ANALGESIA [5]

Posted on

Title : Analgesia

Genre : Romance – angst – Family

Summary : Semua, merujuk pada satu permasalahan baru, yang ternyata?

[CHAPTER 5]

.

Donghae kini tengah memejamkan matanya, dengan kepala terkulai di atas paha seorang wanita, dengan rambutnya yang kian memutih. Wanita yang tengah mengusap kepalanya penuh akan rasa lembut.

Keduanya tersorot cahaya dari jendela yang terbuka. Donghae, bahkan tersenyum di antara matanya yang terpejam. Ia menikmati setiap sentuhan sang ibu yang tengah berusaha membuatnya tertidur. Namun sedetik kemudian, ia teringat akan satu hal, hingga bibirnya berujar, “maafkan aku, bu..” dengan sangat pelan.

Ia, sang ibu tersenyum. “Apa yang kau risaukan, anakku?” tanyanya.

Donghae seperti tak puas dengan sikap lembut tersebut. Ia mampu mengalirkan buliran air mata dari tiap sudut matanya. “Mengapa kau masih bersikap baik padaku?” sesalnya. “Kenapa kau tak benci padaku, dan menghukumku, ibu? Aku bersalah padamu..”

“Tidak,” sanggah sang ibu lembut. “Kau anakku. Aku berhak melindungimu, Donghae..”

Donghae sedikit bergerak dari posisinya. “Aku anak tirimu,” ucapnya penuh akan nada yang begitu getir, miris terdengar. “Aku tak pantas mendapat kasih sayang sebanyak ini, bu. Aku..”

Tak mereka ketahui, bahwa Kibum ada. Menyaksikan dan mengamati segalanya. Sejenak ia lirik seorang pria tua yang kini tengah berada di sampingnya. Seorang kakek, yang lalu membawanya pergi, meninggalkan Donghae bersama sang ibu disana, hanya berdua.

Tiba di pekarangan rumah, dan Kibum, terduduk di antara kursi yang tertutupi daun-daun kering. Ia lalu mencoba untuk berbicara pada sang kakek. Awalnya ia berkata, “tidakkah kau ingin menceritakan semua hal tentang tuan muda padaku?”

Sang kakek sempat menghela nafasnya, sebelum ia berkata, “dulu, keluarga ini diliputi kebahagiaan. Meskipun tuan besar, memiliki dua istri, hingga menghasilkan dua anak laki-laki. Awalnya semua baik-baik saja. Sangat baik! Rumah ini selalu hangat. Kedua istri dan anaknya terlihat rukun dan bahagia.”

Kibum hanya mampu diam dan mendengarkan dengan seksama. Mendengarkan tiap tutur kata dari sang kakek, yang mendapat tugas untuk menjaga ibu Lee selama ini.

“Berawal dari tuan muda Donghae, yang menemukan sebuah senjata,” tutur sang kakek kemudian. Dalam ragu, ia tatap Kibum, hingga Kibum memberi isyarat baginya agar menuntasan untaian cerita tersebut. “Tuan muda mengira, itu hanyalah sebuah mainan milik hyungnya,” terang sang kakek.

“Lalu?”

“Lalu tanpa sengaja, pistol tersebut akhirnya, memuntahkan isinya yang lalu bersarang dibalik tubuh nyonya..”

“Nyonya yang mana?” tanya Kibum heran.

“Ibu kandungnya sendiri..”

Kali ini Kibum agak termenung mendengarnya. Ia mencoba mencerna, hingga mendapat kesimpulan dari semuanya. “Jadi yang di dalam, adalah ibu dari tuan muda Sungmin?” tanyanya, yang disambut satu anggukan dari sang kakek. “Dan tuan muda Donghae, membunuh ibunya sendiri?” tanyanya dalam ragu.

“Ya,” jawab sang kakek. “Aku datang setelah mendengar letusan keras tersebut, dan lalu melihat semuanya,” ucapnya. “Aku datang, bersama istri pertama dari tuan Lee. Kami terkejut, melihat bahwa, nyonya muda sudah tergeletak dengan mata terbuka,” ucapnya semakin pelan.

Namun Kibum segera menyela. Ia berkata, “tak apa-apa, aku ingin tahu..”

“Ia meninggal di tangan anaknya sendiri..” lirih sang kakek. “Tapi kami tahu, ini bukanlah sebuah kesengajaan, hingga nyonya besar datang ke arah anak itu, lantas merebut pistol dari tangan tuan Donghae,” lanjutnya.

Sedang Kibum masih mendengarkan..

“Nyonya besar, lantas menenangkan anak tersebut, yang nyatanya nampak sangat terkejut akan hal tersebut,” ujar sang kakek, yang begitu semakin terlihat ringkih semenjak semilir angin semakin besar menderanya. Ia bahkan sesekali terbatuk, hingga Kibum, tanpa sadar mengelus punggung sang kakek perlahan.

“Tuan yang besar, tak ingin kejadian itu tersentuh media. Ia sembunyikan kejadian tersebut, namun..”

Kibum melirik, menatap sang kakek yang menundukkan wajahnya. Tak lama, karena sang kakek, lalu balas meliriknya, dan tersenyum ke arahnya. “Aku tak yakin menceritakan semua hal padamu, tapi sepertinya semua sudah terlanjur. Apa kau bukan seseorang yang akan bertindak macam-macam?” tanyanya sebagai jeda atas ceritanya.

Kibum menggeleng..

Dan sang kakek melanjutkan. “Namun semua tak berjalan seperti apa yang terjadi sebenarnya..”

