RED INK [4]

Posted on

Apa yang Kim Heechul inginkan?

Seperti apa kisah ini, bila berjalan sesuai takdir, sesuai dengan apa yang Kibum inginkan? Nyatanya, semua hal membuatnya tak bisa luput dari rasa cemas yang setiap saat mengganggunya, karena..

“Donghae, adalah segalanya, bagiku!”

[CHAPTER 4]

.

Matahari menyinari sebagian permukaan bumi kala itu. Tak terkecuali dengan daerah, dimana kakinya menapak kini. Begitu terik karena sinar yang menyengat. Cerah dan juga, panas!

Ia tak peduli akan panas itu. Ia tak peduli dengan segala hal. Hanya satu senyuman sinis terukir di bibirnya. Ia berjalan perlahan, sambil membenahi jaket hitam dengan kerah yang menutupi sebagian lehernya. Tak lupa dengan topi hitam di kepalanya, yang lalu ia benahi.

Terus di langkahkan kakinya, hingga tiba-tiba?

Bruk.

“Ah! Maaf..” ucapnya sambil membungkuk hormat, karena telah menubruk seorang pria cukup tua yang hendak menaiki mobilnya dengan pengawasan beberapa orang di sampingnya.

Sementara itu, pria tua tersebut tak bereaksi. Hanya saja, ia terlihat kaget saat sadar bahwa “ah! Kejar anak tadi! Dia mengambil tasku!” raungnya lantas memerintahkan para bodyguardnya untuk mengejar sosok yang nyatanya? Sudah berlari lebih jauh di depan mereka.

Sementara suasana siang itu semakin panas? Tak kalah tegang, dengan suasana di dalam sebuah ruangan, semenjak sepasang telapak tangan menggebrak sebuah meja kayu, berisikan botol-botol minuman keras, juga asbak yang penuh dan kotor!

“Seharusnya ayah tak membiarkannya melakukan itu seorang diri!”

Satu kepulan asap, keluar dari mulut yang sempat menyunggingkan seringaian. “Biarkan dia berkembang, Kibum-ah!”

Sang pelaku penggebrakan meja, yang tak lain adalah Kim Kibum, berdecak pelan lantas bernafas dengan kasar. “Tapi itu berbahaya! Apa sebenarnya inginmu! Biarkan aku saja yang melakukan semuanya, dan biarkan ia hidup dengan tenang!” pekik Kibum, lantas terhenti, setelah..

Prang..

Bunyi keras keluar, kala sebuah asbak berbahan kaca itu? Dilempar dan mengenai dinding, bahkan? Satu serpihan kacanya, melayang, dan sempat merobek sedikit kulit di wajah Kibum, hingga setitik darah keluar.

“Kau tak berhak mengguruiku, Kim Kibum!”

Kibum mengepalkan erat jemarinya. Mencoba menahan segala amarah yang kini begitu menghantamnya.

“Ayah tahu, kalian sudah besar kini. Tapi bukan berarti kalian bisa melawanku, brengsek!”

Satu tatapan tajam Kibum berikan pada sang ayah, Kim Heechul. “Tapi Donghae begitu menghormati dan juga mematuhi setiap ucapanmu, bahkan menyebutmu ayah!”

“Itu karena dia lupa segalanya dan menganggapku ayahnya. Bukan salah dan juga mauku,” bantah Heechul dengan satu sikap meremehkan. Ia lalu kembali menatap wajah Kibum. “Akan bagus bila kau juga menjadi anak patuh, Kim Kibum! Kau anakku dan aku? Ayahmu. Ini tak bisa kau bantah!”

Kibum tak berselera untuk membahas hal yang selanjutnya. Terlalu menguras emosinya dengan sia-sia. Ia lantas beranjak meninggalkan Heechul tanpa kata, hingga kakinya sempat terhenti saat Heechul bertanya “mau kemana kau?”

Dengan satu gerakan dan satu pandangan sinis di matanya, Kibum mengusap titik darah di pipinya dengan salah satu lengannya sambil berujar “aku tak ingin kau banyak bertanya tentang apa yang akan kulakukan!”

Di antara langkah cepatnya, ia tersenyum. Ia tersenyum saat  mengingat sebuah kata yang membuat hatinya membuncah pagi ini.

“Ini tugas pertamamu, anakku, Kim Donghae..”

