THE BLACK ROSE [Part 2]

Posted on Updated on

Title : Want to be My Friend?

Genre : Friendship/brothership – Mystery – Fantasy

Rating : PG

Summary : Apa mereka penyihir? Apa di dunia ini terdapat magic? Semuanya membingungkan..

[Part 2; Want to be My Friend?]

Cast:

Lee Donghae [Aiden Lee]

Kim Kibum [Bryan Kim]

Park Jungsoo [Denis Park]

Kim Heechul [Casey Kim]

Joshua Tan [Tan Hankyung]

°°°

Menapaki siang dengan matahari yang meraja di atas langit..

Aiden tengah merenung di antara jendela yang terbuka dengan kedua tangan yang saling bertumpu di atas batas jendela. Sepoi angin menggerakkan helaian rambut di sekitar keningnya. Sejuk ia rasa, hingga hatinya menjadi tenang seketika.

Dapat ia lihat di bawah sana, sebuah pagar rose. Tumbuhan yang indah, namun tak indah bila mengingat ia bisa tiba-tiba terjerat di antara bagian durinya.

Perlahan ia angkat kedua tangannya, mengantarkan beberapa goresan luka yang masih basah disana pada kedua matanya. Terlihat! Jelas luka itu terlihat. Luka yang cukup banyak. Bayangkan saja, dirinya berada di antara kumpulan duri bunga rose tadi pagi. Entah apa jadinya jika Casey dan Denis tak menolongnya.

Sejenak ia mengingat, apa yang ditanyakan baik itu oleh Denis dan Casey beberapa jam lalu.

“Kau datang darimana, Aiden?”

“Dimana rumahmu? Katakan agar kami dapat mengantarmu pulang..”

Aiden menghela nafasnya, lalu berkata “aku tak tahu!”, sama seperti jawabannya pada kedua kakak barunya tersebut tadi. “Aku lupa semuanya,” desahnya, dengan kepala mulai tertunduk lesu. Ia terlihat kebingungan, hingga pintu ruangan yang tengah ia tempati, terbuka.

“Casey!!”

Lengkingan suarapun terdengar. Mengagetkan Aiden yang tengah menikmati kesendiriannya dan dengan segera, melihat keberadaan seseorang yang baru datang tersebut. Seseorang dengan ukuran tubuh yang tak jauh beda darinya, dengan tinggi kira-kira 120 cm dan tubuh yang tak terlalu kecil juga besar, seperti dirinya.

“Kau siapa?” cetus Aiden dalam suara yang masih terdengar terkejut dan juga ragu. Matanya bergerak, sesuai dengan pergerakan yang dilakukan sosok tersebut, yang melangkah ke arah dekat ranjang, lantas..

Brukh.

Ia menyimpan buku dalam dekapannya, bersamaan dengan tas yang terbanting di atas ranjang. Sosok itu, terlihat dingin dan sangat menakuti Aiden, lebih dari Casey yang menyeramkan, membuat Aiden bergerak dari posisinya, lantas merapatkan tubuhnya pada dinding di dekatnya. Ia bahkan lupa menutup kembali jendela yang telah ia buka.

“Seharusnya aku yang bertanya!” cetus sosok tersebut, yang kini sudah terduduk di atas ranjang, dengan tangan bersila di dadanya. Dan matanya, tak sedikitpun melepas sosok Aiden. Mengunci Aiden dengan setia dalam pandangannya yang tajam. “Ini kamarku!” dengusnya.

“Oh! Maaf..” sesal Aiden. “Aku tak tahu, karena Casey dan Denis tak mengatakannya,” ucapnya sambil berdiri tak nyaman. “Mereka hanya bilang..”

“Sudahlah!” sosok itu menangkis ucapan Aiden. “Aku tak tahu kau siapa! Aku tak peduli pada Casey dan Denis. Tapi ini kamarku!” ketusnya.

“Huh?”

Aiden tampak melongo, terkejut dengan ucapan yang terdengar tak nyaman di hatinya, namun, sebuah suara yang lebih dingin dan menyeramkan, membuatnya harus segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Ya, baru saja ia mendengar sebuah peringatan, “apa kau bodoh?”, lalu “keluar dari kamar ini sekarang!”

Aiden kalah, terlebih iapun tak berhak berbuat semaunya di tempat tersebut. Maka, dengan sedikit terbirit, ia mencoba keluar dari kamar tersebut, dan berakhir dengan jemarinya yang menutup pintu dengan sangat hati-hati, seolah takut sosok dingin itu akan berteriak marah bila ia membuat suara bising yang akan mengganggunya. Dan tak lupa bibirnya bergumam “maaf..” dengan sangat lucu.

Casey mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu yang kini berisi berbagai hidangan. Ia tengah memandang kesal, pada seorang bocah yang terlihat tak peduli padanya dan hanya tertuju pada barisan kata dalam buku yang tengah ia baca. “Hey, dengar aku, Bryan Kim!!” geram Casey akhirnya.

Denis dan Aiden, hanya diam memandang Casey yang tengah geram. Terlihat dari Casey yang tengah menggertakan giginya, mencoba menahan amarah yang begitu meluap-luap. Salahkan wajah Bryan, adiknya sendiri yang begitu dingin, mengabaikannya.

Aiden masih memegangi sendok di tangannya. Sendok yang belum menyentuh satu makananpun yang terhidang. Kala itulah, Bryan, bocah dingin itu melipat sedikit salah satu helaian kertas dalam bukunya. Ia lalu menyimpan buku tersebut di atas meja, tepat di dekat piringnya dengan tenang.

