YOU REFLECT ME [2/2]

Posted on

Title :  You Reflect Me

Genre : Fluff- romance? ANGST!!

Length : Twoshot

Rating : M

Summary : Jadi bagaimana, bila keadaan menjadi berubah menyakitkan??  

Cast;

Lee Donghae – Kim Kibum

Kim Jaejoong – Jung Yunho

Choi Minho

^^

[CHAPTER 2]

[CHAPTER 2]

“Apa yang kau lakukan disini, Casey?”

Kibum berujar pelan, tertuang dalam nada dingin. Sedingin udara di luar sana. Udara yang hanya menyentuh Donghae saja. Seperti itu, karena Kibum sendiri tengah bersama wanita asing yang baru saja datang, di dalam mobil dan melakukan perbincangan serius.

Sedang Donghae berjalan mondar-mandir tepat di hadapan pintu rumahnya, sambil sesekali melirik ke arah mobil Kibum. Nampak memang, Kibum bersama wanita itu. Tersorot lampu redup dari arah mobil dan? Memang terjadi percakapan serius disana, meski tak dapat ia dengar apa yang dua insan itu bicarakan.

“Tentu saja untuk menemuimu!”

Aura dingin, masih setia, membalut permukaan kulit Kibum. Melapisi raut wajahnya. “Mengapa kau menemuiku? Ada apa?”

Casey, sang wanita cantik mencoba mengusap pipi Kibum, yang hanya diam tak melawan. “Aku merindukanmu..” tuturnya, hampir berbisik, dalam nada nakal. “Tidakkah kau merindukanku?” tanyanya tanpa rasa malu. “Atau kau masih marah?” desaknya, sambil memajukan wajahnya, berbisik di telinga Kibum.

“Apa yang kau bicarakan?” sela Kibum, menjauhkan dirinya dari wanita tersebut.

“Maaf atas gugatan cerai itu, Bryan! Aku telah mencabutnya,” timpal Casey. “Aku bersalah, aku menyesal,” tuturnya penuh sesal, namun terlontar dari mulut manis, yang kebenarannya, tak mampu Kibum tebak. “Mari kita mulai lagi dari awal..”

Kibum menatap Casey, sosok cantik yang memang pernah menjadi wanitanya. Tambatan hatinya. Dulu, atau mungkin kemarin masih? Sebelum gugatan cerai itu,, dilayangkan pada dirinya, dari sang istri, dan melukainya, hingga harus menenangkan diri hingga terbang ke negri lain, meski Korea, adalah tempat dimana ia terlahir..

“Kau pikir semudah itu?”

Casey hanya tersenyum. Ia lalu beralih, beranjak menyandarkan dirinya pada sisi tubuh Kibum, dan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Kibum. “Aku tahu kau masih mencintaiku, Bryan!”

Jauh di ujung sana, Donghae menegang. Bukan sekedar dari kakak perempuan Kibumnya, atau? Mungkin temannya? Atau bibinya? Ibunya? Tertawalah, karena Donghaepun begitu. Tertawa miris melihatnya. Jelaslah, gerak tubuh mereka di dalam mobil sana, Donghae melihat dan dapat mengartikannya.

“Apa itu dia?” gumam Donghae, di antara semilir angin yang menyentuhnya. “Istrimu?” tanyanya dalam nada pedih, meski tak ada tangis terurai. Hanya kedua tangannya yang tiba-tiba mengepal, dengan nafas dalam berulang-ulang.

Terlebih..

“Apa pantas kau melakukan ini setelah semua yang terjadi?”

Kibum, meski tak melawan dengan perlakuan tubuhnya. Ujung matanya menangkap bayangan Donghae di luar sana. Sejauh ini, wanita di sampingnya belum tahu tentang apapun yang terjadi, termasuk hatinya yang telah berubah kini. Sedang Donghae hanya mematung di luar sana. Sebut saja ini sebuah rasa percaya diri yang tinggi, saat Kibum mengira bahwa, ‘Donghaenya cemburu!’

“Kukatakan maafku dengan tulus, Bryan.. mari kembali bersamaku!”

‘Terlambat!’ pikir Kibum, saat Donghae menghilang, dan memasuki pintu rumahnya. Ia sendiri tak fokus pada apa yang dikatakan oleh Casey, yang kian merekatkan lingkaran tangan di tubuhnya. Mungkin sudah ada beberapa menit lalu, tubuhnya berada dalam lingkaran tangan cantik tersebut.

“Jangan macam-macam!” peringat Kibum. “Sebaiknya kau kembali..”

“Aku tak mau jika tanpamu..” ujar Casey, bergelayut manja pada Kibum.

“Aku tak memiliki alasan untuk kembali!”

Casey menarik dirinya perlahan. Ia mencoba menangkap dan mengunci pandangan Kibum oleh kedua matanya. Mencoba mencari tahu kebenaran, bahwa, “kau tak mencintaiku lagi, Bryan?”

Donghae, dengan lunglai ia menutup pintu, tak ingin membuat gaduh, yang terbawa emosinya sendiri. Sesungguhnya hatinya merasa panas melihat Kibum bersama wanita tadi. Wanita cantik, yang memang tak mungkin ia tandingi. ‘Hanyalah seorang pria,’ pikir Donghae. ‘Aku bisa apa! Bukan tandingannya,’ batinnya.

