-NOTHING BETTER [9]-

Posted on

“Kita dilahirkan dari darah yang sama. Itu tak akan pernah bisa kau bantah. Hubungan darah, tidak akan pernah hilang meskipun kau menginginkannya..”

[CHAPTER 9]

Suara tiap tetesan infus begitu mengalun pelan terdengar. Seiring dengan hembusan pelan nafas seorang Heechul, bagai seseorang yang tertidur. Padahal kedua matanya terjaga. Hanya saja dia terdiam, dengan tak melakukan banyak pergerakan, juga bibir yang terkatup rapat.

Meskipun matanya begitu sayu nan sendu, menandakan bahwa kedua mata itu lelah, namun ia tetap memaksakan untuk terjaga. Sesekali jemari miliknya meremas jemari milik seorang lain yang kini tengah tertidur dengan wajah sakitnya. Heechul seperti kehilangan rasa kantuknya jika mengira-ngira, apa yang tengah dirasakan adiknya itu? Mengeluh dan mengerang sakit akan demam tinggi yang dideritanya.

Merasa tak banyak yang bisa dia lakukan, Heechul mendengus tertahan. Ia membawa jemari Donghae untuk merapat pada wajahnya, hanya untuk merasakan seberapa tinggi panas yang diderita adiknya itu lewat punggung tangannya. Kedua mata ia rapatkan kemudian. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Bermula dari kabar yang ia dengar dari Leeteuk beberapa jam yang lalu.

“Donghae di rumah sakit. Terjadi sesuatu padanya, Heechul-ah..”

Leeteuk tidak tertidur juga, padahal waktu hampir menunjukan pagi. Sudah menapaki pagi hari, dan ia masih saja bergerak gelisah, berjalan-jalan kecil di dekat sebuah jendela. Sebuah handphone terselip di jemarinya, dan sesekali ia melihat ke arah luar jendela, dimana pemandangan gelap terpampang disana. Seolah menanti hadirnya seseorang, seolah ada kabar yang ditunggunya.

Merasa lelah, Leeteuk menjatuhkan dirinya di sofa. Sejenak ia menutup kedua matanya. Bukan untuk tertidur, hanya saja bayangan beberapa jam lalu masih terngiang jelas di kepalanya. Donghae! Dia.. ahh.. Leeteuk mendesis pelan.

Malam tadi Kibum datang dengan tergesa-gesa sambil memanggil-manggil dirinya. Merasa terkejut, karena sebelumnya Kibum tak pernah memanggil dirinya seperti itu, segera dirinya menangkap sesuatu yang buruk sedang terjadi. Dirasa dari gerakan cepat Kibum yang menimbulkan berbagai bunyi keras dari rasa paniknya.

Hyung, tolong aku! Dia.. dia..”

“Ada apa ini? Donghae kenapa?”

Tentu saja Leeteuk panik kala itu mendapati Kibum pulang sambil menggendong Donghae. Kedua tangan Donghae nampak terkulai lemas begitu saja seperti tak bertenaga lagi. Kepalanya tertunduk dalam dan bersandar di bahu Kibum. “Dia kenapa, Kibum-ah! Demi Tuhan, dia kenapa?!” dirinya segera memekik panik sambil membantu Kibum menjatuhkan perlahan tubuh Donghae di sofa.

Setelah lepas dari beban tubuh Donghae, Kibum segera menyambar gelas di atas meja dan meneguk habis isinya. Nampak sekali keringat di wajah yang selalu bisa menyimpan cemasnya itu. Cemas yang saat ini terlihat dari tetesan keringatnya.

Sedang dirinya, Leeteuk, segera memeriksa tubuh Donghae, takut ada luka-luka disana. “Dia kenapa?” bisik Leeteuk lebih tenang, setelah mengetahui tak ada luka mengerikan di tubuh Donghae. Hanya saja wajah Donghae memerah, dan Leeteuk, “ugh!” dia mengernyit saat mencium bau alkohol yang begitu pekat di mulut Donghae. “Dia… “

“…mabuk?” tanyanya ragu sambil melirik tak percaya pada Kibum.

Masih sangat jelas Leeteuk melihat Kibum membuang arah pandangnya sambil mendengus. Tapi sikap itu membuat Leeteuk menangkap sesuatu. Ada alasan lain mengapa Donghae bisa mabuk, karena setahu dirinya “hyung yakin Donghae tak pernah bisa minum!”

Kibum hanya bergerak kaku, merasa serba salah dan beranjak setelah melihat Kyuhyun di ambang pintu dengan selimut tebal yang melingkar di tubuhnya. Anak itu terbangun karena suara ribut-ribut yang ada. “Ada apa ini?” ucapnya belum menyadari kehadiran Donghae yang tertidur di sofa mereka.

Tanpa bicara lagi, Kibum menghampiri Kyuhyun. Dengan sedikit paksaan ia mengambil selimut di tubuh Kyuhyun. Gerakannya cukup cepat untuk memindahkan selimut itu dari tubuh Kyuhyun dan memindahkan tugasnya untuk menghangatkan tubuh lain. Dan dia..

“Hyung! Dia kenapa!” Kyuhyun tercekat sambil menutup mulut dengan telapak tangannya. Matanya membulat. Ia mulai mendekat. “Dia baik-baik saja, kan?” cemasnya kemudian. Namun dengan cepat Kibum menariknya.

“Tidur lagi, Kyu! Ini sudah larut sekali. Kau bisa kedinginan!”

Kyuhyun memicingkan matanya. “Memangnya siapa yang baru saja menarik selimutku baru saja, huh?!” dengusnya. Tapi dibalik ketus di wajahnya itu, ia tak melawan disaat saudara kembarnya itu menariknya menuju kamar mereka.

“Pakai selimutku saja! Lebih harum daripada punyamu..”

Kyuhyun seketika menghentakan kakinya. “Selimut itu dicuci di waktu yang bersamaan! Kau saja yang sedang beralasan! Jika menolong orang, jangan setengah-setengah, Kibum!” cibir Kyuhyun. “Aku tahu kau terlalu enggan untuk berkata bahwa kau tengah menolongnya, mencemaskannya,” simpul Kyuhyun.

“Kau tahu apa! Cepatlah tidur lagi!” ketus Kibum sambil mengubur Kyuhyun dengan selimutnya.

