-NOTHING BETTER [7]-

Posted on

Cerita terus berputar dan bergerak untuk menemukan titik-titik arti yang tak mampu untuk ditebak dari setiap detik yang akan datang.. Ada apa? Kenapa?

..satu detik ke depan adalah sebuah rahasia..

[CHAPTER 7]

Bergegas Heechul melindungi piyama yang tengah dipakainya dengan jaket abu yang cukup tebal, yang dengan mudah ia raih karena memang jaket itu bersandar pada sandaran sofa di ruang depan. Ia nampak terburu-buru setelah bel di gerbang depan rumahnya berbunyi berulang-ulang, serta terdengar dalam kurun waktu yang berdekatan.

Secepat kilat Heechul memakai sandalnya dan menantang dinginnya malam, serta bergegas membukakan gerbang. “Mana dia, Hyuk?” cecarnya setelah mendapati wajah Eunhyuk saat ia membuka gerbang.

Eunhyuk yang berwajah resah itu segera menoleh ke arah sampingnya. Maka setelah tersadar, Heechul segera membuka gerbangnya lebih lebar. Nampaklah Siwon, ah bukan! Yang dilihat Heechul adalah Donghae yang berada dalam gendongan Siwon. Dia tidak sadarkan diri! “Demi Tuhan! Ada apa dengannya, Siwon-ah?” raung Heechul kemudian.

Tepat pukul 10 malam dan dokter baru saja memeriksa ulang kondisi Kyuhyun, ditemani Leeteuk dan juga Kibum yang memang tengah menunggui Kyuhyun. Leeteuk memandang lekat ke arah dokter yang menangani Kyuhyun.

“Dia sudah baik-baik saja sekarang, meski harus berada disini selama beberapa hari ke depan. Atau kita tunggu saja perubahan esok hari. Jangan terlalu cemas, dan kalian bisa beristirahat di rumah..”

Leeteuk menggeleng pelan. “Aku tak bisa meninggalkannya,” tuturnya disambut anggukan dari Kibum.

“Tapi rumah sakit bisa menjamin atas keselamatannya, percayalah..”

Alasan sang dokter tak cukup kuat untuk membuat Leeteuk dan Kibum beranjak meninggalkan Kyuhyun. Dilihatnya Leeteuk yang melipat jaket dan menghampiri sofa kecil di sudut lain ruangan tersebut, lalu ia merebahkan tubuhnya disana. Kibum sama saja. Anak itu menarik kursi serta duduk di sisi kiri ranjang Kyuhyun.

Terlampau dingin, itulah Kibum. Tanpa santun ia lalu bertanya, “apa masih ada urusan lain?” pada sang dokter yang lalu menggeleng pelan sambil tersenyum.

“Baiklah. Kalian boleh menungguinya disini, tapi usahakan untuk tidak mengganggunya. Aku tinggal..”

“Ah, iya terima kasih, dokter!” seru Leeteuk.

Kibum tak bergeming. Ia bernafas sedalam-dalamnya berulang kali lalu membenamkan wajahnya di lengan Kyuhun. “Bocah nakal! Awas jika kau bangun nanti!” desisnya, terdengar mendengung karena suaranya sendiri terbungkam oleh lengan Kyuhyun.

Ada Leeteuk yang lalu mengulum senyumnya. Di matanya saat ini, Kibum nampaklah sangat manis. Ucapan Kibum baru saja dapat ia tangkap dengan baik. Meski terdengar dalam artian kejam, namun ada nada khawatir disana. Leeteuk dapat merasakannya. Namun ada satu hal yang Leeteuk lewatkan. Kata terakhir Kibum di detik berikutnya.

“Mimpi indah, ne?”

Hyung aku haus, aku ingin minum..”

Heechul mengernyit. Ia belum tidur padahal waktu telah menunjukan pukul 1 dini hari. Dilihatnya Donghae yang tengah terduduk di sisi ranjang sambil mengusap-usap matanya sendiri. Heechul segera menyimpan alat tulisnya. Ia memang tengah berkutat dengan rancangan bangunannya seperti biasa kala itu. Meski itu ia lakukan di meja belajar milik Donghae, karena ingin menunggui Donghae sejak si bungsu pulang dalam keadaan kurang baik tadi.

“Kau bermimpi buruk?” tanya Heechul. “Kenapa bangun? Apa begitu haus?”

Heechul bertanya sambil terduduk di sisi Donghae. Ia mengelus rambut Donghae, untuk lebih menyadarkan Donghae, karena anak itu nampak kembali menutup matanya. “Hae?”

Dengkuran halus terlantun indah dari bibir tipis Donghae. Nyatanya dia tertidur kembali meski dalam posisi duduk. Untung saja ada Heechul yang kemudian membaringkan kembali tubuhnya dengan nyaman. “Jadi kau hanya mengigau, hn?”

Hanya nafas lembut Donghae yang terdengar. Dia benar-benar kembali terlelap dalam tidurnya. Terlalu tenang bahkan, membuat Heechul tersenyum lembut karenanya. “Mimpimu begitu menyenangkan, huh?!” decak Heechul sambil membenahi selimut Donghae.

Lama Heechul memandang Donghae yang tak henti bergerak dalam tidurnya. Kebiasaan tidur Donghae, memanglah Heechul menghafalnya. Kaki yang tak berhenti bergerak menendang selimut hingga menjadi percuma jika mengingat Heechul tadi membenahi letak selimut itu.

Pandangan Heechul kian melembut. Ia kembali terduduk hanya karena jemarinya ingin menggapai lembut kulit di wajah Donghae. “Kau sudah besar rupanya,” ucapnya. Dipandanginya seluruh tubuh Donghae dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Dirabanya jemari di tangan Donghae.

“Oh! Kau tumbuh dengan baik,” bisiknya. Seolah baru pertama kali ia mengamati setiap perkembangan di tubuh sang dongsaeng. Ia seperti terkagum sendiri, karena “aku tak menyangka bisa membuatmu tumbuh hingga sebesar ini. Kau..” dari mata Heechul terpancar rasa kagum.

“Ah! Ini seperti bukan aku!” rutuknya seorang diri sambil tersenyum hambar. Ia mengacak rambutnya sendiri, frustasi. Namun sekali lagi, ia tak ingin menyerah. “Kau, bocah nakal! Kenapa tak berhenti membuatku khawatir, eoh?”

