RED INK [5]

Posted on

Chapter 5? Jujur saya bingung, ini ceritanya agak diperlambat. Masih berkenan? Silahkan tinggal baca aja. Saya sudah malas bikin summarynya. *Plak. xD

[CHAPTER 5]

.

Kibum baru akan menemui Heechul di kamarnya. Kamar yang begitu gelap, berbau asap rokok yang sangat pekat! Namun Kibum tak terganggu akan hal itu. Dengan mudah ia memasuki ruangan tersebut, karena ada sesuatu yang begitu ingin ia tanyakan.

Hasilnya?

Kibum tak dapat menemui sang ayah. Tak ada siapapun di ruangan tersebut. Kibum sempat menghela nafasnya, untuk selanjutnya? Matanya dapat menangkap bayangan sebuah tas hitam, yang ia ingat, itu adalah tas yang dicuri Donghae siang tadi. Dengan cepat rasa penasaran menyerang Kibum. Ia belum tahu, apa yang Donghae curi hari itu. Juga? Heechul yang terlihat aneh kali ini.

Maka, dengan kemantapan hatinya. Kibum menghampiri tas tersebut. Perlahan ia buka, namun..

Kibum nampak menemukan beberapa helai kertas dari dalam tas tersebut, juga dompet, dan Beberapa kartu kredit. Entahlah.. tak ada yang berarti disana. Tapi? Ia tak ingin menyerah, lantas mengecek tiap helaian kertas yang kini berada di tangannya.

“Lembaran kerja?” tanya Kibum pada dirinya sendiri. Ia belum mengerti, hingga di dapatinya sebuah nama, “Park Jungsoo?” ucapnya lagi. Siapa? Kibum nampak mengingat..

Ia belum ingin menyerah dan tampak terus mengingat. Hingga di ujung asa? Ia meraih salah satu dompet di antara barang dalam tas tersebut. Dibukanya, dan dapat dilihatnya tanda pengenal, lengkap dengan gambar sang pemilik.

Kibum lantas mengernyitkan keningnya. Itu adalah benar, sosok lengkap bernama Park Jungsoo. Orang itu! Orang dengan wajah yang Kibum hafal, juga membuatnya dengan cepat berlari menuju laci milik Heechul.

Dari dalam sana? Kibum mengeluarkan sebuah fhoto lusuh, dan lalu, Mencoba menyamakan wajah Park Jungsoo, dengan salah satu wajah, di antara deretan wajah dalam fhoto milik sang ayah.

“Ah!” Kibum berjengit tertahan, kala berhasil menyamakan satu wajah. Mirip! Itu? adalah seorang Park Jungsoo, tepat berdiri di samping sang ayah, dan masing-masing dari mereka, masih menggunakan seragam tugas mereka sambil tersenyum riang. Semua terlihat hangat dan gagah. Kala itu..

“Orang ini?” ucap Kibum perlahan sambil berusaha mengambil sebuah kesimpulan. “Apa ayah sengaja mencari orang ini, untuk mengetahui keberadaan Lee Sungmin, melalui Donghae?!”

 

Kibum masih berkutat dengan semua hal baru yang baru saja ditemukannya. Inti dari semuanya adalah, Kim Heechul yang berburu Lee Sungmin. Ia tahu ini dengan jelas namun? Yang ingin Kibum ketahui adalah, apa yang akan dilakukan Kim Heechul pada Lee Donghae??

Sebuah kehawatiran yang begitu Kibum takutkan. Sebuah rasa mendalam, dimana ia rela melakukan apapun demi melindungi Donghaenya. Tapi saat ini? Ia belum tahu, apa yang akan terjadi. Membuatnya merasa berada pada keputusasaan tak berujung.

Ia menyerah, lantas bermaksud menghampiri Donghae, yang ia yakin, Donghae berada di kamarnya beberapa saat lalu.

“Hyung..” panggilnya, sambil membuka pintu kamar Donghae. Namun, tak ada. Donghae tak ada di tempatnya semula padahal? Matahari baru saja tenggelam, pertanda siang telah berakhir. Sedang pekerjaan akan menyambutnya untuk beberapa jam ke depan.

Kibum mulai curiga, kala ia juga tak mendapati Heechul di rumah tersebut. Donghae, yang setahunya tak akan berani keluar sendirian di malam hari. Maka, kesimpulan yang ada adalah, Donghae dan Heechul, tengah pergi bersama.

“Tapi kemana?!” decak Kibum dengan gusar..

