ANALGESIA

Posted on

Title : Analgesia

Genre : Romance – angst

Kim Kibum – Lee Donghae

SUMMARY:

Dirinya, bertemu dengan manusia yang menurutnya sangatlah aneh! Manusia aneh, yang pada ujungnya, membuat dirinya lebih aneh karena mencintai sosok itu..

Sulitnya?

Adalah Donghae yang merasakan seberapa besar cinta Kibum untuknya, sedang Kibum, seseorang yang tak mampu merasa..

[CHAPTER 1]

.

Bermula dari cerita seorang putra keluarga Lee yang begitu tersohor akan kekayaan mereka. Cerita yang hampir tak masuk akal, saat dirinya harus mendapat seorang pendamping, yang akan selalu melindunginya dari musuh bisnis sang ayah.

“Aku tak butuh siapapun! Aku bisa hidup sendiri ayah!” ketus Donghae, saat sang ayah, membawa seseorang, yang nyatanya akan selalu mengawasi setiap gerak dalam hidupnya.

“Dengar Hae! Ayah sudah membayar mahal atas dirinya! Ayah tak ingin kau menyia-nyiakan semuanya! Ayah tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu,” tutur tn. Lee penuh akan sebuah keyakinan.

“Tapi aku akan baik-baik saja,” tukas Donghae, dengan bantahan yang tak urung dari dirinya.

“Kali ini ayah tak lagi harus menuruti inginmu!” bantah sang ayah kemudian. “Coba saja jika kau bisa mengusirnya,” tantangnya sambil menunjuk salah seorang pria dengan ekspresi datar, tengah mengamati perdebatan keduanya di ujung sofa. “Dia berbeda..” ucapnya setengah berbisik.

“Huh?” Donghaepun bingung dibuatnya.

“Coba saja lakukan apapun untuk mengusirnya. Kau tak akan bisa..”

Donghae tak beranjak dari posisinya, padahal tn. Lee sudah hilang dari pandangannya. Yang tersisa, mengisi salah satu ruang di kediamannya adalah, hanya dirinya dan juga sosok baru yang begitu menarik perhatiannya.

Kedua tangan, Donghae lipat di dadanya. Dengan angkuh ia bertanya “siapa namamu?”, diiringi dengan dagu yang sedikit terangkat dan satu delikan tajam dari matanya.

Sosok itu masih terdiam dengan ekspresi datarnya. Teramat dingin malah. Perlahan ia menatap Donghae, lalu menjawab “Kim Kibum” dengan santai, meski kepalanya sedikit menunduk, berusaha menjaga tingkahnya di depan sang majikan.

“Kau yakin, bisa bertahan jikapun, aku melakukan kekerasan padamu nanti? Kau tak takut?” ancam Donghae kemudian dengan seringaian di bibirnya.

Kim Kibum tak terlihat takut. Dengan santai ia menggelengkan pelan kepalanya.

Donghae mendengus, menyadari bahwa gertakannya tak mempan sama sekali terhadap sang mangsa. “Terserahmu saja!” ketusnya, memilih mengalah dan melangkah menuju pintu keluar. Namun? Belum sempat tangannya meraih daun pintu, Kibum menghentikan pergerakannya, dengan menahan lengan Donghae.

“Apa yang kau lakukan?”

Donghae marah dalam waktu singkat. Matanya terbuka lebar, mengunci pergerakan Kibum. Namun Kibum tetap tak menunjukkan raut takut pada wajahnya.

“Lepas!!” teriak Donghae kesal.

Kibum sedikit menghela nafasnya, lantas melirik arloji di tangannya. “Ini sudah terlalu larut. Bukan saatnya menyambangi dunia luar, maaf..” ucapnya dengan tenang tanpa getar.

Donghae menatap Kibum, orang baru suruhan ayahnya tersebut dengan gurat tak percaya di wajahnya. “Kau ini siapa memangnya!” rutuknya mencoba melepas lengannya dari genggaman Kibum. Hingga, “Lepaskan aku, brengsek!”. Tumpah sudah emosi Donghae, meluap hingga dengan kuat..

Plak.

Ia mendaratkan telapak tangannya di pipi Kibum. “Jangan kurang ajar padaku!” peringatnya, hendak melanjutkan perjalanannya, dengan kaki yang sudah memakai sepatunya, namun tetap saja.

Bukh!

Donghae terjerembab ke dinding di dekat pintu, sementara Kibum? Dengan gerak cepat ia mengunci pintu lantas memasukan kunci rumah tersebut ke dalam sakunya. “Seharusnya anda tidur..”