Namun lain hal dengan seorang wanita, dia tidaklah akan menjerit pilu, atau minimal menangis terisak, layaknya remaja yang tengah dilanda patah hati. Ia sudah dewasa, terlebih ia seorang pria, meski tetap saja, hidung dan wajahnya serasa memerah menahan tangis itu, menahan emosi itu.

“Kim Kibum sialan!” umpatnya. “Aku pelarianmu, huh? Pembohong!” rutuknya dalam diam, di dalam ruangannya, yang bahkan masih dalam keadaan acak, akibat perbuatan mereka sore tadi.

Miris. Itulah yang Donghae rasa. Ia punguti buku-buku berserakan disana. Ia rapihkan ranjangnya, yang sempat disinggahi Kim Kibum. Kibum yang kini tengah menghianatinya ia rasa?

Brugh.

Belum sempat ranjang itu tertata dalam keadaan rapih kembali, Donghae menjatuhkan dirinya di atas sana. Terduduk di ujung ranjang sambil menekuk lututnya. Ia tenggelamkan wajahnya disana, dan dalam diam, menangisi nasibnya.

Menangis di antara redup ruangan miliknya tersebut, bertemankan benda mati lainnya, sedang di sisi lain..

“Apa yang harus kulakukan, agar kau mau melepasku?”

Dari dalam kendaraannya, Kibum berusaha meyakinkan mantan istrinya, Casey, agar mengerti akan semua hal dan meninggalkannya dalam keadaan baik-baik, tanpa harus menyakiti. “Kukatakan, bahwa kita tak bisa bersama lagi, Casey!” terang Kibum.

Casey, diam! Ia hanya menunduk kecewa, dan tak menjawab apapun. Hingga setelahnya, ia mengangat wajahnya. Dengan mata yang siap mengeluarkan airnya, ia berkata, “aku hamil..”

“Huh?”

Setitik harapan, kembali datang, menghampiri Donghae. Tiba-tiba saja ia teringat akan genggaman tangan Kibum, kala ia akan beranjak pergi, meninggalkannya dengan wanita asing tadi. Begitu erat Kibum menggenggamnya, hingga seperti tak akan terlepas jika saja Donghae tak melepasnya.

“Apa mungkin, Kibum benar-benar mencintaiku?” gumamnya dalam tangis yang masih terjadi itu. Ia usap wajahnya yang basah, sambil berusaha menghampiri jendela kamarnya. Kendaraan Kibum tentu terparkir tepat di sisi rumahnya, di hadapan kamarnya tersebut.

Satu senyuman disertai harapan yang tinggi, nampak terlihat, terlebih saat Donghae menyibak tirai, untuk melihat Kibum. Lalu, seolah terbang semua harapan itu, tenggelam seiring senyum yang menghilang. Wajah Donghae semakin sendu, saat melihat Kibum yang melajukan kendaraannya, pergi bersama wanita itu.

Donghae? Kecewa..

Pagi menyambut~

Minho terheran-heran, mendapati mendung di wajah Donghae. Anak itu, hanya diam, memandang Donghae yang menundukkan wajah, enggan melihatnya. Ia garuk kepalanya pelan. “Kau begitu marah karena aku melarangmu menikah dengannya? Karena aku tak mendengarkanmu kemarin?” tanya Minho, meki tak ada nada sesal. Hanya pertanyaan bernada biasa saja.

Donghae mendongak. Ia tersenyum, sebisa yang ia mampu. “Tidak, Minho-ya. Lupakan itu, aku, tak akan menikah dengannya..”

“Huh?”

Kembali Donghae tersenyum, lantas mengacak rambut Minho. “Tapi, bolehkah kutahu, mengapa kau tak mengijinkanku menikah dengannya?” tanya Donghae kemudian.

Minho melahap beberapa butir nasi terakhirnya, sarapannya. “Aku tak ingin kau meninggalkanku, hyung. Itu saja. Kenapa tiba-tiba kau ingin menikah? Tidakkah ayah dan ibu akan menjemputku jika tahu, kau akan menikah?”

“Bukankah mereka tak tahu kau ada bersamaku?”

Minho nampak mencibir. “Aku tahu pikiran orang dewasa yang tak ingin kehidupan rumah tangganya diganggu siapapun,” terang Minho. “Siapa tahu, kau akan melaporkanku pada ayah dan ibu, menyuruh mereka menjemputku!” cetusnya.

Donghae tertawa ringan. “Kenapa kau berfikir sejauh itu sih?!” umpat Donghae dalam candaan, dan Minho hanya mengangkat bahunya, tak peduli. “Tapi, kenapa kau begitu tak ingin tinggal di Jepang dengan orang tuamu, Minho-ya? Mereka pasti hawatir,” tanya Donghae tiba-tiba.

“Aku tak punya teman hyung! Aku tak bisa bahasa Jepang!” tutur Minho.

“Kau payah!” tanggap Donghae.

“Biar saja..”

Trek.

Donghae menyimpan sendok dan garpuhnya di atas piringnya yang telah kosong. “Hey,” panggilnya, “bagaimana jika nanti, hyung yang akan ikut denganmu, kesana?” tanyanya tiba-tiba.

“Huh?”

“Aku ke Jepang, menemanimu disana, bagaimana?”

