ANALGESIA [2]

Posted on

Summary:

Tak ada sesuatu yang serius. Hanya sebatas hubungan tuan dan juga penjaganya. Namun, tetap dalam posisi sang tuan dengan nyawa yang terancam.

[CHAPTER 2]
.

Kibum tengah mengiringi langkah Donghae, menuju mini market di dekat kediaman mereka, atau kediaman Donghae sebenarnya. Donghae mengatakan bahwa ia membutuhkan sesuatu, padahal waktu tengah menunjukkan pukul 11 malam. Hampir menginjak pertengahan malam.

Donghae masuk seorang diri sedang Kibum menunggunya di luar. Angin malam yang berdesir cukup hebat, nyatanya tak akan sanggup membuat dia, yang mati rasa itu, kalah oleh dinginnya. Ia tetap berdiri tegak, menanti sang tuan yang tengah memilah beberapa bahan yang diinginkannya. Kibum tak tahu rincinya.

Dan di antara dingin wajahnya itu, ia tetap mengamati, karena nyatanya Donghae, tak pernah lepas dari pengawasan mereka yang mengincarnya. Hal tersebut, benar adanya..

Karena di ujung sana, dapat Kibum lihat gerak beberapa orang yang mencurigakan. Bukan hal sulit baginya, mengetahui, mana yang merupakan musuhnya atau bukan. Terlebih tuan Lee sendiri yang memberinya beberapa ciri orang yang mengincar Donghae.

Ia selalu jeli dan terus fokus, hingga Donghae, datang dengan senyum terkembang di wajahnya sambil sedikit mengangkat kantong berisi belanjaan yang telah di belinya pada Kibum. “Apa aku lama?” tanya Donghae, sambil hendak menghampiri Kibum, yang berada di bawah beberapa anak tangga saja darinya. Namun..

Grep.

Donghae sempat menahan nafasnya, kala kakinya tiba-tiba terasa tak menapak dan lalu limbung. Hampir terjatuh jika saja Kibum tak cepat meraihnya.

“Hati-hati..”

Peringat Kibum, membuat Donghae melebarkan senyumnya. “Terima kasih, Kibumie. Terima kasih,” ucap Donghae sambil menepuk-nepuk bahu Kibum dan lalu berjalan mendahului Kibum, setelah sebelumnya ia ajak Kibum agar mengikutinya.

Kibum menatap punggung Donghae. Dengan setia ia membuntuti langkah Donghae, hingga dapat ia lihat dari ujung matanya yang jeli. Sebuah mata pisau, tengah terpajang, memancarkan kilaunya kala sinar rembulan menyentuh permukaan runcing tersebut, sementara Donghae berjalan riang tanpa mengetahui apapun.

Sengaja Kibum memperlambat langkahnya, hingga sosok itu muncul dari balik sebuah celah yang gelap dengan pakaian hitamnya. Kibum tak peduli siapapun itu. Ia hanya tahu, orang tersebut tengah mengarahkan senjata tajamnya pada Donghae. Tak tahukah ia bahwa Kibum akan selalu menjaga Donghae, dan kini berada tepat di belakangnya?

“Idiot!” gumam Kibum, lantas membekap mulut sosok dengan mudah. Menguncinya, serta menyeretnya pada tempatnya semula. Gang sempit yang gelap, tanpa suara.

Kala itu, entah sebuah kesengajaan atau apa, Donghae dapat menangkap sosok yang ia kenal, hingga ia panggil dengan suara lantangnya. “Hyung!” teriaknya ke arah sosok yang tengah berdiri di dekat sebuah mobil mewah. Sosok itu belum menyadari keberadaan Donghae, hingga ia harus melambai sambil berteriak “Sungminie hyung!!” dengan sangat keras.

Donghae akhirnya berlari, menghampiri Sungmin. “Kenapa disini?” tanyanya sesaat Sungmin telah menyambutnya dengan baik. “Hyung ada urusan disini?” tanyanya lagi.

Sungmin melihat Donghae dengan senyum manisnya. “Hyung sedang menunggu teman. Kau sendiri, Hae?” tanya Sungmin kemudian.

