CHOCOBUM [2]

Posted on

Title : Chocobum

Cast : Lee Donghae – Kim Kibum

Genre : Humor

Summary : Donghae berfikir, menemukan burung peliharaannya kembali, Choco! Benarkah?

[Choco? or Kim Kibum?]

.

Satu senyuman pasti ia tunjukkan, dengan deretan gigi putih yang nampak. Dengan tegas ia ulurkan tangannya, lantas mengenalkan dirinya tanpa ijin. “Aku Donghae. Kau?”

“Ki..” belum sempat satu jawaban Donghae dengar? Ia sudah berani memotong lawan bicaranya kali ini. Ia berucap, “Kibum. Ya aku tahu. Kau Kibum, Kim Kibum, Chocobum,” ucap Donghae, seiring dengan sebuah seringaian yang meluas, terlansir dari bibir Donghae yang tertarik di kedua sisinya. Kibum tertohok, keheranan seraya ‘takut’ atas sosok ini, sosok yang memperkenalkan dirinya dengan, ‘Donghae’.

“Euhhh.. Eunhhh..” Donghae kembali berujar, tak sabar meski rangkaian kata terasa rumit untuk dilontarkan. Namun dia, tetap pada pendiriannya, mengajak sang Choconya berbicara, berbincang. Choco yang hadir dengan sosok berbeda. Sosok yang sama seperti dirinya. Sosok manusia! Bukan lagi seekor burung. Senangkah ia? Tentu saja! terlihat dari wajahnya yang berseri-seri sejak Kibum, burungnya itu, akhirnya mau datang, atas ajakannya yang sebenarnya, sudah ia lakukan beberapa kali.

Binar matanya bercahaya, menyebar dengan sedikit sentuhan sayang, mungkin banyak. Serta, harapan dan kebahagiaan.  Lantas, kembali, dengan sebuah ketegasan yang terlihat tak menginginkan sebuah bantahan, ia berucap, “Kau! Milikku,” sambil menggenggam erat jemari Kibum, menautkannya dengan miliknya. Dia terus tersenyum, memandangi ‘keajaiban’ yang tak pernah dia kira.

Sedang Kibum, terus saja melongo tak percaya. “Apa yang sedang kau bicarakan?” tanyanya dengan sedikit nada heran.

“Nanti kau juga akan ingat. Kau melupakanku? Aku menganggapnya wajar. Kau kan baru saja mengalami reinkarnasi.” Terang Donghae, dengan ekspresi konyolnya, namun dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Kibum semakin mengernyit bingung lantas sedikit mencibir, atau menertawakan sikap aneh Donghae tersebut. “Tsk,” decaknya. “Aku tak reinkarnasi! Apa yang kau bicarakan sebenarnya! Jangan bertingkah bodoh!” bantah Kibum.

Namun di luar dugaannya, Donghae menggeleng keras. Ia lantas mendekap erat lengan Kibum. “Aku tidak salah! Kau itu burung peliharaanku!” tutur Donghae yakin.

“Apa?!”

“Dulu kau seekor burung.”

Kibum menggaruk kepalanya tak sabar. Berusaha tetap bersabar akan tingkah Donghae. “Lantas?”

“Dan sekarang, kau? Manusia?” Ungkap Donghae, ragu kali ini. “Seorang?” Ucapnya terlihat bingung, untuk selanjutnya ia kembali menggeleng. “Bukan!” Ucapnya membantah perkataannya sendiri. “Kau, adalah ‘seekor manusia’!” Ucapnya mengambil satu kesimpulan yang kembali membangkitkan senyuman di bibirnya.

Sementara Kibum? “Ish,” semakin berdecak sebal, lantas melepaskan tangan Donghae di lengannya dengan sedikit kasar.

“Chocobum!” rutuk Donghae mendapat perlakuan tak menyenangkan tersebut.

“Aku Kim Kibum!”

“Bukan!”

“Kau gila!!!”

Kibum berjalan, dengan mata yang tak henti melirik ke arah belakangnya sesekali. Heran, adalah kata yang tak lepas dari fikirnya, semenjak ia bertemu Donghae di taman sekolah tadi.

“Orang aneh!” rutuk Kibum sambil berjalan perlahan, karena seseorang yang membuntutinya dari belakang. Donghaelah pastinya.

Tapi lihatlah, apa yang dilakukan seorang Lee Donghae?

