DEEP AFFECTION [5]

Posted on

..

You doesn’t know how many words I’ve whispered everyday for you to come, or how many times I cried out at night that I missed you. A million prays maybe would not bring you to me, I know because I tried, neither would a million tears, I know because I cried. – Donghae

I screamed a silent scream. You don’t need to know. But the stars know. The moon knows. Every drop of my tears know. Every beat of my heart know, missing you is worst than death. – Kibum

It’s pain to know what I want. I want to reach you. It hurts even more to know I can never have you. But It’s okay. It is really okay. Because I love you. – Kyuhyun

[CHAPTER 5]

Kibum mengernyit. Di antara ruangan sepi yang kini ditempatinya, ia terlihat bingung. Sedang ponsel yang kini di genggamnya masih menyisakan bunyi bising berulang-ulang. Ia tak berniat untuk beranjak dari posisinya. Terduduk rapih di kursi kerjanya dengan satu kaki yang menindih kaki lainnya. Sang ponsel berada di antara jemari Kibum. Jemari yang akhirnya hanya memutar-mutar tubuh ponsel itu disana.

Sedang Kibum akhirnya beranjak dari posisinya. Menghampiri jendela ruangannya sambil melonggarkan dasi miliknya. Belum menyerah, akhirnya ia hubungi nomor lain. Ia menunggu dan akhirnya sedikit tersenyum.

“Hyung..” sapanya dengan sedikit pelan, menunggu jawaban dari ujung sana.

“Yunho hyung, bisa aku minta bantuanmu, hyung?” ucap Kibum kemudian.

“Sudah dua hari ini aku kesulitan untuk menghubungi Donghae. Tak terjadi sesuatu dengannya, kan?”

Diam adalah hal yang Kibum lakukan selanjutnya. Menanti Yunho berucap di ujung sana, meski tetap tak membuatnya merasa lega dengan penjelasan yang jauh dari apa yang diinginkannya. Nafasnya masih berhembus perlahan dan tersendat, seperti meragu akan suatu hal. Ada segurat kecewa pula di wajah tampan tersebut.

“Begini hyung, aku belum bisa kembali ke Korea dalam waktu dekat ini. Aku ingin kau menjaganya untuk sementara waktu..” tutur Kibum. Meski suara Yunho terdengar kurang yakin di ujung sana, namun “aku yakin kau bisa menjaganya untukku. Jikapun kau sibuk karena pekerjaanmu, masih ada Jaejoong hyung, kan?” bujuk Kibum dengan sabar.

Namun tetap Kibum mendengar sebuah ketidakyakinan dari nada bicara sang hyung, meski Kibum belum tahu alasan “mengapa kau seperti tidak ingin?”, alasan Yunho yang nampak meragu.

“Aku akan mengirimu uang untuk keperluannya, dan juga keperluanmu bila perlu. Lakukan untukku, ya?”

Hening dari ujung sana. Sepertinya sosok di balik ponsel tersebut mulai menimang-nimang tawarannya, membuat Kibum akhirnya tersenyum. “Aku tahu kau setuju!” simpulnya. “Jaga dia untukku! Sampaikan ucapan salamku untuknya hyung. Aku mengandalkanmu..”

Beginilah yang terjadi. Kibum yang akhirnya dapat bernafas lega karena baru saja dirinya menjamin keselamatan sang kekasih pada orang yang ia percaya. Maka haripun nampak cerah di matanya..

Sedang di sisi lain, semua tetap terjadi. Mengalun di tiap detik dan menitnya. Perih yang begitu serasa menyayat kulitnya, kulit beserta lembaran hidup dia yang adalah seorang Lee Donghae. Mendekam dalam sel untuk beberapa hari dan entah itu sampai kapan, meski itu saja mampu membuat berat badannya menurun, mungkin. Membuat kulit putihnya memucat.

Ruangan yang berbau dan tak membiarkan dirinya melihat setitikpun sinar mentari. Juga orang-orang yang nampak asing baginya. Membuatnya sedikit tak nyaman dan terus saja berwajah mendung. Ia terkurung. Ia ketakutan, kedinginan, hingga menangis dalam hatinya. Hanya di dalam hati, karena ingat? Ia sudah terlalu kuat untuk tak menunjukkan tangisnya di hadapan siapapun, terkecuali Kim Kibum.

Di antara langkahnya kini ia nampak kosong, tak memiliki jiwa. Seperti sebongkah raga yang kehilangan segala rasanya, juga hidupnya. Berjalan dengan pengawalan dua petugas kepolisian yang mengiringnya pada sebuah ruangan lain, yang bukan ruangannya semula.

Donghae menoleh. Ia melihat ruangan persegi yang kini ditempati olehnya, dengan satu dinding kaca yang menyuguhkan sebuah wajah di balik sana. Membuat Donghae lantas tersenyum pada sosok tersebut. Ia terduduk di atas kursi yang menghadap pada dinding kaca tersebut. Dinding bening yang mempertemukannya dengan wajah Cho Kyuhyun.

“Kyu, kenapa kau kemari?”

Kyuhyun hanya diam pada awalnya. Memandang Donghae dengan wajah bingung, juga bibir yang terlihat kesulitan mengungkapkan katanya. Dan Donghae berusaha untuk tersenyum. Ia katakan, “tidak apa-apa. Aku baik-baik saja..”

Hyung..” Kyuhyun mendongak. Ia menatap dalam kedua mata Donghae. “Aku menyesal meninggalkanmu disana waktu itu. Aku menyesal membawamu bertemu dengannya. Aku menyesal untuk segalanya. Aku..”

“Kau tak takut padaku, Kyu?” tanya Donghae, memotong ucapan Kyuhyun.

“Huh?”

Donghae tertawa miris. “Aku pembunuh,” lirihnya sambil menundukkan wajah, seolah tak berani lagi memandang sosok di hadapannya. “Kau tak usah temui aku lagi, Kyu..”

“Mengapa?” tanya Kyuhyun. Hingga ia sendiripun harus tersenyum kaku kala menyadari betapa bodoh pertanyaan tersebut. “Karena kau telah membunuh? Kau merasa buruk karenanya?”

