APPLE TREE OF FAIRY

Posted on

Title : Apple Tree of Fairy

Cast/Pair : Lee Donghae – Kim Kibum/KiHae

Genre : Fantasy – Friendship – Romance

Summary : Sang peri yang berada di antara mereka, yang menambah warna, di antara hubungan mereka..

.

“Fict ini, saya sengaja buat, dan saya persembahkan untuk salah satu adik (?) saya. xDD Lee Sae Hae yang tengah berulang tahun. Ya. Ini modus fictnya, hadiah mungkin ya??? Kkkk~

Apple Tree of Fairy

[Oneshot]

Duo kecil Lee dan Kim, tengah bermain-main pada gundukan tanah di tengah-tengah kebun bunga. Gundukan tanah itu sengaja tersimpan di tengah luasnya hijau rumput di taman, tepat di dekat kedua kediaman mereka. Itu memang taman yang dibuat husus oleh keluarga Lee juga Kim yang kebetulan bertetangga.

Sebelumnya..

Di pagi buta itu, Donghae mendatangi Kibum di kamarnya sambil menangis tertahan karena tak ingin siapapun tahu. Bahkan ia datang lewat jendela kamar Kibum.

Kibum yang masih tertidur kala itu, terganggu dengan suara ketukan di jendelanya. Ia tahu, bahwa Donghaelah yang datang. Maka, rasa terganggu itu hilang seketika. Dengan satu gesekan lengan di matanya, juga kaki mungilnya mulai menuruni ranjang, lalu menghampiri jendela yang berbunyi tersebut. Maka setelahnya, ia membuka jendela kamarnya sambil berbisik “Kenapa hyung..” dengan suara seraknya.

“Bumie, hiks.”

Kibum tertegun, lantas mengerjap, memastikan pandangnya. Dan ia? Akhirnya dapat melihat Donghae yang menangis di depannya. “Kau kenapa menangis?” Tanyanya heran, lantas mendongakkan kepalanya ke arah luar jendela, melihat ke sekeliling mereka, terlihat mengendap.

“Bumie..” Donghae mulai merengek manja, sedang Kibum mulai kalap. Ia tak ingin Donghae terus menangis di depan jendelanya. Lalu diraihnya kursi kecil dekat meja belajarnya. Ia naiki kursi tersebut, lantas merentangkan tangannya pada Donghae.

“Naiklah, cepat.” Ajaknya, mulai meraih jemari Donghae, lalu membimbing Donghae agar menaiki jendela kamarnya.

Dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil memasuki kamar dan berlanjut dengan terduduk saling menghadap di atas kasur.

“Kau kenapa sih hyung?” Selidik Kibum, dengan tangan melipat di dada. Sudah banyak menit yang mereka lewatkan, namun Donghae enggan bercerita dan terus terisak.

Donghae menggeleng dan malah terus menyusuti wajahnya yang belum juga mengering karena air mata yang lagi-lagi mengalir.

‘Bocah!’ Pikir Kibum yang mulai kesal. Ia angkat tangannya, berkacak pinggang, menghela nafas kesal, lalu..

Grep.

Ia sampirkan kedua tangan itu, di kedua bahu Donghae. “Aku tak bisa membantumu jika kau terus menangis!” Desaknya sambil sedikit membulatkan matanya, memperingati Donghae.

Seketika Donghae terdiam. Ia terlihat takut, lantas menahan tangisnya. “Itu..”

“Ya? Itu apa?”

“Ibu marah.” Adu Donghae.

Hah.. Kibum lantas mendengus. “Memangnya apa yang kau lakukan?”

Donghae mengedip pelan sambil memandang Kibum ragu. Ia meremas ujung piyamanya dan terlihat gugup, juga sambil menelan ludahnya dengan paksa dan berulang-ulang.

“Lee Donghae!”

Donghae berjengit kaget. Ia tahu Kibum sudah kesal. “Aku memakan apelnya!” Jawabnya kemudian.

“Huh? Hanya apel dan ia marah padamu?” Timpal Kibum heran.

Donghae menggeleng. “Satu kilo apel kuhabiskan semalam.”

Kibum tampak menepuk jidatnya, berujar kesal layaknya orang dewasa. Bukankah ia bahkan lebih kecil dari Donghae? Tapi lihatlah wajah seriusnya!! “Astaga!” Umpatnya pelan. “Kenapa dihabiskan semuanya!!”

