PROMISE

Posted on

Title : Promise

Cast/Pair : Lee Donghae – Kim Kibum/KiHae

Genre : Romance 

Summary : Keduanya bertemu kembali.

[Oneshot]

.

Pada salah satu deretan tangga di dalam sebuah gedung yang cukup ramai, seorang pria tampan tengah terduduk pada salah satu anak tangga tersebut. Ia duduk tenang. Sekian detik, dan melewati menit, hingga menempuh satu jam lamanya. Ia masih terduduk sendiri disana. Kakinya mulai bergerak pelan. Sesekali ia memutar pandangnya pada setiap orang yang melewatinya. Juga, jari-jarinya yang terus saja sedikit memutar arloji di tangannya, untuk memastikan waktu, benarkah ia sudah berada disana cukup lama? Ia terlihat kesal.

Nampak kesal memang. Raut wajahnya sudah sangat keruh, hingga..

Grep..

Terdapat sepuluh jari yang tiba-tiba memenuhi wajahnya, atau lebih tepatnya menutupi seluruh pandangnya. Ia tak bergeming akan hal itu.

“Benarkah kau Kim Kibum? Kibumie?”

Sebuah suara menyapanya hingga ditarik salah satu ujung bibirnya. “Hm.” Ucapnya pelan. “Jangan macam-macam hyung! Cepat singkirkan tanganmu!” Sanggahnya, yang adalah Kibum, sambil beranjak, bangkit dari posisinya dengan tangan yang mencoba menyingkirkan tangan sang hyung yang dipanggilnya.

“Aku tak mau!” Suara itu semakin menggemaskan kala mengeluarkan nada menggoda.

“Ya, Lee Donghae!”

Kibum membentak. Namun tangan itu, tangan yang adalah milik Donghae, tak ingin menyerah sepertinya. Memang tak lagi menutup wajahnya, namun turun, dengan berat yang berpindah, dirasa oleh Kibum. Kibum tahu keadaannya. “Hyung! Buang kebiasaan burukmu!” Tutur Kibum.

“Kenapa? Aku ingin di gendong olehmu. Sudah lama sekali.”

“Ini tempat umum! Juga, kau sudah besar!” Sergah Kibum mulai panik kala mata orang-orang di sekitarnya mulai terarah pada mereka.

“Aku tak peduli!”

“Aish!” Rutuk Kibum, namun tangannya mulai meraih kedua kaki Donghae, dan menggendong Donghae dalam posisi nyaman. Ia mulai membawa Donghae pergi dari tempat tersebut, sedang Donghae tersenyum puas di balik bahu Kibum. Dan Kibum dapat merasakannya. Ia mendelik lalu berujar “Kau senang?”

Donghae hanya mengangguk.

“Setidaknya biarkan aku melihat wajahmu, Lee Donghae! Apa kau masih berwajah manis seperti dulu?”

“Apa maksudmu? Tentu saja! Kau tak akan menyesal melihat wajahku nanti.”

“Awas jika bohong!”

 

Kibum masih setia melangkahkan kakinya dengan beban lebih di punggungnya. Itu adalah Donghae yang malah asyik menggoyangkan kakinya, sambil tersenyum bahagia.

Sedikit senyuman terukir di bibir Kibum. Ia senang dapat kembali menemui Donghae, yang ternyata adalah cinta semasa kecilnya. Cinta pertamanya? Mungkin begitu, karena nyatanya, mereka bersama sejak dulu, jika saja Kibum tak berpindah rumah bersama keluarganya.

Salah satu kebiasaan Donghae adalah, tak lepas dari punggung Kibum. Donghae kecil yang selalu merengek meminta agar Kibum menggendongnya. Sangat manja namun, ini adalah sisi Donghae yang teramat Kibum suka. Donghae yang hanya bermanja padanya.

Pernah suatu kala, Kibum memastikan “apa kita berpacaran?” pada Donghae, yang Donghae tanggap biasa saja, dan malah tak menjawab sama sekali, membuat Kibum kesal. Saat itu Kibum bertanya sambil mendorong sepedah yang tengah dinaiki Donghae. Sengaja. Inipun suatu kebiasaan. Mereka akan bermain dengan satu sepedah. Kibum yang akan mendorong Donghae dengan sepedah mereka, jika menempuh jalanan menanjak, dan akan meluncur di jalanan menurun dengan kecepatan tinggi bersama-sama.