“Itu..”

“Aku tahu kau memiliki alasan, hyung. Aku percaya padamu..”

Donghae menggeleng pelan. “Jangan percaya padaku, Kyu. Aku tak memiliki alasan untuk menghindar,” ucapnya, lantas mengangkat kedua tangannya dan menempelkan kedua telapak tangannya di dinding kaca, untuk menghadapkannya pada Kyuhyun. “Kau tak lihat?” ucapnya kemudian.

“Tangan ini kotor, Kyu. Tangan ini benar-benar melakukannya!”

Kyuhyun menahan nafasnya dengan kening mengkerut. Ia berusaha untuk tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku akan tetap berada di sampingmu, hyung..”

“Kyu..”

“Kau tahu perasaanku, bukan? Bukan hal mudah bagiku, jika harus mengabaikanmu, hyung. Mengertilah. Aku tidak apa-apa jikapun kau tak akan pernah membalasnya. Tapi, biarkan aku untuk tetap bersamamu apapun yang terjadi..”

“Kyuhyun!”

“Aku akan menjengukmu setiap ada kesempatan, hyung. Setiap hari jika itu perlu..”

“Cho Kyuhyun!” Hardik Donghae. Ia nampak geram, terlebih saat dimana ia melihat Kyuhyun bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkannya. Ingin sekali ia mengejar Kyuhyun jika bisa. Namun satu hal yang membuat Donghae diam adalah, saat dilihatnya Kyuhyun mengusap matanya dengan kain pakaian pada lengannya. Membuatnya menyentuh dadanya yang terasa berdenyut tanpa sadar. “Kau menangisi aku, Kyu?” ucapnya dalam nada berduka. Duka untuk dirinya sendiri…

“Aku sudah mengirimkan uangnya. Gunakan itu untuk semua keperluan yang Donghae butuhkan.”

Satu pesan yang membuat sosok dengan tubuh terduduk tegap- tegang di sisi ranjang itu menghela nafas berat. Ia masih memegangi ponselnya yang menampakkan sebuah pesan baru dari Kibum. Dan ia terlihat bingung, jika saja tak ada yang menepuk pundaknya pelan.

“Apa yang kau pikirkan, Yun?”

Yunho- sang pemegang ponsel akhirnya bergeming dari posisinya. Ia melirik sang kekasih yang kini turut terduduk bersamanya, menemani di sampingnya. “Tidak. Tak ada apapun, sayang..” tukasnya dengan sesegera mungkin menyimpan ponselnya di saku celananya.

Ya? Mengapa? Pria tampan tersebut seolah menyembunyikan pesan penting dari Kibum. Mengapa harus disembunyikan, dan mengapa kini ia bersikap kaku di hadapan Kim Jaejoong? Jaejoong yang tak mungkin percaya dengan mudahnya. Ia memicingkan matanya ke arah Yunho. “Benar tak ada yang kau sembunyikan?”

Yunho menggeleng cepat. “Tidak! Sungguh..”

Namun Jaejoong belum percaya dan memilih menjauh dari sang kekasih. Ia berjalan ke arah jendela dan menyibakkan tirainya, menampakkan pemandangan laut yang luas bersama deburan ombaknya. “Jangan katakan istrimu sudah mendesakmu untuk kembali,” tuturnya dalam gumaman. Cukup menggumam saja, karena ia yakin Yunho akan mampu mendengarnya, semenjak pria tersebut telah mampu mendekap tubuh mungilnya.

“Tidak. Dia tak menghubungiku. Dia masih belum mengetahui keberadaanku..”

Jaejoong menghela nafasnya. “Sebaiknya kau pulang saja, Yun. Katakan saja aku telah mati dan kau kembali pada mereka..” ujar Jaejoong membuat Yunho terkejut dan bertanya, “mengapa?”

“Kita tak mungkin bersembunyi selamanya, kan? Tak mungkin seperti ini selamanya!” jelas Jaejoong kemudian. Ia membalik tubuhnya agar menghadap ke arah sang kekasih dan mampu menangkup kedua sisi wajah Yunho. “Kembalilah, Jung Yunho. Sudah sepantasnya kita berpisah..”

Tapi Yunho tersenyum. Aneh! “Sejak kapan kau menjadi menyerah seperti ini, sayang? Kau sudah tak mencintaiku lagi?” tantangnya pada sang kekasih. “Kau benar-benar yakin akan merelakanku begitu saja? Setelah semua yang terjadi?”

Jaejoong bungkam. Ia tak tahu harus membalas apa, hingga tak sadar saat Jung Yunho mengambil satu kecupan di bibirnya. “Kibum dan Donghae bisa melakukannya. Mengapa kita tidak bisa?”

“Huh?”

“Eropa. Kau tunggu aku disana, kau sanggup?”

Jaejoong tak berkedip menatap Yunho. “Apa maksudmu, Yun? Jangan main-main!” tuntutnya.

Sedang Yunho menggeleng yakin. “Kita akan bisa tinggal disana bersama suatu saat nanti, aku janji! Hanya saja beri aku waktu untuk sebentar saja..”

“Tapi, semuanya tidaklah mudah! Dengan apa aku hidup disana jika hanya sendirian? Akan berbeda dengan disini, Yun. Aku bisa menghidupi diriku sendiri. Sedang disana? Bahkan aku tak mampu berbahasa asing! Kau akan membiarkanku mati membusuk disana, huh?”

Yunho kembali tersenyum. “Segalanya sudah kupertimbangkan. Jangan hawatir. Uang dan semuanya tak perlu kau hawatirkan. Cukup turuti perintahku saja, hanya tinggal dan duduk manis disana.”

Benarkah? Lalu darimana uang itu jika bahkan seorang Jung Yunho tidak bekerja saat ini? Jawabannya adalah Kim Kibum!

“..biarkan aku untuk tetap bersamamu apapun yang terjadi..”

Mata yang sebelumnya tertutup itu kembali terbuka. Donghae adalah pemilik sepasang mata yang akhirnya mengerjap perlahan. Mengerjap di antara redupnya ruangan yang kini di tempatinya. Ruangan yang terlampau membuatnya kedinginan. Salah satu alasan yang membuatnya tak mampu untuk terlelap dan bermimpi indah.

