DEEP AFFECTION [4]

Posted on Updated on

Donghae: What do you think when the first time you saw me, Kibumie?

Kibum: I don’t know because I lost my mind the moment I saw you.

Donghae: What is happiness for you?

Kibum: I ride the soft wind into your world, wherever you go.

Donghae: What’s your greatest dream?

Kibum: I want to catch you whenever you fall.

Donghae: How you describe about Love?

Kibum: Love is Lee Donghae, starts with L when you LET me be your man and ends with E because I want to make it ENDLESS.

Kibum: Why you look at me like that, Hae sweetie?

Donghae: Who said there’s no such thing as perfect!

.

[CHAPTER 4]

Satu hari..

“Baru sejak satu hari kemarin, aku sudah merindukanmu, Kibumie..”

Donghae mendesah dengan satu tangan yang sibuk mengaduk cairan kecoklatan di dalam cangkirnya. Secangkir kopi hangat yang wangi nikmatnya dapat Donghae cium dengan baik. Wanginya memang terlalu nikmat, tapi Donghae nampak tak menikmatinya.

Saat cairan manis beraromakan pahit tersebut memasuki tenggorokannyapun, hanya mengalir begitu saja di tenggorokannya tanpa mampu menyisakan apapun yang berarti. Tak menghilangkan penat yang kini melandanya. Rasa bosan yang berputar-putar di otaknya, mengaduk batin seorang Lee Donghae.

Ia bawa cangkir tersebut bersama dirinya. Membawanya ke ruang tengah, dimana dirinya terduduk di atas sofa dan lalu menyalakan televisi, setelah sebelumnya diletakkannya cangkir yang dibawanya tadi di atas meja.Remote TV yang Donghae tuju pada akhirnya.

Nyatanya, sekian menit berkutat dengan acara-acara di televisi, tetap tak membuat matanya berubah menjadi bersemangat. Kedua mata itu menyiratkan lelah karena bosan yang ada. Sayu, layu tak bercahaya. Berulang kali ia menghembuskan nafasnya dengan agak kasar. Matanya memutar mencari sesuatu yang dapat menarik perhatiannya.

Tapi tetap tak ada.

Donghae nampak mengusap kasar wajahnya. Ia berfikir keras dan akhirnya melesat pergi ke ruangan lain, dan lalu kembali dengan coklat di tangannya. Dengan sedikit tak sabar ia memakan coklat-coklat tersebut. Hanya ingin membuktikan, “apa benar, coklat bisa menghilangkan rasa bosan?”

Nyatanya tidak dan Donghae kecewa karenanya. Ia nampak putus asa oleh rindunya yang menggunung pada Kibum. Rindu yang tak pernah dirasanya selama ini. Bukan kali ini saja padahal Kim Kibum pergi meninggalkannya..

Donghae melihat layar ponselnya yang sepi dari sapaan siapapun. Sunyi, namun entah mengapa ia mengatakan “hubungi aku, sekarang!” sambil menatap layar ponselnya dengan gemas. Ia angkat ponselnya dan terus mengamatinya; menunggu. Menunggu dan menunggu hingga akhirnya ia bosan. Ia merutuki dirinya pula karena telah mengharapkan satu hal bodoh. Maka dilemparkannya lagi ponsel tersebut ke sisi tubuhnya.

“Menyeb..”

Baru ia akan mengumpat, tiba-tiba ponselnya berdering untuk memanggilnya. Ia terperanjat seketika dan segera meraih ponselnya tersebut. Ia tersenyum lebar saat melihat sebuah nama tertera di layar ponselnya tersebut. Sebuah nama yang lalu dia lantunkan dalam nada riangnya. “Kibumie!”

“Hallo..” ucapnya menyapa. Nada riangnya berubah ragu sesaat. Hatinya berdebar kencang membuat dirinya salah tingkah. “Kibumie, kau baik-baik saja?” tanyanya mulai merebahkan diri di atas sofa dengan indah. Suara Kibum yang ditunggunya..

“Aku baik-baik saja Hae. Bagaimana denganmu. Hm?”

Dan Donghae semakin menampakkan senyumannya. “Aku kebosanan Kibumie!” ucapnya dengan nada sebal dan manja yang bersatu menjadi sebuah kalimat yang mendengung indah mungkin, bagi Kibum.

Seolah tahu, Kibum menjawab “akupun merindukanmu, Hae..

Ah! Keduanya tengah merindu. Atau kini tengah melepas rindu mereka. Saling merasakan betapa indahnya suara masing-masing yang mengalun di balik sambungan telpon meski suara mereka akan sedikit berbeda. Hingga tiba-tiba Kibum bertanya, “Kau sedang apa Hae?”

Donghae nampak berfikir karena dia tak sedang melakukan apapun selain berbincang bersama Kibum. Namun sebuah senyuman nakal terpatri di bibirnya. “Aku sedang tertidur di sofa..”

Oh,” tanggap Kibum dari ujung sana.