Ia terlalu larut dalam bayangannya hingga tak sadar bahwa? Ia telah di dekati oleh sekelompok orang yang mengejarnya? Berburu sebuah tas kerja berwarna hitam di tangan, yang baru saja ia curi.

“Berhenti!”

Seakan menulikan telinganya, ia terus berlari, berlari, meski tetap saja, halangan menghadang, kala kakinya menginjak sesuatu yang licin hingga terjatuh, membuatnya dengan cepat, berada terkurung, bersama para pengejarnya yang langsung menarik serta memenjarakan tubuhnya.

“Pencuri kecil rupanya!”

Donghae memejamkan satu matanya, karena tubuh yang sedikit terombang-ambing. Tak ada rasa takut dalam dirinya. Tak ada. Namun, satu kebodohannya adalah? ‘aku tak bisa berkelahi,’ rutuknya dalam hati.

Koper dalam tangannyapun terenggut, meski itu tak mudah karena? Jemarinya turut mempertahankan benda yang entah apa isinya itu.

“Lepaskan!” peringat salah seorang yang mengerubunginya tersebut. Ia tersudutkan, hingga otaknya berfikir dengan cepat, lantas teringat pada sebuah benda yang ia simpan di dalam saku jaketnya.

Sontak semua orang mengangkat tangannya, kala tangan itu? mengeluarkan sebuah pisau lipat. Takut? Tidak sepertinya. Karena salah satu dari mereka yang terlihat kuat itu, terlihat mencibir, lantas berkata “kalian takut pada bocah ini? Juga dengan pisau kecilnya?” sambil mencengkram sang tawanan. Namun..

Crash..

Darah segera berhamburan, dan memenuhi seluruh permukaan pisau setelah, benda tajam itu menyayat sebuah kulit.

“Agh!”

Sang pemilik lengan? Tentu saja menjerit, meski belum sepenuhnya terbebas, karena, “Aku Kim Donghae! Donghae! Jangan sebut aku bocah! Usiaku sudah akan menginjak dua puluh!” karena Donghae, sang bocah? Tengah mencengkram kuat lengan yang tadi menyentuhnya, juga? Lengan yang baru saja ia torehkan luka disana.

Bau darah menyeruak, warna merah memenuhi pandangan Donghae. Membuat dirinya mengernyit merasakan sensasi aneh tersebut. Sorot matanya bahkan berubah dingin, semakin dingin.

Tanpa kata, Donghae mendorong pria dengan luka di lengannya itu, menubruk dinding, lantas, dengan segera menancapkan kembali pisau miliknya itu lebih dalam dengan cengkraman yang begitu kuat. Tak bisa di lepas.

Semua orang terkejut. Donghae terlihat membabi buta dengan wajahnya yang begitu dingin. Tak ada yang berniat menghentikan, sedangkan pria itu? Mungkin saja sudah sekarat, karena sudah ada begitu banyak lubang di lengannya dengan darah menyembur.

“Hentikan dia! Hentikan..”

Bisikanpun terdengar, hingga salah seorang di antaranya, segera mengambil kayu, dan hendak menghantamkannya pada Donghae yang terlihat tak sadar. Hanya fokus menancapkan pisau miliknya, pada lengan yang sudah robek itu.

Satu hantaman kayu, siap menghantam bagian kepala Donghae. Namun? Satu keberuntungan masih berpihak pada Donghae. Karena?

Kibum datang, dan menyerahkan punggungnya, hanya untuk melindungi Donghae. Iapun terdiam melihat ulah Donghae yang seperti itu. Donghae dengan sorot mata yang kosong. Donghae yang seperti bukan Donghaenya.

“Hentikan, Hae..” bisik Kibum, sambil mencoba meraih lengan Donghae dan berusaha menghentikannya sementara? Sang korban sudah jatuh terkulai. Tinggalah Kibum yang terus mengunci segala pergerakan Donghae, padahal? Dari sekian banyak orang yang hendak menyerang Donghae tadi? Kini benar-benar menyerang, menendang? Juga memukul.

Donghae tetap memandang korbannya tiada henti, sedang Kibum? Tengah berusaha melindungi dirinya, menelungkup tubuh Donghae sebisa mungkin hingga? Semua orang berhamburan setelah polisi berdatangan.

