ILLEGAL AGENT [4]

Posted on

Summary: Entahlah, bisa dikatakan seperti apa hubungan ini. Semakin memburuk? Atau sebaliknya? Semakin rumit? Semua masih menjadi rahasia.

[CHAPTER 4]

.

Ketegangan menyeruak begitu saja, bagai tak memberi celah bagi Kibum untuk menarik tiap nafasnya. Kini ia tengah melihat Donghaenya, meneguk susu yang sebenarnya, menurutnya harus Henry yang meminumnya. Bocah itu, bukan Donghae!

Adakah yang salah dengan susu tersebut?

Dari apa yang terjadi, jelas bahwa itu adalah segelas susu yang mungkin saja dapat membawa siapapun yang meminumnya, menuju pada kematian. Itu adalah kesengajaan. Kibum tengah dalam tugasnya. Hanya itu.

Ia tak pernah menyangka, bahwa Donghae akan mengacaukan segalanya. Donghae, sosok yang ia kasihi, berada di sampingnya setelah sekian lama. Kini tengah menentangnya. Tak tahukah Donghae, bahwa Kibum melakukan semua ini untuknya? Ini adalah pikiran seorang Kim Kibum.

Egois? Ya. Kim Kibum egois.

Kejam? Ya. Kim Kibum kejam.

Anggapan-anggapan tersebut wajar terlontar, dari siapapun yang tak mengertikan hatinya. Termasuk Donghae. Pikiran Kibum terlalu egois bila dilihat dengan teliti. Tapi hati tak butuh itu semua! Kibum hanya mengikuti apa yang ia ingin. Hidup bersama Donghaenya.

Air berwarna putih itu, berhasil memasuki kerongkongan Donghae. Membuat Kibum menatap tak percaya, dengan segala pergerakan yang seakan terkunci, mati. Ia terlalu terkejut, hingga dengan kesadaran yang hadir kembali, ia tepis tangan Donghae dengan cepat, dan tumpahlah sebagian cairan putih tersebut. Berhamburan di antara pecahan gelasnya.

“Apa yang kau lakukan, Lee Donghae!” teriaknya kalap.

Sementara itu, Henry tak kalah terkejut. Apa yang ia kejutkan? Ia tahu susu tersebut beracun?

Hyung!” pekiknya sambil menatap air susu yang tumpah di sekitar kakinya. “Susunya tumpah!” pekiknya. Oh! Ia tak tahu sepertinya. “Gelasnya pecah,” adunya lagi, sambil mendongak, menatap Donghae yang masih berdiri di sampingnya.

Sedang Donghae dan Kibum, tengah bertukar pandang dalam aura yang tak bisa di katakan baik-baik saja. Mereka mengabaikan Henry yang sibuk dengan pecahan beling yang tengah dipungutinya.

“Kau sudah gila?!” bisik Kibum setelah beberapa menit tak ada kata baik darinya ataupun dari Donghae. Sayang, tak ada jawaban dari Donghae, yang kini sibuk mengatur nafasnya. Gerak geriknya mulai tak wajar. Ia berpegangan pada sisi meja, guna menopang tubuhnya sendiri.

Kibum mendekat. Ia tahu, sesuatu dalam susu tersebut mulai bereaksi di dalam tubuh Donghae. Kibum masih bersikap tenang, meski jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dan ia raih lengan Donghae, saat Donghae sudah kehilangan fokusnya.

“Huh? Hae hyung sakit?”

Henry, sang bocah bertanya bingung, mendapati Kibum yang perlahan menaikkan Donghae ke atas punggungnya. Sempat ia dengar, Donghae yang bergumam ‘Henry,’ dengan sangat pelan.

“Kau ingin ikut ke rumah sakit, Henry-ya? Sepertinya Donghae memang sakit,” ucapnya. Ia tak heran, Henry masihlah bocah. Dan syukurlah, anak itu tak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Terlalu polos! Ini bagus, hingga Kibum hanya harus beralasan dan tetap bersikap seperti biasa. Kibum yang baik di mata bocah tersebut.

Menjelang malam sudah. Kini Kibum hanya memandangi Donghae yang tengah memunggunginya. Sejak nyawanya terselamatkan, berkat Kibum yang dengan cepat membawanya, ke tempat dimana ia berada kini, ia bisa kembali membuka matanya. Tak harus ada nyawa melayang, akibat susu tersebut.

“Hae..”

Kibum terus memanggil Donghae, yang nyatanya hanya diam, enggan bicara padanya. Terlebih, Donghae tengah mengamati Henry yang tertidur di sofa ruangan tersebut.