“Tunggu dulu!” cegah Kyuhyun, lalu kepalanya kembali menyembul dari balik selimut. Kedua matanya menatap Kibum serius. “Donghae hyung kenapa? Aku tahu persis kau tidak akan sembarangan menolong orang..”

Keduanya terdiam beberapa saat, hingga Kyuhyun memilih terduduk diam di sisi ranjangnya. Kyuhyun menjadi was-was dibuatnya. “Apapun yang terjadi padanya, bukan karena kau kan, hyung?” ucap Kyuhyun pada Kibum, hyungnya tersebut. Serius, dia sangat serius, dan Leeteuk mengupingnya di sisi pintu kamar kedua adiknya yang terbuka itu. Leeteuk mendengar semuanya. Mendengar cerita kedua adiknya dengan seksama..

Tersisa Leeteuk yang terjaga masih di malam yang sama. Dini hari tepatnya, saat dimana ia dikejutkan dengan Donghae yang mengerang dalam tidurnya, berikut batuk-batuk yang nampak cukup serius. Saat itu, Leeteuk yang tengah merenung menjadi terkaget-kaget, bahkan ketika melihat Donghae hampir terjatuh di atas sofa.

“Hya.. Hae, Hae!” panggil Leeteuk. Ia bisa melihat butiran keringat dingin yang mulai mencuat di balik permukaan kulit-kulit Donghae. Leeteuk membantu menyeka keringat tersebut. “Kau merasa pusing? Mual? Kau ingin minum?”

Leeteuk melihat Donghae yang kebingungan, bertanya ada apa? dirinya ada dimana? Hingga kedua tangan Donghae menekan perutnya sendiri. Wajahnya mengernyit sakit, lalu kemudian anak itu melesat cepat ke arah pintu luar. Pintu terbuka dengan mudah karena Leeteuk membantunya.

Tebakan Leeteuk adalah, Donghae tak mengetahui kamar mandi mereka dan kehilangan waktu untuk bertanya ketika sesuatu begitu berdesakan diperutnya. Ia berfikir luar ruangan adalah tempat yang tepat untuk memuntahkan semua isi perutnya. Penyakit orang yang mabuk, inilah perkiraan awal yang tak terlalu dianggap serius oleh Leeteuk.

Donghae nampak berjongkok di sisi lantai dan memuntahkan cairan-cairan itu di rerumputan. Sepertinya udara dinginpun tak dipedulikannya, begitupun Leeteuk yang mengurut tengkuk Donghae. Berdua, mereka melawan dingin itu..

Lama. Lama sekali muntah-muntah itu berlangsung, hingga Donghae kelelahan dan hanya mampu bersandar di dada Leeteuk sambil sesekali mengerang, menahan sakit diperutnya. Leeteuk menjadi cemas. Orang mabuk tidak berlebihan seperti itu. “Kau baik-baik saja?”

Donghae menggeleng frustasi, dan sedikit menangis. Ia menekan perutnya kuat-kuat, dan bibirnya ia gigit untuk menahan sakitnya. Tak juga ia bicara. Ia tak juga pingsan namun dibuat lemas oleh sakit perutnya. Satu tangannya beralih, dimana jemarinya mencengkram kuat piyama Leeteuk.

“Oh- Hae! Kita ke rumah sakit saja!” panik Leeteuk. Ia bangunkan Kibum dan mengutarakan maksudnya untuk membawa Donghae ke rumah sakit. Dan entah mengapa kali ini Kibum menurut saja. Padahal Leeteuk tahu benar bagaimana Kibum terhadap Donghae. Meski Kibum menahan kepergiannya.. “aku tak ingin hyung meninggalkan Kyuhyun,” cegahnya saat itu. Cukup tegas dan Leeteuk merasa harus menurutinya untuk kali ini.

“Baiklah, bawa dia ke rumah sakit. Hyung akan menghubungi Heechul. Kurasa ia kehilangan Donghe sejak semalam.”

Berakhir dengan penantian panjang Leeteuk hingga pagi kemudian karena Kibum tak kunjung pulang dan tak memberinya kabar pula. Inilah salah satu alasan mengapa Leeteuk terjaga semalaman penuh. Ia kembali mencemaskan Donghae, seperti dulu..

Heechul menutup pintu ruang inap Donghae. Ia hendak keluar dan menyegarkan dirinya setelah menjaga Donghae hingga pagi benar-benar menjelang. Baru saja ia akan meregangkan otot-ototnya, ia terpaku pada sosok Kibum yang masih ada di tempatnya. “Kau, kenapa masih disini, huh?!” cetus Heechul.

Kibum mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. “Apa dia baik-baik saja?”

Heechul berdecak tak percaya. “Kau menanyakan keadaannya sekarang? Untuk apa? Ingin mentertawakannya setelah ini, hn? Aku akan bertanya pada hyungmu nanti mengenai apa yang terjadi. Kau-!” tuding Heechul pada Kibum. “Yang jelas kau yang membawa Donghae kemari dalam keadaan keracunan minuman keras! Jangan pernah mencoba lari sebelum aku mengetahui kebenarannya!”

Kibum hanya tersenyum tipis. “Apa kau melihatku lari sekarang?”

Wajah Heechul mengeras menahan amarah. Tangannya terkepal erat menunjukan betapa ia marah. Namun karena beberapa alasan, karena mereka berada di rumah sakit, karena Heechul masih menghormati Leeteuk, dan juga karena Kibum mau membawa Donghae ke rumah sakit, Heechul berusaha menyimpan marahnya.

“Aku hanya ingin tahu kabarnya saja, setelah itu aku akan pulang..”

Heechul menahan kesalnya. Ia tak mungkin memarahi Kibum dan menyalahi niat baiknya itu. Lagipula semua belum jelas adanya, mengenai apa yang terjadi. Dan juga Heechul memikirkan hal yang lain, yang membuatnya sebal. Itu adalah karena Kibum, bocah yang menurutnya menyebalkan itu adalah adik dari Leeteuk, orang yang disegani olehnya. Maka mau tak mau, Heechul tak boleh memperlakukan Kibum semaunya.

“Baiklah,” putus Heechul. “Kau lihat sendiri ke dalam, dia masih tidur..” ucapnya. Dapat dilihatnya Kibum mengangguk kecil, dan lalu berlalu memasuki kamar rawat Donghae. Heechul menggerutu, “kau lebih bagus saat diam rupanya, bocah!” gumamnya sambil berlalu dengan beberapa tujuan di pagi tersebut.