Malam tersebut ia benar-benar tak mampu memejamkan matanya. Segelintir kalimat milik Cho Kyuhyun juga menjadi salah satu penyebabnya. Membuatnya gelisah hanya karena memikirkannya. Bahkan ketika tubuhnya meringkuk untuk mencari kehangatan, agar mampu terlelapun, tetap kalimat itu terngiang. Membuat Donghae menghela nafasnya dan nampak putus asa.

Sret.

Perlahan ia bangkit, dan lalu menekuk lututnya dan kemudian ia dekap kedua lututnya tersebut. Punggungnya menempel lekat pada dinding yang dingin. Suara bising di sisi kiri dan kanannya membuatnya tak tahan. Suara dengkuran keras dan terdengar jorok, milik mereka-mereka yang tertahan dalam sel yang sama dengannya.

Donghae tersiksa oleh semua hal tersebut..

Ia tanamkan wajahnya di antara lututnya. Ia kemudian menangis dalam diam. Menangis hanya untuk dirinya sendiri. Meratap terluka di antara deritanya. Terutama, ‘aku merindukanmu, Kibumie’ satu bisikan yang selalu ia lantunkan dalam hatinya.

Bahkan Kim Jaejoong saja tak ada menemaninya. Ia merasa sendiri. Orang-orang terdekatnya seolah sudah tak bersisa. Hilang perlahan untuk meninggalkannya. Begitupun Kim Kibum, meski sosok satu ini tak meninggalkannya dengan sengaja. Lebih tepatnya, dirinya yang meninggalkan Kim Kibum. Tak memberikan tanda sedikitpun akan keberadaannya terhadap sang kekasih. Bagaimana bisa hidupnya harus tetap berjalan?

Donghae semakin mendekap kedua lututnya dengan erat. Ia nampak bergetar karena harus berusaha untuk menahan tangisnya. Meredam tangisnya agar tak mengusik suara dengkuran-dengkuran disekitarnya menjadi keluhan karena tangis manjanya nanti. Namun teriakan di dalam hati Donghae seolah tak ingin mereda. Ia menjerit, menjeritkan nama Kibum sepuas yang ia mampu.

“Kibumie!”

Tiga hari menjelang. Donghae menatap lesu ke arah kawanan satu selnya yang nampak sudah terbiasa dengan semua yang ada. Tak ada kejahatan atau kecurangan yang mereka lakukan untuk menjahili Donghae, sang tahanan baru. Semua aman terkendali, kecuali dengan mata-mata yang menatap tajam ke arahnya, tak bersahabat. Atau pertanyaan-pertanyaan seperti:

“Kau mencuri? Atau membunuh?”

“Siapa yang kau bunuh?”

“Padahal kau tak terlihat seperti penjahat!”

Satupun tak ada yang Donghae tanggapi. Seperti terlalu malas, atau malah terkesan larut dalam dukanya sendiri. Itulah Lee Donghae. Hanya bungkam, terdiam dengan apapun yang terjadi. Lebih senang memeluk lututnya di sudut ruangan, tak ingin tersentuh siapapun. Satu hal yang ditunggunya adalah, saat dimana pintu selnya terbuka, menampakkan satu petugas kepolisian yang lalu..

“Lee Donghae!” menyerukan namanya, menandakan seseorang ingin menemuinya hari tersebut.

Sang polisipun langsung membawa serta Donghae saat itu juga. Memisahkan dirinya dari kawan-kawan selnya, dan mengajaknya untuk bertemu dia yang ingin menjenguknya.

Donghae bungkam terlebih dahulu. Hanya memandang sorot mata penuh kepalsuan di hadapannya. Nampak melalui sajian wajah dengan bibirnya yang tersenyum, namun matanya berkata lain. “Bukankah akan kemari setiap hari?” cetus Donghae. “Ini sudah tiga hari, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun mengulum senyumnya. “Kau merindukanku, hyung?” usilnya kemudian.

“Jangan berkata yang tidak-tidak!” bantah Donghae.

Sejenak Kyuhyun terdiam. Ia memandang segurat lelah di wajah Donghae dengan bibirnya yang kian mengering, berikut kulit bersihnya yang tak lagi menampakkan paras indahnya. Donghae seolah meredup. “Padahal baru tiga hari,” keluh Kyuhyun tanpa sengaja.

“Kenapa?”

Kyuhyun menggeleng. “Kuharap kau akan selalu baik-baik saja, hyung..”

“Aku baik-baik saja, Kyu. Aku..”

“Pembual!” potong Kyuhyun. “Kau pikir aku bodoh, huh? Tak bisa melihat rona wajahmu?! Lagipula siapa yang akan baik-baik saja di dalam penjara sana!” omel Kyuhyun yang nampak kesal.

Helaan nafas berikutnya keluar dari mulut Donghae. Mengalunkan perih yang ditahannya. Kemudian ia menggigit bibirnya sendiri, dan menundukkan wajahnya. “Baguslah jika kau tahu,” timpalnya.

“Hyung..” kali ini Kyuhyun memanggil Donghae. Ia tercekat, kala melihat Donghae kembali menampakkan wajah manis itu padanya. Dengan mata memerah menahan tangis. Membuat Kyuhyun mengepalkan erat tangannya. menahan kesal karena rasa kecewa. Mengapa ia tak mampu menggapai sosok di hadapannya kini? Tak mampu untuk sekedar memberikan pelukan hangatnya.

“Kyu,” panggil Donghae dengan suara yang mulai serak terdengar. “Bolehkah aku menangis?” tutur Donghae kemudian.

Lengkap sudah kali ini. Kyuhyun harus bersusah payah menahan asanya. Mengangguk dalam ragu dan sesalnya. “Tentu,” jawabnya. Ia mencoba untuk menatap Donghae dengan lembut. “Tentu, hyung. Menangislah..” pintanya. “Aku akan disini hingga tangismu selesai, hm?”