Ia akan membalikkan badannya kala Kibum, tiba-tiba berbalik ke arahnya. Apa ia bodoh? Tentu saja Kibum akan tahu itu dirinya. Juga, ia terlihat konyol saat ia harus berpura-pura melihat ke arah lain, atau berpura-pura menendang kerikil di antara kakinya dengan kepala tertunduk malu.

“Sudahlah!” ucap Kibum, mencoba untuk tak mempedulikan. Namun..

Dengan tiba-tiba, angin berhembus lumayan kencang, hingga menjatuhkan daun-daun dari pohonnya. Pohon?

Srak.

Sempat terjadi gesekan antara alas sepatu Kibum dengan pasir yang dipijaknya, hingga langkahnya benar-benar terhenti. Ia berhenti, kala menyadari, bahwa dirinya tepat berada di bawah sebuah pohon yang cukup besar. Iapun lalu mendongakkan kepalanya, melihat setiap daun berguguran itu, melihat dahan-dahan yang bergoyang itu, juga melihat betapa rindangnya pohon tersebut, membuat Kibum benar-benar menghentikan pergerakan kakinya.

Salah satu daun terlepas, terjatuh dengan lambat, dan berhasil mendarat indah di telapak tangan Kibum. Wajahnya begitu damai, menatap sejuk ke arah pohon tersebut. Ada apa? Iapun seolah tak tahu.

Hingga, datang bunyi lain, berasal dari kakinya. Kibum merundukkan tubuhnya, dan menemukan bunyi gemerincing dari kakinya. Bunyi yang berasal dari ikan kecil yang tergantung pada gelang kakinya. Aneh. Ia terlihat menemukan sesuatu yang aneh. Terlihat dari raut wajahnya yang bingung.

Bahkan ada beberapa detik ia habiskan dalam diam, hingga sosok Donghae melewatinya sambil terus menundukkan wajahnya. Kening Kibumpun mengkerut, lantas, dengan seenaknya menarik belakang kerah kemeja milik Donghae. “Kenapa mengikutiku, huh?” tanyanya pada Donghae yang sedikit meronta tentunya.

“Tidak. Aku tak mengikutimu!” bantah Donghae dengan sangat yakin.

“Kau memang aneh,” umpat Kibum, untuk selanjutnya ia melepas jemarinya dari kemeja Donghae, lantas berkacak pinggang. “Dengar! Aku tahu kau mengikutiku, Donghae hyung..” jelas Kibum.

Namun apa? Donghae menyambut kata tersebut dengan binar di matanya. “Kau memanggilku hyung?! Whoaaa!” juga diikuti sorakan riang.

Kibum menutup matanya rapat. Kesal! Ia terlihat kesal atas sikap Donghae. “Aku tak tahu apa yang kau inginkan, tapi? Berhentilah bersikap konyol di depanku!” rutuk Kibum. “Juga? Berhenti mengiktiku!”

Donghae menggeleng keras. “Tapi aku tak mengikutimu,” sergah Donghae kemudian.

“Kau berjalan di belakangku, itu apa namanya?” desak Kibum tak ingin kalah.

Kembali Donghae menggeleng yakin. “Ini jalan menuju rumahku, Cho..”

“Kibum!” Segera Kibum memotong ucapan Donghae yang akan memanggilnya dengan nama lain. “Aku Kibum!”

“Iya, ini jalan menuju rumahku, aku tak mengikutimu, sungguh..” terang Donghae akhirnya.

Kibum melongo setelahnya. Wajahnya benar-benar bingung hingga ia harus memutar tubuhnya, kembali melihat jalanan yang sempat ia lalui hingga ke tempat tersebut. Memang ada pertigaan sebelumnya. Dan Kibum? Menepuk pelan kepalanya, entah mengapa.

“Kau kenapa?” tanya Donghae.

Kibum melirik Donghae. “Tidak. Kau pulang saja jika akan pulang.”

Kebingungan kali ini melanda Donghae. Ia menggaruk kepalanya, sambil menatap Kibum yang juga tengah menatapnya. “Lalu kau?” tanya Donghae.

Kibum berdecak. “Akupun akan pulang tentu saja.”

Donghae tetap bingung. Ia melihat jalan menuju rumahnya, lalu menatap Kibum bergantian. “Jalannya?”

“Sudahlah!” Tukas Kibum sambil mendorong tubuh Donghae agar melanjutkan langkahnya.

“Tapi?”