Kibum menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut Donghae bahkan hingga jalanan menanjak telah mereka lewati. Ini adaah saatnya Kibum juga ikut naik dan membawa Donghae bersepedah bersama. Ia lalu naik dengan wajah ditekuk dan Donghae? Dengan entengnya, ia memeluk Kibum.

“Berpeganganlah!” Ucap Kibum sedikit ketus. Ia tengah kesal bukan?

“Hm.” Donghae menjawab seadanya, dan memeluk Kibum erat hingga Kibum mengayuh sepedah, membawa keduanya menuruni jalanan menurun dengan kecepatan tinggi, membuatnya menahan nafas berulang-ulang. Ini cepat sekali Kibumie..”

Sepedah terus melaju dengan kencang, hingga akhirnya Kibum kehilangan kendali dan semua berubah serius dalam waktu singkat. Donghae yang sudah berada di rumah sakit bersama orang tuanya juga Kibum. Ia menangis tak henti sedang Kibum masih berada dalam ruangan. Mereka menunggu dengan sabar hingga dokter datang dan mengatakan “Keluarga Kim Kibum?”

Sontak semua yang ada hendak menjawab, namun..

“Aku pacarnya dokter!!” si kecil Donghae menjawab terlebih dahulu dengan suara lantang. Apakah, suatu hubungan resmi, baru saja terjalin??

Begitulah, alasan mengapa bahkan disaat mereka baru saja bertemu setelah sekian lama, nyatanya rasa itu tetap ada. Masih dengan Donghae yang berada dalam gendongan Kibum. Ia berfikir, mencari topik pembicaraan yang sekiranya menarik.

“Kau benar-benar tak menemuiku 10 tahun ini. Kupikir kau hanya bercanda, Kibumie!” Rengek Donghae, sebagai awal dari percakapan.

“Aku hanya ingin tahu, sejauh mana kau akan menungguku.” Jawab Kibum.

“Kau memikirkannya sejak awal?” Tanya Donghae, dan Kibum? Hanya mengangguk. “Pembual!!” Bantah Donghae kemudian. “Kau berusia 10 tahun saat itu! Mana mungkin pikiranmu mengapung sejauh itu!”

“Itu karena aku benar-benar tulus mencintaimu.”

Donghae balas dengan tawa membahana. Penuturan Kibum benar-benar lucu menurutnya. Membuatnya kegelian hingga ia tertawa sedemikian rupa. Namun? Ada satu hal. “Kau yakin ini aku? Bagaimana jika aku adalah orang lain yang disuruh Donghaemu itu?”

Kibum menghentikan langkahnya. Ia melirikkan matanya pada tangan kiri Donghae, karena “Donghaeku, akan selalu memakai apa yang aku berikan.” Ucap Kibum enteng lantas melanjutkan langkahnya.

Donghae tersadar, akan keberadaan sebuah jam tangan berwarna orange, dengan gambar nemo di tengahnya. Jam anak-anak memang, karena Kibum memberikannya kala mereka akan berpisah pada sepuluh tahun yang lalu.

“Apa kau tak pernah melepasnya?” Tanya Kibum lagi.

Donghae tersenyum lantas semakin merapatkan tubuhnya pada punggung Kibum. “Tidak! Ini kesayanganku. Aku menyimpannya dengan baik.” Ucapnya bangga.

“Hm. Syukurlah..”

“Apa kau masih menyukaiku?” Tanya Donghae tiba-tiba yang membuat Kibum lagi-lagi menghentikan langkahnya.

“Kau pikir untuk apa aku menemuimu lagi, hm?”

Donghae mengangguk. “Benar. Kau benar.” Ucapnya sambil membenamkan wajahnya pada bahu Kibum. Ia tengah menyembunyikan wajah kemerahannya, yang padahal Kibum tak akan mampu melihat itu. Konyol! Namun di balik itu ia bergumam “semoga kau tak lupa..”