“Ya!” Donghae semakin emosi, dan teramat kesal terlebih Kibum sama sekali tak terlihat takut padanya. Wajah Kibum bahkan seolah tak memiliki warna.

Lihat saja, Kibum dengan santainya memasuki ruangan tamu, di antar oleh tatapan tak percaya dari Donghae. Donghae kalah? Namun wajahnya tak ingin mengakui hal tersebut. Dengan nafas keras, ia mengambil asbak berbahan kaca di atas meja lantas..

Prang!

Dengan sadis, dihantamnya kepala Kibum dengan benda tersebut.

Kibum tak bergeming dari posisinya. Ia tetap saja berdiri, hingga menapaki detik berikutnya, ia mencoba melirik Donghae, meski dapat Donghae lihat, matanya yang berubah sedikit sayu.

“Kenapa?” tantang Donghae. “Aku bahkan bisa kejam lebih dari ini!” sentaknya dalam barisan kata yang mengancam itu.

Kibum menatap Donghae, dan dengan gerak lambat mengusap darah yang mengalir di antara dahinya. Tak ada ringisan, mata yang memandang kesal atau marah dari Kibum. Dia hanya kembali menatap Donghae hingga bibirnya berkata “lakukan apapun yang anda mau,” ucapnya yakin.

“Huh?”

Kibum tetap memandang Donghae, hingga disodorkannya kembali kepalanya, dengan wajah mendekati wajah Donghae. Satu jarinya kembali melap wajahnya lantas menunjukkan setetes darah itu tepat di depan mata Donghae. “Tak apa, seberapa banyakpun darah yang akan keluar,” ucapnya.

“Hey..”

Kibum lalu menepuk-nepukkan ujung jarinya, pada sisi kepalanya. “Pukul lagi, aku tak apa-apa,” ucap Kibum lagi.

Donghae tentu melongo dibuatnya. ‘Apa-apaan dia ini!’ pikirnya dalam hati, merasa aneh tentu saja akan sikap orang asing bernama Kibum tersebut. “Apa kau sudah gila?!” rutuknya, sambil sedikit menyenggol tubuh Kibum lantas meninggalkan Kibum begitu saja.

Donghae terbangun saat mendapati suara ribut dari arah dapur. Ia segera ingat, bahwa sejak malam kemarin itu, ia tak tinggal sendiri di rumahnya tersebut. Ada seorang marga lain, yang nyatanya akan tinggal bersamanya entah sampai kapan.

Dengan rambut kusut dan piyama yang masih melekat, Donghae turun dari ranjangnya lantas keluar untuk mendekati sumber keributan yang ternyata berasal dari arah dapur.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Donghae di ambang pintu. Bahkan ia menumpukan tubuhnya pada batas pintu sambil sesekali menguap dan tak henti menggosok matanya yang terasa gatal.

Kibum menoleh. Ia sempat terpaku akan sosok Donghae pagi itu. Namun, wajahnya enggan berubah, dan lalu kembali berkutat dengan beberapa bahan makanan di tangannya. “Aku sedang membuat sarapan,” jawabnya pelan.

Donghae sempat melihat Kibum dengan ragu. Ia mendekat lantas melihat dari balik tubuh Kibum. Melihat apa yang Kibum tengah buat. “Hanya telur?” tanyanya meremehkan.

“Aku hanya bisa membuatkamu ini,” timpal Kibum.

Donghae berkedip. “Tapi aku tak menyuruhmu membuatkanku sarapan,” tukasnya enteng.

Kibum terlihat berfikir. Apa yang dikatakan Donghae adalah benar adanya. Lantas, untuk apa ia bersusah payah seperti sekarang? Satu garukan tak berarti ia berikan pada salah satu bagian kulitnya, sebagai tanggapan akan tingkah bodohnya.

Di sampingnya, Donghae menyilangkan tangan pada dadanya, lantas menyenggol Kibum. “Terlalu lama!” cibirnya lantas membimbing Kibum agar melihat ke arah yang kini ia lihat. Sebuah wajan panas terpanggang di atas kompor dengan telur gosong di dalamnya.

Kibum semakin mengernyit, hingga dengan tergesa ia matikan kompor, lantas selanjutnya?

“YA!!” Donghae memekik keras, kala dirinya melihat Kibum yang mengambil telur panas dan gosong itu, dengan tangan polosnya. “Apa yang kau lakukan!!” teriaknya histeris, lalu menarik lengan Kibum lantas dengan segera menyiramnya dengan air. “Kau benar-benar sudah gila!!” decaknya mendelik sebal pada Kibum yang masih saja berwajah datar.