Pertama adalah untuk menemui seorang dokter yang semalam tadi menangani Donghae. Ia ingin bertanya, “apakah Donghae benar-benar keracunan alkohol? Jika itu benar, apa berarti dia mabuk? Dia meminumnya?”

Sang dokter hanya tersenyum. “Kita belum tahu jika tidak bertanya langsung padanya, kan? Sepertinya ia minum dalam jumlah yang sangat banyak semalam..”

Heechul menatap miris ke arah sang dokter. “Dia tidak pernah minum, aku yakin itu!” ucapnya dengan sedikit ketakutan, seperti tak yakin jika melihat apa yang sedang terjadi kini. Donghaenya benar-benar dalam keadaan mabuk.

Ada tepukan pelan dari pria paruh baya di hadapannya, dan Heechul mendongak. Ada hembusan nafas yang terdengar resah. “Yang terpenting dia baik-baik saja sekarang,” ucap sang dokter.

Dalam gerakan pelan Heechul menutup pintu ruangan dokter yang baru saja ditemuinya itu. Sedikit ia usap wajahnya. Lelah. Tak pernah terlintas dipikirannya bahwa akan terjadi hal-hal semacam ini menimpa Donghae. Berjuta tanya hinggap di benaknya. Ia ingin melihat Donghae segera terbangun dan menanyakan banyak hal, namun.. satu deringan ponsel seakan mengingatkan dirinya bahwa, ia tak sendiri. Masih ada banyak cara untuk mengetahui apa yang terjadi …

“Kau sudah bangun?”

Donghae baru saja membuka kedua matanya dan mengerjap perlahan. Bola matanya bergerak-gerak mengitari apa yang bisa dilihatnya. Hanya itu yang bisa ia lakukan semenjak merasa sekujur tubuhnya sakit dan juga terasa kaku. Kepalanya berdenyut sakit meski ia masih bisa menahannya.

“Apa perlu aku memanggilkan dokter untukmu?”

Ada suara, namun Donghae masih belum bisa mengenali suara itu. Semuanya terasa berdengung, dan Donghae masih berusaha untuk terjaga seutuhnya. Mencoba menarik nafas, padahal setiap tarikan nafas itu semakin membuat tubuhnya berdenyut sakit. Ia merasakan sesuatu mendekat, hingga ada wajah yang ditemuinya. “Ki-“ ia tercekat kemudian.

“Ya, ini aku..” ujar Kibum memotong.

Donghae mencoba menggerakan bibirnya yang kering dan memucat itu. “Kau disini?” ucapnya dengan serak namun nampak sekali binar bahagia disana. Perlahan jemarinya bergerak dan hanya berhasil memegang ujung baju yang Kibum kenakan. “Terima kasih.. kau..” Donghae mencelos. Kibum mengabaikan tangannya, bahkan menyingkirkan tangan itu untuk tak menyentuh Kibum sedikit saja.

“Aku hanya memastikan kau tidak mati, itu saja! Satu hal, aku tak pernah memintamu melakukan apapun untuku lagi! Jangan bersikap seolah kau sedang membujuku untuk berbaik hati padamu, aku.. aku akan tetap seperti ini!”

Donghae hendak menangis namun ditahannya sekuat mungkin. Ia berusaha untuk bangun. Ia melihat Kibum akan segera pergi. “Tunggu sebentar,” cegahnya. “Tunggu Kibum!” pintanya. “Aku tidak tahu seberapa besar kau membenciku..”

Kibum melirik..

“Maafkan aku, atas kesalahanku.” tutur Donghae. Sejenak ia menggigit bibirnya untuk menahan sakit di tubuhnya, juga untuk menahan tangisnya. “Untuk semuanya. Aku bersalah padamu, aku tahu aku bersalah. Aku telah membuat orang tua kalian meninggal. Aku ingin meminta maafmu. Kumohon, apapun yang kau minta, apapun yang kau ingin akan kulakukan..”

“Apapun?” tanya Kibum tiba-tiba. Ia segera berbalik untuk menghadap ke arah Donghae. “Kau tahu apa yang aku inginkan? Yang kuinginkan adalah, jauhi kami. Jangan pernah mencoba untuk muncul lagi di hadapan kami, terutama Leeteuk hyung! Jangan pernah kau mencoba untuk mengambilnya lagi!” sentak Kibum, dalam nada rendah namun cukup tajam. Tatapan tajam mata Kibumpun seolah tak ingin putus oleh tangis Donghae.

“Kau tahu bagaimana rasanya saat harus melihat orang tersayang kita meninggalkan kita, huh? Kau tahu bagaimana sakitnya aku ketika orang tuaku tiada? Kau pernah merasakannya?!”

Deg..

Deg..

Donghae berhenti terisak seketika. Ia memegangi dadanya dan seketika pandangannya menjadi kosong tak berarti. Kata-kata Kibum seperti terlalu menyakitkan. Terlebih disaat Kibum pergi begitu saja, menyisakan hening untuknya.

“Saat orang tuaku tiada?” gumamnya tiba-tiba. “Kenapa? Kapan? Aku tidak tahu, Kibum..” lirihnya, padahal Kibum sudah tak lagi bersamanya untuk mendengar jawabannya. “Aku tidak tahu!” jeritnya tertahan. Seketika ia menekuk kedua lututnya, membenamkan wajahnya disana, lalu menangis..

“Heechul-ah..

Heechul menoleh dan menyambut Leeteuk di depan rumah sakit. Memang cukup lama Heechul meninggalkan Donghae bersama Kibum. Suara dering ponselnya adalah panggilan dari Leeteuk tadi..

“Bagaimana? Dia baik-baik saja?”

Hanya anggukan ragu yang Heechul berikan setelahnya. “Maaf aku memintamu untuk datang, padahal kau harus bekerja,” Heechul meminta maaf..

“Tidak apa. Aku memang akan menjenguk Donghae sekarang. Umh.. apa Kibum ada? Aku harus menyuruhnya sekolah, karena Kyuhyun sudah menunggunya disana. Kami tak bisa meninggalkan Kyuhyun sendirian di luar rumah..”