Minho masih mengunyah, namun mampu menganggukkan kepalanya, nampak menyetujui. “Ide bagus!” komentarnya. “Tapi, bagaimana dengan paman?”

Donghae kembali berfikir. “Aku akan pergi ke Jepang, setelah membebaskan ayah dari sel, tentunya. Tapi uangnya masih belum cukup. Ah, aku akan menemuinya sore nanti..” lanjut Donghae, sambil membereskan piring-piring kotor bekas dirinya dan Minho baru saja.

Saat itulah, tiba-tiba saja pertanyaan yang jarang terlontar, kini mencuat dari balik mulut Minho, sang adik. “Sebenarnya kau bekerja apa hyung?”

Donghae terpaku di tempatnya. Sedikitpun Minho belum tahu, darimana uang-uang yang di dapat Donghae selama ini, meski baru dua minggu lamanya, Donghae bekerja bersama Jaejoong. Sebagai pelacur pria? Gigolo? Begitulah..

“Aku menari di sebuah bar..”

Minho kembali menangguk-anggukkan kepalanya, sambil melap bibirnya. “Pantas kau jarang di rumah jika malam tiba..” komentarnya, hanya ini.

Di siang yang cerah..

“Taeminie, kau tak akan pulang bersamaku?”

Minho baru saja menapaki gerbang sekolahnya, berniat pulang. Namun sang kawan, menolak untuk pulang bersama, dan malah pulang bersama temannya yang lain. Siang yang terik, semakin menyulut amarahnya. Ia geram melihat kedekatan sang kawan dengan orang lain. Dengan tangan mengepal, ia mencoba menghalau Taemin.

“Aku tak mengijinkanmu pulang bersamanya, Taeminie!”

“Eh? Kenapa?”

“Karena. Karena aku menyukaimu,”

BUG.

Satu pukulan mengawali, dari dia yang tak ingin Minho mengganggu seorang Taemin. Percintaan kecil beberapa anak remaja, yang nyatanya membawa Minho pada sebuah perkara besar, kala ia secara tak sengaja, atau memang sengaja, menghantamkan sebuah batu pada lawan tarungnya..

Sementara di lain tempat..

“Maafkan aku, ayah. Aku belum bisa mengeluarkanmu dari sini..”

Donghae tengah menghadap sang ayah, dengan kemelut di wajahnya. “Aku menyesal mengatakan ini..”

Sang ayah, tersenyum pada putranya. Hanya tersenyum, karena ia tak mampu menggapai putranya barang sedikitpun. “Sudah ayah bilang, kau hiduplah dengan baik, Donghae. Urus dirimu, dan berhenti mencemaskan ayah. Ayah baik-baik saja..”

Donghae menunduk. Tak ada tangis, hanya penyesalan yang dalam. Terlebih..

“Aku bisa mengeluarkan ayahmu dari penjara..”

Dapat Donghae ingat janji seseorang yang kini hanya akan menjadi harapan palsu, dan kosong. Iapun menjadi bersedih akan hal itu, terutama mengingat, memang itu hanyalah janji busuk, dari Kibum yang menghianatinya. Kibum seolah mengangkat tubuhnya tinggi, lantas menjatuhkannya kembali dari tempat tinggi tersebut.

“Hah..”

Donghae mendongakkan kepalanya, ke arah langit. Tanpa terasa ia sudah menapaki luar ruangan, masih di depan tempat, dimana ayahnya di sekap di dalam sana. Seketika, warna langit yang biru, yang berbaur dengan sinar mentari sore itu, masuk ke dalam pandangannya.

Puk.

Puk.

Donghae, menepuk-nepuk pelan dadanya, seolah ingin mengalihkan sakit dari dalam sana. Ia melihat sebuah ujung gedung tinggi, lantas mengeluarkan sebuah kunci dari dalam jaketnya. Kunci yang lalu ia angkat, ia lihat, dan lalu ia berkata, “aku harus mengembalikannya..”

Begitulah ia yang lalu melangkah, lunglai. Terus melangkah menyusuri jalanan, hingga sampai di sebuah club cukup mewah, yang nyatanya, adalah tempat dirinya bertemu dengan seorang Jaejoong. Tempat yang membuatnya bertemu dengan..

‘Lagi-lagi Kibum!’ rutuknya dalam hati.

Tak ia hiraukan penat itu. Ia hanya ingin melupakan segala penatnya. Ia masuk, lantas mencari dimana Jaejoong yang tak dapat ia temui akhir-akhir ini.

“Kau melihat Jaejoong hyung, Hyuk?” tanyanya pada salah seorang teman, yang juga tengah bekerja disana. Bernama Eunhyuk.

“Tidak, Hae. Kenapa kau baru kemari setelah pekerjaan pertamamu?” tanya Eunhyuk tiba-tiba.

“Eh, itu..”

“Sudahlah. Bukankah kau kemari untuk bekerja?”

“Ya?”

“Lihat!” Eunhyuk, menunjuk seorang pria di meja ujung, tengah menyendiri di antara botol-botol minumannya. “Diapun menunggu Jaejoong hyung. Kau bisa menemaninya sebentar?”

“Tapi..” ucap Donghae ragu, mencoba membantah, atau sedikit menolak. Akan tetapi Eunhyuk lebih dulu mendorongnya.

