-NOTHING BETTER [8]-

Posted on

“Aku merasa buruk..”

“Kau masih berhak meminta maaf atas kesalahan yang tidak disengaja itu jika kau ingin..”

[CHAPTER 8]

Heechul tertegun mendapati wajah Donghae yang bahkan terlihat senang dalam tidurnya. Meskipun mulutnya setengah terbuka, mata yang nampak lengket, dan juga rambut yang begitu berantakan. Ajaib karena Heechul nampak gemas melihatnya. Ia tersenyum menatap bocahnya. Tangannya terulur perlahan.

“Hae.. Donghae!” panggilnya. Dengan gemas jarinya menarik sebagian daging di balik kulit lembut Donghae, mencubitnya dengan sengaja. “Donghae bangun!” tuturnya.

Donghae mengernyit dalam tidurnya. Ia dapat merasakan rasa sakit akibat cubitan Heechul di pipi kirinya. “Ugh,” ringisnya masih mencoba untuk membuka mata. “Hyung..” rengek Donghae kemudian, karena Heechul masih menarik-narik pipinya. “Apa yang kau lakukan, huaaa..”

Heechul terkekeh ringan. Ia singkap selimut Donghae sehingga piyama imut berwarna biru milik Donghae terlihat seutuhnya. Sebagian kancing piyama atasnya terbuka, menggambarkan sebagaimana sibuknya Donghae saat tertidur malam tadi, Heechul bisa membayangkannya. “Bangun! Bangun!” ucapnya sambil memukul-mukul pantat Donghae.

Donghae memang bangun dengan sedikit kesal. Sayangnya ia bangun hanya untuk menarik selimutnya. Ia menyelimuti dirinya hingga ke dada, sedang dua tangannya ia gunakan untuk membersihkan wajahnya dari lengket-lengket yang ada. Ia biarkan Heechul tetap mengamatinya. “Huh? Kenapa hyung belum berangkat kerja? Tumben sekali..”

Sedikit keheranan, Heechul berfikir dan tak melepas pandangnya dari Donghae. “Apa kau tak berniat sekolah hari ini?”

Masih dalam keadaan terlentang Donghae menghentikan kegiatannya apapun itu. Ia diam dan turut memandang hyungnya. “Apa kau juga tak berniat bekerja?” tanyanya.

Keduanya cukup lama saling memandang. Ada ragu dalam tatapan itu. Namun kemudian Donghae menyimpan senyuman tersendiri dan memandang Heechul. “Kenapa? Kau benar-benar ada di rumah hari ini?” tanyanya namun tak berniat menanti jawaban Heechul karena ia tahu jawabannya adalah iya.

“Kebetulan sekali, kan?!”

“Heoh?”

Donghae terduduk di ranjangnya. “Hyung ada yang belum aku katakan padamu. Ini adalah tentang kabar baik! Tapi katakan dulu alasan mengapa kau tidak bekerja hari ini..”

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, puas?!”

Donghae membulatkan kedua matanya. “Wow..” decaknya, menatap kagum ke arah Heechul. “Hebat sekali kau mengajakku jalan-jalan! Senangnyaaaa..” sorak Donghae. “Kemana? Kau akan mengajaku kemana?”

Heechul berfikir. “Memangnya kau ingin kemana?”

“Jadi perjalanan kali ini terserah aku?”

Heechul mengangguk membuat Donghae menepuk-nepuk tangannya kegirangan. “Terserah aku, kan hyung? Tenang saja aku tak akan mengecewakanmu!” ucap Donghae. Ia mengedipkan satu matanya pada Heechul. “Aku punya kejutan untukmu,” bisiknya..

“Selamat ulang tahun, Kyuhyunie!”

Kyuhyun tersenyum senang pada Sungmin yang datang menjenguknya, masih di rumah sakit dan kamar yang sama seperti kemarin. Di sisi ranjang lainnya, Leeteuk sedang sibuk membereskan barang-barangnya, berkemas mengingat mereka akan pulang hari ini, karena kesehatan Kyuhyun telah membaik.

“Terima kasih, hyung,” balas Kyuhyun. Ia menerima sebuah kotak hadiah dari Sungmin. Entah apa isinya Kyuhyun tak berani membukanya langsung. Namun usilnya dirinya, ia menggoyang-goyangkan isi di dalamnya. “Bukan binatang yang menjijikan, kan?” tanyanya sambil meringis.

Sungmin tertawa lepas. “Setidaknya itu bisa lebih menyenangkan dibanding binatang menjijikan seperti kecoa? kodok? Atau kau ingin aku memasukan ular ke dalamnya?!” delik Sungmin, dan ia semakin berpura-pura marah ketika Kyuhyun memeletkan lidah ke arahnya.

Leeteuk tak menghiraukan perdebatan kecil tersebut. Ia sibuk melipat beberapa helai baju milik Kyuhyun dan memasukan barang lainnya ke dalam tas. “Kibum menunggu kita di rumah, Kyu..” katanya.

“Hm..” balas Kyuhyun. Dibantu Sungmin, ia turun dari ranjangnya. “Aku ingin ke kamar mandi sebentar, ya?” ijinnya. Hanya sampai di ambang pintu pula ia diantar Sungmin. Sedang Sungmin sendiri, kembali untuk membantu Leeteuk.

