RED INK [3]

Posted on

Cerita berubah! Karena Bryan ingin, agar semuanya berjalan seperti yang seharusnya. Berjalan sebagaimana takdir yang dikehendaki Tuhan..

[Chapter 3]

.

Kibum terus membaca tiap potongan kalimat yang ia temukan pada lembar pertama catatan Donghae. Sejak ia membaca tentang “Aiden menginginkan hidup yang menarik..” ia terus membaca kalimat berikutnya.

“Seorang anak malang yang bahkan melihat kematian ibunya di depan matanya sendiri. Seorang istri yang dibunuh oleh suaminya sendiri, ayah Aiden. Begitu kejam..”

Kibum membuka catatan lain. Namun? Semua tampak tak berurutan, sejak terdapat tulisan “Aiden tak ingin ibu tiri! Tapi mengapa sang ayah membiarkan ibu tirinya itu, selalu berada dekat dengannya? Menyebalkan!”

Lalu..

“Sang ayah mendapat masalah besar! Ia dikejar musuh besarnya!”

Juga..

“Hingga istri simpanannya itu, meninggal tepat di depan mata anaknya sendiri dengan timah panas menembus kepalanya!”

Kibum merasa heran dengan tiap tulisan tersebut. Ia ingat di suatu malam, ia mengikuti sang ayah meski tak tahu apa yang terjadi. Hanya saja di saat sebuah mobil melintas, tiba-tiba Heechul berkata “tutup telinga dan matamu, Kibum-ah!”

Tapi Kibum tak menurut. Ia membuka lebar mata dan telinganya, hingga dapat menyaksikan bagaimana saat sang paman, melepaskan satu tembakan pada mobil yang melintas itu, dan saat dihampiri? Terdapat wanita dengan kepala berlubang disana. Mengerikan!

Adegan yang sama dengan apa yang ditulis Donghae. Tapi tak masuk akal jika Kibum menghubungkan tulisan tersebut dengan kejadian miliknya. Terlihat berlebihan! Untuk itu Kibum mengabaikannya dan kembali membaca.

“Aiden, bertemu dengan Bryan. Seorang kawan yang rela menampungnya karena titipan ayahnya sendiri, di kala masalahnya belum terselesaikan, karena..”

Satu hantaman mengenai hati Kibum. Apa ini masih disebut suatu kebetulan? Atauhkah Donghae menuliskan rincian kehidupannya? Dengan Donghae sebagai Aiden, juga, dirinya sebagai Bryan? Dan Kibum masih terlalu sulit untuk mengerti. Ia merasa harus melanjutkan semuanya.

“Sang kawan adalah seorang penghianat! Bryan dan ayahnya, menyekap Aiden!”

Ya! Ini sudah mengundang suatu rasa yang begitu membuat Kibum penasaran. Maka Kibum melewati semua lembar hingga, langsung membuka dua lembar terakhir.

“Aiden, menyukai kehidupannya yang begitu rumit dan menegangkan. Penuh tantangan, dan mendebarkan. Hingga ia disekap..”

Kibum mengernyitkan keningnya, lalu ia mulai berjalan, ke tempat dimana sang ayah berada. Dengan tak sabar ia mendobrak pintu sambil bertanya “Dimana tas milik paman Yesung?”

Apa yang Kibum cari? Nyatanya, ia hanya mendapat tunjukkan kecil dari dagu sang ayah, dimana terdapat tas kecil di sekitar mereka. Segera Kibum mengacak tas dimana sang pemilik, bahkan sudah menutup mata untuk selamanya. Milik Yesung, hingga satu senyuman ia tunjukkan, saat mendapatkan sebuah pena dari dalam tas tersebut.

Dengan erat di genggamnya pena tersebut, juga catatan kecil milik Donghae lalu, disembunyikannya kedua barang tersebut di balik saku jaket milik Donghae, dan ia berharap? Tak ada seorangpun yang akan mengetahui hal tersebut.