“Huh?”

“Nyonya besar, meyakinkan suaminya bahwa, ia yang membunuh ibu Donghae. Ini sangat mudah di percaya, karena ia mengatasnamakan perasaan cemburunya, padahal aku tahu, itu hanyalah kebohongannya untuk melindungi Donghae, sang anak tiri yang ia sayangi,” tuturnya.

“Begitukah?”

“Ya,” jawab sang kakek. “Anak itu sendiri berbicara apapun. Ia tak juga menangis, membuatku hawatir.”

“Lalu?”

“Nyonya muda, segera disemayamkan secara tersembunyi, sedangkan ia, lantas menghukum istrinya yang lain. Mengurungnya di rumah ini..”

“Tapi bagaimana dengan Sungmin? Donghae?” tanya Kibum lagi..

“Tuan membawa keduanya, setelah sebelumnya mengatakan bahwa, dua istrinya telah meninggal, begitulah, hingga tuan menugaskanku untuk menjaga rumah ini, tanpa diketahui siapapun bahwa, salah satu istrinya masih hidup di dalam sana..”

Kibum nampak mengerti. Bibirnya berucap, “ini gila!” dengan pelan.

“Jiwa nyonya terganggu, itu benar. Tapi ia tetap mengenal anak yang tengah dilindunginya hingga sekarang..”

“Aku tak tahu, ayah melakukannya, bu..”

Ucap Donghae, sedikit bergerak dari posisinya. Hingga sang ibu, dapat ia lihat di atasnya, masih mengusap pelan rambutnya. Sang ibu yang lalu merunduk, untuk menatap wajahnya. Ia berikan senyumnya pada Donghae. “Dia pantas melakukannya. Ia marah, karena aku membunuh istri mudanya,” lirihnya.

“Tapi bu..” timpal Donghae tak terima. “Kau tahu, bahwa akulah..” ucapnya tercekat. Ia hampir saja terduduk dengan tergesa, jika tak ada rasa nyeri yang tiba-tiba menyerang, dari luka di tangannya.

“Kau terluka,” peringat sang ibu.

Ibu Lee, jelas tahu, semenjak dilihatnya Donghae datang dalam gendongan seseorang. Donghae yang tak sadarkan diri dengan lengannya yang dipenuhi darah.

Ia akhirnya membantu Donghae, agar terduduk dengan tubuh yang bersandar pada kepala ranjang. “Ibu tahu apa yang akan kau bicarakan,” tuturnya lembut. Ia benahi posisi Donghae, dengan menyimpan satu bantal di belakang punggung Donghae. “Ibu harap, kau tak lagi membahasnya..”

Donghae semakin termenung dan menundukkan wajahnya dalam..

“Ibu senang, mendengar bahwa kalian baik-baik saja,” ucapnya, sambil membenarkan letak helaian rambut Donghae. “Hyungmu baik-baik saja bukan?” tanyanya, membuat sang putra kembali mengangkat kepalanya, menarik wajah untuk menatapnya.

Dan Donghae tersenyum tipis, terbalut dalam sebuah keraguan, meski nampak terlihat, ia berusaha untuk menunjukkan sesuatu yang lain daripada keadaan hatinya. Ia lalu menjawab, “Hyung baik-baik saja, bu.. ia sudah besar! Bahkan lebih tinggi dariku, tapi..” ucapnya terputus.

Sang ibu menjadi bingung kemudian..

Sedang Donghae, menatap ke dalam dua mata ibu Lee. “Apa ibu tak ingin bertemu dengan kami? Dengan Sungmin hyung? Kurasa ibu bisa saja pergi dari sini dan menemui kami? Mengapa ibu tetap diam disini?” ucapnya.

“Ibu terima hukuman ini, karena ibu tak ingin semua bertambah buruk jika ibu menampakkan wajah ibu di hadapan ayah kalian,” ucapnya. “Cukup seperti ini saja, meski sekarang kau telah menemukan ibu, dan mengetahui segalanya..”

“Ibu, aku bersalah padamu..”

BRAK!

Satu dorongan pada sebuah pintu, terjadi dengan keras, menimbulkan bunyi yang setimpal. Cukup kencang, karena permukaan kayu tersebut tepat menubruk dinding di belakangnya, hingga harus membuat permukaan cat disana sedikit retak.

“Bisakah kau mengetuk pintunya terlebih dulu?” ucap sang pemilik ruangan dengan angkuh. Ia tak merasa terkejut atas gebrakan tersebut, dan masih tenang dalam posisinya. Duduk di atas ranjangnya, dengan selimut hampir menutupi sebagian kakinya. Sedangkan kedua tangannya, sibuk memegang sebuah majalah yang tengah dibacanya.

Sedangkan pihak yang mendorong pintu dengan keras itu, sama sekali tak dapat menyembunyikan emosinya. Nafasnya memburu, menatap sosok manis yang tengah menantangnya. Sosok manis, yang tak dapat ia pungkiri, terdapat beberapa bagian wajah yang menyerupai dirinya.

“Aku tak peduli, sekalipun kau adalah pemilik rumah ini!”

“Jaga ucapanmu, Lee Sungmin! Aku pemilik rumah ini, dan juga adalah ayahmu!”

Sungmin, tak bergeming, bahkan ketika bentakan itu terdengar jelas di telinganya. “Anakmu? Aku?” tanyanya terlihat menantang. “Ayahku? Kau? Kenyataannya tak seperti demikian!” teriak Sungmin lantang. “Kau seolah membuangku setelah ibu meninggal, dan lebih menyayangi Donghae, pantaskah?”