“Itu bukan untukku, Bumie. Kau tahu..” Rengek Donghae.

Kibum menatap Donghae dengan malas. “Jangan katakan itu untuk Sae Hae!! Aku tak percaya pada peri yang kau lihat itu!!” Omel Kibum.

“Jadi kau tak percaya ia benar-benar ada?” Tanya Donghae tampak merenggut.

Kibum mengangguk pasti. “Kata ibuku, peri hanya ada dalam dongeng!” Tukas Kibum.

Donghae turun dari ranjang sambil menghentakkan kakinya ke lantai. “Kau menyebalkan.” Ujarnya namun terdengar bergetar, terlihat akan menangis kembali.

Kibum tahu itu. Dan ia wajib merutuki dirinya, bila ia membuat Donghae menangis. “Aish! Baiklah. Perimu. Lantas apa maumu sekarang?”

Donghae menoleh, lantas tersenyum dengan kumpulan air di kedua ujung matanya. Tampaknya ia tak jadi menangis karena guratan senyum nampak pada bibir yang ia tarik. “Bantu aku menanam pohon apel.”

“MWO?!”

Begitulah, alasan yang membuat keduanya kini ada di atas gundukan tanah itu. tampak berdiskusi, bagaimana cara menanam apel? Apa yang harus mereka lakukan terlebih dahulu?

“Kita kan tidak punya benihnya! Apa menanam apel harus memakai bijinya?” Tanya Kibum, namun lebih kepada dirinya sendiri. Bagaimana tidak? Donghae hanya terfokus pada ucapannya sendiri.

“Aku akan membuat kembali pohon apel untukmu. Tenanglah..” Itu yang Donghae ucapkan, dengan wajah terarah pada kedua telapak tangannya yang terbuka, lalu ia rapatkan, seolah terdapat sesuatu disana. 

Kibum memandang sebal. Donghae lebih terlihat seperti orang gila. Berbicara sendiri. “Kapan selesainya jika kau terus begitu!” Rutuknya.

“Aku sedang mengajak Sae Hae bicara!” Sanggah Donghae.

Kibum mengibas-ngibaskan tangannya. “Terserah. Kau boleh melakukan apapun, termasuk mengajak perimu bicara. Tapi jangan di depanku.”

“Kibumie..”

“Aku tak akan membantumu jika kau begitu terus!!” Bentak Kibum sambil melempar mainan sekop yang sejak tadi dipakai keduanya untuk menggali tanah disana.

“Hiks.” Donghae mulai kembali menangis.

“Sekarang katakan pada perimu itu, buatkan pohon apel dengan sihirnya!!”

Donghae tetap diam dan lebih gentar menangis. “Tidak bisa kan? Karna ia tak ada!”

“Huweee..”

Entah mengapa kali ini Kibum terlihat tak peduli, dan malah meninggalkan Donghae menangis sendiri di taman itu.. 

 

Siangpun singgah dengan matahari terik di atas langit.

Donghae bergulingan di ranjangnya, dalam keadaan rapi, beraromakan bedak bayi, karena baru saja ia mandi setelah sang ayah menjemputnya pulang dari taman dalam keadaan kotor juga menangis. Bahkan matanya terlihat sangat sembab.

“Kibumie menyebalkan!” Rutuk Donghae kemudian, setelah selanjutnya, dapat dilihatnya sesosok kecil, dengan sayap bening di belakang tubuhnya, namun Donghae, masih dapat melihat itu. Sosok itu diam menunduk, terduduk di sisi meja belajar milik Donghae.

“Maafkan aku, Sae Hae..” Ucap Donghae membuat sosok itu mendongak ke arahnya.

“Tak apa, Donghae. Tak seharusnya kau melakukan itu untukku.”

Donghae lantas duduk. “Tapi aku ingin menanam pohon apel untukmu, agar kita tak lagi mencuri apel milik ibu. Aku ingin kau terbang lagi seperti saat pohon apel ditaman ditumbang ayah.”

“Aku masih bisa terbang..” Ucap Sae Hae sang peri, mencoba terbang rendah, hingga “Ouch!” Ringisnya yang malah jatuh tepat di ranjang Donghae.