“Kibum sedang bersama Donghae. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu sebelum kau menemui Kibum. Ada hal yang ingin aku tanyakan. Apa kau sudah sarapan? Bagaimana jika kita berbincang di tempat lain?”

Kibum melangkahkan kakinya perlahan, begitu pelan. Seharusnya ia tertawa puas, atau setidaknya tersenyum karena orang yang dibencinya, Donghae telah meminta maaf padanya, bahkan memohon! Menyesal atas perbuatannya. Seharusnya ia merasa senang dan puas.

Tapi tunggu..

Mengapa wajah Kibum tak menunjukan demikian?? Wajahnya itu, bahkan lebih murung dari sebelumnya. Ia merundukan wajah di tiap langkahnya. Seperti orang yang tak ada kerjaan dengan menghitung langkahnya sendiri. Padahal, ada banyak hal yang membuatnya tak fokus seperti saat ini.

Saat sebuah jendela ia lewati, Kibum mendongak dan menatap wajahnya sendiri yang terpantul disana. Ada raut wajah kebingungan disana. “Aku tidak salah! Dia bersalah! Dia..” lirihnya sambil memejamkan kedua matanya.

“Kami akan menjemput hyungmu, jaga Kyuhyun..”

“Maafkan hyung Kibumie, Kyuhyunie, hyung belum bisa pulang..”

Sesaat kemudian ia kembali membuka matanya dan melihat dirinya sendiri. “Kau memang bersalah! Semua karenamu!” desisnya bersamaan dengan sorot mata yang kian melembut, menyesal..

Tergambar bayangan saat Donghae menangis, memohon untuk meminta maafnya, bahkan bukan hanya sekedar kata ketika Donghae berujar ia rela melakukan apapun asal maaf itu ia dapat. Donghae telah membuktikannya tadi malam. Kibum hafal benar apa yang dilakukan Donghae untuknya. Lalu harus bagaimana sekarang Kibum bersikap??

Heechul dan Leeteuk hanya terdiam di tiap langkah mereka. Setelah berbincang di cafe rumah sakit beberapa menit lalu, Heechul menjadi lebih diam.

“Kukira kita harus melaporkan masalah ini pada sekolah masing-masing terlebih dahulu, Heechul-ah. Ini bukan masalah kecil. Bagaimana jika mereka menyakiti Donghae lebih dari ini?”

“Mereka juga melukai adik-adikmu. Disini bukan hanya masalah Donghae saja, hyung.. tapi menyangkut banyak pihak. Entah masalah mereka seperti apa, tapi jika sudah begini, aku harus kembali melapor pada polisi!”

Leeteuk berhenti berjalan serta menghentikan langkah Heechul dengan memegangi lengannya. “Jangan!” tukasnya. “Kau harus tahu bahwa masalah Donghae kali ini adalah karena kau melaporkan nama Kibum pada polisi! Ingat? Meski aku yakin bukan Kibum. Mereka membalaskan dendamnya untuk Kibum, emh.. aku minta maaf untuk hal ini..”

“…”

“Mereka butuh pengertian. Jangan kita gertak dengan keras, Heechul-ah.. atau mereka akan berbuat lebih dari ini..”

“Tapi hyung, kelakuan mereka sudah melebihi batas!”

Hanya senyuman lembut yang Leeteuk berikan. “Untuk itulah kita harus membicarakan ini dengan pihak sekolah, agar kita tahu apa yang sebaiknya dilakukan.”

Heechul tiba-tiba saja terdiam ketika melihat wajah serius Kibum hadir di ujung tangga yang akan dia jajahi bersama Leeteuk. Wajah Kibum tak seperti tadi pagi. Nampak berantakan dan terlihat marah. Tatapan Kibum lurus mengarah pada Leeteuk di sampingnya, dan Heechul melirik ragu ke arah Leeteuk. “Dia..”

“Kenapa hyung kesini? Kyuhyun?”

Leeteuk tersenyum meski kaku ia rasa. “Hyung kesini untuk mengajakmu pergi sekolah, karena Kyuhyun sudah menunggu disana,” terang Leeteuk. Ia menjadi sedikit cemas saat dilihatnya Kibum memicingkan matanya. “Baiklah, hyung kemari sekalian ingin melihat keadaan Donghae..” jujurnya.

“Untuk apa? Dia sudah baik-baik saja. Kenapa kau tak mencemaskan Kyuhyun sama sekali? Kau tahu Kyuhyun tak boleh pergi sekolah tanpaku!” ketus Kibum. Ia bergegas pergi meninggalkan Heechul dan Leeteuk, setelah sebelumnya ia tubruk sedikit bahu kedua hyung tersebut.

Leeteuk menjadi ragu, untuk lanjut menjenguk Donghae, ataukah harus menyusul Kibum? Keduanya tahu Kibum tengah marah. Jelas sekali mereka marah, dan titik masalahpun sudah jelas sejak kemarin, mengenai kebencian Kibum pada Donghae, terutama pada hyungnya sendiri. Kibum terlampau sulit dimengerti dan sulit untuk mengerti, sedang Leeteuk berada dalam posisi sulit.

Sedang Heechul mencoba untuk tersenyum. “Susul dia, hyung. Donghae baik-baik saja. Kau boleh menjenguknya kapan-kapan,” putusnya. Ia sadar, tahu dan akan memaklumi apapun yang dilakukan Leeteuk. Lagipula, dirinya adalah satu-satunya orang yang lebih berpengaruh untuk Donghae, saudara kandungnya. Tapi benarkah??

Heechul membuka pintu kamar rawat dan mendapati Donghae sudah terbangun, terduduk di atas ranjangnya. Kepalanya bersandar pada kaca jendela, dan Donghae nampak fokus menatap pemandangan di bawah sana, yang Heechul fikir, tak ada yang indah selain kendaraan yang memadati jalanan.

“Sudah lama bangun?”

Heechul terdiam menunggu jawaban Donghae. Donghae bahkan tak bergeming sedikit saja untuk menanggapi pertanyaannya. Heechul menjadi cemas dibuatnya. Ada yang baru disadarinya. ‘Kemana tatapan manja milik Donghae? Mengapa bibir tipis itu tak merengek seperti biasanya?’ batin Heechul.

