ANALGESIA [4]

Posted on Updated on

Summary:

Hatinya mulai terluka di saat genting. Ia ingin balasan! Namun apa yang perlu di katakan? Semua tak bisa dipaksakanan atas apa inginnya!

Lee Donghae..

[CHAPTER 4]

.

“Jangan bercanda!” hardik Kibum, sambil memperhatikan Donghae, memastikan bahwa tak ada luka di tubuh itu satupun. Ia raih wajah Donghae, lantas merabanya, memperhatikannya. Tak ada luka disana, meski terlihat pucat pasi dengan keringat mengalir. Maka Kibum usap beberapa titik air di wajah itu.

Donghae masih enggan bicara. Ia diam dalam bibir yang tak henti bergetar.

Sedang Kibum tak ingin menyerah. Jarinya bergerak, mulai meraba tangan Donghae, mencoba memastikan tak ada luka disana. Memang tak ada. Baju yang utuh, dan kering; kering akan noda darah seperti apa yang ia pikirkan, hingga ia tarik tangan itu.

“Keluarlah sebentar,” titah Kibum, mengaping Donghae untuk keluar dari mobil.

Donghae hanya menurut. Ia turunkan kakinya, membiarkan sinar matahari menyentuh kulitnya. Dan Kibum? Ia lihat seluruh tubuh Donghae. Benar-benar tak ada luka, meski Donghae bergetar di atas kakinya yang kini berdiri.

“Kau kenapa?” tanya Kibum, mengajak Donghae bicara. “Kau takut?” ulangnya bertanya, untuk kesekian kali setelah tetap tak ada jawaban dari Donghae.

Donghae hanya memandang kosong, entah kemana. Hanya saja, setelah sekian detik mulutnya mulai bergumam, “buang,” dengan sangt pelan.

“Huh?” Kibum mencoba mendekatkan telinganya, pada mulut Donghae yang berujar dalam suara sangat kecil. Namun isakan yang terdengar setelahnya. Ya. Donghae memang selalu berlebihan, namun ini wajar mengingat apa yang baru saja terjadi? Itu adalah baku hantam dengan menggunakan senjata api yang sebenarnya mengancam nyawa!

Kibum menghela nafasnya, selalu kala ia melihat Donghae menangis di hadapannya. “Jangan menangis,” ucapnya seperti biasa, lantas memberi Donghae sebuah perasaan tenang dengan belaian pada punggung seperti biasa.

“Buang pistolnya!” ucap Donghae, teredam bahu Kibum. Sesungguhnya ia semakin merapatkan tubuhnya, mencoba berbagi rasa takutnya pada Kibum.

“Pistol?”

“Buang!!” raung Donghae.

Ya, Kibum mengerti. Mungkin Donghae takut pada benda tersebut. Maka ia segera sembunyikan benda tersebut, melemparnya ke arah belakang mobil. Ia tak mungkin juga turut membuang serta benda tersebut. Ayolah! Ia tak mungkin melawan mereka yang bersenjata itu dengan tangan kosong. Namun tetap, ia sembunyikan itu dari Donghae. Kibum, tak ingin Donghaenya bersedih..

“Donghae! Jangan pegang itu! Astaga, darimana kau mendapatkannya?!” raung seorang wanita, tatkala melihat sebuah senjata api di tangan Donghae. Senjata sungguhan, yang berada dalam genggaman anak berusia 15 tahun saja.

“Ini ada disini eomma,” terang Donghae, sambil tetap memegang pistol dengan satu tangannya, sedang satu tangannya, mengajak kelima jemarinya menunjuk atas meja, yang mana itu adalah meja yang sering dihuni sang tuan, tuan Lee.

“Letakkan itu kembali!” sang eomma berujar cemas tentu saja, meski ia tak tahu pistol tersebut berisi atau tidak? “Jangan acungkan kemari, Hae!” sergahnya, hendak menghampiri Donghae.

