CHOCOBUM

Posted on Updated on

Title : Chocobum

Cast : Lee Donghae – Kim Kibum (?)

Genre : Humor (mungkin)

*Mari membaca sedikit cerita ringan.😀 suka yang ringan? Silahkan baca. Terima kasih.

CHOCOBUM

[Oneshot]

.

Pagi itu, adalah pagi yang teramat cerah bagi Donghae. Ia bahkan bangun di pagi hari, lantas  bersiap-siap dengan beberapa pekerjaan rumah, membantu sang ibu, meski sebenarnya itu tak banyak. Tugasnya hanyalah memberi makanan pada burung-burung peliharaan mereka. Itu ia lakukan setiap pagi, karena selain membantu sang ibu, ia punya perasaan lain yang begitu istimewa kepada beberapa burung tersebut, dengan jumlah 8 ekor.

“Donghae-ya.. biar ibu yang lakukan. Kau bersiap-siaplah pergi sekolah..” Ujar sang ibu, mencegah Donghae melakukan hal yang biasa ia lakukan padahal.

“Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah bu..” Sanggah Donghae, dengan nada halus.

“Tapi menurut ibu, sekarang kau tak seharusnya terlalu sibuk dengan burung-burung ini. Kau akan ujian sebentar lagi. Nilaimu harus bagus, agar kau bisa mendapat beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi nanti.” Tutur sang ibu, dengan nasehat tuanya, namun itu tak membuat Donghae bosan sama sekali.

Donghae malah tersenyum. “Memberi makan burung selama 10 menit, tak akan mengganggu konsentrasi belajarku. Aku tetap menjadi juara di kelas, meski merawat burung-burung ini, sejak 4 tahun lalu kan?” Balas Donghae tenang, karena nyatanya itu memang benar.

Sang ibu berdecak pelan, lantas berlalu meninggalkan Donghae sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, juga bergumam pelan, “Ibu heran, sejak kapan kau menyukai burung..”  dan itu? masih dapat di dengar Donghae.

Demikianpun dengan Donghae. Ia memandang punggung sang ibu, sambil sedikit menerawang jauh. Ia ingat, sejak kapan ia menyukai burung? Pertanyaan ini, patut di pertimbangkan, hingga membawa Donghae kembali melihat masa lalunya..

.

“Tolong belikan beras, Donghae-ya..”

Donghae 4 tahun lalu, Donghae yang masih berusia 14 tahun itu, termasuk anak penurut. Ia akan menuruti segala perintah kedua orang tuanya. Maka dengan perintah sang ibu saat itu, tanpa berfikir panjang, ia segera mematuhi.

“Beli beberapa liter saja.” Ungkap sang ibu kembali melontarkan perintahnya, sambil menyodorkan beberapa lembar uang kepada Donghae.

“Iya bu.” Patuh Donghae kemudian pergi untuk membeli beras.

Menit kemudian..

“Terima kasih..” Ucap sang pemilik toko saat Donghae menyodorkan uang, yang ia gunakan untuk membeli beras yang kini berada dalam genggamannya dalam bungkusan kantong kertas berwarna coklat itu.

Donghae lantas tersenyum. Ia puas karena telah menyelesaikan tugas dari sang ibu. Maka, saat itu juga, ia bergegas, berjalan menuju rumah. Ia berjalan tenang sambil bersiul. Ada banyak langkah yang sudah ia lalui, hingga sesuatu serasa menyentuh kakinya. Donghae menolehkan pandangannya ke arah bawah dimana sang kaki berada.

“Ouch!” Ringisnya saat tahu, ternyata kantong yang ia genggam, mempunyai lubang kecil di salah satu sudutnya hingga menimbulkan butiran beras yang berhamburan keluar yang sempat mengenai kakinya juga, dan sepertinya, itu terjadi di langkah-langkah sebelumnya, karena Donghae dapat melihat, beras-beras itu membentuk sebuah jejak, yang mana pernah ia lewati.

“Aish!” Donghae merutuk pelan, saat menyadari berapa banyak butir beras yang terbuang! Maka sontak, ia tutup lubang itu dengan telapak tangannya. Lalu, Donghae berjalan cepat menuju rumahnya dengan tangan yang tetap menutup lubang itu, sebelum semua beras habis.

Masih di hari yang sama, Donghae keluar dengan sepedahnya. Ia pergi bermain setelah menjelaskan kasus beras tumpah beberapa waktu lalu pada sang ibu. Baru saja ia melewati gerbang rumahnya, kembali ia terdiam.

