ANALGESIA [3]

Posted on

Summary:

Bagaimana bila rasa itu berkembang dan tak jua mendapat balasan? Akankah sang tuan tetap bertahan?

[CHAPTER 3]\

.

Cklek..

Sebuah pintu yang megah dengan ukiran unik di antara pahatan kayunya, tertutup perlahan menampakkan Donghae, seorang Lee Donghae yang lalu berjalan perlahan dengan wajah tertunduk. Sang pengawal, Kim Kibum, berserta Lee Sungmin, tak ingin tertinggal, menunggu di depan ruangan yang baru saja Donghae kunjungi, hingga dapat mereka lihat, bagaimana Donghae yang teramat bersedih, dengan wajah memerah, akibat dari efek menangisnya yang cukup lama.

“Kau tak apa-apa?” tanya Sungmin, mencoba meraih Donghae. Namun, belum sempat ia akan membawa Donghae dalam pelukan hangatnya, seseorang lain memanggilnya dan menyuruhnya untuk memasuki ruangan yang baru saja di masuki Donghae.

Tak ada hal yang ingin dilakukan Donghae. Ia hanya butuh sandaran, sementara satu-satunya saudaranya, harus memenuhi sebuah panggilan dan meninggalkannya. Maka tak ada cara lain. Donghae hampiri Kibum, Kibumnya, pengawalnya.

Kibumpun memandang Donghae. Mencoba membalas arti dari tatapan Donghae yang begitu sarat akan kepedihan yang mendalam.

Sejenak Donghae terlihat ragu. Ia lantas menunjukkan seluruh asanya. “Kibum..” bibirnyapun terasa kelu bahkan untuk menyapa Kibum. Ia bergerak gelisah, hingga harus memalingkan wajahnya pada arah lain, hingga nampaklah di matanya, sebuah jendela luas dengan tirai merah pekat yang menghiasinya. Di saat itulah, deraian air mata kembali terurai dari mata indahnya.

Kibum tahu, sang tuannya tengah gundah. Ia begitu tahu, sejak melihat begitu putus asanya seorang Lee Donghae. Namun, apa yang dapat dilakukan seseorang dalam posisinya? Hanya beberapa hari ini saja, bahkan ia mengenal Donghae. Belum mencapai 14 hari. Belum berminggu, apalagi berbulan, bertahun? Tak ada alasan baginya, untuk menyebut dirinya pantas menjadi sandaran Donghae saat ini.

Namun Donghae lain. Ia benar-benar membutuhkan seseorang untuk menenangkan dirinya. Mengurangi gundah di hatinya. Maka, tanpa ragu, ia rapatkan tubuhnya pada Kibum. Dengan perlahan, tangannya melingkar di antara pinggang Kibum. Memposisikan dirinya senyaman mungkin dengan mata terpejam, dan bernafas pelan di antara kain yang menutupi bahu Kibum.

Kibum diam. Ia hanya diam, hingga isakan Donghae, membuat tangannya terulur, membalas pelukan Donghae, dengan salah satunya yang mengusap pelan punggung Donghae. Tak lupa bibirnya, berucap “tak apa-apa,” untuk menenangkan Donghae.

Adapun Donghae yang menggeleng pelan setelahnya. Ia tetap terisak, dan dengan putus asa memanggil-manggilkan sang “Ayah,” dengan lirih.

“Dia kuat, kau kuat! Kita berdo’a,” gumam Kibum pantang menyerah.

Ya. Donghae tahu, Kibum tengah berusaha untuknya. Lalu dengan cepat ia menarik diri. Ia mencoba menggusap air matanya namun, Kibum melakukannya terlebih dahulu. Seperti sebuah kebiasaan, ia mengusap setiap pedih yang tercipta dari buliran air mata Donghae, sambil berkata, “jangan menangis! Tuan akan marah padaku kelak, jika ia tahu..”

Donghae tersenyum dalam tangisnya. Kata itu, seolah menjadi obat baginya. Meleburkan setiap sedih dan juga resahnya. Kibum, adalah obatnya! Ia tak ragu..

“Kibumie..”

Dengan sisa isakan Donghae memanggil Kibum. “Antar aku pulang sekarang,” ucapnya.

