MY PET, HAE!! [5]

Posted on

Title : My Pet, Hae!!

Cast/Pair : Lee Donghae – Kim Kibum / KiHae

Genre : Fantasy – Humor (?) – Romance

Rating : PG 

Summary;

Donghae tak bisa kembali ke rumahnya, semenjak darah Kibum, merubahnya utuh menjadi seorang manusia. Tapi bagaimana jika Donghae yang ingin pulang dengan sadarnya?

[CHAPTER 5]

.

Dinginnya malam sama sekali tak mengganggu percakapan keduanya, meski nyatanya, itu bukanlah sebuah percakapan, karena hanya satu pihak yang berbicara panjang lebar. Seperti menceritakan sesuatu, yang di mata Kibum, adalah Dongeng yang selama ini berhasil menarik perhatiannya, dan berhasil mengundang rasa keingintahuannya.

“Aku manusia,” ungkap sosok tersebut, yang bahkan Kibum baru melihatnya. Satu yang ia tahu, sosok tersebut tentulah berhubungan dengan orang yang saat ini tengah tertidur, sambil bersandar padanya. Siapa lagi jika bukan Donghae? Karena dirinya, Donghae, dan juga sosok baru itu tengah terduduk di kursi taman di dekat kediaman Kim.

“Kau percaya aku manusia? Lihat bahkan kakiku melayang,” ungkapnya lagi. Kibum tak menjawab apapun. Ia masih bingung nampaknya.

“Aku tak tahu, aku bingung. Keberadaan Donghae saja, membuatku sangat penasaran mengenai jati dirinya. Kuharap kau bisa menjelaskan semuanya,” akhirnya kata itu terlontar dari mulut Kibum.

“Baiklah.. aku memang manusia. Awalnya, aku manusia. Hanya saja, cinta merubah segalanya,” jelasnya, dan belum membuat Kibum dapat mengobati rasa keingintahuannya. “Aku penyihir? Ah, aku peramal? Tidak juga. Kau tahu, aku ini adalah seseorang yang selalu merasa penasaran pada suatu hal. Bereksperimen, hingga membuat ramuan, yang memang bermutu, menurutku..” ungkapnya.

Kibum terdiam, atau lebih tepatnya menyimak cerita tersebut. Sesekali ia membetulkan posisi jaketnya yang kini menyelimuti tubuh Donghae. Ia tak ingin jahatnya angin malam menyapa Donghae, seolah mereka dapat merusak tubuh Donghaenya. Ingat bahwa waktu menunjukkan tengah malam.

“Suatu hari, aku menemukan seekor ikan. Ya, mungkin itulah yang disebut ikan jenis duyung.”

“Eh?” Kibum melongo mendengar istilah ‘duyung’.

“Bukan putri duyung yang ada di film-film itu, anak muda! Yang kutemukan, adalah ikan jenis duyung. Aku mengujinya berulang-ulang. Dan hanya satu yang kutemukan. Ikan yang sangat indah, hingga ide gila datang, karena memang bentuknya dengan separuh badan yang seperti manusia. Berkepala, bertangan, meski jari mereka tak berjarak seperti milik kita, karena saling menyatu, dan juga tak bisa bicara,” tuturnya, mendeskripsikan apa yang dulu ia lihat, mengenai duyungnya.

“Lalu?” tanya Kibum terlihat tak sabar.

“Aku bereksperimen dengan ramuanku. Dan berhasil menciptakan sesosok mahluk indah, meski dengan segala keterbatasan yang ia miliki. Dan aku, jatuh cinta padanya. Ah~ serasa bernostalgia,” ungkapnya dengan rona wajah memerah.

“Keterbatasan?” Kembali Kibum melontarkan pertanyaan yang membuatnya terlihat sangat penasaran.

“Dia tetaplah jenis ikan. Itu yang tak bisa kurubah. Meski bertubuh sempurna, ia tak bisa hidup di daratan. Untuk itulah, aku.. aku menciptakan ramuan untukku sendiri, agar bisa bertahan hidup di air,” jelasnya.

Mwo? Itu mustahil.”

“Mustahil? Lihat aku sebagai buktinya. Aku tak tahu, Leeteuk, maksudku ikan itu, atau sekarang ini istriku, ternyata memang mempunyai sihir. Bahkan membuatku sempat berfikir, apa ia benar-benar seorang duyung?”