Tuan Lee menjadi diam. Nampaknya Sungmin memang tak tahu. Benar. Ia tak tahu dan sang ayah? Tak berniat memberitahunya.

“Bahkan aku putra pertama mu! Aku lahir sebelum Donghae dilahirkan!” raung Sungmin. “Kenapa kau hanya melihatnya? Hanya menyayanginya? Kenapa tak kau buat aku mati saja, dan buang aku!”

Plak.

Satu tamparan telak, membungkam bibir Sungmin yang berteriak tanpa batas, membuang rasa hormat anak kepada ayahnya. Meski, tetap tanpa penjelasan, sang ayah meraung marah dalam nafasnya yang memburu. “Kau tak berhak bicara banyak!” sanggahnya.

“Kau yang memaksaku! Kau pikir aku akan tahan jika diam saja, huh?”

Tuan besar dari keluarga Lee tersebut, nampak mengendalikan emosinya. Ia tatap Sungmin, “dimana adikmu? Kau menyembunyikannya? Atau membunuhnya? Katakan!”

Sungmin membuang kesal wajahnya. “Apa untungnya memberitahumu?” dengusnya.

“Jangan membuatku bertindak lebih jauh!”

“Memangnya apa lagi yang bisa kau lakukan, ayah?” tantang Sungmin dengan tawanya, meremehkan. “Akupun bisa melakukan banyak hal tanpa sepengetahuanmu,” ucapnya.

“…”

“Aku bingung, bagaimana mengatakannya pada ibu, akupun..”

Grep.

Donghae nampak diam, kala Kibum membawa tubuhnya pada sebuah pelukan hangat. Membuatnya nyaman seketika, meeki rasa nyeri datang dari luka di lengannya. Ia mampu menahannya sejauh ini, lagipula, bukan kesengajaan Kibum melakukannya, tak ada niat menyakiti.

“Bahkan, akupun baru mengetahui bahwa, saudaraku sendirilah, yang selama ini tak menginginkanku hidup,” lirih Donghae, menggumam dalam dekapan Kibum. “Kibumie, sekarang aku tahu semuanya. Ibu? Ayah? Sungmin hyung? Mengapa semua menjadi seperti sekarang?” racaunya.

“Tenanglah,” bujuk Kibum, mendengar tiap kata Donghae yang begitu pelan.

“Karena aku pembunuh, Kibumie!” ucap Donghae, mendongak, lantas tersenyum miris pada Kibum. “Aku membunuh ibuku sendiri,” bisiknya, seperti tak sadar.

Kibum dapat menangkap keanehan itu. Donghae, nampak bagai sosok yang gila. Mengutarakan sesuatu yang sebenarnya, ingin ia sangkal. Sesuatu yang memang, tak dapat ia ragukan kebenarannya.

“Aku membunuh ibu,” ucap Donghae, melepaskan diri dari pelukan Kibum, lantas berjalan, hingga berdiri, dengan telunjuk menunjuk pada satu sosok dalam sebuah fhoto terpajang di dinding. “Ibu tiriku, mengorbankan dirinya untukku, dan sanggup berpisah dengan anaknya! Ayah membencinya, dan juga mebenci anaknya, juga? Anaknya membenciku sekarang! Kau mengerti?” tutur Donghae, panjang tanpa jeda. “Aku mengerti..” jawab Donghae pada dirinya sendiri. Ia terlihat bingung..

“Hey,” Kibum bangkit, mencoba mendekati Donghae, lantas menggapai jemari Donghae, dengan jemari lain yang mengusap wajahnya.

Donghae menyadari kehadiran Kibum tentu saja. Bukankah ia tengah mengajak Kibum bicara?

“Kau ingin membantuku, Kibumie? Kurasa aku harus menemui ayah, membawa serta ibu dan menjelaskan segalanya.”

“Donghae..”

“Biarlah aku yang merasakan semua hukumannya, meski harus disekap hingga aku mati disini, Kibumie..”

“Donghae!” sergah Kibum agak keras. “Jangan terlalu banyak berfikir..” ucap Kibum, sesaat setelah ia labuhkan, satu kecupan ringan di kening Donghae, membuat Donghae mendongak, seperti kembali pada dirinya semula. Semua fikiran buruk itu, seolah bersembunyi seketika.

“Kibumie..”

Kibum, bahkan nampak tersenyum tipis dan ini? Untuk pertama kalinya Donghae lihat. Pertama kali. Kibum yang nampak hangat, membuat Donghae tenang, dan nyaman. Kibum yang menyimpan kesepuluh jemarinya, di dua sisi wajah Donghae, dan bergerak pelan disana, mengelusnya.

Lantas..

Satu kecupan, ah! Dua? Tiga? Dan kecupan lain menyusul, di kening Donghae, di kedua mata Donghae, di kedua pipi, hidung, dagu? Bahkan, satu kecupan manis di bibir Donghae, mampu Kibum berikan. “Kau tak ingat?” ucap Kibum kemudian, dan Donghae? Hanya berkedip menanggapinya. “Akan selalu ada aku di sampingmu..”

‘Benarkah?’ beginilah kira-kira, apa yang tengah Donghae utarakan dalam hatinya, sambil tak henti menatap Kibum.

“Jikapun ayahmu menghukummu, menyekapmu disini? Aku yang akan membawamu pergi!” lanjut Kibum, terdengar dalam nada candaan. Kibum bahkan bergurau?!