Malam semakin pekat, tenggelam dalam sinar rembulan yang enggan muncul sejak gerimis datang. Donghae berada dalam tetesan hujan itu. Dalam getar, ia berdiri sambil tak henti meremas helaian kain pada jaket hitam yang kini dikenakannya.

Donghae menatap Heechul yang berdiri jauh darinya dengan was was. Ia terlihat takut semenjak melihat dua kubu berbeda, tengah saling melempar pandang satu sama lain.  Dengan senjata, baik itu senjata tajam, ataupun benda tumpul di tangan mereka, menambah suasana menjadi semakin mencekam.

Satu hal yang Donghae dapat ingat adalah Heechul, yang baru saja berkata “habisi mereka semua! Buat mereka semua bertekuk lutut di kakimu, anakku! Kelak, kau dan aku akan membutuhkan mereka,” dengan seringaian pada bibir itu.

Kata itu, terdegar menyebalkan namun, bagai mantra yang mampu membuat hatinya sedikit merasakan keberanian. Baginya, titah sang ayah, adalah segalanya.

Maka selanjutnya, kala pertarungan antar kedua kubu itu meledak, Donghae mulai memantapkan hatinya. Perlahan ia langkahkan kakinya, dan mulai mengeratkan pegangannya pada sebuah tongkat yang sejak tadi berada dalam kuasanya.

Baku hantam di depan matanya semakin jelas terlihat. Benda tajam, yang menancap di antara daging yang tertikam. Suara debuman keras, dari sebuah benda tumpul yang terlihat menghantam sebuah kepala tanpa ampun.

Dalam hati Donghae terus bergumam “Kibumie,” juga “Kibumie” tiada henti, dan berakhir dengan ucapan “tolong aku!” sambil memekik pelan.

Tak butuh waktu lama bagi Donghae, untuk berbaur ke dalam pertempuran sengit itu. Namun, rusak sejak setitik darah muncul, memenuhi pandangannya. Awalnya, Donghae diam dan mengelap setetes darah di pipinya.

Ia diam, hingga pandangannya terasa berat. Telinganya terasa berdengung, dan keadaan di matanya menjadi rumit. Siapa yang menyerang siapa, untuk apa ia disana, dan siapa itu?

Donghae tertegun seketika. Mengapa dalam sekejap semuanya menghilang? Hanya ada warna merah yang terlihat. Ah! Bukan! Setelah ia amati lebih jauh, juga dengan dua telinga yang lebih ia tajamkan, jelas ia mendengar suara sesosok anak kecil yang tengah berjongkok di antara hamparan merah itu.

Donghae masih terkejut, hingga di dapatinya sosok mayat seorang perempuan tepat di samping sang bocah yang kini tengah bergumam. Menggumamkan kata “ibu..” dalam tangis tertahan.

Debaran jantung yang Donghae rasa, semakin berdegup kencang. Aliran darahnya serasa memanas, mendidih membuatnya begitu tak kuasa menatap pemandangan tersebut meski, ia belum mengerti akan apa yang ia lihat. Perlahan, ia memutar arah, memundurkan langkahnya. Ia melangkah hingga mendapati sesuatu yang mengganjal di kakinya. Diliriknya, dan didapatinya sebuah benda cukup panjang yang penuh dengan cairan kental merah itu.

“Akh!” Donghae memekik pelan, saat tersadar bahwa cairan merah itu, berjalan bahkan sudah dapat menyentuh kakinya! Ia semakin terkejut dan tenggelam akan rasa takut. Dengan satu tarikan nafas tak sabar, ia segera menjerit “Kibumie!!!” dengan sangat keras, berharap Kibum akan datang dan menyingkirkan darah-darah di kakinya tersebut.

Seperti sebuah firasat, Kibum tak hentinya menghubungi ponsel Donghae. Ia terlihat gusar entah mengapa. Berpuluh kali mungkin ia sudah menghubungi Donghae namun tak membuahkan hasil.

Entah pada panggilan ke berapa, akhirnya terjawab sudah panggilannya, meski itu tak membuat rasa cemas Kibum hilang karena nyatanya, yang mengangkat adalah sang ayah, sambil berteriak dari ujung sana. “Ya Kim Kibum! Cepatlah datang kemari dan hentikan Donghae!!” pekiknya keras disertai dengan suara-suara pukulan yang begitu keras.

Kibum jelas tak mengerti, ia akan bertanya. Namun, baru kata “ayah..” yang ia lontarkan, Heechul sudah kembali memotongnya. “Anak itu monster! Dia hampir membunuh semua orang!!” jelas Heechul terbalut dalam sebuah kepanikan.