“Apa Kyuhyun sudah baik-baik saja sekarang?”

Leeteuk mengangguk. “Tidak akan terjadi apa-apa padanya selama kita berhati-hati, ini pesan dokter yang memang harus diakui kebenarannya, Sungmin-ah.. aku bahkan akan menanyakan pada Kyuhyun untuk mengambil home schooling saja.”

“…”

“Agar dia berada di rumah sepanjang hari. Terlepas dari masalah apapun yang dapat menyakitinya seperti kemarin..”

Sungmin menghela nafasnya sambil tersenyum. Ia menepuk bahu pelan. “Lakukan apa yang menurutmu benar..”

“Kenapa kau mengajaku ke rumah sakit, Hae?!” geram Heechul. Ada nada heran dan sedikit hawatir disana, mengingat ‘rumah sakit’ yang mereka tuju saat ini. Dan kejutan apa? Yang ada dalam pikiran Heechul saat ini adalah kejutan seperti ‘aku mengidap penyakit mematikan, hyung..’ tidakkah ini mengerikan? Bukan kabar baik seperti apa yang Donghae katakan.

Sedang Donghae terus saja menarik Heechul untuk masuk ke dalam rumah sakit besar tersebut. Singgah di lantai kedua, lantai ketiga. Orang-orang bergantian masuk dan keluar ke dalam lift yang kini dihuni mereka. Hingga singgah di lantai ke empat, barulah Donghae mengajak Heechul keluar.

Baru satu langkah Heechul keluar dari lift, belum banyak pula jarak yang ia ciptakan dengan pintu lift yang kini tertutup kembali. Heechul seperti menahan nafasnya sejenak. Ia tertegun menatap beberapa orang dengan tas dalam genggaman mereka masing-masing. Matanya bertemu dengan..

“Oh..” desahnya seperti tak percaya. Tepat di hadapannya ada Leeteuk, dan juga Sungmin yang masih diingat wajahnya. Satu lagi Heechul belum mengetahui. Bibirnya mengukir sebuah senyum yang nampak kaku. Entah berbahagia atau sebaliknya..

“Aku bertemu dengannya kemarin! Dia adalah hyung dari Kibum, kau masih ingat? Dan itu adalah Kyuhyun adik kembar Kibum. Orang yang sapu tangannya aku pinjam beberapa waktu lalu. Semuanya kebetulan! Aku bertemu Leeteuk hyung! Leeteuk hyung kita!”

Meski mendengar namun Heechul enggan memberikan respon sekecil apapun. Tatapannya hanya lurus mengarah pada Leeteuk yang mulai menghampiri dirinya. Dilihatnya Donghae yang melesat lebih dulu untuk memeluk Leeteuk begitu hangatnya. “Kau baik-baik?” ucapnya pada Leeteuk.

Hyung! Seharusnya kau bertanya padaku, bukan pada Leeteuk hyung! Yang sakit itu aku!” rutuk Kyuhyun dengan kesal.

Ah, Heechul berusaha menyembunyikan kecanggungan yang ada. “Aku tak menyangka kita akan bertemu disini. Bagaimana kabarmu, hyung?”

Sungmin menatap heran. “Anda mengenal Leeteuk hyung?” tanyanya. Jangan salah, ia juga measih mengingat Heechul.

“Tentu saja, Sungmin-ah.. kami sudah lama saling mengenal, begitupun Donghae. Kami sudah saling mengenal..”

Kyuhyun heran. “Sejak kapan? kalian..” ucapnya terpotong karena Donghae langsung merangkulnya. “Nanti aku ceritakan, oke? Sekarang kita mau kemana? Mau pulang, kan? Ayo pulang kerumahmu..”

Ketiga orang dewasa disana saling melempar senyumnya. Mereka mengiringi langkah Donghae dan Kyuhyun yang masih saja saling merangkul menampakan keakraban yang begitu lekat.

“Lama tak bertemu. Kau sama sekali tidak menua, ya..” usil Heechul. Keduanya memilih waktu untuk berbincang berdua saja. Setelah tiba di kediaman Leeteuk, Sungmin mengundurkan diri terlebih dahulu karena alasan pekerjaan. Sedang Donghae menghabiskan waktunya di dalam rumah menemani Kibum dan Kyuhyun.

Yang tua-tua ini lebih senang berbincang di luar, tepatnya di teras rumah Leeteuk sambil menghirup udara segar disana. “Kau masih kau hyung..” ucap Heechul sambil memandangi halaman depan rumah tersebut. “Kau yang rapih..” komentarnya. “Apa kau bekerja sekarang?” ucapnya sambil meminum minuman bersoda sebagai suguhan mereka.

“Aku bekerja di hotel milik Sungmin. Kau? Masih tetap seperti dulu kah?”

Heechul tersenyum. “Masih. Semua masih sama seperti dulu. Dia masih sama seperti dulu..”

Leeteuk menoleh, memandangi Heechul yang tampak merenung. “Dia..”

“Aku tak berhasil membuangmu dalam fikirannya, hyung. Dia selalu mengharapkan kedatanganmu. Sosokmu begitu melekat padanya, padahal..” Heechul tercekat. “Aku adalah hyung kandungnya. Aku!”