Donghae melihat itu. Maka ia meraih sang peri dalam tangannya. “Seandainya Kibumie dapat melihatmu..” 

Hari, minggu, bulan hingga tahun berlanjut. Semua tetap sama. Donghae dan Kibum yang tak terpisahkan. Meski pertengkaran kecil selalu menghiasi kala Donghae menggagungkan sang peri yang nyatanya tetap setia mendampinginya.

Tepatnya, saat ini mereka menginjak jenjang Sekolah Menengah Pertama di tingkat akhir. Keduanya memang sering menghabiskan waktu bersama namun, bukan dengan cara bermain seperti biasanya. Mengingat mereka akan segera menempuh ujian sekolah.

“Ajari aku bahasa Inggris!” Tuntut Donghae kemudian.

Kibum meletakkan pensilnya di atas bukunya yang terbuka. Ia lalu menoleh pada Donghae. “Selesaikan dulu fisikanya. Ini belum selesai.” Sanggah Kibum dengan sabar.

“Aku muak dengan semua rumusnya! Aku ingin belajar bahasa Inggris dan membaca novel berbahasa inggris di perpustakaan tadi, Bumie..”

Kibum memijit pelipisnya. Donghae selalu membuatnya pusing dengan omelan yang begitu tiada henti. “Tumben sekali.” Cibirnya kemudian.

“Itu tentang peri.” Timpal Donghae sambil mengeluarkan kamus bahasa Inggris dari tasnya.

“Tsk.” Kibum mulai menyebalkan jika Donghae sudah membahas perinya. “Kalau begitu, minta ajarrkan saja pada perimu itu!” Rutuk Kibum.

Namun apa yang terjadi? Donghae menoleh ke arah meja, sambil berucap “Kau bisa bahasa Inggris, Sae Hae?”

“Ya Lee Donghae!!” Bentak Kibum kemudian merasa kesal. Ia bahkan langsung menutup bukunya dengan kasar, lalu berlalu meninggalkan Donghae, meninggalkan Donghae di kamarnya. Ya. Mereka tengah berada di rumah Kibum ternyata.

“Ish. Lihat! Sampai kapan kau tak percaya padaku.” Keluhnya. Hingga sang peri mengapung perlahan, lantas hinggap di pundaknya.

“Sebaiknya jangan bahas aku di depannya.” Ucap Sae Hee.

“Tidak! Aku harus meyakinkannya bahwa kau ada. Agar ia membantuku menanam pohon apel untukmu.”

“Aku bisa mencari pohon yang lain.” Ucap Sae Hae sambil terbang berputar-putar di atas kepala Donghae. “Ada begitu banyak pohon apel.”

Donghae menggeleng keras. “Hati-hati.” Selanyanya takut jika sang peri yang lemah akan terjatuh. “Aku tak ingin kau jauh dariku.” 

Hari berlanjut. Kala itu, mereka tengah berjalan pulang sekolah. Donghae tersenyum dengan sendirinya, mengundang rasa penasaran bagi Kibum.

“Apa yang kau tertawakan, hyung?”

Donghae tak membalas. Kibum tahu keadaannya. Ini adalah Donghae yang tengah berkomunikasi dengan sang peri yang menurutnya, entah ada atau tidak.

“Lihat! Apel-apel itu sangat besar bukan?” Pekik Donghae melihat ke arah apel-apel yang terpajang di toko buah seberang jalan. Ia lantas mengeluarkan beberapa lembar uang sari sakunya. “Kita beli beberapa, Sae..”

Kibum berkacak pinggang melihat tingkah Donghae yang sangat menyebalkan. Ia benci jika sudah di abaikan seperti sekarang. Maka ia tak mengikuti Donghae namun tetap mengawasi Donghae yang terus saja menoleh ke arah pundaknya sendiri.

Donghae yang ceroboh, bahkan tak sadar kendaraan beroda dua hampir menghampirinya. Kibum yang tahu itu! “Hyung!” Teriaknya namun Donghae tak mendengar. “Aish!” Kibum meurutuk, untuk kemudian, dengan sangat cepat, “Awas!” Teriaknya yang hampir terlambat, namun dapat menarik Donghae hingga keduanya terjatuh.