“Ini benar-benar tidak sakit..” ucap Kibum. “Sungguh! Aku tak bisa merasakannya,” terangnya, seiring dengan genggaman Donghae yang merenggang pada tangannya yang nyatanya, sudah sedikit melepuh pada bagian kulit telapak tangannya tersebut.

“Apa maksudmu?” tanya Donghae serius kali ini.

Donghae mengintip kata kecil yang tertera pada banyak deretan kata di layar laptopnya. Ia turunkan sedikit kacamata yang tengah dipakainya, lantas mengeja sebuah kata yang bahkan baru di dengarnya. “Analgesia?” tanyanya hati-hati pada Kibum yang kini tepat berada di depannya.

“Iya,” jawab Kibum singkat.

Dengan teliti Donghae membaca makna dari kata tersebut. Tak ada yang ia lewat sedikitpun, hingga satu kesimpulan yang ia dapat. “Kau, tak bisa merasakan apapun?” tanyanya tak percaya.

Kibum menggigit bibirnya, lantas mengangguk ragu pada Donghae.

“Sejak kapan?”

Kibum nampak berfikir, hingga ia menjawab “tiga tahun ini,” dengan tegas.

Donghae semakin gencar menatap Kibum. “Tak bisa merasakan sakit?” tanyanya dan Kibum mengangguk. “Gatal? Rasa makanan?” tanyanya lagi dan Kibum hanya mengangguk saja. “Juga, rasa bahagia? Sedih?”

Kibum terdiam sejenak, untuk selanjutnya ia kembali mengangguk pelan. Donghae melepas kacamatanya saat itu lalu menghela nafas. Bingung. “Dimana orang tuamu?” tanyanya lagi.

“Aku hanya tinggal seorang diri sejak usiaku 14 tahun,” jawab Kibum.

Donghae kini merasa iba. Ia lalu berkata “maafkan aku..” dengan pelan.

“Kau tak bersalah,” tukas Kibum cepat.

Namun Donghae malah semakin mengiba dan memandang dahi Kibum dengan luka memar yang membiru. “Kau tahu? Sebenarnya aku tak pernah berbuat sejauh itu sebelumnya,” tuturnya penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa,” timpal Kibum.

“Tapi aku merasa buruk sekali, Kibum!”

“Aku baik-baik saja,” sanggah Kibum kemudian. Namun ia segera terperanjat, kala Donghae menggenggam tangannya.

“Maafkan aku, oke! Mari kita berteman, tapi..” ucapnya tertahan. “Jangan pernah membuntutiku, ya?”

Kibum menangangkat satu halisnya. “Aku tak janji,” tuturnya dan membuat Donghae dengan segera menghempaskan tangannya.

“Ish! Kau menyebalkan..”

Donghae menutup rapat bibirnya. Membungkamnya dengan pipi yang mengembung. Ia tak ingin bahkan sedikitpun menampakkan senyumnya, terlebih pada Kim Kibum yang kini telah berani mengambil alih kendaraannya.

Kibum menatap Donghae dalam diam. “Anda begitu marah,” tuturnya.

Sedang Donghae memalingkan wajahnya ke arah jendela yang sedikit ia buka. Enggan menanggapi Kim Kibum di sampingnya.

“Haruskah saya melakukan sesuatu yang dapat menyenangkan hati anda?”

Donghae akhirnya melirik lantas menggelengkan kepalanya pelan. “Tak perlu,” jawabnya. Ia segera memasang sabuk pengaman, dan berkata “langsung saja menuju kampus,” dengan lancar.

Kibum menurut tentu saja. Kemanapun! Ia berkata dirinya akan mengantar Donghae kemanapun ia ingin tapi, tentu Donghae tak begitu menginginkannya.

Setibanya di halaman kampus..

“Kau tunggu saja disini,” peringat Donghae saat dilihatnya Kibum juga akan turun dari mobil, untuk mengikutinya tentu saja.

“Tapi anda,”

Untuk kesekian kalinya, Donghae berdecak pelan menanggapi sikap patuh Kibum. “Aku sudah hampir dua tahun belajar di tempat ini, dan tak pernah terjadi hal buruk padaku. Jadi tenanglah,” ucap Donghae meyakinkan.

Kibum nampak setuju dalam diamnya, sementara Donghae mulai turun dari mobil dan meninggalkannya. Hingga Donghae melambai dari arah sana. Lambaian yang terkesan biasa saja, namun Kibum menangkap sesuatu yang lain dari senyum Donghae.

Jauh di luar sana, di bawah terik matahari itu?