Nada bicara Heechul mulai meninggi dan tak terkendali. Meski ia masih menahannya, karena ia sadar, ini untuk pertama kalinya ia bersikap demikian di hadapan Leeteuk. “Maaf,” desahnya kemudian dan mengusap kasar wajahnya.

“Tidak, aku yang minta maaf, Heechul-ah..

Heechul menggelen frustasi. “Maaf jika aku bersikap kurang sopan di hari pertama kita bertemu lagi. Aku hanya kesal dan marah, karena kau menghilang untuk waktu yang lama. Kau tahu dia mengandalkanmu sedang aku tak bisa memperhatikannya seperti kau memanjakannya. Kau seperti tak tergantikan, kau..”

“Aku..”

Heechul menoleh lalu tersenyum. “Sekarang aku harus merasa lega karena kita bertemu. Karena aku tak perlu berputus asa saat melihatnya bersedih ketika mengingatmu..”

“Tapi Heechul-ah..”

Leeteuk termenung menatap Heechul yang tersenyum tulus padanya. Sorot mata Heechul nampak tak berbohong. “Aku tidak apa-apa. Ini bukanlah hal yang rumit, kan? Setidaknya aku akan merasa lega, jikapun aku sibuk bekerja nanti, aku bisa menitipkan Donghae disini. Umh.. apa kau keberatan?”

“Kau benar. Tapi aku merasa tidak enak padamu. Ini seperti, aku merebut kekasihmu..”

“Hahaha…” lepaslah tawa Heechul. Semua ini memanglah nampak seperti yang dikatakan Leeteuk. Merasa benar, Heechul menjadi tertawa sendiri dan tertawa terpingkal-pingkal. Ia menepuk-nepuk lengan Leeteuk keras-keras.

“Kenapa tertawa sih?!” kesal Leeteuk.

Kedua sudut mata Heechul berair, akibat ia menahan tawanya setengah mati. Wajahnya merah padam. Berulang kali ia berdehem agar tawanya dapat teredam. “Maka dari itu tadi kubilang, ini bukanlah sesuatu yang rumit, seperti kisah cinta yang kau katakan itu! Jadi tidak usah merasa tak enak padaku, hyung. Aku menitipkan Donghae sewaktu-waktu nantinya, bukan memberikannya padamu, tahu!”

“Tapi aku tahu hatimu merasa sedikit sulit, kan?”

Heechul diam. Sedikit banyak memang benar adanya. Ada kilatan menyakitkan yang menyayat hatinya setiap kali Donghae bersedih dan merindukan Leeteuk, bukan dirinya. Setiap kali Donghae mengeluh karena tak mampu melihat Leeteuk, Heechul merasa sakit di ulu hatinya. Seharusnya Donghae lebih merindukannya, bukan? Tapi ya sudahlah..

“Mungkin itu karena aku telah menjadi hyung yang gagal untuknya..”

Donghae bersemangat meniup balon-balon yang ada di depannya. Sesekali pipinya mengembung penuh. Kedua matanya ia pertemukan untuk menatap satu titik di tubuh sang balon yang kian membesar. Balon biru, kuning, merah telah dibuatnya dan tergeletak di sisi tubuhnya.

Tak lupa ada Kibum yang bertingkah tak peduli sambil memindah-mindahkan chanel televisi di depan mereka. Kyuhyun? Ia tertidur di sofa, tepat di belakang punggung Kibum dan Donghae, karena keduanya terduduk di lantai.

“Kenapa repot-repot membuatnya? Sudah kukatakan jangan dilanjutkan? Pestanya usai semenjak Sungmin hyung datang memberi kadonya terlebih dahulu!”

Donghae menoleh Kibum dengan ujung matanya. Setelah menutup rapat ujung balon ia berbalik ke arah Kibum. “Lalu mau diapakan? Semua ini kan sudah terlanjur dibeli. Sayang jika tidak digunakan! Kita buat pesta kecil saja, dan anggap ini kejutan setelah Kyuhyun terbangun nanti, jangan protes terus..”

Kibum menatap Donghae sedikit dengan datar. “Ini rumahku, apa kau berhak mengatur apa yang akan kami perbuat?”

Donghae diam. Ia melihat bahwa Kibum tidaklah main-main dengan nada ketidaksukaan itu padanya. “Kau benar. Aku hanya.. aku hanya..”

“Sudahlah! Tidak ada pesta, kenapa kau dan hyungmu itu tidak pulang saja?!”

“Kau mengusirku?!” tanya Donghae tak percaya. Ia melihat Kibum berlalu begitu saja dari hadapannya. “Ya, Kibum! Kau tidak bisa mengusirku begitu saja, kami ini tamu kalian! Lagipula Leeteuk hyung tak mungkin melakukannya padaku..”

TRAK..

Remot yang tadinya Kibum genggam kini tergeletak di atas meja kaca karena Kibum melemparnya cukup keras. “Kenapa? Kenapa ia tak bisa melakukannya padamu, huh? Siapa dia untukmu? Kenapa seenaknya?!”

“Kami..”

Kibum mendekati Donghae dengan cara yang menakutkan. “Sejak kapan kalian saling mengenal? Apa sekarang kau bersyukur karena bisa bertemu lagi dengan Leeteuk hyung, hm?” tanya Kibum tajam sambil mencengkram erat lengan Donghae, membuat Donghae beringsut takut dan sedikit meringis sakit.