Kibum menyimak dengan seksama, setiap bagian kata yang terlontar dari mulut sosok tersebut. Ia juga tak tahu siapa itu Leeteuk. Ia kembali menggeser kepala Donghae yang hendak terantuk, dan terlepas dari pundaknya. Lalu, kembali menyamankan posisi Donghae dalam sandarannya, serta kembali mengamati.

“Dengan sihirnya, dengan otakku sebagai pencipta ramuan, maka kami akhirnya menciptakan pondok kecil di dasar laut sana. Jangan pikirkan jika kau kesulitan mencernanya. Tapi memang begitu adanya. Bahkan aku bisa berbicara dengan mahluk air.”

“Memang agak diluar nalar. Tapi kau tahu? Aku mempercayainya, karena Donghae. Itu alasanku,” ucap Kibum tiba-tiba, membuat sosok tersebut tersenyum.

“Ya, anakku benar-benar memilih orang yang tepat sepertinya.”

“Eh? Kau, appa Donghae?” selidik Kibum.

“Apa kau tak melihat kemiripan di wajah kami? Ya!”

Kibum menggeleng ragu. Sedikitpun, tak ada satupun bagian wajah yang mirip, menurutnya. “Kalian tidak mirip,” ungkapnya.

“Baiklah, dia mirip eommanya. Kau puas?” Kangin berdecak pelan, terlihat kesal dengan kesimpulan Kibum mengenai kemiripannya dengan anaknya sendiri.

“Lupakan itu. Jadi Donghae itu, lahir sebagai hasil percampuran gen ikan dan manusia?” tanya Kibum kembali.

“Ya. Darah manusiaku masihlah sangat kuat,” jawab Kangin.

Sedikit rasa penasaran seorang Kim Kibumpun mulai memudar. Ia tahu, Donghae bukanlah malaikat, atau penyihir dan sebagainya. Setidaknya, mengalir darah manusia disana. Apakah itu berarti ia benar-benar bisa bersama Donghae selama yang ia inginkan? Dan tanpa aba-aba, tangannya terulur memerangkap tubuh Donghae yang tengah damai dalam tidurnya. Ia terlihat menahan guratan bahagia di wajahnya.

“Aigooo~ kau begitu menyukai anakku, eoh?”

“Tentu saja,” jawab Kibum pasti, sejenak ia terdiam, lalu memandang Kangin, “kau tak berniat membawanya bukan?”

Kangin tersenyum, lalu menggeleng. “Awalnya iya. Bahkan aku sempat membuat ramuan untuk memusnahkan gen manusiamu ditubuhnya. Tapi, itu terlalu kuat! Ia sudah tak bisa hidup di air. Jika aku harus merubah hidupku karena mencintai Leeteuk, sepertinya Donghae juga melakukan hal yang sama. Ia melawan takdirnya untuk mendapatkan cintanya. Kami hanya ingin Donghae bahagia. Kau tak akan menghancurkannya bukan?”

“Tidak! Akupun mencintainya,” Kibum berucap yakin. Namun ekspresinya sedikit berubah.

“Baiklah. Jangan salahkan siapapun bila ia hanya bersikap manja padamu, dan hanya menempel padamu seperti seekor binatang peliharaan yang amat mencintai majikannya.”

Kibum mengangguk yakin. Donghaenya, memang terlihat seperti peliharaannya yang amat menggemaskan. Ia lalu melihat wajah Donghae yang bernafas teratur. Ia mengelus pipi Donghae sesaat, lalu kembali menatap Kangin, “Aku janji akan selalu menjaganya,” ungkap Kibum, membuat segurat senyuman puas di wajahnya sendiri.

“Oke. Aku catat perkataanmu itu Kim Kibum, menantuku..” ungkap sosok itu mulai memudarkan dirinya.

Kibum menyadari sosok itu segera meninggalkannya dan Donghae, namun ada satu hal lagi yang ingin ia ketahui sepertinya.. “Siapa namamu, appa?” tanyanya.

“Kangin.”

Kibum tersenyum karena pertanyaan terakhirnya dapat terjawab. “Selamat jalan, appa..” Gumamnya kemudian.

Semua kembali seperti semula. Pagi itu, Donghae turun dari ranjangnya, berjalan gontai sambil sesekali mengucek matanya, lalu menguap, menuju tempat yang memang selalu ia tuju setiap pagi.