“Mungkin dia bisa menemanimu, selagi kau menunggu Jaejoong hyung datang..” tutur Eunhyuk pada dia, mendorong Donghae agar terduduk bersama dengan pria tersebut. Dan Eunhyuk? Pergi, setelah berbisik pada Donghae. “Layani dia..”

“Huh?”

“Terima kasih..”

Sebuah kata, dengan nada agak malu keluar dari mulut Minho. Ia menatap takut, pada seseorang yang lebih tinggi darinya, yang baru saja menemaninya seharian ini di kantor polisi. “Aku tak tahu, kenapa Donghae hyung tak bisa dihubungi tadi,” tutur Minho, bercerita, dalam malu yang belum hilang ia rasa. “Untung kau datang..”

Sosok di samping Minho? Kibum. Hanya menghela nafasnya lelah. “Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu tadi,” timpalnya. “Tapi malah aku yang lebih dulu membantumu..”

Minho tertawa canggung. “Itu, terima kasih..” ungkapnya tulus, sambil menggaruk belakang kepalanya. “Dan maaf, atas kemarin malam..”

“Tsk,” Kibumpun berdecak sebal. “Aku tak peduli akan alasan, kenapa kau menolakku malam kemarin. Aku hanya butuh bantuanmu, bocah!”

“Huh?”

“Akupun mencari Donghae. Dia sedang marah padaku..”

Hening. Hingga Minho kembali mengawali, dan berbicara lebih akrab. “Pantas tadi pagi, ia terlihat lain. Ia bersedih..”

Untuk yang satu ini, Kibum merenung menanggapinya. Rasa bersalah, tertanam kuat dalam jiwanya. “Itu memang salahku..” curahnya. “Aku harus menemukannya! Ia ada dirumah bukan? Kau mau mengantarku?”

“Ya. Tentu saja..”

Donghae menatap gelas yang terisi oleh cairan yang sebenarnya tak begitu ia sukai. Sedang pria di sampingnya, terus memberikan minuman tersebut, mencekokinya, memaksanya, bahkan membuatnya tersedak akan cairan tersebut. Namun, sesaat cairan itu masuk melalui kerongkongannya, ia merasa, semua melayang, hingga ia pikir, ia mampu sejenak, tak merasakan sesak yang datang sejak semalam itu.

Semua penat itu hilang. Juga..

“Minuman ini dapat membuatmu bahagia..”

Begitulah yang di dengar Donghae, dari mulut pria di sampingnya, yang lalu kembali menyodorkan gelas berisi anggur padanya. Awalnya Donghae ragu, hingga lama menatap pria tersebut. Perlahan, jemarinya terulur meraih gelas tersebut, lalu kembali meneguk isinya. Saat itu, satu buah kartu nama nampak di atas meja, dari pria yang tengah ia temani itu. Tertulis nama,

‘Cho Kyuhyun,’ disana. “Hubungi aku jika kau punya waktu luang, oke!”

Selang beberapa waktu..

Masih dengan Donghae yang mencoba meneguk minumannya, bersama Kyuhyun di sampingnya, yang mulai menggila. Tepat kala itu, seseorang merebut gelas dari tangannya dan membuatnya terlonjak kaget dari posisinya. “Hyung..” lirihnya, antara sadar dan tak sadar.

“Donghae, Ya Tuhan! Apa yang sedang kau lakukan, dan oh! Cho Kyuhyun! Kenapa kau disini bersamanya!” rutuk Jaejoong, memegangi kepalanya, pening. Sedang di sisi lain, Yunho sibuk dengan ponselnya.

“Kibum-ah! Cepat kemari! Donghae sangat kacau!”

Donghae mabuk? Benar. Padahal, sejauh yang Jaejoong tahu, dua minggu ia bekerja seperti dirinya, Donghae belum mengecap minuman itu. Mungkin karena Kibumlah yang di sampingnya saat itu. Sekarang? Dia mabuk berat sambil terus meracau. Pada Jaejoong, menumpahkan semua keluhannya, rasa kecewanya disana, dan membuat gaduh.

“Donghae, kita pulang..” bujuk Jaejoong.

“Tidak!” Donghae menggeleng, dalam langkah yang sempoyongan. “Aku tidak mau!” teriak Donghae.

Jaejoong tak peduli. Ia menyeret Donghae, hingga Kyuhyun bangkit, dan mencegahnya. “Jangan ikut campur Cho! Dia bukan orang yang seharusnya menemanimu malam ini,” bentak Jaejoong.

Donghae bersandar di dinding, menahan pusing yang menderanya, sedang Heechul dan Kyuhyun terlihat berseteru. Lupakan Yunho, yang masih sibuk dengan ponselnya.

Donghae benar-benar mabuk, hingga samar, dapat dilihatnya sosok itu. Sosok yang membuatnya hingga seperti sekarang. Serasa hancur tak berbekas. Ya. Dia Kim Kibum, yang seketika itu juga menyadarkan Donghae dari mabuknya. Membangunkan emosi yang sebenarnya ingin dia tahan, namun ia tak bisa.

Dengan akal sehat yang semu, antara ada dan tak ada, Donghae hampiri Heechul dan Kyuhyun, meski tatapannya, tajam dan lurus, memandang Kibum. Ia, dengan sisa amarahnya, menarik Kyuhyun, mengadukan mulut mereka saat itu juga. Terbentuklah ciuman berdasar nafsu.