Segera Heechul beri sentuhan agar Donghae tersadar akan kehadirannya. Ia usap surai Donghae yang sedikit berantakan. Heechul mengusapnya lembut, dan lalu Donghae menoleh padanya. “Ada sesuatukah? Atau kau marah karena saat terbangun hyung tak ada di dekatmu, hn?”

Donghae menggeleng dan nampak bingung..

“Lalu kenapa kau begini? Jangan membuatku cemas lagi!” desak Heechul. “Kenapa? Kenapa kau seperti habis menangis?” tuntut Heechul. Ia membawa Donghae untuk bersandar di dadanya. Donghae belum juga mengatakan sesuatu. “Masih ada yang sakit? Sakit sekali? Ingin hyung panggilkan dokter, atau-” Heechul menghentikan katanya setelah Donghae meremas bajunya.

Hyungie..” lirih Donghae hampir berbisik.

“Hm?” tanya Heechul..

“Aku tak ingin sendirian,” ucap Donghae tiba-tiba. “Aku benci, jika ada yang membenciku! Aku tak ingin begini, tolong aku..” isak Donghae. Tubuhnya bergetar dalam pelukan sang hyung..

“Kau tidak sendiri, Hae. Kau tidak sendirian..”

“Bohong! Aku tidak ingin dibenci. Aku.. aku merasa buruk! Aku tidak mau seperti ini!”

Heechul bergerak cemas. Meski banyak kata menenangkan darinya, namun jauh di dasar hatinya, ia lebih cemas dari apapun, bahkan dari gundah Donghae yang kini menangis di pelukannya. Donghaenya berbeda. Entah mengapa dan ada apa, hingga satu hal mencuat dan membuat Heechul merasa kesulitan untuk bernafas sebentar saja..

“Hyung, apa aku pernah bertanya padamu? Mengapa aku tak ingat kenapa appa dan eomma meninggal?”

Kibum tengah menemani Kyuhyun mengisi atap sekolah mereka, seperti biasa. Mereka terbaring sambil menatap langit terang di atas sana. Awan putih sesekali hadir di antara langit biru tersebut. Terdorong-dorong angin di atas sana silih berganti. Begitu terang hari tersebut, dan pasangan kembar itu nampak menikmati.

Dengan kepala bersandar di antara kedua lengan yang ia lipat di belakang kepalanya, Kyuhyun memejamkan matanya. Bibirnya tersenyum lembut dan nafasnya terdengar mengalun nyaman. Beberapa detik ia habiskan untuk melakukan hal yang sama.. “Kibum-ah..

Kibum berdehem. “Terakhir kali kau memanggilku, hyung,” peringatnya. Diam-diam nampaknya ia banyak menuntut. Tsk..

Kyuhyun mengerling. “Kau lebih tua dariku beberapa detik saja, Kibum! Ayolah! Jangan seperti itu!” dengusnya, dan mendapat tawa tertahan dari mulut Kibum. Ia menggeser kakinya, lalu ia tumpangkan kakinya di atas kaki Kibum. “Rasakan!” usilnya.

Kibum tak bergeming. Ia membiarkan kaki Kyuhyun menindih kakinya. Tak ada masalah sepertinya, seberat apapun itu. Ia tak bergeming sama sekali dan mulai memejamkan kedua matanya.

“Kibum-ah.. apa yang kau fikirkan?” tanya Kyuhyun tiba-tiba setelah beberapa detik lalu ia melihat wajah Kibum dari sisinya. “Kau.. seperti menyimpan banyak hal dariku, bahkan sejak dulu..” ungkapnya. Satu helaan nafas nampak lebih jelas. “Sebenarnya aku ingin bertanya sejak dulu. Mengenai sikapmu terhadap hyung, sikapmu terhadapku, semua pasti memiliki alasan, kan? Mengapa sulit sekali menebak jalan pikiranmu, padahal kita kembar!”

Tak ada jawaban. Kyuhyun melihat Kibum masih memejamkan matanya dan rambutnya bergoyang-goyang seiring angin yang menerpanya. Kyuhyun tahu Kibum tidak tidur dan mendengarkan setiap ucapannya dengan seksama.

“Aku senang kau begitu melindungiku! Bukan salahku jika aku selalu menjadi yang paling lemah. Kuharap kau tidak bosan untuk menjadi pelindungku, hingga suatu hari aku tak lagi hidup dan menjadi bebanmu. Aku senang menjadi bebanmu. Aku tidak menyesal!”

Kibum mulai membuka kedua matanya..

“Apa kau heran, kenapa aku baru mengatakannya sekarang?” ucapnya setengah tersenyum. Ia tahu Kibum mulai menyambut tiap ucapannya. “Mungkin ini waktu yang tepat. Kita sudah dewasa. Aku dan juga kau. Bukankah itu artinya Leeteuk hyung menjadi tua sekarang?”

Kibum tersenyum tipis..

“Apa kau sadar berapa usia hyung sekarang? Apa kau tahu usianya?” tanya Kyuhyun kemudian. Ia lalu menoleh ke arah Kibum dan menatap Kibum yang juga tengah menatapnya. “Yang aku rasakan selama ini adalah, kau mengabaikan hyung kita, Kibum..”

Senyum Kibum memudar perlahan.

“Aku sudah cukup bahagia dengan kita selama ini. Ada kau dan juga hyung bersamaku. Tapi.. apa kau merasakan hyung di dekatmu?” tutur Kyuhyun. “Bukan karena hyung yang tidak ada, tapi kau tak menerima keberadaannya..”

Kibum merubah posisinya, berguling ke arah lain untuk memunggungi Kyuhyun. Namun itu tidak pernah terjadi karena Kyuhyun segera menarik kemeja Kibum. “Jika kau berbalik, berarti kau bersalah!” ancam Kyuhyun dalam nada yang cukup ringan, sedang Kibum mendengus dan merubah posisinya menjadi terduduk.

“Kenapa? Semenjak orang tua kita meninggal, sejak itu pula hyung kembali pada kita, tapi kau seperti itu padanya. Aku melihat semuanya, dan aku bersedih untuk hal ini,” Kyuhyun berujar sendu. “Apa.. semuanya hanya karena Donghae hyung?”

“Aku tak ingin membahasnya!”

Kyuhyun menggeleng keras. “Tidak! Aku ingin ini selesai, Kibum. Sampai kapan kau hidup dengan kebencian itu? Donghae hyung tidak salah sepenuhnya, meski sekarang aku tidak yakin. Hati kita selalu sama!”