“Sudah selesai membacanya?” sindir Casey akhirnya. “Hentikan kebiasaan membacamu yang berlebihan, Bryan!” cetus Casey, meski tetap tak mendapat tanggapan berarti dari Bryan. Anak itu tetap diam meski kini telah menatap Casey.

“Kenapa melarangku membaca?”

Wajah Casey semakin keruh dengan penuturan Bryan, membuat urat-uratnya menegang. “Matamu akan rusak!” cercahnya, menimpali ucapan Bryan yang terdengar seenaknya. “Membaca terlalu banyak di bawah cahaya lilin, akan membuat matamu rusak, Bryan Kim! Masih banyak siang yang lain!” omelnya tak tertahankan. “Dan juga, hey!” lanjutnya tertahan dalam amarah yang tersendat di antara tenggorokannya, saat Bryan, malah menyendokkan nasi ke dalam piringnya di antara omelan Casey, membuat Casey geram dan lantas mengambil piring Bryan yang sudah terisi oleh sedikit nasi. “Dengarkan aku bicara!” sentaknya.

Bryan bergeming kali ini. Ia segera menekuk wajahnya sambil memandang Casey dengan sebal setelah menyimpan kembali sendok nasi pada tempatnya.

“Aiden akan tidur bersamamu, tak ada bantahan!” titah Casey akhirnya mengajak Bryan kembali pada pokok pembicaraan.

“Aku tak mau,” bantah Bryan dengan tegas.

“Harus mau!” paksa Casey, sedang Denis mulai terlihat tak peduli lalu memberikan sesendok nasi di atas piring Aiden sambil bergumam ‘jangan dengarkan mereka, makanlah..’ membuat Aiden mengangguk bingung. Ia merasa serba salah.

“Aku tak mau! Kenapa dia tak tinggal di kamarmu saja, Casey!” serang Bryan.

“Kalian sebaya,” tukas Casey.

“Itu tak ada hubungannya, aku tak mau!”

Casey menahan nafas di detik kemudian. Ia memicingkan matanya pada sang adik, lalu di antara senyum yang terlihat menyebalkan itu, ia berkata “jika kau keras kepala, tak ada uang untuk jatah buku selama 10 minggu lamanya!” ancamnya.

Bryan terperanjat. Untuk sesaat dilihatnya lipatan dalam buku yang tengah ia baca. Itu ada di bagian halaman belakang, yang berarti, bacaan bukunya di minggu ini sudah hampir selesai. Di sisi lain Casey tersenyum menang. “Sudahlah!” tuturnya dalam tawa tertahan. “Aku tahu, kau tak akan bisa hidup tanpa membaca, Bryan Kim! Aku tahu itu!” cetusnya penuh dengan nada riang.

Bryan mendengus sebal dan semakin menekuk wajahnya. “Terserahmu saja,” rutuknya lantas turun dari kursi dan meninggalkan acara makan di malam itu, setelah sebelumnya sempat ia lihat seorang Aiden yang memandangnya dengan tatapan tak enak.

“Makanlah dulu, Bryan..” sanggah Denis melihat kepergian Bryan, sebelum anak itu menyentuh makanannya.

“Aku tak lapar!” tolak Bryan dengan nada dinginnya dan benar-benar meninggalkan ketiga orang yang masih tersorot cahaya lilin di ruang makan tersebut.

“Biarkan dia Denis!” timpal Casey, masih tersenyum.

Hening, hingga Aiden berkata “maafkan aku,” dengan penuh penyesalan, dan satu usapan tercipta, dari tangan Denis yang tersenyum menenangkan padanya.

“Tidak apa-apa,” tukas Casey. “Makanlah, dan setelah ini, kau boleh tidur. Di kamar Bryan tentunya..” terang Casey, bersamaan dengan suara keras akibat dari bantingan sebuah pintu yang cukup kencang.

Aiden mendengar dan menyadari arti dari suara keras itu, lalu kembali menatap Casey dan berkata, “Tapi dia..”

“Dia sudah mengijinkannya, kau tenang saja..”

Aiden memandang miris ke arah ranjang, dimana Bryan berada disana. Terbaring dengan selimut menutup seluruh tubuhnya. Hanya sedikit sisa tempat yang Bryan sisakan untuk dirinya, terlebih, tak ada ranjang lain disana.

Dengan gerakan pelan, mencoba tak membuat suara gaduh, Aiden terduduk di sisi ranjang sempit yang merupakan sisa tempat dari Bryan untuknya. Wajahnya terlihat gusar, dan sesekali memandang Bryan yang nyatanya tak dapat ia lihat karena tertutup selimut.

“Itu..”

Selang beberapa menit, bibirnya yang terasa kelu mulai berkata. “Bryan..” ucapnya membuat Bryan mengubah posisi tidurnya. “Bryan..” ucapnya lagi, dan kali ini, Bryan terdiam. Sedikit helaan nafas mengalun dari bibir Aiden. “Bolehkah kunyalakan lilinnya?” ucapnya akhirnya. Sepertinya ia takut akan kegelapan, karena memang, Bryan mematikan lilin di ruangan tersebut.

Terdengar dengusan pelan dari balik selimut. Itu adalah Bryan tentunya, yang terlihat tak senang akan penuturan Aiden.

“Aku sungguh tak suka gelap,” gumam Aiden, dengan suara pelan, tak berani mengutamakan inginnya di hadapan sang pemilik kamar. Ia tak ingin terlalu lancang ketika bertamu.

Aiden perlahan membaringkan tubuhnya, dengan ruang kosong seadanya di ranjang tersebut. Tanpa selimut, karena sang pemilik kamar, telah menguasainya seorang diri. Nampaknya, Denis dan Casey melupakan hal kecil tersebut.