Donghae teringat. Ia berbalik dan tak menemukan Kibum di belakangnya. “Itu,” ucap Donghae dengan wajah yang belum menatap Sungmin kembali. Ia garuk kepalanya, hingga kembali diliriknya Sungmin yang menanti jawabannya. “Tadi aku bersama Kibum,” jawabnya dengan wajah bingung. “Tapi dia menghilang, entah kenapa..” tuturnya lagi.

“Orang suruhan ayah?” tanya Sungmin.

Donghae mengangguk. “Kau tahu hyung?” ucapnya.

“Tentu saja! Aku lebih tahu, Hae. Aku tinggal bersama tuan Lee bukan?” jelas Sungmin sambil mendelik ke arah Donghae, berusaha bercanda dengan sang adik.

“Dia hebat hyung! Aku benar-benar berlindung di belakangnya. Orang-orang itu mulai berani sekarang! Seharusnya kau yang berada di sampingku,” ucap Donghae, merutuk.

Sungmin mengusap rambut Donghae. “Salahmu yang tak ingin tinggal di rumah, bocah nakal!” omel Sungmin kemudian, sambil memakaikan syal yang tengah dipakainya pada Donghae. “Dan kenapa keluar di tengah malam? Kau tak takut dingin? Kau tak takut, jika siapapun akan melukaimu? Ingat posisimu, Hae! Mereka mengincarmu,” ucap Sungmin, cerewet bagai figur ibu di mata Donghae.

Dan di detik itu, Donghae memekik pelan. “Kibumie!” ucapnya menatap Kibum yang baru saja menghampirinya, sambil berusaha merapihkan pakaiannya. “Kau darimana saja? Kemarilah..”

Kibum menurut dan melihat Sungmin di dekat Donghae, yang tersenyum padanya.

“Dia hyungku!” jelas Donghae ceria, sambil merangkul Sungmin, sementara Kibum hanya mengangguk hormat.

Bayangan Sungmin masuk dalam pandangan Kibum. Sungmin yang tersenyum padanya, hingga berkata “terima kasih telah menjaga adikku..”

“Ya, sudah tugas saya,” balas Kibum.

Sungmin tak berkata apapun lagi. Dan berakhir dengan sebuah kata perpisahan. “Aku harus segera pergi, Hae. Jaga diri baik-baik. Lain kali kita berbincang lagi,” ucapnya.

“Hm..”

Kibum dan Donghae, menatap kepergian kendaraan yang dinaiki Lee Sungmin. Senyuman indah tak henti menghiasi wajah Donghae. “Dia hebat, bukan?!” ungkapnya penuh akan kebanggaan.

“Ya,” balas Kibum singkat. “Sebaiknya mari kita pulang,” lanjutnya.

Donghae melirik Kibum. “Kenapa tadi kau menghilang? Kau darimana?” tanya Donghae.

“Saya menerima panggilan tadi,” jawab Kibum, membuat Donghae mengangguk mengerti. “Mari pulang,” lanjut Kibum lagi sambil menarik lengan Donghae. Namun sesuatu yang basah dan lengket dapat Donghae rasakan. Ia  segera menarik lengan Kibum.

Satu delikan Donghae berikan pada Kibum. Ia memicingkan matanya, lalu segera melihat lengan Kibum. Darah! Ya, ia melihat darah disana. “Kenapa kau terluka?” tanya Donghae.

Kibum menarik kembali lengannya. “Hanya luka kecil,” jelasnya.

Selanjutnya, terdengar hentakan dari kaki Donghae. Ia enggan melangkah, padahal Kibum mencoba menariknya, mengajaknya untuk segera pulang. Donghae, malah sengaja menepis tangan Kibum. “Sampai kapan kau akan terluka seperti ini?!”

Kibum menghela nafasnya. Ia sungguh tak mengerti akan sikap Donghae. Mengapa Donghae begitu marah?

“Siapa yang melakukannya! Katakan!” raung Donghae.

Kibum mengambil barang bawaan Donghae. Dengan tenang ia berkata, “orang yang akan membunuhmu tadi. Dia yang melakukannya,” terangnya.