Kibum menatap pintu, yang merupakan pintu masuk menuju ruangan tuannya. Ia ingin kesana, masuk hingga dapat berbincang degan tuan Lee, dan menanyakan keganjalan yang terjadi saat ini..

Donghae mengerti. Ia segera tarik lengan Kibum. “Aku akan ceritakan nanti, sekarang antarkan aku pulang,” terang Donghae akhirnya.

“Ayah akan berobat ke luar negri, Kibumie..” tutur Donghae kala ia memasuki pintu rumahnya, diikuti Kibum tentunya. “Aku senang, karena ternyata masih banyak kesempatan baginya untuk hidup.”

Kibum memandang punggung Donghae, sambil berusaha mendengar setiap tutur kata Donghae. Hingga dengan kaus kaki yang masih melekat di kakinya, Donghae hempaskan tubuhnya ke atas sofa. Kibum masih mengamati. Satu simpulan yang harus ia tanyakan. “Lalu apa yang membuatmu begitu bingung?” tanyanya.

Donghae menyamankan posisinya, lalu menatap Kibum dengan mata setengah terpejam. Satu tarikan nafas Donghae lakukan. “Dia bilang, aku harus menggantikan posisinya sementara,” jawab Donghae.

Ah! Kibum mengerti kali ini, dengan ingin sang tuan besar. Inilah benang merahnya. ‘Dengan mempercepat Donghae, agar duduk pada posisi yang diinginkan tuan Lee,’ pikir Kibum.

Kibum berfikir bahwa, rencana sang tuan berjalan dengan baik. Terbukti, karena kini Donghae tengah membenahi beberapa barangnya, setelah ia membawa beberapa helai pakaiannya.

“Aku akan menuruti ayah kali ini, Kibumie. Asalkan..”

“Ya?”

“Asalkan kau tetap bersamaku! Aku tak butuh tiap pengawal ayah yang banyak itu! Aku hanya butuh kau di sampingku,” ucap Donghae.

Kibum hanya membalas dengan sebuah anggukan. “Tuan sudah mengatakannya padaku,” tuturnya.

“Apa?”

“Untuk menjagamu, tentu saja. Masih banyak waktu tersisa, dari kontrak yang sudah kami sepakati,” jelas Kibum, membuat Donghae menekuk wajahnya.

“Aku tak ingin mendengar tentang kontrak itu! Bisakah kau bersikap, seolah kau peduli padaku? Hanya itu! Jangan pernah membahas tentang uang yang kalian sepakati itu, Kim Kibum!”

“Maaf jika itu menyinggungmu..”

“Kau dan ayah menyebalkan!” potongnya lantas berdiri dengan sedikit tertatih menuju kamarnya. “Akan ku ambil barangku di kamar, tolong bawa semua barang ini ke mobil terlebih dahulu..” ucap Donghae sambil menunjuk beberapa tas, lantas berlalu ke kamarnya.

Gelak tawa terdengar dari sebuah ruangan di kediaman Lee. Tawa yang terdengar menggila, mengisi ruang dengan sebagian barang mewah sebagai isinya. Sosok dengan wajah tampannya nampak terlihat sesekali menangis di antara tawanya. Tidakkah ia gila?

Dengan gemeretak giginya, juga tangan mengepal, ia mencoba menatap tampang menyedihkannya di depan cermin. “Ayahku yang manis!” geramnya tiba-tiba.

Ia merasa geram mengingat betapa sang ayah telah mengecewakan dirinya. Saat kakinya menapak di ruangan tuan besar Lee itu, saat itulah ia melihat sang ayah telah berdiri dengan kokoh sambil membenahi dasinya.

Padahal dengan persis dirinya mengetahui, tentang berita sakit sang ayah. Sakit hingga memanggil dirinya dan Donghae, seolah ia akan memberikan pesan terakhir. Namun apa yang dilihatnya hingga detik itu?

“Ayah?” tanyanya ragu, atau terlihat bingung.

“Aku disini, Sungmin-ah. Kemarilah,” tuturnya dengan senyum yang lebar, terlihat meremehkan.

“Kau, baik-baik saja?” tanya Sungmin meyakinkan.