Maka kala itu pula Donghae menunjukkan tangisnya di hadapan Kyuhyun. Membuahkan tetesan air mata yang tak mampu di bendungnya. “Aku takut, Kyu!” adunya. “Aku lelah. Aku- aku ingin pulang..” lirihnya dengan bibir bergetar. Isakan itu mulai terdengar jelas.

Kyuhyun merasakannya. Saat dimana hatinya seolah turut teriris mendengar isakan Lee Donghae, sosok yang ia inginkan. Sosok yang ia harapkan, agar dirinya dapat melindungi sosok indah itu. Tapi apa? Kini ia hanya meratapi tangisan itu dalam diam. Bahkan Donghae nampak menunduk dalam, dan juga menutupi mulutnya agar tangisan itu dapat tertahan, meski hal ini tak terlalu membuahkan hasil, karena tangisan itu tetap lolos.

“Aku bersumpah akan membawamu keluar dari sini, hyung. Aku tahu kau memiliki alasan mengapa melukai mereka malam itu. Aku akan menjadi saksimu. Bicaralah yang sebenarnya agar aku dapat membantumu.”

Donghae menggeleng dalam tangisnya, sesaat setelah merasa ucapan Kyuhyun terdengar sia-sia. “Tangan ini adalah bukti nyata yang tak akan pernah mampu dilawan,” balas Donghae. Tangisnya cukup mereda, meski aliran air di wajahnya belum mengering. Ia memberanikan dirinya untuk menatap Kyuhyun. Ia torehkan sedikit senyumannya, meski hasilnya adalah pedih yang terlihat. “Jangan paksakan dirimu untuk terlibat lebih jauh..”

“Tapi hyung..”

“Tidak, Kyu..”

Diam. Keduanya terlibat dalam pikirannya masing-masing. Berkutat dengan hal berbeda yang tak akan pernah dimengerti siapapun jika mereka sendiri tak mengatakannya. Salah satu yang mengganjal pada diri Donghae kali ini adalah, “apa tak ada seseorang yang datang ke rumahku? Atau mencariku?” tanyanya tiba-tiba.

“Huh?” balas Kyuhyun. Ia terlihat bingung, meski tak butuh waktu lama baginya untuk mengerti. “Aku juga ingin bertanya padamu. Mengenai Kim Kibum,” cetusnya. “Dimana dia? Kupikir dia harus tahu..”

“Jangan!”

Kyuhyun nampak terkejut kala mendengar teriakan Donghae yang berhasil memotong kalimatnya. Dengan cepat ia dapat menangkap wajah Donghae yang berubah menjadi cemas. “Mengapa ia tak boleh tahu? Aku yakin dia akan mencarimu..”

Dengan cepat Donghae menggeleng yakin. “Jangan beritahu dia apapun! Bersikaplah seolah kau tak mengenalku, jika suatu saat nanti Tuhan mempertemukan kalian..”

“Kupikir kau merindukannya, dan ingin berada dalam lindungannya..”

Donghae segera kembali menunduk dalam. “Tidak! Tidak untuk Jaejoong hyung! Tidak untuk Yunho hyung! Terlebih dirinya. Tidak ada seorangpun yang boleh tahu, Kyu. Aku mohon..” pintanya membuat Kyuhyun mengangguk pada akhirnya dan berkata, “baiklah! Karena ini pilihanmu..”

Saat paling mengerikan bagi Donghae adalah, saat dirinya harus mereka ulang kejadian yang pernah diperbuatnya di malam itu. Perbuatan yang bahkan mampu membuatnya terheran. ‘Mengapa ia bisa melakukan hal itu?!’ gumamnya dalam hati.

Tangannya terkurung borgol yang sedikit banyak membuatnya kesakitan. Perih kala besi itu bergesekan dengan kulitnya. Terlebih, hujan! Membuatnya kedinginan dan menatap sedikit takut pada semua petugas kepolisian yang mengerubunginya. Melindunginya dari serangan wartawan dan cercaan masyarakat disana. Ternyata berita cepat menyebar. Dalam hati Donghae berdo’a, “semoga mereka tak melihatnya! Semoga!” sambil menahan cemas dan tangis yang tersamarkan oleh air hujan.

Semenjak dirinya turun dari mobil dan menuju tempat kejadian, terasa sangat jauh. Bahkan air hujan saja mampu membasahi seluruh tubuhnya. Berikut semua polisi yang kini tetap mengawalnya, seperti mengawal seorang pembunuh kejam yang akan menyerang siapapun. Dan dibalik kerumunan orang yang membuatnya sesak itu, Donghae melihat Kyuhyun yang turut terseret kerumunan, namun ia lihat pemuda itu berteriak dan menarik seragam salah satu petugas kepolisian.

Donghae menutup matanya. Ia pasrah atas segalanya. Ia menjadi tersedu kala mendengar Kyuhyun berteriak, “beri dia payung! Beri dia payung, kumohon!”

Berita pembunuhan yang dilakukan olehnya begitu menggemparkan, hingga proses reka ulang kejadian tersebut mengundang banyak pihak dan menjadi rusuh.

Donghae menatap semuanya. Ia bingung. Tubuhnya terseret kesana dan kemari. Ia begitu terombang-ambing hingga tak sadar saat melihat bingung pada seluruh orang disana dengan tangisannya. Ia ketakutan! Lee Donghae ketakutan karenanya. Bibirnya bergetar sambil memanggil ‘Kibum’ dalam bisikan yang tak mampu didengar siapapun.

Hingga di waktu berikutnya..

“Kau baik-baik saja?”

Donghae menoleh pada Kyuhyun yang kembali, sudah berada tepat di hadapannya. Ia menatap dengan wajah enggannya, namun tak membalas apapun. Terlihat masih terkejut atas apa yang terjadi. Ia menggeleng lemah.

“Jangan takut hyung! Aku sudah membawakan pengacara untukmu, hm?”

Donghae hanya mengangguk pasrah. Ia benar-benar tak ingin banyak bicara, membuat Kyuhyun tak sabar dan terus berkata padanya. “Katakan apapun, hyung. Jangan membuatku takut!”

“Biarkan mereka menghukumku saja! Biarkan aku dihukum mati saja, Kyu..”