Kibum mendorong Donghae dan membuat Donghae melanjutkan langkahnya. Sedang dirinya? Berbalik arah, sambil bergumam pelan “kenapa aku berbelok ke kiri? Harusnya kanan! Pantas saja aku tak pernah melihat pohon tadi! Kibum bodoh!” umpatnya sambil berlalu dalam langkahnya.

Dan tanpa sepengetahuannya? “Oh! Kau salah jalan?” Donghae mengintip Kibum dari balik pohon, sambil menahan tawanya.

Ah! Keduanya menjadi tampak bodoh.. -_-“

Kibum dan Donghae, berada di kelas yang berbeda. Jelas, mengingat usia keduanya, berbeda satu tahun.

Pagi ini, Kibum tengah membaca buku di bangkunya, ketika sesuatu mengangetkan dirinya. Bagaimana tidak? Sosok Donghae muncul tiba-tiba di balik jendela kelas terbuka, yang kebetulan berada di dekatnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Kibum, menutup rasa terkejutnya, dengan wajah tak peduli.

“Selamat pagi, Choc..”

“Kibum!!” lagi, Kibum memotong kata Donghae yang akan melontarkan namanya yang lain. “Panggil aku Kibum!” sergahnya dengan tegas.

“…”

Senyap seketika, membuat Kibum lagi-lagi harus berfikir. Ia lalu melirik Donghae, yang masih menampakkan setengah tubuhnya di balik jendela. Donghae yang tengah menekuk wajahnya.

“Apa?” tanya Kibum, dengan wajah sedikit condong ke arah wajah Donghae. Sedang Donghae? Menghentakkan kakinya dengan kesal. Dan, tanpa Kibum menyadarinya?

“Kau? Chocobum! Aku tak mau tahu!” Donghae berujar yakin tepat di depan wajah Kibum, karena sebelumnya, ia menarik kerah kemeja Kibum, membuat sebagian tubuh Kibum, condong ke arah luar, dan hasilnya? Tampak romantis memang. Membuat semua orang yang melihat? Melirik ke arah mereka, lantas melontarkan beberapa cibiran ringan.

“Aku Kim Kibum!”ujar Kibum sambil perlahan, melepas jemari Donghae yang terkait erat pada bagian kemejanya.

Donghae mencibir, lantas menggoyang-goyangkan jarinya di depan wajah Kibum. “No! No!” sanggahnya. “Kau, Chocobum! Kau burungku!”

Kibum terlihat sangat kesal, hingga ia harus menahan nafasnya dan membuang wajahnya dari Donghae.

Namun sesuatu seolah mengusik Kibum. Donghae menatapnya dengan sendu sambil berujar “kita berteman, kan?”.

Lama Kibum berfikir sambil memandang Donghae. Berbeda sekali dengan Donghae tadi yang begitu cerewet. Mata Donghae yang begitu lembut, bahkan sangat nampak, juga enggan menghilang dari pandangannya.

“Ya?” selain itu Donghae mulai mendesaknya, sambil mengangkat jari kelingking miliknya.

“Aku.. eh?” belum sempat Kibum berucap, kembali Donghae bertindak tanpa ijinnya dengan menautkan jari kelingking mereka satu sama lain.

“Aku tahu!” ucap Donghae, dengan senyum terkembang. Juga, “kita berteman lagi..” ucapnya, lantas? Donghae mengecup kilat pipi Kibum, sambil menepuk-nepuk pipi Kibum yang lain, lalu melangkah pergi dalam langkah yang riang.

Kibum hanya melongo dibuatnya, dan kembali tersadar saat mendengar suara riuh dari dalam ruangan kelasnya. Sebenarnya tak sepenuhnya ia seperti enggan beralih menatap punggung Donghae, namun? Suara berisik semua teman kelasnya, membuatnya kesal, lantas ia? Melempar pulpen miliknya ke segala arah, sambil berujar “diamlah!” dengan pelan, namun tajam.

“Festival sepedah?”

Donghae menatap bingung pada Kyuhyun yang baru saja memberinya sebuah pengumuman. Sedang Kyuhyun mengangguk. “Iya. Senin depan sekolah libur, karena semua siswa akan mengikuti festival sepedah di kota,” terang Kyuhyun.

Donghae membenahi bukunya ke dalam tas berhubung pelajaran baru saja selesai, dan ia akan beranjak pulang. “Lalu?” tanyanya kemudian.