Matanya tertuju pada seekor burung yang tengah memunguti, atau lebih tepatnya memakan beras-beras, yang Donghae yakini, adalah beras miliknya yang tumpah tadi. Seekor burung entah jenis apa, yang terlihat sungguh lucu, yang berhasil menarik perhatiannya. Maka selanjutnya, Donghae turun dari sepedahnya, lantas menyandarkannya pada dinding di sisi gerbang tersebut.

“Hwa.” Ucapnya sedikit takjub, sambil melihat burung berwarna hijau dengan kepala yang agak berwarna abu-abu tersebut, sambil berjongkok. Anehnya, burung tersebut tak merasa takut akan sosok Donghae yang mendekatinya, dan itu, membuat Donghae semakin penasaran pada sang burung.

Burung itu, perlahan, mematuki setiap butiran beras di sekitarnya tanpa mempedulikan kehadiran Donghae di dekatnya.

“Hey! Kau tak takut padaku?” Ucap Donghae girang, lantas membalikkan topi di kepalanya, agar tak menghalangi pandangannya. Selanjutnya ia berfikir, lalu masuk kembali ke dalam rumahnya.

“Untuk apa itu?!” Terdengar teriakan Tn. Lee dari dalam rumah. Itu adalah untuk Donghae, karena ia membawa beras dalam genggaman tangannya.

Donghae tak peduli, dan masih santai dengan beras tersebut. Ia lalu kembali menghampiri sang burung, lalu “Makanlah ini, burung kecil. Ini lebih bersih daripada kau makan dari lantai itu. Itu kotor..” Ucap Donghae.

Beberapa detik, hingga Donghae tersenyum lebar. Sang burung, berhenti memungut, dan memakan beras dari tangannya. Itu membuatnya merasa girang tak tertahankan. Ia begitu takjub, lantas sedikit mengelus kepala burung yang kecil itu. “Itu lebih enak, bukan?” Ucapnya tersenyum senang, lantas kemudian, ia memungut sang burung ke dalam dekapan tangannya, lalu membawa sang burung masuk ke dalam rumahnya.

“Lihatlah, ayah! Aku mendapatkan seekor burung.” Girang Donghae, sambil menunjukkan burung di tangannya.

Tn. Lee ikut tersenyum, menyambut gurat kebahagiaan yang terpancar dari wajah putranya. “Hebat!” Decaknya. “Kau menangkapnya darimana, Hae?” Tanyanya kemudian.

Donghae menggeleng pelan. “Aku tak sengaja menemukannya di depan rumah. Ia sedang kelaparan.”

Tn. Lee kembali mengulum senyumnya. “Darimana kau tahu jika ia lapar? Apa perutnya berbunyi?”

Donghae kembali menggeleng. “Dia sedang makan beras-beras yang berjatuhan tadi. Kau mau membodohiku!” Ketus Donghae merasa dipermainkan sang ayah.

“Kau terlalu antusias, Hae! Seekor burung, bisa kita dapatkan di toko hewan sana.” Ucap Tn. Lee.

“Ayah! Dia berbeda.” Sentak Donghae, begitu mengagungkan burung pungutannya itu.

“Itu hanya seekor burung.” Timpal sang ayah.

Donghae menggerutu, lantas menghentak-hentakkan kakinya, membuat Tn. Lee tersadar, bahwa putranya itu, terlalu sensitif. Maka sebelum ia mendengar tangisan Donghae, ia segera membujuk Donghae.

“Baiklah..” Ucap Tn. Lee. “Mari buat rumahnya denganku..”

Raut wajah Donghae yang keruh, berubah, dengan binar di matanya. “Benarkah?” Ucapnya, meski sedikit telat, karena sebercak air mata sudah hampir tumpah.

“Iya! Ayo sekarang..”

 

Donghae terus saja memandang burung baru miliknya, yang tengah tenang dalam sangkar yang dibuatkan sang ayah. Ia benar-benar tak bisa lepas dari kawan barunya itu, barang sedetik saja.

“Oh! Kau begitu lucu!!” Ungkapnya pada sang burung yang tengah mendapat beribu pujian dari Donghae.

Sang burung, beranjak, lantas sedikit mengepakkan sayapnya, terbang rendah di dalam sangkar, seolah menyahut ucapan Donghae.

Donghae terperanjat. “Apa kau sedang berterima kasih padaku??” Tanya Donghae, kembali dengan binar di matanya. “Kau burung yang pintar, aku mencintaimu..” Tuturnya terlihat bagai orang bodoh.

“Aku akan memikirkan sebuah nama untukmu.” Ucapnya lagi, tak henti bicara pada sang burung.