Keadaan berubah senyap, diiringi bunyi semilir angin yang menyibakkan tirai jendela di kamar itu, mengijinkan cahaya bulan memasuki ruang gelap tersebut. Aiden sedikit bernafas lega, karena akhirnya dapat menemukan setitik cahaya. Hingga dirasanya, Bryan bergerak di sampingnya. Aiden menoleh tentu saja. Dan selang beberapa detik kemudian, dilihatnya tangan Bryan yang keluar dari persembunyiannya, lantas..

Cetrek..

Lilin menyala, dengan perintah satu jentikan jari Bryan membuat Aiden terperanjat lalu terduduk dengan tergesa. Apa yang baru saja ia lihat?

“Apa kau bisa sulap?” tanya Aiden dengan raut terkejut di wajahnya. Ia dengan serius menatap Bryan namun, tetap tak terlihat karena nyatanya Bryan tak ingin menampakkan wajahnya, dan dengan satu hentakan kuat pada tempat tidurnya, Bryan bergerak untuk membelakangi Aiden, dan tak berkata sedikitpun.

‘Baiklah..’ gumam Aiden dalam hati. Untuk kali ini, ia anggap itu adalah sebuah kebetulan saja. Anggap saja, dirinya tengah berada di dunia sulap, atau berada dalam film sihir dan sebagainya.

Lupakan! Kini Aiden dapat tertidur dengan tenang karena lilin telah menyala.

Masih terlalu dini. Di pagi buta itu, tak sengaja Aiden bangun dari tidurnya. Jelas ia merasa tak nyaman. Dengan ruang yang sempit, dan dingin yang langsung menyerang kulit, karena ia tak mengenakan selimut serta piyama yang dikenakannya, adalah piyama dengan lengan pendek. Ia terus bergerak-gerak tak nyaman, hingga mengganggu Bryan di sampingnya yang seketika bangun dengan gerakan kesal.

“Bisakah kau diam?!” sentak Bryan dalam bisikan yang begitu tajam.

Aiden tak membalas. Ia hanya berkedip, menatap Bryan yang sudah terduduk sambil turut memandangnya dengan geram. “Maaf..” ucapnya pelan. Lagi dan lagi, ia berucap pelan, seolah tertekan akan sikap Bryan padanya.

“Huh!” Bryan mendengus kesal lalu kembali tertidur, setelah ia melempar selimut yang dipakainya tepat di atas tubuh Aiden. Sikap dingin seorang Bryan Kim, terlihat mencair dan perlahan menghangat di mata Aiden Lee.

Maka saat itu juga, Aiden tersenyum lantas menarik dan melebarkan selimut tersebut. Membuat selimut berwarna hijau dengan corak kuning tersebut, menutupi tubuhnya, dan juga tubuh Bryan. Ya. Seorang Aiden tak egois. Ia berbagi selimut tersebut dengan pemiliknya meski, dengan cepat Bryan menyingkirkan helaian selimut tersebut, dan hanya menutupi sebagian kakinya saja. Dan Aiden semakin menahan tawanya, namun..

“Tidur!” sergah Bryan, seperti mengetahui Aiden tengah mentertawakannya.

“Tapi sebentar lagi pagi,” timpal Aiden kemudian.

“Tak masalah jikapun bangun siang,” balas Kibum membuat Aiden semakin tersenyum senang. Bryan, mulai berbicara banyak padanya, dan terdengar ramah.

Tak terasa, cahaya mulai menerangi sebagian bumi yang tengah di tempati oleh mereka, Aiden, Bryan, Casey dan juga Denis. Matahari bersinar dengan indah, memancarkan sinar yang begitu terang.

“Apa tidur kalian nyenyak?” tanya Denis ramah, dengan tangan yang tengah memegangi beberapa gelas lantas menyimpannya di meja.

“Tidak,” jawab Bryan dingin seperti biasa. Ia terlihat masih mengantuk. Terbukti dengan mulutnya yang terus menguap lebar. “Dimana Casey?” tanyanya sambil melirik ke segala penjuru ruangan yang berbahan kayu tersebut.

Denis yang tengah menuangkan susu ke dalam beberapa gelas cantik yang terpajang di hadapan mereka, melirik ke arah Bryan sambil tersenyum. “Ia sedang membelikan beberapa helai pakaian untuk Aiden,” jawabnya, mengundang satu lirikan mematikan dari Bryan, kepada Aiden.

“Oh, ya, itu bagus!” timpal Bryan kemudian. “Jangan sampai dia memakai piyamaku lagi,” cetusnya, membuat Aiden melihat ke arah piyama yang masih dikenakannya. Benar! Ia tak sadar, memang siapa lagi yang memiliki baju dengan satu ukuran dengannya di tempat tersebut? Hanya Bryan tentu saja.

“Berbaik hatilah sedikit, Bryan! Dia tamu kita,” tutur Denis sabar. Sesungguhnya, ia yang cerewet, tak pernah bertengkar dengan siapapun karena sifat sabarnya yang terlalu kuat. Bahkan Bryanpun sebenarnya, sedikit sulit jika harus menghadapi Denis yang selalu bersabar untuknya.

“Aku,” tutur Aiden sambil menggaruk kepalanya. Sedang Denis sudah menatapnya dan mengatakan agar dirinya melanjutkan kata tersebut. “Aku berterima kasih,” ucap Aiden pada akhirnya. “Terima kasih atas segalanya..”

Denis tersenyum lantas menyodorkan satu gelas susu pada Aiden. Ia berkata “minumlah sebelum dingin, dan berhenti bersikap sungkan, Aiden. Kami senang melihatmu..”