“Seperti yang kau lihat,” balas tn. Lee cepat.

“Tapi,” ungkap Sungmin serba salah. “Tapi bukankah kau..”

“Sakit?” potong tn. Lee, membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sang putra. “Kenapa? Kau kecewa karena aku tak jadi mati?”

“Huh?” perasaan tak enak mulai menghinggapi Sungmin kala itu. “Mengapa kau berkata seperti itu?” tanyanya.

“Jangan berpura-pura lagi!” sentak tn. Lee dalam nada halusnya. “Maaf tapi, ayah tak akan mati sebelum Donghae kembali dan mengambil sebagian besar miliknya. Hartaku!”

“Tapi..”

Tn. Lee mendekati Sungmin, lantas menepuk-nepuk kedua pipi putih milik Sungmin. “Maafkan ayah nak,” ucapnya. “Donghae lebih berhak,” ucapnya.

“Ayah..”

“Aku tahu kau begitu menginginkan semuanya menjadi milikmu,” sambung tn. Lee.

“Mengapa ayah berfikiran seperti itu?” tanya Sungmin dengan raut tak percaya pada wajahnya.

“Jangan lagi berpura-pura. Ayah hanya ingin tahu, apa reaksimu bila Donghae ada di hadapanmu,” terangnya. “Ayah akan pergi, dan jangan beritahu dia, bahwa ayah baik-baik saja. Bersainglah dengan adil. Kau berusaha membunuhnya di luar sana. Bagaimana jika ia berada di hadapanmu sekarang?” tantang tn. Lee.

Sungmin menjadi geram dan tak dapat lagi membendungnya. Ia kepal erat tangannya. “Bagaimana jika aku berhasil memusnahkannya?” ucapnya, tak lagi peduli dan bersandiwara tentang ambisinya akan harta yang dimiliki sang ayah.

Seketika tn. Lee merenggut kecewa. “Jadi benar kau menginginkan kematian saudaramu sendiri?” tanyanya.

“Salahmu tak pernah menganggapku!” cetus Sungmin. “Pergi saja, dan biarkan kami bersaing sendiri. Tapi jangan salahkan siapapun jika ia berhasil kubunuh!” putusnya sambil meninggalkan tn. Lee yang hanya dapat memandang miris padanya.

Kembali pada Sungmin yang tengah termenung seorang diri di ruangannya. Ia terus saja merenungi nasub buruknya. Tersisihkan dan dilempar oleh orang terdekatnya. Pastilah sakit, meski ia sadar penuh, Donghae adalah orang yang tak tahu menau mengenai hal tersebut.

“Sayang sekali..”

Ucap Sungmin kemudian, di antara bulir air matanya yang mulai berjatuhan dari kedua sudut matanya. “Aku harus melakukannya, Hae. Lebih cepat!” tuturnya sambil mengusap kasar wajahnya. Ia raih ponselnya.

“Kyu! Dia sedang berada di rumahnya. Langsung tembak di tempat saja! Jangan sisakan apapun! Sekarang!”

“Hah..”

Berulang kali Donghae menghela nafasnya. Sejak beberapa menit berlalu, ia hanya diam memandangi bagian depan rumahnya. Kibum berulang kali mengingatkannya untuk segera menaiki kendaraan yang sudah di tempati barangnya terlebih dahulu.

“Kita berangkat?”

Inilah yang Kibum tanyakan. Mungkin sudah beberapa kali ia bertanya demikian. Namun jawaban Donghae, “sebentar lagi, Kibumie.”

Kibum terlihat tak sabar. Ia hampiri Donghae, lantas diam di samping Donghae sambil menyender pada tubuh mobil. “Dia tak akan hilang meski kau meninggalkannya. Hanya beberapa saat bukan?”

Donghae melirik Kibum di sampingnya. “Aku tak tahu,” timpalnya. “Perasaanku berkata, itu akan sangat lama, Kibumie. Sebenarnya aku tak ingin tinggal disana. Aku tak ingin, jika saja ayah tak sakit,” tuturnya kecewa.