 

Masih dalam perjalanan yang panjang. Donghae bahkan tak berfikir, apakah Kibum sudah merasa pegal? Nampaknya ia tak peduli.

Hyung..” Panggil Kibum tiba-tiba sambil membenarkan posisi Donghae dalam gendongannya. “Kau tak ingat tempat ini?” Tanyanya sambil menginjak-nginjakkan tanah di bawah kakinya kini.

Donghae berfikir. Untuk apa Kibum membawanya ke tempat tersebut. Tempat yang cukup sepi, dengan satu kursi panjang yang usang, tepat di dekatnya kini, di temani pohon besar. Lalu Donghae? melihat tali terikat pada salah satu dahan pohon. Warna yang sudah terlampau kusam namun masih dapat membuatnya mengingat tempat apa itu?

“Oh!” Ujar Donghae teringat. “Aku ingat!” Ucap Donghae.

Tentu saja. Di usia mereka yang masih menginjak 13 tahun, hari itu, di tempat tersebut, bahkan untuk pertama kalinya mereka, bercumbu?

Srak.

Srak.

Keduanya nampak terduduk, menunggu hujan reda. Bahkan seragam sekolah masih melekat di tubuh mereka mengingat baru saja mereka akan pulang jika saja hujan tak menyerang keduanya saat itu. sebenarnya percuma, berteduh di pohon tersebut karena air, masih dapat menerobas masuk melalui celah daun-daun tersebut.

“Kita pulang saja.” Ajak Kibum, karena tahu semua percuma. Mereka sudah basah.

“Bodoh! Aku tak ingin sakit!” Tolak Donghae keras.

Kibum tak dapat membantah. Memang lebih baik berteduh di pohon tersebut meski ada beberapa tetes hujan yang tetap menghampiri tubuh mereka.

Selang beberapa menit..

Donghae mulai merasa bahwa tubuhnya terasa dingin. Ia menautkan jarinya pada jari milik Kibum sambil menatap Kibum seolah berkata, menyampaikan rasa dinginnya. Kibum tak menolak tentu saja. Iapun begitu kedinginan, hingga ia menarik Donghae. Mendekap, dan menempelkan punggung Donghae di dadanya. Dengan erat ia memeluk Donghae, mencoba saling mengalirkan rasa hangat.

“Lebih baik?” Tanya Kibum.

Dengan bibir bergetar Donghae mengangguk. Begitupun Kibum yang ternyata lebih merasa dingin. Ia kedinginan hingga menundukkan wajahnya, dan membenamkannya pada bahu Donghae, yang tertutup kain yang begitu lengket pada kulit Donghae, karena kain yang berada dalam keadaan basah.

Sapuan nafaspun Dapat Donghae rasa, tepat menyentuh kulit lehernya dan menambah rasa dingin yang ada. Ia menggeliat pelan kala Kibum, menyapukan wajah juga nafasnya, naik menjelajahi kulit leher hingga menuju sisi wajah Donghae. Donghae tersenyum dalam mata terpejam.

“Bumie..” Donghae memanggil Kibum dalam sebuah desahan tertahan, membuat Kibum seperti lupa, dan segera membalikkan tubuh Donghae serta sedikit menubrukkannya pada pohon di dekat mereka dan Kibum? Segera menyerang Donghae, membekap bibir tipis milik Donghae dengan lumatan kasar.

Hujan semakin deras, dan keduanya semakin basah. Namun terasa aneh karena, di antara dingin yang terasa, rasa panas juga menyerang disaat bersamaan. Darah mereka terasa bergejolak menahan hasrat yang ada.

Kibum semakin gencar, menelusuri wajah Donghae dengan bibirnya. Menanamkan bibirnya tersebut pada beberapa tempat di wajah, dengan lidah yang gencar menggelitiki daun telinga, hingga turun ke bagian kulit leher dan lalu? Menghisapnya dengan kuat!!

“Ngh..” Donghae melenguh tentu saja. Tanpa sadar, tangannya meremas helaian rambut Kibum, juga satu tangan yang meremas kuat kemeja Kibum. Kibum begitu membuatnya gila.