Bryan mengangkat bahunya tak peduli lantas meneguk susu bagiannya. Dan di saat itu Denis bertanya padanya, “kau tak sekolah?”, sedang Bryan menatap Denis dari ujung matanya, karena ia tengah meneguk susunya hingga tak sempat menjawab. Namun di samping itu..

“Oh!” pekik Aiden tiba-tiba. “Bryan, kau sekolah?” tanyanya dan Bryan, hanya mengangguk singkat. “Pasti itu menyenangkan, ya?” tanya Aiden lagi, namun Bryan menjawab “tidak,” dengan ketusnya. Aiden segera menekuk wajahnya. Ia mulai bereaksi pada sikap dingin Bryan yang semakin menyebalkan.

Di sisi lain, Denis terkikik geli. “Bryan tak senang di sekolah, karena ia tak punya teman. Bukan begitu, Bryan Kim?” jelas Denis, membuat Bryan mendelik tajam padanya. Denis tak terlihat takut. Ia masih bisa menampakkan wajah hangatnya, sambil tertawa hambar pada Bryan.

Bryan mendengus kesal ke arah Denis. Ia kesal tentu saja, meski rasa kesal itu, tak tertuang lewat kata dari mulut tajamnya. Bagaimanapun, ia tak berani berkata kasar pada seorang Denis yang lembut. “Lupakan!” timpal Bryan kemudian, mempersingkat perbincangan mengenai hal tersebut.

“Baiklah,” ungkap Denis akhirnya, lalu berkata “jika kau tak sekolah maka kau bisa menemani Aiden di rumah, kan?”

Untuk yang satu ini Bryan membulatkan matanya ke arah Denis. Wajahnya begitu terlihat tak setuju dengan penuturan Denis namun, pria dewasa tersebut memandangnya dengan senyuman. “Bagaimana lagi?” tanyanya, namun tak membutuhkan jawaban. “Aku akan mengurus roseku dulu. Setidaknya, Tunggulah hingga Casey pulang,” jelas Denis kemudian.

Bryan mendesah kecil, hingga Aiden berinisiatif untuk menemukan sebuah jalan, agar dirinya tak selalu harus membuat Bryan terlihat kesal padanya. “Bagaimana jika aku ikut denganmu?” tanyanya, mencoba agar dirinya sendiri tak harus selalu membayangi Bryan yang jelas-jelas tak menginginkan keberadaannya.

Denis memandang Aiden dengn kerutan di keningnya. “Kau yakin?” tanyanya, dan mendapat anggukan dari Aiden. “Dengan piyama itu?” tanyanya lagi, kali ini membuat Aiden ragu. “Kecuali jika Bryan meminjamkan baju lain padamu, bagaimana Bryan?” tawar Denis.

Dan Bryan?

“Tidak!!” tolaknya keras, hingga akhirnya mulutnya berkata, “lebih baik kami menunggu Casey,” sambil beranjak menuju kamarnya.

Denis tertawa, namun Aiden memandangnya dengan satu gelengan pada kepalanya. “Aku tak ingin mengganggunya Denis,” ucap Aiden, namun Denis, mengapit dagu Aiden dengan jarinya, lantas mengangkat wajah Aiden.

“Kau tak usah takut padanya, Aiden..”

Aiden menggeleng. “Aku hanya takut mengganggunya, Denis. Bisakah kau bawa aku? Atau tunggulah hingga Casey pulang,” tawar Aiden dalam getar suara, yang menyiratkan sebuah keraguan yang luar biasa.

“Tidak akan apa-apa. Percayalah..”

Bryan hanya membaca sisa bacaannya yang hanya menyisakan beberapa lembar saja, sedang Aiden hanya memandangi salju dari balik jendelan ruangan, dimana mereka berada kini. Sesekali Aiden akan mentertawakan dirinya sendiri, kala tiap ucapannya tak digubris Bryan sama sekali.

Hingga lembar terakhir, dan Bryan menyelesaikan bacaannya. Dan satu tatapan ia berikan, pada Aiden bersamaan dengan bukunya yang menutup sempurna. “Kau bosan?” tanyanya tiba-tiba membuat Aiden terperanjat.

“Ungh..” Aiden nampak bingung, dan menjawab ragu. “Tidak terlalu,” jawabnya dan dibalas oleh satu decakan pelan.

“Pembual!” bantah Bryan, sambil berdiri dan berniat meninggalkan Aiden jika saja, Aiden tak mengekori langkahnya.

“Kau mau kemana?” tanya Aiden, dan Bryan, tak menjawab ataupun melarang Aiden yang selanjutnya, hanya mengekor di belakangnya. Kening Aiden mengkerut seketika kala Bryan nyatanya berjalan lurus ke arah pintu yang tadi dituju Denis saat akan keluar. Aiden masih ingat. Ya. Itu adalah pintu keluar. Maka sontak Aiden bertanya, “apa kau akan keluar?” karena ia terlalu takut ditinggal sendiri di dalam rumah tersebut.

Bryan tak menjawab, hingga saat dibukanya pintu tersebut, Aiden semakin tak percaya pada apa yang ia lihat. Pintu tersebut, ternyata membawa keduanya pada sebuah ruangan redup, dengan lemari antik berbahan jati. Lemari dengan banyak buku di dalamnya.

“Bryan,” ujar Aiden mencoba mengimbangi langkah Bryan. “Itu, sebenarnya..” ucapnya ragu, kala Bryan tengah berjinjit saat akan menyimpan bukunya di rak yang agak sulit dicapai.

Bryan menangkap keraguan di balik nada bicara Aiden. “Ada apa, Aiden Lee?” tanya Bryan, masih dengan nada ketusnya.