Semua diam, tercengang dengan apa yang terjadi, terlebih Kibum yang langsung merasa terbakar saat itu juga.

Kyuhyun, merasa mangsanya sendiri yang datang. Ia lalu menyeret tubuh Donghae, hingga menjatuhkannya di atas meja, setelah sebelumnya tubuh itu, menubruk beberapa botol hingga terjatuh ke lantai dan pecah. Kyuhyun tak peduli. Ia lanjutkan, mencium kasar Donghae yang terkulai di atas meja itu.

Dan Kibum? Semakin mempererat kepalan tangannya. Melihat Donghaenya melakukan hal nakal? Benar-benar membuat kepalanya seakan mendidih. Di sisi lain ia sadar. Donghae menghukumnya. Tapi ini terlihat berlebihan. Biarkan ia bersikap egois kali ini..

Sedang Jaejoong dan yang Yunhopun hanya bisa mematung. Terutama ciuman itu? Terlihat nakal dan kasar. Dalam? Begitulah..

Sempat Jaejoong akan mendekati Donghae, namun Kibum melakukannya terlebih dahulu. Ia tarik Kyuhyun yang tengah menindih tubuh Donghaenya itu di atas meja. Ia tarik kasar, lalu ia tanamkan satu pukulan di pipi pria yang setengah sadar itu. Begitupun Donghae, yang hanya mengernyit di antara setengah kesadarannya. Ia bergerak gelisah di atas meja, hingga satu lagi, sosok yang ia lihat dan membuatnya sadar seketika itu juga.

“Min..ho?” ucapnya, bersamaan dengan sang bocah yang lalu melangkah pergi. “MINHO!” teriak Donghae, hendak berlari, mengejar Minho. Namun sesuatu menahannya. Donghae menoleh. Dan ia?

Kibum..

Menahan keras lengannya, masih dengan sisa nafasnya yang memburu. Ia tatap tajam Donghae, lantas menyeretnya dalam wajah yang dingin, namun terlihat emosi yang dalam disana..

Jaejoong hanya berinisiatif untuk mengejar Minho, setelah ia katakan, “aku akan mengejar anak itu. Kalian selesaikan urusan kalian, ayo Yun!” dan mengajak Yunho tentu saja..

“Lepaskan!” teriak Donghae berulang-ulang. Bagaimana tidak? Kibum menyeretnya sejak dari tempatnya mabuk tadi. Kibum seolah tak memberinya ampun. Tak peduli, bahkan ketika sesekali Donghae terjatuh, menciptakan luka di berbagai kulit di kakinya. Tak juga ia pedulikan tatapan orang-orang yang melihat aneh ke arah mereka.

“Lepaskan Kim Kibum!” teriak Donghae tak sadar. Iapun tak ingin tahu, kemana Kibum membawanya kini. Tempat asing yang baru dijumpainya? Namun ia sedikit hafal tata letak tempat tersebut, setelah ia masuki pintu ruangan itu..

Donghae sibuk, hingga tak terasa Kibum menyeretnya ke arah kamar mandi. Menghidupkan shower, lantas membawa Donghae kesana. Menyiram Donghae, agar ia segera tersadar.

“Kau brengsek! Lepaskan!” raung Donghae kembali, sambil memukul-mukul Kibum yang tetap menahannya agar tetap berada di bawah guyuran air.

Keduanya  telah basah. Kibumpun enggan beranjak, menahan Donghae agar tetap pada posisinya. Kibum mengunci Donghae, yang terus berontak di bawah gemericik air itu. Kedua tangannya, mengunci kedua sisi wajah Donghae. tak ada kata lain. Ia hanya labuhkan bibirnya, pada bibir Donghae, untuk membungkam tiap kata Donghae. Tiap teriakan Donghae, yang sebenarnya turut menyayat hatinya.

“Engh!” Donghae lemah. Selain karena perlakuan Kibum, ia lelah karena terus berteriak. Ia tak lagi mampu melakukan banyak pergerakan, hingga Kibum mendorongnya ke dinding terdekat, lantas menghimpitnya. Cukup keras membuatnya meringis di antara dua bibir yang masih saling beradu itu.

Kibum menggila. Ia labuhkan ciumannya di berbagai tempat di wajah Donghae. Padahal, Donghae sudah berontak sebisa mungkin. Kibum tetap berdiri tegak di pihak amarahnya yang kian memuncak. Ia, merobek kaos Donghae dengan cepat.

“Agh! Kibum!” teriak Donghae, meronta.

Kibum menjadi tuli. Ia buat Donghae hampir tak mengenakan pakaian, karena celana Donghaepun sudah ia buka, dan lalu, ia kecupi dada Donghae yang sudah tak berkain itu. Ia kecupi berulang, disertai jilatan liar.

“Kibumie!” pekik Donghae tertahan, sambil berusaha mengatur nafasnya, juga mata yang kian terpejam, di antara tangis yang terurai. Donghae menangis, takut melihat Kibum yang kalap sedemikian rupa. Namun Kibum tak ingin mendengar.