“Satu sepedah untuk dua orang. Kau pergi bersamaku, ya?” ajak Kyuhyun dengan senyum terkembang.

Donghae menatap Kyuhyun, untuk kemudian ia mencibir sambil berucap “tidak mau!” lantas melangkah pergi.

“Ya, hyung! Kenapa?” tanya Kyuhyun terlihat kecewa, sambil mengikuti Donghae.

“Aku sudah ada teman untuk itu,” terang Donghae dengan dagu terangkat, terlihat yakin.

“Huh? Siapa memangnya?”

Donghae menghentikan langkahnya, lantas melirik Kyuhyun dengan satu bibir terangkat. Ia membenahi topi yang baru saja dipakainya. “Aku tak percaya kau tak mengetahuinya,” ujarnya santi lalu kembali mengayunkan kakinya untuk melangkah.

Kyuhyunpun mendengus sebal, sambil menyilangkan tangan di dadanya. “Jangan bilang, kau akan mengajak Kim Kibum!!” rutuknya.

Namun Donghae tak peduli. Ia tetap melangkah dengan tenang, hingga tiba-tiba berbalik arah ke arah Kyuhyun, juga dengan kedua telapak tangan yang melingkar di daerah mulutnya, ia berbisik “chocobum” lalu terkikik geli, dan terakhir berlari cepat.

“Dasar bocah gila!” umpat Kyuhyun, namun ia juga tak mampu menutupi senyumannya, menanggapi tingkah konyol kawannya tersebut.

Kibum dengan tenang berjalan. Menapaki tanah yang segar di bawahnya. Beberapa kali ia sempat meliriki arah belakangnya, seolah takut seseorang mengejarnya. Namun di luar dugaan, jalanan sepi. Hening, tak ada satupun yang berada di belakangnya.

Juga? Aneh karena ternyata, Kibum kembali melangkah dengan wajah sedikit kecewa. “Dia tak ada?” ucapnya, lalu mengedikkan bahunya. “Sudahlah..” komentarnya.

Beberapa langkah dilalui Kibum, tiba-tiba “AKU DISINI CHOCO~!!” Donghae berteriak, dan keluar dari sebuah tikungan, yang sepertinya akan dilewati Kibum.

“Ya! Kau mengagetkanku!” rutuk Kibum, untuk selanjutnya ia mengelus dadanya sambil, dengan wajah ditekuk, melewati Donghae begitu saja.

“Hey, Choc..”

“Kibum!” Peringat Kibum memotong.

Donghae mendengus sebal. “Baiklah!” ucapnya, “Choc, umh..” ucapnya terhenti. “Bum, ungh~” begitu rumit bibirnya, meski hanya mengucap satu nama, hingga “Bumie..” tuturnya pelan. “Kupanggil kau Bumie?” tanya Donghae, hingga ia tersenyum kala melihat Kibum mengangguk meski dalam posisi memunggunginya. Dan dengan langkah girang ia mengikuti Kibum.

Damai. Adalah kata yang terukir, kala dua insan itu, berjalan beriringan, meski tak ada kata terucap. Hingga..

“Bumie..”

Kibum menoleh. “Apa?”

Donghae nampak berfikir, untuk selanjutnya, ia mendekatkan diri pada Kibum di antara langkahnya. Sedang Kibum kembali merasakan tingkah aneh Donghae. Padahal beberapa menit lalu, Donghae tampak manis di matanya. “Kau..” ucap Donghae tertahan.

“Apa?”

“Kau, benar tak ingat aku? Beras? Umh, gelang di kakimu?”

Semakin mengernyit bingung, adalah yang dilakukan Kibum meski sebelumnya ia sempat melirik gelang di kakinya. “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Aku tak ingat!” bantah Kibum, namun seolah membenarkan, apa yang difikir Donghae. Bahwa, Kibum yang merupakan Choco, memang bereinkarnasi dan melupakan dirinya, karena baru saja Kibum berucap “tak ingat”, “bukan tak tahu”.

“Benarkah?” tanya Donghae lagi. Ia bertanya dalam kecewa di wajahnya, namun? Seolah memaklumi keadaan, ia segera meraih lengan Kibum.

Kibum sedikit menggeser posisinya tak nyaman dan menggerakkan lengannya, namun? Donghae semakin nakal! Ia mempererat pegangannya pada lengan Kibum. “Diamlah, Bumie..”

“Hey!”

