-NOTHING BETTER [4]-

Posted on

“Hanya menunggunya. Hanya ingin bertemu dengannya suatu saat nanti. Bisakah Tuhan?”

[CHAPTER 4]

Hampir saja Heechul menjelajah kota Seoul di malam berhujan itu. Namun itu tak perlu terjadi. Nyatanya tiba-tiba saja Yesung, orang yang kabarnya adalah sahabatnya, baru saja menghubunginya, memberitahukan keberadaan Donghae padanya, meski kabar yang di dengarnya bukanlah kabar yang cukup baik.

Heechul merasakan cemas yang sebenarnya. Di tengah guyuran hujan dan gelap ia mengemudikan kendaraannya. Sedikit berhati-hati mengingat jalanan begitu licin. Raut wajahnya begitu keruh dan seperti dikejar waktu beserta rasa penasarannya akan ucapan Yesung yang mengatakan Donghae berada di klinik sahabatnya tersebut. Terjadi sesuatukah dengan Donghae?

“Aku tidak mau!”

Di malam yang sama di kota Daegu. Kembali pada Leeteuk bersama dua adik kembarnya. Ketiganya tengah menghabiskan hidangan makan malam mereka. Hidangan yang tengah menjadi perdebatan si kembar Kibum dan Kyuhyun. Hanya sebatas daging yang sengaja Kyuhyun tambahkan pada mangkuk nasi Kibum.

Sayang sekali Kibum kurang peka terhadap niat baik saudara kembarnya dan malah mendengus sebal mengutarakan ketidaksukaannya. Ia sisihkan daging yang sengaja Kyuhyun berikan untuknya. Sementara itu, Kyuhyun hanya menggigiti ujung sumpit yang digenggamnya. Ia nampak takut karena Kibum menjadi marah padanya. “Aku memberimu dagingnya, Kibum!” cetus Kyuhyun, menggerutu sebal setelahnya.

“Kubilang aku tidak mau, kan?!” balas Kibum.

Leeteuk hanya meringis kecil. Pertengkaran kecil yang terjadi selama hari tersebut nampaknya membuatnya sedikit tertekan. Dalam hati ia sempat bergumam dan mengutarakan pendapatnya, bahwa mengurus satu orang meskipun manjanya sangat itu akan nampak lebih baik.

Ia teringat Donghae. Semanja apapun bocah kecil itu, namun setidaknya Leeteuk bisa mengalah untuknya. Mengalah dan mengesampingkan kepentingannya sendiri. Berbeda dengan sekarang. Ia kebingungan saat harus melerai dua bocah kecil yang sama-sama memiliki sifat keras kepala.

“Kenapa tidak mau? Hyung sudah susah-susah memasakannya untuk kita! Ini enak sekali, lho..”

Kibum menggeleng dan kembali mengunyah santapannya. Ia nampak tak begitu peduli pada ucapan Kyuhyun. “Dagingnya terlalu keras, seperti belum matang!” komentar Kibum kemudian.

“Tapi ini enak!” bantah Kyuhyun tak ingin kalah.

Kibum perlahan menghentikan gerakan mulutnya. Ia nampak menahan sesuatu yang pada akhirnya tak mampu dibendungnya. Setelah sejenak ia genggam erat sumpitnya, ia berkata “tak seenak masakan ibu!” dengan dinginnya dan lalu berlalu dari acara makan malam mereka.

Kyuhyun diam. Mungkin ia tak mengerti. Namun lain di sisi Leeteuk. Kakak yang nampak dewasa itu hanya mampu tersenyum kecut. Ini dia yang membuatnya hawatir. Berbeda dengan Kyuhyun, sejak awal Kibum nampak tak menyambut kedatangannya dengan cukup baik. Mungkin karena Leeteuk terlalu jauh dari mereka membuat Kibum sedikit menutup dirinya akan keberadaan Leeteuk.

Trek.

Leeteuk menoleh. Dilihatnya Kyuhyun turun dari kursinya sambil mengambil gelas berisi air putih yang mana Leeteuk yakin, itu adalah milik Kibum. “Mau kemana, Kyu?”

Kyuhyun menjawab saat kakinya sudah menapak sempurna di atas lantai. “Dia pergi sebelum minum, hyung. Dia harus minum. Lebih bagus jika aku menyuruhnya menggosok gigi sebelum tidur. Dia jorok!”

Ukiran senyum kegelian nampak di wajah Leeteuk setelah melihat tingkah Kyuhyun. Kyuhyunnya yang teramat polos.

“Ya! Sebenarnya apa yang kau lakukan padanya, huh?”

Heechul dihantam satu pertanyaan menekan dari Yesung. Padahal baru saja ia membuka pintu menuju ruangan Yesung, namun sahabatnya itu tak menyambutnya dengan baik. Wajah Heechul menampakan ‘aku tak peduli padamu’ dan bibirnya bulai bergerak untuk bertanya, “dimana dia?”, adalah Donghae yang dimaksud.

Yesung berkacak pinggang sambil menghela nafas. Ia gelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tak ingin membuat Heechul dilanda penasaran yang berkepanjangan. Maka dari itu ia segera berjalan ke arah ranjang pasien disana yang tertutup tirainya. Ia sibak tirai itu, dan nampaklah Donghae yang terlelap dibawah lindungan sebuah mantel tebal, sepertinya milik sang dokter.

“Oh! Hae!” Heechul tercekat menatap Donghae yang terlelap dengan helaian basah rambutnya. “Dia kenapa?!” ujarnya panik.

“Tenanglah.. dia hanya tertidur, meski aku tak yakin keadaannya setelah ini. Aku cukup terkejut ketika dia datang dengan tubuh basah kuyup tadi,” jelas Yesung. “Dia menerobos hujan, dan.. kabur darimu, aku benar?”