Donghae menjadi merenggut seketika. “Kenapa kau sepanik itu sih? Ayah tak mungkin menyimpannya disini, jika ini asli! Mungkin saja ini mainan Sungmin hyung!” ucapnya, sambil mencoba mengangkat benda tersebut, dan mengarahkannya ke beberapa tempat dengan asal.

“Donghae, itu berbahaya!” sergah sang ibu lagi dan lagi. Ia ambil langkah, menuju putranya, yang bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya.

“Tidak eomma, ini..”

DOR!

“AGH!” Donghae memekik keras, dengan tubuh terangkat. Matanya yang merah, terbuka sempurna dengan  nafas memburu. Satu tetes keringat mengalir dari ujung rambutnya.

“Mimpi buruk! Hanya mimpi buruk!” gumamnya menenangkan dirinya sendiri, sambil mengusap-usap dadanya. Ia terus berucap demikian, dengan mata menyapu keadaan sekitarnya.

Terakhir kali adalah, Kibum yang membawanya pergi menuju kediamannya, dan akan membawanya pada kediaman Lee. Lebih tepatnya, sesaat setelah Donghae terisak akibat baku hantam senjata yang terjadi. Ia tertidur, di dalam mobil.

Kini?

Ia masih berada di mobil. Namun mobil dengan salah satu kacanya yang sudah rontok itu, kini diam, mati dan hanya menyisakan dirinya, membuatnya gusar. “Kibum dimana?” ujarnya sambil mendongak, menatap sekitarnya. Ia hanya melihat mobil yang berhenti di sebuah jalan kecil, yang bahkan tak beraspal. Masih beralaskan tanah merah, dengan rerumputan tinggi di sekitar mereka.

Tak ada sedikitpun bayangan Kibum yang terlihat di matanya. Hingga Donghae turun dari mobil, dan tetap memperhatikan sekelilingnya. Seketika semilir angin yang menggoyangkan rerumputan itu mulai menyentuhnya, menyejukkannya.

Lalu Kibum?

“Aku mengerti, mengapa anda tak membiarkan tuan muda Donghae mengetahui soal senjata yang kalian berikan tempo hari padaku, meski aku tak tahu alasan, mengapa ia sangat takut pada benda ini,” tutur Kibum,  tengah berbincang dengan seseorang dari balik ponselnya. Sejenak ia terdiam mendengar tutur kata dari sana, hingga ia melanjutkan kembali segala yang ingin ia utarakan.

“Akan lebih baik jika kalian menceritakannya padaku, bukan?”

Donghae terduduk diam di tempatnya semula. Di depan mobil di dekat kursi kemudi, dan sudah mulai akan merutuk jika saja Kibum tak tiba-tiba datang. “Kau kemana saja! 30 menit lebih, Kim Kibum!” serang Donghae langsung.

Kibum membuka mobil lantas masuk dan terduduk di samping Donghae. “Aku sudah mendapat ijin, agar kau tak langsung pergi kesana. Ia mengijinkanmu menenangkan diri beberapa hari,” tutur Kibum.

“Mengapa begitu?” tanya Donghae merasa aneh. “Apa ayah sudah membaik dan tak jadi pergi?”

Kibum menggeleng. “Kulihat kau dalam keadaan tak baik. Kuceritakan semua hal padanya,” ucapnya sambil meraih jemari Donghae, untuk selanjutnya ia genggam jemari itu. Kibum? Tengah menatap dalam kedua mata Donghae. Mata yang kini berbinar akibat sentuhannya.

Donghae senang? Tentu saja!

Di lain sisi, ada yang Kibum pikirkan. Satu rahasia kecil, mengenai orang berwajah manis di hadapannya tersebut. Lee Donghae, yang nyatanya melewatkan sesuatu yang buruk di masa lalu.

“Ia melihat ibunya sendiri tertembak ketika berusia 15 tahun..

Kibum tatap Donghae, di antara sebuah kata yang sebenarnya mampu membuatnya tercengang tak percaya, jika saja ia bisa merasa. Dengan satu gerakan, ia bimbing Donghae agar terlelap di bahunya.