“Cuci mukamu dulu..” Donghae bahkan mendengar kembali omelan Heechul, yang ia jawab dengan ekspresi malasnya. Ia terus berjalan menuju kamar Kibum. Namun..

Siiing..

Semua mendadak sunyi. Donghae membuka lebar matanya, melihat kamar Kibum yang kosong tanpa satu barangpun disana termasuk Kibum. Ia mulai sedikit terisak. Dan detik berikutnya, ia akan meneriakkan nama Kibum, jika saja tak ada tangan yang membekapnya seperti sekarang.

“Diam! Jangan memanggilku. Aku disini..” Kibum, dari arah belakang Donghae dengan satu tangan kini menutup lembut bibir Donghae. Kibum lalu menurunkan tangannya saat dirasa Donghae sudah tak akan berteriak lagi. Ia kini mendekap tubuh Donghae.

“Kau tidur dimana?” tanya Donghae, meski ucapannya teredam lengan Kibum.

“Bodoh! Aku tidur di kamarmu!” jawab Kibum. “Ayo kembali. Aku masih mengantuk,” ujar Kibum.

Donghae menurut. Meski ia agak cemberut karena tak biasa dengan kegiatan tersebut. Biasanya ia bermalas-malasan di ranjang Kibum.

Donghae merebahkan dirinya di ranjang, menghadap ke arah Kibum, yang juga sudah dalam keadaan terbaring. “Aku bermimpi kemarin,” ungkapnya tiba-tiba.

“Mimpi apa? Buruk?”

Donghae menangguk. “Kita berpisah. Itu sangat menakutkan.”

Kibum tertegun. Apa Donghae menganggap kejadian kemarin sebagai sebuah mimpi? Oh! Kenapa pula Kibum harus memikirkan hal itu? “Kita tak akan berpisah, Hae,” ucapnya tiba-tiba.

“Kau tak akan meninggalkanku?” tanya Donghae menangkup wajah Kibum.

“Ya.”

“Horeeee~ Kibumie~” ujar Donghae riang. Dan Kibum? Hatinya terlonjak senang saat mendapati wajah ceria Donghae kembali.

Dan tanpa bisa Kibum tahan, ia rengkuh tubuh Donghae erat. “Kau mencintaiku Hae?” ujar Kibum. Ia teringat ucapannya pada Kangin semalam. Cinta, adalah kata yang tak pernah mereka ucapkan.

“Aku menyayangimu,” balas Donghae.

Kibum mengernyit. Ia lalu menjauhkan tubuhnya dari Donghae, menatap wajah Donghae. “Aku bilang cinta, love, bukan sayang Hae,” tuturnya.

“Apa bedanya?” tanya Donghae dengan mata berkedip, membuat wajahnya terlihat lebih imut dari sebelumnya.

“Mereka berbeda Hae, tentu saja.”

“Beritahu aku apa bedanya,” ujar Donghae terlihat sedikit mendesak.

Kibum berpikir. Ia harus bisa menyampaikan pada Donghae bahwa keduanya berbeda. Selang beberapa detik, ia meraih dagu Donghae, lalu mengecup bibir Donghae. “Itu sayang. Kau merasakannya?” tanya Kibum. Donghae terlihat biasa saja. Oke, mungkin karena mereka terlalu sering melakukannya. Selanjutnya, Kibum meraih kedua sisi wajah Donghae, kembali menghilangkan jarak, dan lalu, mencium bibir tersebut, melumatnya, yang seketika membuat Donghae mengerutkan keningnya, meski ia tak melakukan perlawanan atau apapun semacamnya.

“Itu cinta. Sedikit rasa nafsu di dalamnya,” ujar Kibum, sedikit meringis, merasa tak yakin dengan ucapannya.

“Aku tak mengerti.”

“Kubilang rasakan, dan pahami itu!” ucap Kibum cepat, lalu dengan tiba-tiba menindih tubuh Donghae.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Donghae sedikit kaget. Meski ekspresinya terbilang datar, namun Kibum juga dapat merasakan detak jantung Donghae yang berpacu cepat.

Kibum mengeluarkan senyumnya. Ia tersenyum jahil ke arah Donghae, lalu menundukkan sedikit wajahnya pada Donghae, dan berbisik, “Memberimu cinta..” sebagai jawaban.