Beberapa detik kemudian, ia memijit keningnya sendiri, lantas bergumam “Seperti orang gila saja.” Ucapnya tersenyum, lalu menarik selimut, dan pergi tidur, meninggalkan sang burung, yang tanpa ia sadari, seperti sedang mengamatinya dari dalam sangkar.

Pagi datang, dengan sebuah kicauan dari dalam kamar Donghae. Ya! Anak itu bahkan menyimpan burungnya di dalam kamar, meski sempat mendapat penolakan dari kedua orang tuanya.

“ah! Kau membangunkanku?” Ujar Donghae sambil menggeliat pelan. Sepertinya, ia sangat suka bermonolog dengan sang burung.

Diusapnya matanya dengan lengannya. Ia masih terlihat mengantuk jika saja sang burung tak terus berkicau. “Baiklah! Aku bangun..” Rutuk Donghae, meski itu, terlontar dari bibirnya yang melengkung, membentuk senyuman yang tulus.

Selanjutnya ia bangkit menuju kamar mandi. Lalu berikutnya, melanjutkan kegiatan harinya dengan sarapan dan bahkan membawa sangkar burung ke meja makan, menimbulkan protes dari ayah juga ibunya.

“Kenapa membawanya kesini, Lee Donghae!!”

Donghae mengunyah rotinya tak peduli. “Dia juga pasti ingin makan.” Jawabnya santai.

“Tapi kau tak perlu membawanya kemari.” Kali ini sang ibu, berkomentar lebih santai.

Donghae begitu patuh pada sang ibu, hingga ia bergerak lesu, lantas membawa sangkar tersebut, ke arah kamarnya. Di sisi lain Tn. Lee berdecak. “Yang benar saja! Apa dia tidur dengan burung itu?”

 

Hari berlanjut, membawa suasana hangat antara Donghae dengan sang burung yang ia beri nama Choco. Ia begitu dekat dengan sang burung, atau lebih tepatnya, mengakrabkan diri dengan sang burung, meski akhirnya, sang burung selalu menurut padanya.

Keduanya sangat dekat, hingga “Ini adalah tanda kau milikku.” Ucap Donghae saat melilitkan tali merah di kaki sang burung. Yang menarik adalah, karena ternyata, terdapat gantungan ikan nemo yang kecil dalam lilitan tali itu. Juga bunyi, Cring.. cukup jelas dari benda kecil tersebut.

Donghae tersenyum puas. “Dengan begini, kau tak akan hilang.” Ucapnya, lalu mengecup kecil sang burung. Ah, ia teramat menyayangi Choco, sang burung rupanya.

Semua berjalan lancar, hingga 6 bulan lamanya Donghae menghabiskan waktu dengan Choco, burung kesayangannya itu. Yah! Begitulah, hingga suatu hari..

“HWAAAAAAAAAAAA~”

Donghae menjerit, serta menangis, dan lebih parahnya mengamuk saat itu. Tepatnya di siang hari, saat ia baru saja akan pulang sekolah saat itu. Bahkan ia baru saja membeli makanan burung, untuk kawan kesayangannya itu. Namun apa yang terjadi?

Kawannya, Choco. Tak ia t

emukan dirumahnya, bahkan sangkarnyapun tak ada. Kemana? Donghae lantas berlari-lari di dalam rumahnya, mencari keberadaan Choco. Tak ada. Donghae mulai tak sabar, hingga ia berada di belakang rumah. Lantas melihat rumah kawannya, Choco.

Donghae sempat merasa semangatnya kembali, namun ia kembali mendung, dengan tangis tertahan. Bagaimana tidak? Choco terlihat menutup matanya di dalam sangkar.

“Hiks.”

Ia mulai terisak, hingga sang ibu datang sambil mengumpat tak jelas. “Astaga! Ibu lupa! Astaga, bagaimana ini, Hae! Ibu lupa tadi, ibu menjemur Choco sejak pagi. Aduh! Kenapa dia tak bangun!”

Sang ayah datang, lalu menangkap kejadian aneh tersebut, lantas memeriksa keadaan burung kesayangan anaknya. “Hae, dia mati terpanggang.” Simpulnya, mengundang sang putra untuk selanjutnya menjerit keras.

ANDWAE!!!!”

 

Hari itu adalah hari terburuk, dimana Donghae menangis seharian, tanpa bisa dibujuk oleh apapun. Ada banyak burung yang dibelikan kedua orang tuanya sebagai penebus salah atas terpanggangnya burung kesayangan Donghae. Namun Donghae enggan terbujuk. Ia tetap menangis, meraung, dan menyesal atas kepergian sang kawan yang begitu tragis.

.