Kibum rasa, pastilah akan terasa lebih berat jika ia menjadi Donghae. Bagaimana mungkin ia dapat bertahan. Sempat ia fikir, lebih baik menanggung penyakit yang di deritanya, di banding merasakan apa yang Donghae rasa.

“Kibumie..” ucap Donghae tiba-tiba. “Apa ini artinya, kita? Kita bisa berhubungan lebih dekat?”

Tidak untuk yang satu ini! Pikir Kibum. Maka ia jauhkan pundak hangatnya dari Donghae dengan segera. Ia lempar wajahnya ke sisi lain dengan cepat, membuat Donghae kecewa dengan cepat.

“Apa kau membenciku?” ujar Donghae.

“Tidak, bukan begitu,” sanggah Kibum. “Kau tahu keadaanku, bukan?”

“Aku bisa bertahan akan hal itu,” desak Donghae, meraih lengan Kibum, diiringi ratapan pada wajahnya.

“Tapi aku tak bisa merasakannya..” tutur Kibum seadanya. Terlalu jujur bahkan, dan menyakiti Donghae tentu saja. “Dan posisi kita, tidakkah kau mengerti?”

Donghae menarik diri kemudian. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi miliknya sambil menutup matanya. “Kalau begitu antar aku pulang saja, Kibumie!” ucapnya pelan, tak bersemangat. Ia terlihat lelah dan enggan menanggapi apapun. Hubungan yang ia inginkan bersama Kibum, memanglah terlihat sulit dari segi apapun. Ia ingin marah, tapi pada siapa? Kibum kah? Ini bukan sepenuhnya kesalahan Kim Kibum.

Kibum segera lajukan mobil, dan menuruti apa yang dikatakan Donghae, sang tuannya..

Tapi tiba-tiba Donghae merubah pikirnya. Ia berkata, “bawa aku ke sebuah tempat terlebih dahulu, akan kutunjukkan jalannya,” dengan nada pelan, dan malas.

Keduanya tiba di jalan menuju sebuah rumah, tepat di sisi dekat pantai. Hanya satu-satunya rumah, terpencil. Bahkan keduanya harus berjalan kaki, karena hanya jalanan setapak yang menghubungkan mereka pada rumah yang sebenarnya sudah nampak dari kejauhan tersebut.

“Apa ini salah satu milik keluarga Lee?” tanya Kibum, di sela perjalanan mereka.

Donghae diam tak menjawab. Ia hanya terus berjalan, membawa Kibum menuju jalan sempit dengan tembok kayu yang tinggi di sisi kiri mereka, sedang selokan kecil dengan air jernih di samping kanan mereka. Dapat terdengar riak air kecil disana. Udaranyapun benar-benar sejuk terasa. Ada banyak tumbuhan setelah selokan tersebut dengan pohon-pohon berbunga.

Setelah mendapati ujung jalanan tersebut, mereka tiba dan menapaki tangga kecil yang menghubungkan mereka dengan bagian sisi dari rumah tersebut. Rumah yang sederhana, jika kita amati. Bahkan tak menapaki dua lantai. Hanya saja, kayu sebagai bahan rumah tersebut, memberikan kesan mewah tersendiri baginya, meski warna yang timbul adalah, kusam.

Tumbuhan dalam pot yang tergantung di depan rumah itupun, tak ada yang hidup, bersamaan dengan dedaunan kering yang berserakan di lantai depan. Simpulan Kibum adalah, rumah yang sudah tak berpenghuni, meski takjub Kibum rasa, saat gerbang rumah tersebut mengantarnya pada hamparan pasir laut. Juga, jangan lupakan deburan ombak yang dapat terdengar jelas. Lihatlah hamparan biru di depan sana, dengan ombak yang bergulung. Itu laut!

Donghae langkahkan kakinya di lantai depan, menginjak beberapa daun kering disana. Rumah yang cukup gelap, namun tak membuatnya takut. Ia membuka rumah tersebut, karena memang tak harus menggunakan kunci untuk membukanya.