“Aku ingin begini! Hanya sampai pertigaan nanti. Tak akan lama, itu di depan bukan?”

Kibum bernafas panjang, terlihat pasrah. Iapun membiarkan Donghae bergelayut manja pada lengannya, dan kembali melanjutkan perjalanan. Tapi? Donghae ataupun Kibum, seperti tak mengatakan apapun soal festival nanti, sedang Donghae sudah berujar yakin pada Kyuhyun bahwa dirinya akan pergi bersama Kibum.

Hari senin tiba. Seperti rencana, sekolah libur dan festival benar-benar di adakan. Semua siswa berbondong-bondong datang ke pusat kota dengan masing-masing sepedah yang dihias sedemikian rupa.

Tak lain dengan Kibum, ia datang meski? Ia tak menghias sepedah miliknya. Bahkan menatap aneh pada sepedah yang mendapat perlakuan berlebih dari sang majikan itu.

“Kau sendiri?” tanya salah satu teman tiba-tiba.

Kibum mengangguk, hingga teman tersebut berkata “aku ikut bersamamu, tak apa-apa?”.

Tak ada alasan bagi Kibum untuk menolak, hingga ia menunjuk jok belakang sepedahnya dengan dagunya sambil berucap “naiklah” dengan sangat singkat. Tak ada raut ramah sama sekali, namun? Semua orang seolah tahu dan memaklumi hal itu.

Teman tersebut tersenyum dan bermaksud menduduki jok belakang sepedah Kibum, jika saja..

“Bumie..” Suara isakan menghampiri mereka.

Kibum nampak menggaruk kepalanya. Ia menatap pada satu arah, dimana Donghae berada sambil membawa sepedahnya, dan juga, terisak. “Kau kenapa hyung?”

Donghae lalu menjatuhkan sepedah miliknya lantas menghampiri Kibum. “Sepedahku rusak, lihatlah!” tunjuknya pada sepedah miliknya. “Bannya bocor!” terang Donghae kemudian, “aku pergi bersamamu, ya?” ah! Beginikah akal seorang Lee Donghae?

Kibum terlihat bingung. “Tapi..” ucapnya sambil melirik teman, yang ternyata sudah duduk di sepedahnya.

Donghae tahu itu. Namun? “Menyingkirlah!” bentak Donghae pada teman Kibum yang entah siapa namanya itu.

Hyung,” Kibum mencoba membantah, namun Donghae segera membungkam Kibum, menutup mulut Kibum dengan telapak tangannya. “Diamlah Bumie!” titahnya, lantas kembali melihat teman Kibum tersebut. “Kenapa duduk disana, huh?”

Tentu saja Donghae mendapat tatapan tajam akibat ulahnya tersebut. “Aku duduk disini lebih awal!” tukasnya.

“Tapi Kim Kibum Chocobum adalah pacarku!” ucap Donghae sambil berkacak pinggang.

“Eh?!!” Kibum terkejut bukan main. Juga, apa pula dengan perubahan namanya itu?

“Turun! Turun!” Desak Donghae, layaknya orang tak tahu diri, sedang orang tersebut menggeleng pelan, lantas turun dan juga sempat mendapat ucapan maaf dari Kibum.

“Jangan begitu hyung..” ucapnya namun, Donghae menutup kedua telinganya. Kibum tahu itu, dan ia semakin sebal namun? Terlihat mengulum senyumnya. “Awas kau hyung!”

“Aku membawa dua topi yang sama,”

“Astaga! kau tak usah melakukan itu!” ujar Kibum terkejut, kala Donghae mengeluarkan dua buah topi dengan warna dan motif yang sama. Ikan.

“Kenapa? Ini panas, kau harus memakainya!”

“Tapi..”

Donghae tak ingin tahu, dan langsung memakaikannya pada Kibum, lalu? Setelahnya ia memeluk erat Kibum sambil berteriak “ayo berangkatttttttt!!!!!!”

Dan benar, Kibum lantas mengayuh sepedahnya, dan membawa Donghae yang begitu berisik. Tak salah jika banyak orang yang menatap mereka, serta membicarakan mereka. Dan Kibum? Hanya mengayuh sepedahnya dengan wajah tertekuk.

Siang yang sangat terik. Keringat mengucur, baik itu di wajah Kibum ataupun Donghae. Kejadian yang menarik perhatian kembali terjadi, saat Donghae memberikan satu botol minuman pada Kibum.