Suara tawa geli memenuhi ruangan kamar Donghae yang kini sedang dihuni si polos Donghae, dan juga Kibum. Suara cekikikan tersebut terus saja keluar dari bibir Donghae. Kenapa? Bahkan Kibum dibuat kesal dengan tawa Donghae yang tiada henti. Padahal dirinya sedang ingin memenuhi nafsu busuknya kepada Donghae.

“Geli, Kibumie~” Donghae kembali mengeluarkan nada geli di antara ucapannya saat Kibum menjilati lehernya. Bahkan Donghae tak mengerti dengan apa yang sedang Kibum lakukan padanya. Kibum sedari tadi, menyapukan lidahnya di permukaan wajah dan leher Donghae. Tentu saja itu akan terasa geli bukan?

“Donghae!” Kibum terlihat kesal. Memang Donghae sama sekali tak melawan, namun suara tawa kecilnya sangatlah mengganggu dan secara tak langsung, ia harus menghentikan kegiatannya. “Jangan berisik! Nanti eomma dengar,” ujar Kibum pelan, sambil menatap pintu kamar. Ia tetap saja takut Heechul tiba-tiba masuk, padahal pintu kamar tersebut sudah ia kunci tadi.

“Memangnya kenapa?” tanya Donghae menghentikan tawanya sejenak.

“Sudahlah! Jangan tertawa terus..” Kibum frustasi dengan tingkah Donghae kali ini.

“Tapi kau membuatku geli,” balas Donghae sejujurnya.

“Hahh~ aku tak peduli!” ujar Kibum, lalu kembali menjamah tubuh Donghae.

“Tapi itu geli..” ucap Donghae sambil menahan tawanya karena Kibum kembali mengecup-ngecup lehernya, membuat kepalanya bergerak tak karuan, berusaha menghindari hujaman bibir Kibum. Bahkan kini tangannya menahan tubuh Kibum di atasnya.

“Diam!!” Kibum benar-benar kesal. Ia raih kedua tangan Donghae dengan tangannya, lalu membaringkan tangan tersebut di atas kepala Donghae, sambil menahannya.

“Sebenarnya kau ingin apa sih?” tanya Donghae menyipitkan matanya.

“Kubilang kan kita akan bercinta,” jawab Kibum malas. Ia sudah mulai tak sabar.

“Seperti apa?”

“Jika kau tak berhenti tertawa, maka kau tak akan tahu,” jelas Kibum, mencari celah untuk membujuk Donghae.

“Baiklah. Aku tak akan tertawa,” ujar Donghae.

“Pintar~” tutur Kibum tersenyum. Ia membimbing tangan Donghae agar melingkar di lehernya. Dan dengan gerak cepat, ia melumat bibir Donghae yang kini hanya terdiam, seperti apa katanya.

Selang beberapa menit, Donghae merasa semilir angin menyapa bagian pahanya. “Kibumie, kenapa melepas celanaku?” tanya Donghae lagi.

“Harus Hae,” jawab Kibum singkat.

“Tapi dingin..” rengek Donghae.

Kibum berdecak pelan, sebelum akhirnya menarik selimut menutupi tubuh mereka yang kini sama-sama tak mengenakan celana mereka. Sulit sekali menyentuh Donghaenya.

 

Heechul tiba-tiba saja menjatuhkan sendok-sendok yang sedang ia bersihkan di tangannya tanpa sebab. Dan setelahnya, ia dapat mendengar jeritan petir menyambar, dan suara deras hujan tiba-tiba. Heechul mengerutkan keningnya. “Pagi-pagi begini sudah hujan? Ah, sepertinya aku tak usah membangunkan dua bocah itu. Mereka tak usah kuliah hari ini,” tuturnya pada diri sendiri, karena Yesung sang suami, telah pergi satu jam lalu.

Dan tahukah kalian? Hujan yang terjadi dan petir menyambar tersebut, apa sedang membantu Kibum? Membantu Kibum untuk menutupi jeritan-jeritan Donghae karena ulahnya.

“Agh! Sakit!” teriak Donghae saat Kibum melakukan sesuatu pada tubuh bagian bawahnya. Bahkan suaranya terdengar bergetar. Sementara tangannya tak lagi melingkar di leher Kibum melainkan meremas sprei miliknya, hingga sedikit robek.

“Tahan sebentar oke?” ucap Kibum kembali membujuk Donghae yang sudah akan menangis karena perbuatannya.