Termasuk Kibum? Yang menyeret Donghae pergi meninggalkan para polisi yang siap menangkap mereka. Satu hal, tas yang dicuri Donghae? Berada aman dalam genggamannya.

Kibum segera mendobrak sebuah toilet umum, lantas membawa lengan Donghae, membersihkannya dengan tak sabar. Tak lupa ia membasuh muka Donghae, karena disana juga terdapat bercak darah yang tak sedikit. Bayangkan saja karena Donghae, terus menancapkan pisaunya pada lengan orang itu tiada henti.

Selang beberapa waktu, Kibum dapat kembali menangkap sorot mata Donghae. Mata Donghae yang terlihat bingung. “Kibumie..”

Kibum tetap diam dan terus mengusap wajah Donghae hingga ia yakin, tak ada lagi bercak darah disana. “Sudah kubilang, jangan terlalu menuruti perintah ayah!” tegas Kibum kemudian.

“Bumie..”

Kibum baru saja memarahi Donghae namun? Tak ada emosi disana. Hanya sebuah pepatah, yang mungkin tak akan Kibum hentikan jika Donghae tak mendengarnya.

“Kau bahkan tak sanggup melihat darah! Bagaimana bisa kau melakukan hal sepertiku!”

Donghae meratap mendengarnya. “Ini tugas pertamaku! Ayah..”

“Persetan dengan semua ucapannya!” tukas Kibum cepat. “Dengar!” titah Kibum keras, sambil menarik kuat lengan Donghae. “Jangan kotori tanganmu, Hae! Hanya aku! Tetaplah di belakangku. Kumohon..”

Donghae berdecak sebal. Raut wajahnya, mulai kembali. Menyebalkan di mata Kibum. Donghae yang tengah melipat tangannya di dada. “Aku bukan anak kecil, Kibumie!”

Kibum memandang malas ke arah Donghaenya. “Aku tahu..”

“Usiamu bahkan lebih kecil dariku, Bumie..”

“Aku tahu..”

“Jadi, kenapa kau yang selalu melindungiku! Menyebalkan!” decak Donghae, lantas berlalu dari hadapan Kibum, dan sempat menyenggol sebagian tubuh Kibum secara sengaja.

Hyung!”

“Jangan panggil aku hyung jika kau masih menganggapku anak-anak!”

Kibum melongo di tempatnya. Donghae kembali menyebalkan seperti biasanya namun? Ini adalah hal yang membuatnya dapat menarik nafasnya dengan lega.

“Aku sudah menyelesaikan tugasku, bukan?” ucap Donghae ceria, bahkan di langkah pertamanya saat memasuki pintu rumah. Ia menghampiri Heechul yang memang tengah terduduk di sofa depan. Tanpa ragu ia menghampiri Heechul, lantas memeluk sosok yang ia panggil “ayah” tersebut.

“Bagus!!” puji Heechul, lantas mengambil tas yang disodorkan oleh Donghae padanya.

“Apa isinya? Apakah sama, serbuk putih yang sering dibawa Kibum?”

“Kokain, Hae!” sanggah Heechul sambil mulai membuka tas tersebut. Ringisan kecil Heechul tunjukan sambil terus menjelaskan bahwa “itu kokain! Tapi sekarang? Bukan! Ini bukan barang yang sama, seperti yang selalu dicuri Kibum,” jelas Heechul, mengajak wajah Donghae merenggut dalam waktu cepat.

“Aku ingin tugas yang sama seperti Kibum!” protesnya, atau lebih, seperti merajuk kepada Heechul.

“Suatu saat nanti, kau boleh ikut dengannya, ayah janji!”

Donghae kembali berbinar. “Benarkah?!” tanyanya dengan riang, sementara Kibum? Yang sebenarnya bergabung dengan mereka sejak tadi? Menatap malas dan terlihat tak peduli.

“Aku tak pernah ingin membawamu, hyung..” ucap Kibum lantas berlalu dari keduanya.

“Mana bisa begitu!” bantah Donghae dengan kesal. Ia lantas setengah berlari menyusul Kibum, dan tiba-tiba melompat begitu saja, ke arah punggung Kibum.

“Apa yang kau lakukan! Berat, Hae!!” ucap Kibum, mendapati bobot di punggungnya yang kian bertambah.