“Kibumie,” tegur Donghae kemudian dan mendapat deheman kecil dari sana. “Aku,” ucapnya ragu, lalu merubah posisinya menjadi terduduk dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dengan kepala yang terkulai disana. “Aku ingin kau menyentuhku..”

Huh?”

“Aku ingin kau menyentuhku seperti biasanya..”

Terdengar tawa kecil Kibum dari ujung sana. “Kau yang menawarkan Hae. Jangan salahkan aku jika aku pulang..”

“Sekarang!” potong Donghae membuat Kibum kehilangan kata di ujung sana. Mungkin dia kebingungan. Namun mana Donghae peduli pada hal tersebut. “Aku yakin kau tak akan menolak Kibumie!”

Tapi..

Donghae semakin tersenyum nakal, dan Kibum akan menyumpahinya jika dia melihat. “Kau tak akan tahan untuk menyelinapkan jemarimu ke dalam kausku! Juga meraba kulit telanjang di perutku..” ucap Donghae mulai menutup matanya. Mencoba merasakan jemari Kibum yang memang tengah menyentuhnya. Mencoba membuat fantasynya menjadi nyata dan mempengaruhi dirinya sendiri agar masuk ke dalam sebuah arena panas, hingga bibirnya melenguh, “mhh” tanpa mampu dikendalikan olehnya.

Donghae..” panggil Kibum dari ujung sana. Andai Donghae melihat, bahwa Kibum tengah berusaha meneguk ludahnya.

“Punggungku, Kibumie! Ayolah!”

Kibum terdengar menghela nafasnya di ujung sana. “Jangan menggodaku Hae..” peringatnya.

“Tapi jarimu, Oh!” pekik Donghae tertahan, kala ia menggerakkan jemarinya sendiri untuk menelusuri tubuhnya. Mengusap-usap lembut kulit di perutnya, dan mulai bergerak turun menyusup pada pakaian bawahnya dan mencari sesuatu disana. “Ngh, nhh, Kibumh..” panggil Donghae, tetap berusaha membawa Kibum pada fantasy liarnya.

Mengumpatlah Kibum dalam hatinya. Suara Donghae begitu menggoda dirinya. Jika harus ia jujur, maka ia akan katakan jika ia telah hanyut akan permainan seorang Donghae. Namun beruntunglah ia adalah tipe orang yang bisa menyikapi apapun dengan cukup tenang. “Cukup Donghae! Jangan terlalu berisik,” titahnya. “Cukup berbaring saja dan dengarkan aku, ya?”

Donghae membuka matanya. Ia berfikir dan lalu mengingat. Hingga ia merasakan Kibum benar-benar berada bersamanya. Membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kibum yang mengamati wajahnya dari dekat seperti biasa. Kibum yang lalu mengecup bibirnya perlahan. Namun kali ini, ciuman itu tak cepat menjadi sebuah ciuman yang menggairahkan. Tepatnya bukan di bibir.

“Mmmh,” Donghae bangkit dan setengah terduduk kala Kibum membuka setengah baju atasnya dan memberikan banyak kecupan pada perutnya. Kecupan bersama dengan jilatan hangat dan basah yang membuat Donghae segera terbuai dan lalu menelusupkan jemarinya pada surai hitam Kibum.

Kibum benar-benar menanamkan wajahnya di antara perut Donghae dengan tangan yang menarik kuat punggungnya. “Kibumie!” rintih Donghae karenanya. Ia tersiksa atas ketidaksabarannya. Ia ingin Kibum menjamah bibirnya. Bibir yang sudah melenguhkan nama Kibum berulang kali.

Kibum yang akhirnya mengerti dan mencoba bangkit. Perlahan ia lepas pakaian Donghae dan seperti masih ingin menggoda, ia tak juga menyentuh bibir sang kekasih. Ia yang lalu menyusupkan bibir dan wajahnya pada leher Donghae. Menghisap bagian kulit disana. Hingga sapuan lidahnya, hisapan kuat dari bibirnya, juga gesekan-gesekan kecil gigi Kibum di kulitnya, membuatnya benar-benar mabuk..

“Ahh, Kibumie..”

Aku ingin mencium bibirmu Hae..”

“Cium aku, Kibumie!”

Donghae selalu ingat bagaimana rasanya disaat Kibum mencium bibirnya penuh. Dalam dan basah bersama bunyinya yang tak pernah membuatnya bosan sekalipun. Sapuan nafas Kibum yang berhembus di pipinya. Begitu menggairahkan, namun.. “Tung, tunggu!” sergahnya membuat semua terhenti seketika.

Kenapa?”

Dengan nafas yang masih sedikit memburu, Donghae mencoba mengendalikan dirinya. “Apa mereka ada?” tanyanya. Menanyakan keberadaan mereka; istri dan anak dari kekasihnya. Selalu menjadi hal miris. Tapi ini adalah nyata dan harus Donghae akui.

Lama Kibum tak menjawab dan Donghae tetap menunggu. “Mereka ada dan baru selesai mandi.

“Jadi kau menelponku karena mereka sedang di kamar mandi?”