“Sampai kapan kau diam, Hae? Urusan ini harus segera di selesaikan,” ucap Kibum.

Seketika Donghae membalikkan tubuhnya, agar menghadap pada Kibum. “Kau pikir dengan cara apa masalah kali ini dapat di selesaikan? Jika kau ingin ini selesai, mengapa tak kau biarkan aku mati saja tadi, lalu kau bunuh Henry, huh?!” tantang Donghae.

Kibum mengepalkan erat tangannya. Ia merasa tak mampu menangani sikap keras kepala Donghae kali ini. “Pelankan suaramu! Kita di rumah sakit, Hae!” ujarnya dengan geraman tertahan.

“Maka jangan bicara lagi padaku!” timpal Donghae. “Kenapa kau tak berniat pergi bersamaku dan Henry saja? Kau takut pada Tan Hankyung, hn?!”

Kibum mendengus sebal. “Kau terlalu keras kepala!”

“Tak usah kau pedulikan!” tukas Donghae. “Toh, kita sudah tak memiliki hubungan..”

“Lee Donghae!”

“Sudahlah Kibum!”

Deg. Satu hantaman mengenai hati terdalam seorang Kim Kibum. Donghae bahkan melupakan panggilan biasa untuk dirinya. Katakanlah itu adalah sebuah panggilan sayang yang terlalu biasa untuk ia dengar.

“Kau dengan inginmu, dan aku tetap pada pendirianku!” terang Donghae dingin di antara bibir pucatnya.

“Tapi yang kuingin hanyalah kau!” tegas Kibum kemudian.

Namun Donghae memalingkan wajahnya dengan segera. “Aku tak bisa menggapaimu lagi, Kibum!”

“Hae..”

“Henry butuh aku! Tidakkah kau mengerti?” sentak Donghae pada akhirnya. “Cukup bagiku, kehilangan Kyuhyun. Aku tak ingin melihat kematian Henry. Tidak akan kubiarkan itu terjadi,” lanjutnya.

Kibum terpaksa menyimpan seluruh amarah yang sudah terkumpul di kerongkongannya. Baiklah! Tak baik pula bila ia harus mendesak seorang pasien rumah sakit. Namun, ia juga tak bisa melepas sosok Donghae begitu saja. Maka ia segera beranjak, dari hadapan Donghae.

“Aku akan pergi sekarang. Kuberi kau waktu untuk berfikir. Aku..”

“Aku tak lagi harus berfikir!” sela Donghae, namun Kibum tak mengindahkannya.

“Besok aku akan datang lagi, dan kuharap kau memutuskan yang terbaik untuk kita, Hae.”

“Ya, Kim Kibum!” teriak Donghae tak sabar. Ia terlalu benci akan keadaan seperti saat ini. Sedang Kibum terlihat tak ingin mengertikan dirinya. Kibum tak memberinya ruang kebebasan, bahkan sekedar menentukan hidupnya sendiri.

Maka tangisan adalah jalan keluar selanjutnya. Ia terlalu lemah, bila sudah menyangkut sesuatu yang adalah Kibum. Kibum yang kini menghilang di balik pintu ruang inapnya. Pergi, dengan sebuah keputusan yang menyakitinya.

“Kau bodoh!” umpat Donghae, setelah ia lempar satu bantal miliknya ke arah pintu.

Henry bangun dari tidurnya. Ia menggosok mata dengan kedua tangannya, dan mendapati Donghae tengah terduduk di ranjangnya, menatap sambil tersenyum pada dirinya. “Kau sudah bangun?” tanya bocah kecil itu sambil sesekali menguap.

“Ya. Dan kau harus segera bangun. Kita akan segera pergi berlibur, pagi ini juga,” terang Donghae.

“Huh? Bukankah kau sedang sakit?”

Donghae diam. Setahu dirinya, ia tak sakit. Hanya saja Kim Kibum yang membuatnya sakit. Hah! Dan ia pikir, bocah polos tersebut masih mempercayai apa yang dikarang Kibum. Tidakkah ia menjadi curiga sedikit saja? Salahkan ucapannya yang percaya bahwa di bumi ini tak ada kejahatan.

“Ung, aku sudah sembuh,” jawab Donghae akhirnya.

“Benarkah?”

Donghae turun dari ranjangnya. Sedikit sulit berjalan dengan tubuhnya yang ia rasa, masih menyisakan lemas. Ia hampiri Henry, lalu merapihkan helaian rambut bocah tersebut. “Cuci mukamu, kita harus segera pergi,” tuturnya.