Kibum lebih panik tentunya, maka di detik itu juga, ia melupakan pekerjaannya dan bertanya “dimana kalian?!!”

Kibum begitu tegang, sesaat dirinya telah menapaki sebuah kawasan, dimana, tak ada orang yang sadarkan diri. Semua orang tergeletak dengan tubuh dipenuhi luka. Kala itu, Kibum sempat melihat Heechul yang melenggang pergi dengan sebuah taksi, namun hanya seorang diri. Kibum bukanlah orang yang tak mengenal Heechul. Tak heran, jika ayah yang sering Kibum panggil dengan sebutan ‘tua bangka’ itu, akan meninggalkan Donghae, bagaimanapun keadaannya.

Ya. Kibum mulai gusar. Dimana Donghae?

Dengan ragu yang begitu melanda, ia mencoba mencari Donghaenya. Mencari Donghae dari sekian banyak orang yang tergeletak dalam balutan hitam itu. Sangat sulit terlebih, Kibum yakin Donghae mengenakan pakaian dengan warna yang sama, namun? Lain urusan, jika Kibum sudah memakai hatinya.

Ia mencoba mencari Donghae sebisa yang ia mampu, dengan hati yang tak kunjung lepas dari bayang Donghae. Butuh berpuluh menit, hingga akhirnya, ia menemukan Donghaenya.

“Hyung..” lirihnya kala menyadari, Donghae bergabung bersama mereka yang tak sadarkan diri itu. Benar. Donghae dalam keadaan tak sadarkan diri. Kibum kalap dibuatnya, apalagi, saat ia tahu, dan sadar bahwa kini, tubuh Donghae begitu penuh oleh darah, hingga pada helaian rambutnya.

“Ya! Bangun, Hae!” panggil Kibum dengan suara yang mulai mengeras sambil menepuk pipi Donghae. Ia sendiri belum yakin, darimana asal darah dari tubuh Donghae itu. Entah darah orang lain, ataupun darah dirinya sendiri.

Tak ada waktu untuk melihat hal tersebut karena, saat itu juga, Kibum membawa tubuh Donghae, menggendongnya, dan membawanya pada sebuah tempat yang sangat ia yakini, bisa membantunya.

Dalam hitungan detik berikutnya, Donghae membuka matanya dalam sebuah keterkejutan, diiringi dengan peluh yang membasahi wajahnya. Sedang di sampingnya, Kibum hanya memandang datar meski tangannya semakin mempererat genggamannya pada tangan Donghae.

“Kibumie..” ucap Donghae dengan pelan dan serak. Suara yang baru pertama kali Kibum dengar setelah Donghae terlelap dalam ketidaksadarannya selama 12 jam penuh.

Kibum masih diam dan tak menyahut. Namun, di balik itu, terpancar raut hawatir yang sangat dalam. Ia bahkan mengusap wajah Donghae dengan handuk hangat, mengusir lengket yang datang dari tiap tetes keringat disana.

“Kibumie..” kembali Donghae memanggil nama Kibum. Ia menatap Kibum yang masih enggan berbicara padanya. “Kau marah padaku?” tanyanya sambil merubah posisi menjadi terduduk.

Kibum mencoba untuk tak melihat ke arah Donghae, jika saja jemari milik Donghae tak menggapai wajahnya. Dan sekali lagi Donghae bertanya “kau marah!!” dengan tangis yang mulai terbendung di kedua ujung bola matanya.

Sejak dulu, Kibum tak akan pernah sanggup melihat air mata itu menetes. Maka, meski enggan mengusir wajah marahnya, Kibum meraih Donghae ke dalam peluknya, mendekapnya. “Aku hawatir, bodoh!” omelnya pelan, sementara Donghae tenggelam dalam tangisnya.

Kibum akhirnya luluh, seiring dengan kain pada bajunya yang basah, karena ulah Donghae yang begitu larut dalam tangisnya. Ia mengelus punggung Donghae sambil tak hentinya mengecupi pucuk kepala Donghae.

Hingga tangisnya mulai mereda, Donghae mulai kembali berucap. Ia mengatakan kata maaf dengan lirih, juga, “apa aku melakukan sesuatu kemarin malam?” tanyanya sambil mendongakkan wajahnya ke arah Kibum. “Disana, banyak yang berkelahi! Ayah dimana?”

“Jangan hiraukan dia lagi, hyung! Kumohon..”