Heechul sibuk memeriksa kondisi adiknya. Dirabanya kening Donghae yang sedikit terasa hangat. Tak sedikitpun niatnya untuk menjawab tanya Yesung baru saja. Tak ia sadari Yesung tengah menarik dua ujung bibirnnya untuk membentuk senyum haru.

“Kau tahu mengapa dia datang padaku?”

Heechul menggeleng.

“Tadi dia bertanya, apa seseorang yang memakan coklat banyak akan memiliki banyak lubang di giginya?” ucap Yesung, menceritakan pertanyaan si bocah kecil Donghae pada Heechul. “Kujawab ya..” lanjutnya. “Lalu dia bertanya lagi..

“Lalu bagaimana denganku? Aku menyimpan banyak coklat di lemariku. Apa gigiku akan berlubang dan sakit seperti kemarin lagi?”

Heechul menghentikan gerakannya dan menoleh pada Yesung. Ia berikan tatapan tak mengerti pada Yesung, dan memilih diam agar Yesung melanjutkan ceritanya.

“Apa kau pikir seseorang yang menyimpan coklat giginya akan berlubang? Menurutmu?” ucap Yesung pada Heechul yang bungkam kali ini. Heechul mulai mengerti arah pembicaraan tersebut. Lalu dirasanya Yesung yang menepuk pelan pundaknya. “Hey! Mengapa kau bisa semarah itu hanya karena Donghae menyimpan coklatnya, huh?”

“Kau tak mengerti Yesungie..” lirih Heechul putus asa diliputi sebuah rasa bersalah.

Sedang Yesung mengangguk-anggukan kepalanya. “Mungkin aku memang tak mengerti. Dan kupikir Donghae juga tidak akan mengerti. Anak kecil sepertinya harus diberikan pengertian yang masuk akal dan cukup jelas mengingat pengetahuannya yang masih terbatas..”

Heechul bungkam. Ia duduk di ranjang pasien yang dihuni Donghae saat ini. Dilihatnya Yesung yang tengah membereskan barang-barangnya. Sejenak ia lihat Yesung menulis beberapa resep di sebuah kertas kecil. “Aku tak yakin soal ini. Tapi, kuharap ini membantu. Belilah obat ini di apotik nanti. Hanya untuk berjaga-jaga jika saja dia jatuh sakit nanti. Kuperkirakan dia masuk angin..” tutur Yesung dengan senyuman samar di bibirnya.

“Jangan terlalu dipikirkan. Anak seusia Donghae akan dengan mudah melupakan masalahnya. Jangan murung begitu!”

“Bantalmu?”

Heechul melihat Donghae mengangguk kecil sambil memeluk guling kesayangannya. Bocah itu sudah duduk manis di kursi penumpang sementara Heechul sibuk memasukan barang penting yang akan dibawanya ke dalam mobil. Setelah kejadian mendebarkan semalam kepindahan mereka benar-benar terjadi di keesokan paginya.

“Semua barangmu sudah kau bawa kan?” tanya Heechul hanya sekedar untuk meyakinkan.

“Sudah, hyung..”

Heechul tersenyum. Terakhir dia menyerahkan sebuah kotak cukup besar di atas lahunan Donghae. Ia lalu bergegas menutup rapih pintu rumahnya. Mengeceknya beberapa saat sebelum ia kunci rapat pintu tersebut.

Sedang Donghae bingung dibuatnya. Ia mulai melepas gulingnya dan meraih kotak yang diberikan Heechul padanya. Dibukanya kotak tersebut, dan lalu matanya membulat seketika. Ada pancaran bahagia begitu dilihatnya setumpuk coklat disana. Dilihatnya satu persatu dengan dada yang tak hentinya turun dan naik karena nafas keterkejutannya tiada henti ia hembuskan.

Sangat yakin! Donghae sangat yakin itu memang coklat miliknya. Tulisan tangan berupa nomor pada tiap bungkusan coklat tersebut ia hafal itu adalah tulisan tangannya sendiri. Maka segera ia tutup kembali kotak tersebut dan lalu ia dekap dengan ekspresi sedikit berlebihan. Dilihatnya Heechul yang telah selesai dengan urusannya dan ia tersenyum senang.

“Kenapa Hae?” tanya Heechul yang melihat Donghae dari sudut matanya. Ia telah di duduk di kursi kemudi. Sebetulnya ia tahu apa yang membuat senyum Donghae kembali terpancar indah. Namun ia memilih untuk berpura-pura saja. Berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak peka.

“Tidak apa-apa,” balas Donghae dengan pelan. Bocah itu memasang seat beltnya ketika mesin mobil menyala. Wajahnya yang sempat murung benar-benar berubah seutuhnya. Bahkan.. “MARI BERANGKAT!” pekiknya kemudian membuat Heechul terkejut.

“Pelankan suaramu, Hae! Kau membuat telinga hyung sakit!!”

Ada begitu banyak harapan saat mereka menyongsong tempat baru yang akan menjadi pelingdung mereka dari panas dan hujan kelak. Bukan hal mudah bagi keduanya untuk meninggalkan rumah yang sudah penuh akan kenangan itu. Namun semua harus berjalan, bukan? Mereka harus menempuhnya.

Maka Donghae memejamkan erat matanya sambil mengatupkan kesepuluh jari mungilnya. “Semoga rumah baru itu menyenangkan. Semoga Daegu adalah kota yang bersahabat, berikut teman-teman yang akan menjadi temanku nanti. Semoga Leeteuk hyung ada dan kami bisa bertemu, dan..” bibir mungil Donghae berhenti. Satu matanya ia buka sedikit dan melirik Heechul yang tengah tersenyum, mungkin karena mendengar do’anya.