“Apa dia baik-baik saja? Dia hampir tertabrak dan lalu tak sadarkan diri, tolong periksa lebih seksama!”

“Tapi ia hanya ‘hampir’ tertabrak, kan? Bahkan kedua temannya mengatakan truk itu belum sempat mengenai tubuhnya. Aku sudah memeriksanya, dan tidak ada apa-apa. Ia hanya terkejut..”

“Tapi ini truk! MOBIL BESAR, Ya Tuhan!”

“Memangnya kenapa dengan truknya? Selama ia tak mengenai tubuh dongsaengmu semua akan baik-baik saja!”

Heechul membelai pipi Donghae. Ia melihat mata Donghae yang bergerak-gerak meski dalam keadaan terpejam. “Kau benar-benar tidak apa-apa, hm?” tanyanya sambil berbisik kecil. “Jika truk itu menghantam tubuhmu, kupastikan aku akan memukul supirnya! Kubunuh truknya! Kubakar sampai habis!”

Haha..

Heechul kembali terseyum hambar. Ucapannya memang menggelikan untuk di dengar. Seserius itukah? Hm? Tentu ia memiliki maksud dari gurauannya sendiri. Ia bilang, “itu karena hyung begitu menyayangimu. Kau pernah mendengarku mengatakannya langsung?”

Heechul menggenggam erat jemari Donghae. “Sayangnya itu bukan untuk diucapkan, tapi kau harus merasakannya sendiri, ne? Kau pintar bukan?” Heechul lalu mengecup kening Donghae. “Mimpi yang indah..”

Donghae mengernyit tatkala sinar mentari masuk melalui kisi-kisi jendelanya. Begitu terik mengganggu tidurnya. Bahkan ketika ia memakai selimut untuk tamengpun, semua terasa percuma karena ia menjadi kepanasan dibuatnya. Sepertinya hari akan menjadi sangat cerah dan terik. Panas.

“Ugh!” rutuknya sambil menekuk lengan dan menempelkan permukaan dalam lengannya agar menutup kedua matanya. Namun sinar-sinar itu seolah tak mendengar keluhannya dan terus bersinar terang, membuatnya nampak semakin kesal meski lengannya masih tetap dalam posisi sama, menutupi wajahnya.

Hyung!” teriaknya dengan sangat keras.

LeeteukHyung!” teriaknya lagi, namun hanya cicitan urung di luar sana yang dapat Donghae dengar. Sunyi.. Hening..

Donghae membuka kedua matanya lalu bangkit perlahan. Ia menoleh ke kiri dan kanannya. “Oh!” ia memegangi kepalanya dan nampak kusut. “Apa tadi?” tuturnya sambil memegangi dadanya sendiri. Ia baru saja mengalami sebuah deja vu yang mengingatkannya pada Leeteuk.

“Tidak!” ringisnya agak berlebihan. Kakinya perlahan menekuk hingga ia bisa menyembunyikan wajahnya disana. “Apa aku bermimpi? Sudah lama aku tidak memimpikan Leeteuk hyung, kan?!” gumamnya sendiran. “Kemarin wajahnya nyata sekali! Tidak, tidak, tidak!” Donghae berulang kali menggelengkan kepalanya.

Setiap kali memikirkan Leeteuk, Donghae selalu saja bersedih. Ini baru terjadi lagi. Maka Donghae menantang harinya dengan tidak semangat. Ia turun dari ranjangnya dan bergegas lemas menuju luar kamarnya. Keadaan rumahnya sudah sepi. Donghae tahu Heechul sudah pergi bekerja.

Saat Donghae sudah berada di kamar mandi, tepatnya saat ia tengah bercermin sambil menggosok giginya, ada sebuah memo yang Donghae temukan, tertempel di sisi kaca.

“Kau tidak usah sekolah. Hyung masih hawatir karena kejadian kemarin malam. Jika kau bandel dan memaksa sekolah, lalu pulang dengan berita bahwa kau benar-benar ditabrak truk lebih besar, kupukul kau!”

“Hyung pabbo! Masih mau memukul jika aku benar-benar sekarat?! Tsk!” ucap Donghae kesusahan karena mulutnya penuh dengan busa. Sikat gigi masih digenggamnya saat ia membaca pesan tersebut. Tapi tiba-tiba ia teringat.

“Eh? Kemarin malam? Truk?!” gumam Donghe sambil terus mengingat. Keningnya mengerut seketika. Ia berfikir keras hingga “Oh!” pekiknya. Sikat gigi yang digenggamnya terlepas begitu saja. Kedua telapak tangan ia gunakan untuk mengatup wajahnya sendiri. “Jadi aku tidak bermimpi, ya?”

“Leeteuk hyung? Dan Kyuhyun, juga Kibum?”

“Aku memiliki satu hyung. Hyung kami berdua, dan dia adalah hyung kebanggaanku. Dia baik sekali hyung. Kupikir, tak ada hyung sebaik dia di dunia ini..”

“Ya Tuhan.. Ya Tuhan! Jadi Leeteuk hyung itu hyungnya Kyuhyun dan Kibum!” entah mengapa Donghae nampak lebih bersemangat. Ia membasuh mulutnya, bergegas mandi dan menyiapkan dirinya dalam waktu yang cepat.

“Engh! Tanganku kesemutan, Kibumie!”

Sebuah suara yang cukup keras, padahal terdengar serak itu membahana mengagetkan Kibum dalam tidur damainya. “Hm? Kau sudah bangun?” tanya Kibum tak kalah serak. Rambutnya kusut dan matanya sangat merah. Ia mencoba menyadarkan dirinya seutuhnya.

“Iya! Tapi tanganku kesemutan! Kau memegangnya begitu lama!”

“Kau bangun sejak tadi? Kenapa tidak membangunkanku?”

Kyuhyun diam. Bibirnya mengerucut sempurna. “Sejak kapan kau memegangnya, huh? Agh! Auh!” rengek Kyuhyun, merasakan kesemutan ke setiap jemari di tangan yang baru saja terlepas dari genggaman Kibum. Ia mencoba memegang kelima jemarinya, namun jari-jari itu terlalu kaku dan sulit untuk digerakan.