“Apa mereka benar-benar pacaran?”

“Kupikir mereka cocok.”

Dan banyak lagi. Donghae semakin melebarkan senyumnya namun Kibum? Terdiam dengan wajah menahan malu, meski ia sempat melemparkan tatapan tajam pada setiap orang yang bergunjing tentangnya.

Di sisi lain, Donghae melihat, ada seorang siswi. Yang menarik perhatiannya adalah, gantungan pada tas milik siswa tersebut. Gantungan yang sama persis dengan miliknya, yang kini tergantung di gelang kaki Kibum. “Itu..”

Kibumpun melihat ke arah yang ditunjuk Donghae. Dan ia lalu terdiam. memang sama, bahkan hingga warna dan ukurannyapun sama.

“Kenapa sama?” tanya Donghae dengan wajah kecewa.

“Kau pikir, hanya ada satu di dunia ini? Huh?” balas Kibum sambil menggoyangkan kakinya, membuat suara gemerincing keluar.

“Huh?” Donghae tampak bingung.

“Ada banyak gantungan seperti ini, hyung. Sebenarnya..” ucap Kibum terhenti, saat dilihatnya Donghae menundukkan wajahnya. “Hyung..”

“Jadi milikmu juga, bukan milikku yang kuberikan pada Choco?” tanya Donghae dengan wajah sedihnya, disertai air mata yang sudah menumpuk di sudut matanya.

Hyung, ini memang hadiah yang diberikan adikku, dan aku harus memakainya jika tak ingin ia menangis..” jelas Kibum, diiringi isak tangis Donghae.

Perlahan Donghae usap matanya, dan terlihat sungguh menyedihkan. “Jadi kau bukan Choco?” tanyanya dan disambut dengan gelengan Kibum. “Kau tak reinkarnasi?” Kibum menggeleng lagi. “Bukan Chocobum?”

Hyung..”

Donghae menutup wajahnya, lalu beranjak pergi, berlari layaknya orang yang tengah patah hati? Begitulah. Ia berlari cepat meninggalkan keramaian, dan meninggalkan Kibum yang tengah dirundung asa. Ia lantas membuka topinya. Topi yang Donghae berikan padanya. Ia usap wajahnya, sambil berucap “kau belum mendengar..”.

“Donghae-ya..”

Sang ibu memanggil dari dalam dapur rumah. Namun Donghae? Enggan menyahut sedikitpun dan hanya termenung di balik jendela kamarnya. Ia hanya terdiam, dan terdiam.

Hyung! Kenapa tak membalas panggilan ibu!” Kyuhyun tiba-tiba datang dan bergabung bersama si malang Donghae, bahkan menyenggol lengan Donghae.

“Ish! Diamlah, Kyu! Jangan menggangguku! Pergi sana!”

Kyuhyun menatap Donghae aneh. Karena hyungnya itu, tak biasanya bersikap seperti sekarang. “Kau kenapa?”

Donghae menggeleng pelan.

“Kau tak akan sekolah hari ini?”

Donghae kembali menggeleng. Ia lalu mengibaskan tangannya pada Kyuhyun, mengusir Kyuhyun dengan halus, sambil berkata “aku sakit!”

“Huh?”

“Pergilah!” titahnya, bersamaan dengan Kyuhyun yang menghilang di balik pintu, dan akhirnya? Kembali hening. Donghae sempat menatap, ke arah sangkar kosong, yang dulu? Adalah milik sang Choco.

“Oh! Jadi dia bukan kau! Kibum bukan kau!” ujarnya sambil setengah menangis.

Dua hari berikutnya. Donghae melangkah dalam perjalanannya dengan lesu. Ia tak lagi mengekori seorang Kim Kibum. Ia hanya berjalan seorang diri, hingga bayang Kibum hadir di depannya.

Tak ada keinginan, juga alasan untuk mengikuti Kibum lagi bukan? Maka hanya berjalan seperti biasa saja yang dilakukan Donghae. Namun seolah tak ingin melihat Kibum, ia berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Di lain pihak, Kibum sedikit melirikkan wajahnya, dan dapat menangkap bayangan Donghae di belakangnya. Donghae berubah terlalu cepat, membuatnya kehilangan?

Tapi sudahlah, di pertigaan yang mereka lewati bersama itu? Akhirnya mereka berpisah dalam keadaan tak saling mengenal?

Itulah yang terjadi.