Lalu, Kibum mencoba berdiri tegak, hingga tiba-tiba, ia peluk tuan mudanya. Ia biarkan Donghae membenamkan wajahnya di dada miliknya. Baru kali ini ia melakukan hal tersebut. Pertama kali menyentuh Donghae, karena inginnya. Lalu ia usap punggung Donghae perlahan. “Bukankah ada aku?” bisiknya.

Donghae tersenyum, lalu mengangguk. “Apa artinya ini, Kibumie?” godanya.

Oh! Kibum seolah baru menyadarinya, lantas segera menarik diri. “Maafkan aku,” ucapnya kemudian.

Namun di hadapannya, Donghae segera menekuk wajahnya. “Mengapa begitu! Tak usah minta maaf! Aku senang kau melakukannya. Mana bisa kau membuatku lebih nyaman jika kau seperti itu terus!” ketus Donghae, menghentakkan kakinya kesal.

“Tapi aku..”

“Kau tahu tak akan ada siapapun yang menemaniku disana selain kau nanti!” rutuk Donghae.

“Ada hyung mu, kan?” tanya Kibum.

“Dia sibuk!” bantah Donghae.

Hening kemudian. Keduanya berada dalam sebuah keheningan, untuk selanjutnya Donghae kembali menatap kediamannya. “Aku akan sangat merindukannya!” gumamnya pelan.

“Jangan terlalu berlebihan,” sela Kibum. Seharusnya Donghae membalas ucapan yang menyebalkan tersebut. Namun kali ini ia diam. Untuk selanjutnya, Kibum dapat melihat Donghae yang kembali menatapnya serius.

“Aku ingin kau berjanji satu hal,” ucap Donghae, bersamaan dengan semilir angin yang menyentuh keduanya. “Kau, harus melindungiku karena kau menginginkannya, Kibumie..”

“Huh?”

“Karena kau ingin melindungiku. Karena kau tak ingin melihatku terluka. Apakah itu terlalu egois?” ucap Donghae dalam sebuah tanya.

“Aku..”

“Mungkin kau tak akan dapat melakukannya. Aku tahu kau tak dapat merasakannya! Tapi kupikir kau tahu apa yang kurasakan padamu.”

Kibum bungkam. Tetap diam, hingga kembali, di siang itu. Di pagi menjelang siang lebih tepatnya. Saat sinar matahari sudah mulai terasa panas menyengat, ia lihat sang tuan muda mengecup singkat bibirnya.

“Hae..” tutur Kibum dalam sebuah nada bingung..

Donghae tersenyum mendengarnya. Ia usap kedua sisi wajah Kibum. “Bagus! Panggil aku seperti itu, Kibumie! Aku senang,” ucapnya. “Aku ingin, kita bisa saling memiliki kelak..”

“Tapi aku..”

Kibum membuka lebar matanya. Kali ini Donghae mengecup bibirnya lama setelah Donghae tarik kerah dari kemeja yang tengah di kenakannya. Bahkan kedua bibir itu terus menyatu, meski tak ada pergerakan berarti.

Bersamaan dengan angin-angin yang semakin keras menerpa keduanya, Kibum mulai mengerutkan keningnya. Ia tengah mencoba mencerna apa yang Donghae lakukan padanya. Sayang ia tak dapat merasakannya. Tapi ia telah dewasa dan mengerti tentu saja.

Di samping itu, Donghae mulai merasakan perih di hatinya, karena cinta sepihaknya. Sepihak tentu saja. Ia tahu keadaan Kibum, bukan? Meski itu bukan di dasari oleh orang ketiga di samping mereka. Tak ada hal semacam itu. Maka Donghae mencoba untuk bertahan dalam posisinya, meski menetes pada akhirnya, air mata di sudut matanya.

Masih dengan Kibum yang diam. Ia dapat melihat air mata Donghae. Ia tahu, Donghae kecewa padanya. Salahkan ia yang seolah tak memiliki hati. Bukan inginnya. Namun ia terus berfikir, bagaimana caranya agar Donghae tak larut dalam kesedihannya. Terkurung dalam kecewanya.

Hingga di detik selanjutnya, Kibum mulai menarik Donghae perlahan. Menyandarkan tubuh Donghae di badan mobil mereka. Memenjarakan Donghae dengan lembut. Kedua bibir itupun seperti enggan terlepas, di antara gerakan-gerakan yang dilakukan keduanya.