“Meski aku tak bisa, atau belum bisa mengatakan dan merasakan rasa yang sama denganmu, tapi aku bisa membuktikan, bahwa, kau adalah sesuatu yang ada dalam hatiku, mungkin..”

“Eh?”

“Biarkan aku membuktikannya..”

Donghae tersenyum. Menggapai jemari Kibum di kedua sisi wajahnya. “Terima kasih..”

“Jangan takut pada apapun. Tuhan, akan memberikan jalan..”

Donghae mengangguk. Tak ragu, ia tarik bawa wajahnya, mendekat pada Kibum. Hanya mendekat, karena ia ingin Kibum yang memulainya, bukan dirinya, sehingga terwujudlah itu. Kibum yang mengerti, bahkan melabuhkan satu ciuman indah, di antara bibir yang beradu itu.

“Aku mencintaimu, Kibumie..”

“Kau baik-baik saja Kyu?”

Sungmin, datang menemui kekasihnya, Kyuhyun. Pria dengan tubuh yang tinggi, berkulit putih, yang kini tengah terduduk di sebuah kursi, dengan meja berhiaskan anggur, dan beberapa riasan cantik di atasnya. “Aku sudah memesan minum, sayang. Mari habiskan malam ini bersama..”

Sungmin mengernyitkan keningnya. Ia mendapati Kyuhyun yang terkesan aneh, dan kacau saat ini. “Kau baik-baik saja, kan? Katakan jika kau memiliki kesulitan, Kyuhyun!” peringat Sungmin tajam.

Kyuhyun? Kyuhyun yang lalu menatapnya samar, tanpa arti. Ia tuangkan anggur, ke dalam gelas yang berdiri di pihak Sungmin. “Aku tak berhak mengatakannya padamu, aku masih memiliki rasa malu..”

“Huh? Aku kekasihmu!” sanggah Sungmin, agak tegas.

“Ayahku..”

Sungmin diam. Mengenai ayah? Itu adalah hal sensitif pula baginya.

“Aku tak sanggup mengatakan, untuk meminjam uang padamu, karena ayahku ternyata memiliki banyak hutang!!” terang Kyuhyun, sambil menunduk dalam.

“Hey, aku bisa berikan berapapun untukmu, Kyuhyunie sayang..”

Sungmin, mengerti akan setiap masalah kekasihnya tersebut. Meski berbada jalan, namun inti permasalahan yang di alami keduanya, adalah sama.

Ayah..

Beberapa hari berlalu..

Siang itu, suara debur ombak, begitu begitu membahana, terdengar di sekitar sisi pantai di laut tersebut. Hamparan pasir, tak jauh dari kediaman Lee yang penuh akan rahasia.

Singkat saja. Bermula sejak Kibum, mengajak Donghae yang begitu terpuruk atas segalanya, mengajaknya melihat pemandangan laut di sekitar rumah. Donghae enggan pada awalnya, namun, ia menjadi tergugah, kala Kibum, dengan lembut menuntunnya ke arah air laut, bermain disana.

“Kibumie,” sapa Donghae tiba-tiba. “Aku melihatmu tersenyum kemarin..”

Kibum menoleh. “Benarkah? Aku tak sadar..” ungkapnya.

Donghae menarik lengan Kibum. Sebagian baju mereka telah basah, termasuk bagian wajah yang tersinggahi beberapa butiran pasir. Mereka, tak peduli. Dan Donghae, menjatuhkan kepalanya, bersandar di bahu Kibum. “Kau harus sering melakukannya,” ucapnya dalam posisi nyaman, merapatkan matanya. Bagaimana tidak, terik matahari menyengat tubuhnya yang basah, hingga terasa hangat. Iapun terduduk, menekuk lututnya, ditambah bersandar di samping Kibum.

“Melakukan apa?”

“Tersenyum!” jawab Donghae cepat. “Itu bukti, kau bisa sembuh, Kim Kibumie!”

Kibum, diam mendengarnya, dan cukup dengan hanya terdiam sebagai jawabannya. Ia, hanya termenung, hanya mendengarkan Donghae yang terus bicara. “Aku tak tahu alasanmu mengidap penyakit aneh itu! Tapi aku tahu, dan membaca bahwa, seseorang sepertimu, bisa sembuh kembali!”

Benarkah?

Kibum benar-benar tak ingin membicarakannya, namun, ia tetap menanggapi. “Mengapa kau ingin aku sembuh?” tanyanya.

Donghae, Donghae membuka perlahan kedua matanya, lantas melingkarkan tangannya di tubuh Kibum. “Aku ingin merasakan kehangatan hatimu, Bumie..”

“…”

“Aku ingin membuktikan, benarkah hatimu mencintaiku?”

Kibum enggan menjawab, dan hanya meraih jemari Donghae dengan jemarinya. Menautkan mereka dengan erat, ingin membuktikan bahwa, “kukira hanya kau yang mengisi pikiranku, Hae..”

“Mana bisa aku membuktikannya!” rutuk Donghae.

“Kalau begitu, rasakan sendiri..”

“Huh?”

Donghae mendongak, heran atas penuturan Kibum, namun, saat itulah, saat wajahnya mendongak ke arah Kibum itulah, Kibum tanamkan bibirnya, pada bibir Donghae secara tiba-tiba. ‘Rasakan sendiri?’ Nampaknya Kibum serius akan penuturan itu.

Beberapa kedipan mata terjadi. Donghae nampak terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu. Anggap saja mereka seorang remaja yang baru saja mengenal cinta. Perlakuan mereka saat bercinta, masihlah harus di anggap buruk. Apa seperti itu saja, bisa secanggung itu? Meski beda bila kita lihat dari sisi Kibum. Lain lagi..