“Kau dengar apa yang di katakan ayah tadi? Aku harus ikut denganmu!” ucap Donghae tak peduli akan protesan yang terlontar dari bibir Kibum, karena ulahnya. Malah, ia semakin mengeratkan lengannya pada leher Kibum, dengan kaki melingkar pada tubuh Kibum.

“Siapa yang peduli akan ucapannya! Tidak akan!” balas Kibum, sambil meraih kedua kaki Donghae yang masih melingkar di tubuhnya. Ia mempererat pegangannya, membenarkan posisi Donghae, lantas membawa Donghae di punggungnya.

“Tapi aku akan ikut!” paksa Donghae.

“Tidak!”

“Kibumieeee!!”

Keduanya terus beradu mulut, hingga melewati sebuah pintu dan memasuki ruang kamar milik Kim Kibum. “Turunlah, punggungku sakit, hyung..”

Donghae menurut. Ia turun lantas terduduk di atas ranjang, yang juga milik Kibum. Ia mendongak menatap Kibum yang terlihat mengelus punggungnya sendiri. Terlihat bukan main-main. “Kau kenapa?” tanya Donghae, hingga didapatinya sebuah luka di pipi Kibum. Sontak Donghae bangkit dari posisinya. “Ada apa dengan wajahmu, Kibumie?!”

“Selesai..” ucap Donghae riang, kala ia selesai menempelkan plester di pipi Kibum. Namun di sisi lain? Kibum berwajah mendung. Ia begitu menekuk wajahnya, sambil terus mengusap plester di wajahnya tersebut.

Hyung..” sela Kibum kemudian. “Tak adakah plester bermotif lain selain motif nemo? Ini menjijikan!”

Donghae tertawa lepas dibuatnya. Ia tak peduli bahkan jika Kibum marah padanya sekalipun. Ia hanya bertindak sesuka hatinya. “Itu bagus! Jangan dilepas!” peringat Donghae kemudian, diiringi dengan suara pintu terbuka. “Samchoon! Kemarilah..” ucap Donghae melambaikan tangannya kala sosok lain datang dari balik pintu tersebut.

Kibum melihat siapa yang datang, lantas memandang Donghae. “Kau yang memangilnya kemari?” tanyanya terlihat sedikit heran.

Sementara itu, Donghae mengangguk. “Aku tak bisa mengobati punggungmu! Lebamnya banyak sekali! Aku lebih percaya padanya. Diakan dokter..” oceh Donghae, lantas mempersilahkan Siwon untuk terduduk di sisi ranjang Kibum.

“Tapi aku tak apa-apa. Kenapa kau begitu berlebihan!” decak Kibum dengan malas.

Siwon membetulkan kacamatanya. “Akupun ragu untuk datang. Kupikir, Kim Kibum sudah terbiasa dengan luka di tubuhnya. Bukan satu atau dua hari kita saling mengenal. Aku tahu sifatmu, Bum-ah! Tapi? Karena Donghae yang meminta. Aku takut nanti ia tak ingin tersenyum padaku, kumohon mengertilah,” gurau Siwon kemudian.

“Tsk. Kalian sama saja!” rutuk Kibum malas, lantas membuka bajunya. Berbaring dalam posisi telungkup, menampakkan sederet luka lebam di punggungnya yang berwarna keunguan.

“Hm..” Siwon lantas berdehem, mengecek luka tersebut dengan memijitnya perlahan. “Dia tak apa-apa, Hae! Dia tak akan mati, jadi jangan menangis lagi,” ucap Siwon.

“Huh?” Kibum terlihat mengernyit heran.

“Iya. Donghae menelfon padaku sambil menangis,” jelas Siwon.

“Berlebihan!” komentar Kibum namun? Dengan segera ia mendapat pukulan di kepalanya, dan juga sebuah teriakan “aku menghawatirkanmu, bodoh!!”

Siwon tertawa kala melihat tingkah konyol keduanya. Namun? Seolah tersadar, ia lalu melirik jam dinding yang terletak di atas pintu. “Hae? Kau masak air hangat saja untuknya, kau mau?”

Donghae mengangguk. “Tentu saja!” ucapnya dan langsung pergi dari hadapan keduanya.

Sepeninggalnya Donghae?

“Apa ayah tak melihatmu, samchoon?” tanya Kibum.