Donghae mengulum senyumnya. Ia lalu meringis, tertawa geli jika mengingat ia yang mengamuk waktu itu. Itu adalah hari dimana ia mempunyai banyak burung. Meski awalnya ia menolak, namun burung-burung itu terlalu berharga untuk dilewatkan, hingga sore itu juga, ia menemani sang ayah membuat sangkar yang banyak dengan hidung merah akibat tangisannya yang begitu lama.

Kembali pada Donghae saat ini, yang telah selesai memberi makan burungnya. Ia lalu bersiap-siap, menyiapkan diri untuk pergi ke sekolahnya.

Waktu berikutnya, ia sudah berjalan bersama kawan baiknya, Cho Kyuhyun. Mereka berjalan beriringan, bergabung bersama siswa lain dengan tujuan yang sama.

“Aku mencontek tugasmu, ya..” Ujar Donghae tiba-tiba.

Kyuhyun berdecak pelan, meski akhirnya mengangguk. Ia kembali berjalan dengan Donghae, dan tiba-tiba berucap dengan ketus. “Aku sebal pada murid baru itu! Lihatlah Hae, mana ada laki-laki memakai gelang di kakinya?”

“Huh” Donghae mengernyit lalu memutar kepalanya, untuk melihat apa yang Kyuhyun lihat. Matanya langsung tertuju pada seorang pria, yang berlalu dengan sepedahnya. Selain itu, Donghae kembali menyusuri bagian yang menurut sahabatnya itu, sangalah aneh. ‘memakai gelang di kaki’, maka Donghae, menujukan matanya ke arah sana.

Cring..

Namun mata Donghae, membulat seketika. Ia begitu mengingat ikan nemo kecil berdering yang juga terpasang di kaki itu. Maka dengan tiba-tiba,

Grep..

Donghae meremas seragam Kyuhyun. “Siapa dia Kyu?!” Ujarnya dengan mata berbinar juga senyum yang tanpa bisa ia tahan.

“Kim Kibum.” Jawab Kyuhyun.

“Kim Kibum?” Tanya Donghae, lantas melirik Kyuhyun. “Bukan!” Sanggahnya. “Namanya ChocoBum..”

END

*Gak ada sequel!! PD duluan ini authornya. BuaHaaHaaHaa..

 

10 thoughts on “CHOCOBUM

    gamers cho said:
    Desember 12, 2012 pukul 12:00 am

    kenapa gaada sekuel😦 kalo side story ajaa gimana *maksa
    *

    eh ini udah pernah dipost di ffn kah? aku udah baca cuman ga bisa review di ffn😮

    Elfisyhae said:
    Desember 12, 2012 pukul 4:08 am

    Bikin sequel nya donk eon. . . .;-)

    Gigia said:
    Desember 12, 2012 pukul 11:54 am

    Gantung amat sih…author??..lg dong yah..yah..^=^

    Shin Y said:
    Desember 13, 2012 pukul 4:50 am

    harus sekuel dooooonggg,,, sumpah iniiii,,, bkin pnsaaraaannnnn

    hima_kawaii said:
    Desember 13, 2012 pukul 6:42 am

    eheheheheh hae lucu banget waktu histeris burungnya mati….kkkkkk~

    hubsche said:
    Desember 15, 2012 pukul 2:31 pm

    LOL =))) Kocak abis bayangin Hae…ckckck

    Raihan said:
    Desember 16, 2012 pukul 3:08 pm

    Kalo kaga ada sequel rasanya kaya ngeliat Kibum didepan mata tapi kaga bisa moto dan megang..nyesek banget itu Sugih, so..sequelnya mesti kudu wajig, ok #maksa..

    Kerennnnnnn, gelang yg dipakai Kibum sama Chocho itu sama dong?..Kibum reinkarnasinya si Chocho gitu?..atau si Chocho itu sebenernya manusia tpi dikutuk jdi burung?..

    Kerennnnnnn ^_<

    ndah951231 said:
    Desember 19, 2012 pukul 7:15 pm

    eeh, kirain donghae udah nggak normal ngajak burung ngobrol😄

    kya kya, ceritanya gantung eon T-T

    Shizuku M said:
    Desember 23, 2012 pukul 12:46 am

    ngakak gatau kenapa ya pas bacanya pengen ketawa mulu hahahah xD ayooo haee ikann kejar itu chocobum milikmuuuu!!! sequel thor mauuu plakkkk xp

    haehyuho said:
    Januari 1, 2013 pukul 8:01 am

    nah,ini berenti disini aja???
    mana sequel’athor???…*tarik2 baju author,..
    ak pnasaran apakah kibum a.k.a chocobum masi inget sama babang hae atau nggak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s