Donghae yakin senyuman sang hyung tak akan berlangsung lama. Karena do’a terakhirnya adalah, “semoga hyungku tidak galak lagi!”

Heechul berdehem kecil. “Hyung mana yang kau maksud, Donghae? Aku? Bukan kan?!”

Bertahun-tahun telah berlalu..

Burung-burung beterbangan dengan bebas di langit sana. Langit biru yang begitu cerah memancarkan indahnya. Berhias awan-awan putih yang bagai tak bernoda. Biru yang begitu cerah, membuat Kyuhyun tak bosan menengadahkan wajahnya ke atas agar ia mampu menghirup udara sejuk pagi itu lebih leluasa.

Perlahan Kyuhyun memejamkan kedua matanya yang indah. Ia rentangkan kedua tangannya ke samping tubuhnya. Di angkatnya tangan itu agar bisa menyentuh hembusan udara pagi. Namun..

“Pegangan atau kau akan jatuh, Kyuhyun!”

Dengan seketika Kyuhyun merubah wajah damainya menjadi sekusut mungkin. Wajahnya tertekuk. Secepat kilat ia pukul sebuah punggung di hadapannya. “Kau merusak suasana, Kibum!” cetusnya pada Kibum sang pemilik punggung tersebut. Pada Kibum yang sedang sibuk mengayuh sepedah yang tengah mengantar mereka menuju sekolah.

Di depan sana nampak wajah Kibum yang tertampar kerasnya angin karena ia mengayuh sepedahnya dengan agak cepat. Angin-angin itu bahkan sedikit merusak tatanan rambut Kibum meski tetap saja tak mengurangi kadar tampan di wajah tersebut. Ia sibuk mengayuh dan membiarkan Kyuhyun mengomel-ngomel di belakangnya.

“Bisakah kau bicara lebih lembut agar aku nyaman saat bersamamu?” omel Kyuhyun. Ia berbicara agak kencang karena suara mobil dan kendaraan lain disekitarnya begitu bising. “Aku heran, kenapa kau begitu dingin pada saudaramu sendiri, menyebalkan!” rutuknya. Ia begitu sebal dan terus merutuk meski pada akhirnya kedua tangannya berpegangan pada Kibum. “Awas kau!” rutuknya pelan, dan Kibum? Tersenyum..

Jangan salah! Inilah yang terjadi meski bertahun-tahun mereka lewati. Semua masih tetap sama. Mereka yang bepergian kemanapun berdua, dan harus berdua, terkecuali jika Kibum mempunyai acaranya sendiri. Kyuhyun yang hanya menghabiskan waktunya di rumah dan sekolah saja. Meski begitu, Kibum harus tetap ada disaat Kyuhyun pergi dan pulang sekolah.

Keduanya tiba pada sebuah gerbang sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Bahkan sepedah itu turut berbaur dengan sepedah lain di tempat parkiran.

“Jangan lupa hubungi aku jika jam pelajaranmu selesai, Kyu. Jangan mencoba-coba pulang sendiri. Jangan coba-coba meninggalkanku atau kucekik kau dirumah nanti!”

Kyuhyun mencibir dan menatap sinis ke arah Kibum. “Aku sudah hafal kalimatmu itu! Tidakkah kau merasa bosan karena membahasnya setiap pagi? Memperingatiku seperti itu? Kita ini sudah besar, kenapa kau berlebihan mencemaskanku, huh?”

Kibum menatap Kyuhyun dingin. “Hanya turuti saja kata-kataku, tidak sulitkan?”

Satu tangan Kyuhyun gunakan dan ia kibaskan tepat di wajah Kibum. “Iya bawel! Memangnya kapan aku membantahmu? Aku tak ingin mati saat tiba di rumah nanti, dasar!”

Kibum mengunci sepedahnya. Ia lalu mengeluarkan beberapa buku dari tasnya dan memberikannya pada Kyuhyun. Tak lupa ia serahkan sekotak bekal makanan pada Kyuhyun dan juga sebuah botol kecil berisikan pil pil yang adalah obat rutin milik Kyuhyun.

Kyuhyun meraih apa yang diberikan Kibum untuknya. “Aku heran bahkan kau tak mengijinkanku membawa bukuku sendiri!” oceh Kyuhyun.

“Berhenti bicara!” sentak Kibum. “Tunggu aku di atap sekolah, ya? Jangan jalan-jalan sendirian di sekitar sekolah!”

Kyuhyun tersenyum. Ia biarkan Kibum berjalan lebih awal beberapa langkah dari dirinya. Ia menatap punggung Kibum yang begitu kokoh. Tak ada raut cemas, karena ada keyakinan yang begitu kuat di wajah Kyuhyun, bahwa Kibum tak mungkin meninggalkan dirinya barang sedikitpun. Sejenak Kyuhyun mempererat pegangannya pada kotak bekal di tangannya. Kotak bekal buatan Leeteuk yang akan mereka- dirinya dan juga Kibum habiskan di atap nanti.

Satu helaan nafas membuktikan, “aku merasa sempurna”. Bagi Kyuhyun, tidak ada yang sesempurna dirinya, karena didampingi oleh kedua saudara yang begitu menyayanginya. Meski..

Srett..

Kyuhyun tersenyum lirih saat ia harus merapatkan jaket di tubuhnya. Jaket yang membuat dirinya berbeda dari siswa lain. Karena jaket itu tak pernah lepas dari tubuhnya dan tak pernah mengijinkannya hanya mengenakan kemeja tipis saja. Kadang Kyuhyun merasa menjadi orang terlemah di dunia.