“A- apa maksudmu?” tanya Donghae bergetar. Bola matanya menatap selidik ke arah Kibum, bersikap waspada seolah takut Kibum melakukan sesuatu yang buruk. “Memangnya kenapa jika aku telah mengenal lama Leeteuk hyung? Apa itu masalah besar?!”

Kibum tersenyum, namun dalam sekejap senyum itu hilang menjadi tatapan yang lebih mengerikan dari sebelumnya. “Kau adalah masalah kami!” desisnya. “Semua.. semuanya karena dirimu!” tudingnya dengan amat sangat yakin.

Cengkraman Kibum terlepas, namun ucapan Kibum membelenggu jiwa Donghae dengan rasa penasaran yang tinggi. “Tunggu!” ucapnya sambil menarik ujung kaos Kibum. “Apa maksudmu, Kibum?! Apa maksud ucapanmu?!” tuntutnya.

Kibum menghempaskan tangan Donghae yang menahannya. “Aku tak ingin membahasnya! Pergilah..”

Untuk sekali saja, kali ini saja Donghae menangis begitu saja. “Kenapa?” isaknya. “Apa yang telah aku lakukan hingga membuat kau begitu membenciku! Kesalahan apa?” lirihnya, dan Kibum benar-benar meninggalkan dirinya. Pada akhirnya Donghae menangis tersedu.

Entah Donghae merasa bingung. Seingatnya ia tak pernah melakukan hal yang merugikan orang lain, apalagi Kibum dan Kyuhyun yang baru ditemuinya beberapa waktu lalu. Kaki Donghae bergerak cepat menuju pintu keluar. Wajahnya teramat merah begitupun mata dan juga hidungnya. Ia masih sedikit menangis dan membuat Leeteuk dan Heechul bertanya-tanya karenanya.

“Ada apa, Hae? Kau mau kemana?”

Donghae tak menggubris sekalipun Leeteuk yang bertanya. Pikirannya kalut dan ia memutuskan untuk pergi saja, disusul Heechul pada akhirnya, meninggalkan pesta ulang tahun Kyuhyun yang direncanakan sendiri olehnya. Biarlah toh Kyuhyun sudah menyadari hari ulang tahunnya, tidak perlu ada kejutan.

“Kenapa? Ada apa?”

Heechul memberikan sebotol minuman segar pada Donghae yang masih berwajah muram. “Kau bertengkar dengan si Kibum lagi?” tebak Heechul. “Memangnya apa yang dikatakannya? Dia meledekmu?”

Donghae menggeleng..

“Dia membahas tentang kejadian waktu itu?”

Donghae menggeleng lagi.

“Dia meminta uang padamu? Atau memukulmu?”

Bukan menjawab, bukan gelengan pula, tapi Donghae menangis, padahal mereka masih berada di tempat umum. “Hey! Kenapa menangis, sudah!” bujuk Heechul sambil memeluk Donghae erat.

“Ia bilang aku penyebab semuanya!”

“Huh?!”

“Aku tidak tahu, hyung.. mengapa aku bisa sejahat itu?”

Heechul berfikir keras. “Anak itu sulit sekali diterka! Benar-benar menjengkelkan! Hyung tak mau tahu, kita kembali sekarang untuk menanyakan kejelasan tentang masalah ini, dan tidak ada protes!” tanpa perlawanan Heechul kembali menyeret Donghae ke kediaman Leeteuk.

“Kenapa? Hyung pikir kenapa eomma dan appa meninggal? Kecelakaan? Ya! Mereka kecelakaan. Kau tahu? Hal itu tidak akan terjadi jika mereka tak bepergian hari itu! Kenapa mereka harus pergi hari itu hyung? Kenapa mereka ingin sekali menyusulmu ke Seoul!”

“Kibumie..”

“Hanya karena kau tidak bisa meninggalkan majikan kecilmu yang manja itu kau tidak pulang! Kau lebih memilih membiarkan appa dan eomma menyusulmu ke Seoul! Hanya karena anak manja itu, dan dia adalah Donghae! Dia adalah Donghae, aku membencinya!”

Donghae menjatuhkan beban kepalanya pada sandaran sofa yang kini di dudukinya. Ia seperti tak lagi menemukan semangatnya, selepas menangis lama di sofa tersebut. Sofa rumahnya sejak beberapa jam yang lalu mereka pulang dari kediaman Leeteuk.

Heechul datang dan mengusap rambut Donghae yang basah oleh keringat. Ternyata menangis juga menguras tenaga, benar? “Jangan dipikirkan, Hae. Bukan salahmu. Ini semua hanyalah pikiran Kibum saja, kau..”

“Tapi..” suara Donghae begitu parau. “Aku penyebabnya, hyung! Salahku! Ya Tuhan, aku membuat kedua orang tua mereka me-”

Heechul segera memeluk Donghae. Ia tahu adiknya itu, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja akan terasa sakit. Ia dekap Donghae begtu eratnya. “Tidak, mana bisa begitu. Kibum salah faham.. itu hanya kecelakaan..”

“Bukan! Aku penyebabnya! Kibum benar!” raung Donghae dalam pelukan Heechul. Ia mulai meracau dengan panik. “Ya Tuhan, Ya Tuhan aku ini telah membunuh!”