Sementara Kibum semakin bernafsu dan mulai memberikan ciuman bertubi nan kasar pada seluruh bagian leher hingga turun, menuju dada Donghae. Bahkan dengan desakkan dagunya, Kibum perlahan dapat merusak serta membuka bagian atas kemeja Donghae.

“Kibumhh..” Tak hayal, Donghae terus saja menggeliat dan semakin tak sadar. Disaat Kibum hendak membuka kancing celana miliknyapun, sepertinya ia tak sadar hingga tangan Kibum masuk dan meremas sesuatu di balik celana Donghae, barulah ia sadar dan “Nghhh..” semakin gencar mendesah.

Kibum semakin menyudutkan Donghae, merapatkan tubuh masing-masing. Lagi dan lagi, tanpa rasa bosan mengecap rasa di bibir Donghae dengan gairah meluap. Ciuman yang basah, dan Kibum tak tahu, apakah itu air hujan? Ataukah saliva yang mengalir? Itu tidaklah penting.

Entah sudah berapa lama, Kibum sudah membuat Donghae terbaring di tanah, di antara akar-akar tua pohon yang nampak. Basah dan kotor! Itulah mereka sekarang. Namun lagi-lagi mereka tak peduli. Terus Kibum ciumi leher Donghae yang sudah terbuka karena kemeja milik Donghae yang sudah tak berkancing.

“Hh, Bumhhie..” Donghae meracau, terangsang oleh lumatan Kibum di sekitar lehernya. Bukan itu saja, entah sejak kapan tangan Kibum masuk ke dalam bajunya dan meraba seluruh permukaan tubuhnya. Punggung, turun dan turun, hingga dapat Donghae rasa, remasan di kedua pahatan bokongnya, membuatnya menggelinjang hebat. Dan “akh!” Donghae memekik tertahan sambil menggigit bibirnya. “Apa yang kau lakukan Bumie? Sakit!” Rengek Donghae.

Kibum tak menyangka akan reaksi Donghae. Ia juga tak tahu apa yang tengah dilakukannya. Mereka mungkin belum terlalu mengerti dengan semuanya, yang terjadi, hanya dengan bimbingan sebuah nafsu. Mereka masih kecil bukan? 13 tahun adalah umur yang terbilang mustahil melakukan hal tersebut.

Kibum menarik diri. “Maaf hyung..” ucapnya, lantas segera menyudahi segalanya dan membawa Donghae pulang, meski?

“Kenapa kau begitu kotor!!!”

Keduanya membuat teguran yang sama di rumah mereka masing-masing dan berakhir dengan alasan yang sama pula.

“Kami bermain bola.”

Kejadian yang tak mungkin Donghae lupakan. Sejenak Donghae yang masih berada dalam gendongan Kibum terdiam dengan wajah memerah. “Kita pulang!” Ajak Donghae cepat karena ia begitu malu hingga membenamkan wajahnya pada bahu Kibum.

“Sampai!” Pekik Donghae, kala Kibum sudah membawanya, hingga tepat menuju depan pintu rumahnya. Jarak kampus menuju rumahnya memanglah tak terlalu jauh.

“Turunlah, kakiku pegal!” Ujar Kibum dengan kesalnya. Ia segera menurunkan Donghae, lantas berbalik serta mendorong dan memenjarakan tubuh Donghae di balik pintu yang belum sempat terbuka itu. “Oho..” Ucap Kibum dengan tawa menyebalkan, menurut Donghae. “Kau lebih manis rupanya!” Goda Kibum.

Donghae diam tak bergeming. Iapun terkesima akan penampilan Kibum yang baru dilihatnya setelah sepuluh tahun lamanya mereka tak bertemu. “Kau juga.” Donghae berkomentar seadanya kala hatinya berdegup kencang. Ia tampilkan sedikit senyuman, hingga Kibum mengecup bibirnya. Donghae tersenyum lalu berucap, “Selamat datang kembali, Kibumie..”