“Sini kupijat saja!”

Sontak Kyuhyun menjerit, karena Kibum menyentuh tangannya yang kesemutan. “JANGAN DISENTUH!” raungnya.

“Kau masih bisa marah? Berarti kau sudah sembuh,” ucap Kibum santai. Ia bergegas bangkit dan menuju kamar mandi yang tersedia di ruang rawat tersebut.

“Kau memang saudara gila yang kejam! Ish aku membencimu!”

Hendak Kyuhyun melempar bantal putihnya jika saja Leeteuk tidak datang. “Selamat pagi. Sudah bangun rupanya, hm?”

Kyuhyun berubah manis di hadapan hyung tertuanya. “Hyung dari mana saja? Kibum membuatku sebal di pagi hari!”

Ada raut wajah terkejut yang Leeteuk buat. “Benarkah? Memangnya apa yang dia lakukan padamu? Dan juga, hyung pikir dia sudah berangkat sekolah,” kiranya sambil melihat jam di tangannya. “Ini sudah jam delapan siang!”

“Oi! Kibumie kau membolos?!” teriak Kyuhyun, ke arah Kibum di kamar mandi. Dapat terdengar riak air, menandakan Kibum tengah beraktifitas disana.

“Apa pedulimu?” balas Kibum dari dalam sana.

Kyuhyun memicingkan matanya kesal. “Hyung lihat? Kesal sekali!” umpat Kyuhyun.

“Ya. Kau memang tak usah pedulikan urusannya. Tapi kau sadar Kyu? Sebetulnya dia yang lebih peduli padamu..”

“Dia egois! Dia boleh peduli padaku, kenapa aku tidak boleh?!” segera Kyuhyun merebahkan tubuhnya kembali sambil memejamkan matanya. “Aku tak mengerti dia. Dia itu sulit ditebak, aku benar kan?” tanyanya sambil melirik Leeteuk. “Sifatnya menurun dari siapa? Ayah? Ibu?”

Leeteuk tersenyum. Ia belum menjawab dan malah menarik lengan Kyuhyun agar anak itu kembali terduduk di atas ranjangnya. Ternyata Leeteuk juga membawa sekotak tisue basah dan tanpa ditunda, ia mengelap tangan Kyuhyun. Kyuhyun diam saja.

“Ayah dan ibu tak memiliki sifat dingin seperti dia, hyung juga bingung. Tapi, setahu hyung, sifat seseorang juga bisa terbentuk dari lingkungannya,” ucap Leeteuk kemudian. “Mungkin ada sesuatu hal yang mendorong Kibum untuk bersikap demikian. Ia juga begitu melindungimu, kan? Hyung yakin ia memiliki alasan kuat untuk itu,” lanjutnya. Ia tengah mengelap jari-jari Kyuhyun, lalu mengelap leher Kyuhyun. Saat ia akan beranjak ke bagian wajah..

“Biar aku saja,” potong Kyuhyun. Ia mengelap wajahnya sendiri, setidaknya ia masih memiliki tenaga untuk melakukannya. “Sebenarnya apa yang hyung lakukan sih?” gerutu Kyuhyun. “Sebenarnya aku bisa ke kamar mandi sendiri,  kan? Aku ini seperti orang yang sakit parah saja!”

“Hey! Sakitmu memang kambuh dengan sangat parah, kan? Itulah mengapa kau berbaring disini sekarang!”

“Itulah mengapa aku membenci rumah sakit! Orang yang masuk ke rumah sakit, terlihat sakit parah. Padahal aku baik-baik saja sekarang!”

“Oh, ya? Lalu mengapa dokter menyarankan agar kau dirawat beberapa hari, huh?”

“Dokternya saja yang berlebihan,” kilah Kyuhyun. Ia mendengar riak air di dalam kamar mandi telah selesai. “Kibumie! Bawakan aku sikat gigi dan ember kecil beserta airnya, ya? Aku ingin menggosok gigiku!” ucap Kyuhyun agak berteriak.

“Bukankah kau bisa ke kamar mandi sendiri?” heran Leeteuk.

Kyuhyun menampakan sederet giginya, lalu bibirnya menyiratkan sebuah tawa kecil. “Sekali-kali mengerjainya tidak apa-apa hyung..” bisiknya nakal.

Tak lama kemudian, datang Kibum sambil membawa barang-barang yang Kyuhyun butuhkan. Ia sendiri datang dalam keadaan segar. Rambutnya masih basah.

“Omo.. kau masih bisa keramas dengan santainya, padahal saudaramu terbaring disini! Keterlaluan!” jahil Kyuhyun.

Kibum tak bergeming dan tak berniat untuk menyahut cemoohan Kyuhyun padaya. Ia melihat Leeteuk sejenak. “Kau tidak bekerja, hyung?” tanyanya.

“Kupikir kau sekolah. Maka dari itu aku meminta ijin pada Sungmin untuk libur bekerja hari ini. Jika tahu kau tidak..”

“Ini lebih baik!” potong Kibum. “Aku tidak sekolah, dan kau tidak bekerja. Kyuhyun butuh kita berdua. Cobalah untuk sekali saja fokus pada kami, jangan hanya pekerjaanmu, hyung..”

Leeteuk mengerti. Sedikit demi sedikit, Kibum mengeluarkan apa yang mengganjal di hatinya selama ini. Ia juga sudah banyak bicara pada Leeteuk. Sebuah perubahan yang dapat Leeteuk rasakan, dan mampu mengundang senyum kebahagiaan di bibirnya. “Ya, kau benar. Ijin untuk beberapa hari tidak masalah, Sungmin bilang.”

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan?!” rutuk Kyuhyun. Hanya dia yang tidak mengerti dan sibuk menggosok giginya sambil terduduk di sisi ranjang. Tapi kelakuannya kali ini banyak mengundang protes, terutama dari Kibum.

“Kenapa tidak menggosok gigi di kamar mandi?!”

Kyuhyun menggeram kesal dan menunjukan tangannya yang diinfus dengan kesal.

“Itukan bukan hal sulit. Awas jangan sampai airnya berceceran..”

“HM!” balas Kyuhyun sedikit keras.