“Huh?”

Donghae diam pada akhirnya. Ia melihat Kibum yang melangkah di depannya, yang lalu berkata “dia masih ada di sekitar sini,” terdengar menakuti dirinya. Seketika Donghae bergidik takut, lalu menyusul Kibum.

“Kibumie tunggu aku!!”

“Apa dia menyerang langsung? Kau melihat wajahnya tadi? Kenapa aku tak tahu!!” tanya Donghae tiada henti. Ia terus saja bertanya pada Kibum, yang enggan menjawab.

“Kibumie..” rengeknya sambil menarik-narik lengan Kibum. “Katakan! Kau melihatnya? Kau tahu orangnya tidak?!”

Kibum menatap Donghae lekat. Ditatapnya Donghae lama, hingga Donghae merasa wajahnya memanas dan lalu bersemu. “Kenapa kau malah melihatku seperti itu?” tanya Donghae sambil memegangi kedua pipinya.

“Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu tak nyaman?”

Donghae mengangguk pelan, lantas memalingkan wajahnya ke arah lain. “Jangan menatapku seperti itu lagi,” ujar Donghae sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.

“Kenapa?” tanya Kibum.

“Kau tak tahu seperti apa rasanya,” timpal Donghae.

“Huh?”

Donghae berdecak pelan. “Sudahlah! Jangan bahas itu!!” rutuknya, lalu melangkah menuju arah kamarnya, setelah sebelumnya, dengan sengaja ia menginjak kaki Kibum dengan usil. Ia lupa? Itu tak akan berpengaruh terhadap Kibum. membuatnya terlihat konyol. Namun sebelum kakinya sempat menapaki lantai di ruangannya yang berwarna dasar biru tersebut, Kibum memanggilnya dan berkata padanya.

“Bagaimana bila ia, adalah Lee Sungmin?”

Donghae melirik Kibum, terkejut dengan apa yang Kibum katakan. “Apa yang kau katakan?” tanyanya.

“Yang mengincarmu,” jelas Kibum. “Bagaimana jika itu adalah dia?” tanya Kibum serius.

Donghae tertawa hambar. “Tidak mungkin!” tukasnya dengan tegas. Ia lalu hendak menutup pintu kamarnya, setelah sebelumnya berkata “ia menyayangiku, Bumie. Itu tidak mungkin. Aku yakin!” dengan senyuman hangat di wajahnya.

Kibum memandang pintu kamar Donghae yang sudah tertutup rapih. Ia mengangkat bahunya, lalu bergumam “sudah kuduga,” dengan sangat pelan. Di hampirinya sofa di ruang tengah tersebut, lantas berbaring disana. Ia tetap berusaha menjaga Donghae meski berada di dalam rumah. Karena apa?

Bayaran atas dirinya, adalah untuk setiap keselamatan Donghae, putra tuannya.

Kibum masih memejamkan matanya, kala Donghae keluar dari kamarnya, dan lalu memberinya selimut. Kibum selalu menolaknya bila ia berniat memberi Kibum selimut. Donghae tahu, Kibum tak membutuhkannya karena ia tak mengenal rasa dingin.

Donghae lalu melirik ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 4 pagi. Terlalu pagi tapi, terlalu singkat untuk kembali mengambil waktu tidurnya. Ia memutuskan untu segera ke kamar mandi.

Namun, saat dalam perjalanan ke kamar mandi, ia melihat bayangan di balik jendela dapur. Ia terkejut tentu saja. Bayangan itu terlalu jelas, membuatnya perlahan menghampiri pintu belakang di dapur tersebut. Dengan tangan yang sudah memegang sebuah pisau dapur, ia mengendap, lantas membuka pintu tersebut.

Satu sosok terbalut pakaian hitam, bahkan tak menampakkan sedikitpun kulitnya, tengah berdiri tepat di luar, di depan jendela dapur. Donghae menyipitkan matanya, berusaha mengenali namun percuma. Dengan tangan bergetar, ia mengangkat pisau di tangannya dan bertanya, “siapa kau?”