“Sambutan yang baik..” Tanggap Kibum dengan satu tangan meraih dagu Donghae, dan menyatukan belahan bibir keduanya. Melumat bibir Donghae perlahan, dan perlahan, hingga tangan Donghae, menahan semuanya.

“Kenapa?”

Donghae terlihat melihat sekitarnya. “Di dalam ada ibu..”

 

Semuanya terlihat baik-baik saja bukan? Namun berubah dalam waktu cepat. Selang beberapa menit setelah kibum dan Donghae memasuki rumah, hanya beberapa menit. Semua terjadi setelah Kibum berkata “ah! Sepatu yang aneh..” pada sepasang sepatu berukuran kecil dengan warna berbeda. Itulah mungkin yang membuat Kibum bertanya dan berkata ‘aneh’.

“Huh?” Donghae terlihat bingung akan komentar Kibum pada sepatu yang terpajang di meja belajarnya tersebut.

“Ini! Sepatu ini, kenapa yang kiri berwarna biru dan yang kanan berwarna kuning?”

Donghae tak menjawab dan malah terlihat semakin akan menangis sambil menahan amarah. Ada yang salah?

“Kau kenapa hyung?” Tanya Kibum menyadari perubahan sikap Donghae. Ia akan menyentuh wajah Donghae jika Donghae tak menepisnya. “Kau kenapa?” Tanya Kibum lagi.

Donghae memalingkan wajahnya lalu berubah berteriak kesal sambil berucap “kau melupakannya!!!”

Begitu hingga Donghae, sambil menangis menyeret Kibum agar keluar dari kamarnya, serta menutup pintunya rapat. Namun di balik itu, Kibum tersenyum entah untuk apa. Ia meninggalkan Donghae yang menanggis di dalamnya, dan tak lupa memberikan sebuah komentar “ia tak berubah!”

 

Hari tetap terlewati, dan Donghae? Tampak terlelap di ranjangnya dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Tapi? “Ugh!” Donghae menggeliat kala merasakan hembusan nafas di punggungnya. Terasa dingin.

Awalnya Donghae pikir, mungkin hanya angin? Namun itu terlalu teratur dan terus menyentuh kulit di punggungnya yang Donghae rasa, apa kulitnya tak tertutup kain? Ia ingat memakai piyama kemarin malam. Donghae segera membalikkan tubuhnya untuk memastikan.

Lalu apa yang dilihatnya hingga membuat matanya melebar?

“Ya!!” teriaknya saat sadar, Kibum berada tertidur di sampingnya. Dan satu lagi, tanpa busana? Begitupun dirinya. “Kibumie! Apa yang kau lakukan, huh?” Tanyanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kibum terusik dan sedikit membuka matanya, menatap Donghae dengan mata yang menyipit. “Selamat pagi..” Ucapnya.

Donghae meraih bantal dan menghantamkannya pada Kibum. “Bangun!” Teriaknya. “Sejak kapan kau disini? Dan apa yang kau lakukan padaku!!” Raung Donghae, namun tak berlangsung lama karena Kibum segera membekap mulutnya.

“Diam!” Bisik Kibum. “Kau ingin kita dimarahi ayah ibumu?”

Donghae mengerjap tersadar, lantas menyingkirkan tangan Kibum dari bibirnya. “Lalu jelaskan!” Tuntutnya setengah berbisik. “Kenapa kau bisa masuk kemari!”

Kibum tersenyum tipis. “Kebiasaanmu adalah, tak pernah sadar atas apapun jika sedang tertidur!” Tuturnya lagi. “Dan, tak pernah mengunci jendela meski di malam hari! Itu bahaya, Donghae sayang..” Tutur Kibum lalu menyelimuti tubuh Donghae hingga namja manis itu, kembali berada dalam kuasanya.

“Bumie..” Donghae begitu canggung sebenarnya, namun mengapa Kibum tak merasakan hal yang sama dengannya? Merepotkan! Pertemuan yang menyebalkan. Lihat! Kibum bahkan tengah bermain di antara ceruk leher Donghae. Ia belai perut Donghae, sambil terus mengendus, menghisap ‘bau’ tubuh Donghae yang sebenarnya, telah ia rasa semalam penuh tadi.