Donghae menggerakkan wajahnya, akibat tubuhnya yang bergerak. Ia pegal. Namun tak disangkanya, bibir Kibum semakin bergerak menjadi, mengingatkannya pada sesi ciuman ketika di depan rumahnya beberapa waktu lalu itu.

“Emh,” Donghae mengernyit, mendapati Kibum yang menekan tengkuknya, hingga ciuman itu berubah nakal dan dalam. Donghae, dia meremas baju depan Kibum tanpa sadar. Terutama, saat Kibum memutar wajahnya, kepalanya? Disertai lumatan, seolah Donghae, merasa bibirnya tertarik? Ah, ini memabukkan nampaknya.

“Engh,” semakin itu terjadi, Donghae semakin melenguh, juga disaat..

Bruk.

Kibum membawa Donghae, terbaring dengan dia diatasnya, menindih Donghae diiringi peraduan bibir yang belum mampu berakhir. Tak mereka pedulikan, ombak kecil yang turut datang, meski tak menenggelamkan tubuh mereka.

Donghae, sibuk meremas kain di punggung Kibum, selagi Kibum, gencar memenuhi bibirnya. Hingga, ciuman terhenti, menyisaka Kibum yang memandang wajah Donghae di bawahnya. “Apa, kau bisa merasakan sesuatu?” tanyanya.

Donghae menjadi terkikik geli, meski wajahnya masih memerah. Ia usap wajah Kibum perlahan. “Tak usah memaksakan Kibumie! Aku percaya padamu..” ucapnya yang lalu disambut kembali, oleh kecupan-kecupan singkat setelahnya.

Bugh.

Brak.

Buagh!

Prak!

“Kemana saja kalian, hah? Mengapa pulang selarut ini, dasar anak kurang ajar! Beraninya kalian meninggalkan rumah tanpa mengunci pintunya!!”

Keadaan begitu tegang, semenjak seorang pria cukup tua, degan satu botol minuman keras di tangan kirinya, tengah menatap marah, bahkan baru saja melontarkan caciannya, pada dua anak yang kini terduduk meringkuk di sebuah sudut ruangan. Bergetar dan saling berangkulan, saling melindungi.

Tak baik jika dilihat, beberapa serpihan kayu, akibat satu kursi yang terbanting ke dinding berserakan di sekitar anak-anak itu. Juga, memar yang di derita keduanya, di wajah dan beberapa tubuh lainnya, mungkin, bisa membuktikan bahwa, telah terjadi kekerasan disana.

“Maafkan aku, ayah. Aku yang lupa. Kyuhyun tidak bersalah,” ucap salah satu di antara anak tersebut, yang melantunkan nama Kyuhyun dari bibirnya. “Kyuhyun, juga ikut denganku, mengantarku mengerjakan tugas sekolah di rumah teman, dia pulang terlambat karena aku..”

Sedang satunya, Kyuhyun? Tengah bergetar di belakang punggung seseorang yang kini tengah membela dirinya. “Hyung..” lirihnya sambil mencengkram kain pada kemeja sekolah, hyungnya tersebut.

“Tenanglah Kyu..”

“Apapun alasannya! Tak kuijjinkan kalian membuatku marah!”

“Ayah kau mabuk!”

Namun..

Bugh. Bugh…

“Hyung, ayah jangan!” Kyuhyun menjerit pilu, di antara pukulan yang di lontarkan sang ayah pada hyungnya. Ia menjerit, meminta sang ayah agar menghentikan itu semua, sedangkan saudaranya, seperti sudah tak sadarkan diri, dengan memar parah pada wajahnya, yang tertutupi darah.

“Jangan!!”

“Kibumie, Kibum bangun!” Donghae, tengah menepuk pipi Kibum yang bergerak gelisah dalam tidurnya. Takjub Donghae rasa, kala melihat Kibum, mengeluarkan sebuah ekspresi pada wajahnya. Meski itu, hanya sebuah raut takut, namun tak pernah terjadi.

“Hey, Kim Kibumie! Bangun!!”

Donghae tak menyerah, terus menepuk pelan pipi Kibum, hingga Kibum terbangun, dan mengerjapkan matanya pelan. “Kau baik-baik saja?” tanya Donghae, dan Kibum berusaha mendudukkan dirinya, disusul Donghae, yang mengusap peluh di wajah Kibum.

“Kupikir kau bermimpi buruk, ya?” tanya Donghae. “Aku tak sengaja kemari, dan melihatmu tertidur tadi,” jelasnya, mengapa dirinya bisa berada di kamar Kibum.

Kibum enggan menjawab. Hanya nafasnya saja yang memburu, meski ia tatap Donghae lama. “Aku, memimpikan hal yang sudah lama terjadi..” ungkapnya.

Donghaepun tersenyum. Untuk pertama kalinya, Kibum menceritakan tentang dirinya pada Donghae. Bahkan dua hari ini, untuk pertama kalinya ia melihat senyum Kibum, untuk pertama kalinya Kibum dapat mengeluarkan arti dari pancaran wajahnya. Kibum yang terlihat takut? Bukankah ini merujuk pada sebuah kemajuan?

“Kau ingin bercerita padaku?”

Jika, pertemuan terakhir mereka ditemani terik matahari, lain hal dengan sekarang, karena mereka, ditemani dinginnya angin malam, juga sinar rembulan. Siapa lagi? Donghae dan Kibum, yang kini terduduk di atas batu karang yang besar, saling berdampingan.