“Kau tidur saja disini, Kibum-ah! Ayah tak ingin tangan ini kembali menyiksamu, karena aku yakin, kau akan mengacaukan segalanya.”

Dan kali ini lain. Tak ada bantahan dari mulutnya. Tak ada pembelaan darinya, untuk Donghaenya karena? Ia hanya berikan satu anggukan patuh pada sang ayah.

 

Kibum melangkahkan kakinya perlahan. Suaranya begitu menggema, terdengar di antara lantai yang tengah ia pijak. Satu bibirnya terangkat. Ia tersenyum pahit sambil berujar “jadi kau tahu semuanya, hyung!”

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Tepat di depan sebuah ruangan, dengan jendela yang kusam namun, masih menampakkan sosok orang yang tengah meronta dalam sebuah ikatan.

Miris Kibum rasa, kala melihat pemandangan tersebut. Tapi ia begitu bingung! Bagaimana ia harus bertindak. Sedang semua masih samar di matanya. Dan dari balik jendela itu, kaca yang kusam itu, bahkan Donghae dapat melihatnya. Terlihat tak sabar dalam ikatan tersebut. Tangispun mengiringi. Sedikit menggetarkan hati Kibum namun? Kembali Kibum menyadarkan dirinya, untuk tak berbuat apapun saat ini. Ia memalingkan wajahnya dari Donghae yang terlihat meronta ke arahnya.

Entah apa yang dipikirnya, dengan tawa miris di wajahnya, ia tetap berbincang dengan segala emosi yang meraja di hatinya. “Aku belum yakin,” tuturnya. “Benarkah ini, hyung?” ucapnya pelan, sambil sedikit melirik Donghae di dalam ruangan gelap itu. “Bagaimana? Bila aku yang menulis disini? Apakah akan sama terjadi?”

Beberapa menit setelah berfikir keras, Kibum bertekad, lantas segera membuka lembaran terakhir pada catatan Donghae serta mengeluarkan pena milik Donghae. Tanpa melihat Donghae, ia torehkan beberapa tulisan, hingga sang pena kembali bekerja, mengukir tulisan merah, yang mungkin saja dapat bekerja?

Dan apa yang ia tulis?

“Aiden melupakan semuanya esok hari, hingga selanjutnya, hanya takdir yang akan memutuskan!”

Satu senyuman terpancar di wajah Kibum. Ia lalu memasukkan alat tulis tersebut ke dalam saku jaketnya, lantas berkata “berhentilah bersandiwara, hyung. Maafkan aku..”

Sudah menjelang dini hari, saat persembunyian Heechul bersama satu kelompoknya, di gebrak oleh sirine polisi dengan sangat tiba-tiba.

Semua orang panik tersmasuk Kibum, yang dengan sangat terburu-buru mendapat guncangan dari sang ayah, yang menyuruhnya untuk segera terjaga.

“Ada apa ayah?” Kibum bertanya dengan mata setengah terpejam.

“Kim Kibum bangunlah! Mereka menemukan kita. Oh sial!” umpat Heechul, setengah menjambak rambutnya, lantas segera menggusur sang anak untuk segera berlari.

Di tengah kalap itu, Kibum teringat, atau memang tak akan pernah lupa sedikitpun, tentang “Donghae, ayah..”

Heechul menghentikan langkahnya. Benar yang di kata Kibum kali ini. Heechul tak peduli, jika satu nama yang disebut oleh mulut sang anak, diiringi suatu nada kehawatiran. Namun, iapun belum ingin menyerah, akan ambisinya, akan semua rencannya.

“Kita bawa dia, Kibum-ah..”

 

Donghae diam, terhimpit oleh mobil yang begitu sesak, sementara Kibum berada dalam mobil lainnya. Sementara tubuh dan juga mulutnya? Tetap dalam posisi terkunci.

“Darimana para polisi itu tahu keberadaan kita?!”