Kyuhyun terperanjat. “Apa yang kau katakan!” bentaknya.

Donghae menggeleng bingung. “Sudahlah, Kyu. Aku tak ingin lagi memikirkan hidupku! Aku lelah, Kyu. Aku lelah!” raungnya.

“Tidak akan kubiarkan!” bentak Kyuhyun kemudian. Matanya menyiratkan sebuah kemarahan pada Donghae. “Aku akan mengeluarkanmu dari sini, atau setidaknya aku akan meringankan hukumanmu!”

“Kyu..”

Benar saja! Dari awal Donghae melihat kesungguhan di mata Kyuhyun, akhirnya ia mendapati kabar perihal jatuhnya hukuman untuknya. Hukuman berupa dekaman 15 tahun penjara, kira-kira. Dan entah Donghae harus merasa lega, senang karenanya? Hanya dirinya yang tahu.

Tak terdengar kabar. Tak ada lagi berita. Semua tetap hidup dalam kendali Tuhan. Bernafas di waktu yang sama, serta berusaha untuk tetap hidup. Hingga memakan waktu berbulan bahkan. Tersisa Kim Kibum yang terus saja harus menahan rindunya, dikarenakan belum dapat menemui kekasih hatinya. Salahkan sakit yang ternyata cukup parah, kini melanda putranya. Putranya bersama wanita itu- istrinya.

Membuat Kibum bahkan tak mampu untuk mengabari lewat sambungan telpon. Hanya mengirimi beribu pesan pada Donghae, pada Yunho yang terus menerus mendapat semua dana darinya. Biaya untuk hidup Donghae yang ia kirim melalui Jung Yunho.

Nyatanya?

“Aku tidak tahu kau berbohong sejauh ini, Jung Yunho! Kau menyakiti keduanya hanya untuk kesenanganmu, huh?”

Hari itu Kim Jaejoong menyambut Yunho dengan segurat marah yang terpahat di wajah manisnya. Ia tampakkan ponsel milik Yunho dengan sederet pesan atas nama Kim Kibum disana. Pesan yang tak dapat dimengerti olehnya.

“Kebohongan macam apa ini, hah?! Bahkan kita tidak tahu Donghae dimana dan sedang apa! Berani kau memberi kabar palsu pada sahabatmu sendiri? Apa tujuanmu, Yun!” geram Jaejoong.

“Kumohon dengarkan aku!” kilah Yunho. Ia dekap Jaejoong yang berusaha menolak sentuhan darinya sejak tadi. setelah dirasanya Jaejoong mampu lebih tenang, ia ajak Jaejoong untuk sekedar saling bertatap dengannya. “Aku merasa bersalah atas ini semua, tapi aku, kita membutuhkan uang, Kim Jaejoong!”

Jaejoong mengerutkan keningnya. “Jadi kau mendapatkan upah dari Kibum karena telah memberi kabar palsu mengenai Donghae, huh?” dengusnya. Dilihatnya Yunho menjadi ragu dan bahkan tak mampu menatapnya. “Uang apa yang diberikan Kibum, Jung Yunho, jawab aku!” desak pria cantik tersebut.

“Itu,” tutur Yunho perlahan. “Itu uang yang dia berikan untuk segala kebutuhan Donghae..”

“Astaga!” umpat Jaejoong kemudian. Ia nampak kesal hingga terasa lemas di tempatnya. “Kibum memberikanmu kepercayaan atas Donghae dan kau mengabaikannya!” raung Jaejoong. “Kau picik!”

“Tidak, bukan begitu! Aku yakin Donghae baik-baik saja..”

“Tapi bahkan Kibum tak dapat menghubunginya. Akupun tak bisa menghubunginya, Yun. Donghae tidak ada! Dia kemana!” kesal Jaejoong. Ia nampak resah kemudian, lantas berlari ke arah kamarnya.

“Aku akan pulang ke Korea! Aku akan mencari Donghae..”

“Kim Jaejoong, tenanglah!”

“Tidak bisa!” raung Jaejoong. “Persetan dengan istrimu. Aku tidak takut!” tantangnya. Ia membenahi barang-barang yang dibutuhkan olehnya secepat mungkin, selengkap mungkin berharap tak ada yang terlewatkan. Dengan kasar kakinya melangkah ke arah pintu, hingga Yunho segera menghentikan langkahnya dengan menariik lengannya.

“Jangan lakukan itu jika kau masih mencintaiku!” ancam Yunho.

Apa balasan Jaejoong? Dengan satu tarikan di ujung bibirnya, ia tersenyum sinis sambil berkata, “seharusnya kau ceraikan istrimu jika kau benar-benar mencintaiku!”

Lalu dimana Donghae? Sosok yang kini menjadi alasan pertengkaran tersebut?

“Hey, Changmin-ah! Apa orang di sampingmu tuli?”

Changmin, satu di antara sekian banyak tahanan yang kini tengah bekerja sama membersihkan sel mereka masing-masing menjadi menoleh ke sampingnya. “Hyung!” panggilnya. “Donghae hyung!” ujarnya sambil mengibaskan satu telapak tangannya ke arah wajah Donghae yang nampak melamun.

Hyung, kau baik-baik saja?” tanya Changmin.

“Eh, ya?” Donghae nampak terkejut dengan pertanyaan Changmin, kawan satu selnya. “Ada apa? Kenapa Changmin-ah?” tanyanya sedikit panik.

“Apa yang kau lamunkan, hyung?” tanya Changmin lagi.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedikit lelah..”

Changmin menghentikan tangannya yang tengah menggenggam sapu. “Kau sakit? Kulihat kau menjadi pendiam lagi sekarang..”

Donghae tersenyum kecil. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja..”

“Hey! Mengapa malah mengobrol?” satu kalimat dari sosok berbeda turut bergabung. Dia yang bertubuh tegap dan cukup tinggi itu mendekat ke arah Changmin dan Donghae. “Aku menyuruhmu memanggil Donghae, bukan untuk bercakap-cakap!” geramnya.

“Pelankan suaramu, Kangin hyung. Donghae sudah ada di depanmu!” rutuk Changmin terlihat kesal.

