ILLUSION

Posted on Updated on

Title: Illusion

Cast: Lee Donghae – Kim Kibum

Genre: Romance – Fantasy – Fluf

Summary: Donghae hanyalah sesosok? Sebuah? Sesuatu, yang mati dan berubah hidup. Hanya sebuah kisah singkat tentang seseorang yang hidup bersama karyanya, miliknya.

[Oneshot]

 .

Hari begitu terik. Kibum membetulkan posisi topinya, yang semula ia pakai terbalik, lalu membetulkan topi tersebut agar dapat menutupi wajahnya yang tersengat sinar matahari. Untuk apa ia berada di bawah terik matahari? Tak adakah tempat baginya untuk berteduh?

Lihat, bahkan ia duduk santai, tanpa berniat pergi dari tempat panas tersebut. Ia tetap fokus, bermain bersama warna-warna yang ia tuangkan ke dalam kanvas di depannya. Sangat serius! Dengan lihai tangannya membentuk sebuah ilusinya menjadi sesuatu yang indah disana.

Entah apa yang ia pikirkan, hingga ia berpikir untuk membuat objek manusia semu dalam lukisannya kali ini. Semu, karena ia sendiri, tak melihat secara langsung manusia dalam lukisannya tersebut. Tak tahu, apakah manusia dalam gambarnya ini, ada atau tak ada di bumi ini, karena semua hanya ilusinya semata.

Gambar sesosok manusia, berwajah sayu dengan mata yang teduh, juga hidung mancungnya, dan kulit putih berambut coklat yang Kibum gambar dengan sedikit berantakan seperti tertiup angin. Beginilah sosok itu. Sosok yang tengah terukir dalam kanvasnya, yang baru saja tercetak dalam bayangan seorang Kim Kibum.

Kibum tersenyum melihat karyanya, dan masih tetap memolesi warna, mencoba melengkapi kesan warna disana. Sejenak ia berpikir, lalu melihat pemandangan dimana ia berada kini. Sebuah tempat yang luas dengan ilalang yang tumbuh lumayan tinggi.

Kibum berpikir, akan indah bila sosok dalam lukisannya itu, berada dalam pemandangan yang sama dengannya, karena, tempatnya berada kini memanglah sangat indah.

Tanpa ragu, Kibum kembali mengoleskan warna dalam kanvasnya. Memberi goresan hijau dan kuning, sebagai gambaran ilalang yang tumbuh tinggi juga menguning. Terakhir, ia menuliskan “15 oct..” beserta goresan tanda tangannya, sebagai pelengkap, dan juga identitas, mengenai kapan dibuatnya, juga menandai bahwa ia adalah satu-satunya orang yang membuat karya indah tersebut.

Kibum tersenyum puas saat melihat karyanya yang telah usai. Dengan hati-hati ia melindungi lukisannya, hendak membawanya pulang. Tak lupa Kibum membenahi alat lukisnya, tak lupa menyimpan kuas kecil yang sejak tadi terselip di antara telinganya.

“Saatnya pulang..” Gumamnya tersenyum. Menghirup udara segar disana sebelum ia meninggalkan tempat tersebut.

 

Kibum tengah berjalan di antara ilalang-ilalang yang bergoyang tertiup angin hingga ia mendengar bunyi seseorang seperti sedang mengikutinya. Langkah seseorang di belakangnya. Begitu terdengar jelas, bahkan disaat Kibum mengabaikannya.

Beberapa saat berlalu, Kibum tak dapat lagi mengabaikan suara itu. Ia berbalik untuk melihat apa yang membuntutinya sejak tadi. Dan Kibum, diam. Ia tak mampu bergeming. Bahkan seolah tak percaya, hingga enggan menutup matanya walau hanya berkedip. Bayangkan, saat ini? Dia tengah melihat ilusinya. Ataukah memang ilusinya terlalu kuat hingga ia membayangkan sosok itu menjadi nyata?