Henry melihat jam yang ada di ruangan tersebut. “Pagi sekali!” komentarnya. Ia melihat, waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi.

“Harus pagi. Perjalanan kita jauh,” jawab Donghae.

“Jauh? Apa kita akan menginap?”

Donghae berfikir untuk jawaban pertanyaan yang satu ini. “Kupikir kita akan lama disana.” terangnya.

“Apa Kibum hyung akan menyusul nanti?”

Henry tak henti bertanya. Memang rencana Donghae kali ini agak aneh dan mendadak, juga terburu-buru sepertinya.

“Dia sibuk entah sampai kapan,” balas Donghae seadanya. “Cepatlah, kita harus pergi..”

Hyung! Aku ingin naik kereta,” ucap Henry sambil mendongak, menatap Donghae yang tengah menuntunnya. Henry melihat Donghae yang tampak mengira-ngira. Ia mengerti, mungkin Donghae agak ragu untuk menyetujui inginnya. “Tidakpun tak apa,” ucapnya kemudian.

“Tidak. Mari kita naik kereta saja jika kau ingin..”

Henry menghentakkan kaki di antara langkahnya. Ia terlihat riang, sangat riang mengetahui bahwa Donghae akan membawanya ke daerah pantai. Anak itu terlalu senang, hingga tak terasa, sejak tadi ia sudah menarik kedua ujung bibirnya, membentuk sebuah lengkungan. Senyuman yang bahkan, membuat kedua mata sipitnya lebih menyipit, namun tak membuat pandangannya gelap, bahkan menambah kadar manis di wajahnya.

“Kenapa kau begitu senang, huh?” tanya Donghae, sambil tak henti membimbing langkah sang bocah. Ia tak berniat melepas genggaman tangan Henry dalam kuasa jemarinya.

“Aku suka pantai!” komentar Henry, dengan bayangan bau air laut, dan panasnya sentuhan pasir di kaki-kakinya yang mungil. Masih dalam bayangannya tentu saja.

Donghae tersenyum. Ia belum ingin banyak berbicara, mengingat tubuhnya yang masih terasa tak enak. Mual, hingga merasa perutnya di aduk dari dalam. Ingin rasanya ia menguliti seorang Kim Kibum, jika mengingat apa yang telah terjadi sejauh ini.

Hyung! Permenku habis,” adu Henry kemudian, sambil menatap jajaran bungkusan permen, yang terpampang di dinding kaca sebuah mini market.

Donghae sempat mendapatkan beberapa permen dari Henry. Ia menjadi tahu, bagaimana sayangnya seorang Henry terhadap butiran permen, yang sebenarnya bisa menyakiti gigi putihnya. Namun ketika Donghae membahasnya, Henry menjawab, kuman gigipun sebenarnya tidaklah jahat. Apa itu masuk akal? Lupakan!

“Sekalian beli beberapa makanan yang lain ya. Kita belum sarapan bukan?” ucap Donghae, membawa Henry memasuki mini market, dengan hawa sejuk yang langsung menyentuh permukaan kulit mereka.

Tak mereka ketahui bahwa, di ujung jalan yang lain, ada sosok yang tengah menyandarkan dirinya pada sebuah dinding, dengan mata yang tak lepas dari gerak-gerik keduanya. Mengamati pergerakan kaki mereka, sejak dari rumah sakit, hingga mini market yang kini mereka tempati.

“Umh, cukup?”

Donghae bertanya pada Henry, sambil mengacungkan keranjang dengan isi beberapa bahan makanan di dalamnya. Dan Henry mengangguk sebagai jawaban.

“Kau yakin?” tanya Donghae.

“Iya, hyung! Aku hanya butuh permen saja, kau membeli banyak yang lainnya,” ungkap Henry. Dan Donghae tersenyum, seraya mengacak rambut Henry.

“Kita akan membutuhkannya nanti,” ucap Donghae.

Sebuah kecurigaan nampak dalam pandangan Donghae, sesaat setelah ia berada di dalam kereta. Hanya beberapa orang yang nampak. Kursi yang berpenghunipun nampak lengang. Sejenak ia berfikir, apa ia menaiki kereta yang salah? Namun beberapa penumpang, dengan pakaian kerja mereka, sebagian bahkan berseragam sekolah. Orang-orang dengan usia mereka yang terlihat sangat tuapun, nampak ada. Hingga Donghae harus berfikir, semua baik-baik saja.