Kembali Kibum tak memberikan jawabannya. Hingga Donghae yang harus kembali bicara. “Kita sudahi saja Kibumie. Jangan sampai mereka mendengar..” tutur Donghae mencoba bersikap bijak. Ia bunyikan sebuah tawa kecil agar Kibum tak hawatir karenanya. “Jangan hawatirkan aku. Aku menunggumu Kibumie. Kututup ya..”

Terdengar helaan nafas Kibum dari ujung sana. Namun sebelum sambungan itu terputus, dengan jelas Donghae dapat mendengar kalimat “aku mencintaimu, Hae..” yang terasa indah baginya.

Hari berikutnya adalah hari yang tak terduga bagi Donghae. Ia dikejutkan dengan kedatangan Jaejoong yang sangat tiba-tiba dengan barang-barang yang cukup banyak di tangannya. “Hyung!” kaget Donghae malam tersebut.

Namun Jaejoong tak menjawab. Dia mendorong Donghae masuk ke dalam rumah secepat mungkin. Keanehan lain saat ini adalah, sang hyung tak datang bersama kekasihnya seperti biasa.

Hyung ada apa? Kenapa ini?”

Jaejoong masih berusaha meredakan nafasnya yang memburu. Satu bukti bahwa dirinya baru saja dalam keadaan tergesa-gesa, yang mana Donghae belum tahu mengenai hal tersebut. Untuk itulah dirinya bertanya bukan?

“Donghae! Donghae tolong aku..” ucap Jaejoong pada akhirnya.

‘Ini tidak benar!’ batin Donghae. Ia membawa Jaejoong duduk di atas sofa dan secepat kilat membawakan Jaejoong segelas air putih. “Tenanglah hyung. Apa yang terjadi? Dan kemana Yunho hyung? Kau tak datang bersamanya?” tanya Donghae.

Jaejoong menggeleng cepat bahkan disaat dirinya masih meneguk air yang diberikan Donghae padanya. “Aku tak tahu dia dimana Hae. Kami bahkan kesulitan untuk saling menghubungi..”

“Lho?”

Satu tarikan nafas panjang dari Jaejoong. Ia terlihat lebih tenang dan akan memulai ceritanya. “Dua hari lalu tiba-tiba seorang pria datang padaku dan menanyakan keberadaan Yunho. Dan kau tahu siapa dia?”

Donghae menggeleng..

“Dia adalah kakak ipar Jung yunho!” ungkap Jaejoong, lalu memandang Donghae dengan pandangan sedihnya. “Sepertinya hubungan kami sudah ditemukan!” ucapnya.

“Ya? Bagaimana bisa hyung!” pekik Donghae.

Sedang Jaejoong terlihat mengusap kasar wajahnya. “Aku tak tahu! Terakhir Yunho menghubungiku dan mengatakan padaku untuk bersembunyi saja..”

“Tapi kemarin dia ada. Dia mengantar Kibum ke bandara hyung..”

Jaejoong mengangguk. “Kupikir dia sedang menjaga jarak denganku Hae. Meski itu tak berarti apapun. Hubungan kami sudah tercium dan mereka mengejarku sekarang! Terakhir kali dia bilang, dia menyuruhku untuk bersembunyi disini sementara ia akan menjemputku hari jumat..”

“Itu besok!” Donghae melongo mendengarnya. Jadi saat ini Jaejoong tengah bersembunyi di rumahnya. Baiklah. Sepertinya bukan masalah bagi dirinya. Di sisi lainpun ia mencemaskan sang hyung. “Baiklah hyung, kau aman disini. Beristirahatlah..”

Jaejoong melirik Donghae. “Aku tak yakin bisa menitipkan nyawaku padamu, Donghae..” guraunya.

Donghae hanya tersenyum kaku. “Setidaknya Yunho hyung sudah memperkirakan bahwa mereka tak tahu tempat ini, dan itu artinya kau aman berada disini. Minimal hingga esok hari kan?”

Hanya kedua bahu Jaejoong yang terangkat setelahnya. Ia tak lagi banyak membahas apapun dan mulai menyamankan dirinya di kediaman Donghae tersebut.

“Jaejoongie..”

Jaejoong mengerjapkan matanya pelan saat mendengar bisikan pelan atas namanya. Perlahan ia membuka matanya dan menemukan sosok kekasihnya yang kini berada di hadapannya. “Yun,” lirihnya dan langsung memeluk Yunho.

“Aku disini..”

Donghae terenyuh melihatnya. Ia ada di antara mereka kini. Berdiri sambil melipat tangan di dadanya dan tersenyum ke arah keduanya. Ia dapat melihat Yunho yang tengah menenangkan sang hyung. Memberikannya banyak usapan lembut dan ungkapan kasih. Dan untuk pertama kali pula bagi Donghae, melihat sisi rapuh Jaejoong.

“Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja. Kita harus segera pergi sekarang..”

“Huh?” Jaejoong menatap ke arah Donghae dan menatap ruangan di sekitarnya. Masih gelap. “Ini jam berapa?”

“Ini tengah malam hyung..” jawab Donghae.