“AGH!” pekik Donghae. Ia tak kuasa, hingga menahan nafasnya, sambil menatap ke arah Kibum, yang mulai merunduk. Donghae bergetar, menatap lirih bercampur takut ke arah Kibum. Kibum, yang mulai menurunan ciumannya, jauh ke bawah, bahkan hampir membuat bagian bawahnya utuh, saat jemarinya sudah mulai menarik paksa, menurunkan celananya.

Dengan sisa tenaga, Donghae menahan jemari Kibum. “Jangan, Kibumie..” lirihnya. “Aku tak mau seperti ini!” teriaknya, lantas mendorong tubuh Kibum yang saat itu juga terjatuh. Ia hendak membebaskan diri, jika saja Kibum tak menahan kakinya, hingga dirinyapun ikut terjatuh, tepat di tengah guyuran air.

Kibum, kembali menekannya. Menekan tubuh Donghae di bawahnya, di atas lantai yang dingin. Menindihnya, dan menyerangnya tanpa ampun.

“ARGH!!”

“Apa Kibum tak akan melakukan hal buruk pada Donghae?”

Yunho menggerakkan lima jemarinya pada kaca jendela mobil di sampingnya. Sama hal dengan Jaejoong, iapun terlihat sedikit hawatir, mengingat tadi mereka melihat, bagaimana Kibum menyeret Donghae. “Sayang kita tak tahu, kemana dia membawa Donghae,” ucapnya sambil melirik Jaejoong, yang tengah menyelimuti seorang bocah, yang baru diketahui, bahwa ia adalah sepupu Donghae.

“Tapi aku takut. Kau tak lihat, bagaimana Kibum marah tadi? Bahkan Kyuhyun dipukulnya, Yun!”

Yunho berdehem, meredam gusar pada dirinya sendiri. “Kurasa dia tak akan menyaiti orang yang disayanginya, Jaejoongie!”

“Benarkah? Aku ragu. Juga? Bagaimana dengan istrinya? Aku tak sanggup melihat Donghae terluka! Kurasa Kibum akan kembali pada istrinya, bukan?”

“Mungkin ya. Kibum akan bertanggung jawab pada anaknya, bagaimanapun..”

“Tsk,” Jaejoongpun terlihat kesal, namun terbalut senyuman yang miris. “Kupikir Donghae tak akan sepertiku, karena ia bertemu Kibum,” tuturnya lantas menutup matanya perlahan, menggambarkan sebuah lelah yang meraja. “Tapi setelah ini, kuyakin dia akan merasakan posisi yang sama denganku, Yun..”

Dan entah mengapa, Yunho berkata, “maafkan aku..” dengan sangat tulus, meski ia ta menatap Jaejoong. Bukan tak mungkin, mereka berada pada posisi yang sama seperti Kibum dan Donghae..

Kibum berdiri, menatap Donghae yang hanya diam, terbaring menyamping memunggunginya. Donghae yang hanya terbalut selimut putih yang baru di ruangan tersebut. Ya. Semua baru, Donghae tahu. Ia sendiri yang memilih semua barang di tempat tersebut. Bahkan termasuk apartemen tersebut.

Donghae enggan berbicara sedikitpun, setelah kejadian di kamar mandi, dimana Kibum, baru saja kembali mengecap tubuhnya. Sebuah pemaksaan, katakanlah demikian. Membuat Donghae geram, namun tak menumpahkannya, dan hanya memilih bungkam.

Itulah mengapa Kibum kini diam, berdiri menyaksikan Donghae yang memunggunginya. Dan juga, sebuah cegukan kecil yang masih tersisa, turut menyayat hatinya.

Selang beberapa menit, Kibum membuka suaranya. Ia lantunkan satu nama dengan pelan. “Donghae..” ujarnya. “Maafkan aku..” ungkapnya tulus.

Tak ada jawaban dari Donghae. Sedikitpun, seolah dia tak mendengar, atau tertidur meski matanya yang sembab itu, masih terbuka. Setelahnya, terjadi pergerakan, pada ranjang yang ditidurinya kini. Itu, adalah karena Kim Kibum yang memilih duduk di ujung yang lain.

“Aku benar-benar mencintaimu, Hae..”

Masih sunyi. Membuat Kibum tak sadar, lantas merangkak, mendekati Donghae yang masih diam. Dia dekati Donghae, yang lalu ia rengkuh tubuh polos nan rapuh itu. Kibum, memeluknya dalam sesal yang begitu mendalam. Ia kecup helaian rambut Donghae, yang bahkan masih basah..

“Aku benar-benar mencintaimu, Hae.. apa masih sulit kau percaya? Aku benar-benar mencintaimu, Hae..”

Tak ada kata, tetap Donghae terdiam, hingga Kibum kembali berkata, “cinta ini memang terlalu cepat namun..”

“Sudahlah,” sela Donghae akhirnya, malas..

“Maafkan aku..” tutur Kibum, tiada henti mengungkapkan maafnya.

Suara detik jam terdengar, menambah dinginnya suasana. Ruangan dengan benda mati lainnya yang menjadi saksi, betapa hati  mereka terlihat rumit satu sama lain, meski dalam hati terdalam, ingin saling menyatu..

“Donghae, sayang..”

Kibum yang kembali berucap, mencoba menyapa Donghaenya yang terdiam, bahkan masih enggan menunjukkan wajahnya. Donghae yang dalam diam, menangis untuk kesekian kalinya di hari itu..