“Kupikir, itu pintu keluar,” tutur Aiden sambil menunjukkan pintu yang membawa mereka ke dalam ruang tersebut. “Tadi Denis keluar dari pintu tersebut, aku melihatnya, sungguh! Atau, kebun rosenya ada di sekitar sini?” ricuh Aiden, mulai mengoceh.

Bryan memandang heran pada Aiden. “Apa kau melihat Denis dan bunga rosenya disini?” umpatnya, karena Aiden nampak bodoh di matanya.

Aiden tersadar dari pemikiran bodohnya. Benar! Ia telah bodoh jika berfikir bahwa Denis dan bunga rosenya berada dalam ruangan tersebut. Ruangan yang lumayan sempit, dengan dinding kayu dan penuh dengan lemari buku. Bahkan tak nampak satu jendelapun..

“Kau salah lihat, Aiden! Jangan berfikir macam-macam,” dengus Bryan lantas kembali berjalan ke arah pintu, dan hendak kembali memasuki rumah. Ia memandang kembali Aiden yang masih terpaku dalam fikirannya. “Kau tak ingin kembali bersamaku?” tanya Bryan kesal.

Oh! Jaraknya dan Bryan lumayan jauh, dan Bryan sudah berada di ambang pintu, dengan tatapan dinginnya seperti biasa. “Iya,” balas Aiden sambil mulai melangkah kecil, namun ia tak sempat menghampiri pintu tersebut, hingga sang pintu menutup kembali sebelum ia melewatinya.

Apa masalahnya?

Aiden tak berfikir apapun, dan hanya membuka pintunya kembali. Namun apa yang terjadi? Matanya memandang takjub. Bagaimana tidak, bahkan ia melihat pemandangan lain, bukan rumah dan juga Bryan! Ia berada di ambang sebuah pintu dengan keadaan ramai di hadapannya, tersorot terik matahari.

Ia menggaruk kepalanya, lalu, “apa-apan ini!” jeritnya frustasi.

Sementara di lain tempat, Bryan menyadari bahwa, pintu yang dibukanya baru saja, tertutup sebelum Aiden mengikutinya. Aiden yang tak mengetahui apapun, membuat Bryan cemas seketika. Dalam hati ia berharap, bahwa Aiden masih ada di dalam ruang perpustakaan pribadinya, namun, Bryan mendesah kecewa. Aiden tak ada, membuatnya diserang rasa cemas yang sedikit berlebihan.

Aiden mengacak rambutnya kesal, bercampur bingung. Baiklah! Ada beberapa kejadian janggal yang dia alami semenjak kedatangannya di kediaman Bryan dan juga kedua saudaranya yang lain. Casey yang jelas-jelas adalah sudara kandung Bryan, sementara Denis, hanyalah kerabat jauh. Hanya sebatas ini yang Aiden ketahui, setelah Denis menceritakannya kemarin.

Kembali pada hal aneh yang dialami seorang Aiden Lee. Dari mulai Bryan yang menghidupkan lilin hanya dengan satu jentikan pada jarinya. Kedua, adalah pintu yang sama yang di lewatinya. “Aku yakin hanya ada satu pintu disana!” rutuk Aiden kemudian berfikir tentang pintu aneh di rumah tersebut. Aneh, karena sang pintu dapat mengantarkan mereka pada tempat berbeda. Membawa Denis entah kemana, sedang dengan pintu yang sama, pintu tersebut mengantarkannya pada sebuah ruang dengan buku yang banyak, dan tak ada Denis beserta bunga rosenya disana.

Kini Aiden linglung. Berjalan di antara ramainya orang yang satupun, tak ada yang ia kenali. Orang-orang yang berlalu lalang dengan tujuannya masing-masing. Tempatnyapun tak ia hafal. Hanya beberapa gedung yang cukup modern dengan kendaraan seperti biasa. Aiden merasa sering melihatnya.

“Bryan!” bisiknya kemudian dengan pelan. Ia terlihat tak nyaman berada di antara keramaian tersebut. Bryan yang menyebalkan saja, bahkan lebih baik daripada keramaian saat ini, pikir Aiden. “Kau dimana?” tanyanya entah pada siapa. Matanya terus mencari sosok Bryan, atau setidaknya Casey? Atau Denis? Namun mereka tak ada di sampingnya kali ini.

Terus kakinya melangkah tanpa tujuan, hingga tiba-tiba, tercipta sebuah tubrukan pada tubuhnya, membuatnya terjatuh denga ringisan pelan, bersamaan dengan darah yang keluar dari sikunya. Terdapat tambahan luka disana..

“Oh! Maafkan aku,” ujar sosok yang baru saja menubruknya.

“Tidak apa-apa,” balas Aiden sambil menundukkan kepalanya, takut. Ia sangat ketakutan mendapati sosok asing tersebut. Ia ketakutan, padahal sosok itu, tak memiliki tubuh yang lebih besar daripada dirinya.

“Eh? Kau anak baru?”

Aiden mendongak seketika. Ia menatap sosok yang lagi terlihat seperti seusianya, tengah berkedip menanti jawaban darinya. Aiden bingung. Anak baru? Siapa? Dirinyakah? Maka dengan bingung Aiden hanya menggelengkan kepalanya tak jelas.

“Kau anak baru, dan..” sosok itu tampak mengamati Donghae, hingga di endusnya tubuh Donghae, dan berakhir dengan cengkraman kuat pada bahunya, dengan bisikan di telinganya. “Kau dari Rose?”

Aiden semakin menggeleng tak karuan. Ia tak tahu, Rose? Ia tak tahu!