Satu cahaya turut masuk ke dalam ruangan gelap tersebut, bersamaan dengan tubuh Donghae yang mulai menempati ruangan tersebut. Satu helaan nafas mengiringi. Ia buka lebar pintu tersebut, membuat sinar matahari cukup meneranginya.

Satu kata yang Kibum ucapkan dalam hatinya adalah, rapih! Meski keadaan luar rumah tersebut terlihat agak kurang bagus, namun rapih di dalamnya. Terdapat sofa coklat di dalamnya, bersamaan dengan beberapa bingkai fhoto yang terpajang disana.

Dapat Kibum lihat, seorang pria dewasa, dengan dua wanita berparas cantik di sampingnya. Dua anak laki-laki yang manis, turut hadir di depan mereka, tersenyum. Namun, “Tn. Lee?” tanyanya pada dirinya sendiri saat melihat pria dewasa tersebut. Wajah tuannya begitu lekat disana, Kibum hafal. Maka, ia usap dua anak disana, ia tahu, itu adalah Donghae dan Sungmin, yang dapat ia bedakan akhirnya, yang mana Donghae dan yang mana Sungmin. Sedang kedua wanita lainnya? Apa itu kedua istri tn. Lee? Ia tak sempat bertanya, karena..

“ARGH!” terdengar teriakan keras mengejutkan Kibum.

Kibum hampiri Donghae, yang nyatanya sudah hampir menapaki ruang lain, yang terhalang dinding kaca.

“Kibumie!” jerit Donghae, bersembunyi di balik tubuh Kibum. “Apa itu hantu?” tanyanya takut sambil menunjuk ke arah dalam ruangan tersebut.

Kibum pertajam matanya, hingga dapat menemukan sebuah bayangan yang meringkuk disana. Bayangan yang mulai merangkak ke arah mereka. Kibum takut? Hey, ia tak mengenal rasa takut itu seperti apa. Maka diam dan menunggu adalah yang ia lakukan.

Sosok itu mendekat, menampakkan wajah seorang wanita yang nampak tua dengan wajahnya dan rambutnya yang memutih sebagian. Terurai tak terawat.

Di balik tubuh Kibum Donghae melihat. Ia menjadi terpaku melihat sosok itu. Ia muncul dari balik tubuh Kibum, lantas menghampiri sosok wanita yang hanya terhalang satu lapisan kaca saja darinya. Satu genangan air mata mulai memenuhi matanya. Donghae menahan nafasnya. Secepat mungkin ia menutup mulutnya dengan lengannya. Ia tunjukkan sebuah rasa tak percaya atas apa yang ia lihat.

“Kau mengenalnya?” tanya Kibum.

Tak ada jawaban. Hanya Donghae yang memundurkah langkahnya perlahan, lantas berbalik dan berlari meninggalkan Kibum.

“Lee Donghae!!” sontak Kibum berteriak, namun..

BRAK.

Teriakan Kibum atas nama Donghae, membuat sosok di balik ruangan itu, menggebrak kaca disana. Kibum merasa hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran yang berdesakkan. Ada apa dengan semuanya? Rumah tersebut? Wanita tersebut? Donghae, lari?

Ya. Donghae telah berlari jauh, ketika seseorang yang tua datang ke rumah tersebut, dan turut berteriak. “Astaga! Siapa yang datang?!” pekiknya.

Kibum bungkukkan tubuhnya dengan hormat. “Maaf,” ujarnya. “Saya tak tahu harus memulai darimana, tapi saya berjanji akan kembali dan menanyakan banyak hal,” ucapnya terburu-buru. Ia ingat bahwa Donghae mungkin saja sudah berlari jauh.

“Tapi anda siapa?” ujar sosok itu.

“Saya bersama tuan Donghae kemari,” terang Kibum.

“Tuan muda? Dia kemari?” tanya sosok itu, hingga nama Donghae, lagi-lagi menimbulkan satu gebrakan di sebuah ruang berlapis kaca tersebut. “Ah, kalau begitu cepat susul dia saja,” tuturnya.