“Kau membencinya?”

“Aku tidak tahu! Aku tak ingin membencinya, tapi hati ini selalu marah setiap kali kau terluka ketika melihatnya. Aku tidak ingin melihatmu bersedih dan marah hanya karena kehadirannya, aku tidak ingin begini! Kumohon jangan begini lagi, Kibum.”

“Semua akan membaik jika dia tak ada lagi di hadapan kita..”

Ada lagi gelengan dari Kyuhyun. “Bukan dengan cara itu! Bukan!” kilahnya. “Tidakah itu akan menunjukan jika kau adalah seorang pengecut?”

“Kyuhyun..”

Kyuhyun tersenyum kemudian. “Hentikan, Kibumie. Hentikan semua ini. Bunuh kebencian itu. Aku yakin, Donghae hyung bukanlah penyebab semuanya. Jikapun benar, ini adalah sesuatu di luar sadarnya. Ia tak pernah sengaja dan tak pernah menginginkan ini semua terjadi..”

“Melihat wajahnya saja bahkan aku tidak bisa! Lihat tingkah manjanya. Kau tak lihat? Ia bisa membuat hyung kembali peduli padanya dan melupakan kita! Aku tidak ingin itu terjadi. Aku tidak ingin dia mengabaikanmu! Kau butuh dirinya!”

“Kau juga,” potong Kyuhyun. “Kau membutuhkan hyung, aku juga membutuhkanmu..” ucap Kyuhyun. Setitik air mata mulai jatuh membasahi wajahnya. “Kita dilahirkan dari darah yang sama. Itu tak akan pernah bisa kau bantah. Hubungan darah, tidak akan pernah hilang meskipun kau menginginkannya, jelas?”

“Sekalipun Leeteuk hyung peduli pada Donghae, tapi aku yakin dia tidak akan pernah melupakan kita. Buang pikiran burukmu tentang itu, Kibumie. Semua akan terasa ringan. Lagipula, tidak setiap menit Donghae hyung akan membayangi kita, kan? Donghae hyung tak seburuk seperti apa yang kau bayangkan..”

Kibum benar-benar di ambang sabarnya. Buru-buru ia bangkit dan sempat menepukan kedua tangannya yang kotor karena debu. Ia akan beranjak, tak sadar Kyuhyunpun bergerak di belakangnya. Ia tak tahu apa yang dilakukan Kyuhyun hingga anak itu berteriak saat jarak mereka mulai terbentang cukup jauh.

“Jika kau tetap keras kepala, aku akan melompat dari sini!”

Seperti tersengat listrik, sontak Kibum berbalik kemudian. Matanya menatap ke arah Kyuhyun dengan sangat sangat tajam. Baru ia akan menghujat Kyuhyun, tapi wajah memelas Kyuhyun membuat amarahnya terlupakan seketika. “Berani kau melompat?!” desisnya.

Kyuhyun menggaruk kepalanya. “Aku harus melompat untuk mengambil sepatuku,” ucapnya dengan tawa samar di bibirnya.

Kibum menoleh dan mendapati sepatu Kyuhyun tersangkut di dahan pohon di samping gedung yang atapnya mereka pijak kini. Kening Kibum mengernyit tak mengerti. Sejak kapan sepatu Kyuhyun ada disana? Namun tanpa banyak bertanya lagi ia segera membantu Kyuhyun untuk mengambil sepatu tersebut.

Kyuhyun tersenyum. Saudara kembarnya itu tidaklah tahu, jika ia sengaja melempar sepatunya kesana. Untuk apa? “Akan lebih baik jika kau terus bersamaku. Tak usah lagi menemui teman-temanmu yang nakal itu! Kau sudah tak lagi terikat pada apapun, karena Donghae hyung juga, kan?”

“Donghae-ya!”

Eunhyuk datang dengan senyumnya, bersama Siwon seperti biasa. Boneka di tangan kiri, dan juga bunga di tangan kanan, Siwon merasa dirinya adalah tamu terpenting siang itu. Namun Heechul menyambut mereka dengan tangan menyilang di dada dan mengernyit hebat.

“Kenapa bawa boneka? Kau pikir Donghae anak kecil?” dengus Heechul pada Siwon. Ia lalu menarik benda lain di tangan Siwon, sebuket bunga. “Lalu, kau pikir Donghae wanita, huh? Singkirkan semua barang itu, Siwon-ah..”

Siwon berjengit hebat. “Hyung!! Mengapa kau jahat seperti itu! Memang barang apa yang pantas dibawa untuk orang sakit? Sepedah?!”

Eunhyuk hanya tertawa hebat. Ia memberikan ucapan hebat pada Heechul yang membuat kawannya sebal setengah mati. Dan bukan Eunhyuk jika tak mengusili Donghae. Maka ia berniat menghampiri Donghae, namun..

Beberapa detik berlalu, Siwon dan Eunhyuk tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka seperti tidak melihat Donghae yang biasanya. Anak itu hanya terbaring padahal kedua matanya jelas terjaga. Donghae seperti tenggelam di dunianya sendiri, dan hanya memainkan selang infus yang bahkan masih tersambung ke tangannya.

“Hae-“

Heechul hanya menarik ke atas jari telunjuknya, menyimpan itu di bibirnya, memberi arti pada keduanya untuk tidak terlalu banyak bicara. “Donghae benar-benar sedang butuh istirahat. Dia lelah setelah muntah semalaman. Haha..” Heechul bercerita setenang mungkin, berbanding terbalik dengan raut murung Siwon dan Eunhyuk.

“Sebenarnya Donghae sakit apa? Hae, kau sakit apa, Hae?” Eunhyuk mencoba mendekat dan akan menarik ujung selimut Donghae jika saja tak dicegah Heechul.

“Aku baik,” tukas Donghae tiba-tiba, namun tatapan matanya entah kemana, dan Heechul berdebar melihat perkembangannya. “Kalian tidak benci padaku?”

Siwon terpaku akan perubahan sikap kawan baiknya tersebut. “Apa yang kau bicarakan? Kami kesini ingin menjengukmu, kenapa kau berkata yang tidak-tidak?” tutur Siwon, dan Donghae hanya mengangguk. Hanya anggukan lemah saja, sedang Siwon dan Eunhyuk semakin terheran-heran dan siap menghujani Donghae dengan banyak pertanyaan.