“Kita harus selesaikan, setidaknya, aku ingin mendengar suaramu Hae..”

Tetap tak bergeming. Donghae, malah semakin melekatkan selimut pada kulit tubuhnya. Mengernyit sakit, meratapi nasibnya. Itulah dirinya. Kemana kenangan manis kemarin? Kemana kebahagiaan yang sempat datang beberapa waktu lalu itu?

Bahkan Kibumpun akan segera menghilang, pikir Donghae..

Dan di sisi lain, Donghae tahu, tak ada lagi jalan bahagia baginya untuk bersama Kibum. Terlebih ketika tahu, Kibum akan kembali, pada sang istri yang tengah mengandung. Tidakkah ini terdengar sangat sakit? Maka tiba-tiba Donghae berkata, “aku akan kembali menjadi diriku..”

“…”

“Diriku yang bukan milikmu, Kim Kibum..”

“Donghae..” Kibum berucap lirih sambil mempererat pelukannya pada tubuh Donghae. Ia berbisik, sambil terus mendekap Donghae. Namun tak lama..

Donghae menarik dirinya dari pelukan Kibum. Beranjak di antara tubuh terbalut selimut yang ia bawa. Entah kemana, hingga Kibum dapat kembali melihat, langkah lunglai Donghae, yang lantas terduduk di sampingnya, sambil memberikan dua buah benda yang menimbulkan suara gemerincing saat beradu..

“Kumohon lepaskan aku..” tutur Donghae, dengan guratan pilu di wajahnya. Ia sodorkan dua buah kunci, yang lalu ia simpan di sisi tubuh Kibum. Tapi..

“Tidak!” tolak Kibum, dengan tegas.

“Kibumie..” nada Donghae melembut. Bahkan ia memutar tubuhnya, menghadap ke arah Kibum, lantas memandang Kibum dengan senyum lembut di wajahnya. “Mereka membutuhkanmu..”

“Aku mencintaimu..” bantah Kibum.

“Aku tahu, aku percaya itu..” ungkap Donghae. “Tapi kita tak bisa..” lirihnya, sebagai kata terakhir, dan ditutup dengan satu kecupan lembut di bibir Kibum.

Merekapun mulai mengawali malam, yang akan menjadi malam terakhir bagi keduanya, mungkin. Namun, baik itu Kibum ataupun Donghae, dapat merasakan hal tersebut..

Di antara sentuhan dan kecupan mesra, yang berubah menjadi perlakuan kasar di antara lumatan bibir itu, keduanya saling mendesah, menyuarakan nama masing-masing dari lawannya. Bertemankan keringat, di antara lelah itulah, akhirnya satu tetes air mata, mencuat dari kedua sudut mata Donghae..

Ia yang tersakit. Dan Kibum yang paling menyesal. Semua tak mampu mereka hindari..

Di antara deru nafas itu, Donghae menatap dalam pada Kibum. Ia yang lalu berkata tulus, “bagiku, kau yang pertama, dan akan menjadi yang terakhir. Aku milikmu, meski tidak bisa untuk saat ini..”

“Terima kasih, dan maafkan aku..”

“Aku akan pulang saja, jika kau bekerja seperti itu demi aku, hyung!”

“Minho, jangan begini, kumohon..”

“Aku akan ke Jepang saja. Aku tak ingin menyusahkanmu lagi..”

Donghae tersenyum lembut, lantas menghentikan tangan sang adik yang sibuk merapihkan bajunya. “Bagaimana jika aku ikut denganmu saja?”

THE END

24 thoughts on “YOU REFLECT ME [2/2]

    Eun Byeol said:
    Mei 19, 2013 pukul 7:53 am

    Nggak rela!!!!!
    Tidak tidak!! Tidak bisa diterima!!
    Sequel!!
    Kibum dan Donghae nggak boleh dipisahkan!!
    Eonniiiiiii~

    hubsche said:
    Mei 19, 2013 pukul 8:09 am

    This plot-story twist is great but It’s breaking my heart at the same time. TT_TT
    Yet, I just can’t breath and this is really for a LOOOONG one. I don’t know if I can handle this. NO NEED SEQUEL!! Dan…

    YAAH!!! KAU DIPECAT JADI ELFISH!!

    Sekian dan Terima CIUM dr HAE ^___^

    Mea HAE said:
    Mei 19, 2013 pukul 8:14 am

    ehh…apaaan ini ga bisa ga rela
    ga mauuuuuuuuuuuuu
    pokoknya ga mauu
    KIHAE harus bersatuu…ga relaaaa
    pokonya..cemen banget kibum
    ga berprinsip
    kalau dia cinta kejar lah
    lagian istrinya yang ngajuin tuntutan trus dia dikhiantin.
    ish.

    Osi Dwi Olyvia said:
    Mei 19, 2013 pukul 8:44 am

    Sad ending????
    Andwaeeeeee
    Jangan pisahkan Kihae eonnnn
    Mau sekuellll
    Aduh nyesek ini ><
    Serius eon bagussss

    Laila .r mubarok said:
    Mei 19, 2013 pukul 12:30 pm

    Serius nih udah end?
    ANDWEEEEEEEE~
    Hiks… Eonii.. Kau tegaaaaaa~
    Udah abis anaknya lahir, cerein aja casey trus anaknya ikut kibum sama hae..
    Huweeeee~ hiks..
    Mau squeeeel

    Eh eon tdi typo ya? Kok kyu berantem ama heechul? Bkannya jaejoong yah?