Sosok itu tertawa. “Kau cukup berani, anak muda!” ucapnya, hingga berusaha menggapai Donghae. Namun, sesaat setelahnya, ia berusaha menghindar saat sebuah batu besar hendak menghampirinya, dan lalu memecahkan kaca dapur.

“Kibumie!” pekik Donghae ke arah Kibum yang datang entah sejak kapan.

“Sialan!” umpat sosok itu, hingga ia mencoba berlari, melewati Kibum yang hanya terdiam.

Di sisi lain, Donghae tak terima. Dengan rasa keingintahuan yang membuncah ia berteriak “kenapa tak mencegahnya!” pada Kibum lalu berlari menyusul sosok jahat tadi tanpa bisa Kibum cegah.

Kibum menarik pelan nafasnya, lalu berlari menyusul Donghae. Apa Donghae bodoh? Itu sama saja mengantarkan nyawanya sendiri bukan?

Melewati jalanan yang belum mampu tersinari cahaya matahari, Donghae berlari dengan kaki telanjang, menyusul sosok yang sebetulnya sudah tak dapat ia kejar. Dan detik berikutnya, ia merasa, sesuatu yang dingin, dan juga tajam, memasuki telapak kakinya dengan sangat tajam, membuatnya berteriak seketika.

“Huwaaaaaaaa! Sakit!” teriak Donghae tak sabar. Kini ia sudah terduduk di atas sofa, dengan kaki yang ia angkat. Kim Kibum yang membawanya pulang. Kim Kibum yang menggendongnya, karena ia tak mampu berjalan dengan kaki yang mengeluarkan darah.

Kibum mengamati telapak kaki Donghae, dimana sebuah ranting runcing menancap dalam disana. Ia tak dapat merasakan apa yang dirasa Donghae. Hingga dengan dinginnya ia tarik ranting tersebut, membuat Donghae meraung serta dengan cepat menepis tangannya sambil berteriak “apa yang kau lakukan!! Itu sakit!!” pekiknya.

“Tapi tinggal sedikit lagi,” ujar Kibum, karena ia benar. Hanya tinggal sedikit lagi, agar ranting tersebut benar-benar keluar dari balik daging Donghae.

“Aku tidak mau!” teriak Donghae kini dengan tangisnya yang tertumpah. Ia lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil menangis. Hingga di saat itulah, ia lengah, dan berhasil membuat Kibum, dengan dinginnya menarik ranting tersebut.

“ARGH!”

Donghaepun berteriak keras, kesakitan. Ia semakin menangis, sementara darah mulai berjejalan keluar dari lubang kakinya tersebut. “Kibum! Kibumie!!” racau Donghae setelah ia puas berteriak. Ia memandang ngeri pada darah yang cukup banyak. “Kibumie, hentikan darahnya! Oh tidak! Aku bisa mati kehabisan darah, Kibumie! Kibumie..”

Beruntunglah Donghae, karena Kim Kibum bukan orang yang dapat merasakan rasa kesal atau marah. Dengan sabar, ia tetap memegangi kaki Donghae, lantas mencelupkannya ke dalam ember berisi air hangat.

“Kibumie! Kibumie aku ingin ke rumah sakit!” racau Donghae, terlihat berlebihan. Ia terus saja memejamkan matanya, bahkan di saat Kibum berkata bahwa kakinya sudah terbalut rapih.

“Kau tak apa-apa. Ini hanya luka kecil,” terang Kibum. Ia dapat melihat jejak air mata di wajah Donghae. “Maaf,” ucapnya.

Donghae berubah panik. Ia tak menyalahkan Kibum sama sekali atas apa yang terjadi. “Ini bukan salahmu,” tukasnya namun..

Donghae terpaku kala Kibum mengusap jejak air mata di wajahnya sambil bergumam “jangan menangis! Tuan akan marah kelak, jika ia tahu.”

Kata yang pernah Donghae dengar. Itu membuat jantung Donghae, berdebar lebih cepat. Ia lalu dengan segera merubah wajahnya. Menghiasnya dengan senyuman berhiaskan genangan air mata di sudut matanya. “Terima kasih, Kibumie..” ucapnya lalu..