Berakhir dengan Donghae yang mengajak Henry duduk di salah satu kursi memanjang yang benar-benar kosong. Setelah beberapa makanan yang mereka beli ia masukkan ke dalam tas Henry, ia mendekap erat Henry di sampingnya. Meski terlihat biasa, tidakkah seorang Donghae akan tertipu? Ini adalah akibat dari rasa aneh yang masih ia rasa.

Hyung!” bisik Henry tiba-tiba, bergerak tak nyaman di dalam rangkulan tangan Donghae. “Aku tak bisa bernafas!” ucapnya, sambil sedikit melonggarkan tubuhnya dari Donghae.

Donghae tersadar, lantas mencoba melepas Henry. “Maaf,” ucapnya sambil mengajak Henry tersenyum.

“Kursinya masih kosong,” ucap Henry, menatap ruangan kosong di sampingnya, lalu menatap Donghae, menanti komentar dari sang hyung.

“Kau benar, kau ingin merebahkan tubuhmu?” tawar Donghae.

Henry mengangguk ragu. “Bolehkah? Sebenarnya aku masih mengantuk,” adunya. Ia memang bangun lebih awal, karena Donghae yang terus mengajaknya untuk pergi lebih pagi.

“Tentu saja boleh! Perjalanan kita masih jauh,” jelas Donghae. Ia lalu, membawa Henry agar tertidur di pahanya. Anak itu menurut. Menidurkan kepalanya di atas paha Donghae. Menyamankan posisinya dibantu Donghae, dan berakhir dengan Donghae yang menyelimuti dirinya dengan jaket kebesaran yang adalah milik Donghae.

Henry baru akan menutup matanya. Namun ia teringat akan satu hal. “Memangnya, pantai mana yang akan kita kunjungi, hyung?” tanyanya dengan mata setengah mengantuk.

“Di Mokpo,” jawab Donghae singkat.

“Dimana itu?”

“Kota kelahiranku, kau tak akan menyesal mengunjunginya, Henry-ya!”

“Baiklah..” balas Henry, dnegan mata yang mulai terpejam.

Donghaepun demikian. Ia sandarkan tubuhnya lebih nyaman. Sesungguhnya rasa pusing, dengan mual di perutnya masih menyerang. Ia heran, racun apa yang dipakai Kibum kemarin? Ia baru teguk sedikit saja, sudah membuat tubuhnya hingga seperti sekarang. Ia dilanda kelelahan yang cukup serius.

“Aku belum mendengar jawaban pastimu..”

Ruang lain dalam kereta yang sama, dua orang pria terlihat tengah terlibat dalam sebuah percakapan serius. Ruang lain yang benar-benar kosong tanpa penumpang yang lain. Hanya menyisakan kursi-kursi panjang yang kosong, seolah itu adalah ruang pribadi yang ada hanya untuk mereka.

“Aku belum bisa memutuskan, sebelum Donghae kembali ke tanganku,” balas salah satunya, dengan bibir yang mengucap nama seorang Donghae. Tak lain, dia adalah Kibum.

“Dia sudah jelas-jelas menentang inginmu! Mengabaikan tugas dariku,” ucap lawan bicara Kibum saat ini. Dan setelahnya, ia dekatkan bibirnya pada telinga Kibum lalu berbisik, “sudah sepantasnya dia mati, bersama dengan korban kita,” tuturnya.

“Jangan macam-macam, Tan Hankyung!” peringat Kibum, mulai mengeluarkan taringnya. Ia tatap tajam Hankyung, tanpa segan sedikitpun.

“Ah! Aku lupa bahkan kau akan sangat mengerikan jika marah. Tapi, bukan salahku jika Donghae seperti sekarang. Kau pikir, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”

Kibum memalingkan wajahnya dengan malas. “Aku akan bekerja sesuai dengan kontrak kita sejak awal. Akan sangat rumit jika melanggarnya! Aku yakin kalian tak akan melepas kami begitu saja, bukan?!” tanya Kibum, kembali melirik Hankyung. “Aku tak peduli, jikapun harus kubunuh anak itu, lantas kubawa Donghae pergi bersamaku, selesai!” ucapnya.

“Benarkah? Tapi itu sama saja kau membunuh Donghaemu..”

“Donghae hanya butuh diriku!” sanggah Kibum.

“Aku tak tahu, jika kau seegois ini, Kim Kibum!” komentar Hankyung dengan senyum menyebalkan yang tercipta dari bibirnya. “Kau harus segera pastikan, membunuh mereka atau tidak?!” tegasnya.