Tangan Kibum bergerak, menyusuri lengan Donghae. Naik, hingga ia telungkup dua sisi wajah Donghae. Satu gerakan ia berikan, berusaha menyentuh bibir Donghae dari sisi lain, dan lalu mulai menghisapnya lembut. Ia balas perlakuan Donghae dengan baik.

Sempat Donghae membuka matanya sebentar. Ia terlihat terkejut dengan balasan Kibum. Namun itu tak berlangsung lama. Setelah ia kedipkan matanya beberapa kali, ia benar-benar tersenyum, kala bibir Kibum melumat bibirnya perlahan. Dengan bahagia yang terlihat dari rona di wajahnya, ia mulai merapatkan diri pada Kibumnya. Melingkarkan tangannya di antara pinggang Kibum.

Sedang Kibumpun seolah tak ingat dan melupakan segalanya. Ia mulai memperdalam ciumannya terhadap Donghae. Menekan belakang kepala Donghae, menawan bibir Donghae lebih dalam, dalam tempo lebih cepat.

Keadaanpun memanas seketika. Kibum benar-benar memberikan hal lebih pada Donghae. Tak ia ingat kala keduanya masih berada di luar. Bagaimana bila ada orang melihat?

Sayang keduanya tak berfikir lebih. Hanya Kibum sudah mencoba mengecupi leher Donghae, bersamaan dengan desahan dari bibir Donghae yang terus meremas rambut Kibum. Benar-benar Kibum yang lain, pikir Donghae.

Kala itu, Donghae jambak rambut Kibum, lantas ia mencoba kembali membuat Kibum melabuhkan ciuman di bibirnya. Dalam dan basah.

Semakin terik sinar matahari, menyengat membuat keringat mengalir dari wajah keduanya. Kibum terganggu, oleh tangan Donghae yang tak diam. Maka bunyi keras terdengar, kala Kibum membawa tangan Donghae menabrak jendela kaca mobil tersebut, untuk selanjutnya, ia kembali tawan bibir Donghae lebih kasar. Donghae terlihat menerima begitu saja.

Namun suara kendaraan lain datang, masuk ke dalam pandangan Kibum, membuat kesadarannya kembali. Dari ujung matanya ia melihat, mulut pistol keluar dari salah satu jendela mobil yang melaju kencang tersebut.

Satu lumatan terakhir yang Kibum berikan untuk Donghae, untuk selanjutnya, ia segera bawa Donghae ke dalam dekapannya, lantas berlindung di sisi mobil tersebut dengan merunduk. Donghae masih terkejut, hingga di dengarnya..

PRANG!

Bunyi letusan terdengar, disusul suara pecahan kaca. Itu adalah salah satu jendela mobilnya yang berhasil rontok akibat sentuhan salah satu timah panas yang hampir mengenai keduanya.

“Apa itu!” rutuk Donghae dalam dekapan Kibum.

“Diam dan tetap berlindung,” bisik Kibum sambil tak lepas melindungi Donghae. Ia buka mobil, dan memasukkan Donghae ke dalamnya. “Tetap merunduk!” peringatnya.

Benar saja, mobil yang baru saja menghadiahi mereka satu peluru itu, kembali dalam waktu cepat. Sedang Kibumpun harus bertindak cepat. Ia raih senjata api yang nyatanya, berada di dalam mobil. Donghaepun melihatnya dengan jelas.

Baku hantampun terjadi. Kibum membidik sang lawan. Dengan lihai ia lepas satu tembakan, hingga mengenai salah satu kaca bagian mobil itu dan mengenai seseorang di dalamnya. Entahlah! Namun setelahnya mereka mengundurkan diri terlebih dahulu. Membuktikan bahwa Kibum adalah yang tetap bertahan.

Setelahnya, Kibum turunkan tangan berisikan senjata itu. Ia segera hampiri Donghae dari dalam mobil, yang sudah duduk tegak dalam raut tegang.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kibum setelahnya. Namun jawaban Donghae?

“Tidak!”