“Kenapa melamun? Kau tidak ingin masuk kelas?”

“Hn?” Kyuhyun terbangun dari lamunannya. “Iya, iya aku dibelakangmu..” ucapnya mulai mengekori Kibum.

Di tengah terik matahari Kyuhyun melihat seseorang yang nampak kebingungan. Bagaimana tidak bingung? Orang itu nampak terus saja menundukan wajahnya. Atau mungkin ia sedang mencari barangnya yang hilang hingga tak menyadari jalannya dengan benar. Lalu..

Buk..

“Agh!” orang itu menjerit saat ia menubruk sebuah kotak surat tanpa disengaja. Kotak surat itu memang tergantung di dinding merah milik gerbang sebuah rumah yang hendak dilewatinya.

Sontak Kyuhyun menutup mulutnya untuk meredam tawanya. Ia terkikik geli meski kakinya melangkah untuk menghampiri sosok tersebut. “Kau baik-baik saja?” tanya Kyuhyun setelah mampu menahan tawanya.

Anak laki-laki yang tingginya tak lebih tinggi dari Kyuhyun itu melirik ke arah Kyuhyun sambil masih menggosok-gosok pelipisnya dengan cepat. “Ah! Kau melihatnya? Aish.. memalukan sekali!” rutuk anak tersebut.

“Kenapa kau tidak hati-hati sih?! Lihat ke depan jika sedang berjalan. Kotak surat ini tentulah tidak bersalah,” ucap Kyuhyun. “Kau sedang mencari sesuatu ya?” tanya Kyuhyun. Sempat ia melihat ke arah nama yang tertera pada seragam anak tersebut. “Donghae?”

Sosok itu mengangkat wajahnya dan mengikuti arah pandang Kyuhyun, nama di dadanya sendiri. “Oh iya, namaku Donghae..” jawab Donghae, lalu tersenyum ramah. “Sebenarnya tadi aku mencari uangku. Uangku hi..”

“OMO! Pelipismu memar!”

Donghae tertegun. Pelipisnya itu memang terasa sakit sekali, namun ia belum melihat keadaannya lebih jelas. “Benarkah? Parahkah? Apa darahnya banyak?” tuturnya. Ia tekan lukanya dengan telapak tangannya lalu melihat, apa jejak darahnya banyak.

Kyuhyun terbengong melihat reaksi Donghae. Nampak berlebihan membuat sosok Donghae nampak manja di matanya. Kyuhyun tersenyum simpul. “Darahnya tidak banyak, tapi memarnya cukup mengerikan. Kurasa itu sangat sakit,” ucap Kyuhyun. Ia mengira-ngira dan lalu dapat membuat Donghae mengangguk kecil.

Mengingat terik matahari yang kian menyengat, juga karena jaket di tubuhnya yang melekat membuatnya tersiksa, Kyuhyun mengajak Donghae untuk terduduk di kursi di sebuah taman kecil. Ah sepertinya bukan taman. Hanya sebuah tempat peristirahatan di sepanjang jalan tersebut. Cukup teduh karena kursi tersebut berada tepat di bawah pohon.

Kyuhyun nampak menggaruk kepalanya kebingungan. “Aku tidak membawa apapun untuk mengobati lukamu,” sesalnya sambil melihat pelipis Donghae yang nampak membiru di sekitar lukanya. Kyuhyun meringis kecil melihatnya.

“Tidak apa-apa, aku tidak akan mati hanya karena luka kecil..”

Kening Kyuhyun mengerut. “Tapi kau seperti akan menangis saat mengucapkannya, tahu!” cibirnya dan membuat Donghae mengerling tak enak padanya. “Katakan saja jika itu sakit, jangan ditahan,” goda Kyuhyun.

“Sakit! Ini memang sakit, tapi aku baik-baik saja!” dengus Donghae.

Tertawa adalah reaksi Kyuhyun selanjutnya. “Maafkan aku, aku hanya bercanda, tak usah marah,” ungkapnya tulus. Ia berikan selembar sapu tangan berwarna berwarna hijau lembut pada Donghae. “Apa rumahmu masih jauh, Donghae?” tanya Kyuhyun dengan mata yang mengitari sekelilingnya. Ada mini market disana di arah kirinya di seberang jalan.

“Ugh,” Donghae nampak meringis saat permukaan sapu tangan yang kasar itu menyentuh lukanya. “Memangnya kenapa? Rumahku masih sangat jauh. Harus dengan bis dan itulah kenapa aku belum pulang. Uangku hilang dan tidak ada ongkos pulang..”

Kyuhyun nampak berfikir. “Jika begitu kau tunggu aku ya, aku akan membeli air dulu agar kau bisa membasuh lukamu itu,” ucap Kyuhyun. Ia lalu meninggalkan Donghae menuju mini market di seberang jalan sana, sedang Donghae hanya mengamatinya sambil bergumam, “biar kutanyakan namanya nanti saja..”

“Kyuhyun dimana? Kau melihatnya?”

Kibum mencari Kyuhyun di seisi sekolah. Ini adalah untuk pertama kalinya Kyuhyun hilang dari pengawasannya. Biasanya Kyuhyun akan menunggunya di tempat parkiran sekolah mereka. Namun sekarang Kyuhyun tidak ada bahkan Kibum telah menunggu satu jam lebih, sementara para siswa lainnya telah meninggalkan gedung sekolah.

“Aish! Awas kau Kyu jika kutemukan nanti!” ucapnya dengan geram tertahan. Sebenarnya bukan terlihat marah, namun wajahnya lebih menunjukkan wajah yang begitu hawatir. Segera ia raih sepedahnya dan pergi, mungkin untuk mencari Kyuhyun. Ia ingat janjinya pada Leeteuk sewaktu sekolah dasar dulu..