Donghae terkikik geli, lantas berkata “selamat tinggal, bodoh!” dengan gurat riang di wajahnya. Setelah semalam penuh Kibum mengurungnya di rumahnya sendiri, akhirnya ia mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. Maka, sebelum ia melihat Kibum mengejarnya, ia berlari menuju luar gerbang kampus secepat mungkin.

Sementara itu, Kibum tak buta. Ia segera turun dari mobil lantas mengejar Donghae yang telah berlari jauh di depannya. Dengan kecepatan penuh, ia mengejar Donghae, tanpa peduli akan apapun.

Ada pula cerita di sisi yang lain, dimana seorang pria, tengah menyeringai dan duduk tenang di kursi kemudinya. Ia rapihkan jaket dengan kerah yang menutupi hingga separuh dagunya. Perlahan ia pakai topi hitam yang sebelumnya tersampir di sampingnya.

Dan baru beberapa menit lalu itu, dia melihat semua. Bagaimana, senyuman riang seorang putra Lee terlihat oleh matanya, juga disaat sang bodyguard, keluar untuk mengejar anak tersebut.

Dengan satu helaan nafas pasti, ia berkata “kita lihat, siapa yang lebih cepat!” seiring dengan mesin mobil yang menyala.

Hari begitu cerah, dan Donghae tengah menikmatinya. Menikmati matahari yang begitu panas menyentuh tubuhnya, selain karena ia yang tengah berlari, membuat keringat di tubuhnya mengalir lebih deras, bercucuran di kulit wajahnya.

Satu tikungan Donghae lewati, sementara Kibum tetap mengejar di belakangnya. Dalam hati Donghae merutuk, mungkin saja Kibum tak akan merasa lelah seperti dirinya. Dengan segera ia memutar otaknya, dan kemudian, bisa terhindar dari kejaran Kibum.

Kibum memang kehilangan Donghae. Donghae menghilang begitu saja, padahal ia yakin Donghae berada di depannya sebelum tikungan tersebut. Kibum terlihat bingung, lantas memutar tubuhnya, menjelajah sekelilingnya dengan matanya. Keramaian, langsung menyeruak begitu saja. Banyak orang berlalu lalang, terlebih suara kendaraan yang melaju mengisi jalanan, membuatnya semakin bingung.

Sedang Donghae tengah terduduk di sebuah tangga, dengan sebuah koran menutupi penuh wajahnya. Dan saat itu, tepat adalah saat dimana Kibum yang kebingungan, berada di depannya. Ia melihatnya dari mata yang mengintip di balik koran yang entah sejak kapan di dapatnya itu.

Cukup lama Kibum berada dalam posisi yang sama, hingga akhirnya ia kembali berjalan sambil menggaruk kepalanya. Donghae menahan tawanya, sementara arah lain yang berlawanan dengan Kibum, dapat Donghae lihat adalah sebuah jalanan yang tengah lengang, tanpa kendaraan. ‘Tuhan seperti sedang memberiku sebuah jalan,’ pikirnya. Hingga ia berjalan ke arah itu, dan menyebrangi jalanan yang memang dalam keadaan sepi. Fikiran jahil, menyambangi otaknya tiba-tiba. Dan sempat, ia berbalik arah pada Kibum sambil berjalan mundur. Ia lalu berteriak, “Kibum!!” seolah sengaja memanggil Kibum yang berada lumayan jauh darinya.

Kibum menoleh tentu saja. Dan selanjutnya, dapat ia lihat Donghae tengah melambai ceria dengan senyum menyebalkan di wajahnya. Perlahan ia memutar arah, berniat menyusul Donghae, sementara Donghae masih saja terlihat mengejeknya. ‘Biarkan!’ ucap Kibum dalam hati, hingga di detik berikutnya, perasaan tak enak menyentuh hatinya.

Bagaimana tidak?

Donghae masih menapaki jalanan, sementara jauh di ujung sana, sebuah mobil melesat cepat tepat ke arahnya. Maka tanpa menunda waktu, Kibum mengumpat “bodoh!!” sambil melesat lari menuju Donghae.

Donghae terkejut melihat Kibum yang berlari cepat ke arahnya. Namun kakinya berubah kaku, saat dilihatnya pula sebuah kendaraan yang melaju kencang, yang jika ia tak salah lihat, mobil tersebut melaju ke arahnya. Tak ada suara klakson membahana. Ini jelas membuktikan, sebuah kesengajaan. Dan Donghae? Hanya dapat memejamkan matanya dengan jantung berdegup kencang.

Sesaat kemudian..

Buagh.

Suara hantaman keras terdengar, menusuk telinga Donghae, bersamaan dengan ia yang merasa tubuhnya berguncang hebat.