Heechul segera menengahi. “Donghae harus beristirahat. Lagipula dia sudah baik-baik saja. Besok sudah diperbolehkan pulang. Umh.. kalian boleh menjenguknya lagi esok hari, ya?”

“Tapi hyung..”

Dengan terpaksa Heechul mendorong keduanya untuk segera keluar dari ruangan. Ia mencegah keduanya melontarkan pertanyaan-pertanyaan bodoh yang malah akan membuat keadaan Donghae semakin memburuk..

Buruk. Seburuk apa??

Terbukti ketika hanya tinggal Heechul yang menangis sendirian di balik pintu. Bahkan Donghae saja tak menyadari sang hyung tengah menangis karena dirinya sibuk bersenandung kecil sendirian. “Hyung, aku ingat dulu ibu sering memberiku lagu ini sebelum tidur..”

Diam-diam Heechul menangis sambil mengangguk, mengiyakan tanya Donghae padanya baru saja..

“Leeteuk hyung, bisa kau datang lagi kemari? Donghae benar-benar membutuhkanmu!”

Sesungguhnya yang terjahat adalah dirinya yang tak pernah menepati janjinya. Kibum mengepalkan erat tangannya. Menatap penuh kebencian pada lengan yang kini menahan tubuhnya, memojokan tubuhnya ke dinding.

“Maaf, bukan tak ingin menepati janji. Tapi.. anggap saja janji itu tidak ada. Toh tak ada bukti sama sekali, kan?”

Mereka yang berkisar enam orang itu tertawa terbahak-bahak melihat Kibum yang hanya terdiam di posisinya. Kibum menghafal wajah-wajah itu. “Apa maksud kalian?”

Salah satu di antara mereka maju untuk menggantikan temannya  menekan tubuh Kibum. “Kita tetap satu sekolah, kan? Kau tetap teman kami. Bagaimana mungkin kau membela dia yang lemah itu, dan menurut padanya. Atau, kau benar-benar akan menjadi tak peduli pada kami karena perjanjian bodoh semalam? Masa bodoh jika dia sekarat!”

Kibum menepis tangan itu kasar. “Aku tidak peduli pada pejanjian kalian! Dan aku tak ingin lagi terlibat apapun! Dia tak ada hubungan sama sekali denganku. Jangan ganggu hidupku. Hutangku malam itu, akan segera aku bayar!”

“Kau pikir semudah itu?! Jika kau ingin lepas dari kami, pindah sekolah saja. Kami tidak mungkin mengabaikan apa yang menjadi bagian dari kami..”

“TAPI KALIAN MENYAKITI KYUHYUN! Bahkan berulang kali, apa artinya melindungi bagian dari sekolah ini, huh?” serang Kibum.

“Untuk menekan kekuatan kami, tentu saja..”

Kibum mendengus. “Aku bukan senjata kalian!”

“Tapi kami membutuhkanmu, Kibum-ah..

“Tidak lagi!” kecam Kibum. Ia akan pergi, namun pintu yang berada di dekatnya terbuka keras tiba-tiba. Dari dalam ruangan itu muncul temannya yang lain, bersama Kyuhyun dalam dekapannya. Tunggu..

Mata Kibum melebar. Sejak kapan ia berpisah dengan Kyuhyun hingga Kyuhyun berada dalam sekapan mereka? Kibum berjengit kaget karenanya. Hanya berpisah saat pelajaran terakhir berlangsung mengingat mereka berbeda kelas. Kibum merasa lengah.

“Jangan membuatku marah!” peringat Kibum masih dalam nada rendahnya. “Lepaskan dia, atau..”

“Atau apa?”

“Akh,” Kyuhyun memejamkan erat matanya ketika sadar tubuhnya diseret menuju ujung tangga dalam keadaan miring, karena sebagian besar tubuhnya berada dalam kuasa tangan yang kini memeganginya. Sekali saja tangan itu melepasnya, maka jatuhlah ia. Rasa sesak mulai berdatangan dan berdesakan di dadanya.

Kibum melihat satu orang di sisi kirinya dengan ujung matanya. Saat orang itu lengah Kibum mencengkram dan menarik kerahnya..

BUGH..

BUGH..

Dengan cekatan Kibum menarik orang lain ketika orang pertama telah jatuh. Kibum kalap, dibutakan rasa cemasnya akan Kyuhyun.

BUAGH..

Kakinya menendang dagu lawannya. Ia menyerang membabi buta, namun sayangnya teriakan Kyuhyun yang ketakutan semakin membahana. Disayangkan pula seluruh penghuni sekolah telah meninggalkan gedung sekolah siang itu.

“Aa- aaaaah!” teriak Kyuhyun merasa ia akan jatuh sebentar lagi.

Merasa setiap pergerakan yang dilakukannya akan membahayakan Kyuhyun, Kibum segera menarik diri dan menguasai dirinya. Ia berdiri tegak namun nampak gusar. Orang-orang yang dibuatnya tumbang kembali berdiri meski tertatih. Ada tawa keji di bibir mereka yang bahkan telah dibuat sobek oleh Kibum.

“Sudah cukup bermainnya!”

BUGH..

Satu pukulan dan Kibum merasa dunianya berputar. Pukulan itu telak mengenai pipi kirinya, namun tak pula membuatnya jatuh sedikit saja. Darah segar segera mengalir di sudut bibirnya, dan Kibum kehilangan rasa sakitnya saat melihat Kyuhyun meronta. Ia tahu Kyuhyun tengah mencemaskan dirinya.

BUGH..

Satu lagi di pipi kanan, dan Kibum kehilangan fokusnya. Tapi ia tak juga jatuh, terutama semenjak dilihatnya Kyuhyun mulai kesulitan bernafas. Ia terlalu terkejut dengan apa yang terjadi, Kibum tahu dan ia ingin segera mengakhiri semuanya. Namun tak semudah seperti yang dibayangkan. Satu orang menarik kerahnya.

“Kau memang kuat! Jika ingin Kyuhyun selamat, maka kau harus menjadi bagian kami di pertarungan lusa..”

“Huh?”

“Ada tawuran bersama musuh kita lusa nanti. Kau harus datang dan habisi mereka semua. Kami akan membawa Kyuhyun kesana..”