Kibum memejamkan matanya cukup lama, lalu kembali membuka matanya, ingin memastikan apakah ia tak sedang berhayal? “Oh,” Kibum terpana. Ia tak sedang berhayal. Apa yang dilihatnya adalah nyata?

Mata yang teduh itu, wajah itu, bentuk rambut, bahkan baju putih tipis yang dipakainya, bukankah itu adalah apa yang ada dalam lukisan baru yang tengah ia pegang kini?

Kibum tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Namun sosok itu begitu nyata, dan ada di hadapannya, tengah menatapnya lembut. Bukankah Kibum harus memastikan? Maka, dengan sedikit ragu, Kibum menghampiri sosok itu. Perlahan, Kibum mengulurkan tangannya, menyentuh pipi putih itu.

Kibum tersentak. Bahkan ia dapat merasakan halusnya kulit itu. Kibum mengulurkan tangan lain, menyentuh sisi wajah yang lain. Semua benar-benar nyata! Kibum sempat menahan nafasnya tak percaya, lalu tersenyum simpul. “Apa, apa kau datang untukku?” Ucapnya, entah apa yang tengah dikatakannya itu. Sosok itu terdiam.

You are mine!” Gumam Kibum akhirnya, merasa yakin bahwa sosok indah itu, adalah seutuhnya miliknya, lalu menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. “Karyaku..”

 

Setahun berlalu. Selama itu pula Kibum bersamanya. Bersama karyanya, yang ternyata telah menyandang nama yang diberikan Kibum. Donghae..

“Kau tak ingin bangun?”

Kibum terganggu dengan suara manja seseorang. Tapi sepertinya ia masih ingin memejamkan matanya dan mengabaikan suara itu. Ia masih cukup mengantuk, mengingat baru beberapa jam lalu ia tertidur setelah menyelesaikan sesuatu semalam. Sesuatu yang sangat ia rahasiakan.

“Kibumie..”

Kali ini Kibum merasa tubuhnya berguncang, setelah mendapat sentuhan lumayan keras. Dengan berat hati ia sedikit membuka matanya. “Sebentar lagi, Hae. Oke?” Ujar Kibum tersenyum sambil mengerjapkan matanya yang terasa lengket karena masih merasakan kantuk, dan setelahnya? Ia kembali terlelap karena tak mendapat gangguan lain dari Donghae.

.

Donghae membuka jendela kamarnya, kamar Kibum, kamar mereka. Dapat ia rasakan udara pagi yang dingin begitu menusuk sesaat setelah jendela itu terbuka.

Donghae mendongak, menatap keadaan luar. Ia menatap jauh, ke arah langit yang mulai terang. Memikirkan, entah apa yang terjadi pada dirinya, tapi, inilah hidupnya sekarang. Donghae, yang mendampingi Kibum yang amat menyayanginya.

Donghae tersenyum, lalu memandang Kibum yang masih terlelap. Baru kemarin Kibum berkata bahwa, hari ini, adalah hari bahagia. Donghae tak mengerti, bahkan Kibum menyiapkan sesuatu untuk hari ini, yang sungguh belum boleh diketahui oleh dirinya. Apa itu?

. 

Lama Donghae berada di sisi jendela, hingga tangan Kibum meraih pinggangnya. “Pagi.” Ucap Kibum.

“Hm. Bangun dulu, baru ucapkan itu padaku.” Ucap Donghae saat melihat dari kaca jendela, bahwa Kibum, masih memejamkan matanya.

“Kau bercanda? Aku sudah bangun.” Jawab Kibum, namun tetap enggan membuka matanya.

“Orang yang bangun itu, matanya terbuka.”

Kibum membuka matanya seketika. Ia tersenyum lalu mencium pipi Donghae.

Donghae mendengus sebal. “Dan, orang yang bangun itu, akan menciumku setelah menggosok giginya.” Omel Donghae, melepas pelukan Kibum, lalu pergi meninggalkan Kibum.