Donghae yang kini terduduk, mengerjapkan matanya dengan raut terkejut. Ia bahkan kehilangan kata, hingga mendengar ringisan di dekatnya. “Ah! Kibumie, kau baik-baik saja?” Racau Donghae melihat Kibum yang berdiri dengan tertatih. Nyatanya Kibum tak baik-baik saja, karena terdapat bercak darah di lutut juga sikutnya.

Donghae mencoba meraih Kibum, untuk selanjutnya ia merenggut kecewa saat Kibum menghempaskan tangannya. Juga “kau menyebalkan, Lee Donghae!” bentakan Kibum membuatnya harus menggigit bibirnya guna menahan tangis. Kibum bahkan langsung meninggalkannya, berlari meninggalkannya.

“Kibumie..”

Itulah saat dimana hubungan keduanya merenggang. Meski sebelumnya tak ada ikatan jelas tentang hubungan keduanya, namun pancaran kasih sayang di antara keduanya sangat pekat terlihat. Itulah sebab, yang mengatakan, perubahan di antara keduanya sangat terlihat.

Baik itu orang tua Kibum ataupun Donghae, selalu bertanya pada anak mereka masing-masing. Mengapa jarang bermain atau belajar bersama? Mengapa tak mengajak Kibum? Ataupun sebaliknya.

Dengan ego yang tinggi, itu bahkan tetap bertahan hingga keduanya menginjak kelas 2 Sekolah Menengah Atas. Tak ada kebersamaan, candaan, bahkan sekedar tegur sapa, meski hanya lewat sebuah senyuman bila keduanya bertemu. Tampak dingin.

Suatu hari, Donghae baru pulang dari sekolahnya bersama sang peri yang terbang mengiringi dirinya. Ia membuka gerbang rumahnya yang rendah, hingga dapat ia lihat, Kibum yang juga baru datang, namun dengan seseorang lain, yang bahkan Kibum genggam tangannya.

Saling pandangpun tak terelakkan meski itu tak berlangsung lama. Donghae segera menunduk lantas melangkah menuju rumahnya, sambil berkata “Aku tak apa-apa, Sae..” karena sang peri tengah berbisik cemas padanya.

Dengan lesu ia menutup pintu, yang lalu, ia sandarkan tubuhnya ke arah pintu tersebut, juga dengan tubuh yang merosot terduduk di lantai. Sambil mengernyit dengan keringat mengalir, ia berusaha mengambil nafas perlahan, hingga suara teriakan terlontar dari bibirnya. “IBU..” 

 

Kibum tengah menatap cemas ke arah kediaman Donghae yang redup di karenakan sang pemilik rumah sedang tak menempati rumah tersebut. Yang membuat Kibum cemas adalah, tersiar kabar bahwa, keluarga Lee tengah mengantar sang anak ke dokter. Apa Donghae sakit?

Nyatanya ia terlalu enggan bertanya apa yang terjadi.

Maka ia lebih memilih duduk, menghadap ke arah jendela. Hingga sorot lampu terlihat dari sana, bersamaan dengan suara deru mobil mendekat. Kibum berfikir bahwa, mereka telah kembali.

Kibum sedikit membuka jendela. Dilihatnya Donghae yang turun dari mobilnya. Tampak baik-baik saja, meski wajahnya terlihat kusam tak berwarna, entah mungkin karena ia melihatnya di malam hari.

Satu helaan nafaspun terlontar dari bibir Kibum, hingga suara ketukan di pintu kamarnya terdengar. “Masuk.” Ucapnya.

Datanglah sang ibu, yang lalu menghampirinya. “Kau ingin ikut ibu mengunjungi Donghae?”

Kibum menggeleng pelan.

“Kau yakin?”

“Ya.”

Sang ibupun pasrah. Ia tak mungkin memaksa apa yang tak ingin dilakukan anak tersayangnya. Ia segera pergi untuk mengunjungi anak sahabatnya, setelah ia kecup pelan kening Kibum.

Satu jam menjelang..

“Aku pulang.” Ny. Kim berpamit pulang setelah sebelumnya ia menemani Donghae dalam tidurnya. Ia bahkan sudah menganggap Donghae sebagai anaknya. Lontaran maafpun sempat terucap, soal Kibum yang bahkan tak menengok Donghae dengan alasan, Kibum sedang belajar.