“Gosok gigimu dengan benar. Eh? Jangan terlalu banyak menggerakan tangan kirimu! Gunakan tangan kanan saja, lihat infusnya tertarik-tarik dan mulai berdarah, Kyuhyun!” panik Kibum saat melihat cairan merah mulai menaiki selang infus milik Kyuhyun.

Salah karena Kyuhyun marah setelahnya. “BERISIK!” kesalnya. Ia tak peduli pada sabun yang meloncat-loncat dari mulutnya. “Ya, Kibum! Sejak kapan kau banyak bicara, huh?!”

“Aigoo..” dan Leeteuk hanya tertawa dibuatnya, meski setelah tertawa ia sibuk membereskan basah di lantai akibat ulah Kyuhyun, dan Kibum beranjak kesal karena tak bisa memarahi Kyuhyun yang sedang sakit.

Satu jam kemudian, Kyuhyun telah tertidur. Dokter telah memeriksanya. Sarapan dan obatpun sudah dimakannya. Tinggal Leeteuk yang tengah membaca koran, sedang Kibum nampak bersiap-siap pergi.

“Kau mau kemana?” tanya Leeteuk.

“Aku akan pulang sebentar. Kau ingin aku membawakan sesuatu, hyung?”

Leeteuk mengangguk. “Bawa baju ganti Kyuhyun. Handuk juga. Mungkin itu saja dulu. Ada ongkos untuk pulang?” tanyanya, dan Kibum diam. Leeteuk lalu merogoh sakunya dan memberikan beberapa lembar uang. “Hati-hati di jalan.”

Kibum mengangguk. “Aku pergi,” ucapnya. Ia tak melihat mata Leeteuk menyiratkan sebuah keterkejutan. Ini memang untuk pertama kalinya Kibum menerima uang darinya dalam keadaan sadar. Biasanya, ia selalu marah jika Kyuhyun memaksanya untuk menerima uang dari Leeteuk. Leeteuk berteriak bahagia dalam hatinya saat ini.

Donghae berjinjit-jinjit untuk melihat pemandangan yang berada di balik pagar-pagar kecil terawat itu. Halaman rumah yang hijau, dan Donghae melihat rumah itu dengan tak sabar. “Seharusnya aku memang tahu, bahwa pemandangan bersih ini, Leeteuk hyung yang menjaganya! Kenapa aku mendadak bodoh, sih?!” decak Donghae.

Donghae mencoba untuk membuka pagar, namun pagar itu terkunci. “Apa mereka tidak di rumah? Bukankah Kyuhyun sakit? Ataukah mereka sedang di rumah sakit?” gumamnya tiada henti. Seperti orang bodohlah dirinya. Donghae yang keras kepala ini, tetap menunggu dan berakhir dengan berjongkok, menekuk lututnya di sisi pagar hanya untuk menunggu.

“Rumah ini tidak punya bel!” rutuk Donghae.

Sekian lama ia dalam posisi yang sama.  Terik matahari ia abaikan. Bisikan-bisikan dari orang-orang yang sekedar lewat tak ia pedulikan. Dianggap orang gila atau penguntitpun sepertinya Donghae tak peduli. Ia hanya menunggu di depan pagar rumah tersebut. Menunggu sang pemilik datang.

Derap langkah terdegar mendekat kemudian. Donghae yang mengira itu adalah sebatas orang lewat, mencoba mengabaikan. Namun ada suara berat yang ia hafal dan membuatnya akhirnya mengangkat wajahnya.

“Sedang apa kau disini?”

Sontak Donghae tersenyum cerah, meski wajahnya telah memerah karena terik matahari yang begitu menyengat. Matanya menyiratkan sebuah rasa ketidaksabaran yang tinggi. “Kau kemana saja? Aku menunggumu!” ucapnya setengah meratap.

“Huh? Ada perlu apa kau padaku?”

Sorot mata Donghae meragu. Ia tak yakin untuk menanyakan perihal Leeteuk secara langsung. Garukan kaku ia berikan pada rambutnya sendiri. “Aku..” ucapnya sungguh sungguh ragu. Hatinya bergumam ‘katakan? jangan? katakan? jangan’ sesaat hingga otaknya memutar untuk mencari alasan lain.

“Aku ingin tahu bagaimana dengan Kyuhyun sekarang? Apa dia baik-baik saja?”

Kibum mengangkat sebelah alisnya. Ia menatap Donghae lama, dalam guratan wajah yang sedikit malas. “Kau ingin menjenguknya?” tanya Kibum, dan Donghae mengangguk begitu antusias.

Sebuah keterkejutan Donghae rasakan ketika Kibum membuka pagar rumahnya meski tanpa bicara, atau gerak santun tubuhnya sebagaimana yang harusnya ia tunjukan pada tamunya. Tapi Donghae tersenyum begitu lega. Kibum mau menatapnya. Kibum yang akhirnya memberikan sebuah tanda yang baik.

Yeah.. Kibum bukanlah orang yang begitu kejam yang tidak tahu bagaimana cara berterima kasih, mengingat kemarin Donghae yang menolong Kyuhyun, entah secara langsung ataupun tidak. Karena Kibum yakin, bukan Donghae yang melukai Kyuhyun kemarin. Sangat yakin. Untuk itu, “masuklah dulu. Akan ku ajak kau menjenguknya di rumah sakit. Aku harus membawa sedikit barang-barang keperluan Kyuhyun terlebih dahulu..”

“Benar kau akan mengajakku?” girang Donghae.

“Hm..”

Donghae menarik lengan Kibum. “Kenapa rumah sakit? Separah itukah Kyuhyun?”

Wajah Kibum berubah masam kembali. “Jika kau tak berhenti bertanya, sebaiknya kau pulang saja!”

Donghae bungkam seketika. Ia mulai memahami seperti apa Kibum, dan bersabar adalah senjata yang ia gunakan saat ini. Berakhir dengan dirinya yang hanya mengekori langkah Kibum. Begitu membosankan karena ia tak bisa mengajak Kibum bicara. Namun, saat pintu rumah itu terbuka, saat untuk pertama kalinya kaki Donghae menapaki kediaman itu, ia menemukan obat untuk rasa bosannya.