Kibum membulatkan bola matanya. “Jangan pernah berani membawa Kyuhyun!” sentaknya, namun semua percuma. Ada pisau kecil siap menghantam leher Kyuhyun jika ia semakin berontak. Kibum menggeram frustasi.

“Kyu..” lirihnya. Ia melihat Kyuhyun bahkan sudah kesulitan bernafas. Tapi Kyuhyun sempat melihatnya dan tersenyum ke arahnya sambil mengangguk untuk menenangkan. Bohong! Mana bisa Kibum tenang selama Kyuhyun diculik dengan kesehatannya yang memburuk?! Tapi Kibum tersadar. Kyuhyun masih menggendong tasnya. Kibum tahu obat Kyuhyun disana. Itulah mengapa Kyuhyun masih bisa tersenyum padanya, dan memberikan tatapan ‘semua akan baik-baik saja! Lakukan apapun yang terbaik..’

Leeteuk memandang langit yang entah sejak kapan menjadi mendung. Debaran jantungnya berdesir tak nyaman. Ia baru saja mendapat panggilan dari Heechul yang memintanya untuk mengunjungi Donghae sambil menangis. Ia sedikit takut, takut terjadi sesuatu pada Donghae.

Saat turun dari taksi di depan rumah sakit itu, lagi-lagi Heechul menyambutnya. Ada senyum, namun kedua mata Heechul menunjukan bahwa dia menangis. “Kau baik-baik saja? Donghae baik-baik saja kan?” panik Leeteuk.

Heechul sedikit tersenyum. “Semua baik. Sungguh..”

“Lalu ada apa?”

Heechul tak menjawab. Ia menyerahkan dua buah kotak berukuran sedang terbungkus rapih. “Ini tersimpan rapih di mobil dan sepertinya Donghae melupakannya. Ini milik Donghae. Dia membelinya, hadiah untuk Kibum dan Kyuhyun katanya..”

Leeteuk tersenyum. “Terima kasih,” ujarnya. Tapi, hanya satu kado yang diambilnya membuat Heechul mengernyit heran.

“Kibum tak suka jika kita mengingat hari ulang tahunnya..”

“Kenapa?”

Sekali lagi Leeteuk tersenyum. “Ia bilang, ia tak ingin mengambil separuh kebahagiaan Kyuhyun. Walaupun sedikit. Ia memintaku untuk melupakan, bahwa hari ulang tahun mereka jatuh di hari yang sama..”

Angin sore membelai wajah Leeteuk. Debaran jantungnya semakin bergerak membuatnya tidak nyaman. Ia menjadi sedikit resah, terlebih disaat menerima hadiah yang adalah untuk Kyuhyun. Ia berfikir, terjadi sesuatukah? Pada Donghae? Kibum? Atau Kyuhyun??

Hyung ayo cepat masuk. Donghae menunggumu..”

TBC

Oo-

Oo-

Sudah cukup? Masih ada yang rancu? Soal ulang tahun, saya akui SAYA LUPA!! *jedotinpalaHaeketembok.. Tapi sudah saya ‘eksekusi’ kan? Semoga tidak aneh ya, :p

Terus apa lagi ya? Ucapan terima kasih tentu saja, :’)) masih ada yang baca, masih ada yang nunggu, ini saja sudah membuat saya lega dan senang!! Apalagi yang ikutan komentar. Waaahhh~ telima kacih ceman-ceman ku telcayang! :3

Memang dasarnya saya ingin buat FF ini panjang, maka konfliknya juga tidak fokus ke satu aja ya, konfliknya apa weee yang biasanya terjadi di kehidupan seperti biasa. Semoga kalian gak pusing dan gak bosan sama ceritanya ya.. ^^

Sampai bertemu di chapter depannyaaaa~ kapan-kapan! Hhaa~

58 thoughts on “-NOTHING BETTER [9]-

    AinKyu said:
    Maret 17, 2014 pukul 9:19 pm

    happy ending kan akhirnya? kibum n kyuhyun… ahhh…..

    Jakyu said:
    Maret 20, 2014 pukul 10:36 am

    Ahhhhh…
    Knpa aq bru nemu ff ini skrg ya?
    Aq bru bca,n komment di chap ini…
    Ff brothership nya bgus bnget,brasa asli gtu,feel nya juga dapet…
    Aduh smoga kyu nya gak knapa2 tuh,tp jgn smpai kibum juga ikut tawuran tsb…
    Lanjut ya onnie.

    elsha said:
    Maret 22, 2014 pukul 1:29 am

    kyaa pleng suka ma ff brothership pa lg kibum ama kyuppa… daebaak deh pkoknya
    dtnggu klnjutnya…

    hyo ae said:
    Maret 23, 2014 pukul 11:03 am

    makin nyesek aja eonn …
    kasihan donghae, kyuhyun dan semuanya…

    ok lanjutan’a jgn lama2 ya eonn
    fighting

    TeukHaeKyu said:
    Maret 28, 2014 pukul 3:12 am

    sejujurnya saya malah nggak sadar yang waktu ultah Kyuhyun kemaren,..

    saya malah lupa kalo mereka kembarrr *doeeeenggg

    baru sadar di eksekusi-nya di sini XDDDDD

    unordinaryidea said:
    April 3, 2014 pukul 11:24 pm

    Really surely good…recommended brothership story…bener bener bikin sebel klo updateny gak cepetan…kebayang-bayang mulu soalny….cepet update ya kak ..

    casanova indah said:
    April 14, 2014 pukul 5:25 pm

    whuaaa.. aq telat,, dah lama bgt publish tp baru liat skrg…😥
    Donghaeee.. malang nian nasibmu nak,, udah keracunan alkohol gt, msih jg dibenci ama kibum
    ttp disalahin mulu…
    Sayang bgt kibum dah prgi tuh pas Donghae jg histeris ttg ortu’a..
    Eh iyya emang ortu HaeChul blm prnh dibahas ya..
    penasaraaan ama yg terjadi pd kyubum..
    capcus yuuukkkk…🙂

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 2, 2014 pukul 1:49 pm

    Kasihan Hae jd stress gtuuu…😥
    Dy mmg bukan wanita chul ah hnya sja dy lbh mnis dr wanita😀
    Masalah Kibum mkin pelik saja.. pindah sekolah aja biar aman.. n tlg jgn bnci Hae lagiiiiii😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s