Donghae mengangguk lemah mendapati alasan tak masuk akal tersebut. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan itu? Membuat rasa kecewa yang mendalam di hati Donghae.

Sepeninggalnya Ny. Kim, Donghae kembali terbangun karena sebenarnya ia berpura-pura tertidur tadi. Ia tak ingin terlalu banyak bicara dalam sebuah rasa kecewa yang begitu melekat di hatinya.

“Dia membenciku, Sae Hae! Dia jahat!” Rutuknya pelan, sambil mengusap matanya yang mulai basah.

Sang peri tak dapat berucap apapun, hingga suara hujan deras membahana. Bahkan disertai angin kencang, membuka helaian tirai yang tersampir, baik itu di jendela Donghae ataupun Kibum.

Donghae terus terisak, hingga tanpa sadar, ia bangkit. Turun dari ranjangnya. Ia mengendap, keluar dari rumah, lantas menembus hujan deras tersebut. Detik berikutnya, ia sudah sampai di depan jendela kamar Kibum. Benar-benar hal yang sudah lama tak ia lakukan. Namun kali ini..

PRANG..

Donghae datang dengan keadaan lain. Ia baru saja melempar kaca jendela Kibum dengan batu yang sempat ia raih di sekitar kakinya.

Kibum terkejut bukan main. Tentu saja! Kaca jendelanya, pecah tak bersisa dengan serpihan kaca dimana-mana. Iapun terbangun lalu menghampiri jendela tak berdinding tersebut. Disibaknya tirainya, dan seketika, ia tertegun.

Hyung..” Ia berucap tak percaya, saat melihat Donghae berdiri di antara hujan sambil menatap lurus ke arahnya. “Apa yang ia lakukan.” Bisiknya masih dengan rasa keterkejutan yang belum sepenuhnya menghilang.

“Aku membencimu, Kim Kibum!!!” Teriak Donghae dengan lantang dan tegas. Ia tersengal dengan wajah mengeras, tetap menatap Kibum.

Hyung..” Belum sempat Kibum menyusul, atau sekedar membalas, Donghae berlari entah kemana, diikuti teriakan dari mulutnya. “Ya! Lee Donghae!!”

Pintu kamarnyapun menjeblak terbuka. “Ada apa, Kibum-ah?” Tanya sang ayah, sambil membenarkan posisi piyamanya.

Kibum menatap horor ke arah jendela, tak menghiraukan sang ayah, dan langsung menerobos jendela, menyusul Donghae, kali inipun disertai teriakan, dari mulut Tn. Kim. “Ya Kim Kibum! Astaga! Bagaimana jendela ini bisa pecah!!” 

 

Pukul 2 dini hari saat itu..

Setelah tahu keadaannya, dua keluarga besar itu, gencar mencari Donghae yang menghilang. Tak terkecuali Kibum. Malam yang gelap, juga hujan yang deras membuat semua orang kesulitan mencari Donghae.

Kibum memisahkan diri. Ia mencari Donghae seorang diri. Hingga saat melewati taman bermainnya sewaktu kecil, ia melihat seberkas cahaya, di balik pohon apel yang ternyata sudah tumbuh besar disana. Ia menyipitkan matanya, bahkan sempat mengusap matanya yang kabur karena air hujan yang menerpa.

Cahaya itu dapat ia lihat. Sangat jelas, hingga Kibum, melangkah ke arah sana. Perlahan ia melangkah, hingga dilihatnya sebuah tangan terkulai ke arah sisi yang dapat ia lihat. Kibum bernafas cepat, secepat langkahnya.

Hyung!” Ia memekik saat mendapati tubuh Donghae tergeletak disana, sambil bersandar pada batang pohon apel tersebut. “Hyung, bangun..” Ujarnya menepuk-nepuk pipi Donghae yang bahkan sudah terasa sangat dingin.

Kibum panik, hingga diingatnya, bahkan cahaya itu masih setia menerangi mereka. Kibum sempat berfikir, cahaya apa sebenarnya?

“Aku, Sae Hae..”

“Huh?” 

 

Awalnya Kibum tak tahu, bahkan semua orang termasuk kedua orang tuanya bisa panik, bahkan lebih panik darinya. Mereka sibuk mengeringkan tubuh Donghae, hingga menghubungi dokter. Tentu saja Kibum bertanya ada apa?

Dan setelahnya?