“Tidak untuk Donghae! Akan kupikirkan jika itu tentang Henry. Kau tak berhak mendesakku,” gumam Kibum tajam, mulai berdiri dan meninggalkan Hankyung yang hanya bisa terdiam, lalu meraih ponselnya.

Ia berbicara dengan seseorang yang baru saja ia hubungi tersebut. “Nampaknya, kita sudah tak bisa mempercayai keduanya, Siwon-ah! Culik saja anak itu dari Donghae, sekarang!”

“Ugh!” Donghae mengernyit, kala merasakan hantaman dari dalam perutnya. Rasa mual itu kembali terjadi di tengah lelap tidurnya. Ia remas perutnya. Wajah yang sebelumnya terlelap dengan tenang itu, kini mulai berkeringat dingin. Matanya terbuka, hingga ia membungkuk, mengganggu pergerakan Henry dalam lahunannya.

“Bisa kau bangun sebentar?” lirih Donghae. Henry yang terkejut, hanya bisa menurut. Kemudian ia lihat Donghae berdiri, dan pergi terburu-buru setelah berpesan padanya. “Hyung akan ke kamar mandi sebentar. Tunggu disini, dan jangan kemana-mana, oke?!”

Ah. Henry nampak sangat bingung, namun ia mencoba menurut. Ia duduk lantas membuka tasnya, mengeluarkan satu bungkus perment mint, yang mungkin saja dapat mengobati kantuknya.

Beberapa detik, ia mulai menurunkan kakinya, mangayunkannya dengan tenang, sambil mengamati sekelilingnya, masih dengan orang yang sama. Henry berfikir, tidakkah mereka mengunjungi pemberhentian? Orang-orang tersebut, masih ada bahkan tak bertambah, tak berkurang ataupun berganti. Sebenarnya kemana tujuan mereka?

Seorang kakek tua tiba-tiba menghampirinya, dan duduk di sampingnya. Tak ada takut di wajah Henry. Malah ia pamerkan, senyum imutnya di hadapan sang kakek.

“Kau seorang diri nak?” tanya sang kakek kemudian.

“Aku bersama hyungku,” jawab Henry ramah.

“Oh! Lalu dia kemana?” ucapnya.

Henry menatap arah, kemana Donghae pergi. “Ia pergi ke toilet,” ucapnya sambil menunjuk arah kanannya.

Sang kakek mengangguk. “Bisakah, kau mengantarku ke arah sana?” tanya sang kakek kemudian, menunjuk arah kiri mereka.

“Huh?”

“Dompetku hilang. Aku berjalan dari arah sana. Bisakah kau bantu aku mencarinya? Orang disini tak ada yang mau membantuku,” adu sang kakek.

Henry mengangguk. “Tentu saja. Mari ku antar,” tutur Henry. Ia berdiri, lantas menuntun sang kakek. Tepat saat itulah, Donghae datang dari arah berlawanan, dan dapat melihat Henry yang mulai berjalan menjauh.

Sang kakek yang Donghae lihat, berada dalam bimbingan Henry. Hanya seorang kakek. Namun itu adalah tipuan. Donghae mengetahuinya. Lalu ia edarkan pandangannya, pada seluruh penumpang yang ada di gerbong tersebut.

Mereka hanya diam di sepanjang perjalanan. Tak melakukan banyak pergerakan. Tak ingin terlalu larut dalam pikiran yang malah akan menyita waktunya, Donghae hendak bergegas menyusul Henry yang sudah berjalan jauh. Namun..

Grep.

Tubuhnya menegang, kala mendapat sentuhan di salah satu bahunya. Bukan! Bukan hanya itu yang membuatnya semakin gugup saat ini. Tubuh di belakangnya, mulai merapat di punggungnya, dengan satu lengan melingkar di lehernya. Satu lagi, sebuah mata pisau, tengah bersiap merobek kulit di perutnya. Lapisan tajam itu, terasa agak menekan di perutnya, meski belum merobek kulit disana.

Sapuan nafas Donghae rasakan, bersamaan dnegan Henry yang menghilang, memasuki gerbong yang lain.

“Hai, Lee Donghae..”

Donghae mendengus sebal setelahnya. Ia tahu siapa yang bersuara menjijikan di belakangnya. “Apa yang kau lakukan disini, Choi! Berhenti menggangguku,” peringat Donghae, namun tubuhnya sulit melakukan pergerakan.

“Coba saja bersikap kasar padaku, maka akan ada suara jeritan dari arah sana!” ancam Siwon sambil menunjuk tempat dimana Henry berada dengan dagunya. Perlahan, ia tarik tubuh Donghae, memasuki gerbong lain pula.