Cengkraman pada bahunyapun terlepas. “Berani sekali kau keluar dari tempatmu? Kau tak takut pada Joshua Tan? Dimana pelindung kalian?” tanya sosok itu dengan seringaian yang semakin menjadi.

“Aku tidak tahu..” jawab Donghae bingung dalam suara bergetar. Dan bersamaan dengan itu, satu cengkraman telah mengunci lengannya.

“Ikut aku! Joshua pasti akan senang melihatmu,” bisiknya dengan cengkraman yang semakin kuat pada lengan Aiden.

“Aku tak mau!” tolak Aiden dengan tegas meski tak dapat melawan.

Aiden semakin mengernyit bingung dalam raut wajah takutnya. Sementara itu, tubuhnya terus diseret seseorang tersebut. “Lepaskan!” jeritnya, merasa cengkraman itu begitu menyakitinya. Ada banyak sosok baru yang ia temui beberapa hari ini, tapi? Tak ada yang memperlakukannya seperti sekarang. Begitupun Bryan yang tetap baik padanya, meski air mukanya begitu dingin.

“Salahmu, berkeliaran bebas disini!”

Aiden sudah hampir menangis di seret sedemikian rupa. Kini ia sudah berada pada jalanan sepi. Jalan dimana hanya kakinya dan sang penyeret yang menapaki jalanan tersebut. Jalanan tanah, berlapis debu yang bertebaran di karenakan cuaca yang begitu panas.

Aiden, menjerit-jerit tak karuan, terlebih kala matanya menangkap sebuah gedung megah jauh di depan sana layaknya istana yang dikelilingi dengan gerbang rose hitam. Perasaan tak enak, mendesak jiwanya seketika, hingga..

Keanehan selanjutnya, masuk dalam jarak pandangnya. Keanehan yang mampu membuatnya bernafas lega sambil berteriak, “Bryan!” dengan matanya yang terbuka lebar. Aneh, karena baru saja, Bryan datang dari dalam pohon dengan kulit terbuka.

“Lepaskan dia, Marcus!”

Sosok yang masih saja mencengkram lengan Aiden dengan erat, yang ternyata bernama Marcus itu, ia berdiri mematung, lalu melirikkan wajahnya pada Bryan. “Hai, Bryan..” sapanya dengan wajah meremehkan. “Baru saja aku akan membawanya pada Joshua,” tuturnya ringan.

Bryan, bocah dingin itu tersenyum sinis dengan satu sudut bibir yang terangkat. “Coba jika bisa!” ucapnya tajam, bersamaan dengan satu ranting tajam, menyentuh kulit tangan Marcus yang tengah menggenggam lengan Aiden, berakhir dnegan genggaman yang turut terlepas. Satu titik darah hitam keluar..

Oke! Aiden melihatnya, dan sudah tak berminat untuk menghitung berapa banyak hal aneh yang dilihatnya.

“Kau selalu tak sabar!” rutuk Marcus, mencibir sambil mengusap darah hitamnya.

Bryan berdecak. “Bukankah itu terbalik?” ucapnya. “Kita selesaikan semua setelah dewasa nanti,” tuturnya dengan tangan langsung menggapai tangan Aiden yang tengah berlari padanya. “Tak baik jika anak-anak berkelahi, bukan?” ucapnya lagi.

Marcus mendengus sebal..

“Kita bertemu lagi nanti, Marcus! Katakan pada Joshua, segeralah bersiap-siap..”

Aiden semakin bingung namun, terlihat rumit untuk menanyakan semuanya saat ini. Hingga Bryan kini yang menggenggam tangannya, membawanya meninggalkan Marcus yang masih mematung serta terdengar merutuk tak jelas.

Aiden benar-benar terkesima, menatap pintu yang baru saja dibuka Bryan yang mengantarkannya pada ruangan yang begitu Aiden rindukan. Tempat dimana hanya ada dirinya, Casey, Denis dan juga Bryan yang dingin tentunya.

“Oh!”

Aiden terus bernafas lega sambil menepuk-nepuk dadanya. Sejenak ia teringat, bagaimana semuanya dapat terjadi, hingga dilirknya Bryan dengan tajam. Baru kali ini ia berani menatap Bryan seperti itu. “Apa kau seorang penyihir jahat?” tanyanya tajam.

“Huh?”

“Sebenarnya siapa kalian?!” raung Aiden, sambil sekuat tenaga, menahan tangisnya. “Kau sengaja ingin membuangku dengan sihirmu? Mengantarku ke dunia lain dengan pintu ajaib kalian?!” Omel Aiden tak tahan.

“Apa yang kau katakan!” sergah Bryan mulai memperingati namun, tak membuat Aiden bergeming dari marahnya.

“Aku takut!!” ucap Aiden akhirnya dengan tangis tertumpah. Tangisan panjang, yang sebanding dengan rasa takutnya beberapa waktu lalu tersebut.

Bryan membuang wajahnya pada sisi lain. Ia sedikit menghela nafasnya, hingga berkata “maaf,” dengan tulus. Bukan salah Aiden jika ia marah, meski bukan sengaja pula Bryan melakukan hal yang baru saja terjadi.

Di antara isakannya, Aiden mendengar kata aneh yang terlontas dari mulut Bryan. Maka dengan segera, ia usap air matanya, lalu dengan wajah memerah, ia mendongak menatap Bryan dan bertanya “kau bilang apa?”

Bryan mulai berdecak sebal. Ia malas jika harus mengulang kata yang sebenarnya tak ingin ia ucapkan. Namun ia harus kembali mengatakannya. “Maaf..” ujarnya.

Aiden menahan tawa pada akhirnya. “Aku tidak mau!” ketusnya dengan mulut mengerucut.