Kibum menurut. Ia bungkukkan hormat badannya untuk terakhir kali sebelum akhirnya melangkah pergi, menyusul Donghae yang entah pergi kemana.

“Dia menembakmu?!” pekik Sungmin kalap, kala mendengar rintihan Kyuhyun di seberang sana. Kyuhyun, kekasih yang baru ia beri tugas untuk membunuh Donghae, sang adik. “Kau dimana sekarang, Kyu? Aku akan kesana..”

Begitulah, hingga Sungmin terburu-buru mengundurkan diri dari pekerjaan kantornya. Sempat ia lirik sebuah fhoto yang terpajang di meja kerjanya. “Kenapa tiba-tiba aku mengingatmu, eomma?” ucapnya tiba-tiba sambil menatap wajah seorang ibu yang tersenyum disana.

Wajah Sungmin menjadi berbeda. Dalam perjalananpun, ia cukup banyak melamun, hingga kendaraannya, menapaki jalanan yang cukup lengang, dengan lautan di samping kirinya. Hingga nampaklah sebuah rumah yang kecil karena jaraknya yang cukup jauh, sedang rumah tersebut berada di sisi pantai. Sungmin tak berniat mengunjunginya. Ia ambil arah lain, berbelok ke arah kanan, menjauhi rumah tersebut, hingga tiba-tiba, dilihatnya seseorang yang ia kenal. “Donghae?” ujarnya terkejut.

Donghae, tengah berjalan di tepi jalanan, bahkan tanpa menggunakan sandal, dibawah terik matahari itu. “Kemana Kim Kibum? Dia sendiri?” tanyanya tak percaya, sambil memperlambat laju mobilnya, mengikuti Donghae. Seketika sebuah seringaian tampak dari bibirnya. Tangannya terulur, mengambil sebuah senjata dari dalam tasnya?

Sempat Sungmin edarkan pandangannya, dan memang benar-benar sepi. Ia turun dari mobilnya, tak ada siapapun selain mereka. “Donghae..” panggilnya.

Donghae, ia hafal suara tersebut, yang langsung mengundang senyum haru di wajahnya. Ia segera berbalik, “Hyung aku..” ia berhenti berucap, terpaku dengan mata memandang tak percaya pada Sungmin. Saat berbalik itu, bukan hanya Sungmin yang ia lihat, akan tetapi terdapat sebuah senjata yang mengacung dari tangan Sungmin, dan mengarah pada dirinya, tepat padanya.

“Kenapa kau sendirian, Hae sayang?” ucap Sungmin, dalam nada meremehkan.

Sedang Donghae merasa sakit yang tertahan di tenggorokannya, bersamaan dengan tangis yang segera muncul. “Hyung apa yang kau lakukan?” tanya Donghae, dalam tawa mirisnya. Ia masih belum percaya, dan berusaha keras menganggap bahwa Sungmin bermain-main dengannya.

“Kau pikir ini pistol mainan? Kita sudah bukan anak-anak, Hae. Ayolah! Kau tak takut?” tanya Sungmin.

Hyung..” ujar Donghae lirih , melangkah ke arah Sungmin, namun..

Satu letusan keras, dari senjata Sungmin yang baru saja memuntahkan pelurunya. Belum sempat Donghae berujar, bertanya, mengapa Sungmin melakukannya. Namun Sungmin sudah melakukannya. Satu peluru berhasil menembus lengan kanannya. Sakit, sangat sakit dan terasa panas!

Donghae menangis menatap Sungmin, sambil ia genggam luka pada lengan kananya tersebut, yang kini mengeluarkan darah yang cukup deras. Tak sanggup bertahan lama, Donghae bertumpu di atas kedua lututnya.

Sungmin tak bergeming, meski dapat ia lihat tangis itu. Bahkan ia kembali mengacungkan pistolnya tepat pada kepala sang adik.

“Ucapkan selamat tinggal pada ayahmu, Hae?” ucap Sungmin kemudian hendak kembali menarik pelatuk pada senjatanya. Namun, dari arah lain Kibum datang.