Siwon menggeleng. “Dia tak ada sewaktu aku kemari. Dia kemana?”

Kibumpun tampak mengira-ngira. “Mungkin dia ada di kamarnya. Akupun tak tahu,” tutur Kibum sambil berusaha untuk kembali terduduk.

“Apakah masih sama?” tanya Siwon kemudian, dan mendapat balasan sebuah pandangan dari Kibum. “Apa ia, masih bertahan dengan ambisinya?”

Kibum membuang keras nafasnya, lantas mengangguk. “Ia semakin menggila semenjak kehilangan jejak Lee Sungmin! Untuk itulah, sekarang ia mulai melibatkan Donghae,” terang Kibum.

“Maksudmu?”

“Entah apa maksudnya tapi? Hari ini, dia memberikan sebuah tugas padanya. Merampas sebuah tas di tempat terbuka. Bayangkan! Bahkan Donghae hampir saja mati disana jika aku tak datang,” cecar Kibum tanpa ragu.

“Jadi lukamu kali ini, karena hal itu?”

Kibum mengangguk. “Aku tak akan pernah mengijinkan siapapun menyakiti Donghae..”

“Hah..” Siwon mendesah malas seketika. “Anak muda!” komentarnya. “Sudah kukatakan padamu, sudahi semua! Ikut denganku saja, Bum-ah! Tak perlu lagi terlibat dalam dunia hitam seperti ini. Terlalu berbahaya! Aku bahkan sempat tak menyangka, ayahmu, akan menyuruhmu untuk mencuri barang haram dari sebuah transaksi gelap!”

“Sudah tugasku,” timpal Kibum. “Aku mengerti, ayah membutuhkan biaya untuk segala ambisinya,” jelas Kibum.

“Bukankah kau juga tak ingin, jika ia terus berbuat seperti itu? Kenapa kau harus terus membantunya?”

“Salahkan Donghae yang begitu patuh terhadap ayah! Aku tak bisa meninggalkannya. Sedang, aku harus menuruti apapun kemauan seorang Kim Heechul jika ingin tetap berada disini. Donghae di atas segalanya bagiku..ratap Kibum.

Siwon memandang iba terhadap Kibum. “Aku mengerti,” simpulnya, hingga Donghae datang kembali dengan satu ember kecil air hangat. “Aku harus pulang, sebelum Heechul tahu aku disini. Akan merepotkan nantinya,”

“Kau mau kemana? Kenapa terburu-buru?” tanya Donghae, melihat Siwon yang akan beranjak pergi.

Siwon tersenyum, lantas mengacak rambut Donghae. “Mainlah ke rumahku di waktu luang. Mereka akan senang bila kalian berkunjung..”

“Ya..” balas Kibum.

“Sampaikan salamku, pada mereka ya..” ucap Donghae, sebelum akhirnya Siwon hilang di balik pintu..

 

“Akan ada transaksi di sebuah hotel, malam ini!!” Itulah perkataan Heechul, di waktu ketiganya berada dalam satu meja di temani beberapa hidangan.

Kibum berhenti mengunyah, lantas melirik pada Heechul, sedang Donghae, terlihat takjub. “Benarkah, ayah?!” komentarnya, mengundang tawa di bibir Heechul.

“Kau tahu tugasmu, Kim Kibum! Juga, hasil curian kali ini adalah? Untuk membeli senjata api,” lanjut Heechul.

“Pistol?” tanya Donghae dan Heechul mengangguk. “Kita akan segera bertempur, Hae! Hadapi pertarungan sebenarnya. Kau mau?”

“Tentu saja!”

Kibum membuat bunyi keras, akibat sendok yang sengaja ia benturkan pada piring miliknya. “Kau tak mampu berkelahi, hyung. Ini bukanlah permainan!”

“Dengar, Kibum! Donghae mampu berkelahi, benarkan Hae?” tanya Heechul.

Donghae menatap ragu, hingga sesaat setelah ia melihat Kibum yang menampakkan wajah dinginnya, ia mengangguk. “Aku bisa..”

“Hyung..”

“Biarkan aku melakukannya!”

Kibum terlanjur sebal. Benci pada keadaan. Ia tak kuasa bahkan sekedar melanjutkan makannya. Ia lantas mengundurkan diri lebih dulu, meski perkataan dari sang ayah, sempat menahan langkahnya.