Kibum tanamkan bibirnya, mengecup lama bahu telanjang Donghae. Dengan sedikit membuka mulutnya, menjulurkan lidah, dan berakhir dengan jilatan kecil namun panjang, terus dan menuntut daerah lain hingga perpotongan leher Donghae.

“Ukh!” Donghae berdecak di antara desahan yang ia tahan. Kibum membuatnya gila. Ia remas selimut yang menutup tubuhnya tersebut, kala Kibum malah dengan senang hati menghisap kulit di perpotongan lehernya. Ia tak tahan, hingga satu tangannya, meraih untaian rambut Kibum di belakangnya.

Namun, terlalu pagi untuk mengulang semuanya. Dan Kibum? berhenti di antara senyuman menyebalkan miliknya sambil berkata, “kita lanjutkan nanti?”

“Kau sudah gila! Aku tak mahu! Aku membencimu!” Omel Donghae kemudian. “Kau bahkan tak ingat janji kita?” Tanya Donghae namun dengan wajah berubah murung.

Kibum kembali tersenyum, lantas membawa Donghae lebih merapat dalam peluknya. “Janji apa?” Tanyanya.

“Kau benar-benar lupa bukan?!” Ucap Donghae dengan wajah yang begitu kecewa.

Satu helaan nafas dari bibir Kibum, lalu ia kecup ringan bibir Donghae. “Tidak.” Ucapnya. “Aku tak lupa.”

“Huh?”

Kibum membimbing Donghae agar melihat pada satu arah, tepatnya pada meja belajar Donghae, dimana benda yang menjadi objek kemarahan Donghae kemarin berada. Sepasang sepatu, namun..

“Itu..” Donghae tak berucap saat melihat sepasang sepatu, yang kini terpasang dengan warna yang sama. Ia beralih menatap Kibum dengan binar di matanya.

“Jika aku tak salah, punyaku yang biru dan punyamu yang kuning, benar?”

Donghae mengulum senyumnya lantas menenggelamkan wajahnya pada bantal di bawahnya. Ia terlihat girang, dan sangat senang. Namun Kibum tak ingin melihatnya tersipu seperti itu sebelum mendapat jawaban. “Benarkan hyung?”

Donghae berteriak frustasi di balik bantal. “Iya!!!!” Pekiknya.

“Hey! Kenapa menyembunyikan wajahmu?” Tanya Kibum kemudian.

“Tidak!”

“Ya! Lee Donghae, jangan berpura-pura tak tahu apa yang aku lakukan padamu semalam.”

“Aku tak ingat!”

“Bohong. Kau membalasku! Kita bermain semalam, meski matamu terpejam.”

“Tidak Kim Kibum, kau memperkosaku!” Tuding Donghae akhirnya.

“Ish! Menyebalkan. Kau memang mengingatnya.”

Pagi yang indah, dengan pajangan sepatu kuning di atas meja belajar Donghae. Sepasang sepatu yang sudah tertukar kembali, sesuai janji keduanya di masa lalu. Ini yang membuat Donghae begitu bahagia. Janji yang begitu ia tunggu, hingga akhirnya saatnya tiba. Kibum, telah menepatinya.

Kala itu..

“Aku tak ingin kau pergi, Bumie..”

“Aku akan kembali hyung. Dengar, sepatu ini kita tukar ya? Dan kita menukarnya kembali saat bertemu nanti.”

Sore itu Donghae dan Kibum pulang ke rumah mereka masing-masing dengan sepatu berbeda warna di kaki mungil mereka…

Dan kini? Sang sepatu sudah berada dengan pasangan yang sesungguhnya, sama hal dengan pemilik mereka..