“Kita harus pergi tanpa siapapun yang tahu,” ucap Yunho. Ia bantu Jaejoong untuk bangun dan bergegas dengan kepergian mereka. Tentu semua harus dilakukan dengan cepat sebelum keberadaan mereka tercium.

Hingga saat di ujung pintu keluar, sempat Jaejoong memeluk Donghae sejenak. “Terima kasih untuk semuanya Donghae-ya. Semoga kita dapat bertemu lagi nanti..”

“Tentu hyung. Kita harus bertemu lagi,” imbuh Donghae.

“Maaf merepotkanmu. Kau harus menjaga dirimu baik-baik. Dan Kibum?” ucap Jaejoong mengambil jeda dan memilih untuk menatap Donghae.

“Aku akan baik-baik saja bersama Kibum. Kau tak usah cemas hyung..”

“Cepat!” bisik Yunho sambil mulai menarik Jaejoong yang hanya bisa tersenyum miris ke arah Donghae. Ia lambaikan tangannya dan akhirnya meninggalkan Donghae yang  bergegas mengunci pintu rumahnya setelah sebelumnya ia balas lambaian tangan sang hyung, juga mengatakan “hati-hati” dengan senyuman tulus di wajahnya.

Pagi tiba. Dengan mata yang setengah terpejam Donghae menghampiri sebuah kalender yang berdiri di nakas samping ranjangnya. Jelas! Ada bulatan merah yang melangkar di angka 21 di bulan agustus. Hal tersebut membuat Donghae tersenyum seketika. Ia terlihat bersemangat menapaki tanggal 21 yang jatuh dua minggu kedepan.

Kembali pada detik dimana ia bernafas kini. Mungkin keterkejutan belum akan berakhir menyambut Donghae yang baru saja terbangun. Ia mendapati tamu tak terduga menyambangi halaman depan rumahnya dan mengetuk pintunya. Bergegas Donghae menghampiri pintu dan membukakannya untuk sang tamu. Namun yang di dapat oleh Donghae setelahnya bukanlah sapaan baik yang akan ia balas oleh sambutan yang baik pula.

“Hey apa yang kalian lakukan!” sentaknya saat melihat beberapa orang memasuki rumahnya dengan sembarangan. Sementara itu, “akh!” ia mengernyit sakit saat salah satu di antara mereka meremas lengannya cukup kuat.

Cukup lama sang tamu mengobrak-abrik kediamannya. Donghae cukup tahu maksud mereka dan mengira ‘inikah yang mengejar Jaejoong hyung?’ dalam hatinya. Namun ia memilih bungkam terlebih dahulu, hingga dia yang menahan lengannya itu segera mendorong Donghae ke arah dinding. “Kemana dia?” tanyanya.

Donghae berkilah. Ia mengerutkan keningnya, menunjukkan raut yang kebingungan. “Dia siapa, huh? Aku hanya tinggal sendiri disini sejak dulu!” jawabnya berusaha tenang.

“Jangan berpura-pura!” teriak sisik itu sambil mulai mencengkram baju Donghae.

“Aku tidak tahu!” balas Donghae sengit.

“Kim Jaejoong! Kami hafal benar siapa dia. Semua gerak-geriknya termasuk siapapun orang yang dekat dengannya!” tutur sosok itu sambil menyeringai ke arah Donghae.

“Apa yang akan kau lakukan!” ucap Donghae mulai bergetar. Rasa takut terpancari dari wajahnya, dan juga dari jemarinya yang mengepal. Ia merasakan desakan kuat pada tubuhnya.

“Mungkin kau bisa membuatnya keluar nanti..”

“Huh?” belum sempat Donghae bertanya, “Argh!” ia mengerang sakit saat cukup banyak rambutnya ditarik paksa. Tubuhnya bahkan diseret oleh sosok yang lain membuatnya tak bisa berkutik. Ia diseret di kediamannya sendiri. Selain itu, terlalu sulit untuk meminta pertolongan, karena hari yang masih pagi membuat aktifitas pagi tersebut belum berjalan sempurna, dan sepertinya orang-orang masih meringkuk di rumah mereka masing-masing. Pada siapa Donghae menita pertolongan, jika bukan pada Kibum yang hanya ia panggil namanya saja di dalam hatinya.

“Lepaskan aku!”

Tentu Donghae meronta dan mencoba melepaskan dirinya meski itu sangalah sulit baginya. Sekelompok orang yang Donghae perkirakan berjumlah lima orang itu membuatnya berfikir, akan terasa sulit baginya untuk melarikan diri. Seolah tak ada celah. Sedang tarikan pada rambutnya benar-benar menyiksanya.

Nafas Donghae memburu. Tubuhnya mulai berkeringat dan ia sudah berusaha untuk menahan tangisnya. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, hingga pintu sebuah mobil terbuka dan siap-siap menelan dirinya. Namun saat itulah mereka lengah dan memberikan satu kesempatan bagi Donghae untuk menendang sosok orang yang sejak tadi menjambak rambutnya.