Kedua mata Donghae berbinar menatap satu foto besar terpajang di dinding ruang depan, tepat saat pintu terbuka. Gambar yang memampangkan tiga wajah itu tengah menyambut Donghae kini. Semuanya. Tanpa terkecuali. Donghae mengenal ketiga wajah itu, dan ia mendekat. “Senangnya melihat kalian bersama..”

Kibum memutar tubuhnya dan memperhatikan Donghae yang menatap semangat ke arah foto miliknya.

“Ini kau,” ucap Donghae, menunjuk gambaran Kibum. “Ini Kyuhyun, dan ini..”

“Itu hyung kami. Leeteuk hyung..”

Yup! Donghae menemukan jawabannya dengan tepat dan akurat. Lagipula wajah itu mana mungkin Donghae lupakan. Hatinya semakin mantap untuk memastikan bahwa ia menemukan Leeteuk hyungnya! Hatinya bersorak gembira. “Lalu kapan kita akan ke rumah sakit? Apa masih lama? Apa banyak barang yang akan kau ambil? Biar kubantu!” cerocosnya tidak sabar.

Kibum menunjuk sofa dengan dagunya. “Tunggulah sebentar, dan aku tak memerlukan bantuanmu. Hanya saja yang kuminta darimu adalah, jangan banyak bicara!”

Donghae mengatupkan mulutnya, dan membentuk mulut itu mengerucut sempurna. Kibum memang benar-benar hebat membuat siapapun menjadi sebal. Donghae melipat kedua tangan di dadanya dan menjatuhkan dirinya di sofa. “Baik!” ketusnya, dan mengantar kepergian Kibum dengan delikan tersembunyi dari kedua matanya.

“Diam!”

Tak hentinya Kibum memperingati Donghae untuk tak banyak bicara. Mau bagaimana lagi? Rasa penasaran Donghae lebih tak bisa dikontrolnya. “Sudah kubilang untuk tak banyak bicara, kan? Aku pusing mendengar ocehanmu!”

Donghae hanya bisa mendengus sebal. Berujung dengan sebuah gigitan kecil yang ia berikan pada sebuah kelopak bunga yang berada dalam genggamannya. Memang sebelum mereka menaiki bis, Donghae memaksa Kibum mengantar dirinya untuk membeli bunga. Ini salah satu alasan mengapa Kibum bertambah kesal padanya.

“Bunga bukan untuk dimakan!” peringat Kibum dalam gumaman kecil.

Donghae terperangah dan semakin menatap kesal ke arah Kibum. “Masih bisa memberi komentar, huh?!”

Bis tiba-tiba saja berhenti. Banyak sekali penumpang yang naik. Berseragam! Mata Kibum mendelik waspada pada seragam-seragam yang ia hafal. Tentu! Itu seragamnya juga! Sejenak Kibum melihat jam di tangannya, dan waktu memang menunjukan jam pulang sekolah.

“Shit!” umpat Kibum. Dengan cepat ia memakaikan topi yang dikenakannya pada Donghae, serta menarik Donghae untuk turun sebelum bis penuh oleh siswa-siswa itu.

“Eh?” Donghae keheranan. Pertama karena Kibum meletakan topi itu begitu saja di kepalanya, lalu Kibum menariknya begitu saja. “Kenapa kita turun?” tanya Donghae bertubi-tubi mengundang banyak mata ke arah mereka. Saat keduanya telah benar-benar turun, Donghae menghempaskan tangan Kibum. “Kenapa kita turun Kib, hmpp!”

Kibum membekap mulut Donghae, sebelum nama dirinya terlepas indah dari mulut Donghae dan Kibum takut ada yang akan mendengarnya. “Jangan banyak bicara! Ini juga karena ulahmu!” bisik Kibum. Ia menarik Donghae untuk mengukir jalanan dengan kedua pasang kaki mereka.

“Jangan bilang kita akan berjalan jauh! Naik taksi saja..”

Kibum berbalik dan menatap tajam pada Donghae. “Ikuti saja jika kau mau. Jika tidak kau bisa pulang!”

Sekitar 20 menit kemudian. Donghae menyerah dengan keringat yang membasahi wajah dan juga tubuhnya. Ia terduduk di kursi taman rumah sakit. Padahal sedikit lagi sampai. Salahkan Kibum yang malah mengajaknya berjalan hingga tepat sampai di rumah sakit.

“Berhenti sebentar! Berhenti sebentar, aku lelah!” keluh Donghae sambil menepuk dan memijat kecil kakinya sendiri.

Kibum hanya berdecak santai, padahal ia menggendong tas yang sepertinya cukup berat. Ia memasukan kedua tangannya pada saku celananya. “Lemah!” sindirnya pada Donghae.

Donghae sibuk dengan kaki-kakinya yang pegal. “Kau juga duduklah dulu. Tunggu sebentar lagi saja,” ucap Donghae. Ia lalu sibuk merapihkan tatanan bunga yang baru saja ia simpan di sisi kursinya. Baru ia berkata, bahkan mulutnya masih basah memperingati Kibum, tapi..

Suara angin seirama dengan keterkejutan Donghae yang menyadari hilangnya Kibum dalam waktu cepat. “Kibum?” panggilnya, berharap Kibum hanya mengerjainya saja. Tapi Donghae tahu benar Kibum bukan orang seperti itu.

“Jangan katakan kau meninggalkanku!” paniknya. “KIBUM?!” teriak Donghae kesal. Kibum sepertinya benar-benar meninggalkan dirinya. Donghae setengah terisak. Ia kesal, sangat kesal menyadari bahwa Kibum benar-benar meninggalkannya. Donghae telah lelah..

“Sulit sekali untuk bertemu denganmu hyung..” keluhnya.

Donghae meraih bunganya. Mungkin dengan menemukan Kyuhyun di rumah sakit di depannya ini tidaklah sulit. Ia meyakinkan dirinya untuk tidak menyerah. Dengan sisa semangatnya Donghae mencoba memasuki rumah sakit.

Tepat saat memasuki rumah sakit, seperti mendapat sekotak hadiah di hari ulang tahun, Donghae tengah bergumam bahwa Tuhan sedang menjawab semua do’anya selama ini. Matanya tak lepas pada Leeteuk yang kini benar-benar ada dihadapannya. Hanya beberapa meter saja, begitu dekat. Sedikit tantangan lagi, sedikit langkah lagi yang Donghae butuhkan meski waktu terasa berputar lebih lama.