“Hey!” Bryan berucap tak sadar.

“Aku tidak mau, jika kau tak mau menjadi temanku!” jelas Aiden, hingga membuat Bryan harus mengacak rambutnya frustasi. Aiden tak peduli. Maka dengan satu kerlingan di matanya, ia kembali berkata “kita teman bukan?”

Tak ada yang dapat Bryan Kim lakukan selain anggukan ragu, membuat Aiden bersorak seketika, lantas merangkul pundak Bryan.

“Kita teman!” pekik Aiden. Lalu seolah teringat, ia berkata “karena kita teman, kau harus menjelaskan semuanya padaku,” dengan bisikan nakal.

“Tidak! Berhentilah bicara jika kau ingin jadi temanku!” cetus Bryan membuat Aiden bungkam.

Apa yang terjadi? Biarlah semua terjawab dengan sendirinya..

°°°

Sekin dulu.. 

Muwehehehe~

40 thoughts on “THE BLACK ROSE [Part 2]

    Elfisyhae said:
    Mei 4, 2013 pukul 12:47 am

    Akhirnya lanjut. Saya suka bnget sma jlan ceritanya.

    BryanELFishy said:
    Mei 4, 2013 pukul 1:45 am

    bwahahahahahahaha~
    kalah juga dia xDD

    mau lagi Eonnie~
    butuh yang lebih panjanggggg…………

    tapi harus extra mikir kalo pake nama baratnya -_-“

      sugihhartika responded:
      Mei 4, 2013 pukul 6:07 am

      Emang ini kurang panjang Bryan? xDD

      hapalin nama barat mereka!😛

    masrifah lubis said:
    Mei 4, 2013 pukul 3:12 am

    hahahahaahh, sedingin2 nya sang snow white tetap luluh jga di hadapan sang fishi, lanjutttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt

    nia na yesung said:
    Mei 4, 2013 pukul 7:02 am

    Jujur aku suka Cerita yang kya gini ^^ apapun cerita yang di Perankan Donghae Aku Suka:)
    Aku tunggu kelanjutan.a …..

      sugihhartika responded:
      Mei 4, 2013 pukul 11:34 am

      OK! HeuHeu.

      Terima kasih udah ngikutin, xD

    Ruoxi said:
    Mei 4, 2013 pukul 8:51 am

    Sihir Sihir sihir !!!

    Aku baca Part II, Jadi binggung ngebayangi latarnya.karena Part I, Aku pikir ceritanya dunia kayangan gitu muahahahaha~

    Jadi mereka punya Pintu ajaib atau pintu kemana saja.Aiden perlu belajar memakainya ㅋㅋ

    Ada dua tempat atau kubuh.Disimpulkan Ada perbedaan ???

    Kalau mereka memiliki sihir aku pikir Denis pergi bukan bekerja kan?? aah lupakan Kenapa mereka memerlukan cahaya lilin?? Mereka kan penyihir !! Itu berarti mreka sembunyi ??

    Ditunggu chap 3nya ^^ Aku penasaran!

      sugihhartika responded:
      Mei 4, 2013 pukul 11:34 am

      Panjangnyaaaaaaaa~ xD

      Umh, gimana ya? Ada banyak sekali hal memang yang ingin saya utarakan disini. Dan semoga, tersampaikan untuk menjawab semua rasa penasaran ‘pemirsa’, ><

    arumfishy said:
    Mei 4, 2013 pukul 10:28 am

    Aaaaggghhggh lanjutttt oennn….sebnrnya Aiden dmn???trs dia punya kekuatan jg g???!seruuuu

    arumfishy said:
    Mei 4, 2013 pukul 10:31 am

    Agghhhhtt lanjutt Oennn…g sbar…
    Sbnrnya Aiden lg ditmpat apa???apa Aiden jg pnya kekuatan???…

    arumfishy said:
    Mei 4, 2013 pukul 10:35 am

    Lanjutttt Oen…seruuuu
    donghae jg punya kekuatan y Oen???si marcus sm Bryan musuhan oen??

      sugihhartika responded:
      Mei 4, 2013 pukul 11:45 am

      Banyak rahasia, xD eonn jawab di part selanjutnya ya,😀

    princelee86 said:
    Mei 4, 2013 pukul 12:40 pm

    Ayeeeeyyy.. akhirnya lanjutannya dipublish juga😀
    Bryan Kim dan Casey Kim jadi kakak adik itu bener bener pas ^^
    Oke masih banyak misteri dan masih banyak yg belum aku pahami juga. haha..
    Ditunggu kelanjutannya eonni ^^

    Calista said:
    Mei 5, 2013 pukul 6:56 am

    Kereeeennnnn, mantap2..lanjut chinggu, jgn lama2 ya. Hehe

    Laila .r mubarok said:
    Mei 5, 2013 pukul 11:34 am

    Yeeeeeey akhirnya bisa ke buka..
    Huuuftt..
    Kau harus tau prjuanganku membuka nih fic dri kemaren dn bru sekrang bisa kebuka, un..
    Hiks..

    Sudahlah hehe

    Eon, kyknya dpart1 heechul blng klo dia nyelmetin hae bklan ad yng marah.. Ntu sapa ya?

    Eeh trus si kibum ma kyu kok ga akur?
    Lanjuuut dong eon hehe

      sugihhartika responded:
      Mei 5, 2013 pukul 3:09 pm

      Harus tau? xD sok atu kasih tau,😀 kenapa baru bisa kebuka ya? HeuHeu..