Nyatanya, itu adalah Kibum yang menubruk tubuhnya dengan cepat lantas menariknya hingga keduanya terjatuh. Donghae mengetahuinya setelah ia buka kedua matanya, dan dapat menyadari tubuhnya yang masih berada dalam lindungan tubuh Kibum. Keduanya sudah berada di sisi jalan.

“Oh!” Donghae mendesah dalam getar suaranya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Kibum. “Kibum! Kibum!” cercahnya, “siapa itu tadi? Apa dia sengaja?” ucapnya cepat, menandakan bahwa ia masih dalam keadaan terkejut. Sementara setelah itu, Donghae melihat sebuah sepatu di dekat mereka. Ia tak peduli hingga Kibum melepas pelukannya dan membawanya dalam posisi terduduk.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kibum, yang sudah berdiri. Donghae masih terduduk, dan dapat menyadari bahwa sepatu yang tergeletak itu adalah milik Kibum. Terbukti dari Kibum dengan satu kaki telanjangnya.     

Berulang kali Donghae menghela nafasnya. Iapun berusaha menjawab Kibum. “Aku..” ucapnya terhenti kala melihat aliran darah di sela jari Kibum, juga salah satu bagian celana Kibum yang robek. “Astaga! Kau terluka?!” tanyanya panik seketika.

Kibum memandang kakinya tak peduli. “Ini tak sakit!” tukasnya lantas menarik lengan Donghae cukup erat. “Kita pulang..” ucapnya dingin dan berjalan seperti biasa, padahal baru saja salah satu kakinya itu, tertubruk mobil tadi dengan sangat keras.

“Tapi kakimu,” ucap Donghae masih panik. Dan Kibum tak mendengar. Iapun tak peduli akan tatapan orang yang sejak kapan berkumpul di sekitar mereka. “Kita ke dokter!” titah Donghae kemudian.

Kibum tak kunjung menjawab dan hanya memegangi lengan Donghae lebih erat. Terlihat seperti tengah menyeret Donghae.

Kibum memandang aneh pada Donghae yang tengah mengobati luka di kakinya dengan kepala tertunduk. “Sampai kapan anda akan menangis?” tanyanya karena, sesungguhnya Donghae tak henti menangis semenjak mereka tiba di rumah dan Kibum, merobek celananya, menampakan luka sobek di kulitnya yang cukup mengerikan.

Tangis Donghae semakin menjadi. “Kubilng kita ke dokter!” sentaknya dalam tangis. “Sebenarnya berapa ayah membayar, untuk setiap lukamu, huh?” tanyanya cepat dan penuh akan amarah. Sesekali di usapnya wajahnya yang basah dengan wajah memerah dan mata yang sembab. “Kau dibayar hanya untuk terluka seperti ini? Apa kau sudah gila?!!” omelnya.

“Anda tahu keadaannya bukan? Tak masalah bagiku terluka seperti apapun,” balas Kibum seperti biasa.

“Tapi aku tak biasa melihatnya, kau tahu!” rutuk Donghae kemudian sambil menangis lebih keras.

Dan tanpa diduga, jemari Kibum menghapus air mata di wajahnya. “Tak seharusnya saya membuat anda menangis. Tuan akan memarahi saya kelak, jika ia tahu,” ungkapnya pelan.

“Apa kau bodoh?!” lagi, Donghae mengumpati Kibum. “Kau bodoh!” umpatnya lagi dan lagi.

Kibum hanya mengangguk, lalu menutup kaki yang sebenarnya, Donghae sudah selesai mengobatinya, meski perban yang melekat pada luka tersebut, kini sedikit basah karena tersentuh tetesan air mata Donghae.

Satu cangkir teh, Donghae berikan pada Kibum. “Ini akan membuatmu lebih baik,” ucapnya dengan suara yang masih bergetar. Matanyapun masih merah dengan sisa air mata di wajahnya.

“Saya baik-baik saja..” sanggah Kibum meski cangkir berisi teh itu, ia raih dan lalu ia teguk sedikit isinya.

“Berapa kali kau bilang tidak apa-apa? Aku benci mendengarnya!” omel Donghae lantas mengambil duduk di sebelah Kibum. “Kau memang tak merasakan apapun, tapi tubuhmu tetap saja! Kau tak merasa? Wajahmu sudah sangat pucat!!” terang Donghae.

Kibum melirik Donghae. “Apa ini manis?” tanyanya sambil sedikit mengangkat cangkir teh tersebut.