“Kupikir, mungkin karena kau terlalu sering mendapat pukulan dari ayahmua, Kibumie? Mungkin terlalu banyak sakit hingga kau seperti sekarang?”

Kibum enggan bercerita lebih. Kata yang Donghae ucapkan, benar adanya. Dan ia? Malas menanggapi dan membahasnya lebih lanjut. Meski, jemarinya mengajak Donghae, agar bersandar pada tubuhnya, namun ia memutar bola matanya pada arah lain.

“Mari pergi, Kyu. Pergi dari sini? Hyung janji akan menjagamu!”

“Aku tidak mau!”

“Kyu..”

“Aku tak ingin kelaparan di luar sana! Lebih baik mendapat pukulan banyak dari ayah, tapi aku masih akan mendapat makan!”

“Begitukah?”

“Hyung pergi saja sendiri, dan tinggalkan aku..”

Kibum, mengepalkan jemarinya kuat. Hanya satu tangannya yang mengepal, karena jemari lain, masih Donghae genggam. Meski wajahnya tak bersedih, meski pedih tak dapat ia rasa lagi, namun bayangan itu, entah mengapa begitu mengganggunya. Dan tanpa ia sadar..

“Hey! Jangan lagi!”

Donghae, memekik pelan, kala Kibum, menggoreskan punggung jemarinya, pada bebatuan yang kasar. Itu akan sangatlah sakit, bukan? Bahkan kulitnya sudah melepuh, dan akan segara berdarah, jika saja Donghae tak bangkit, lantas menggapainya.

“Jangan pernah melakukannya lagi, Kibumie..”

Kibum pandang Donghae. “Itu satu-satunya cara, ketika aku mengingat masa laluku, Hae. Kuharap, aku akan menangis, minimal jika aku terluka? Tapi air mata ini tak kunjung ingin keluar. Seharusnya aku memang menangis bukan?”

Oh! Donghae mengiba mendengarnya. Ia mengerti posisi Kibum. Kibum yang bahkan kini, tak bisa bersedih atas dirinya sendiri? Ini terdengar menakutkan. Maka, “aku mengerti,” jawab Donghae, sambil tersenyum lirih, bersamaan dengan setitik air di sudut matanya, lantas mengatupkan jemari Kibum di dadanya.

Satu tarikan nafas terjadi. Donghae berikan senyum terbaiknya untuk Kibum. “Ada aku di sampingmu, bukan? Tak usah cemas,” ujar Donghae, mencoba masuk, dalam lingkar tubuh Kibum, memeluknya. “Ceritakan padaku, dan biarkan, aku yang menangis untukmu mulai detik ini?”

“…”

Kibum larut dalam ungkapan tulus Donghae, bahkan ketika Donghae tersenyum, lantas mengaping kesepuluh jemarinya, agar dapat menggapai kedua sisi wajah Donghae.

Jelaskah akan permasalahannya?

“Aku lelah, hyung!”

“Baiklah, hyung gendong?”

“Hyung! Mereka membuatku terjatuh!”

“Biar hyung balaskan untukmu!”

Kyuhyun menerawang jauh, terbawa lamunan masa lalunya. Masa dimana, seorang saudara masih mendampinginya, menjaganya, bahkan berani merasakan begitu banyak sakit untuknya, termasuk hingga pertumpahan darah?

“Hyung! Kau baik-baik saja? Lukamu banyak sekali!”

“Tidak apa Kyu. Aku tak merasakan apapun. Ini tak sakit, aku sudah terbiasa. Pukulan ayah, bahkan bisa lebih banyak dari ini..”

Tiba-tiba saja, di detik selanjutnya, “ini tugas terahir kita. Jika berhasil, kekayaan itu akan menjadi milikku, dan juga milikmu, Kyu!” suara Sungmin membawanya kembali pada masa dimana kini ia berdiri tegak.

“Huh?”

“Aku yakin, Donghae masih hidup! Kita pancing dia keluar, dan sedikit ancaman, untuk ayah..”

Kyuhyun diam. Bukan satu atau dua hari, ia bersama Sungmin, dan melaksanakan tugas gila dari sang kekasih. Semua sudah biasa, namun? Kali ini, ada sesuatu yang menggugah dirinya..

“Kau yakin, Sungminie? Membunuh saudaramu?” tanyanya.

“Kenapa?”

Sama. Ia dan Sungmin sama. Berada pada sisi yang berlawanan dengan saudara mereka, meski ia sendiri tak tahu, saudaranya berada dimana?

“Aku hanya heran, melihatmu begitu antusias dengan harta-harta itu, hingga harus mengorbankan ayah dan juga saudaramu sendiri,” jelas Kyuhyun, nampak tenang.

“Aku tak butuh uang sebenarnya Kyu! Aku hanya butuh, kasih sayang ayah..”

Yah. Kyuhyun tak bisa melawan yang satu ini. Iapun sama, dan merasakannya, meski ambisinya tak sebesar kekasihnya tersebut. Ia, lalu menghampiri Sungmin, dan lantas memeluknya hangat sambil berkata, “aku ada di sampingmu, sayang..”

“Hm. Aku ingin segera ini berakhir Kyu. Kau tahu? Ponel Donghae? Bisa kuhubungi!”

“Lantas?”

“Kita jebak dua-duanya..”

Pagi itu, Donghae memekik, memecahkan keheningan pagi di kediaman Lee yang belum nampak hidup jika dilihat dari luar. Ini kesengajaan nampaknya.