“Tidak!” bantah Heechul.

“Aku menyakiti mereka, Kyuhyun dan Kibum! Aku bersalah..”

“DONGHAE CUKUP!”

Tangisan Donghae tertahan sudah. Pelukan hangat itu juga terlepas. Heechul menarik dirinya dan segera menutup kedua telinga Donghae. “Anggap kau tak pernah mendengarnya, ya? Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kibum tidak berkata apapun padamu. Tidak..”

Satu kali aliran air mata Donghae mengalir. Ia menatap lurus pada Heechul yang tersenyum padanya. “Aku merasa buruk,” tuturnya dengan suara bergetar, namun gelengan Heechul seketika menenangkan dirinya.

“Kau masih berhak meminta maaf atas kesalahan yang tidak disengaja itu jika kau ingin..”

“Apa Donghae baik-baik saja?”

Leeteuk berkata pelan pada Heechul lewat sambungan telpon. “Aku minta maaf soal kejadian tadi. Soal Kibum. Percayalah, akupun baru mengetahui alasan dirinya menjauhiku semenjak orang tua kami meninggal,” jelas Leeteuk nampak mengiba dari nada bicaranya.

“Syukurlah jika ia baik-baik saja. Aku akan menemuinya jika sempat..”

Setelah beberapa saat berbincang, sambungan jarak jauh itupun terputus sudah. Tersisa hening, dan mungkin hanya bunyi nafas dua insan yang berada di ruangan tersebut. Dua? Satu Leeteuk dan satu lagi adalah Kyuhyun yang tengah mengusap tengkuknya pelan sambil memandangi gelas berisikan susu coklat di atas meja. Ada dua gelas, sedang satu gelasnya sudah dalam kosong.

“Kyu.. apa kau juga berfikiran sama dengan Kibum?”

Kyuhyun sedikit meringis kikuk. “Aku tidak tahu, hyung. Kurasa Kibum tak sepenuhnya bersalah akan pemikirannya, tapi kufikir itu sedikit berlebihan juga..” ungkapnya kebingungan.

Leeteuk terduduk di samping Kyuhyun. “Apa kau marah padaku?”

Dengan cepat Kyuhyun menggeleng. “Tentu saja tidak. Kupikir apa yang menimpa eomma dan appa sudah kehendak Tuhan, bukan begitu?”

“Kau tidak sedang berbohong?”

Kyuhyun menggeleng.

“Apa kau juga tidak menyalahkan Donghae atas ini semua?”

Gelengan terakhir Kyuhyun berikan. “Tidak,” ucapnya tulus namun tanpa kalimat lain seolah dirinya meragu. Ia lalu berangsur turun dari kursinya. “Aku harus memaksanya meminum susu coklat ini sebelum tidur!” dengus Kyuhyun. Sebuah kebiasaan yang bagus..

“Kau yakin Kibum akan membuka pintu kamar?”

Kyuhyun mengangguk pasti. “Sejak kapan dia mengabaikanku? Atau aku akan meringkuk di depan pintu hingga pagi dan telah menjadi mayat. Aku tidak yakin Kibum akan membiarkannya,” cibir Kyuhyun.

Leeteuk membiarkannya seolah menyerahkan sedikit kepercayaannya mengenai Kibum pada Kyuhyun. Setidaknya Kyuhyun bisa diandalkan untuk membujuk Kibum, benar? Karena Kyuhyun adalah kelemahan Kibum. Ah.. Leeteuk merasa dirinya picik sekali, hhaahhaa.. biarkan saja.

Pagi hari dan Donghae telah siap untuk pergi sekolah dengan mata pandanya.

“Astaga, apa yang terjadi padamu selama ijin sekolah kemarin, Donghae?”

Donghae mengoceh tak jelas sebagai balasan atas reaksi berlebihan Eunhyuk padanya. “Aku sedang tidak ingin bicara, jangan ganggu aku, Hyuk!” ketusnya. Ia sedikit mendorong Eunhyuk keluar agar menjauh dari pintu rumahnya karena ia akan mengunci rumahnya.

“Tapi aku tak ingin berjalan beriringan dengan seseorang bermata panda seperti itu,” goda Eunhyuk.

“HYUK!” desis Donghae. “Jangan bercanda!”

Eunhyuk mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan bahwa dirinya mengalah. Ia tak lagi bicara dan mengeluarkan sebuah kacamata hitam. “Pakailah, ini akan membuatmu lebih baik..”

“Lebih baik apanya?! Gelap! Aku tidak mau! Aku tidak suka!”

Dengan sedikit paksaan Eunhyuk memasangkan kacamata hitam itu, dan bahkan memakaikan topi untuk Donghae meski Donghae menolak, sangat menolak. “Aku akan sekolah, bukan bermain! Lepaskan ini semua, ish!”

Eunhyuk membekap mulut Donghae, merangkul Donghae dengan cukup kuat agar Donghae tak banyak bergerak. Bernafas dalamlah ia, menunjukan sebuah kelegaan yang begitu dalam karena Donghae akhirnya menurut padanya. Mereka berjalan beriringan menuju sekolah, dengan sedikit keanehan yang menyergap di hati Donghae.