TBC

Ini pendek? Maaf. Ugh~ 

Ini fict buru-buru, karena saya menginginkan THEIR WORLD dan juga, BLIND LOVE 2C punya istrinya Hyukjae! -_- SIAPA!!!! xD 

Eh, sekian dulu. Sampai bertemu di chapter berikutnya entah fict yang mana. Ohoho~ terima kasih buat yang masih mau baca karya saya.😀

26 thoughts on “ANALGESIA [3]

    Elfisyhae said:
    Maret 28, 2013 pukul 10:12 pm

    Akhirnya ni ff di lanjut. . Sok mangga yg lain jga di lanjut eon. .😀

    Eun Byeol said:
    Maret 28, 2013 pukul 11:12 pm

    Yeyey!!
    Update!!
    Tn. Lee gokil juga, pake ngerjain anaknya pula..
    Eh?? Kibum sdh ‘pandai’ tuh, belajar dari mana?

    hyukssoul said:
    Maret 29, 2013 pukul 1:44 am

    MINAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!! T^T syang sekali Kibum tak mrsakan cinta Hae itu ya? /nangis dipojokan. gelayutan ke paha Hyuk.

    MINAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
    beuh Umin jahat!!!! -_- TAPI SERU!!!!!!!!! keadaannya seakan memanas!!
    LAGI!!!!!!!!!!!!!\

    trus? itu knpa pula? si Hae kena tambak?
    atau? berlebeh? -_-

    LAGI!!!!!!!!!!

    Laila .r mubarok said:
    Maret 29, 2013 pukul 10:41 am

    Yak pengganggu! Sapa loh berani ganggu! #nyiapin bazoka

    Ih wow kibum ngelakuinnya pake perasaan ga tuh? Loh?

    Lee Sae Hae said:
    Maret 29, 2013 pukul 10:53 am

    Ternyata beneran sungmin yang jahat?? Gak nyangka, apalagi dia begitu cuma gara” harta? Atau karna kurang kasih sayang eonn?
    Cieeeee.. Kihae sekarang hubungannya udah berkembang pesat ya??? Udah berani cium” begitu.. Hahahaha
    Lanjuttttt eonn.. Kerennnn banget!

    Shin Y said:
    Maret 29, 2013 pukul 3:08 pm

    hei hei hei>, kibum udah agak-agak merasakan sesuatu kah?? atau memang itu hanya pikirannya yang mnyuruhnya?? apapun itu suka laaahh,, udah berkembang smp sejauh itu..hohohoho

    kyumin jahat><

    nia na yesung said:
    Maret 30, 2013 pukul 12:47 am

    Amampun SungMin Yang Manis Itu Jadi Jahat.a Kkkkkkk ,,,,
    gak nyanka di tambah Kyu lagi .
    Harta? Hanya karena harta ,,,, ??? Huh ><

    Aduh Klo kibum Gak sakit Udah abis tuh hae,,,

    Aku Leh minta Lanjut ILLEGAL AGENT gak aku suka bgt Ma ff itu, Hehehehe ,,,,, ^^

    ainun_lara said:
    Maret 30, 2013 pukul 9:29 am

    Ok yg paling menarik adalah adegan MATURE KiHae “Plakkk”, mengejutkan ternyata Kibum Have a good sense. s dalam berciuman,dan Tn.Lee beneran ngebiarin Sungmin berbuat nekad?,aigoooo..

    isfa_id said:
    Maret 31, 2013 pukul 2:15 am

    lagi?

    gahahahaha…

    taRie_Elfishy said:
    Maret 31, 2013 pukul 2:16 am

    Saya msh mau baca koQ,,
    Saya mau baca yg Ilegal Agent tp di protect…
    Teruz buat karya KiHae ya Eonnie…
    (»*o*«)

    hubsche said:
    Maret 31, 2013 pukul 5:56 am

    Tuh kan terapi ‘fisik’ ampuh buat Kibum. Lagi juga…. heeyyyy ini Hae yg nyium, siapa sanggup nolak coba. Yg straight aja bisa tiba2 jadi gay kalo deket Hae BUAHAHAHAHAHAHAHAHA. Kalo di film-in ini Kibum menyalahi skenario nih… org disuruhnya sakit gak bisa rasain apa2, eh tau2 bisa nyerang Hae pake ciuman basah dan dalam.😛