“Agh sial!” umpat orang tersebut. Ia tahu bahkan Donghae sudah lebih cepat satu langkah darinya. Namun itu bukanlah apa-apa. Ia terlihat lebih kuat dari Donghae. Tubuh yang lebih tinggi dan lebih besar dari Donghae. Dengan gesit ia tarik kaus belakang Donghae dan menariknya. Lalu..

Bugh.

Satu hantaman mengenai wajah Donghae hingga terjadilah keributan yang semakin menjadi. Dan bagian terpenting adalah, saat dimana sosok tersebut memukul telak Donghae hingga kepalanya terbentur badan mobil menciptakan luka dan setitik darah di pelipisnya. Luka yang perlahan-lahan mengambil kesadarannya akibat hantaman cukup keras tersebut.

Namun entah salah mendengar atau apa, samar Donghae mendengar seseorang berteriak kearahnya. “Hyung! Hyung!”

Entahlah itu siapa. Donghae hanya berharap Kibumnya akan datang untuk menolongnya, meski ia tahu itu tak akan pernah terjadi. Jatuhlah Donghae ke dalam ketidaksadarannya ditemani satu senyuman bertemankan satu tetes air mata dari sudut matanya. Sedih jika mengingat, mungkin saja kemarin benar-benar pertemuan terakhirnya bersama Kibum..

“Engh..” suara erangan menggema, terdengar di sebuah ruangan. Erangan yang keluar dari bibir pucat milik Donghae, dimana dirinya baru saja tersadar dari tidur lelapnya. Perlahan cahaya mulai memasuki penglihatannya, termasuk bayangan seseorang yang kian jelas dapat dilihatnya. Membuatnya memaksakan diri untuk terbangun.

“Kyuhyun?”

Ya. Ada Kyuhyun di sampingnya kini. Terduduk di kursi dekat ranjangnya. Sebuah ranjang “rumah sakit?” tanya Donghae lagi pada Kyuhyun, hingga pening kembali menderanya dan membuatnya merintih pelan. Ia sentuh pelipisnya, dan mendapati sebuah plester disana.

“Tidurlah dulu hyung..” sergah Kyuhyun. “Kau baru saja siuman..”

Donghae mencoba untuk menurut. Bersandar pada bantal yang  telah Kyuhyun benahi sebelumnya, sementara mulutnya tak berhenti mengoceh. “Kau yang membawaku kemari? Lalu kemana orang-orang itu?” tanyanya bertubi-tubi. Tak ada jawaban dari Kyuhyun, hingga Donghae mendesah pada akhirnya. “Kupikir aku telah mati,” ucapnya.

“Sebenarnya apa masalahmu?” tanya Kyuhyun kemudian.

Donghae melirik pada Kyuhyun. “Bukan urusanmu!” ketusnya, “Kau yang menolongku kan Kyu?” tudingnya.

Kyuhyun diam dan hanya memandang Donghae. Hingga Donghae kesal dan lalu balik menatapnya dengan mata menyipit. “Aku heran! Mengapa kau bisa ada di dekat rumahku pagi-pagi sekali? Huh?”

Kyuhyun menjadi kikuk. “Apa yang kau bicarakan Lee Donghae! Mengapa kau malah menuduhku yang tidak-tidak? Cukup berterima kasih saja tak usah diperpanjang kan?” rutuk Kyuhyun.

Donghae menjadi berfikir. Ia menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya berujar, “terima kasih Kyu..” dalam nada yang ragu dan pelan. “Tapi aku tetap penasaran akan hal itu!” desaknya.

“Aku sedang berolahraga tentu saja!” elak Kyuhyun.

“Pembual! Kau olahraga di sekitar rumahku? Sengaja? Padahal rumah kita sangatlah jauh! Apa di sekitar rumahmu tak ada jalanan?”

Sekian lama Kyuhyun termenung. Ia tatap Donghae yang menanti jawabannya. Juga, merasa risih karena Donghae tak juga mengalihkan pandangannya, Kyuhyun menjadi kesal. “Iya! Aku memang selalu melihatmu dan memperhatikanmu dari kejauhan, bahkan selalu menungguimu sejak pagi hari, kau puas?”

“Eh?” Donghae tak berkedip setelah mendengarnya.

“Kau pikir aku bisa melupakanmu semudah itu hyung?”

“Apa yang kau bicarakan Cho Kyuhyun!”

Sesaat keduanya diam. Hingga akhirnya Kyuhyun menggapai jemari Donghae dan menatapnya. “Aku mencintaimuhyung. Sekian lama kita bersentuhan, kau pikir rasa itu tak akan hadir?”

“Tapi posisi kita..”

“Berhenti menganggap bahwa aku ini hanyalah sekedar tamu tetapmu!” potong Kyuhyun. “Aku mencintaimuhyung..”

Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain. Menurutnya, bukan salah Kyuhyun bila rasa itu hadir. Berpelukan, bahkan berciuman adalah hal biasa bagi keduanya. Bahkan bibir mereka pernah saling mengecapi satu sama lain. Pantas bila Kyuhyun menyukainya. Namun Donghae adalah Donghae. Donghae dengan hatinya yang seolah tak mungkin berubah. Karena “kau tahu aku mencintai Kibum, Kyu. Kau tahu itu dengan pasti kan?”