Donghae menatap Kibum bingung. “Apa maksudmu?” tanyanya sambil menarik lengan Kibum, meminta penjelasan.

“Jangan turuti semua keinginan ayah, Hae..”

Donghae mulai menekuk wajahnya. “Ingin ayah, adalah inginku juga!” tegasnya, mengundang rasa ketidaksabaran pada diri Kibum. Maka saat itu juga, Kibum segera mencengkram kedua sisi tubuh Donghae.

Dan tanpa sadar, akhirnya Kibum berkata “dia bukan ayahmu!!” dengan sangat keras.

“Huh?”

Kibum tersadar akhirnya. Ia menyadari kebodohannya. Dirinya berubah kaku dalam waktu singkat. Bibirnya kelu, tak dapat menjelaskan apapun pada Donghae yang kini memandangi dirinya.

“Apa maksudmu, Kibumie? Siapa yang bukan ayahku?” selidik Donghae kemudian.

“Itu, sebenarnya..”

Donghae berubah geram dengan sesuatu yang terus ia kira. Dan dengan satu remasan pada ujung baju Kibum, Donghae berteriak “Katakan!!” dengan sangat keras.

Donghae tengah meminum susu dalam sebuah gelas yang baru saja di berikan oleh Kibum sementara ia, masih enggan menatap Kibum yang kini duduk di sampingnya.

Noona Choi,” panggil Donghae kemudian. Ia menyapa seorang wanita ramah yang baru saja menapaki ruangan temptnya berada kini.

“Kau sudah bangun, Hae..”

“Kau memanggil istriku noona tapi memanggilku ajhussi?!” Siwon datang sambil berpura-pura menekuk wajahnya. Ia tak senang akan panggilan Donghae pada istrinya.

“Dia lebih muda darimu,” bela Donghae, mengundang tawa bagi Choi Siwon beserta istrinya. Perlahan Siwon menghampiri dirinya, lantas memegangi keningnya.

“Kau sudah lebih baik nampaknya,” tutur Siwon, sesaat setelah dirinya memeriksa suhu tubuh Donghae.

“Aku kenapa?” tanya Donghae, membuat para pengunjungnya saling pandang, dan berakhir dengan deheman tak berarti dari Kibum. “Apa aku terluka saat dipertempuran kemarin?” tanya Donghae lagi sambil meraba-raba kepalanya. “Tapi tak ada yang sakit..” ocehnya, dengan sangat lucu.

Siwon mencoba mencari jalan lain. Ia lantas menjelaskan “kau takut darah bukan?”, membuat Donghae mengangguk. “Kau melihat darah, dan pingsan sebelum dapat menghabisi siapapun. Sebenarnya kenapa kau bisa ada disana, Hae?” tanya Siwon akhirnya.

Donghae sempat menatap Kibum, lalu menunduk takut dan tak mampu menjawab pertanyaan Siwon, sang paman yang begitu dihormatinya.

“Dia hanya ingin membuatku cemas!” timpal Kibum tiba-tiba sambil merutuk ke arah Donghae. “Dia ingin aku membunuh siapapun yang menyakitinya saat itu juga!” omel Kibum lagi.

“Bukan..”

“Dia hanya seseorang yang ceroboh!” terus dan terus Kibum meluapkan kekesalannya, hingga Siwon menepuk pelan pundaknya, dan memandangnya dengan arti ‘berhenti mengomel!’.

“Aku bersama ayah..” belas Donghae.

Ny. Choi tersenyum lalu duduk di samping Donghae. “Tapi ayah yang kau sayangi itu, tak ada saat kau butuh dia, sayang..” tuturnya sambil engusap helaian rambut Donghae.

Noona..”

“Berhenti menuruti apapun itu, yang akan mencelakaimu. Sekalipun itu terlontar dari mulut ayahmu, kau tak selalu harus menurutinya bila itu tak benar. Cobalah untuk membuka matamu,” jelas ny. Choi dengan bijak.

“Benar,” timpal Siwon. “Akan lebih baik jika kalian pindah kemari, Hae,” bujuk Siwon meski tetap saja, Donghae menggeleng pelan. Ia terlihat sangat menyayangi seorang seperti Kim Heechul. Sungguh suatu hal yang sangat tak diinginkan Kibum.

“Aku ingin tinggal bersama ayah,” jawab Donghae, membuat Kibum kembali berdecak pelan. “Baiklah, lakukan apapun yang kau inginkan!” tukasnya tajam.

“Kibumie! Aku benci padamu! Jangan sekali lagi kau bilang aku bukan anaknya!!”