Kibum yang dengan segara mengeluarkan senjata yang sempat ia ambil tadi. Ia arahkan, hingga satu tembakan ia lepas, mengenai tangan Sungmin. Sungmin menjerit tentu saja. “Sial!” umpatnya, hingga ia mengurungkan niat untuk menghabisi Donghae, anggap saja ia gagal, lantas memasuki mobilnya dan pergi.

Di sisi lain Kibum tak lagi mampu mengejar Sungmin. Ia tak sempat semenjak melihat darah di lengan kanan Donghae. Seketika ia merasa panik. Panik yang tak pernah ia rasa sebelumnya. Namun ini cukup membangun sebuah ekspresi di wajahnya. Ia melihat Donghae dalam sebuah ketakutan, cemas? Semacam itu.

Kibum enggan banyak bertanya, ia papah Donghae, namun Donghae sudah tak bertenaga. Maka ia gendong Donghae, yang seketika mulai menutup matanya.

“Jangan tertidur,” tutur Kibum sambil mulai membawa Donghae.

“Kibum,” lirih Donghae sangat pelan. “Jangan beritahu ayah,” ucapnya.

“Huh?”

“Bawa saja aku pada ibu Lee,” tuturnya.

“Apa maksudmu? Kau ingin kemana? Lihatlah lukamu!”

“Kerumah yang tadi,” ucap Donghae terdengar keras kepala, meski ia sudah tak memiliki tenaga yang cukup sebenarnya.

Kibum mendengus sebal, lantas menuruti apa kata sang tuan. Selain itu, dalam hatinyapun ia masih merasa tertarik dengan rumah yang akan kembali ia singgahi tersebut.

“Belum menemukan mereka?”

Kini tn. Lee yang dijalari rasa cemas. Ia kehilangan Donghae, sang putra bersama dengan pengawalnya.

“Kami menemukan mobil mereka dengan banyak tembusan peluru. Juga, ada bercak darah disana,” terang salah satu suruhannya.

“Tidak mungkin!” sanggah tn. Lee marah. “Jika mati, kalian harus menemukan mayat keduanya,” ujarnya.

“Kami belum menemukan mayat mereka, tuan..”

tn. Lee mengusap kasar wajahnya. “Temukan mereka, atau kalian semua kupecat!!” raungnya tertahan.

TBC

ARGH! Saya setres bikin beginian teruuuuuuuuuuuuuuuussss!!!! xDD Mri beralih pada sesuatu yang berbau manis?😀 Maaf pula jika ini romancenya sangat kurang! Mau bagaimana lagi. HaHa..

35 thoughts on “ANALGESIA [4]

    Elfisyhae said:
    April 6, 2013 pukul 8:56 am

    Mau. . Mau. . Sya mau lg eon. . Bhkan yg lebih manis.

    BryanELFishy said:
    April 6, 2013 pukul 9:08 am

    Ibu Lee itu mamaknya si Sungmin? yang dilihat Donghae dirumah itu?
    Akhhh!!!!!! penasaran!! >_<

    Kibum jujur amat sih! -_-

    pan kasian Donghae T_T

    niea_clouds said:
    April 6, 2013 pukul 11:10 am

    Iseng” buka wp ini eh ada ff yg update . . . jd Hae trauma sm pistol ne ? jd ibu ny hae mati krn ga sengaja ketembak pistol yg di pegang Hae , , , dan wanita yg ada di rmh tua itu ibu lee ,ibu ny lee sungmin kah ? PENASARAN !!! . . . NEXT chap jgn lama” ne author

    niea_clouds said:
    April 6, 2013 pukul 11:13 am

    chingu blh mnta pw Illegal agent sm HAE MOMMY ? . . .

      sugihhartika responded:
      April 6, 2013 pukul 11:35 am

      Minta ke FB aja chingu???😀

    gamers cho said:
    April 6, 2013 pukul 11:16 am

    ibu lee gedor2 kaca pas liat donghae kan? itu dia gila ato gimana?