Kibum adalah Kim Kibum..

Dan Choco adalah Choco..

Kibum bukanlah Choco..

Dan Donghae ingin Choco, tapi dia menyukai Kibum, sepertinya.

Lalu perasaan keduanya?

END

 Sudah kan ya? Cerita selesai~🙂

13 thoughts on “CHOCOBUM [2]

    Gigia said:
    Januari 26, 2013 pukul 12:08 pm

    Apa an si ini??…apanya yg selesai beluuuum..!!!kibum jga blm selesai ngomong ma hae,apa yg belum di dengar donghae.Dilanjut lagi ya….author baik d..he..he..

    hubsche said:
    Januari 26, 2013 pukul 3:23 pm

    KYAAAAAAAAA!!! Baru baca lanjutannya Chocobum. This is so hillarious (awalnya)… akhirannya bikin nyesek… hiks.. tuntaskan urusan Hae dan Chocobum, eh Bummie maksudnya.
    Lanjut… Lanjut… Lanjut😀😀

    Shizuku M said:
    Januari 26, 2013 pukul 11:18 pm

    what kenapa harus end? ini belum selesaiiii masih gantung? sequel sequel sequel sequel!!! wait pas hae nyadar kibum bukan chocobum kibum pengen ngomong sesuatu kan? apa ituuu? jangan jangan kibum beneran chocobum? aaa pokonya sequelll

    Elfisyhae said:
    Januari 27, 2013 pukul 4:56 am

    Waowwwwww cpet bngt dah end. . .

    Christ Josh said:
    Januari 28, 2013 pukul 5:48 pm

    lanjuuuuuuuttttttttttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    hima_kawaii said:
    Januari 29, 2013 pukul 6:49 am

    eh?? selesai?? ya udah…


    kkkkkk~ huuwaa kok gitu sih unnie~ T3T kupikir sampe mereka jadian kkkkk~😄

    gamers cho said:
    Januari 30, 2013 pukul 12:05 pm

    mana? mana moment yg bikin nih ff pas buat di end kan? kibum masih mau ngomong sesuatu , kihae belum jadian juga,,,, mauuuuu part 3 :’

    Laila .r mubarok said:
    Januari 30, 2013 pukul 4:39 pm

    End? E.nya ganti a alah jdinga and…

    Eon, gantung tuh ceritanyaaa..😦
    Dilanjut doong…
    Digantung itu menyakitkan loh eon, bahkan mematikan loh eon *hukuman gantung*
    Jdi jangan gantung aku eoon dengan melanjutkan fic ini haha

    Raihan said:
    Februari 2, 2013 pukul 4:07 am

    Wew apa-apaan ini?..

    Lanjut woy lajut!…jangan biarkan mereka berpisah di pertigaan seakan tak saling mengenal, paling tidak biarkan mereka berpisah dipertigaan dengan senyum mengembang dan berkata “sampai bertemu besok,” #plaak

    Tapi ini keren ko, Kibum bukan Chocho dan Chocho bukan Kibum, kasian amat suami saya kalo dulu dia adlh burung *peluk Kibum erat*

    Kyuhyun itu temannya Donghae?..suka sama Donghae?..ya udah jadiin KyuHae aja dulu biar si Kibum nyesek bentaran #plaak

    Kerennnnnnnnnnnnnnnn ^_<

    Shin Y said:
    Februari 2, 2013 pukul 2:33 pm

    ehh?? jadi bneran tu si kibum bukan choco?? tp kynya ada sesuatu yg mau disampaiin kibum deh ama hae??

    dmna2 kyuhyun slalu ade aje yeee,, kkkk,,, dia suka ya ama hae??? bagus deh,, biar si kibum cemburu tuu,, skali2 gpp dong buat kibum uring2an,,hohoho

    myhae said:
    Februari 2, 2013 pukul 5:43 pm

    Eh?
    Bingung:-O

    namihae said:
    April 14, 2013 pukul 10:44 am

    heehh? ini apa? itu endingnya g slah? eoonnn! ini belum berakhiiiiir~~

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 31, 2013 pukul 9:37 am

    Kibum, donghae belum mendengar apa ? belum mendengar kalau kau menyukainya ?? yeee,,,
    lalu mereka gk pacaran dulu eonnie ?? ckck Ikan yang malang,,, terus selanjutnya gimana ??? #sebenarnya minta sekuell tapiii ???# hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s