“Aku tak percaya kalian tak mengatakannya padaku!” Kibum adalah satu-satunya orang yang meraung tak sadar, terkurung amarahnya sendiri. Ia terus saja menggenggam tangan Donghae, bahkan disaat dokter datang, dan mengatakan bahwa, hanya tinggal menghitung waktu saja bagi Donghae. Jelaskah?

“Kau yang tak ingin mendengar, juga Donghae yang mengatakan, semua akan baik-baik saja.”

Kibum menangis di depan semua orang. Ini adalah yang pertama kalinya. Ia begitu terpukul, saat mengetahui Donghae sakit keras. Kemana ia beberapa tahun ini? Bukankah rumah mereka tetap sama? Sekolahpun di tempat yang sama?

Sesalpun tak akan berarti. Bahkan kini Donghae enggan membuka mata untuknya. Donghae seolah sedang menghukumnya. Menghukumnya yang begitu egois, terlalu menutup matanya pada hal yang Donghae katakan. Peri dalam dongeng? Itu nyata adanya semenjak tadi Kibum dapat melihatnya. Bahkan sekarangpun begitu..

Kibum baru saja membenahi selimut Donghae. Hanya ia yang mendampingi Donghae disana setelah semuanya tumbang dan memilih tidur. Ia, bersama sang peri, Sae Hae..

“Kau sudah dapat melihatku?”

Kibum mengangguk, meski matanya tetap fokus pada Donghae.

“Maaf, semua karenaku. Pohon itu?”

“Apa itu rumahmu?” Tanya Kibum kemudian. “Kalau begitu, kau sudah bisa pulang sekarang.” Tutur Kibum.

Sang peri mengangguk, serta terbang ke arah telapak tangan Donghae yang terbuka. “Aku akan pulang.” Ucapnya, “tapi setelah menemaninya tidur malam ini.”

Kibum tersenyum. “Lakukan apapun yang kau inginkan.”

Pagi itu, Kibum tetap membuka matanya. Ia belum melihat tanda-tanda Donghae akan siuman. Namun ada hal lain yang mebuatnya tertarik. Tubuh sang peri, mengapa semakin lama semakin memudar? “Kau baik-baik saja?” Tanya Kibum.

Tak ada jawaban, hingga warna putih terang itupun semakin meredup. “Hey..” meredup, dan kemudian, hilang. Itu terjadi disaat bersamaan dengan bangunnya Donghae.

“Kibumie..” Erangnya.

“Aku disini..”

Donghae memutar bola matanya ke arah Kibum, lantas memberikan Kibum sebuah senyuman. “Pohon apelnya tumbuh.” Ucapnya, terdengar sedikit lemah juga serak. “Kau yang menanamnya?”

Kibum menampakkan senyumnya. Ia ingat, pertengkaran di bawah gundukan tanah di taman waktu itu. Saat itu yang terjadi adalah, Kibum meninggalkan Donghae karena kesal? Benar adanya.

Setelah itu, ia tampak menyesal, di balik jendela kamarnya, saat melihat Donghae di gendong sang ayah dengan tangis membahana. Ia sungguh tak tega, hingga sore itu ia kembali dengan biji-biji apel di tangannya, lantas berniat menanam apel untuk Donghae.

“Akupun tak menyangka itu akan tumbuh besar.” Tutur Kibum.

“Sudah lama kita tak bermain kesana, Bumie..”

“Kau benar.”

Kibum menggenggam erat jemari Donghae, saat Donghae bertanya “Dimana Sae Hae?!” Tanyanya terlihat risau, karena sang peri, sesungguhnya selama ini tak pernah meninggalkannya.

Kibum mengecup punggung tangan Donghae dengan sayang. “Bukankah pohon apelnya sudah tumbuh? Dia sudah pulang.”

“Huh?”

“Dia bilang, aku saja sudah cukup untuk menjagamu..”

 

Semua orang heran dengan apa yang terjadi. Donghae sehat seperti sedia kala. Ia bahkan bermain bersama Kibum kembali. Kedua orang tuanyapun tak percaya mengapa Donghae bisa sehat dalam waktu singkat? Bahkan sang dokter yang pintar, mengangguk tak percaya. “Apa diagnosaku yang salah?”