    sungmin jahat amat😦 maen tembak hae ajaa ><

    Christ Josh said:
    April 6, 2013 pukul 12:53 pm

    kagak ada yadongnya

    ndah951231 said:
    April 6, 2013 pukul 1:13 pm

    eonni >_<
    kenapa hae jadi kena tembak?? T-T
    tega niiih, hiks😥
    Hae punya trauma segala u,u
    itu eomma-nya sungmin kah??

    mauuuuuu~
    buat yg romance, hae disiksa juga gpp..
    asal jangan ada orang ketiga😄

    Shin Y said:
    April 6, 2013 pukul 2:11 pm

    wanita tadi siapa?? wah, wah.wah,, sungmin udah berani bertindak terang2an yaa…

    kibum kynya udah agak2 bisa merasakan sesuatu,,

    emmmmm..

    masrifah lubis said:
    April 6, 2013 pukul 3:26 pm

    knp sungmin benci ma hae ya

    isfa_id said:
    April 6, 2013 pukul 3:44 pm

    saya baru nyadar HaeMin beda ibu, ke mana aja Isfa selama ini, #plak

    oh, Sungmin dendam gara2 Donghae nembak ibunya? yg ketembak ibunya Sungmin kan? iyakan, mangkanya Sungmin mau bunuh Donghae, sok tau #geplak

    #tidur

    nia na yesung said:
    April 6, 2013 pukul 5:37 pm

    Hae Punya trauma Jg ya ….
    aduh Min di sini jahat bgt dah >< sekali-sekali, dua kali jg Boleh Kibum Ke yg Menderita🙂
    jangan Hae terus…….
    Mian aku Ketagihan ILLEGAL AGENT Kpan Update Y ^^
    aku penasaran bgt nih🙂

    Eun Byeol said:
    April 6, 2013 pukul 10:31 pm

    Rumah penuh misteri..
    Cepat diungkap, eonni..
    Donghae sama Sungmin beda eomma?? Tuan Lee istrinya 2 gitu??

    Raihan said:
    April 7, 2013 pukul 6:07 am

    Siapa sosok dirumah tua itu?..

    Sungmin pacaran sama Kyuhyun?..

    Hwaaaaaaaaaaaaaaaaa Kibum udah bisa ngerasain cemas dan khawatir, bearti ada tanda2 tu penyakit sembuh dong?..kalo gitu Donghae terluka lgi aja, jadi kan perasaan Kibum bisa muncul lgi #dzigh

    ini kerennnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn ^_<

    namihae said:
    April 7, 2013 pukul 12:47 pm

    eonn! saya langsung lompat kesini masa :3 kekeke, saking penasarannya…😄

    ini? konflik kluarga y? ming ama hae? satu darah apa bukan? lanjuuut~

      sugihhartika responded:
      April 8, 2013 pukul 7:32 pm

      Gpapa, silahkan berjelajah sesukamu.😉

    hubsche said:
    April 7, 2013 pukul 12:50 pm

    Pas adegan perempuan tua keluar di rumah pantai itu, dan Hae ngumpet… masa aku bayanginnya kayak suster ngesot yg keluar hahahahahaha. Mau tegang jd malah kocak sm kelakuan Hae yg nyangkain itu hantu… ampun dah :’)))))

    Lanjuuuuttttt cepet yah^^ hihihihi

      sugihhartika responded:
      April 8, 2013 pukul 7:31 pm

      Bhahaha.. anggap saja gambarannya seperti itu, xD

    arumfishy said:
    April 8, 2013 pukul 5:14 am

    seeeruuuu…..lanjuttt..
    itu ibunya sungmin y???
    trs gmn???apa mereka bkl damai??