    Ah kereeen !!^^

    Btw, kok mobil Hae gak anti peluru sih…. kan kaya eaaaaa😀

    BryanELFishy said:
    Maret 31, 2013 pukul 7:42 am

    nampaknya ini sakit punya pengecualian deh -_-”
    berdarah g sakit tapi dicium bales
    dasar Kim Kibum

    hima_kawaii said:
    Maret 31, 2013 pukul 1:27 pm

    O.O sungmin..how could you?? mereka itu saudara tiri ya unnie?? kok ming benci banget hae ya??
    ah, siang panas2 nglakuin adegan panas dan hampir kena timah panas pula -____- hahahah

    arumfishy said:
    Maret 31, 2013 pukul 5:07 pm

    iya oen pendek….ko donghae bilang tidak???apa dia terluka/kibum???
    lanjuttt

    ndah951231 said:
    April 1, 2013 pukul 2:12 am

    hae~
    pinter deh bisa buat bummie begitu😀
    ayo lanjutkan, bummie pasti bisa sembuh😛

    kenapa ming berambisi banget? T-T
    kyu?? O.o
    kkkk~ bener” pasangan evil

    Shin Y said:
    April 1, 2013 pukul 4:27 am

    eon, pw illegal agentnya ganti kah???

    Raihan said:
    April 1, 2013 pukul 7:45 am

    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaa kerennnnnnnnnnnnnnnnnn Kibum biar kaga ngerasain tpi bisa mengimbangi, bahkan lebih beringas #maksud
    Dih si Kyuhyun ngeganggu aja org lgi indehoy(?)

    Sungmin sebenernya sayang Donghae, tpi keegoisannya lebih mendominasi sepertinya, harta lebih penting dari saudara ckck..

    Kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnn ^_<

    Christ Josh said:
    April 1, 2013 pukul 5:47 pm

    sebenarnya penakit kibum itu nyata ga???

    si ikan kenapa??
    dia kena tembak ya??

    niea_clouds said:
    April 5, 2013 pukul 10:34 am

    /salahmu tak pernah mengangap qu/ . . . itu maksud ny knp ming ngomong gtu ? apa slm ini tuan lee pilih kasih sm sungmin ?dan itu yg jd alasan ming mau ngbunuh Hae . . .

    Nelly Key said:
    April 17, 2013 pukul 2:34 am

    Ming kok tega bgt ya ma adeknya,,, salah tn. Lee jg sh yg ngebeda2in…
    Syukurlah kibum mengerti apa yg hae lakukan padanya,,, kupikir selain g ngersain apa2, kibum jg gk mengerti akan hal semacam itu,, haha itu “terlalu”
    Selain itu kibum ternyata bisa toh ngebales dengan lebih ganas,, wkwk,,
    Apa kau merasakan sesuatu manis ?? oh ayolah,, apa kau merasakannya… kasian haenya kalau kau bilang tidak,, huh >>

    hyukhaeminoo said:
    April 21, 2013 pukul 6:16 am

    “Kau baik-baik saja?” tanya Kibum setelahnya. Namun jawaban Donghae?
    “Tidak!”
    wkwkwkwkw…donghae shock beraaat

    setshuka said:
    Juli 13, 2013 pukul 3:05 pm

    donge syok kan??? iyaaa… tapi lebih syok pas di cium kibum pasti? iya jugaaaa… lagi? apa? kisseu di tengah jalannyaa… lalalallalala..🙂

    casanova indah said:
    Oktober 11, 2013 pukul 5:17 am

    akhir’a ngaku juga sungmin kalo dia mau ngambil harta donghae…
    untung appa”a donghae pintar n sudah tau kl sungmin selama ini baik cuma pura2 doang..
    yes!! kibum dan donghae udah mulai saling cinta nich…

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 4:44 am

    si Sungmin beneran jahat! T.T tapi saya juga setuju sama Sungmin, salah Ayahnya yang nggak peduli sama dia,.. emang kenapa sih Ayahnya kok beda2in anak gitu,.. paling benci sama orang tua semacam itu,.. dasar!!!!!😄

    maaf saya marah2,.. saya pan lagi dapet, nggak puasa,…jadi begini gapapa😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s