Kibum diam, kala melihat Donghae, dengan kilat mencium pipinya..

Donghae tersenyum geli. “Jangan terlalu baik padaku,” ucap Donghae selanjutnya.

“Kenapa?”

Donghae menyentuh dadanya. “Kau,” ucapnya hati-hati. “Kau tak akan tahu rasanya,” hingga kembali, Donghae ambil satu kecupan, menyentuh bibir Kibum kali ini.

“…” tak ada balasan dari Kibum.

Donghae sadar akan keadaannya, dan tak membuatnya harus merasa kecewa. Ia mengerti, lalu berkata “tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan. Aku tahu kau tak bisa merasakannya,” ucap Donghae mengusap wajah Kibum.

“Terima kasih, Kibumie..”

Donghae masih tertidur, di pagi hari, dan meninggalkan kegiatan belajarnya di kampus. Ia terlalu manja hingga tak sanggup pergi belajar dengan luka kecil di kakinya.

Saat itu, Kibum tengah berada di depan televisi, saat ponselnya berbunyi, dengan layar yang menampakkan nama ‘Tuan Lee..’

Sontak Kibum mengangkat panggilan tersebut, setelah ia kurangi suara pada televisi yang ia tonton. “Hallo..”

Kibum mendengar setiap kata dari ujung sana. Setiap kata yang berisi perintah, yang pasti akan ia patuhi.

“Ia baik-baik saja,” terang Kibum. “Sudah ada beberapa kali serangan,” lapornya. Ia lantas kembali berkata “anda benar. Sepertinya dia orangnya. Saya melihatnya di sekitar penyerangan tuan Donghae kemarin malam,” ungkap Kibum, menyimpulkan.

“Ya,” ucap Kibum sambil menggaguk. “Baik, akan saya laksanakan, tuan. Semoga perjalanan anda menyenangkan,” ungkapnya.

Donghae terperanjat dari ranjangnya setelah mendapat pesan singkat dari orang rumahnya. “Kibumie!” teriaknya memanggil Kibum.

Kibum datang beberapa menit setelahnya. Ia dapat melihat Donghae tengah tertatih menuju kamar mandinya. Ia juga mendengar, Donghae berteriak, “siapkan mobil! Antar aku pulang, ayah sakit!” lalu menghilang di balik pintu.

Tak perlu Kibum berfikir, mengapa Donghae bisa meributkan bahwa ayahnya sakit, padahal baru saja tuan Lee berkata dengan sehat seperti biasa. Jelaslah, ini sebuah rencana meski Kibum tak tahu, rencana apa yang akan di lakukan tuannya tersebut.

Ia segera berlalu, lantas mendapati seseorang baru yang sudah berhasil memasuki ruang tamu di rumah tersebut. “Anda?”

Sosok itu tersenyum. Dan tanpa banyak bicara, ia menyimpan sebuah koper di atas meja, lalu membukanya. “Tuan memberiku pesan, untuk memberikan ini padamu, Kim Kibum..”

Kibum tetap terdiam, hingga dapat dilihatnya saat koper tersebut terbuka. “Pistol?” tanyanya.

“Jangan sampai tuan Donghae tahu,”

“Huh?”

TBC

28 thoughts on “ANALGESIA [2]

    isfa_id said:
    Maret 3, 2013 pukul 2:11 am

    lagiii~(?)

    BryanELFishy said:
    Maret 3, 2013 pukul 2:57 am

    penyakit ini juga berlaku buat perasaan yach eonn….?
    maksudnya bukan cuma perasaan secara fisik tapi perasaan hati juga?
    kasian donghae~
    lanjutannya ditunggu…. ^^

    nia na yesung said:
    Maret 3, 2013 pukul 3:38 am

    Ya ampun Penyakit.a nyusahin ><
    Kira-kira Kibum bisa semBuh gak ???
    klo gak kasian donghae.a dong …..? donghae.a kan suka ma kibum .
    aduh itu mah bisa makan ati buat hae -_-"

    Yang Jd jhat.a Sungmin Oppa , pasti karena harta y Kkkkkkkkk,,,,

    LanjUuuuuuuuuutttan.a aku tunggu ^^

    masrifah lubis said:
    Maret 3, 2013 pukul 4:40 am

    kira kira apa ya rencananya? apa sungmin orang yg dicurigai tuan besar ya?

    gamers cho said:
    Maret 3, 2013 pukul 5:25 am

    hadoh,,, ini susah >< kihae mana bisa besatu kalo gini ????