“Kibumie! Lihat, Sungmin hyung mengirimiku pesan!” lontarnya, pada Kibum sambil menyodorkan ponselnya, pada Kibum. Kibum tak bertanya, karena iapun membacanya sendiri, pesan yang berisi;

‘Kita bertemu di kantor ayah, dua hari kedepan! Aku tahu kau masih hidup, dan juga, kau sudah tahu bagaimana aku, bukan? Datang, jika tak ingin ayah mati di tanganku..’

Kibum tatap Donghae. “Kapan pesan ini?”

“Baru saja..” tukas Donghae, memotong ucapan Kibum. Ia berdiri dalam gusar. “Aku tahu ia tak sejahat ini! Aku bisa membuat ini menjadi lebih baik, Kibumie..”

“Caranya?”

“Aku akan membawa ibu, menemui ayah dan juga dia nanti, dan akan kujelaskan semua hal, tentang kesalahpahaman ini..”

Kibum merenung. “Apa kau sanggup memberitahu ibu Lee yang sesungguhnya?” tanyanya.

“Tidak! Biarkan ibu tahu, ketika kami semua berkumpul nanti..”

“Apapun keputusanmu, tapi? Aku tak yakin dengan ini semua, Hae. Jangan biarkan dirimu terjebak oleh akal busuknya!” terang Kibum.

“Apa maksudmu?”

“Kita, harus merencanakan sesuatu tentu saja..”

Sedang di tempat lain..

“Sungmin! Apa yang direncanakan bocah itu?! Untuk apa ia menyekapku di rumahku sendiri, argh!”

TBC

31 thoughts on “ANALGESIA [5]

    suhae1005 said:
    Mei 28, 2013 pukul 2:30 pm

    omo~ , Kibum dan Kyuhyun bersaudara ??

    ASTAGA SUNGMINIE . KAU JAHAT SEKALI …#tembakMin . Dorr dorrr …

    Kihae semakin romantis… cepatlah sembuh Bumiie, Hae menunggumu ^^

    Laila .r mubarok said:
    Mei 28, 2013 pukul 2:36 pm

    Huweeeeeeee kenapa kihyun lebih tragis siih? *peluk kibum
    T~T

    Oooh berarti semua karena kesalah pahaman toh.. *manggut”

    arumfishy said:
    Mei 28, 2013 pukul 4:34 pm

    Sypa yg disekap????trs apa donghae sm sungmin bs baikan????kibum bisa sembuhkah????lanjutttt

    Elfisyhae said:
    Mei 28, 2013 pukul 9:13 pm

    Aigoo minnie jahat bnget sama hae. . Masa lalu kibum miris bngt. . ;-(;-(;-(

    hima_kawaii said:
    Mei 29, 2013 pukul 5:41 am

    itu yang disekap mr lee bukan??
    omo, hae bunuh ibu kandungnya,,,
    semuanya kacau karena ketidaksengajaan donghae aigoo~
    mr lebih sayang hae karena mr lee pikir ibunya sungmin yang bunuh ibunya hae trus mr lee juga gak begitu suka sama sungmin dikarenakan ibunya, tapi yang sebenarnya…..>.< waaah too complicated..
    dan kihyun bersaudara… reaksi kyuhyun gimana ya klo udah ketemu hyung-nya? D:

    Eun Byeol said:
    Mei 29, 2013 pukul 7:26 am

    Rumit!!
    Sungmin hhyungnya Donghae..
    Kibum hyungnya Kyuhyun??
    Hmmm..
    Makin seru, eonn..

    nia na yesung said:
    Mei 29, 2013 pukul 10:07 am

    Kibum Ma Kyu ade kaka ??
    Ahhhhhhhhhh ,,,,,,, Jd Tambah Rumit aja !!!
    Alasan Sungmin Benci Bgt Hae Soal Ibu.a ya ????
    Mr. Lee Jahat, tp kan salah paham Ya ???
    aku jd tambah penasaran ……
    Sedikit” Kibum Mulai sembuh ya, Dia udah bs tersenyum🙂
    Kemajuan yang bagus, kihae Makin Lengket aja …^^
    Aku tunggu kelanjutan.a Dengan Sangat Sabarrrrr ,,,,,,,,,,, ^_^
    FIGHTING !!! ^^

    namikaaileen said:
    Mei 29, 2013 pukul 12:13 pm

    ini? rumit!
    jdi? sbnrnya ming tau ibu kandungnya belain donghae g?

    kibum udah mulai merasa? asseeeeekkk

    Ailee said:
    Mei 29, 2013 pukul 3:36 pm

    Ahh kihae…

    Suka sama karakternya donghae

    niea_clouds said:
    Mei 29, 2013 pukul 4:03 pm

    jd intinya ini smua krn kesalahpahaman …
    trus itu hae terluka knp ??? lupa chap sblmny gmn ….

    taRie_Elfishy said:
    Mei 30, 2013 pukul 1:52 am

    Astagaaaaaa….
    Ternyata Kibum sm Kyu saudara ???????
    Ayah kibum jahat bgt,,,
    Pantes Kibum kena penyakit aneh gitu…….
    Tp klo liat karakter asli kibum,,pantes bgt klo kibum acting spt ini,,
    Ekspresi Kibum pst bgus,,
    Ahhh andai ff ini di film kan…
    Beuhhhhhn dpt penghargaan tuh Kibummie….

    Raihan said:
    Mei 30, 2013 pukul 5:25 am

    Huwooooooooooooooooooooo..