“Auuuuuuu..” Donghae kembali meringis dan menghentakkan tubuhnya, seiring dengan dorongan Kibum padanya. Ia menutup rapat kedua matanya. “Sakit!!” kembali Donghae merengek. “Kibumieeee~ hiks,” dan akhirnya Donghae menangis.

Kibum terpaksa menghentikan kegiatan tersebut. Ia terpaksa harus menunda semuanya, karena bagaimanapun ia tak ingin menyakiti Donghae. Kibum kini terduduk, berusaha mengatur nafasnya, yang baru saja sempat memburu karena nafsunya. Ia garuk kepalanya dengan tak sabar.

“Apa itu yang namanya bercinta? Sakit sekali. Hiks,” sementara itu Donghae masih saja menangis. Inilah yang membuat Kibum bingung sekarang.

“Maafkan aku. Jangan menangis,” pinta Kibum. Ia kembali berbaring lalu memeluk Donghae. Kibum tak menyalahkan kepolosan Donghae sama sekali. Apa polosnya Donghae terlalu berlebihan? Mungkin. Tapi Kibum sangat tahu, bahwa sang eomma, benar-benar melindungi Donghae dari hal dewasa, dengan alasan, tak ingin menodai kepolosan Donghae. Dan, apakah ia tak pernah belajar atau sekedar mendengar tentang hal-hal itu di sekolah? Semacam pelajaran biologi dan sebagainya? Jangan lupa bahwa waktu belajar Donghae sangatlah sedikit, karena di samping ia sering sekali bolos, ia juga hanya bisa tertidur di kelas. Sudah jelaskah?

“Tapi sakit sekali,” ujar Donghae, enggan mengatupkan kedua pahanya di dalam selimut, yang sempat Kibum lebarkan tadi. Kibum tersenyum. Ia lalu menyentuh satu bagian paha Donghae, memberi isyarat agar berbaring saja seperti biasa, karena semua sudah selesai.

Dan Kibum tak kuasa menahan tawanya kali ini. “Sudah Hae, maafkan aku,” ujarnya, lalu memeluk Donghae erat. Donghae benar-benar membuat Kibum dan readers ingin sekali menendangnya saking gemas, benar? Sayangnya itu tidak boleh.

Hari begitu cepat berlalu. Kibum dan Donghae menghabiskan satu hari di rumah, karena hujan tak ingin berhenti hingga sore menjelang. Dan sekarang?

“Kalian mau kemana?” tanya Yesung, terlihat heran melihat Kibum yang sedang membantu Donghae, mengikatkan tali sepatu miliknya, sementara ia sendiri sudah siap.

“Kibum mengajakku menonton,” jawab Donghae riang. Ia duduk dengan posisi nyaman, sambil melihat Kibum yang mengikatkan tali sepatu miliknya. Dari dulu hingga sekarang, Donghae tidak bisa mengikat tali sepatu dengan benar. Sungguh payah!

“Awas saja kau berani mengajaknya menonton film dewasa. Kucincang kau saat pulang, Kim Kibum!!” pekik Heechul dari arah dapur.

Dan Kibum terdiam, seolah apa yang dikatakan Heechul adalah benar adanya. Bahkan ia tak menjawab apapun. Yesung menyipitkan matanya. “Jangan bilang itu benar,” bisiknya pada Kibum.

“Jangan katakan padanya!” ancam Kibum, menantang sang appa.

“Kau berani mengancam appamu? Aigoooo~”

“Pokoknya tak boleh bilang! Ayo Hae kita berangkat,” kibum segera menarik Donghae, keluar rumah sebelum mendengar omelan-omelan tak bermutu dari kedua orang tuanya.

 

Donghae mempererat genggaman tangannya pada ujung bajunya sendiri, dan berusaha menelan paksa ludahnya beberapa kali, saat melihat adegan tak senonoh yang ia lihat di layar besar di depannya. Salah! Layar sangat besaaaarrr! Dan suara desahan seorang wanita disana terdengar sangat pilu. “Ugh!” Dan Donghae serasa melenguh sambil menggigit bibirnya.

Kibum mengerti dan sadar, bahwa ia telah mengajari Donghae dengan baik dan benar. Metode pembelajaran yang tepat, memanglah melihat prakteknya secara langsung. Dengan sekali gerakan, Kibum meraih tangan Donghae, menggenggamnya erat, sambil menatap Donghae dengan senyum nakalnya.