Kibum diam. Ia ingat apa yang di katakan Siwon beberapa saat lalu, sebelum Donghae sadarkan diri.

“Ia bisa saja mengingat semuanya. Ini, semakin dekat pada tanda-tanda bahwa ia akan segera pulih. Aku tak tahu, kenapa kau begitu tak ingin membuatnya kembali mengingat masa lalunya, ayahnya. Tapi? Jika itu demi kebaikan, maka, aku tak bisa mencegah. Jangan bawa dia, untuk mendekat pada hal-hal yang berhubungan dengan masa lalunya..”

Dan tanpa sepengetahuan siapapun, ia meremas saku jaket yang dipakainya, dimana di dalamnya terdapat sebuah pena, yang nyatanya selalu ia bawa kemanapun, meski ia tak pernah memakainya.

“Dia bilang aku bukan anak ayah!” ucapan Donghae kembali menyadarkan Kibum. Ia segera melirik Siwon lantas berucap “maaf, aku hanya bercanda,” dengan pelan.

Kibum tengah menggendong Donghae, pulang menuju rumah mereka. Donghae merengek keras saat Kibum mencegahnya. Namun? Rengekan Donghae benar-benar mengganggunya. Tapi apa? Donghae kembali merengek kala ia ingin Kibum menggendongnya. Kekanakan bukan? Inilah Donghae di mata seorang Kim Kibum.

Dalam langkah itu, sesaat setelah Kibum membenarkan posisi Donghae di tubuhnya, Donghae bergumam di telinganya. “Aku bermimpi,” ucapnya.

Kibum sempat melirik, menatap Donghae dengan ujung matanya. “Kau bermimpi apa?” tanyanya.

“Aku tak tahu tapi, itu sangat mengerikan,” tutur Donghae sambil lebih mengeratkan pegangannya di leher Kibum.

“Benarkah?”

“Hm. Ada banyak darah, dan seorang mayat wanita, juga seorang bocah,” ungkap Donghae.

Kibum menghentikan kakinya seketika. Inikah takdir? Membawa Donghae mendekat pada memorinya. Memori, dimana Kibum tak ingin Donghae mengingatnnya.

“Jangan diingat lagi, hyung. Itu hanyalah bunga tidur..” tutur Kibum dan Donghae, mengangguk. “Jangan ingat apapun, jangan..” ucapnya semakin terlihat cemas, hingga rasa cemas itu bertambah, kala telinganya menangkap sebuah teriakan berisi kata “Sungmin, kemarilah!” tepat di belakangnya.

TBC

Ngah, apa ceritanya masih nyambung? Mugkin alurnya, sangat lambat. xDD

20 thoughts on “RED INK [5]

    isfa_id said:
    Februari 15, 2013 pukul 1:41 pm

    lagiii~

    mea hae said:
    Februari 15, 2013 pukul 2:55 pm

    eh??pendeknyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    ga tahu kenpa tiap liat nama heechul yang terbyang dia itu eomma
    alias cewek

    Elfisyhae said:
    Februari 15, 2013 pukul 2:56 pm

    Tetep di tunggu lanjutan nya. .

    taRie_Elfishy said:
    Februari 15, 2013 pukul 3:26 pm

    Eoh,,
    Eon,, jd dsni itu Hae kyk puny 2 kepribadian ya..?
    Di tggu aja deh kelanjutan nya,,
    Chapter awal2 sih aq kurang ngerti,,
    Mgkn b’jalan ny crita akn ngerti sendiri ya..

    Eun Byeol said:
    Februari 16, 2013 pukul 9:21 am

    Lanjut, eonniiiiiiii~

    ndah951231 said:
    Februari 16, 2013 pukul 10:58 am

    ughhhh, sama seperti diriku, trauma darah >_<
    hae~
    jangan dengerin kata heechul lagi,, dia itu ayah yg gak bener !!

    ayo eon, lanjut yah~

    Laila .r mubarok said:
    Februari 16, 2013 pukul 2:02 pm

    Gyaaa darkhae, pasti mengerikaaan…

    Iiih gemes ama hae, pengen ngubuk heechul hahaha
    Uuh salut ma kibum, sabaaaaar banget.. #prok prok prok

    Oke lanjut eon haha

    nia na yesung said:
    Februari 16, 2013 pukul 2:41 pm

    Hiiiiiiiiiiiii , , , Hae Klo liat darah Langsung Berubah jd Kejam Yua ,,
    aku Lebih Suka hae yang Manis dan Manja^^ Kkkkkkk ,,,,