      Nyonya lilith? Eonn ungkap perlahan ya Lail~😉

    namihae said:
    Mei 5, 2013 pukul 12:47 pm

    ini? masih penuh misteri >,,</

    namihae said:
    Mei 5, 2013 pukul 1:02 pm

    dan kemungkinan ini perselisihan antar kubu ya eonn? joshua ama casey?
    ngerebutin kekuatan aiden ya? penasaran ama jati dirinya aiden!

    masih pake lilin? mereka ad di abad apaa???
    kupas setajam sssssiiilleettt di chap slanjutnya \>,</

      sugihhartika responded:
      Mei 5, 2013 pukul 3:10 pm

      Iya sepertinya, HeuHeu~

      Kekuatan Aiden? Eonn belum bilang, xD Jiahhhhh!! Gak mau silet, maunya paranggg~

    taRie_Elfishy said:
    Mei 5, 2013 pukul 1:34 pm

    Numpang baca boleh ???
    Prologue nya beda…
    Part 1 nya singkat bgt..
    Part ini panjang tp msh penuh misteri ttg kehidupan Bryan,dkk..
    Siapa kah Aiden it ???
    Aq bayangin nya malah kyk zaman nya Harry Potter..
    Penasaran.

      sugihhartika responded:
      Mei 5, 2013 pukul 3:12 pm

      Boleh bayangin harry potter. Sihir sih ini. Makasih udah baca, saya senang! :’)

      prologue emang sengaja berbeda. Jawabannya saya buat di tiap part, dan perlahan. xD maaf jika membuatmu penasaran,😀

    Shin Y said:
    Mei 6, 2013 pukul 2:07 am

    kibum ih,, dingin abis deh,,, bagus hae,, kamu harus sok akrab ama dia,, wkwkw

    ga nyangka critanya bakal jadi magic2 ky gini…

      sugihhartika responded:
      Mei 6, 2013 pukul 8:34 pm

      xD

      ya, saya pake magic~ magic~ magic~

    niea_clouds said:
    Mei 6, 2013 pukul 9:57 am

    wkt coment di part 1 aq blg ny ngacir ke part 2 tp br skrg bs coment . . . hehe
    part ini panjang sih , tp msh penuh misteri . . .

    Kim Haemi said:
    Mei 8, 2013 pukul 11:33 am

    Wahhh lanjutt bikin penasaran sebenernya bryan,denis, casey sebenernya apa? penasaran
    lanjut kilat ya🙂

      sugihhartika responded:
      Mei 11, 2013 pukul 6:28 am

      Iya, nanti saya lanjut.

      Terima kasih sudah mau baca,😀

    Lee sae hae said:
    Mei 18, 2013 pukul 3:48 pm

    Eonni, maaf baru baca+komen..
    Kerennnn eonn..
    Mau sedingin apapun bryan tetep aja gak bisa gak peduli sama Aiden..
    Jadi eonn, si aiden itu beda ya sama bryan? Kok bryan bisa sihir begitu?
    Lanjutttt eonn..
    Bagussss

    Ainun_lara said:
    Mei 25, 2013 pukul 9:13 am

    Ommo ini panjang,kenyanng,tapi tetep aja masih penasaran.
    Ada pintu yg bisa teleportasi,dan kota penyihir.Aiden amnesia,waeyo?,dia penyihir jg?

    Raihan said:
    Mei 30, 2013 pukul 4:14 am

    Huwooooooooooooooo..

    Ini semacam jaman dulu dmana mereka hidup hanya diterangi dengan cahaya lilin?..
    Dan kekuatan sihir?..
    Mereka berbeda klan, maksudnya kelompok sihir?..

    Penasaran saya….

    isfa_id said:
    Juli 14, 2013 pukul 12:26 am

    ternyata cuman sedikit yang belum eonni baca, mau lagi, mana? tapi? eonni copas lagi, buwahahaha…

    LyELF said:
    Oktober 20, 2013 pukul 2:37 am

    Puas sama moment HaeBum nyaaa~ xxiixixixi
    suka banget chara dua bocah itu di sini haha Btw, ini udah ada part 3 nya kah? ._.
    Like this story eonn~~
    lanjut… lanjut!😀

    TeukHaeKyu said:
    Oktober 31, 2013 pukul 4:47 am

    nah,.. gini dong panjang,..

    tadi udah sempet mau ngomen ‘rasanya kurang afdol kalo si Kyu kagag ikutan…..’

    eh,.. ternyata di tengah2 si Marcus nongol XDDD. Tapi nggak ikut di main cara. Gapapa deh,…

    *masih menunggu Author bikin FF TeukHaeKyu yang lain*

    XDDDDD

    priscilialaurengyu said:
    Januari 30, 2014 pukul 7:03 am

    Marcus itu kyuhyun bukan ?*sotoy* soalnya nama inggris diakan Marcus hehehe
    wah ada apa dengan Hae ?bau mawar ?:O

    snowersbummie said:
    Maret 17, 2014 pukul 5:50 pm

    Ini Sihir!!!!! Hahaha
    Apa rumah Dennis dan Casey semacam kastil tua di sekolah sihir Hogwarts? Haha okay lupakan soal kastil Hogwarts tp berbicara soal pintunya…. yahhh itu mungkin sj pintu kemana saja milik Doraemon.

    Nah jadi tempat Dennis, Casey dan adik semata wayangnya yg sangat dingin, Bryan disebut Rose. Lalu Marcus dipihak lawan? Joshua menjadi lawan mereka?? Wahhh jadi penasaran Jerome, Jordan, Matthew, Vincent, Spencer, Andrew, dan Nathan kapan muncul yah….

    THE BLACK ROSE [3] « FISHINDAHOUSE said:
    Maret 29, 2014 pukul 2:23 am

    […] PART 2 : Want to be My Friend? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s