Kyuhyun semakin mempererat genggamannya.  “Tentu aku tahu!” ucapnya sambil berulang kali menelan kecut ludahnya. “Setidaknya aku ingin berada di sampingmu dan melindungimu, Donghae. Bisakah kita berteman? Meski aku pikir aku bisa lebih menjagamu daripada dirinya!”

“Kyu..”

“Hanya berteman, aku janji aku tak akan memaksamu hyung..”

Donghae tatap Kyuhyun. Seperti tak ada kebohongan disana, dan entah mengapa Donghae merasa nyaman kali ini. Ia gerakkan jemarinya dalam genggaman Kyuhyun. “Kuharap kau akan selalu mengingat janjimu Kyu..”

Kyuhyun akhirnya tersenyum. Ada sapuan nafas lega yang tertuang dari bibirnya. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan tanpa sadar mengecupi punggung tangan Donghae. “Cho Kyuhyun!” geram Donghae.

Pertemanan itu mengalun seiring berjalannya waktu. Hampir menginjak dua minggu dan semua berjalan dengan baik. Kyuhyun yang kerap menemani Donghae, terlebih Donghae yang baru pulang dari rumah sakit. Juga rasa traumanya akan orang-orang yang menyerangnya tersebut membuatnya tak mampu menolak Kyuhyun untuk menemaninya. Jangan tanyakan keberadaan Jaejoong dan Yunho yang entah dimana.

Belum pula satu bulan berlalu dan belum pula saatnya Kibum menapaki Korea dan menemui Donghae kembali. Membuat Donghae gusar dibuatnya, karena memikirkan waktu yang begitu panjang. Terasa sangat lama baginya, seolah ada rasa takut tak dapat menemui Kibum. Rasa itu tak pernah pergi darinya..

“Hyung, jika kau ingin aku akan mengantarmu..”

Donghae menggeleng. “Tidak Kyu! Aku tidak mau menemuinya!” tegasnya.

“Tapi kupikir dia benar-benar ibumu hyung. Tidakkah kau ingin memastikannya?”

Donghae tetap menggeleng keras. “Bertemu dengannyapun untuk apa Kyu. Aku tak memiliki urusan dengannya. Bertemu dengannya, hanya akan membuatku terluka saja,” lirihnya sambil tersenyum miris pada Kyuhyun.

“Kalau begitu kita jalan-jalan saja hyung. Kau mau?”

“Kemana?”

“Kemana saja asal kau senang!”

“Bisakah kau antar aku membelikan sesuatu untuk Kibum? Besok ulang tahunnya..”

“Baiklah..”

Belum kering bibir Donghae berkata bahwa dirinya tak ingin menemui sosok perempuan yang melahirkannya. Belum! Bahkan ia berkata akan sakit jika bertemu dengan sosok tersebut. Sosok ibu yang seharusnya akan didambakan kehadirannya oleh sang anak. Tapi sepertinya tidak bagi Donghae.

Tangannya mengepal erat saat melihat sesosok wanita dengan tampilan mewahnya keluar dari sebuah mobil mewah pula. Wanita yang sesungguhnya, berada di usia yang cukup tua namun kadar cantiknya masih tetap sama. Bahkan, ada gurat wajah yang sama dengan dirinya. Tak dipungkiri lagi, “ibu..” lirih Donghae menyadarkan Kyuhyun yang tengah berada di sampingnya.

“Kau baik-baik saja hyung? Apa perlu kita pergi saja dari sini?” tawar Kyuhyun.

Keduanya memang baru saja keluar dari sebuah cafe dan berencana akan membelikan sesuatu untuk Kibum setelahnya, jika saja Donghae tak melihat sosok ibunya.

“Kita pulang saja hyung..” ajak Kyuhyun, dengan segera menarik Donghae yang tidak bergeming dari tempatnya. Membuat Kyuhyun hawatir dibuatnya.

“Siapa dia, ibu?!”

Kyuhyun menghela nafasnya. Ia tahu Donghae begitu ingin tahu saat ini. Bohong jika Donghae katakan bahwa dirinya tak peduli! Tentulah Donghae ingin tahu yang sebenarnya. Dan karena ia tak mampu menjawab apa yang ingin Donghae tahu, maka tak ada cara lain. Kyuhyun menarik Donghae ke arah sang ibu dan teman prianya pergi.

Sebuah klub malam yang mereka sambangi pada akhirnya. Tak membuat Donghae takut. Bukankah ia sudah tak akan merasa asing akan hal tersebut?! maka dengan berani ia tetap membuntuti sang ibu masuk ke dalam. Melupakan Kyuhyun yang berjalan di belakangnya meski tetap mengawasi dirinya.

“Kyu, kau pulang saja!” suruh Donghae tiba-tiba.

“Tidak! Aku harus bersamamu..”

Donghae menatap Kyuhyun dan tersenyum. “Kumohon Kyu. Biarkan aku menyelesaikan urusanku sendiri..”