Di sekitar perempatan jalan, ia dan Eunhyuk melewati beberapa anak yang memakai seragam dari sekolah tetangga. Donghae cukup heran juga karena ternyata bukan hanya dirinya yang memakai kacamata hitam dan juga topi, meski sebatas topi sekolah mereka. Mereka semua seperti sedang menyamar..

Penyamaran?

MENYAMAR? Dari siapa dan untuk apa?

Donghae rasa Eunhyuk semakin menyeret langkahnya menuju gerbang sekolah dan bergegas masuk ke dalam sekolah mereka. “Kau harus berterima kasih pada kami,” ucap Eunhyuk setelahnya.

“Heoh?”

Seseorang menepuk pelan pundak Donghae. “Syukurlah kau datang dengan selamat..”

Donghae semakin tak mengerti. “Sebenarnya ada apa, Siwon-ah? Pagi ini terasa aneh sekali..”

“Mereka benar-benar mencarimu, Hae. Mereka mengincarmu..”

“Eh?”

Siwon segera menarik Donghae dan Eunhyuk untuk masuk ke dalam kelas. “Aku tak ingin kau pergi ke sembarang tempat karena mereka benar-benar mencarimu, ingin mengadilimu karena berhasil membuat nama Kibum dikenal di kantor polisi!”

“Jadi yang tadi itu benar-benar penyamaran? Siswa diperempatan tadi adalah mereka yang mencariku?”

Eunhyuk mengangguk membenarkan. “Siwon bahkan rela membeli banyak kacamata agar tidak hanya dirimu yang menyamar dan nampak mencolok..”

Donghae menganga. Seserius itukah?

“Aku penasaran, memang apa yang akan mereka lakukan padaku jika mereka menemukanku?”

“Jangan pernah mencoba hal nekat, Hae..”

Donghae mengibaskan kedua tangannya tak peduli. “Aku tidak tahu ada masalah apa di antara kalian. Permusuhan abadi sekolah mereka dengan sekolah kita, itu apa? Sedang masalah di kantor polisi kemarin adalah masalahku dan Kibum. Hanya dengan Kibum!”

“Tapi Kibum-“

“Bagian dari sekolah mereka? Aku tahu. Untuk itu aku ingin sekali bertemu dengan mereka dan bertanya langsung!”

Siwon dan Eunhyuk meneriaki nama Donghae yang tak kunjung menyahut mereka. Donghae tak peduli dan mulai memasuki kelasnya, belajar seperti biasa..

Disaat jam istirahat berbunyi, Donghae mengambil pakaian olahraganya di dalam loker, karena tepat setelah jam istirahat adalah pelajaran olahraga. Tepat saat ia membuka pintu lokernya, ia menemukan sebuah pesan disana. Lama Donghae mematung sendirian. “Sedalam apa kalian tahu aku!” gumamnya sambil meremas kertas di tangannya.

“Kami harap kau tidak macam-macam! Datang tepat pukul 8 nanti malam!”

Donghae melihat jam di tangannya. Masih lama untuk menempuh waktu yang telah dijanjikan. Ia kini masih berada tepat di depan gerbang kediaman Leeteuk, berharap dapat menemui penghuni rumah tersebut siapapun itu, dan akan lebih bagus jika Kibum yang ditemuinya.

Kibum..

Kibum..

Kibum..

Donghae terus saja berharap, hingga wajah Kibum tepat berada tak jauh darinya. Anak itu masih mengenakan seragam sekolahnya bersama Kyuhyun di sampingnya. Ada getar ragu di hati Donghae, mengenai kejadian kemarin. Donghae menyiratkan keraguan, ketakutan akan pertemuan yang sekarang. Mungkin..

Ia takut kedua saudara itu membenci dirinya sekarang. Bahkan senyum Kyuhyun tak nampak seramah biasanya. Dengan keberanian yang tersisa Donghae menyambut kedatangan keduanya, dengan sedikit membungkuk. “Kalian.. kalian baru pulang?”

“Hm,” balas Kyuhyun singkat. “Hyung sudah lama disini?”

Donghae mengangguk pelan. Ada senyum hangat ia beri untuk Kyuhyun, balasan atas sapaan Kyuhyun yang tak di duga olehnya. “Maaf mengganggu waktu kalian, aku hanya ingin..”

“Masuklah dulu..” sela Kyuhyun.

Donghae memandang ke arah Kibum dengan ragu, lalu menggeleng pelan. “Ada yang ingin aku bicarakan terutama denganmu, Kibum-ah..”

Kyuhyun menatap iba pada Donghae. Ia telah mengetahui sedikit masalah Kibum, perihal kebencian Kibum terhadap Donghae. “Masuk dulu, hyung. Tak baik bicara di luar..”

Kibum berdehem. “Tidak perlu, masuk Kyu!” titah Kibum tanpa mampu dibantah, tepatnya nada tajam itu memang terdengar tak ingin dibantah. Ia lalu memandang dingin ke arah Donghae. Mulutnya belum berucap sebelum Kyuhyun benar-benar masuk dan menutup pintu pagar rumah mereka.

“Aku..”

Kibum buru-buru menoleh pada Donghae setelah Kyuhyun masuk ke dalam. “Aku tak ingin dengar apapun, dan aku tak peduli lagi padamu!” ucap Kibum cukup tegas.