Sementara itu, Kibum dan Donghae, tampak tengah menikmati buah apel yang baru saja mereka petik, dari rumah sang peri, Sae Hae..

Apakah peri itu memang nyata adanya? Carilah jika kau merasa ingin melihatnya..

END

Nah begini deh jadinya. Sae.. Happy Birthday.. :’)) Maaf jika ini tak bagus. Hheu.😀

29 thoughts on “APPLE TREE OF FAIRY

    nia na yesung said:
    Desember 15, 2012 pukul 10:32 am

    Aku yang pertama Yua ???
    rasanya pengen Juga kLo Ulang Tahun Ada yang Buatin Fict .
    He , , He , , , heheh , , ,
    ngARep Yua , , , ^^
    di TunggU Cerita” yg Laennya.
    Mian Jarang CoMmEnt ^___^
    Kkkkkkkk , , , ,

      sugihhartika responded:
      Desember 15, 2012 pukul 2:58 pm

      Hheu~

      Jarang coment? O.o HaaHaaHaa.

    gamers cho said:
    Desember 15, 2012 pukul 11:39 am

    aku mau dong liat sae hae ^^ cari di gugel ada ga *plak

      sugihhartika responded:
      Desember 15, 2012 pukul 2:59 pm

      BuHaaHaaHaa..

      Coba cari di google, ada gak tu peri SaeHae. xD

    lee sae hae said:
    Desember 15, 2012 pukul 12:57 pm

    Ini bagusssss eonni.. Keren keren!!
    Ouhhh.. Aku tau kenapa Kibum kesel kalo ada sae, soalnya Kibum suka diabaiin sama Hae. Ya eonn? #soktau.

    Donghae lucu banget, sumpah deh, apalagi pas waktu kecil. Pengen nyubit rasanya.

    Jadi, sae nya mati ya eonn? Aduhhh, kasian banget aku mati, tapi gak apa” deh, yang penting Hae sehat. Hahahah

    Makasih ya eonn, udah bikinin fic ini. Bagusssssss banget.

      sugihhartika responded:
      Desember 15, 2012 pukul 3:00 pm

      Sama-sama.😀

      Iya. Eonn bikin perinya ngilang sih, gtau mati gtau enggak. Sae maunya gimana? BuaHaaHaa..

    isfa_id said:
    Desember 15, 2012 pukul 12:59 pm

    Sae Hae ilang, karena dia memberikan jiwanya (?) buat kesembuhan Donghae? begitukah? *garuk2 pala*

      sugihhartika responded:
      Desember 15, 2012 pukul 3:01 pm

      Betul eonnie. Nyehe..

    RiHae said:
    Desember 15, 2012 pukul 2:34 pm

    selalu puas abis baca ff d blog ini…..
    kren thor…….sedih jga baca endingnya ntuk SaeHae….
    SaHaenya ilang ntuk nyembuhin Hae kan????

      sugihhartika responded:
      Desember 15, 2012 pukul 3:03 pm

      Makasih.

      Hu,umh~ biasa, ngilang karena gk ada istilah mati buat peri kan ya? *sok tahu* dia kasih jiwanya buat Hae. Cukup jelaskah?😀

    Eun Byeol said:
    Desember 15, 2012 pukul 3:45 pm

    Ya ya ya!!
    Seneng yya Sae Hae saengie dibuatin ff #envy
    seperti biasa, eonn, KiHae sllu tampak unyu2(?)

    hima_kawaii said:
    Desember 16, 2012 pukul 5:10 am

    awwww cute😀

    Laila .r mubarok said:
    Desember 16, 2012 pukul 11:45 am

    Aah bayangin hae kesusahan manjat jendela pasti unyu” bnget :3
    Trus sedih aku byangin hae treak “IBU”, kyaknya dia nyesek bnget😥

    Aah hae akhirnya kmu sehat kembali.. #popo hae :*

    Raihan said:
    Desember 16, 2012 pukul 3:39 pm

    Donghae yg aneh *dijitak*

    SaeHee?..peri yg baik hati dan kibum akhirnya bisa melihat SaeHee juga syukurlah..

    Pertukaran nyawa yah?..