“Aku tidak akan pulang jika tanpa Kyuhyun! Aku tak akan meninggalkannya!”

“Jadi namamu Kyuhyun, ya?”

Keduanya kini tengah berjalan di sisi jalanan. Hari mulai teduh karena sudah beranjak sore. Mereka beriringan dengan masing-masing tangan yang menggenggam botol berisikan air mineral yang masing-masing hanya tinggal separuhnya saja. “Terima kasih untuk air minumnya, ya?” tutur Donghae sambil mengangkat botol miliknya.

“Hm,” balas Kyuhyun singkat.

“Dan juga..” ucap Donghae sambil menujuk plester di keningnya. “Terima kasih untuk ini..” lanjutnya.

“Santai saja, hyung..” jawab Kyuhyun dengan nada yang cukup ringan. “Umh, maaf karena aku tak sopan tadi. Aku tidak tahu kau lebih tua satu tahun dariku..”

Donghae tersenyum lembut. “Tidak apa-apa. Panggil namaku saja agar kita terlihat lebih akrab. Ungh, kita teman kan mulai sekarang?” tanyanya, lebih terdengar seperti sebuah penekanan, dan Kyuhyun mengangguk cepat. “Kita akan bertemu lagi kan meski kita tidak satu sekolah?”

Nampaknya Kyuhyun harus berfikir mengenai hal tersebut. Sepertinya Donghae akan lebih sering mengajaknya bermain. Namun ia ingat pada saudaranya, Kibum. Juga kondisi tubuhnya sendiri. Nampaknya kedua hal ini akan mempersulit pertemanannya. “Itu.. aku..”

“Kenapa?”

Kyuhyun nampak tersenyum kaku. “Sebenarnya..”

“Disini kau rupanya?!”

Baik Donghae maupun Kyuhyun terkejut setelah mendengar suara baru yang baru saja bergabung di antara keduanya. Berbeda dengan Donghae yang memasang wajah heran, Kyuhyun nampak tersenyum sedikit takut. “Kibumie..” lirihnya.

“Oh, kau mengenalnya? Dia temanmu? Apa dia sedang mencarimu?” tanya Donghae bertubi-tubi. Sesekali ia melirik ke arah Kibum yang berdiri tak jauh dari mereka dengan wajah dinginnya.

“Umh, dia saudaraku hyung. Sepertinya dia mencariku. Aku harus pulang..”

Suasana mendadak terasa canggung karena wajah Kyuhyun tak berseri seperti tadi. Kedatangan Kibum tampak sedikit menekannya, terlebih tatapan Kibum lebih dingin dari biasanya. Kyuhyun cemas bila saja Kibum marah saat itu juga. Jangan salah! Bukan sekali dua kali Kibum memarahinya jika ia bertingkah nakal.

Tak ada yang menyadari tatapan Kibum semakin mencekam pada Donghae. Tepatnya pada seragam yang Donghae kenakan saat ini. Seragam yang berbeda warna dengan miliknya. Motif kota-kotak biru tua di kedua bahu Donghae membuat Kibum semakin memancarkan ketidaksukaannya.

Kyuhyun melangkah takut-takut menghampiri Kibum. “Aku pulang dulu ya hyung. Semoga besok kita bisa bert-“

“Besok tidak akan kubiarkan kau berkeliaran lagi!” potong Kibum.

Donghae mengernyit, nampak risih dengan tingkah dingin Kibum. Ia menatap Kyuhyun dan berharap Kyuhyun dapat menjawab pertanyaannya. Namun sia-sia. Donghae melihat wajah Kyuhyun tertunduk takut. Maka Donghae tak ingin lagi memaksa. Ia biarkan Kyuhyun pulang bersama saudaranya, dan ia antar dengan senyuman dan juga lambaian tangannya.

Disaat Kyuhyun dan Kibum mulai menjauh, dan Donghae masih berdiri di tempatnya. Saat itulah Donghae melihat Kyuhyun berbalik ke arahnya dan memberinya sebuah cenggiran nakal. Ah! Donghae tersenyum lebar. Ia angkat tangannya, ia jentikan jari kelingking dan juga ibu jarinya dan lalu ia dekatkan ke wajahnya. Ia gerakan tangannya itu menandakan sebuah kata, ‘nanti kuhubungi..’

Karena Kibum tak tahu, baru saja Donghae meminjam ponsel Kyuhyun untuk menghubungi sang hyung. Tidak salah lagi, seorang Heechul akhirnya datang tepat disaat dua saudara kembar tadi menghilang di tikungan jalan. Donghae tersenyum meski disambut oleh jitakan kecil dari sang hyung..

“Kau ini! Bagaimana bisa uangmu hilang, huh? Membuatku cemas saja!”

Kibum melempar tasnya ke sembarang arah. Ia benar-benar terlihat marah. “Sudah kubilang jangan berkeliaran, kan? Kenapa kau tidak menurutiku, huh?” sentak Kibum.

Kyuhyun memeletkan lidahnya pada Kibum. Meski terkesan takut, namun Kyuhyun tak selemah yang dibayangkan. Ia tetaplah sesosok remaja usil yang mempunyai sisi egoisnya. “Aku bosan kau terus mengawasiku, Kibumie! Lagipula kulihat tadi kau pergi degan teman-temanmu itu! Jadi aku pulang sendiri dan tak sengaja bertemu dengan..”

“Jangan lagi bertemu dengannya!”

Kyuhyun nampak geram. “Kenapa kau suka sekali memotong ucapanku, sih!” kesalnya. “Lagipula apa ada yang salah dengannya, huh? Dia bahkan sangat baik dan ramah! Tidak sepertimu!”