“Kibumie~ aku ingin pulang.” Bisik Donghae, yang ternyata wajahnya, telah dipenuhi oleh keringat.

“Bukankah filmnya belum selesai?” Jawab Donghae tak kalah pelan, karena tak ingin mengganggu yang lain. Kibum mendekatkan wajahnya pada Donghae, lalu berbisik di telinga Donghae, “Sebaiknya perhatikan setiap adegannya Hae. Kita harus praktek sepulang dari sini.” Ujar Kibum terkekeh geli.

“Apa maksudmu? Kau ingin melakukan hal yang seperti tadi pagi itu? Aku tak mahu!” Bantah Donghae. “Sakit..” Lanjutnya.

“Lihat mereka..” Tunjuk Kibum pada dua insan yang tengah bercinta penuh nafsu di balik layar. “Tidak terlihat sakit kan? Jangan takut..”

Entah kenapa saat ini wajah Donghae memanas. Tak pernah ia rasakan sebelumnya, jantung yang berdegup kencang dengan wajah memanas. Dan Donghae seperti baru pertama kali merasakan rasa malu, karena sebelumnya, Donghae akan melakukan apapun yang ia mahu dengan Kibum, termasuk memeluk dan mencium Kibum seenaknya. Tapi ada apa dengan sekarang? Donghae berusaha menghindari wajah Kibum yang begitu dekat dengan wajahnya. Ia pelingkan wajahnya, namun matanya terbuka lebar saat melihat beberapa pasangan di sekitar tempat duduk mereka malah bercumbu dengan santainya. “Ogh!” Donghae menyesal melihatnya..

“Kenapa?” Tanya Kibum, berpura-pura tak mengerti..

“Itu.. mereka..” Donghae tergagap sambil menunjuk-nunjuk bangku penonton yang lain.

“Kau ingin seperti mereka?”

Glekk.. Donghae menelan paksa ludahnya. “Itu..” dan Kibum menyambar bibirnya sebelum ia mengatakan sesuatu yang berarti.

 

Donghae mempererat pegangannya pada Kibum, saat Kibum mempercepat laju motornya. Donghae tahu Kibum sedang marah. Marah? Kibum marah karena Donghae, lagi-lagi menolak keinginan Kibum.

Saat di bioskop tadi, tak hentinya Kibum menjamah tubuhnya. Hingga Kibum mengajaknya ke toilet, dan menciumnya dengan ganas disana, serta memberikan rangsangan-rangsangan yang ternyata berhasil membuat Donghae mendesah-desah di antara ciuman mereka. Kibum bahkan sempat membuka sebagian baju Donghae, dan menghisap kulit Donghae, membuat tanda cinta di berbagai tubuh Donghae.

Tapi semua malah membuat Kibum menggerutu kesal saat Donghae tiba-tiba merengek minta pulang. Donghae benar-benar merengek di tengah kegiatan panas tersebut, tanpa alasan yang dapat Kibum mengerti.

Semakin cepat Kibum menjalankan motornya, semakin erat Donghae memeluk Kibum, juga Donghae tak ingin melihat jalanan yang sebenarnya sama sekali tak terlihat, mengingat laju motor yang begitu cepat, membuat Donghae memutuskan untuk memejamkan matanya.

“Turunlah.” Ucap Kibum dingin sesaat setelah mereka tiba di depan rumah.

“Huh?” Donghae mengerjapkan matanya bingung, belum menyadari bahwa ia telah sampai dengan selamat.

“Kita sudah sampai. Turunlah.” Kembali Kibum melontarkan kata-kata yang begitu dingin.

Donghae mendengus sebal, lalu turun dari motor. Ia membuka helm yang dipakainya, namun helaan nafas terlontar begitu saja, saat dilihatnya Kibum melenggang menuju rumah, bahkan tanpa mengajak dirinya.

“Jahat.” Rutuk Donghae sambil memanyunkan bibirnya. Baru kali ini ia melihat Kibum yang benar-benar marah padanya.

“Selamat pagi..” Pekik Heechul, saat menemukan kedua anak kesayangannya tengah duduk manis di meja makan, menunggu hidangan yang tengah disiapkannya. Dikecupnya pipi Donghae dan Kibum bergantian. Dan seperti biasa, Donghae harus menghapus jejak ciuman Heechul di pipi Kibum. Namun kali ini, Kibum tampak menolak. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain saat Donghae hendak menciumnya.