Kibum tertawa renyah. Ia tak pernah menyangka bahwa, Donghae akan semenarik ini. Padahal, disaat ia membayangkan Donghae saat membuat lukisannya, ia tak membayangkan akan seperti apa orang dalam lukisannya tersebut.

.

“Kau harus bisa memasak, Hae! Aku ingin lain kali kau yang menyiapkan sarapan untukku.” Ujar Kibum saat dirinya sibuk menyiapkan sarapan untuk keduanya, sedangkan Donghae duduk manis menunggu Kibum.

“Aku bisa memasak air.” Jawab Donghae tanpa dosa. Setahun bersama Kibum, ia tak pernah sekalipun memasak untuk Kibum. Ingatlah siapa Donghae? Yang bahkan, jika kalian ingin tahu, ia hanyalah sebuah ilusi dari bayangan gila seorang Kibum, yang entah bagaimana caranya, bisa hidup dengan sendirinya.

Kibum tersenyum. “Aku akan memasak selamanya untukmu.” Ucapnya kemudian.

.

“Kau sudah siap?” Tanya Donghae, setelah ia menunggu Kibum cukup lama di depan rumah. Kibum berkata akan membawa sesuatu, namun Donghae tak betah menunggu terlalu lama.

“Sudah.” Ucap Kibum sambil tersenyum ke arah Donghae. Ia dan Donghae, memang akan pergi ke suatu tempat, yang masih dirahaisakan olehnya.

“Sebenarnya kita mau kemana? Dan ini hari apa memangnya?” Tanya Donghae sambil menggandeng tangan Kibum.

“Ini hari ulang tahunmu, Hae.”

“Ulang tahun? Lalu, apa kau tahu berapa umurku?”

Kibum terdiam. Ia sungguh tak tahu. Ia bahkan bertemu Donghae satu tahun yang lalu, disaat Donghae tiba-tiba muncul tanpa identitas. Ingatlah kembali bahwa Donghae lahir dari sebuah ilusi, ilusi seorang Kim Kibum.

Kibum  mengecup kening Donghae. “Tak usah pikirkan itu.”

. 

Donghae terkejut, saat Kibum membawanya ke tempat dengan banyak orang. Banyak sekali, hingga Donghae merasa sedikit malu. Apalagi, setiap orang yang menemuinya, akan mengucapkan selamat ulang tahun padanya sambil memberi setangkai mawar padanya, hingga tangannya penuh dengan bunga.

Selanjutnya, Donghae kembali dikejutkan dengan ruangan yang penuh dengan lukian terpajang di dinding. Satu yang menarik perhatian Donghae adalah, salah satu lukisan yang dipajang terpisah dari yang lain. Itu adalah gambar dirinya, di antara ilalang yang mulai menguning. Donghae menatap Kibum, matanya seolah bertanya kepada Kibum.

“Itu kau.” Ucap Kibum singkat. Kibum lalu mengajak Donghae menghampiri lukisan tersebut. Membimbing tangan Donghae, menyentuh gambar tersebut, yang membuat Donghae tersenyum. Itu memang dirinya.

“Terima kasih..”

. 

Acara berlanjut, hingga Kibum dikejutkan dengan seseorang yang sangat dihormatinya. Kibum bahkan harus berdiri, untuk memberi hormat padanya. Ia memang sedang menjamu tamu lain, sedangkan Donghae, sedang pergi ke toilet, menurut penuturannya.

“Lama tak pulang, kau melakukan hal yang tak dapat kuduga.” Ujar seseorang yang tinggi dan terlihat berkarisma itu.

“Senang bertemu dengamu lagi, appa.”

“Kau bahagia? Lihatlah bahkan sekarang kau tinggal bersama karyamu yang indah, menurutku.” Ujar sang ayah menatap lukisan Donghae yang berada di ujung mereka. Di pajang di dinding, dengan hiasan kolam kecil buatan di bawahnya.

“Ya. Dia karyaku..”

“Bangga sekali..”

“Tentu saja.”