Dan apa yang Donghae lihat? Kosong.

“Tan Hankyung sengaja menyewa kereta ini untuk menjebakku dan Henry, huh?” tebak Donghae, terdengar merutuk.

“Kau pintar sekali,” timpal Siwon.

“Astaga dia benar-benar gila!” umpat Donghae.

“Kau ini, seperti tak mengenal dirinya saja,” sela Siwon dengan tawa renyah dari bibirnya.

“Hentikan basa-basimu! Kembalikan Henry sekarang!” pekik Donghae selanjutnya.

Siwon menggeleng ringan. Ia tekan tubuh Donghae, hingga terduduk, lalu menjebaknya di salah satu kursi. “Aku ingin melakukan sebuah penawaran menarik padamu, Hae!” ucapnya.

“Jangan berharap!” tukas Donghae cepat, namun Siwon semakin menghimpit tubuhnya.

“Hanya dengar, dan tak usah berteriak! Tan Hankyung ada disini..” bisiknya.

“Huh?”

Tap. Tap. Tap

Kibum berjalan santai, di sebua lorong berisikan beberapa orang dengan pakaian yang terlihat mencolok, mencurigakan. Tak lupa matanya menangkap keberadaan seorang bocah yang lalu meneriaki namanya.

“Kibum hyung! Kau disini?!”

Kibum tersenyum, lantas menghampiri, dan lalu memangku Henry tiba-tiba. Ia lirik beberapa orang di sekitar Henry, termasuk seorang kakek dengan rambut putih palsunya. “Siapa yang ingin bermain denganku, huh?!” tantangnya.

Henry seketika mendongak, menatap wajah Kibum. “Bermain apa?” tanyanya heran. Permainan apa yang bisa di lakukan di dalam sebuah kereta api? Pikirnya.

“Kau dan anak itu buronan kami, jadi bersikaplah dengan manis,” ungkap Siwon.

“Kau pikir semudah itu kalian bisa membunuhku, huh?” ejek Donghae.

“Tentu. Bahkan Kibumpun ikut mengincar kalian,” ucap Siwon.

Donghae merenggut seketika. Ia tahu itu benar adanya. Kibum tak ada sekarang. Jikapun ada, ia akan membunuh Henry. Dunia benar-benar terasa kejam, jika ia mengingat hal tersebut.

“Kau tahu aku menyukaimu kan, Hae?” ucap Siwon tiba-tiba, namun tak menuai jawaban dari Donghae. “Terlalu sayang, bila aku harus membunuhmu,” ucapnya lagi.

“Lalu apa maksudmu, huh?!”

“Jadilah kekasihku,” tutur Siwon dengan tulus.

“Apa?”

“Aku bisa menghapus keberadaan kalian dari mata Tan Hankyung. Dan aku, aku bisa menyayangi Henry. Aku akan membawa kalian pergi jauh, Hae. Aku berjanji,”

Sejenak Donghae terpaku. Ingin sekali ia mendengar kata tersebut keluar dari mulut Kibum. Sayang itu tak pernah terjadi.

“Siwon-ah..”

Donghae baru akan berkata, jika Siwon tak menarik paksa wajahnya. Bahkan dapat Donghae lihat, wajah Siwon sudah berada tepat mendekati wajahnya.

“Siwon-ah!” Donghae bergerak gelisah. Tangannya menggapai dada Siwon, mencoba menghentikan tindakan gila tersebut.

“Kumohon..” pinta Siwon. Namun..

“Sayangnya aku mendengar semuanya..”

Baik itu Siwon ataupun Donghae, terkejut mendengar suara berat yang mengalun ke dalam telinga keduanya. Itu adalah suara Kibum yang kini, berada di antara mereka. Berdiri, dengan senyum di wajahnya.

Siwon merapatkan kedua matanya, kesal! “Kau merusak rencanaku, Kim Kibum!” rutuknya.

“Maafkan aku, hyung,” ucap Kibum meremehkan. Ia hampiri Siwon dan Donghae, serta duduk di samping keduanya. Tak lupa ia pandang Donghae yang terkejut akan kedatangannya. “Kau curang! Menjadikan Henry alat agar mendapatkan Donghaeku, huh?” tanyanya.

“Bukan urusanmu!” ketus Siwon.

“Tapi Henry ada di tanganku sekarang!” lanjut Kibum.

“Huh?”

Dan di antara ketiganya, akhirnya Donghae angkat bicara. Ia menggeram kesal atas tindakan kekanakan mereka. “Sebenarnya apa yang kalian inginkan!” teriaknya. “Tega sekali kalian mempermainkan seorang anak-anak!” decaknya.