Mata Donghae berembun sudah. Ia segera melangkah sesegera mungkin untuk meraih Leeteuk. Jantungnya berdetak cepat menyuarakan ketidaksabaran dan kebahagiaannya. Dug.. Dug.. Dug.. bahkan bunyi jantung itu dapat Donghae dengar dengan jelas, terlebih ketika jemarinya meraih ujung pakaian Leeteuk.

“Huh?”

Leeteuk berbalik padanya. Donghae tersenyum dan menahan luapan air matanya. “Hyungie..” lirihnya setengah menangis.

“Kau mau kemana?”

Heechul sedang bertanya pada salah satu rekan kerjanya yang hendak mengundurkan diri terlebih dahulu. “Aku akan membeli pizza untuk jam makan siang kita hari ini..”

Heechul nampak mengangguk dan mengetukan jemarinya pada ponsel yang digenggamnya. Entah mengapa ia begitu mengingat Donghae hari itu. “Bisakah belikan aku juga? Untuk kubawa ke rumah..”

Langit biru jadi objek yang Heechul lihat setelahnya. “Kau tak menghubungiku, Hae? Sepertinya kau hidup dengan baik meski aku tidak ada. Apa karena kau telah dewasa?” gumamnya seorang diri. Tatapannya masih menerawang langit biru di atas sana. Langit yang sama, langit yang menjadi saksi atas keluguan Kibum di tempat lain.

Kibum yang melongo menatap ketiadaan Donghae di kursi taman rumah sakit itu. Kibum yang sebenarnya pergi untuk membelikan minuman untuk Donghae. Buktinya, ada dua botol air mineral dingin di tangannya kini. “Kemana dia?”

Leeteuk meraba kedua sisi wajah itu. Mata sendunya, masih sama seperti dulu. Rambut hitam yang lembut, yang selalu dia bantu untuk membasuhnya seperti dulu. Dulu, sangat lama. Bentuk wajah yang tentu saja Leeteuk mengingatnya dengan baik. “Kau.. Donghae?” tebaknya agak ragu.

Sedang Donghae sudah setengah menangis. Ia mengangguk tak sabar sambil mengusap kasar wajahnya untuk mengusir air mata yang tak mampu dibendungnya.

“Sudah lama sekali, ya?” ucap Leeteuk, tersenyum dalam harunya.

Seakan tak sabar, Donghae lalu memeluk Leeteuk erat dan menangis keras. “Aku merindukanmu, hyung!” ungkapnya.

Leeteuk membawa Donghae untuk duduk di salah satu kursi tunggu di rumah sakit itu. Setelah tangis Donghae mereda, barulah mereka banyak berbincang meluapkan rasa rindu masing-masing. Di awal terasa canggung. Perpisahan sekian lama telah membuat keduanya terlilit rasa canggung, tak tahu apa yang harus dikatakan padahal ada banyak hal yang ingin di utarakan.

Donghae hanya menunduk kemudian. “Kenapa kau tidak kembali? Aku dan Heechul hyung selalu mencarimu..” kata Donghae.

“Maafkan hyung. Hyung tidak tahu jika kalian pindah kemari. Ponsel hyung rusak jadi tak bisa menghubungi kalian. Oh, ya.. bagaimana kabar Heechul hyung? Dan, kau juga nampak baik-baik saja..”

Donghae mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah Leeteuk. Ia tak mampu menjawab semua pertanyaan Leeteuk.

Hyung tak menyangka. Kau sudah sebesar ini. Donghae.. bocah nakalku!” tutur Leeteuk sambil mengacak rambut Donghae. “Bocah manjaku! Apa kau masih takut air, huh?”

Donghae menggeleng.

“Masih menyukai coklat?”

Donghae mengangguk dengan mata yang kembali berkaca-kaca, membuat Leeteuk berpendapat bahwa “manjamu belum hilang rupanya,” sambil dipeluknya Donghae. Diusapnya punggung Donghae dengan sayang. “Masih sering sakit gigi?”

Dapat Leeteuk rasakan Donghae yang menggeleng pelan di dadanya. “Ceritakan apa yang terjadi selama ini, Hae. Semuanya..”

Kehangatan terjadi disana. Namun jauh di sudut sana ada Kibum yang menyaksikan segalanya. Ia sedikit meremas botol air mineral di tangannya. Beruntung botol itu cukup kuat hingga cengkraman tangan Kibum tak mampu mengoyak dan menumpahkan airnya.

Tatapan Kibum begitu tajam terlihat. Penuh akan sebuah penyesalan..

“Bukan karena hyungmu lebih memilih anak itu daripada kalian. Tapi, anak itu adalah majikannya. Kau harus mengerti kesulitan hyungmu, Kibumie..”

“Sama saja, kan? Hyung lebih menyayanginya dibanding kami, dongsaeng kandungnya, ibu!”

Ada tawa miris setelahnya. Kibum tampak membuang wajahnya. Gurat kesal dan sesal bercampur kental, melekat meliputi seluruh isi di kepalanya. Hingga kepala itu terasa sakit sampai ingin meledak saja. Kibum benar-benar nampak sebal.

“Kenapa kalian lama sekali? Aku bosan sendirian disini!”

Kibum meletakan tasnya tanpa kata. Ia tak juga membalas ucapan Kyuhyun. “Kenapa sendirian? Leeteuk hyung kemana?”

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya. “Dia bilang ingin keluar sebentar, tapi lama..”

Tak lagi ada kata dari mulut Kibum. Ia lebih dingin dari biasanya. Lebih tepatnya murung. Kyuhyun terus menatapnya lekat. “Ada apa, Kibumie? Wajahmu itu kenapa? Ada yang kau sembunyikan?”

“Tidak ada..”

“Jangan bohong!”

Kibum menghempaskan tubuhnya kasar di sisi tubuh Kyuhyun, di ranjang pasien sehingga Kyuhyun bisa lebih mudah mengguncang tubuh itu. “Katakan Kibum! Jangan membuatku penasaran!” tuntut Kyuhyun. Sedang Kibum sama sekali tak bergeming membuat Kyuhyun semakin cemas.