Kibum bercakap dengan sang ayah sambil sesekali melirik lukisan Donghae, hingga dilihatnya lukisan itu yang sedikit bergoyang tanpa sebab. Ah. Sepertinya lukisan itu tak dipasang dengan benar..

Kibum menyipitkan matanya. Yang menarik perhatiannya adalah, kolam di bawahnya. Ia menjadi gusar, dan mencoba berpamitan pada sang ayah, sejenak untuk memperbaiki posisi lukisan kesayangannya. Kibum ingat, saat tak sengaja ia menumpahkan sedikit air disana, saat itu tiba-tiba ia dapat melihat kulit Donghae yng melepuh seketika, meleleh, seperti lilin yang terbakar. Bukankah itu mengerikan?

“Hey! Tolong berhati-hati.” Kibum sedikit berteriak saat beberapa orang tengah melihatnya, dan sesekali menyentuhnya. Mereka tak mendengar Kibum, hingga akhirnya, apa yang ditakutkan Kibum terjadi.

“Agh!” Ia menjerit saat lukisan itu, jatuh begitu saja, masuk ke dalam kumpulan air yang tertampung di bawahnya, membuat warna-warna disana, memudar, dan terus memudar.

Kibum kalap! Ia berlari mencari Donghae, hingga kakinya melemas saat dilihatnya, hanya ada sisa seperti tinta, yang berhamburan di lantai kamar mandi.

“Donghae..”

Semua terjadi begitu cepat.

.

Kibum termenung. Ia harus kehilangan karyanya di saat hari bahagia. Disaat Donghae berulang tahun. Disaat ia menyiapkan semua hadiah itu untuk karyanya, miliknya, Donghaenya..

Kibum berdiri di antara ilalang-ilalang, tempat dimana ia membuat ilusinya, secara tak langsung menciptakan ilusi itu, juga bertemu dengan sang ilusi sebagai wujud karyanya. Bahkan karya itu, menemaninya hingga satu tahun lamanya. Memberi warna dalam hidupnya.

Namun semua hilang dalam sekejap mata. Begitu menyakitkan.

Kibum memejamkan matanya. Menyesapi rasa kehilangan yang begitu melanda. Direntangkannya tangannya, terulur menyentuh helaian ilalang yang bergoyang oleh hembusan angin.

Sesaat kemudian? Apa yang terjadi? Kibum merasakan sepasang tangan melingkar di pinggang miliknya. Kibum sadar, semua tak akan terulang untuk kedua kalinya. Ia tahu, bayangan Donghae begitu melekat, hingga ia kembali membayangkan Donghaenya, sekarang ada, dan memeluknya..

Sesuatu yang lain mengejutkan Kibum. Debaran jantung yang terasa di punggungnya. Apakah ia bermimpi?

“Aku merasa terlahir kembali..”

Suara Donghae menyapa pendengarannya. Kibum menyentuh tangan itu, lalu membalikkan badannya. Ia begitu terkejut, karena dapat kembali melihat Donghae.

“Kaukah ini?” Ucap Kibum tak percaya.

“Ini aku.” Jawab Donghae tersenyum, lalu memegang kedua sisi wajah Kibum, memberi kecupan singkat di bibir Kibum. “Rindu padaku?”

“Sangat!!”

Kibum tak percaya. Ia memeluk Donghae erat. Sangat erat. Hingga kegiatannya terhenti saat mendapat panggilan di ponselnya, yang juga menjawab bagaimana Donghae bisa kembali..

Appa sudah memperbaiki lukisanmu. Kau senang?”

END

Ngerti gak? Entah mengapa dari semua karya, saya suka yang ini. Ini pendek? benar! Ini membingungkan? Benar! Saya benar-benar menguras otak buat bikin yang satu ini. Dan ujungnya? Ini Donghae ilusi Kibum apa bukan? Saya pikir, jawabannya terserah otak kalian berfikir ke arah mana, :) 

15 thoughts on “ILLUSION

    Laila .r mubarok said:
    April 12, 2013 pukul 4:57 pm

    Aku ingeeeeeeeet, pernah dipost dffn kan?