END

Maaf. Berasa lama saya tak menyuguhkan bacaan disini. Saya mengabaikan rumah saya yang satu ini. *lebay* Umh, apa ya? Untuk yang meminta password? Bersabarlah. Saya akan beri jika sudah menyelesaikan semuanya. Saya beri yang ringan dulu ya. I am menyusul ya, kalo masih ada yang nunggu lanjutannya. mungkin. LOL 

29 thoughts on “PROMISE

    nia na yesung said:
    Januari 5, 2013 pukul 1:53 pm

    KyAAAAAAAAAAAAA . . . . . . sO SwEEt , , , , >/////<
    Bumie Romantis bgt pake acara Gendong"an .
    Aku suka bgt , , ,
    dah g2 pake acara Tukeran Sepatu Pula .
    HAe Manja Bgt Yua tp bumie.a tetap aja sayang , mau bgt rasanya punya pacAr kya Kibum , tp gak mau mesum.a .
    Kkkkkkkkkkkk , , , , ^^

    Aku tunggu Cerita Selanjut.a yua ???? ^^

    orifishydew said:
    Januari 5, 2013 pukul 4:54 pm

    Tetep nunggu I AM dan ff yg lain kok author.. kan penunggu setia(?) kkk~
    FF ini….. ahh alur nya seru sekali, terlalu bahagia kkk~
    Di tunggu karya yg lain nya author^^

    Elfisyhae said:
    Januari 6, 2013 pukul 12:14 am

    Aq gk bsa bilang pa2. . Pkok’e daebak. . .

    Raihan said:
    Januari 6, 2013 pukul 12:42 am

    Aku aku aku…hwaaaaaaaaaaaaaaaaaa Sugih kau aish kerennnnnnnnnnnnnnnn..

    Si manja Donghae dan si mesum Kibum gila yah ini kerennnnnnnn #plaak

    Janji yah?..KiHae keren dgn saling menepati janji masing2 dan kejadian yg malamnya di skip yah?..kaga ada cerita reka ulang atau flashback gitu *dijitak* tpi keren asli ^_<

    Eun Byeol said:
    Januari 6, 2013 pukul 5:17 am

    Biasa, eonn..
    Sweeeeeeet bangeeeeeet!!
    Kibum selalu dirugikan ya kalau main sama si ikan -minta gendong, didorong sepeda- tapi dendam Kibum sdh terbalaskan stlh ‘menyantap’ si ikan.. Kkkkk~

    Shin Y said:
    Januari 6, 2013 pukul 7:39 am

    apa yag harus aku komentari??? crita kihae slalu manisss… dan kata manis akan sllu melekat pada mereka n stiap komentarku tentunyaaa..

    Christ Josh said:
    Januari 6, 2013 pukul 8:22 am

    soooooooooooo sweeeetttt !!!!!!

    arumfishy said:
    Januari 6, 2013 pukul 10:11 am

    so sweet…Kibum msh aja ngrjain donghae…:)

    pdhl udh 10 thn g ktmu tp ttep inget sm janji mrka…

    cinta Kihae emang besar..:)

    ndah951231 said:
    Januari 7, 2013 pukul 2:26 am

    Oh My !!
    bummie mesum >_<
    ish, hae polosnya keterlaluan, tp keliatan kaya' dibuat", manjaaaa😛

    mau dong digendong bummie juga😀
    sweet~

    Laila .r mubarok said:
    Januari 7, 2013 pukul 3:35 am

    Aku slalu menunggu un hehe

    Aah mereka so sweet bnget, jdi iri -3-

    haehyuho said:
    Januari 7, 2013 pukul 12:54 pm

    haeppa manis banget…manja,hehehe,percakapan stelah ber’this n that’ adalah part paporit,haha

    hubsche said:
    Januari 7, 2013 pukul 3:30 pm

    People said that men basically only have 2 emotions: hungry & horny. Itulah Kibummie kalo liat Hae…. always hungry & horny pengen makan itu ikan super duper cute. :)) This is too sweet to be real *envy*~kkk
    Daebak!!!