Sepatu yang melekat di kakinya, Kibum lempar begitu saja dengan sedikit kasar ke sembarang arah. Dengen tergesa-gesa Kibum membuka kedua kaus kakinya dan lalu mulai menapaki lantai kediaman mereka. “Lihat saja! Kupastikan kau tidak akan bertemu dengannya esok hari dan seterusnya. Atau kau tak usah sekolah lagi saja!”

Kyuhyun berdecih sambil meledek Kibum. “Coba saja, maka hyung akan memarahimu, Kibumie..”

“Aku tidak takut padanya!”

Wajah Kyuhyun berubah. Jika harus dikatakan sejujurnya, ini adalah marah Kibum yang nampak sangat serius dari biasanya. Kyuhyun merasa benar-benar cemas akan tingkah Kibum dan bertanya-tanya, ada apa dengan Donghae?

Baru saja Heechul menyadari ada yang salah dengan dongsaengnya itu. “Kau kenapa? Kenapa dengan kepalamu, Hae? Kau berkelahi, eoh?”

Donghae menyadari pertanyaan Heechul dan merasa teringat akan lukanya. Ia raba lukanya yang berada dalam lindungan plester itu. “Oh! Bukan! Ini terbentur tadi. Tak sengaja aku membentur sebuah kotak surat, apa itu lucu? Silahkan jika hyung ingin tertawa..”

Benar saja Heechul nampak terkikik geli meski dalam durasi waktu yang singkat. “Tidakkah kita ke rumah sakit, Hae? Barang kali ada yang salah dengan kepalamu, hm?” canda Heechul.

“Kau ini hyung,” dengus Donghae. “Jika Leeteuk hyung, dia akan berteriak panik dan segera mengobati ini, tahu!” omel Donghae setelahnya.

Heechul tersenyum samar. Masih. Hingga detik ini Donghae masih menggingat Leeteuk hyungnya. Hingga hari ini Donghae masih berharap dapat menemukan Leeteuk hyungnya. Namun tidak ada sedikitpun rasa sedih bagi Heechul. Ia sudah terbiasa. Lagipua, ia sadar bahwa dirinya dan Leeteuk memiliki perbedaan masing-masing, dan ini bukanlah hal yang harus membuatnya terpuruk. Toh Donghae juga baik-baik saja dengan semua yang ada.

Di tengah malam Kyuhyun terbangun karena batuk yang begitu mengganggunya. Sebenarnya dadanya sudah terasa nyeri bahkan sejak makan malam tadi. Sebisa mungkin ia menahan sakitnya, namun pada akhirnya ia kalah oleh rasa sakitnya dan mencoba menggapai Kibum di tempat tidur lainnya di kamar tersebut.

Sulit. Bahkan Kyuhyun sulit untuk bangun dan semakin kesulitan bernafas. Keringat dingin mulai bercucuran. Nafasnya mulai terasa berat, dan untunglah tiba-tiba lampu kamarnya menyala diikuti suara Leeteuk. “Astaga, Kyu? Kau baik-baik saja?”

Leeteuk datang tergesa-gesa dan menghampiri Kyuhyun. Dilihatnya Kibum terlelap di ranjang lain dan Leeteuk tak berniat mengganggu tidur nyaman adiknya itu. Ia bertindak seorang diri.

“Kau ingin obatmu?”

Kyuhyun nampak menggeleng. Meski tahu seberapa parah asmanya, namun sebisa mungkin Kyuhyun tidak menggantungkan dirinya pada obat-obatan tersebut.

“Jika begitu bangunlah,” tutur Leeteuk. Ia angkat tubuh Kyuhyun dan menyandarkan punggung Kyuhyun di dadanya. “Kau bisa, Kyu. Bernafas pelan-pelan, oke?” titah Leeteuk. Ia usap basah keringat di wajah dan rambut Kyuhyun. Lalu ia usap-usap dada Kyuhyun dan memberikan arahan pada Kyuhyun agar bernafas bersamanya dengan baik.

“Pelan-pelan saja, Kyu. Bernafas pelan-pelan. Tarik nafasmu dan buang perlahan..”

“Hnhh..”

“Bisa. Kau mampu melawannya..”

Butuh berpuluh menit bagi Leeteuk untuk menaklukan rasa sakit yang di derita Kyuhyun, itupun karena Kyuhyun jatuh tertidur. Segurat lelah tercetak di wajah pucat itu. Leeteuk nampak mengiba dan tak berniat membaringkan Kyuhyun di tempat tidurnya.

Leeteuk turut berbaring, menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang sementara Kyuhyun mendapatkan posisi nyaman di dadanya, dalam dekapannya. Leeteuk rapatkan selimut yang akhirnya dipakai juga olehnya. Ia pejamkan matanya dengan tangan yang tak hentinya mengelus kepala sang dongsaeng. Ia berharap Kyuhyun akan tidur nyaman hingga esok.

“Kau menelfon siapa, Hae? Sejak tadi hanya mondar-mandir tak jelas. Berikan ponselnya pada hyung..”

Donghae menggigit bibirnya. Yang ia pegang memang ponsel milik Heechul. Ia terlalu malas untuk memindahkan nomor Kyuhyun ke ponselnya sendiri. “Aku menghubungi temanku, hyung. Tapi ia tak mengangkat panggilanku sejak tadi!”

Heechul telah siap dengan pakaian kerjanya. “Nanti saja, Hae. Ini sudah siang, kau ingin terlambat ke sekolah?”

“Aku simpan di ponselku saja,” putus Donghae. “Aku akan mengembalikan sapu tangan miliknya, hyung..”