“Tapi banyak sekali hal yang ingin kuucapkan padamu..”

“Tidak perlu!”

Donghae mencelos. Hatinya seperti tertohok, sakit sekali. Seberat itukah salahnya? Membuat orang tua Kibum meninggal, membuat nama Kibum tercetak jelas di salah satu laporan kepolisian. Donghae merasa dirinya jahat sekali. “Kibum dengar, aku..”

Brak!

Pintu telah tertutup tanpa menyisakan celah kecil saja bagi Donghae. Kesempatan itu seolah tidak ada. Donghae sangat sangat kecewa. Ia menyandarkan tubuhnya pada pagar itu dan lalu berjongkok sambil membenamkan tubuhnya pada kedua lututnya. Ia menangis.. lagi..

Kibum mendapati Leeteuk datang di sore harinya. Tepatnya sore menjelang malam. Matahari hampir tenggelam kala itu dan hari mulai meredup. Tapi, kepulangan Leeteuk kali itu nampak sedikit muram. “Kibum-ah..” sapanya langsung pada Kibum. “Hyung ingin bicara padamu sebentar saja, boleh?”

Kibum mengangguk kemudian.

Leeteuk bahkan belum duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia meraih kedua pundak Kibum untuk dia pegang, mengapit tubuh Kibum. “Donghae masih di luar..” ucap Leeteuk perlahan. Sesuai dugaannya, Kibum tak hendak merespon sedikit saja.

“Hey..” panggil Leeteuk.

Kibum yang semula ingin mengalihkan arah pandangnya, kembali menatap Leeteuk. “Dia menunggumu. Dia ingin meminta maaf padamu, hyung harap kau mau menemuinya sebentar saja..”

“Aku..”

“Kau boleh tak memaafkan hyung, tapi maafkanlah Donghae. Dia tak pernah membuat kesalahan itu, dia..”

Kibum nampak sebal. Ia menepis kedua tangan Leeteuk di bahunya, dan tanpa bicara langsung berjalan ke luar rumahnya untuk menuruti apa kata hyungnya, menemui Donghae. Kibum sempat mengira Donghae sudah pulang. Tapi, ia melihat sosok Donghae tak jauh darinya. Sepertinya Donghae benar-benar menunggu hingga detik tersebut.

Kibum berdecak. Jika Donghae pulang, tidakkah kata-katanya itu hanya bualan? Donghae tak benar-benar berniat meminta maaf? Tsk. Kibum akan kembali masuk ke dalam rumahnya, namun sebelum itu, ia menemukan kertas yang telah terbagi ke dalam beberapa bagian. Tulisan bertinta merah dengan tanda yang, Kibum mengernyit, dia seperti menghafalnya. Maka Kibum memungutnya dan membawanya ke dalam rumah.

Cerita terus berputar. Entah mengapa ada begitu banyak hal yang mengganggu pikiran Donghae akhir-akhir ini. Memikirkan keberadaan orang-orang yang berada di sekitarnya membuatnya sedikit sakit kepala, terlebih Donghae tak pernah mendapati masalah sepelik saat ini.

Bahkan untuk pertama kalinya ia menempatkan diri di tempat yang penuh akan dentuman musik keras. Penuh akan wanita-wanita dewasa berpakaian seksi nan menggoda, namun tak menggugah seorang Donghae, yang masih terbilang di bawah usia untuk melihat yang seperti itu.

Donghae hanya fokus pada orang yang menjadi tujuannya pergi ke tempat tersebut. Ada sekelompok anak yang kemudian Donghae hampiri. Ia berusaha untuk tegar dan menjadi orang kuat.

“Kau datang juga!”

“Aku.. aku hanya ingin bertanya apakah Kibum..”

“Dia saudara kami semua tentu saja. Itulah mengapa kami menjadi marah karena kau membuat namanya terdaftar dalam catatan kepolisian!”

Donghae telah mendapatkan jawabannya. Tapi ia belum mengerti mengenai arti ‘saudara’ disini. Nampak samar dan berlebihan. “Lalu apa mau kalian? Aku yakin Kibum tak ingin berada bersama orang-orang seperti kalian!” yakinnya.

“Sayangnya dia sudah terikat dengan kami..”

Donghae menelan kecut ludahnya. Sedikit banyak ia tak mengerti, duh.. tapi ia berpura-pura mengerti dan berakhir dengan tindakan yang bodoh. “Aku ingin melepasnya dari kalian. Bagaimana caranya? Akan aku lakukan apapun. Agar kalian yakin bahwa masalah kemarin adalah salah faham saja. Bahkan aku dan Kibum adalah teman dekat..”

“Teman dekat? Jika benar, maka kami harus memberikan Kibum sedikit pelajaran..”

“Huh?”

Salah satu di antara mereka sedikit menarik kerah kemeja Donghae. “Itu sudah menjadi aturan kami, tahu!”

“Tapi bukankah kita akan melakukan perjanjian? Lepaskan Kibum, dan jangan libatkan ia tentang apapun lagi!” bujuk Donghae.

“Kau yakin?”

Donghae nampak bergetar di tempatnya. Orang-orang itu menyuguhkan banyak botol minuman keras di hadapannya. “Minum ini semua, jika kau berhasil, maka kami akan melepaskan Kibum!”