“Itu tak penting,” timpal Kibum. Masih di hadapan Siwon, ia dekap perlahan tubuh Donghae. “Kau begitu menurut padanya setelah tahu, hidup dan mati Henry ada di tangannya,” ucapnya, menyibak helaian rambut di kening Donghae. Tak ia pedulikan Siwon yang menggerutu tak jelas. “Sekarang anak itu ada di tanganku, Hae. Bagaimana?”

“Kau berbohong!” tukas Siwon.

“Pastikan sendiri,” jawab Kibum. “Cari dan bawa ia kemari jika kau bisa. Maka kau berhak menanyakan pada Donghae, soal penawaranmu tadi. Jika tidak bisa..” ucapnya sambil memandang Donghae yang mati-matian menahan emosinya. “Donghae, harus menuruti penawaranku,” tuturnya.

“Agh!” Siwon mengacak rambutnya kesal. Ia bergegas pergi untuk memastikan keberadaan sang bocah.

Di samping itu, Kibum segera penjarakan tubuh Donghae di atas kursi yang masih mereka duduki. “Apa tanggapanmu, Hae?” tanyanya, masih tersenyum.

“Benarkah Henry ada padamu?” tanya Donghae. “Benarkah, kau akan membunuhnya jika aku tak menuruti perkataanmu?”

Kibum menghela nafasnya lelah. “Kau yang memulai,” ucapnya.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku, huh?”

“Segalanya,” balas Kibum cepat, sambil ia usap wajah Donghae dengan tangannya perlahan. Ia beri sentuhan lembut, oleh sapuan bibirnya pada permukaan kulit di leher Donghae. “Pertama, bagaimana dengan tubuhmu? Oh! aku sangat merindukanmu, Hae!” ungkapnya.

Donghae mengepalkan erat kedua tangannya. Air mata sudah mengumpul di kedua sudut matanya. Ia tak sanggup melihat perubahan pada Kibumnya. Terlalu menyakitkan. Bahkan sakit itu semakin nyata, kala Kibum mencium dalam bibirnya dengan sangat kasar. Dalam hati Donghae berteriak, ‘Kim Kibum jangan!!’

TBC

Apa saya keterlaluan? Tan Hankyung sampe sewa kereta api? Oh mooo~  xD 

25 thoughts on “ILLEGAL AGENT [4]

    hyukssoul said:
    Maret 23, 2013 pukul 6:17 pm

    RAPE IKAN DI KERETA API!!!!!!!!!!!!!!!!!! CEPAT KIBUM!! xDD

    INI RAME MINA!!!!!!!!!!!
    LAGIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!
    terus? baby Henry kemana? emang Hae gak syang sama Kibum lagi ya? D8
    kirain tadi Hae nya mau berantem sama si org2 penguntit tadi!! >__<

    Elfisyhae said:
    Maret 23, 2013 pukul 10:25 pm

    Henry sama hae. . Kya anak dan ibu. . Sayang bngt. .

    masrifah lubis said:
    Maret 24, 2013 pukul 4:21 am

    huh cinta segi tiga nih

    nia na yesung said:
    Maret 24, 2013 pukul 4:34 am

    Akhir.a Update Jg ^^
    aKu suka bgt sama ff Yg Ini , Seru bgt , aduh kenapa jd begini ?
    Kibum Egois tingkat akut ya ….Kkkkkkk
    kan jd kasian hae jd serba salah tuh ??

    Henry di sembunyiin di mn ?

    aku penasaran bgt ma jln cerita.a Cpet update Hehehehehe ,,,,
    Maksa ya ^^

    isfa_id said:
    Maret 24, 2013 pukul 6:58 am

    lagi~ #plak

    hima_kawaii said:
    Maret 24, 2013 pukul 9:08 am

    fiuh…untung hae gak kenapa2😀 uh oh.. rebutan hae euyy.. :3 asiiiikkkk >.<
    wah iya tuh kibum agak berubah,,, karena saking cintanya ama hae ck ck ck

    Shin Y said:
    Maret 24, 2013 pukul 1:40 pm

    like this yo, like this yo😀

    kekek,,, siwon jd pemanis dari hubungan kihae,,, kekkek , lucu deh,,,
    eps ini ni,, tegang2 komedi romantis gt (?) huehaehae😀

    Eun Byeol said:
    Maret 24, 2013 pukul 3:11 pm

    Mochi ke mana??

    Tambah seru!!
    Sempet ya Kibum rape si ikan di kereta api?? Bisa bisa..