    Gigia said:
    Januari 8, 2013 pukul 6:45 am

    Maniiiss…banget,jadi gak tau mo ngomong apa lg..di tunggu ff yg lainnya.

    lee sae hae said:
    Januari 9, 2013 pukul 12:00 pm

    Bagussssss eonni.. Kerennn banget !!
    So sweet pula. Heheheh
    Akhhhh.. Kihae emang selalu bikin seneng deh bawaannya..
    Eonn.. Itu kihae bener” deh, masa mau ngelakuin itu di umur 13. Hahah.. Emang dari kecil udah mesum yaaa..
    Hae manjanya, tapi seneng deh kalo manjanya sama kibum..
    Kerennnnn eonn..

    ainun_lara said:
    Januari 10, 2013 pukul 11:59 pm

    Kyaaaaa Lee Donghae,Ikan Nemo,anak manja,Kau-begitu menggemaskan “Kerangkeng Ikan”. Nice Fluffy,dari awal sampe akhir baca senyum” sendiri,dan KiHae di saat umur 13,Ommo apa yang kalian lakukan,kenapa malah berhenti”Plakk”. Kibum mau pergi lagi,knp?,Kereeen Saeng,SUKA!!

    hima_kawaii said:
    Januari 11, 2013 pukul 4:19 am

    ah, telat hampir seminggu -____-
    huuwaaaa so cute…..me like… ^^
    ck ck 13 tahun coba…*shake head* kkkkk~
    ahahaha pertemuan yg keren…. gak langsung lihat wajah satu sama lain hehehe😀
    uh oh….. smalam ngapain tuh…. ahahahaha~ XXXXXDDDDDD

      hima_kawaii said:
      Januari 11, 2013 pukul 4:21 am

      oh iya.. ceritanya keren unnie ^^

    BryanELFishy said:
    Januari 11, 2013 pukul 3:59 pm

    so sweet aku juga mau ^_^

    haelfishy said:
    Januari 12, 2013 pukul 12:43 pm

    Astaga..hae kau beat..pinggang kibum bisa encok karena gendongin kamu…astaga ternyata mereka mengingta janji masa kecil mereka ya…so sweeeeeeeeeeeeeet

    Shizuku M said:
    Januari 26, 2013 pukul 10:48 pm

    nyenyenyeh manja banget ini si ikan, serasa masih kecil aja sifatnya, dan kim kibum, kau mulai menjadi mesum nak hahahah cie kihae bersatu lagi cie cie mhuhehehe

    bryan ryeohyun said:
    Februari 4, 2013 pukul 9:51 am

    kihae cocuitttt
    romantis bgt kibum oppa nya ampe2 aku merah sndri pas bca ff nie kkkk

    bryan ryeohyun said:
    Februari 4, 2013 pukul 9:53 am

    kihae cocuitttt
    romantis bgt kibum oppa nya ampe2 aku merah sndri pas bca ff nie kkkk
    kibum oppa bogoshipooo

    lalany said:
    Maret 11, 2013 pukul 11:56 pm

    Omg. *nariknapas*
    SO SWEEEEETTT BANGET SIH KIHAEEEE~~ *capslockjebol*
    Udah suka deh kalo donghae manja banget ama kibum. Kibumnya jga diem cool gtu lagiii. Aah~makin cinta ama KiHae
    Pembalasan kibum setelah dia capek2 ngegendong si ikan.malemnya langsung makan si ikan! Wkwkw *evillaugh
    Daebakkk lah untukk cerita2 mu thor!;))

    saga.virgo said:
    Maret 17, 2013 pukul 6:29 pm

    Suka banget sama kihae hha tukeran sepatu idenya ok tuh hha romantis khaan hhe

    niea_clouds said:
    April 2, 2013 pukul 11:51 pm

    ya ampun itu masa kihae msh kecil udh ‘begituan’ , tp masa Hae ga ngrasa smlm Kibum ng raep diam . . . . ceritany co cweeet . . . .

    casanova indah said:
    Oktober 12, 2013 pukul 2:59 pm

    yakk!! kenapa di skiip ence”a??
    whuaa.. pdahal itu yg bikin errrgghh,,,😀
    hahaha..
    kibum mesum, nguntung wae dech..
    tapi kalo liat kemanisan Hae memang rugi kalo dilewatkan..

    etin prawati said:
    April 12, 2014 pukul 1:05 pm

    Daebak…
    Gak tahu mau komen apa kisah mereka selalu manis.

    ELFarida said:
    Januari 24, 2015 pukul 4:36 pm

    Romantiiisss >_<
    seneng pas baca moment pagi hari mereka di ranjang, manis bget eon🙂
    keren eonni,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s