“Kibumie..” lirih Kyuhyun. “Apa dokter memvonis sakitku begitu parah? Aku sakit apa hingga kau begitu murung? Dimana Leeteuk hyung? Kalian menyembunyikannya dariku, kan? Apa aku akan segera mati? Apa.. AGH!”

Kyuhyun berteriak kencang karena tiba-tiba saja Kibum menggigit lengannya cukup keras. “Kenapa menggigit orang sakit?!” murka Kyuhyun dengan wajah memerah menahan sakit. Ada bekas gigi pada kulit lengan Kyuhyun.

“Siapa yang menyuruhmu mengoceh tak jelas?!”

Kyuhyun mengusap-usap lengannya. “Kau tahu aku senang bicara! Siapa yang menyuruhmu membuatku begitu penasaran?” rutuk Kyuhyun.

“Apa aku terlihat mengiba dan menangisimu?”

Tidak juga! pikir Kyuhyun. “Lalu kenapa berwajah seperti itu?”

Kibum bangkit dari posisi tidurnya. Ia membiarkan ranjang pasien itu hanya ditempati pemiliknya semula. “Lupakan! Kau tahu aku tak suka pada pertanyaan yang diulang-ulang!” geramnya. Kibum menyibukan dirinya kemudian. Ia melihat sekantong buah jeruk di atas nakas. Ia mengupas satu jeruku dan memakannya sendiri.

“Tapi aku begitu penasaran, Kibumie. Sungguh. Tadi itu kau terasa lain. Tadi itunghh..”

Kibum jengah mendengar ocehan Kyuhyun. Dengan sengaja ia lalu menyumbat kata Kyuhyun dengan jeruk yang ia masukan ke dalam mulut Kyuhyun begitu saja, membuat Kyuhyun menggerutu sebal. “Ish!” geram Kyuhyun sambil membuang biji-biji jeruk dari dalam mulutnya dengan agak kesal. Matanya tak henti mendelik sebal pada Kibum padahal mulutnya tengah mengunyah.

Kyuhyun begitu marah dan merasa sebal. Untung saja Leeteuk datang, bersama.. “Donghae hyung?!” Pekik Kyuhyun kegirangan. “Kau? Kenapa kalian bisa datang bersama?” sorak Kyuhyun.

“Selamat siang, Kyuhyunie. Bagaimana kabarmu?” sapa Donghae. Ia sempat melihat ke arah Kibum, namun tak lama kemudian ia memberikan bunga yang dibelinya pada Kyuhyun. “Semoga cepat sembuh..”

“Terima kasih!” balas Kyuhyun tersenyum, ie melirik Leeteuk.

“Ah, kami tak sengaja bertemu di depan tadi,” jelas Leeteuk. Tak disadarinya Kibum memandang arah pandangnya ke arah jendela dengan agak kasar, dan ia mendengus sebal.

“Sebenarnya aku dan Leeteuk hyung sudah saling mengenal sejak lama,” tutur Donghae. “Itu.. ah.. ini kebetulan yang menarik,” ucapnya.

“Hn? Ada apa?”

“Kami.. ya Kibum? Kau mau kemana?” tanya Leeteuk sebelum sempat ia menjelaskan. Namun tak ada jawaban dari Kibum yang pergi begitu saja. Di sisi lain Donghae menjadi murung. Pipinya mengembung sebal.

“Aneh! Dia selalu seperti itu padaku! Padahal tadi dia yang meninggalkan aku! Seharusnya aku yang marah, kan?!”

Malam telah tiba. Heechul telah menyelesaikan pekerjaannya dan pulang lebih cepat. Ia memasuki kediamannya dengan agak semangat. Terlebih ketika melihat keadaan rumahnya yang terang. “Donghae-ya?”

Heechul memasuki ruang tengah dan mendapati Donghae tengah berkutat dengan buku-buku tulisnya. Ia sedang belajar. Ia sedang membaca, ditemani kaca mata yang dipakainya, juga segelas susu coklat dalam genggamannya. Ia nampak serius sekali, namun terlihat lucu, dan Heechul tak sabar untuk mencubit pipinya.

Appoo hyung..” ringis Donghae. Ia mengelus pipi kirinya yang memerah.

“Serius sekali, kau sedang membaca apa?”

Donghae membuka lagi lembaran yang lain. “Besok aku ulangan,” jawab Donghae. Ia mulai memperhatikan Heechul. “Tumben sekali kau pulang lebih awal,” komentarnya.

Heechul tersenyum. “Kau tak ingin hyung pulang cepat?”

“Bukan begitu. Hanya terasa aneh saja. Atau, aku yang tidur terlalu larut?” bingung Donghae. Tubuhnya bergerak dan lalu ia menguap panjang. Ia mengantuk dan mulai membenahi bukunya. Ia telah mengabaikan Heechul yang pergi entah kemana. Ia akan menyambut tidurnya dan melupakan pertemuan berarti bersama Heechul, kejadian langka yang seharusnya ia nikmati.

“Hae..”

Belum sempat Heechul berucap, Donghae telah memotongnya. “Aku mengantuk, hyung. Aku tidur duluan, ya?” ucapnya.

Heechul merenung. Sekotak pizza ia urungkan kemudian, tak jadi diberikannya pada Donghae. Ada segurat kecewa, meski ia berhasil menutupi itu dengan wajah acuhnya. Inilah dia. Dia yang lalu bergegas membuang pizza itu tanpa arti. Satu helaan nafas ia lantunkan dibalik lelahnya di hari itu. Ia begitu lelah. Dalam benaknya Heechul terus berfikir.

Apa dongsaengnya sudah makan hari ini? Apa dongsaengnya melewati hari ini dengan baik? Banyak sekali waktu yang ia lewatkan. Mengorbankan segenap perhatian yang seharusnya ia berikan pada saudara terkasihnya..

Pagi yang begitu ribut..

“Ini benar-benar buruk! Aku sudah tak bisa diam lagi. Hae, kuharap kau menuruti kata-kataku!”