“Ada apa, hyung?”

“Tadi aku menyuruhmu membawa sapu lain..”

“Benarkah?” tanya Donghae terlihat bingung. “Bukankah aku sudah memberikannya padamu?” ucapnya nampak kebingungan.

“Belum!”

Donghae menggaruk kepalanya. Ia nampak berfikir keras, tetap dengan ingatannya. “Aku sudah memberikannya padamu tadi!” ujarnya. Namun ia menjadi memandang lesu pada Changmin di sampingnya. “Sepertinya aku lupa lagi!” keluhnya pada Changmin.

“Kau pikun! Aku tak melihatmu memegang sapu sekalipun!”

“Kibumie,” ucap Donghae tiba-tiba. Ia merubah posisi tidurnya menjadi menyamping, membelakangi Changmin yang selalu tertidur di sisi kirinya.

Masih sama dengan malam-malam panjang sebelumnya. Satu nama yang tak akan pernah absen dari mulutnya, adalah nama Kibum. Sosok yang selalu diingatnya. Sosok yang selalu membuatnya menangis melupakan dinginnya penjara yang menyekapnya selama berbulan-bulan lamanya.

Tes.

Satu tetes air mata kembali meluncur dari kedua mata Donghae yang sudah terlampau mati saat ini. Mata itu tak pernah lagi terpancar indah. Memendam pedihnya seorang diri.

“Aku merindukanmu,” ucapnya hampir berbisik. Kalimat yang ia lantunkan pula setiap malam, sebelum akhirnya ia jatuh terlelap dalam tidur lelahnya.

.

“Kau tak akan meninggalkanku, kan?”

“Aku akan kembali. Kau akan menungguku, kan?”

Donghae tersenyum kala pertanyaan tersebut mendengung di telinganya. Tercipta dari suara menggema yang begitu ia hafal. Ia pejamkan matanya, untuk menikmati sepoi angin yang turut mengibaskan harum tubuh yang dirindunya. Dengan senyum yang belum memudar ia balikkan tubuhnya. “Aku tidak akan kemana-mana, Kibumie!”

Benar! Nyatanya Kibum disana, di hadapannya. Tengah memandang lekat ke arahnya. Kibum yang lalu datang padanya, mendekat dan lalu meraih tubuhnya pada sebuah pelukan hangat. Memberinya ciuman hangat di kening dan juga bibirnya.

“Janji untuk tak meninggalkanku?”

Dengan semangat Donghae mengangguk. Namun, satu kalimat menyusul dari mulut Kibum. “Lantas mengapa kau menghilang?”

“Huh?”

“Jangan membuatku berfikir untuk tetap berada bersama istri dan juga putraku..”

“Kibumie..”

“Akupun akan pergi jika kau meninggalkanku..”

.

Sret.

Mata kelam itu terbuka dengan cepat. Donghae terbangun dengan nafas yang sedikit memburu, menyiratkan sebuah ketakutan yang dalam. Ia terlihat cemas. Mendapati ruangan redup seperti biasa saja sudah cukup membuatnya terkejut. Terlebih mimpi yang baru saja ia lihat? Membuatnya segera menarik dalam nafasnya.

Donghae mencoba untuk lebih tenang, namun keningnya mengerut dalam. Ia bangkit dan terduduk. Ditatapnya sekelilingnya. Ada beberapa orang yang tertidur di tempat yang sama dengannya. Tempat yang membuatnya berfikir, ‘mengapa gelap?’ seolah bingung dengan hal tersebut.

Suara igauan Changmin mengalun setelahnya. Membuatnya menyentuh dadanya kemudian. “Jadi benar ya?” tuturnya pada dirinya sendiri. “Aku yang meninggalkannya?” lirihnya.

Ia tengadahkan wajahnya untuk menghadap ke atas. Ia pejamkan matanya, mengantar sedikit air mata yang kembali menetes. “Aku lupa!” bisiknya pelan, sangat pelan..

“Aku pulang..”

Di waktu berikutnya, Kim Kibum menginjakkan kakinya di rumah yang adalah milik kekasihnya. Ia masuk ke dalam rumah Donghae setelah mendapat sebuah rasa heran akan sepinya tempat tersebut. Terlalu sepi dan aneh..

Ada banyak helaian dedaunan kering di lantai depan. Dan jangan lupakan debunya! Oh, Kibum seolah tak ingin mencopot sepatunya. Pintupun nampak tidak terkunci meski tirainya tertutup. Aneh bukan, jika tirai sebuah rumah tertutup di siang hari?

Perkiraan Kibum mungkin, “dia menginap di rumah Jaejoong hyung?” pada awalnya. Ia mulai memasuki rumah dengan keheranan lain.

Kibum kemudian membuka tirai-tirai itu hingga sedikit menerangi ruangan. Rumah yang begitu berantakan Kibum lihat. Ada bercak lilin di atas meja yang telah mengering disana. Kakinya melangkah, dan lalu menemukan secarik kertas di atas meja yang bertuliskan..

Kibumie..

생일 축하 합니다..

Begitulah pesan yang Kibum baca. Dia hafal benar itu tulisan tangan Donghae, meski ia harus berputus asa karena tak mampu membaca tulisan Hangeul disana. Hanya ada tulisan tersebut dalam selembar kertas itu, dan setelahnya Kibum terhenyak. Ada noda darah di sekitar kertas tersebut. Entah mengapa hatinya berdebar dengan kencang bersamaan dengan panik yang langsung melandanya.

Ia susuri ruangan tidur Donghae, namun ia tak ada disana. Ia sambangi ruangan lain, hingga halaman belakang, namun tetap tak ada Donghae dimanapun. Kibum menjadi cemas luar biasa!

“Kemana dia!” rutuknya pelan sambil meremas kertas di tangannya. Keanehan semenjak ia datang? Satu bukti bahwa Donghae tak ada disana.

“Kau dimana Hae!” gumam Kibum. Ia mulai mencari. Mencari dan mencari, bahkan Yunho tak dapat dihubungi olehnya. Begitupun Jaejoong yang ternyata..