    Kibum hyungnya Kyuhyun. Dan gegara sering dipukuli Kibum mengidap penyakit anelgesia dan terpisah dri Kyuhyun?..

    Kesalahpahaman keluarga Lee semerawut yah, tpi keren seriusan…

    Endingnya gimana?..

    BryanELFishy said:
    Mei 30, 2013 pukul 8:28 am

    Saya putuskan untuk
    “Mari gantung para bapak-bapak diatas” *digampar Mr. Lee n Mr. Kim
    KiHyun MinHae *kurang ‘a’ nya yach Eonn… *nggak penting
    jadi? niat meraka? saling jebak gitu? ogah sadar kalo sodara *toyor Lee n Kim brothers
    *kalian ribet
    xDD

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 31, 2013 pukul 9:26 am

    Ini miris.. masa lalu kihae sgt miris
    Hae yg membunuh ibunya.. ibu tirinya yg berkorban.. hae yg akan dibunuh hyungnya,,
    Jd kibum itu hyungnya kyu,,, wah,, kalo kyu berkomplot dengan minnie bt ngebunuh hae tar kyu ktemu hyungnya dong,, eh tp apakah kyu akan mengenalinya ??
    Waahh eonnie ini tambah kereen aja,, permasalahan makin pelik,,,
    Tar disana hae vs minie, kibum vs kyu,, pertempuran sodara nih ..
    Eonnieee tak tunggu lanjutannnyaaaaa,,,

    Lee sae hae said:
    Mei 31, 2013 pukul 9:50 am

    Ternyata kibum sama kyu juga bersaudara tohh..
    Fic nya kerennn eonn, konfliknya keren dan disini jadi ada 2 konflik ya? Hae sama keluarganya begitujuga si kibum..
    Ahhh.. Nyonya lee baik bangettt, sampe berkorban segitu besarnya buat hae..
    Kereennnn eonn! Bagusss

    Kim Haemi said:
    Juni 1, 2013 pukul 3:09 pm

    huaaaaaaaa :O
    jadi kibum hyung nya kyu
    hae hati2 nanti kamu ke jebak, semoga semua kesalahpahamannya bisa cepet beres #aminnnnnnn
    Lanjut Eonni🙂

    Shin Y said:
    Juni 4, 2013 pukul 9:24 am

    ecieeeeee.. kibum udah ada ‘rasa’ nih ama hae??? cie cie cieeeeee kkk😛

    jadi, kihyun sodara gitu?? emmmm *manggut2

    ndah951231 said:
    Juni 8, 2013 pukul 11:29 am

    okay, ndah ngerti semua di bagian ini -_-
    astagaaa >_o<

    AldMin said:
    Juni 21, 2013 pukul 12:55 am

    ah, kyubum sodaraan?? ayo thor cepet lanjut penasaran, kekekek~ xD fighting eon!!!😀

    setshuka said:
    Juli 13, 2013 pukul 3:43 pm

    mingnya gelap mataaaa… #sodorin senter.😄 laggggiiii…. bentar, baca yg lain dulu.

    Calista said:
    September 20, 2013 pukul 6:01 am

    Eonni, aq muncul lg dsn stlh komen d ffn. Aq mnagih (?) pw analgesia chap 6. Blh mnta ngk eon?

    casanova indah said:
    Oktober 11, 2013 pukul 8:35 am

    hah,, kenapa jadi rumit gini sih..
    oh Lee Donghae,, ternyata kaulah penyebab semua ini terjadi..
    dan sungmin ternyata juga korban..
    dan Kyu ternyata sdr kibum??
    siapakah yg harus disebut egois??
    molla,,, yg pasti kita tunggu aja kelanjutan’a..
    semog author’a ga lupa ama ni ff soale udah lama…
    dan semoga semua berakhir bahagia..
    kibum juga bertemu keluarga’a..

    isfa_id said:
    Oktober 13, 2013 pukul 3:36 pm

    akhirnyaaa~ saya baca ff juga.(?)
    yg mei udah selesai semua.

    juni, juli, agustus, september, oktober. astagfirullah ternyata masih banyak #TepokPantatRain :O

    commentnya apa? (-_-)a

    Sutiia Ningsih said:
    Desember 5, 2013 pukul 6:20 pm

    Cingu.. Bole minta pw analgesia 6 donk !!!

      MINA-HAE responded:
      Desember 7, 2013 pukul 11:29 am

      kemana saya kirimnya ya? :))

    Israpecintakorea said:
    Desember 31, 2013 pukul 2:46 am

    Eonni aq minta PW ANALGESIA donk
    ine email aq: isramirayantiloverskoreasejati@yahoo.co.id

      MINA-HAE responded:
      Januari 1, 2014 pukul 8:27 am

      Udah, coba dicek~

    Diani Ayua Isti said:
    Juni 16, 2014 pukul 10:43 am

    aku baru baca FF ini^^ bagus cingu, bener-bener seru, apalagi kibumnya punya penyakit aneh gitu :O ah iya, aku minta pwnya analgesia 6 dong, kirim ke animelovers09@yahoo.com😀 makasi

      MINA-HAE responded:
      Juni 23, 2014 pukul 2:15 am

      Udah ya^^

    TeukHaeKyu said:
    Juli 8, 2014 pukul 5:16 am

    orang paling bego di sini tetep sang Ayah : Percaya gitu aja atas omongan istri pertamanya ttg pembunuhan itu! >..<

    btw ch 6 diproteksi,.. I need a pasword! T.T

    elakhe said:
    November 7, 2014 pukul 11:03 pm

    Nah loh!
    Bingung mau komen apa!?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s