    Christ Josh said:
    Maret 24, 2013 pukul 5:56 pm

    SERUUUUUUU !!!
    Lanjuuuut

    ndah951231 said:
    Maret 25, 2013 pukul 5:34 am

    ish kibum !!! pabooo….

    Hae pasti bisa, jangan kalah dg keegoisan kibum..
    sakit hati gak sebanding dg dosa seumur hidup kan?? T-T
    ayo lindungi henry~

    arghhh, eonni~
    kau mau membuatku tambah galau dg membuat hae dalam dilema begitu??
    Hiks hiks, lanjut eonni~

    arumfishy said:
    Maret 27, 2013 pukul 9:35 am

    hankyung oppa kejam,,,henry hanya seorang anak yg tidak tau apa-apa,knp jdi korban??

    Laila .r mubarok said:
    Maret 29, 2013 pukul 9:59 am

    Kyaaaa akhirnya aku kembali ke dumay dan bnyak bnget daftar ff yng harus dibaca,,

    Sebagai pembuka aku baca yng ini dulu hahahahaha

    Eonniii makin kereeeeeen..

    #langsung ngibrit ke fic laennya

    Lee Sae Hae said:
    Maret 29, 2013 pukul 10:39 am

    Kerennnnnn bangettt eonn..
    Sumpah itu kibum bodoh banget, caranya dia buat dapetin Hae salah.. Sampe bikin Hae hampir aja mati..
    Siwon pinter ya.. Manfaatin Hae yang lagi terdesak begitu. Emang dasar deh tuh manusia satu, bikin rusuh aja, untung kibum cepet dateng, coba kalo gakk??
    Seru ini eonn.. Lanjutttt eonn..

    ainun_lara said:
    Maret 30, 2013 pukul 8:36 am

    Siwon kasih penawaran?,jangan percaya Hae !! “geleng2”. Ok mahluk yg harus di siksa disini adalah Tan Hanggeng “Cekekkkk”. Dan Kibum !,ayolah Henry itu anak kecil. Lanjuuuuuuttttt

    BryanELFishy said:
    Maret 31, 2013 pukul 6:30 am

    kibum? kamu kenapa yoebooooo???? #plakk
    bantai tan hangeng!!!!! *gemes sendiri

    Raihan said:
    April 1, 2013 pukul 8:02 am

    Kibum jahat tpi ko ttp keren yah di mata saya #dzigh

    Gimana kalo Kibum kaga ngebunuh Henry tpi berbalik nyelamatin Henry dan Donghae?..

    Siwon gilaaaaa seenak jidat mo ngambil istri(?) orang ckck

    Kerennnnnnnnnnnnnnnnnn ^_<

    niea_clouds said:
    April 5, 2013 pukul 10:13 am

    knp koq KIHAE jd bertentangan gtu sich ? knp kibum mau bunuh henry ?. . . jd penasaran sm part 3 ny

    Mea Hae said:
    April 8, 2013 pukul 7:00 pm

    sukaa sukaa hae jadi rebutan IKAN memang super sangat pantas diperebutkann
    sukaaaa….ikan itu akupun mau meperebutkan

    namihae said:
    April 19, 2013 pukul 1:11 pm

    eooonnn minaaaaaaaa~ suka ama hae di chap ini! heu~ ini? makin seru! serunya ga nyantai! lanjut aahh!

    NemoSnower said:
    Juni 19, 2013 pukul 5:48 am

    Mkin mndbarkan ,bgus dah .
    Hankyung kjam nya ud ga k tulung ckck

    casanova indah said:
    Oktober 27, 2013 pukul 1:16 pm

    huwaaaaa… ga tau cerita ttg kibum yg berubah jd jahat…
    dr chap 2 lgsg chap 4..
    ih, gemes dech hankyung kok jahat sich, malah nyuruh donghae skalian dibunuh..
    tp.. karna bacane loncat2 jd kurang paham ceritane…
    gmn nasib chap 5 juga???

    KyuHaeELF said:
    Maret 24, 2014 pukul 9:43 pm

    Bisa minta password buat part 5 sm 6’nya chingu? Please banget, soalnya penasaran sm jawaban dari donghae nantinya dan nasib henry selanjutnya (?) please banget chingu😉

    ida elfishy said:
    Maret 26, 2014 pukul 12:55 pm

    Kibum berubah,yg sbar ya haeT_T

    ELFarida said:
    Juni 11, 2014 pukul 12:59 pm

    Kihae harus selalu brsama . .
    #plakk maksa. .
    Lanjuttt eon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s