueee>, krain bneran pisah,, hiks,,,,

    shrusnya ada kisah lagi habis adegan terakir,,kkkk

    hubsche said:
    Desember 4, 2012 pukul 4:39 am

    Akhirnya ada FF KiHae yang kayak gini lagi😀
    This is just too sweet, as expected happy ending^^
    Mau lagi dong hehehe🙂

    ELFishy.. said:
    Desember 4, 2012 pukul 10:07 pm

    Eiuyy..Eiuyy…
    Manis sekali,,,
    Aq suka..

    arumfishy said:
    Desember 5, 2012 pukul 4:28 pm

    keren oen,,,hehe
    baru baca aku🙂
    Ga ada yg bs memisahkan cinta KiHae deh:-)

    ainun_lara said:
    Desember 6, 2012 pukul 12:57 am

    Kyaaaaaa ini sangat manis..manis..Bum ujan ujanan,padahal Hae masih di depan rumah..’Aku takut Bummi,petirnya besar sekali”isshh Hae imutnya Kau..ini begitu Fluffeh,dan Nice. Mr.Lee percayalah pada Kibum,dia akan menjaga Ikan dengan baik.peluk KiHae.

    Nelly Key Donghae said:
    Desember 7, 2012 pukul 4:31 am

    Wow kagak jd pergi tuch gara2 takut petir,,, uuuu.. Manisssnyaaa haeee,,, 
    Dan sik ikan nekat banget pakek acara mau gorok diri… sini ku jadiin ikan pepes #plakk#
    Tapi salut buat kihae,, terlebih hae,, dia melakukan apapun untuk cintanya,, bummie,, meninggalkan semua kemewahan yg dy miliki, orang tua dan yg terahir itu mw gorok diri…
    Oohh,, kibum pengawalnya hae,,
    Tp syukurlah mr. lee akhirnya sadar jg,, “demi kebahagiaan anakku yang manis “  siuh

    nannaa said:
    Januari 1, 2013 pukul 7:54 am

    Untung gak nangis(?) akhirnya indah, dkira sad end huhu u.u

    BryanELFishy said:
    Februari 21, 2013 pukul 4:16 pm

    mau itu orang dinginya kayak es kutub selatan tambah es kutub utara (?)
    tetep aja klo inget donghae langsung meleleh deras kayak air terjun (?)
    ini komen apa saya juga g tahu
    tapi ini manis.. ^^

    niea clouds said:
    Februari 27, 2013 pukul 12:50 pm

    salam kenal aqu reader br, dan penggemar baru KIHAE … dikirain hae bnr” pergi ternyata ga . pokokny ff ny sweet bgt ….

      sugihhartika responded:
      Februari 28, 2013 pukul 6:14 am

      Iya salam kenal ya. ^^

      Dan terima kasih.😀

    namihae said:
    April 13, 2013 pukul 10:04 am

    ini? manis… kaya harummanis :3 dan… aaaa~ gtau mau komen apa lagi! lanjut dulu ah! *mabok*

    Ruoxi said:
    Mei 4, 2013 pukul 1:54 pm

    Muahaha gw ngakak ngebayangi Donghae yang mengeser tubuh dan menjauh dari Kibum~

    casanova indah said:
    Oktober 11, 2013 pukul 9:00 am

    mianhee…….
    aq baru nemu ff ini..😀
    eh tapi kayane aq dah pernah baca di ffn, kl ga salah lho…
    yang penting mereka tetap bersatu, yey!!!

    ELFarida said:
    Januari 24, 2015 pukul 4:12 pm

    Bener bener maniiisss eon😉
    hae nya disini lucu bgt, gemes bacanya…
    Keren eon…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s