Apalagi yang bisa dikatakan Kyuhyun. Ia akhirnya mengangguk menyetujui. Membiarkan Donghae masuk seorang diri sedang dirinya kembali pulang..

Donghae hanya menatap minuman-minuman keras yang disuguhkan padanya. Sesungguhnya ia jarang meminumnya. Kali inipun ia memiliki tujuan lain untuk datang. Menghampiri seseorang yang kini tepat duduk di sebelahnya. Tengah beradu kasih bersama teman kencannya. Sungguh membuat hatinya terbakar..

“Emh! Hentikan..” ucap sang wanita..

“Kenapa?” tanya sang pria tak sabar.

Semua suara itu dapat Donghae tangkap dengan jelas. Bahkan..

“Aku ingin kau segera menikahiku sayang! Bukankah kau berjanji akan menikahiku jika aku sudah berhasil membunuhnya?”

“Tapi dia membunuh dirinya sendiri! Bukan kau yang membunuhnya..”

“Tapi jika bukan karena aku, dia tak mungkin menggantung dirinya di dalam sel..”

Donghae merasa kepalanya mendidih saat itu juga. Apa yang di dengarnya sendiri tentu ia percaya! Dan itu tertuang dari bibir seorang yang seharusnya menjadi sosok malaikat baginya. Kepalanya terasa pening dengan nafas memburu..

Kedua insan yang lupa diri itu akhirnya beranjak dari tempatnya. Tak pernah mereka merasakan amarah seorang Lee Donghae yang begitu besar kini. Padahal Donghae menatap mereka dengan tajam di sudut matanya. Bahkan Donghae membuntuti keduanya dengan sebotol wine di tangannya.

Matanya memerah dengan pandangan yang tajam dan menusuk! Bibirnya menghembuskan nafas kasar. Ia bahkan tak pernah mengijinkan sang ibu bersama kekasihnya tersebut untuk menyambangi kamar mandi yang akan menjadi saksi perbuatan nista mereka. Sayang kali ini Donghae tak membirkan itu terjadi. Ia seolah lupa diri, dan lalu..

PRAK.

Bunyi keras terdengar, menyeruak dari dalam toilet yang sepi. Bunyi itu berasal akibat pecahnya botol wine di tangan Donghae yang baru saja mengenai sebuah kepala seorang pria. Menambah jeritan dari mulut wanita yang kemudian dipanggilnya, “ibu..”

“D-D, Donghae?!” pekik sang ibu ketakutan sambil memandang Donghae dengan botol pecah berujung runcing di tangannya. Sedang teman kencannya tadi, sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.

“Kau masih mengenaliku bu?” tanya Donghae lembut. Ada tawa miris di bibirnya.

“Donghae, kau mau apa?!” raung sang ibu semakin bergetar ketakutan di sudut toilet.

“Kau pikir apa, huh? Jika kau sanggup membunuh ayah, maka akupun sanggup melakukannya padamu!”

“Akh!!”

Donghae termenung setelah kembali menghuni kediamannya. Ia tak pernah menyangka tentang apa yang terjadi. Apa yang telah dilakukannya baru saja. “Tapi aku tak menodai hari lahirmu Kibumie, sungguh..” ucapnya tiba-tiba dengan senyum terbalut tangis. Ada apa?

Bertepatan dengan bergantinya hari, menginjak dua detik dari awal 21 agustus.. hari dimana Kibum sempat terlahir di tanggal yang sama.

Ada sebuah lilin yang menyala di sebuah ruangan yang gelap. Menerangi wajah Donghae yang teramat kusut. Dengan rambutnya yang berantakan. Bahkan terdapat beberapa bercak darah di jaketnya yang juga mengenai sebagian wajahnya. Dengan wajah yang menahan tangis Donghae pandangi lilin yang kini memancarkan sinarnya.

“Kibumie! Kibumie, maaf aku tak sempat membelikanmu hadiah!” ucap Donghae bersedih. “Selamat ulang tahun,” ucapnya sambil tersenyum. Namun ada yang salah dengan senyumnya. Terlalu pedih terlihat.

Hanya ada dirinya sendiri saat itu. termakan gelap dan hanya memandangi lilin dengan tubuh yang kian menyusut termakan api. Meleleh dan Donghae hanya menyaksikannya. Menyaksikan dengan seksama. Seperti lupa akan rasanya mengantuk. Ia tak tertidur dan menghabiskan malam tersebut.

Bahkan di saat matahari hampir menyapa seutuhnya, dia masih saja diam di tempatnya. Lilinnya telah habis. Dan iapun terlihat seperti seseorang yang kehilangan jiwanya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukannya. Seharusnya masih banyak lagi. Namun, “waktuku tak banyak Kibumie!” ujarnya pelan. Entah apa yang dilakukannya dan entah mau kemana ia pergi. Namun, sesaat setelahnya terdengar beberapa orang memasuki rumahnya tanpa ijin. Memborgol kedua tangannya dalam kesunyian, tanpa siapapun yang tahu.