    Mea Hae said:
    April 8, 2013 pukul 2:57 pm

    lupa sama certnya padahal baru..
    sungmin dendam sama hae karena yang dibunuh hae itu ibunya ya??
    trus yang ny lee itu ibunya hae?

      sugihhartika responded:
      April 8, 2013 pukul 7:13 pm

      Konfliknya eonn bikin baru disini kok Meong. Baca chapter depan bakalan ngerti kayaknya,😉

    ainun_lara said:
    April 9, 2013 pukul 12:26 am

    Eh knp malah minta ketemu ibu Lee?,Nugu?.. Aisss Sungmin kejamnya eoh!!!. Trus eommanya Hae meninggal karena Donghae?,Saengg knp aku ngedadak Belet~_____~”

    Laila .r mubarok said:
    April 10, 2013 pukul 4:28 am

    Apa haemin beda ibu? Benarkan? Pantes perebutan harta disini, walau sungmn doang yng pngen ngerebut.. Ckckckck

    Lanjut eon

    hima_kawaii said:
    April 12, 2013 pukul 5:06 am

    kibum mulai merasa cemas tuh.. yaaayyy😀

    Nelly Key said:
    April 17, 2013 pukul 2:37 am

    Secara g lgsung hae ditolak nech #getok kibum#
    Sumpah aku ngeri pas adegan di rmah tua yg tiba2 keluar sesosok wanita.. eum dia gila ya ??
    Entahlah aku ngeriii,,, yg terlintas lgsung film2 horor…
    Itu ibunya sungminkah ?? kenapa dia ada disana ?? kyk org terisolasi…
    Oh,, skrg ming maennya terang2n ya,,, untunglah bummie cepet dtg,,,
    Eonnie bisakah kau membagi pewe padaku???

    Lee Sae Hae said:
    April 20, 2013 pukul 8:37 am

    Penasarannnn eonn.. Orang yang diliat Hae itu siapa? Mama nya Sungmin? Atau gimana ? Bingunggg
    Gak rela ihh, kalo sungmin harus musuhan sama Hae.. Terus, ming juga kayaknya benci dan dendam banget sama Hae..
    Tapiiii ini kerennnnn eonn.. Bagussss

      sugihhartika responded:
      April 20, 2013 pukul 9:18 am

      xD SUNGMIN JAHAT! Harus rela doong Sae, :3

    hyukhaeminoo said:
    April 21, 2013 pukul 6:30 am

    ibu lee itu siapa??..itu rumah siapa?? kenapa donghae kabur??
    ada apa ini??? ada apa???*lebeh

      sugihhartika responded:
      April 25, 2013 pukul 9:50 am

      Siapa aja boyeh, :3

      Terima kasih telah berkunjung dan menyempatkan diri untuk memberi komentar, maaf tak bisa saya balas semua,😀

    Kim Haemi said:
    Mei 8, 2013 pukul 1:53 pm

    wahhh penasaran hari ini akan ku jelajahi blog ini hahaha #ketawaalabonamana
    boleh ya boleh😀 lanjut ya

      sugihhartika responded:
      Mei 11, 2013 pukul 6:29 am

      Silahkannnnnnnnnnnnnnnnn~

      xDD

    suhae1005 said:
    Mei 22, 2013 pukul 11:22 am

    o.o , apa yang terjadi dengan Hae ?
    siapa itu Eomma Lee ??? apa itu Eomma Sungmin si jahat(tapi imut) ???

    oh KIbumii, bisakah kau sedikit menyadari arti hati Hae ???

    setshuka said:
    Juli 13, 2013 pukul 3:18 pm

    itu yg di rumah ibunya ming apa donge?? kerennn…

    casanova indah said:
    Oktober 11, 2013 pukul 8:14 am

    hah, siapa wanita itu..
    ibu lee.. ibu sungminkah??
    knapa bisa disitu??
    jgan2 itu perbuatan sungmin ya???

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 4:54 am

    pasti itu Mak-nya Sungmin kan? hmh….

    Wah,… si Kyu beneran pacarnya Ming di sini,.. OMG!!!! >.<

    Beuh,… saya di sini jadi lebih simpati sama si Bapak berpoligami itu,.. mungkin ada sebabnya dia ngebedain Hae sama Ming,.. tapi ttp aja mereka anaknya kan,.. atau mungkin si Ming aslinya bukan anak kandungnya,.. ah gatau ah gelap,..

    lanjut baca duluh^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s