Heechul memandang keduanya aneh. Ini baru pertama kali terjadi. “Kalian kenapa? Sedang terjadi sesuatu?” Selidik Heechul.

“Kibum marah padaku karena, hmf..” Donghae tak sempat menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba Kibum membekap mulutnya, lalu membisikkan kata ‘diam’ dengan sangat tajam di telinganya.

“Ya, Kim Kibum!! Ada apa denganmu?!” Pekik Heechul, sangat kaget dengan sikap Kibum pagi itu.

“Tidak ada apa-apa. Iya kan, Hae?” Ucap Kibum, mencoba bersikap seperti biasa, padahal di sampingnya, Donghae sudah hampir menangis.

“Lihat, kau membuatnya menangis. Sebenarnya ada masalah apa, huh?” Omel Heechul.

“Tidak ada apa-apa kubilang!” Ucap Kibum ketus, hingga ia menarik tangan Donghae sedikit kasar. “Kita berangkat sekarang.” Perintahnya tanpa menghiraukan Heechul yang terus saja mengomel.

“Kami berangkat, eomma.” Ucap Donghae sedikit berteriak, karena Kibum menariknya dengan cepat.

Perkuliahan dimulai dengan sangat tidak menyenangan bagi Donghae. Biasanya ia akan merasakan kantuk, dan akan tertidur. Namun kali ini, ia bahkan tak merasa mengantuk sedikitpun. Marahnya Kibum, benar-benar mengalihkan perhatiannya. Diliriknya Kibum yang tengah serius dengan kuliah tersebut. Hingga Donghae benar-benar merasa bosan, lalu menendang kaki Kibum.

Kibum melirik Donghae, masih dengan tatapan dinginnya. Ia membetulkan kacamata miliknya masih dengan keadaan menatap Donghae, lalu dengan mata sedikit membulat, mencoba memberitahu Donghae agar tak mengganggunya.

Donghae tertegun. Ia tak menyangka Kibum akan sejauh ini. Kibum benar-benar marah padanya, dan Donghae tak suka itu. Kali ini bahkan Donghae tak mampu membujuk Kibum dengan apapun. Donghae merasa hatinya terasa berdenyut sakit.

Selang beberapa jam, kuliah berakhir. Donghae mengekori Kibum, yang sebenarnya mengajaknya pulang bersama, namun tak seperti biasa. Bahkan Kibum tak ingin berjalan berdampingan bersamanya. Membuat Donghae berjalan lesu sambil menundukkan kepalanya, hingga..

Bruk.

“Agh!” Ringis Donghae, yang ternyata bertubrukan dengan orang lain.

“Hey. Kenapa melamun saat berjalan, Kim Donghae yang manis..” Ucap orang yang ditabrak Donghae, yang ternyata adalah Kyuhyun.

“Berhenti menggodanya Kyu. Pergilah!” Ujar Kibum, meski tanpa melirik Donghae sedikitpun. Dan itu? Membuat Donghae semakin terpuruk.

“Ah, majikanmu memang menyebalkan.” Oceh Kyuhyun.

“Bukan.” Ucap Donghae tiba-tiba.

“Huh?”

“Namaku Lee Donghae, Kyu. Lee..” Jawab Donghae pelan, namun cukup membuat Kibum kini sedikit menatapnya. Bukankah Donghae tak pernah ingin lepas dari nama ‘Kim’ nya?

Maafkan aku. Kemarin memang kami yang memaksanya pulang. Dan ia dapat kembali padamu, karena keinginannya. Tapi, kali ini? Ia yang ingin pulang. Dan kami? Tentu akan membawanya pulang..

Kibum terbangun tiba-tiba. Ia bahkan dapat merasakan peluh yang membasahi wajahnya. Diusapnya wajahnya tersebut, dan ia menutup wajahnya tersebut agak lama, mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi dalam mimpinya.

Donghae pulang? Donghae pergi? Ataukah Donghae kabur?

Kibum sangat yakin, dirinya tak menginginkan itu, hingga terlintas niat untuk membuat hubungannya dengan Donghae membaik. Kibum menggeliat pelan, lalu mencoba membangunkan Donghae yang memang sebelumnya tertidur di sampingnya.