Donghae mendelik sebal ke arah suara. Tak ada satupun orang yang ia kenal, hanya saja, mereka adalah kawanan Kim Heechul.

“Merepotkan! Bocah ini merepotkan! Kenapa kita tak langsung saja membunuh Lee Sungmin, daripada repot seperti ini!!”

Dalam mulut tertutup itu, Donghae menyunggingkan satu senyuman. Itu? dapat terlihat dari sorot matanya yang berubah. Sorot mata yang beberapa waktu belakangan ini, terlihat teduh, menjadi tajam, sama seperti saat, malam dimana sang ibu tiri mati di hadapannya?

Perlahan, dengan santai ia sandarkan tubuhnya.

Sementara para penculik yang melihat itu? Berdecak pelan. “Aigo! Lihatlah! Kenapa bocah ini sama sekali tak terlihat takut?”

Donghae menatap bosan, lantas segera memejamkan matanya, hingga penutup mulutnya, dibuka dengan tiba-tiba, membuat matanya kembali terbuka.

“Katakan sesuatu sebelum mati, bocah! Aku tak peduli bahkan jika Kibum menangis meraung setelah kematianmu nanti,”.

Sejenak, Donghae kembali merubah wajahnya. Hanya satu nama yang dapat membuat wajahnya menjadi sendu seperti itu. Kibum.

“Katakan!”

Donghae di buat kesal, hingga harus menghirup nafas panjang. Ia memandang satu-persatu orang di sekitarnya tersebut. “Matilah kalian!” umpatnya.

“Apa?”

“Ayahku mati! Kalian mati!”

“Apa yang dikatakan bocah ini?!”

Donghae diam dengan mata kembali terpejam dengan santai. Ia merasa, sudah mengetahui segalanya hingga tak harus merasa takut. Namun apa yang terjadi? Ia mengerutkan kening saat mobil yang ditumpanginya, berjalan tak beraturan. Sang supir membanting stir ke kanan dan kiri dengan keras.

Di dalam kendaraan lainpun, Kibum menoleh ke arah belakang, lantas mendapati mobil yang di tumpangi Donghae yang tiba-tiba oleng.

“Mereka kenapa?” tanya Kibum pelan, menyadaran Heechul.

“Apa?” baru saja Heechul bertanya, namun dapat di dengarnya, suara dentuman keras dari belakangnya yang membuatnya menoleh. “Oh astaga!!” umpatnya, sementara itu..

Kibum terdiam sejenak, terpaku pada arah pandangnya, dan sesaat kemudian? Bibirnya meneriaki “Donghae!” dengan sangat keras.

Bagai tersapu angin, mobil itu masuk ke dalam sebuah jurang.

 

Mereka sudah berada dalam sebuah ruangan baru yang sangat sepi. Ruangan yang bahkan ada di antara sebuah rumah yang cukup megah dari sebelumnya? Entahlah..

Kibum meremas jarinya, sementara Heechul terus terdiam, hingga sebuah kalimat terlontar. “Semuanya mati, kecuali bocah itu,” tuturnya kecewa. “Hanya tinggal aku, kau dan dia, Kim Kibum! Mulailah patuh padaku!”

Kim Kibum melirik pada Kim Heechul, sang ayah. “Sampai kapan kita akan bersembunyi, ayah? Sudahi semua..”

“Apa yang kau katakan, bodoh?!” tukas Heechul. “Kita simpan semua rencana, karena aku tak mungkin melakukannya seorang diri.”

“Ayah..” sanggah Kibum, terhenti kala seseorang, keluar dari ruangan lain.

“Bagaimana dia?” Kibum segera menerjang orang tersebut, dengan pertanyaannya yang sangat terburu-buru.

Orang tersebut, membenahi kacamatanya sejenak. “Kurasa dia akan melupakan segalanya,” jelas orang tersebut.

“Amnesia?” tanya Heechul dengan kerutan di keningnya.