“Jaejoong hyung sudah lama pergi dan tak lagi bekerja disini. Donghaepun sudah jarang kulihat akhir-akhir ini..”

Yang membuatnya kesal adalah, kemana perginya Jung Yunho yang mana beberapa hari lalu masih mampu ia hubungi, bahkan masih dapat memberinya kabar perihal Donghae. Semua nampak bagai bualan kini..

Kibum akhirnya diserang cemas luar biasa. Ia mencari Donghae semampunya. Namun pada akhirnya, tersisa pedih yang dapat dirasanya. Pedih karena ketidakpastian akan hilangnya sosok Donghae. Dimana dan mengapa? Ia tak tahu Donghaenya saat ini. Satu hal yang harus ia lakukan selain mencari Donghae adalah, mencari Jung Yunho!

Kriet..

Pintu sel yang bertuliskan 15 itu kembali terbuka, menampakkan wajah seorang penjaga yang lalu menyebutkan nama “Lee Donghae..” seperti biasa.

Changmin yang tengah berbincang dengan Kanginpun menoleh. “Kekasihmu menjenguk lagi, eoh?” goda Kangin.

“Sudah kubilang dia bukan kekasihku!” dengus Donghae. Namun Changmin menatap aneh pada Donghae. Donghae yang membalas godaan Kangin dalam nada lemasnya, seperti tak bergairah untuk bicara.

Hyung, kau baik-baik saja? Kau agak berbeda..”

Donghae menoleh pada Changmin dan lalu tersenyum lembut. “Aku baik-baik saja, Changmin-ah..” balas Donghae sambil melangkah pergi. Ia tak mengindahkan tatapan cemas Changmin padanya. Ia tak menoleh lagi pada mereka, teman satu atapnya beberapa bulan belakangan ini. Teman penjahatnya. Teman yang ternyata mampu sedikit mengobat laranya.

Perlahan ia ikuti langkah sang petugas kepolisian yang sedang mengawal jalannya. Namun semakin lama, keningnya semakin mengerut. Langkahnya mulai limbung. Pandangannya terlihat tak fokus. Bahkan ia tengah melewati ruangan penjara lain kini, saat akhirnya kedua kakinya melemas, berikut pandangannya yang kian memudar. Begitu cepat, menyisakan bunyi cuup kencang kala itu..

Bugh!

Kibum menarik nafas-nafasnya dengan kasar dan dalam. Ia begitu terkurung emosi yang dalam. Seolah otaknya terasa sangat panas, tak bisa untuk diajak berfikir dengan tenang. Saat ini ia hanya mencoba untuk menindih tubuh di bawahnya, sambil lagi dan lagi dilayangkan kepalan tangannya pada wajah sosok di wajahnya kini.

“Kau menipuku!” sentaknya.

“Kau menghabiskan uangku untuk dirimu sendiri, hah?” teriaknya sambil kembali melayangkan pukulannya. “Kau menelantarkan Donghae?!” tanyanya dengan nada kesal.

“Jung Yunho!” geram Kibum sambil mencengkram kerah Yunho dan memberinya tatapan yang teramat tajam. “Katakan dimana dia!” desak Kibum.

Padahal baru berpuluh menit lalu ia menemukan batang hidung Jung Yunho. Namun, kini sudah banyak bercak luka yang ia torehkan pada wajah tampan tersebut. Dengan ganas Kibum menghantamkan pukulannya. Tak peduli meskipun tubuh Yunho lebih tinggi darinya, tak membuatnya takut.

Dengan darah memenuhi mulutnya, Yunho akhirnya angkat bicara. Ia berucap “aku juga tidak tahu” dalam bisikan, karena rintihan nyeri lebih mendominasi. “Kupikir Jaejoong tahu, karena dia lebih awal pulang kemari..”

“Lalu dimana dia sekarang?” tanya Kibum dengan nada dingin.

“Aku juga tidak tahu! Aku sedang mencarinya..”

Kibum akhirnya diam dan mencoba meredam amarahnya. Ia tahu, dirinya masih membutuhkan sahabat bajingannya tersebut. Maka dengan berusaha melapangkan dirinya, Kibum membantu Yunho berdiri. Ia bertingkah kaku setelahnya. “Aku harus membuat perhitungan denganmu setelah Donghae ditemukan..”

Tak ada balasan dari Yunho. Ia tetap meringis, meski akhirnya terdiam kala Kibum memberikan selembar kertas dengan tulisan singkat disana. “Apa arti tulisan ini, hyung?” tanyanya dalam nada yang ketus.

Yunho meraih kertas tersebut. Dengan ragu ia melirik Kibum. “Donghae yang menulisnya?”

“Katakan saja apa artinya!”

“Selamat ulang tahun!”

“Huh?”

“Ini ucapan selamat ulang tahun untukmu, Kibum-ah..”

Kibum terhenyak. Dalam perkiraannya, tulisan itu ada semenjak dirinya berulang tahun beberapa bulan yang lalu. Membuat Kibum kembali melayangkan tatapan tajamnya pada Yunho. “Apa Donghae menghilang selama itu, huh? Jadi kau menipuku selama itu?!” geramnya.

-TBC-

20 thoughts on “DEEP AFFECTION [5]

    Elfishyhae said:
    September 10, 2013 pukul 12:44 pm

    Whattt? Ada apa dngan my donghae?

    BryanELFishy said:
    September 10, 2013 pukul 1:18 pm

    Semakin menderita rasanya kau Lee Donghae T^T
    Eonnie~~~
    bisakah mengurangi kontrak penganiayaan Donghae??????

    masrifah lubis said:
    September 10, 2013 pukul 1:26 pm

    issssssssssssssssssssss semoga kibum dpt mnmukan donghae

    Vee kim-soohyun said:
    September 10, 2013 pukul 1:38 pm

    Ikanku yang malang😦
    donghae ngebunuh siapa? Kok bisa msuk penjara? Blum baca chap sebelumnya kah aku -,- Nangisss pas kyuhae moment nya, kyuhyun.. Dia sayang banget kayanya sama donghae🙂
    Dan itu? Si yunho bikin aku ngenes sumpah pengen nabok, bisa-bisanya dia nipu gitu…
    Lanjuttt makin seru🙂

    -NunutKim-

    Ainun_lara said:
    September 11, 2013 pukul 1:23 am

    Bingung,kejahatan Donghae terasa
    Absurd,bias,dan terkesan ambigu.
    Tidak dijelaskan secara eksplisit soal pembunuhan itu,siapa yg di bunuh,nyatanya
    Ada kalimat Donghae ” apakah ada seseorang mencariku ?”,siapa?,tentunya selain Kibum,siapa yg Donghae tutupi ?,ummanya kah?.