Oh! Donghae lupa bahwa Kibum tak dapat mengecp manis dari teh yang ia buat itu. Dengan pelan ia mengangguk. “Ya. Kuberikan sedikit gula. Jika kau ingin, rasakan perlahan, kurasa kau bisa sembuh,” terang Donghae menatap serius ke arah Kibum.

Kibum kembali menatap air di dalam cangkirnya. Ia tak menjawab Donghae, hingga ia kembali berkata “saya tak menyangka anda akan serepot ini! Pertama kali saya lihat, anda terlihat galak. Saya tak menyangka anda akan secengeng ini..” tuturnya mengambil tema yang lain.

Donghae tak menjawab. Ia mendesah malas, lantas meraih remote TV dan lalu memindahkan chanel pada TVnya. Percakapanpun terhenti, seiring dengan kepala Donghae yang terkulai di bahu Kibum, terlelap, setelah sebelumnya ia berkata “berhenti berbicara formal padaku! Atau kubunuh kau,” dengan sangat pelan di antara mata yang mulai terpejam.

Hari berlalu dengan cepat. Donghae tak lagi banyak melawan, terutama, ia tak pernah berniat menyulitkan Kibum. Pagi ini, ia akan kembali berangkat ke kampus dan berulang kali berkata “aku tak akan kabur lagi, sungguh!” pada Kibum. Dan Kibum hanya mengangguk dan mengangguk sambil tetap membuntuti Donghae, melindunginya.

Donghaepun merasa tak masalah dengan hal tersebut. Malah, dengan sengaja ia menjatuhkan tas miliknya lantas menatap Kibum. “Itu berat..” ucapnya, dan berakhir dengan Kibum yang membawakan tas miliknya tersebut.

Terlalu memang, namun hal tersebut adalah sebuah pertanda, bahwa Donghae menerima Kibum di sisinya.

Saat di perjalanan itulah, Donghae memulai perbincangan di antara mereka. “Apa, kecelakaan tempo hari adalah kesengajaan?” tanyanya, yang mana ia yakin, Kibum mengetahuinya.

Kibum fokus pada jalanan, namun bibirnya masih dapat menjawab. “Itulah kenapa tuan menyewaku untuk berada di samping anda..”

Donghae mendelik. “Hentikan kata formal itu! Panggil namaku saja,” tukasnya. “Aku tahu, ada banyak musuh ayah. Itulah mengapa aku memilih tinggal sendiri dan menjauhi keluargaku! Tapi mengapa masih ada saja yang menginginkan kematianku!” rutuknya.

“Mereka bukan ingin kau mati,” sanggah Kibum. “Mereka ingin kekayaan ayahmu..” ucap Kibum.

“Aku sudah katakan pada ayah, untuk mewariskan semua hartanya pada hyung! Aku akan hidup dengan hidupku saja,” lanjut Donghae.

Kibum terdiam sejenak. “Kau mempunyai saudara?” tanyanya.

Donghae mengangguk. “Sungmin hyung, tapi kami berbeda ibu. Tapi, aku tak mengerti kenapa ayah terlihat membencinya! Padahal ia selalu menurut pada ayah! Tapi ayah, terlalu berharap aku yang mewarisi segala miliknya,” terang Donghae.

Kibum nampak berfikir. “Ada begitu banyak yang mengincarmu dengan tujuan tertentu,” tuturnya.

“Aku tahu,” lirih Donghae. “Tapi akhir-akhir ini, mereka semakin berani!” ungkapnya.

“Kau tenang saja. Aku melindungimu..”

Donghae mengangkat kepalanya seketika lantas memandang Kibum penuh arti. Ucapan Kibum, membuat hatinya hangat seketika, membuat pipinya bersemu merah.

TBC

Inspirasinya, ini dari movie ‘Pain’ – Kwon Sang Wo, cari aja kalo penasaran. xD cuman, cerita sih gak sama. Jauh malah. Yang kuambil cuman temanya aja. Analgesia. Penyakit yang macam Kibum derita di atas. Maaf jika ini membosankan, dengan cerita yang pasaran.🙂 koment jika berkenan. Sampai bertemu di chapter selanjutnya..

29 thoughts on “ANALGESIA

    Elfisyhae said:
    Februari 21, 2013 pukul 12:49 pm

    So sweet. . . So sweet. . .

    BryanELFishy said:
    Februari 21, 2013 pukul 1:18 pm

    untung kibum wajah tak berwarna bukan wajah tak berbentuk #plakk hehehe peace :)V
    kibum sakitnya aneh, tapi berguna sih.
    klo kibum mati rasa terus donghaenya suka sama dia gimana dong jadinya? nggak tega T_T
    lanjut eonn…..