    Lee Sae Hae said:
    Maret 3, 2013 pukul 8:10 am

    Asihhh.. Bunga” cinta udah mulai bertebaran nih kayaknya. Kihae makin makin deh..
    Jadi siapa nih yang ngincer hae eonn? Sungmin? Mungkin aja sih, tapiii rasanya bukan sungmin deh..
    Akhhh.. Tapi emang parah tuh orang” yang ngincer Hae.. Nekat banget.
    Untung ada kibum..
    Lanjutttttt eonn!! Kerennnn bangettt !!!

    ndah951231 said:
    Maret 3, 2013 pukul 8:18 am

    apa ini? O.o
    kenapa disini hae jadi semakin manja?
    bummie pasti bisa sembuh kan eon?
    ishh, kenapa harus sungmin? T-T
    apa benar dia yang jahat sama hae?
    *banyak tanya*

    ughhh, jadi tambah penasaran >_<
    lanjuutttt eon~

    Gigia said:
    Maret 3, 2013 pukul 2:37 pm

    Apa sungmin dalang dari semua kejahatan yg berusaha membunuh donghae??,kasian hae de dia kan sayang bgt ma sungmin..

    Eun Byeol said:
    Maret 3, 2013 pukul 3:31 pm

    Sungminnie jahat di sini??
    Aigooo~
    Donge emang lebay ye, macam anak kecil aje..
    Pistol buat apa tuh??

    arumfishy said:
    Maret 3, 2013 pukul 4:47 pm

    ada apa ini???apa yang direncanakan tuan lee??
    apa sungmin bener jahat?andwee

    lanjuttttt

    Laila .r mubarok said:
    Maret 3, 2013 pukul 5:35 pm

    Miris ngeliet hae, kibumnya bener” mati rasa baik fisik maupun psikis huuuh..

    Eh beneran tuh sungmin yng ngincer hae?

    Haah eoni lanjuut..

    Elfisyhae said:
    Maret 3, 2013 pukul 9:58 pm

    Sungmin nya jahat ya?

    hubsche said:
    Maret 4, 2013 pukul 3:54 am

    Sungmin tuh anak kandung Tuan Lee bukan sih?? Dia jealous ma Hae kayaknya yah makanya rencanain buat bunuh Hae. :'((
    Ayooo Hae bikin Kibum sembuh… ciumin aja terus sampe sembuh hahahaha^^

    Shin Y said:
    Maret 4, 2013 pukul 4:08 am

    heehh??? sungmin kah yg berniat jahat??? trs knpa appanya hae pura2 sakit?? scene terakhir bingung

    kalo mau minta pw illegal agent dimana?? disini bisa?? kalo bisa send to sheenmay48@yahoo.com ya ^_^

    ainun_lara said:
    Maret 4, 2013 pukul 12:24 pm

    Aku Gemassss,Boleh aku Pinjam IKAN CENGENG itu Kibumie??. Kalo Sungmin punya niat jahat,masuk akal jg sih,trus buat apa Kibum di kasih pisto,Tn.Lee diculik jgn2,tambah tegang. Sumpah aku suka Chap ini,ngakak ngeliat kelakuan bocah manja.

    hyukssoul said:
    Maret 5, 2013 pukul 8:39 am

    MINAAAAAAAAAAAAAAAAAA SUMPAH DEMI APA ITU IKAN LEBEH!!!!!!!! -_-
    tapi kasian jga ya si Kibum. berati? kalo mrka grepean? Kibum ‘anteng’? xDD DONGHAE YANG MALANG!!! :p
    Mina, ini kebayang bgt sosok mrkanya. llucu bayangin keduanya. satu dingin, satu heboh gak jelas. xDD SUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!
    LAGI!!! :33333

    Raihan said:
    Maret 5, 2013 pukul 1:16 pm

    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa kalo Kibum kaga bisa ngerasain,gimana dia bisa ngebalas cintanya Donghae?..