Donghae mengekor Heechul dengan dua ponsel di tangannya. Ia terus saja berjalan dengan wajah tertunduk dan akan membuat luka di pelipisnya bertambah parah jika saja tidak ada telapak tangan Heechul yang menahannya menuju kerasnya pintu. Donghae terkejut dan lalu mendongakan wajahnya. Ia ukir senyumnya seketika.

“Ceroboh!” komentar Heechul sambil mencolek luka di pelipis Donghae.

“AGH! Kenapa kau menyentuhnya, hyung? Appooo!!!” pekik Donghae.

“Lihat jalanmu, Hae. Kau akan banyak terluka jika terus ceroboh seperti itu!”

Kibum baru saja memeriksa kondisi Kyuhyun yang kabarnya tumbang semalam. Ia mengomeli Kyuhyun, karena tahu penyebab kambuhnya sakit Kyuhyun. “Kubilang jangan pergi tanpaku, kan?” ucapnya.

Kyuhyun terseyum lemah. Ia tahu dibalik semua sifat dingin Kibum, saudaranya itu teramat menyayanginya. “Mianhae, Kibumie..” lirihnya dengan suara parau. Ia meringkuk di balik selimut dan nampak tak mampu menggerakan tubuhnya lebih lama. “Jangan merindukanku, ya..” candanya.

“Bodoh!” Kibum mendengus sebal. “Kau ingin apa? Akan kubelikan saat pulang nanti..”

Benar kan? Kibum menyayangi saudara kembarnya itu. Tak mereka sadari Leeteuk mengamati di ambang pintu dengan wajahnya yang berseri.

Di siang itu Donghae berjalan gelisah. Ada sapu tangan milik Kyuhyun di tangannya. Ia sengaja menghampiri Kyuhyun di sekolah Kyuhyun. Ia berdiri tepat di ambang gerbang sekolah tersebut. Namun saat para siswa berhamburan keluar, ada beberapa pasang mata yang mengamatinya. Memandangnya tajam seperti ingin memakan Donghae.

Donghae terlihat risih ditatap sedemikian rupa. Ia coba untuk mengabaikan semuanya. Tujuannya hanya mencari kawan barunya, Kyuhyun. Namun semakin lama diperhatikan, mereka yang mengamatinya semakin banyak. Donghae bergumam pelan pada akhirnya.

“Apa siswa disini selalu berwajah seperti itu?” umpatnya dengan posisi berdiri yang mulai tak nyaman. Namun ia tidak berniat pergi selama belum menemukan Kyuhyun. Donghae teringat akan wajah dingin saudara Kyuhyun kemarin.

Berjam sudah, dan Donghae mulai kelelahan menunggu Kyuhyun. Kyuhyun tak juga muncul, sedang anak itu tak juga menjawab panggilan Donghae di ponsel. “Mungkin besok?” ucap Donghae dengan lesu. Ia simpan sapu tangan milik Kyuhyun ke dalam tasnya dan mulai melangkah pergi.

Satu..

Dua langkah dan berikutnya..

Donghae mengernyit menyadari ada yang membuntuti langkahnya. Dengan sedikit takut ia melirik ke arah belakangnya. Alangkah terkejutnya dirinya saat mendapati sekelompok anak berseragam sekolah sama dengan Kyuhyun telah berada berkumpul di belakangnya.

“Omo..” desah Donghae ketakutan. Ia mencoba untuk mengabaikan segalanya dan berjalan lebih cepat, sementara mereka yang di bekalangnyapun sama. Mengikutinya, Donghae sangat yakin.

Seolah mendukung segalanya, jalanan begitu sepi padahal hari masih sangat terang. Telah banyak keringat yang bercucuran di wajah dan tubuh Donghae. Ia sudah setengah berlari namun di belakangnya masih nampak mereka yang mengejarnya. Donghae terlihat linglung dan ketakutan, sementara ia tak tahu kesalahan apa yang telah dibuatnya.

“Tuhan selamatkan aku!” pekiknya dalam hati.

Ugh..

Donghae nampak kacau. Ada banyak bekas luka di wajahnya. Rambut dan seragamnya berantakan begitu pula dengan sudut bibir yang sedikit sobek dan berdarah. Parahnya, ia menangis di sudut stasiun yang sepi, tempatnya bersembunyi baru saja dari kejaran kawanan siswa yang sesungguhnya tak ia kenali. Yang sudah berhasil melukainya pula, dan Donghae merasa buruk.

Terutama saat ia keluar dari persembunyiannya. Ada banyak pasang mata yang melihatnya sambil mengiba, namun keadaan Donghae tidaklah separah seperti orang yang sekarat meski ia berjalan tertatih. Ia berjalan keluar dari stasiun dan hendak memanggil taksi. Saat itulah ia melihatnya..

“Hey!”

Sosok itu melihat Donghae sedikit terkejut. “Kau?!”

Dengan tergesa-gesa Donghae Menghampiri sosok tersebut. “Aku ingin menanyakan Kyuhyun padamu. Apa Kyuhyun tidak masuk sekolah hari ini? Aku mencarinya seharian ini..”

“Bukan urusanmu!”

Tentu saja Donghae tidak puas dengan jawaban super singkat itu. Ia mengesampingkan rasa sakitnya dan mengekori anak yang ia pikir adalah saudara Kyuhyun itu. “Kenapa begitu? Aku tidak berniat buruk, sungguh.. aku..”

Grep..

Donghae tercekat saat tangan sosok itu mencengkram erat kerah kemejanya yang telah rusak dan kotor. Matanya menatap tak percaya pada Kibum. “Kenapa kalian semua membenciku, eoh?!” tanya Donghae. Ia begitu tak mengerti dengan kejadian hari ini yang menimpanya. Malasahnya, ia diserang tanpa alasan yang cukup jelas.