Secepat kilat Donghae membulatkan matanya. Jangankan meminum, bahkan Donghae tak pernah melihat minuman seperti itu. Tapi dia sudah terlanjur berani mengambil tindakan bodoh tersebut, bukan? Seperti apapun hasilnya nanti, Donghae fikir dia telah berusaha.

Dengan rajin mereka bahkan membukakan botol-botol itu untuk Donghae. Minuman itu telah siap minum, dan Donghae mulai meneguknya perlahan. Seketika wajahnya mengernyit merasakan sensasi aneh, terasa panas dan menyengat menyentuh tenggorokannya. Ia tak tahan, namun mereka-mereka itu mencekoki dirinya begitu keras.

Sempat Donghae ingin menangis. Ia sempat pula terbatuk-batuk dengan wajah mulai memerah. Ia mulai merasakan efek mabuk tersebut. Pandangannya mulai tak jelas dan rasa pusing segera menderanya. Namun disela-sela rasa berat yang menghantam kepalanya, Donghae mengingat, mengapa ia harus melakukan ini semua??

“Kau adalah penyebab segalanya!”

Donghae kalap. Rasa bersalahnya terhadap Kibum tiba-tiba saja hadir..

“Gara-gara kasus kemarin nama Kibum terdaftar di salah satu laporan kepolisian..”

Donghae menangis di tengah cegukannya. Ia lagi-lagi merasa buruk, mengingat betapa hidupnya menyusahkan orang lain. Dan kenapa harus Kibum?! pemikiran terakhir, bersamaan dengan jatuhnya botol terakhir di lantai. Donghae tak mampu lagi menahannya. Ia segera tak sadarkan diri..

Setelah menyusun kertas-kertas itu, Kibum menjadi resah melihat isinya. Sebuah janji bertemu, ajakan bertemu yang ia yakin itu untuk siapa dan dari siapa. Roman wajahnya mengeras. Kini ia tengah berlarian di jalanan aspal bahkan tanpa memakai alas kakinya. Waktu telah lebih 20 menit dari yang dijanjikan, sehingga ia nampak cemas luar biasa. Mungkin saja telah terjadi apa-apa disana dan ia tak mampu mencegah apapun itu..

Kibum tak lagi memikirkan apapun terkecuali sebuah tempat yang ditujunya saat itu. Sebuah bar yang seperti dihafalnya. Bergegas ia masuk dan bergumam semoga ia tidak terlambat.

Namun ia mencelos tatkala melihat semuanya. Ada tawa puas diiringi bunyi benda pecah, karena satu gelas terlepas dari tangan Donghae. Donghae yang telah jatuh tak sadarkan diri dengan kepala yang bertumpu, tergolek lemah di atas meja. Kibum menggeram. “Apa yang kalian berikan padanya?! Apa yang kalian lakukan padanya?!”

Seolah secepat kilat, semua telah terjadi. Kibum telah kembali dengan membawa tubuh lemas Donghae dalam gendongannya. Bersama menembus malam yang gelap. Kibum panik, karena apapun yang menimpa Donghae saat ini adalah karena dirinya. Kesalahan yang sebenarnya tak sengaja ia buat. Mengapa semua menjadi terbalik???

TBC

Maaf lamaaaaaaaaaaaaaaa.. x))

Chapter ini husus Chul sama Hae aja ya sama Bum sepertinya? Itu benar. Maaf saya tak bisa munculin karakter mereka masing-masing dalam porsi yang sama. Tiap chapter pasti berbeda. Maaf ya. Heu. :’))

Ada yang mengganjalkah di chapter ini? Silahkan curahkan pada saya. Oh untuk yang komentar-komentar? Yang sekedar baca? TERIMA KASIH!!!! :* Kalian penyemangat saya, sungguh.. Heu.. omen lagi jangan kapok ya? HaaHaaHaa..

Oh iya.. ada brothership fantasy saya simpen di FFn, hutang baru saya :3 disini jika kalian mau baca ya, ^^
>>TWO MOON’s <<

54 thoughts on “-NOTHING BETTER [8]-

    sofyanayunita said:
    Maret 2, 2014 pukul 3:17 pm

    annyeong … cerita nya bagus eonni . aku suka kibum yg ngelindungi kyu .kekekeke~~
    lanjut eonni , jangan lama-lama yaa . aku menunggumu .

    kim icha said:
    Maret 11, 2014 pukul 3:35 pm

    wuah aku ketinggalan part yg ini, di tunggu next partnya, daebakk!!🙂

    TeukHaeKyu said:
    Maret 28, 2014 pukul 2:39 am

    akhirnya baca chapter ini juga XDDD,… saya bakal baca estafet ini >.<

    btw, kalo Author-nya penggemar KiHae ya gini nih XDDDD

    wkwkwk,.. saya lanjut baca dulu yeeeyyyy~

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 2, 2014 pukul 1:03 pm

    kejutan seperti ‘aku mengidap
    penyakit mematikan, hyung ..’ « ngakak pas part yg itu😀
    ini mkin kereeeennn eonnieeee…
    semoga Bum sdkit dmi sdikit bisa nerima Hae.. oh Hae.. kau jgn dtg ketempat itu lg syg😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s