“Jangan lupa nanti malam, Kim Kibum..”

“Aku tahu!” dengusnya sebal, lantas bergegas menghampiri pintu keluar.

Sementara Donghae terlihat bingung. “Sebenarnya dia kenapa?!” ucapnya, atau lebih terlihat merutuki Kibum yang sudah entah kemana.

“Dia hanya butuh udara segar, Hae,” tukas Heechul. “Kau benar-benar ingin mencobanya?” tanya Heechul tiba-tiba.

“Huh?”

“Di waktu yang sama nanti malam? Akan ada pertarungan kecil tentang perebutan wilayah,” tutur Heechul, dengan senyum yakin. “Kibum tak akan mengganggumu kali ini, Hae..”

“Wilayah mana, ayah?”

“Pasar wanita, di ujung kota ini,” jawab Heechul.

“Pasar wanita?”

“Ya. Tempat penjualan wanita. Tapi kita tak butuh tempatnya! Persetan dengan para pelacurnya! Kau hanya harus menaklukan semua orang, dan..” jelas Heechul tertahan, karena selanjutnya, ia memilih berbisik di telinga Donghae. “Jadikan mereka anak buahmu!”

“Huh?”

Heechul menepuk pelan pundak Donghae. “Jangan takut. Aku ada di belakangmu, anakku..”

Donghae terdiam, dengan setengah bagian sendok di dalam mulutnya. Ia masih dalam keadaan tidak mengerti, ataukah tengah berkutat dengan hal tersebut dalam otaknya, namun segera, Heechul menyenggol lengannya. “Bagaimana?” tanyanya.

Donghae lantas mengangguk. “Aku mau!” jawabnya yakin.

TBC

Silahkan berkomentar bila berkenan~😀

24 thoughts on “RED INK [4]

    Eun Byeol said:
    Februari 5, 2013 pukul 12:49 pm

    Yack!!
    Heechul mengajari si polos Hae jadi penjahat, tega!!
    Tetep aja unyu-unyu, eonn..
    Apalagi waktu Hae nempelin plester nemo, bwahahah~
    dasar anak-anak -_-

      sugihhartika responded:
      Februari 6, 2013 pukul 8:07 am

      Bwahahaha~ eonn sempet bingung. Ada gitu plester nemo???? xD

    Gigia said:
    Februari 5, 2013 pukul 3:30 pm

    Aku gak tau mo koment apa…jdi bingung..

      sugihhartika responded:
      Februari 6, 2013 pukul 8:06 am

      Kenapa bingung????😀

    hubsche said:
    Februari 5, 2013 pukul 4:47 pm

    Yaa ampun HAEEEEE di FF genre apapun tetep aja imut, polos, sotoy… iih dasar nih ikan gemesin banget. Kapan Kibummie makan Hae?? Lol~kkkk

      sugihhartika responded:
      Februari 6, 2013 pukul 8:05 am

      xD Hae mah bagusnya poloss~ Huaahahahahaha..

    nia na yesung said:
    Februari 6, 2013 pukul 2:28 am

    Hae Punya Kepribadian ganda bukan ?? Ko bisa sadis gitu ??
    Nusuk2 orang , ih seremmmmmmm ><"
    aku tunggu kelanjutan,a y , , ,
    Jd makin Penasaran ??? ^^

      sugihhartika responded:
      Februari 6, 2013 pukul 8:03 am

      Iya, Hae aneh disini. xD

    Shin Y said:
    Februari 6, 2013 pukul 4:09 am

    udah gede ya mereka??? dan hae masih aja lupa semuanya?? astagaa.. dia itu emang naif atao bodoh?? *plakk,, dan heechul sangat licik, kejam, ga berperasaan,, ckckck
    kibum bw aja hae kabur,,,

      sugihhartika responded:
      Februari 6, 2013 pukul 8:03 am

      xDD Kan c Hae lupa ingatan~

    ndah951231 said:
    Februari 6, 2013 pukul 10:15 am

    ughhhh, heechul tambah nyebelin aja!!!
    kenapa hae gak bummie bawa kabur aja sama siwon -__-
    kaya’nya siwon orang baek tuh
    *sok tauuu*

    ish, itu donghae mau diapain lg eon? O.o
    awas aja kalo ada salah satu dari kihae yg luka, ish ndah bakal lempar granat ke heechul pokoknya!! *lho?*

    ayooo, ditunggu nih eon lanjutannya ^^~

    Laila .r mubarok said:
    Februari 6, 2013 pukul 2:41 pm

    Yang dimaksud siwon ‘mereka’, ntu sapa?