    Yulian Riva Luviana said:
    Februari 21, 2013 pukul 1:24 pm

    . Eonni.. Ini kejam.. Tragis.. Tpi gpp! Lanjtkan! Buat kibum smakin berdarahdarah!! :hahaha:D

    mea hae said:
    Februari 21, 2013 pukul 1:28 pm

    iyaaa aku tahu pilem ini…tadi juga kpikiran itu

    mau donlkkk punya bodyguar bum maun
    eon kalau analgesik tetep bsa punya rasa khawatir tak enak ya?

    masrifah lubis said:
    Februari 21, 2013 pukul 1:39 pm

    kibum memang cocoknya sama hae, kibum yang dingin tapi hangat, dan hae yang polos dan manja benar2 perpaduan yg cck, di tggu lanjutannya ya

    Christ Josh said:
    Februari 21, 2013 pukul 6:02 pm

    aaaaaaaaa
    suka suka suka
    lanjuuuuuttt!!!!!!

    Eun Byeol said:
    Februari 21, 2013 pukul 11:13 pm

    Unik ya Kibum, 1:berapa banyak orang ya bisa kena analgesia..
    Donge’ Donge’ Donge’
    kau selalu menggemaskan..

    nia na yesung said:
    Februari 22, 2013 pukul 12:46 am

    Aku baru denger ada penyakit analgesia Kkkkkk ,,,,
    kasian bgt yua gak bs ngersain apa” , ><

    kira kira bs sembuh gak ? ^^
    aduh sebener.a ngeri juga ma penyakit.a kibum.
    akhir.a hae mau bersikap manis juga ke kibum ^^
    Lanjut lanjut ,,,,
    Gak sabar nunggu kelanjutan.a Kkkkkkk ,,,

    isfa_id said:
    Februari 22, 2013 pukul 1:34 am

    lagiii~(?) *Isfa g’ kreatif, tiap comment ini mulu yg diketik* -_-“*

    hubsche said:
    Februari 22, 2013 pukul 2:32 am

    Ah Donghae… manis dan gemesin seperti biasa^^
    Ah Kibum… cool dan keren suka banget^^

    Kalo Analgesia peka terhadap rangsangan/sentuhan fisik nggak? Atau gak bisa rasain juga?? Coba Hae pake metode itu buat nyembuhin Bum *modus banget* hahahaha.

    taRie_Elfishy said:
    Februari 22, 2013 pukul 2:58 am

    Berkenan sy koQ….
    Terserah lah crita mcam bgaimana yg penting ada Donghae+Kibum aja udah suka,,
    Apalg yg buat nya author2 keren yg bisa mengungkapkn situasi yg baik,
    Kekekeee..
    Ughh..
    Aq ngefans sm para author KiHae..

    ndah951231 said:
    Februari 22, 2013 pukul 12:39 pm

    pertama baca,
    ini bener” mengerikan T-T
    itu bummie udah ketabrak tp masih gak bisa ngerasain apa”.
    dan sialnya pasti nnti bummie sulit utk peka kalo misalkan lama kelamaan hae suka sama dy T-T
    *sok tauk*
    cepet sembuh bummie~

    ayo eon jgn lupa dilanjut ff yg lainnya😀
    yg ini agaknya seru lagi ^^~

    RiHae said:
    Februari 22, 2013 pukul 3:25 pm

    ceritanya g’ ngebosenin….keren malah….lnjut thor…..
    jdi curiga ama sungmin..jngan2 min yg ngecelakain Hae…

    Laila .r mubarok said:
    Februari 22, 2013 pukul 4:59 pm

    Ff bru agii…

    Ya ampun kibum kok punya penyakit yng aneh” toh ckckck..

    Lanjut eon hehe

    Lee Sae Hae said:
    Februari 22, 2013 pukul 5:25 pm

    ini cerita lengkapnya yang di fb itu ya eonn..
    Aishhhhh.. Suka bangettt eonn ceritanya. Seruuuuuuu banget. Kerennn pula..
    Kasian Kibum harus jagain Hae yang bener” kekanakan begitu. Sabar” aja ya, lama” juga jadi cinta nantinya. Wkwkwk
    Ini ceritanya juga manis banget eonn.. Suka aja interaksi antara Hae sama Kibum.. Hae yang polos & kekanakan dipasangin sama kibum yang datar.. Wkwkwk
    Bakalan jadi ff favorit nih eonn.. Lanjutttt kerenn banget eonn!!

    gamers cho said:
    Februari 23, 2013 pukul 6:32 am

    baru denger ada penyakit begini ^^ tapi seruuuu🙂 mau lagi !!

    ainun_lara said:
    Februari 24, 2013 pukul 12:24 pm

    Aku baru tau ada penyakit Analgesia,mengganggu indra perasa gitu ya? “Lirik Mbah Google”.. Kibum ngenes bgt di sini,kasian. Trus hubungan KiHae masih kaku di Chap ini. Lanjuutttt Saenngg..