“Aku, aku hanya ingin me..”

“Jangan ganggu Kyuhyun lagi, oke? Aku masih menghargaimu sebagai seorang yang mengenal saudaraku!”

Kalimat yang cukup singkat terbalut nada yang dingin, meski Donghae tak mampu mendengarnya dengan utuh. Ia sibuk menahan nafasnya karena mulai kesulitan bernafas. Ia sudah tersedak air liurnya sendiri saat di dengarnya suara Heechul, sang hyung yang membahana memenuhi pendengarannya. Dan Donghae bernafas lega..

“Apa yang kau lakukan pada adikku, bocah?!”

Heechul murka mendapati keadaan Donghae yang babak belur, terlebih ia menemui Donghae dengan leher tercekik. Bagaimana bisa ia bersabar? “Ya!” teriaknya sambil menyingkirkan tangan Kibum dari tubuh Donghae, dan dengan cepat diraihnya tubuh Donghae.

“Hae? Kau tidak apa-apa?”

Donghae hanya menggeleng samar dan mulai memegangi lengan Heechul. Dan ia berbisik, “hyung jangan marah. Dia..”

“Diam, Hae!” peringat Heechul, lalu memandang senggit pada Kibum, yang bahkan sama bocahnya seperti Donghae. Namun melihat perbuatan yang dilakukannya membuat Heechul merasa semua telah melewati batas kejawaran. “Oh, nak! Maafkan aku karena aku harus membawamu ke kantor polisi!” ancamnya.

“Apa?!” pekik Donghae.

Hyung aku tidak apa-apa sungguh. Ini tidak perlu..” ucap Donghae dengan resah. Ia terduduk gelisah di sebuah kursi yang membuatnya menghadap pada Kibum yang tengah ditanyai banyak hal oleh seorang polisi.

“Ssst! Kau diam saja, Hae,” tukas Heechul. Ia telah melaporkan Kibum pada polisi dan mereka masih di kantor polisi, menunggu wali Kibum yang akan datang. “Kau pikir bagaimana perasaanku saat melihatmu dicekik olehnya bahkan tubuhmu telah babak belur begini..”

Donghae menggeram kesal dalam hatinya. Ia kesal pada Kibum yang hanya diam saja dan menerima semua tuduhan yang Heechul berikan untuknya. Dikala ia memperhatikan Kibum yang tengah ditanya ini dan itu, disaat itu pula Heechul mengobati luka-lukanya, dan rasa perih mengalahkan segalanya.

“Kita ke rumah sakit, ya?”

“Ish aku tidak mau! Ini hanya luka kecil..”

“Tsk.. bukankah kau selalu senang jika Leeteuk hyung memperlakukanmu dengan sedikit berlebihan?”

Donghae bungkam. Entah mengapa kali ini semua menjadi sangat serius baginya. Tubuhnya memang sakit, dan ia memang ketakutan tadi. Seharusnya ia memang mengeluh kan? Maka ia segera mencengkram kuat helaian kain pakaian Heechul. “Aku ingin pulang..” isaknya, dan lalu Heechul memeluknya.

Setelah itu seorang polisi datang menghampiri mereka. “Kami sudah menyelidiki kasus ini. Orang tuanya akan segera datang. Tunggulah sebentar lagi..”

Heechul mengangguk. “Kau dengar, Hae?” ucap Heechul. “Pak polisi bilang sebentar lagi, ne? Hyung harus menyelesaikan kejadian ini agar tak terulang di lain hari. Ini demi kebaikanmu..”

Donghae hanya mengangguk lemah. Ia merapatkan tubuhnya pada Heechul disaat merasakan tatapan dingin anak itu lagi padanya. Ia merenggut sebal sekaligus takut. Tak berapa lama setelah itu, seseorang datang dan mengaku sebagai wali Kibum. Seharusnya, yang datang adalah..

“Eh?”

TBC

Nah lho? D8 Maapin karena telatnya bukan main ya? Hhee. Ada yang masih nunggu kah? Semoga kesannya terhadap bacaan satu ini tidak berkurang ya.🙂

Siapa aja kemarin? Saya sebutkan saja disini ya??😀

Selli Aprilia – rini11888 – re – yetha – kurnia kim – ekha sparkyu – arumelfishy – Tsafa Fishy – keyjedottaembok – Elfishyhae – Isty loyalty – Amylatul_R – TeukHaeKyu – dhiiniequeen – ikm dewhae – Vhae_Vie – ADS – Awaelfkyu13 – nia na yesung – Rahmawati_16 – ida elfishy – yolyol – Sutiia Ningsih – dydy – lifelocked – donghaeelfishynemo – TeukieHae – dewi – rosya – KimKeyNa – Linda_ky2389 – cece – Diyah Jung – leesooyoungelf – Gihae Lee – auhaehae – priscilialaurengyu – kang yong ra

Siapa lagi ya? Yang sempet komen di FB?? Hhe. Nanti acungkan saja tangannya ya jika mau saya panggil. HaaHhaaaaa~ Terima kasih semuanya. Untuk komentarnya. ^^

51 thoughts on “-NOTHING BETTER [4]-

    hyunchiki said:
    September 13, 2014 pukul 3:36 pm

    bummie protektif bnget ma kyu, mau kmna hrus breng, tapi kok so sweet gtu yah? kliatan bum syang bnget ma kyu..
    trus knpa tuh bum kyk gak mau kyu dket ma hae? pa sklhnya pda musuhan? hae mpe bbak belur jga, tpi kibum yg dituduh ngehjar hae..
    yg dtang jdi wali bum, leeteuk kah? jgan2…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s