Di lain sisi, Kibum melemas, dengan detak jantung yang semakin cepat. Apa yang ditulisnya? Benar-benar terjadi. Perlahan di cengkramnya, buku beserta sang pena yang masih tersimpan dalam saku jaketnya.

“Siwon-ah, benarkah itu?”

Siwon? Seorang dokter rahasia dari Kim Heechul, mengangguk pelan. “Seharusnya ia dirawat, hyung..” ucapnya pada Heechul.

Heechul menggeleng pasti. “Tidak! Ini akan lebih bagus. Bantu aku merawatnya, Siwon-ah..”

Heechul tertawa bangga, sementara Kibum tetap terdiam dalam nafas memburu, berusaha menahan tangis. Dalam hatinya, ia terus bergumam “maafkan aku, maaf, hyung..”

TBC

*Pendek ya? Saya cuman ingin pastikan, kalian mengerti? Ini, tadinya mau kubuka terakhir tapi? Karena beberapa hal? Cerita saya perluas kembali. Terima kasih telah membaca dan? Sampai berteu di chapter berikutnya. HaHaHa. Wassalam..

24 thoughts on “RED INK [3]

    myhae said:
    Februari 3, 2013 pukul 4:18 am

    Eon nanggung,..lagii,.knpa hae musti ilang ingatan,kan jd makn susah

      sugihhartika responded:
      Februari 3, 2013 pukul 5:42 am

      Kalo gak ilang ingatan? Masalah umur akan jadi hambatan Mea, karena? ini masalahnya terlalu serius. xD

    nia na yesung said:
    Februari 3, 2013 pukul 4:38 am

    Yang Kemarin aku gak Komen Mian > <
    Aku Mulai Ngerti Jln cerita.a Kkkkkkk , , ,
    jd Hae sebenar.a dah tau apa yang akan terjadi lewat buku yang dia tulis Serem amat ya ?
    tp Kibum merubah jln cerita.a .
    aduh Hae jd amnesia tuh O,O
    klo aku pu.a buku tulis kaya g2 aku bakalan ngerubah masa depan aku Hehehehee , , ,
    aku gak sabar Nunggu Kelanjutan.a ???
    Aku tunggu Yua^^

      sugihhartika responded:
      Februari 3, 2013 pukul 5:41 am

      Iyo begitu maksudku sebenarnya. >.<

      Syukur kalo sudah mengerti. Lanjutannya? Nanti, dan? Terima kasihhhh.. ^^

    isfa_id said:
    Februari 3, 2013 pukul 5:00 am

    mau lagi Sugih, lagiii~

      sugihhartika responded:
      Februari 3, 2013 pukul 5:36 am

      tik dulu dong eonnie~ xD

    Gigia said:
    Februari 3, 2013 pukul 8:13 am

    Sekarang aku udh mulai ngerti..tapi jdi penasaran gmna akhirnya apalagi hae jadi amnesia..

    Shin Y said:
    Februari 3, 2013 pukul 12:05 pm

    jadi sapa aja bisa nulis dg pena trsbut??? ya ampun ak ga nyangka, trnyta bakal ky gini critanyaaa,,

    dag dig dug><

      sugihhartika responded:
      Februari 3, 2013 pukul 2:46 pm

      Iya~😀 kenapa dag dig duggg? xD cerita senjutnya? Hae psikopat? coba. xD bayangkan saja~

    Raihan said:
    Februari 3, 2013 pukul 2:26 pm

    Kibum gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..

    Kalo aku jdi Kibum aku buat ceritanya gini “Bryan bisa menyadarkan sang ayah dan membuat sang ayah kembali ke jalan yg benar dan Aiden bisa bersatu kembali dgn sang ayah dan para pemberontak lenyap ditean bumi” wkwkwkwk

    Tapi ini kerennnnnnnnn, mau dong punya pena merah itu, biar semua urusan ku lancar #plaak

    Kerennnnnnnnnnnnnnnn ^_<

      sugihhartika responded:
      Februari 3, 2013 pukul 2:45 pm

      Bukan aku ya yg bilang Kibum gilaa. HaHaHaHa~

      Terima kasih Raihannnnnnnnnnn! Kau mau penanya? Beli sama saya sini! xD

    Christ Josh said:
    Februari 4, 2013 pukul 1:58 am

    ini fic maksudnya cerita tentang kihae dengan pena ajaib????