    Asli kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn

    Sungmin srigala berbulu domba, orang kaya Donghae mah mudah banget ditipu polos banget orangnya…

    Kerennnnnnnnnnnnnnn ^_<

    Shizuku M said:
    Maret 6, 2013 pukul 3:09 pm

    idih hae hae manja sekali dirimu.-. kadang ngebayangin kalo kibum ga ngerasa apa” terus kalo luka dia kan ga sakit tuh. nah apa itu badannya tahan ya luka mulu.-. lanjutttt lagiiii

    orifishydew said:
    Maret 8, 2013 pukul 3:20 pm

    BARUUUUUUUUUU BACAAAAAAAAA /ganyante/
    huaaaaaaaaaa pasti banyak ff baru, aku baru mau baca ;~~;
    ini keren, kibum kali ini yg kena siksa, okesip! lanjutan onnie! eheheh

    hima_kawaii said:
    Maret 14, 2013 pukul 9:58 am

    eh? apa sungmin pelakunya???
    ah, donghae tersipu malu awwww :3

    niea_clouds said:
    April 2, 2013 pukul 11:00 am

    apa kibum bnr2 ga bs ngrasain apapun ? termasuk masalah hati ? klo gtu kasian hae , , , jgn2 sungmin yg mau nylakain Hae . . .

    Nelly Key said:
    April 17, 2013 pukul 2:31 am

    eum.. kupikir emg sungmin mencurigakan… tapi apa bnar iya?? Kulihat dia begitu perhatian pada hae tp entahah mgkin saja itu palsu…
    hae mulai genit eoh pake cium2 bummie segala…. Tp kasiaaaaann bummie gk bisa ngerasain apa2… semoga aja dengan cinta yg tulus dari hae, bisa nyembuhin penyakitnya kibum.. huwaa #apa ini.. apa ini ???#

    hyukhaeminoo said:
    April 21, 2013 pukul 5:50 am

    aduh..aduh..sungmin??
    pistol??
    bunuh?
    penasaraaaaaaannnnnnnnnn……….

    setshuka said:
    Juli 13, 2013 pukul 2:49 pm

    lebehhhhh dongeeeeekkkkk…. kasian itu Kibum. ngehehhe….
    satu koper? pistol semua? wahh… bagi dongg😄

    casanova indah said:
    Oktober 11, 2013 pukul 5:00 am

    mwo? sungmin yang jahat n mau merebut harta dr ayah donghae…
    ahh, untung kibum sll waspada dalam menjaga donghae..
    haha.. bukan donghae nama’a kl ga super duper manja..
    eh itu beneran ayah donghae sakit? apa cuma jebakan dr musuh doaang???

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 4:28 am

    wadoh,… saya ada firasat si Ming jahat di sini,… tapi kan ceritanya Mbak Minah mana bisa ditebak😀 sejauh ini ada saya terkibul terus😄

    btw siapa yang ngomong sama Kibum di bagian akhir itu?

    btw pasti ada sebab kan knp Kibum bisa jadi mati rasa gitu? hmh…..

    we’ll see,.. kkk,.. lanjut baca dulu😉

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 4:33 am

    saya tadi udah post komentar, tapi kok nggak muncul? apa nunggu dikonfirmasi Mbak Minah dulu?

    Lah… terus kalo nyatanya komen saya emang belom nyampe gimana?

    Yaudah saya tulis lagi ajah,…

    tadi saya ngomen kok kayanya si Ming jahat di sini,… tapi belom tentu juga soalnya kan bisa aja si Ming emang dibikin mencurigakan agar semua ngira dia yang jahat😀 Mbak Minah gitu loh!

    Btw si Kibum sakit gitu kan pasti ada sebabnya kan,.. well,.. kita tunggu ajah nanti gmn,.., okay saya lanjut baca dulu^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s