    Ini keren Sugih ^_<

    arumfishy said:
    Desember 17, 2012 pukul 8:32 am

    kerennn,,,,,sang peri yang nymbuhin pnyakit Donghae,,,jd Kihae bs bersma,,:D
    ending yg bahagia:)

    ndah951231 said:
    Desember 19, 2012 pukul 7:32 pm

    hwaa, ceritanya unik eon😀
    peri apel? O.o
    mau dicari sampe ikutan tanem pohonnya kaya hae jg gak bakalan ketemu😛

    ish, hae ng’gemesin banget deh >_<
    pengen cubit cubit jadinya😀
    mbum jg unyu, tp rada nyebelin😛
    mwuahehe

    Osi Dwi Olyvia said:
    Desember 21, 2012 pukul 2:45 am

    wowww peri Sae Hae ngorbanin diri demi Hae ><
    salut !!!
    akhirnya Kibum liat juga, pengen juga bisa liat peri :p

    Shizuku M said:
    Desember 23, 2012 pukul 12:11 am

    -___-” bingung mau comment apa, si ikan sama kibum samanya keras kepala, musuhannya lama banget lagi padahal tetanggaan begitu. dan itu hae langsung sembuh dari penyakitnya? apakah karna sae hae yang menghilang makanya hae sembuh? see, sae hae lah yang palin dewasa disini hahahah xD

    myhae said:
    Desember 23, 2012 pukul 11:53 am

    hwaa sae hae
    hikss
    aku ga jadi iri kalau ngenes begini
    hwaaaaaaaaaaaaaaa, sae hae, kenapa musti matiiiii
    aku lebih suka hae sama saehae dari pada sama bum
    kasian saehae,,,2 kali deh eon buat FF gift yang selalu jihae sama saehae berkirban demi hae,
    ahhh,,,nyesek…
    psss, aku mau dong dikash gift jugaa, tapi ga matiiiiii,,,aku pengen jadian sama hae

    ainun_lara said:
    Desember 25, 2012 pukul 11:52 am

    Hae sembuh itu karna perinya ya,kasian Perinya.trus ternyata diem2 Kibum yg tanam biji apelnya pas dia udah marahan..
    eh itu ya KiHae Ribut mulu tapi saling membutuhkan xixixi Cute..

    nannaa said:
    Januari 1, 2013 pukul 7:35 am

    Msh ga ngerti, donghae sakit apa yah?😀
    apa obat donghae si peri itu?

      sugihhartika responded:
      Januari 3, 2013 pukul 10:08 am

      Iya~ kan perinya ngilang. xD Kira-kira begitu.🙂

    haehyuho said:
    Januari 1, 2013 pukul 7:55 am

    wehehehe….seneng bayangin babang kecil ‘hae’ waktu nangis..
    wah,beneran jadi kihae shipper nih aku..:D

    lalany said:
    Maret 12, 2013 pukul 12:37 am

    Author kece + Hae imut + kibum cakep = perfect
    Mueheheh..BAGUS!
    smanagat thor lanjutin fict2 yg tbc..pensaran heheh^_^

    niea_clouds said:
    April 7, 2013 pukul 9:52 pm

    kasian sae hae ngorbanin diri ny bwt kesembuhan Hae . . . u.u

    namihae said:
    April 14, 2013 pukul 10:14 am

    aaa~ lgi dong lagi yg genre beginiiii~ aku lagi suka genre fantasyyyyyy eoonn!

    NunutKim said:
    Juli 13, 2013 pukul 6:11 am

    uhgg..
    Agak nyesek ya eon, endingnya kasian sekali peri sae hae.. Tapi berkat dia hae jadi sembuh dari sakitnya🙂 kibum sih terlalu egois.
    Tapi gpplah yang penting happy ending buat kihae!

    casanova indah said:
    Oktober 12, 2013 pukul 9:16 am

    aq pengen liat peri jugaaaaaaaaa……
    atau malah pingsan ya kalo aq bisa liat beneran…😀
    aishhh… sok gengsian amat sih mereka???
    bahkan demi gengsi dan egois mereka smp bertahan selama itu???
    aigoo..
    untung semua belum terlambat, cb klao Hae smp mati, bisa ikutan
    bunuh diri kali tuh si kibum!!

    ida elfishy said:
    Maret 20, 2014 pukul 2:12 pm

    Donghae skit apa emngnya??
    Ga apa lah perinya mnghlang yg pntng hae q shat lgi,dan yg pling penting kihae bersma lgi ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s