    Raihan said:
    Februari 24, 2013 pukul 2:45 pm

    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Kibum kuuu *peluk erat* penyakitnya gitu amat sih, tpi keren kayanya, kaga bisa ngerasain apa-apa jdi kaga bakal nyesek kalo cinta ditolak #plaak

    Kibum sengaja dihilangin indra perasanya buat jdi bodyguard yah?..trus ngejaga Donghae?..semua ini ulah ibu Sungmin?..

    Ini keren, Kibum ku kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn ^_<

    arumfishy said:
    Februari 25, 2013 pukul 11:25 am

    lanjutttt lanjuttt

    kerennn
    pasti sungmin jg ngincer harta ayahnya y???
    trs gmn apa donghae bs aman???

    Shizuku M said:
    Maret 6, 2013 pukul 3:06 pm

    kibumnya datar banget, udah karakternya cool eh ditambah jadi ga bisa ngerasain gitu bener bener cocok dia jadi pangeran es, untung ada hae yang bisa mencairkannya eaaa. sungmin antagonis ya?

    hima_kawaii said:
    Maret 14, 2013 pukul 8:31 am

    duh, kibum bisa sembuh gak yah dari penyakit itu…..😦

    saga.virgo said:
    Maret 18, 2013 pukul 3:26 pm

    Aiih yg ini kibumnya yg sakit hhe lanjuut chingu hhe

    niea_clouds said:
    April 2, 2013 pukul 10:41 am

    penyakit ny serem bgt ,ga bs ngrasain apapun . . . awalny Hae sadis bgt di sini tp akhirny manis jg . . .

    Nelly Key said:
    April 17, 2013 pukul 2:28 am

    awalnya mikir “itu hae kok kejem amat maen ngelempar2 pake asbak mpe bedarah2”kasian kibumnya… tp makin kesini hae tetep dengan sosoknya yang manis n manja,,, wkwk
    penyakitnya kibum serem amat,,, g bisa ngerasain apa2 y… trus kalo persaan cinta gmna ?? mao lnjut ah ke chap selanjutnya…>>>

    hyukhaeminoo said:
    April 21, 2013 pukul 5:35 am

    ah,manis’a…..lanjjooottt ke chap selanjut’a ah…

    setshuka said:
    Juli 13, 2013 pukul 2:03 pm

    ngerinya gini… kalo misalnya Kibum knapa-napa, okelah dia ga ngerasa. tapi kan misalnya ya… *ga berharap ding. dia kecelakaan, trus organ vitalnya kena. kalo jantungnya sekarat *Astajiiiimmm~ >,< dia masih ga ngerasa gituuu??? Oh Kibum- -_-

    casanova indah said:
    Oktober 11, 2013 pukul 4:45 am

    ageusia, analgeusia samakan ya? soale yang dialami kibum sama
    yang dialami hae di ageusia…
    tapi cerita’a beda sich… tetep kereeeeennn…..
    Ih Hae tega banget sih ampe lempar asbak gitu.. biarpun kibum ga ngerasain sakit
    tapikan kasian dianiaya gitu..
    Noh kan udah mulai tersentuh hati babyHAE-ku..
    tinggal tunggu aja kapan dia jatuh cinta ama kibum.. 😀

    Adel said:
    Februari 1, 2014 pukul 1:04 pm

    Annyeong🙂 kenalin aku readers baru disini🙂 ceritanya keren . 2 jempol buat authornya😀

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 4:14 am

    wkwkwkwk,.. jujur dari hati yang paling dalam,.. KiHae sama sekali bukan Couple Favorite saya….😄 baru kali ini saya baca KiHae, sungguh! Nggak bohong!😄

    Tapi karena yang bikin mbak Minah,.. saya nikmatin ajah,.. dipikir2 so sweet juga. Mana di sini Kibum-nya lebih mirip robot gitu😀

    wkwkwkwk,.. nggak kebayang mukanya Hae merah gitu,.. padahal Kibum kan nggak lagi nge gombal,.. woah,.. si Sungmin kakaknya Hae? Saya sungguh berharap ada Kyumin juga di sini,… sungguh berharap… Kyumin is my number one OTP anyway *nggak ada yang nanya😀

    yaudah,.. saya lanjut baca duluh😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s