    Demen banget ma setting tempatnya.. Di antara ilalang” tinggi.. Uuh so sweet bnget

    BryanELFishy said:
    April 12, 2013 pukul 11:07 pm

    Kyaaaaaaa~
    kurang :3

    keinget lukisan monalisa jadinya.
    tapi, tapi, tapi
    suka ^^
    mau lagi Eonnie~

    Elfisyhae said:
    April 12, 2013 pukul 11:47 pm

    Saya fkir donghae bkal mati. Trnyata ugk. .

    masrifah lubis said:
    April 13, 2013 pukul 1:47 am

    benar kan ini lom ku baca, ni ada lanjutannya gak

    ndah951231 said:
    April 13, 2013 pukul 4:48 am

    kalo dengan melukis begitu donghae bisa langsung muncul didepan mata, ndah juga mau kali eon xD

    iyaaaa, ini manis walaupun pendek~
    poppo hae :*

    appa-nya bummie baik banget deehhh~

    nia na yesung said:
    April 13, 2013 pukul 9:52 am

    Aku jg Mau Ngelukis Donghae Ah , Siapa Tau , Ya siapa Tau Hae Tiba2 ada di depan Aku kkkkkk ,,,
    Mimpi Bgt dah ,,,,
    Huhhhhh aku pikir donghae akan Hilang Untuk Selama.a ><
    Kasian Kibum Klo gtu , untung Appa.a kibum Berbaik hati Memperbaiki hae ^^

    Oh iia ni ada lanjutan.a gak ….. ???

    Shin Y said:
    April 13, 2013 pukul 2:24 pm

    heeee?? ilusi yg jadi nyata,, mau ddoong,, hahaha

    aku pikir bkal ending dg hae yg menghilang,, syukur deh kihae brg lagi,, kkk

    namihae said:
    April 15, 2013 pukul 11:36 pm

    kirain endingnya kibum bakal ktemu ama org lain yg berperan sbgai hae di dunia nyata~ kkk~ tak taunya lukisannya diperbaiki dan hae hadir kembali masih dlm bentuk ilusi?

    hyukhaeminoo said:
    April 21, 2013 pukul 4:49 am

    kyaa kyaa….nemu ep ep kihae,wekekekekekekekeke,…kurain kibum bakal bener2 kehilangan umma…ternyata umma balik lagi,hehe

    niea_clouds said:
    April 21, 2013 pukul 5:58 am

    klo hae muncul krn objek lukisan kibum , knp kibum ga lukis Hae lg supaya Hae muncul lg ???

    Ruoxi said:
    Mei 4, 2013 pukul 9:07 am

    Aku suka tulisan tangan yang seperti ini ^^ Ceritanya membekas dihati❤

      sugihhartika responded:
      Mei 4, 2013 pukul 11:32 am

      yangsatuiniDihatisayapunmembekas,:’))

    Vheroniicha said:
    Juni 7, 2013 pukul 2:50 pm

    Sweet bangett..
    Sederhana tp kesannya dalam..

    casanova indah said:
    Oktober 28, 2013 pukul 8:45 am

    huwaaaa,, kirain donghae ga akan kembali lagi..
    wah, coba aq bisa mewujudkan ilusiku spt itu, pasti dongahe
    dah muncul dikamarku… #mengahayal😀
    tp knapa kibum ga pnya niat melukis donghae kembali?
    untung sang appa baik hati jd donghae bs kembali lg…

    elakhe said:
    September 27, 2014 pukul 10:26 pm

    Hwaaaa bagus! Kirain Kibum aja yang bisa liat Donghae ternyata semua orang juga bisa😀
    itu yang ajaib apanya kanvas?kuas?atau catnya?(banyak nanya!)pengen ngelukis semua member SJ!jadi dirumah punya replikanya member SJ!(tapi kan gak bisa ngelukis) mian banyak ngomong!🙂
    (salam kenal new reader)🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s