    Saeennggg,Demi apa,ini penasaran,bikin ketagihan,dan..dan..Lanjut Cepatttt.

    namikaaileen said:
    September 11, 2013 pukul 9:53 am

    eonniehhh kurang eonniieehhh! lagiiiiiiiiiiiii

    eonn… ini aku pkir bkal jdi chap flashback ttg masalalu nya donge ama ummanya… trus yunjae…. aaahhh pnasaraaan! trus kyuhyun ny jga… msh penuh misteri eonniieee…. lnjut ah cpet!!!

    nia na yesung said:
    September 11, 2013 pukul 10:04 am

    Donghae . . . Donghae . . . Donghae . . .

    Donghae Kau Kenapa Saya . ????
    Hueeeee …………… Donghae

    Salah Klo saya Hanya ingin Melihat Donghae Trsenyum Bahagia Brsama Kibum ?
    Aihhh …. !!! Kenapa kau Buat Donghae q Mederita Selalu >,<

    Kibum Coba kau Tanya Pada saya donghae Di mn ? Sya Pasti Tau wkwkwkwk ….
    Kibum Cepat Cari Hae !!

    yolyol said:
    September 11, 2013 pukul 11:47 pm

    Dongahae-ah………
    。・゚゚・(>д<;)・゚゚・。

    itu pasti dongahae sakit, ya kan??

    yunho mmg bajingan,tega-teganya berbohong,pdhal donghae udh menolong jaejoong waktu melarikan diri dr suruhan bini yunho…

    beruang tua kejaaamm!!
    untung ada kyuhyun,ya meskipun sbnernya kyu jg penyebab donghae masuk penjara.

    coba klu kyu gk ksh tau soal ibunya pd donghse,pasti donghae baik2 aja. …dan skrg kibum pun merasa berslh.

    donghae yg malang *nangis

    arumfishy said:
    September 12, 2013 pukul 8:24 am

    Omo donghae knp???ko jdi pelupa??
    Bumie lmmmmmm…:O
    lnjuttt Oen

    dewiikibum said:
    September 14, 2013 pukul 10:16 am

    WHATTTTT !!!

    udah update tapi aku baruuuu bacaa…

    Jung Yunhooooo tegaa banget sih.. Kibum di manfaatin gitu..

    semoga mereka cepet ketemu.. berharap gitu…

    update lagiiiiiii kak minahj

    vheroniicha said:
    September 14, 2013 pukul 1:44 pm

    Jahat banget tu Si Yunho..
    Egois..
    Betul tu yang diblang jaejoong..
    Klo memang Tulus mencintai Jaejoong harusnya menceraikan Istrinya kan..huh..

    leegihae said:
    September 14, 2013 pukul 3:49 pm

    oh god.. kenapa babyHAE begitu menderita… kurang ajar jung yunho…!!

    laila mubarok said:
    September 22, 2013 pukul 4:53 am

    aku komen sekarang deh.. #padahal bacanya dri kaan tau

    eoniiii papih yun aku lempar kelaut boleh? kasian banget sih donghae nya eon -3-

    Calista said:
    September 29, 2013 pukul 12:36 pm

    Annyeong eonni. Aq calista. Smg eonni msh ingat. *ngk ingat jg ngk p2* hehe. Eonni, ada yg ingin aq smpaikn. sbnrnya aq bgung mau comment dmn, q pkir klo aq comment d ff trbaru ini, eonni bkln baca. Aq barusn brkunjung k ffn. Dsna aq nemuin ff eonni yg jdulnya “Gomawo, Hae” d plagiat sm org yg tdk brtggung jawab. Saran aq eonni lbh brhati2 lg ne? Tp jgn kapok utk ttp berkarya ya. Eonni, hwaiting!! ^^

    KeyNa said:
    September 29, 2013 pukul 2:37 pm

    annyeong eon,akhrnya bisa kunjung juga,,,wah benar2 sulit idup mereka,,,kenapa sebel bgt ma Yunho disini,Jae kemana?hah penasaran bgt nie eon,,,,,FIGHTING!!!

    nieacloudsyewon said:
    Oktober 17, 2013 pukul 6:44 am

    bnr2 nahan nafas wkt bc ini , bnr2 tegang baca ny . . .
    Hae sungguh malang nasib mu . . . /lebay …🙂

    keyjedottaembok said:
    Oktober 19, 2013 pukul 5:38 pm

    astaga aku senyum2 sendiri bacanya.
    gemes aja bayangin donghae hahaha
    kyu bakal jadi apa yah ntar? -,-
    eh diselipin angst lagi dongs eonn wkwkwk
    update kilat yaaaaaaak. kutunggu selaluuuu..
    fightiiiing!!😄

    Raihan said:
    Oktober 23, 2013 pukul 2:57 pm

    Yunho gila. Kasian amat Kibum sama Donghae. Pdhal kan dgn uang itu. Donghae bisa aja bebas dri tahanan. Egois.

    Kyuhyun. Ahh,makhluk ini nambah manis diff ini.

    Pertemukan Kibum dan Donghae. Please.

    isfa_id said:
    November 28, 2013 pukul 11:41 am

    ikaaannnnn~

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 3, 2014 pukul 3:47 am

    entahlah dichap ini pengn gw telen aja sik Yunhoo, aisshhhh,,
    15 thn ?? ohh,, tak adakah jaminan buat ikan manis ituu ??😥
    biarkan mereka tahu,, biarkan mereka semua tahu kau dmna Lee Donghaee,, jeballlll ~
    Kyu kasih tau aja semua oranggg ~
    #stress liat Hae dibui#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s