    Kok hae patuh bnget sih ma heechul? Trus hae kenapa tdi pas nancepin piso? Kyak berkepribadian ganda deh eon..

    Aku banyangin bagian akhir yng hae lgi mikir dengan sendok yng msih di mulut, uuuuh pasti lucu bnget tampangnya hahaha

    Lanjut eon hehehe

    arumfishy said:
    Februari 8, 2013 pukul 2:13 pm

    aku ketinggalan lgi T_T

    jd mrka sdh bsar,trs kmn perginya sungmin??

    apa donghae bisa/malah ngerepotin kibum??
    aaa…lanjuttt

    Raihan said:
    Februari 8, 2013 pukul 3:06 pm

    Ini kerennnnnnnnnnnn Donghaenya psyco tapi juga manja dan seolah polos akut, untung ada Kibum yg pintar walaupun ttp dingin seperti biasanya..

    Kerennnnnnnnnnnnnnn ^_<

    Mea Hae said:
    Februari 8, 2013 pukul 5:25 pm

    loh komentku mana??kayaknya aku ada koment
    mau kihae moment
    donghae itu lupa ingatan jadi super manjaaaaaaaaaaaaaaaaa

    Elfisyhae said:
    Februari 9, 2013 pukul 10:37 pm

    Hae nya tetep manis walau rda jahat. .

    ainun_lara said:
    Februari 10, 2013 pukul 11:42 am

    Ini 8 thn kemudian ,mereka di Seoul ya?,gak tau kenapa aku paling cinta sama Chara Hae yg ceria ,manja dan polos,sama sekali gak OOC,cubit ikan..Bummie suami siaga,jagain terus Hae kkkk.dan kau Chullie jgn racuni otak Hae,apa rencanamu eoh? Daebak saeng aku suka chap ini^.^

    lita samantha said:
    Februari 12, 2013 pukul 4:30 am

    waduh hae tetap polos banget
    kibum mesti bisa terus menjaga hae

    BryanELFishy said:
    Februari 21, 2013 pukul 2:55 pm

    ini chap donghae bgt!!!!!!
    udah sok, lebay pula, siikan nemopun ikut muncul disini.
    heenim, kalau sesat jangan ajak orang dong, noh ikut siwon pergi kegereja, tobat bu…. *nggak nyambung*🙂

    Lee Sae Hae said:
    Februari 22, 2013 pukul 5:04 pm

    Jadi Hae sekarang diasuh sama Heechul gitu? Kayaknya Heechul manfaatin keadaan Donghae yang hilang ingatan yaaa..
    Aduhhhh.. Itu Hae kenapa? Kok jadi aneh gitu pas liat darah? Agak serem juga sih sama Hae yang kayak begini, tapiiiii tetep gak ngilangin sisi polosnya Hae.. Hae tetep keliatan manis dimata aku eonn.. Hahhaahh
    Bagusssssss eonnnn!! Kerennn banget!

    Shizuku M said:
    Maret 6, 2013 pukul 2:50 pm

    ini genre ceritanya apa chingu?
    tidakkk hae udah terkontaminasi sama ajaran heechul yang ga bener. tak bisakah kibum bawa kabur hae dari dunia yang kejam ini lalu hidup bahagia sampai selama lamanya?

    hima_kawaii said:
    Maret 14, 2013 pukul 4:48 am

    heeehh hae kebangetan polosnya atau karena sudah dicuci otaknya sama heechul?? ishh ishh ishh….

    casanova indah said:
    Oktober 13, 2013 pukul 8:46 am

    aigoo… Donghaeeeeeee… apa yang kau lakukan???
    begitu pintar’a heechul meracuni otakmu untuk jadi org jahat..
    knapa kibum ga bawa kabur Donghae aja sich??
    drpd melindungi donghae dg cara spt itu,,,,

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 6:20 am

    nyak ampun… udah 20 tahun plester-nya masih Nemo ajah,…

    tapi ntar ingatan Hae pasti balik kan? *penasaran kkkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s