    Ruoxi said:
    Mei 19, 2013 pukul 1:00 pm

    Aku belum baca yang part 1. Aku minta PWnya dong kak tufoni93@yahoo.com

    BryanELFishy said:
    Mei 19, 2013 pukul 1:54 pm

    Apa ini Eonnie???????????
    APA INI????
    Endnya??? mengenaskan……
    masa iya begitu~

    Eonnie penyiksaan woy…..
    nggak rela dah kalo begini..
    Gantung casey!!!!!! *dicekek heenim
    ini??? SEQUELLLLLLL~
    mau sequelllll T_T

    nia na yesung said:
    Mei 19, 2013 pukul 3:16 pm

    Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh ……………………… ini apa ????
    Ya ampun ><
    Please Jgn pisahkan Kihae !!!
    Aku gak Relaaaa …… Mereka Harus Bersatu

    SequeLLLL ,,,,, ?????

    vheylee14 said:
    Mei 19, 2013 pukul 9:21 pm

    Ya Tuhan..
    Apa ini??
    End???
    Jd intinya tetap tak bersama?

    Panas!!
    Serasa pengen membunuh org..

    Elfisyhae said:
    Mei 20, 2013 pukul 1:23 am

    Butuh. . . Sequel eon. . .

    niea_clouds said:
    Mei 20, 2013 pukul 6:23 am

    APA INI ????? KIHAE ga Bersatu ? GA RELA, GA RELA ,GA RELA !!!!! PLEASE Jgn pisahkan KIHAE !
    SEQUEEEEEEELLL !!!!

    arumfishy said:
    Mei 20, 2013 pukul 10:32 am

    yahhhhhh apa KiHae g bersama Oen?????

    kan kasian Donghae????Kibum dapet enaknya??walau sama-sama terluka😥

    hima_kawaii said:
    Mei 20, 2013 pukul 1:47 pm

    omo omo meskipun gak baca part pertama…ini nyesek juga T_T ya sudah…berbahagialah di jepang sana ya hae… kkkkk~😄

    Lee sae hae said:
    Mei 20, 2013 pukul 3:02 pm

    Kihae pisah nih eon? Gak bareng ? Jangannnnnn dong eonn.. Kasian kihae nya
    Terlebih si Hae.. Kasian banget sihhh..
    Ahhhh casey bener” ngerusak suasana banget nihh..
    Ayo dong eonn ada epilog nya. Kan sayang banget kalo kihae harus pisah..
    Tapiiiii ini bagusss eonn, bikin nyesek tapi kerennnnnn!!!

    namihae said:
    Mei 20, 2013 pukul 11:41 pm

    eonnie……………………….. ini……………………………………… DAEBAK TT-TT
    feelnya dpet T-T ……. brasa ini ff 3D? *plak
    tapi? HUH? kihae pisaaaaahhh? satukan mereka kembali!

    suhae1005 said:
    Mei 22, 2013 pukul 10:53 am

    Mwooooo??????????
    Mereka tak bersatu !!!!!
    nyesek boo bacanya ..😦 , oh thks untuk pwnya dichap 1

    Nelly Key said:
    Mei 24, 2013 pukul 8:46 am

    Eonniieeeee… Kasian haenya kalo gtu,,, istrinya kibum pasti pura2 hamil tuc ato itu bukan anaknya kibum… nah hayo #geret casey,, paksa ngaku#

    Ainun_lara said:
    Mei 25, 2013 pukul 1:34 pm

    ANDWAEEEE!!!!,tidak terima!!,tidak Ikhlas!!,apa itu!,nyesek ,pake banget !!!.
    Kibumiiiiieeee itu bukan bayimu “Plakk”,tajong Casey.
    MINA Saeng,ugh!! SEQUELLLL,jebal.
    Meraung,gugulitikan,ngadat,ngerengek,bikin si ikan hamil..

    lita samantha said:
    Mei 26, 2013 pukul 2:40 pm

    wah ini keren banget
    bener2 dapet feelnya
    adakah sequelnya?

    Shin Y said:
    Mei 27, 2013 pukul 3:03 am

    hah?? trs kihae pisah gitu??? ANDWAE ><

    Raihan said:
    Mei 31, 2013 pukul 8:02 am

    Huwoooooooooooooooooooooo..

    Masa The End sih?..

    Kaga boleh!!!
    Ini belum jelas juntrungannya, siapa tau itu bukan anak Kibum, siapa tau itu anak orang lain dan si Casey hanya minta perlindungan. Dasar perempuan menyebalkan #plaak

    Tapi kaga papa sih, kalo Donghae ke Jepang trud beberapa tahun kemudian ketemu Kibum lgi kan keren….^_<

    Vheroniicha said:
    Juni 8, 2013 pukul 3:00 am

    Jadi Jadi Jadi..
    Trus gimana..
    Pisah kah…
    Andweeeee

    isfa_id said:
    Agustus 10, 2013 pukul 10:52 am

    heh? apa ini? *kecewa*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s