Donghae mengernyit aneh. “Ada apa denganmu, Siwonie? Haruskah kau menyambutku dengan kata yang aneh seperti itu?!” dengus Donghae. Tanpa diduganya Siwon sedang berada dalam keseriusannya. Donghae sedikit meringis saat Siwon menarik lengannya. “Apa?!”

“Kemarin kau kemana? Aku dan Eunhyuk ke rumahmu, tapi kau tidak ada!”

Dengan sedikit kesulitan Donghae menepis tangan Siwon. “Kau ini kenapa?!”

Oh!! Siwon nampak kacau. “Sebenarnya aku tak ingin menyeretmu pada permasalahan ini. Tapi kau yang menghampirinya, Hae. Mereka mulai mencari siapa yang dengan berani-beraninya membuat nama Kibum, bagian dari siswa mereka masuk dalam daftar kasus di kantor polisi dan bahkan mendapat skors dari pihak sekolahnya sendiri..”

“Huh?!” Donghae semakin kebingungan. “Kibum kau bilang?”

“Iya! Dia anak kemarin, aku sudah tahu!”

“Kibum di skors?!”

“Ini bukan tentang sekolah, Donghae! Tapi ini tentang perkumpulan siswa di sekolah kita dan juga sekolah mereka yang bermusuhan bahkan sejak dulu!”

Donghae diam untuk mencerna semuanya. Ia menatap Siwon, berharap Siwon akan melanjutkan ceritanya. Ia menunggu dengan tisak sabar.

“Dan Kibum termasuk dalam perkumpulan kecil itu, seperti aku dan Eunhyuk. Umh.. kau tahu? Ini tak akan menjadi mudah untukmu karena kau berhasil membuat salah satu anggota mereka dikenal di kantor polisi, bagus! Mereka tak akan diam saja!”

Donghae nampak gelisah. “Aku tak tahu apa maksudmu, Siwon-ah! Jangan mencoba menakutiku. Aku tidak tahu sama sekali permasalahan kalian..”

“Kau harus mengerti..”

Donghae menutup erat kedua telinganya. “Aku tidak mau dengar!” pekiknya tertahan. “Akan kupastikan bahwa itu tidak benar. Kibum bukan bagian dari mereka..”

Siwon menatap Donghae cemas. “Kuharap kau mau mendengarkan aku, Hae. Kami tak bisa melindungimu jika kau sulit untuk diraih. Kau dengar? Hae?”

“Aku tahu,” balas Donghae singkat. Ia terduduk di bangkunya dan mulai mengeluarkan alat-alat tulisnya. Ia kembali membaca materi yang akan menjadi bahan ulangan hari itu, meski sedikit tidak fokus. Hingga tibalah sebuah pesan singkat menyapa ponselnya. Ia tersenyum seketika..

Leeteuk Hyungie:

Kyuhyun pulang dari rumah sakit hari ini. Kau akan datang ke rumah? Ajak Heechul. Hyung ingin bertemu dengannya, sekalian akan ada acara untuk ulang tahun Kyuhyun esok hari..

“Besok?!” gumam Donghae. Matanya melirik pada Siwon yang tengah mengamati dirinya. “Apa yang kau lihat, Siwonie? Aku sedang berkirim pesan dengan hyungku..” decaknya.

TBC

Cerita terus berputar. Entah mengapa ada begitu banyak hal yang mengganggu pikiran Donghae akhir-akhir ini. Memikirkan keberadaan orang-orang yang berada di sekitarnya membuatnya sedikit sakit kepala, terlebih Donghae tak pernah mendapati masalah sepelik saat ini.

Bahkan untuk pertama kalinya ia menempatkan diri di tempat yang penuh akan dentuman musik keras. Penuh akan wanita-wanita dewasa berpakaian seksi nan menggoda, namun tak menggugah seorang Donghae, yang masih terbilang di bawah usia untuk melihat yang seperti itu.

Donghae hanya fokus pada orang yang menjadi tujuannya pergi ke tempat tersebut. Ada sekelompok anak yang kemudian Donghae hampiri. Ia berusaha untuk tegar dan menjadi orang kuat.

“Kau datang juga!”

“Aku.. aku hanya ingin bertanya apakah Kibum..”

“Dia saudara kami semua tentu saja. Itulah mengapa kami menjadi marah karena kau membuat namanya terdaftar dalam catatan kepolisian!”

“Apa mau kalian? Aku yakin Kibum tak ingin berada bersama orang-orang seperti kalian!”

“Sayangnya dia sudah terikat dengan kami..”

“Aku ingin melepasnya dari kalian. Bagaimana caranya? Akan aku lakukan apapun..”

Donghae nampak bergetar di tempatnya. Begitupun Kibum yang tengah berlarian kala itu di jalanan aspal tanpa memakai alas kakinya. Ia nampak cemas luar biasa. Ia tak memikirkan apapun terkecuali sebuah tempat yang ditujunya saat itu. Sebuah bar yang seperti dihafalnya. Bergegas ia masuk dan bergumam semoga ia tidak terlambat.

Namun ia mencelos tatkala melihat semuanya. Ada tawa puas diiringi bunyi benda pecah, karena satu gelas terlepas dari tangan Donghae. Donghae yang telah jatuh tak sadarkan diri dengan kepala yang bertumpu, tergolek lemah di atas meja. Kibum menggeram. “Apa yang kalian berikan padanya?! Apa yang kalian lakukan padanya?!”

Maaf sekali…

Saya hadir terlalu cepat. Maaf Maaf Maaf sekali. Sebetulnya saya hanya lewat saja sih. Lewat membawa sedikit chapter yang semakin tak beraturan. Ugh.. Chapter yang saya bawa di ambang batas paket internet saya. :p sedikit saya paksakan karena ini, katanya untuk sedikit membahas soal ulang tahun Kyuhyun. siapa yang bahas pengen publish di ulang tahun Kyu? Sudah saya kabulkan meski tak special sekali, /O\

Sekian..

52 thoughts on “-NOTHING BETTER [7]-

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 2, 2014 pukul 12:32 pm

    Hoaaa akhirnyaaaa Hae ketemu jg dgn Leeteuk.. ah tp semoga ntar2x Hae g cuekin Chulie.. kn kasiaaann😥
    pnasaran pnasarannnn… apa yg sbnrx trjdi di bar ituu ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s