“Hae?” Kibum tertegun saat tak mendapati Donghae di sampingnya. Ia mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan yang nampak sepi. Dengan rasa penasaran, ia mulai menjelajahi seisi rumah bahkan harus membangunkan kedua orangtuanya yang masih terlelap.

“Ia tak ada dimanapun..”

“Kau yakin?”

“Aku ingin bertemu eomma.” Donghae berucap pelan, tersamarkan oleh debaran ombak yang sedang bergelut di depannya.

“Tapi kau tak bisa ikut kesana. Kau manusia Hae. Kecuali..”

“Kecuali apa, appa? Katakan.” Desak Donghae tak sabar.

“Kau memutuskan untuk pulang, dan kembali menjadi dirimu semula. Appa sudah membuat ramuan yang bisa membuatmu kembali, jika kau mau.”

Donghae terdiam. Ia terlihat menimbang, memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil. Hingga setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Pilihan yang sulit, namun ia harus segera memutuskannya.

“Appa tak akan memaksamu, Hae.”

“Berikan.”

“Kau yakin?”

“Berikan, sekarang!!”

TBC

12 thoughts on “MY PET, HAE!! [5]

    Shin Y said:
    Mei 12, 2013 pukul 2:05 pm

    wah, langsung update lagi??

    hae balik ke laut lagi nih?? biar tahu rasa tu si kibum,, huh, gara2 ga dikasih jatah marah?? ckck aigoooo

    namikaaileen said:
    Mei 12, 2013 pukul 2:46 pm

    Manusia stengah ikaaaaaannnn…. Kekeke

    kibum egoiisss >,< donghae? Polosnya dirimu naaak nak~ *pukpuk

    BryanELFishy said:
    Mei 12, 2013 pukul 3:25 pm

    Kibum sesattttttttttttttttttttttttt~ >._<

    BryanELFishy said:
    Mei 12, 2013 pukul 3:28 pm

    kibum sesattttttttttttttttttttttt~ >.<

    maso orang unyu-unyu macam ikan setengah manusia diajarin yang begituan….
    Nggak sopannnnnnnnnnnnnnnnnnnnn~

    nah lho? kok minta pulang? -_-" *anak mami dah #toel Donghae
    mana lagi Eonnie~~~~~~~~~~~~~~~

    Laila .r mubarok said:
    Mei 12, 2013 pukul 4:28 pm

    Naaah eon, kayknya aku baru baca sampe sini deh eon…

    Manaaaaaa lanjutannyaaaaa?

    Duaak~ *pukul pala kibum
    Kau telah mengotori kepolosan hae-ku!

    Plaaak~ *geplak pala hae
    Masa begituan aja pke diajarin! Payah! Nnti kibum berpaling loh padaku…

    Kibum: itu takkan pernah terjadi, bahkan dalam mimpimu!
    Me: *mewek dipojokan😥

    Elfisyhae said:
    Mei 13, 2013 pukul 2:43 am

    Lanjuuutttttt. . . Penasaran.

    Kim Haemi said:
    Mei 13, 2013 pukul 8:13 am

    Ada apa sama hae sampai minta pulang? lanjutt😀

    nia na yesung said:
    Mei 13, 2013 pukul 4:28 pm

    Kibum Mesum.a gak ketulungan -___-”
    Hae Jd Minta Pulang kan ???
    Ya ampun Donghae Polos.a Gak Ketulungan Kkkkk ,,,
    aku minta kelanjuta.a dong Penasaran bgt ??? ^^

    Ruoxi said:
    Mei 14, 2013 pukul 1:36 am

    Aku baca part 5 dengan perasaan yang terombang ambing !! Pertama” senyum-senyum naaaaaaaaaahhhhh tiba ujungnya aku sedih ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠ Kibum egois SANGAT!!

    niea_clouds said:
    Mei 15, 2013 pukul 8:23 am

    nah loh ,,, tuh kan Hae ny jd mnta plg . . .
    Kibum sih masa cm gara” ga di kasih jatah Hae ny di cuekin ,jd ny skrg Hae pergi kan . . .

    Mea HAE said:
    Mei 18, 2013 pukul 5:38 am

    ah kasian bum
    kasian
    pokonya kasian
    hae itu polosnya ish minta dic ium

    bum harue dapetin haee haruss

    suhae1005 said:
    Mei 22, 2013 pukul 12:39 pm

    apa yang selanjutnya terjadi ?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s