    Elfisyhae said:
    Februari 4, 2013 pukul 10:25 am

    Ff nya rada serem2 gmana gtu. . . Tp tetep t.o.p b.g.t😀

    arumfishy said:
    Februari 4, 2013 pukul 5:11 pm

    iya pendek oen,,
    trs apa sungmin bakal mati??trs gmn sm donghae??

    lanjuttt

    hima_kawaii said:
    Februari 5, 2013 pukul 12:34 pm

    waaahh buku catatan yg keren tuh….. mau duuung kkkkkk~ xDDDDD

    hubsche said:
    Februari 5, 2013 pukul 4:28 pm

    Bisa tulis gini nggak… “Aiden dan Bryan akan bersama selamanya” hahahahaha cheesy? I know! :’)))

    ndah951231 said:
    Februari 6, 2013 pukul 9:52 am

    ughhh, kepotong pula >_o<
    *gigit bada*

    Laila .r mubarok said:
    Februari 6, 2013 pukul 2:15 pm

    Eoni umur kihae brapa? Udah dksh tau lom sih aku lupa..

    Eon kok yng di i am 2 aku ga bisa komen deh?

    ainun_lara said:
    Februari 10, 2013 pukul 11:07 am

    Donghae hilang ingatan krn apa yg ditulis Kibum,artinya sekarang Kibum yang pegang Pena dan notanya,trs Kibum meu ngapain?,mau bikin Donghae inget kembali?,bikin Chulie jd baik,Ommo Bummie,tulis yg baik dan romantis eoh?

    BryanELFishy said:
    Februari 21, 2013 pukul 2:36 pm

    ok, orang orang nggak pentingnya mulai ilang
    fokus sama kihae sekarang (?)
    sungminnya ini belum mati? apa nggak diceritain matinya?
    donghae amnesia? baguslah #plakk
    biar nggak susah ngurusnya.🙂

    Lee Sae Hae said:
    Februari 22, 2013 pukul 4:58 pm

    Eonnniii.. Kerennnnn banget fic nya..
    Jadi semuanya karna pulpen merah itu? Serem juga ya kalo punya pulpen kayak begitu..

    Akhhhh.. Itu kasian banget itu Hae amnesia? Terusss kalo Hae amnesia gimana itu dong eonn.. Moga” aja ada yang bisa lindungin Hae.
    Kerennnnnn eonnn!!!

    Shizuku M said:
    Maret 6, 2013 pukul 2:46 pm

    pas baca tulisan hae di buku itu kesannya horor misterius gimana gitu.-. dan dengan ilang ingatannya hae berarti ada hal baru nih. tapi nanti kalo udah gedenya gimana dong?

    casanova indah said:
    Oktober 13, 2013 pukul 8:30 am

    huwaaa… sampai jamuran aq nungguin ff ini dr dulu..
    udah dr awal thn publish, dan baru akhir tahun aq liat’a? omaigaaaat….
    Donghae amnesia?? ommo.. apa dia juga akan ngelupain kibum???
    ajaib bener tuh pena.. kirain cm Donghae doang yg bisa nulis pake pena itu…
    ternyata Kibum juga..

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 6:12 am

    wkwkwkwkwk,…. jadi catatan bertinta merah itu emang beneran ada hantunya ya? hiii… buktinya aapun yang ditulis di sana jadi kenyataan,..

    moga2 Kibum nggak nulis apa2 lagi di sana,.. biar semua berjalan sesuai takdir,.. eh,.. btw tinta merah itu kan juga bagian dari takdir😄

    gatau ah gelap😄

    lanjut~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s