    Oh iia apa Di chapter selanjut.a ingatan Hae akan kembali ,
    di sini aku jd sebel bgt ma heechul Begi2 bgt si ma Hae ><
    udah g2 knpa hae.a nurut bgt Lagi ,

    Aku tunggu Kelanjutan.a Yua ^^ , , ,

    masrifah lubis said:
    Februari 20, 2013 pukul 12:03 am

    apa hae punya dua kepribadian ya ,,,,,
    kenapa kibum gak mau hae ingat masa lalunya??????
    duh penasaran
    author lanjut ya

    BryanELFishy said:
    Februari 21, 2013 pukul 3:13 pm

    noh sok iya bilang bisa berantem, liat darah aja udah teriak ‘kibummie’ dasar lu merepotkan #tampol donghae
    kalau donghae inget masa lalunya emang kenapa? nggak ngaruh buat hubungan KiHae kan?
    nggak sabar nunggu…..
    lanjut eonn!!!!

    Lee Sae Hae said:
    Februari 22, 2013 pukul 5:08 pm

    Donghae berkepribadian ganda kah eonn? Kok setiap liat darah langsung berubah jadi serem gitu??
    Akhhhh.. Aku ngerti sekarang. Jadi Hae cuma kayak dijadiin umpan doang sama heechul ya eonn??
    Aduhhh itu Hae sayang banget sama Heechul. Padahal kan heechul jahat sama Dia, tapi Hae nganggepnya lain begitu. Dasar bocah polos -_-
    Kerennnnnnn eonnn!! Lanjuttttt!
    Bagusss banget..

    ainun_lara said:
    Februari 24, 2013 pukul 11:18 am

    Aku geli ngebayangin Donghae yg pingsan sebelum bertarung gara2 liat darah,berbanding terbalik dgn omongan Heechul yg bilang Hae ngebantai,Phobia itu krn kajadian Hae sm eomma nya. Itu siapa yg triak panggil Sungmin,ommo lagi Mina Saeng..

    Raihan said:
    Februari 25, 2013 pukul 12:37 am

    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Kibum mau Donghae amnesia selamanya agar kaga kehilangan Donghae kan yah?..kalo Donghae ingat dia bakalan membenci Kibum dan Heechul. Aih aih Kibum ku licik masa aih *cipok*

    Heechul, ishh..semacam pengen menjitak ishh, jahat banget…

    Tapi ini kerennnnnnnnnnnnnnnnnn ^_<

    arumfishy said:
    Februari 25, 2013 pukul 11:00 am

    aku ketinggalan lgi T_T

    seruuuuuuuuuuu
    lanjuttttttttttt

    Shizuku M said:
    Maret 6, 2013 pukul 3:02 pm

    hae udah mulai ingetkah dengan masa kecilnya? wanita bocah darah? horor ya sama karakter hae kalo udah ketemu darah, lebih parah dari heechul malahan. kibum jagain donghae ya. eonnn request kihae moment dongsss

    hima_kawaii said:
    Maret 14, 2013 pukul 5:10 am

    waaahhhh hampir ketemuan sama papa sungmin dong hae-nya????? ck ck ck… suka ato tidak..pengen memori hae kembali biar dia gak nurutin perintah heechul lagi.. >_<

    namihae said:
    April 14, 2013 pukul 10:55 am

    akhirnyaaa nyampee juga di red ink! Kkk! ini langsung komen dichap 5 ya~ *lompat dua chap* #lapkeringet
    selaluu di tunggu2 ini red ink! terlalu misterius critanya eoonni! aku ketagihan! #eh

    casanova indah said:
    Oktober 13, 2013 pukul 9:05 am

    waeeee… knapa donghae bisa jd spt itu?
    berkepribadian ganda kah??
    mengerikan jika seorang Donghae yg manis n polos tiba2 berubah
    menjadi seorang monster yang sanggup membunuh banyak org…
    kibuuum… bawa donghae kabur aja gih, biar ga ketemu Heechul lg…

    donghaeelfishynemo said:
    Oktober 23, 2013 pukul 12:36 pm

    Annyeong.. gara2 aku bca ff chingu..aku jdi kecanduan bca ff tau..aplagi ff ttg donghae..
    Red ink nya lanjut lgi dong..

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 6:26 am

    mbak minah,.. sumprit ini pendek banget😄

    gpp alurnya lambat,. saya suka apapun yang detail😉

    aku tunggu lajutannya, fighting~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s