Mungkin inilah yang dimaksud selama ini. Semua firasatnya selama ini. Satu yang dimengerti oleh seorang Donghae. “Perpisahan bukan hanyalah kematian. Semoga kita masih bisa bertemu kelak..”

_TBC_

17 thoughts on “DEEP AFFECTION [4]

    Elfisyhae said:
    Agustus 19, 2013 pukul 7:50 am

    Tidak. . Donghae jangan pergi tinggalin kibum. .
    Bruuuukkkkk. . Pingsan.

    vheroniicha said:
    Agustus 19, 2013 pukul 9:30 am

    Mwoya????No…
    Tega benar itu ibu nya donghae
    Nappeun..

    dewiikibum said:
    Agustus 19, 2013 pukul 10:44 am

    hueee..

    kak minah kok Kihae saya di pisahin gtu sih… adih bakal panjang deh cerita kalau gini jadinya..

    gak nyangka hae bisa se kalap gtu bunuh selingkuhan ibu nya….

    update cepet yah….. yg ageusia nya baru update kilat.. hehhee

    namikaaileen said:
    Agustus 19, 2013 pukul 12:19 pm

    itu part pmbuka ny so sweet sumpah eonnie ;3 mau dong d gombalin kihae❤ kkk~

    apa itu tadi? kirain kibum bkalan muncul beneran ngedatengin donge! fantasy ny liar jga trnyata! haha!

    dan itu? donge d penjara? teganya dirimu eonnie~

    hubsche said:
    Agustus 19, 2013 pukul 4:50 pm

    Author sadissss… suka banget bikin Hae menderita lahir bathin huhuhu >.<

    nia na yesung said:
    Agustus 19, 2013 pukul 6:00 pm

    Hadiah Macam apa Ini -_- kasian kibum pd hal ulang tahun.a Kibum Besoh >,<
    Ko begini si ?
    Aiihhhhhhhh ,!! Hae Membunuh ya ???
    Masuk Penjara pula, Sungguh tega kau Mebuat hae Begini -_-

    Padahal td awal.a Seru bgt, pake ikutan ngehaya ky hae wkwkwk #plaKk otak q lg kacau Heheheh ,,,,
    Ya sudah Saya tunggu Kelanjutan.a ya ^^
    FIGHTING !!!

    Shin Y said:
    Agustus 21, 2013 pukul 2:11 am

    heeemmm,, knpa kamu harus lepas kendali ,, donghae?????? huhuh

    eonni kejaaaaammmmmm ><

    niea_clouds said:
    Agustus 21, 2013 pukul 9:05 am

    Waaaaah udh lm ga mampir ke sini …. 
    Blm bc part 3 ny …
    Hae knp smpe lepas kendali gtu sih ???
    Moga aja kibum bs nolongin Hae di penjara ….

    arumfishy said:
    Agustus 23, 2013 pukul 5:21 am

    Andweeee Donghae oppa?????knpa hidup Hae selalu bnyk derita sie???:'(

    lanjutttt oen

    BryanELFishy said:
    Agustus 23, 2013 pukul 10:49 am

    Kurang menderita apa kau Hae ditangan Mina Eonnie *pukpukDonghae
    xDD

    laila rostika said:
    Agustus 27, 2013 pukul 3:52 pm

    aigoo.. phonesex hahaha

    yaah Hae.ku mau masuk bui.. aku mau jadi polisinya aaah hehehe…

    eh ntu nasib yunjae gimana eon?lanjuttt dooong

    ANa MariNa Chaniaggo said:
    Agustus 27, 2013 pukul 9:30 pm

    lanjutttt jgn lama2 oennn makasih atas PW’y heee

    Ainun_lara said:
    September 10, 2013 pukul 1:20 am

    Huwaaaa sumpahhhh nyesel ampe
    Nyusul dari Ffn ke Wp,huweeee
    Ngelengsod di kamar mandi…

    vee kim-soohyun said:
    September 23, 2013 pukul 4:43 am

    Huweeeee😦 jadi donghae di penjara karena ngebunuh ibunya ??? aku baru baca chap 4 pantes agak bingung pas baca chap 5! ya ampun hidup ikan makin menderita aja😦

    Raihan said:
    Oktober 23, 2013 pukul 2:50 pm

    Ahh,sungguh tragis nasib seorang Lee Donghae.
    Ditinggal sang pacar, dijadikan lahan uang oleh pacar teman sendiri, dipenjara gegara ngebunuh. Emak jalangnya.

    Kibum gila. Rasakan tidak bisa bertemu Donghae utk waktu yg lama.

    Kyuhyun. Ahh, saya menyukai dia diff ini.

    isfa_id said:
    November 27, 2013 pukul 3:10 pm

    arght~

    apa ini? (= 3 =) /

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 3, 2014 pukul 3:12 am

    Benarkah Donghae tega membunuh Ibunya ?? Tidak,, tidakk ,, tidakkk,, aku tak bisa mmbayangkan Hae sekejam ituuu huweeee T___________T
    Yakk,, Kyuuuu kmna saja kauuuu ???
    Kibum siap2lah meranaa,, lihat ikanmu diborgolll😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s