-NOTHING BETTER [10]-

Posted on

Ada begitu banyak hal.

Tidak rumit, tapi sulit untuk dipahami.  Ingin mencoba menebak??

[CHAPTER 10]

“Bodoh!”

Siwon hampir menamparkan telapak tangannya pada pipi Eunhyuk yang kini tengah menundukan wajah di hadapannya. “Kenapa kau malah menantang mereka, Hyuk! Demi Tuhan, kau memperumit semuanya!” desis Siwon. Berulang kali ia mengoyak kasar rambutnya sendiri.

Sedang Eunhyuk mengepal erat tangannya. “Mereka menyakiti Donghae! Mereka yang membuat Donghae sakit, bagaimana mungkin aku diam saja?!”

Lagi dan lagi Siwon menekan amarah yang berkecamuk di hatinya. Tangannya mengepal kuat namun ia tak akan pernah berani memukul atau bahkan menampar Eunhyuk, sahabat terdekatnya selain Donghae. Berakhir dengan satu cengkraman kuat di kedua bahu Eunhyuk. Ia menatap Eunhyuk serius.

“Sudah sejak lama perkelahian ini tak pernah terjadi setelah kejadian terakhir, Hyuk. Hingga detik ini semua cukup aman. Bayangkan jika hal serupa harus terjadi! Aku tak ingin membuat hyungku bersedih di langit sana..” lirihnya.

Tak ada yang mengetahui bahwa Siwonlah yang paling memendam pedihnya. Mungkin Eunhyuk tahu?? Karena ekspresi di wajahnya mengatakan demikian. Ia terhenyak mendengar kalimat terakhir Siwon. Ia hafal benar, ia sahabat Siwon bahkan persahabatan itu telah terjalin lama dibanding pertemuan mereka dengan Donghae.

“Siwon-ah.. bukan maksudku mengungkit kejadian itu, maafkan aku, aku hanya.. aku-“

“Sudahlah!” tukas Siwon, cukup lembut dan memaksa tersenyum. “Tidak mungkin kita menarik tantangan itu. Kita hadapi bersama dan jika bisa, kita selesaikan urusan ini lusa nanti! Aku tak ingin pertikaian ini terus berkepanjangan! Semoga mereka mau mendengar kita..”

Eunhyuk terpaku menatap Siwon. “Sejak kapan kau menjadi sedewasa ini?” binarnya.

Siwon mendesis tak suka. “Aku belajar dari Donghae!” ujarnya cepat.

Donghae menatap coklat itu dan menggeleng pelan. Jemarinya perlahan menarik coklat itu menjauh. Tatapannya memandang lurus ke arah Leeteuk di depannya. Penolakan yang terlampau halus, namun menyiratkan ragu dan sakit di tiap gerakannya.

“Kau tidak mau?”

Tak ada jawaban. Donghae menjatuhkan dirinya di ranjang tersebut. Merubah posisinya menjadi terbaring dan lalu mengubur pelan dirinya dalam selimut. “Hyung pulang saja,” ucapnya serak dan pelan. Kata itu adalah sebuah pengusiran halus, namun dibalik nadanya tidak terdengar demikian. Ada ketidakrelaan di pelannya suara tersebut.

“Kau yakin tak ingin hyung temani?”

Kembali tak menuai jawaban, karena Leeteuk bahkan tak bisa melihat Donghae yang menggeleng pelan dalam selimut tersebut. Ia menarik kembali sebatang coklat berbungkus cantik, coklat yang sangat diyakininya, dulu Donghae sangat sangat menyukainya. Ia simpan coklat itu di salah satu sakunya, lalu ia menarik jemarinya untuk mengusap helaian rambut Donghae. “Apa kau sangat lelah, hn? Kau ingin tidur?” ucapnya.

Oh! Leeteuk tertegun saat Donghae menggerakan tubuhnya untuk menjauh bahkan hanya dari usapan telapak tangannya. Tidakkah ini aneh? Leeteuk segera bertanya, “kau, ada apa? Kau marah pada hyung?”  Sungguh wajah Leeteuk berubah gusar saat ini. Tak biasanya Donghae menolak kehadirannya seperti ini. “Katakanlah,” desakan halus keluar begitu saja.

Kembali Donghae menggerakan tubuhnya. “Aku.. aku ingin … sendiri..” ucap Donghae mengambil jeda untuk tiap kata, berbisik halus meski masih dapat terdengar.

“Begitu?” lirih Leeteuk, lalu ia mengambil sedikit nafas yang terdengar tersendat. “Baiklah- baik, hyung mengerti. Hyung akan kembali lagi nanti, ya?” tuturnya sambil sekali lagi mengelus surai Donghae, belum ingin menyerah rupanya. Ia lalu mengambil langkahnya menuju pintu, meninggalkan Donghae dalam senyap.

Tidakkah Leeteuk tahu?

Donghae tengah meremas erat ujung selimutnya. Bibirnya bergetar seperti menahan sesuatu, hingga benda itu bergerak lemah mengantarkan satu untaian kalimat entah bermaksud apa. Ia katakan “jangan kembali saja, jangan..” diiringi tangis kemudian. Ia terisak pilu sendirian, ditemani tirai yang melambai-lambai tertiup angin yang berhembus dari sela jendela yang sedikit terbuka.

Donghae sungguh tak pernah menyangka bahwa dirinya serapuh itu. Sungguh ia tak ingin menghabiskan waktunya sendirian dan sangat senyap, ini sangat menakutkan baginya. Ruangan yang redup karena jendela tertutup tirai berwarnakan putih tulang itu seolah mendukung sepi yang ada. Suara hembusan angin..

Donghae bergetar..

Ia segera meringkuk rapat-rapat di atas ranjang rumah sakit tersebut. Ia bahkan telah lupa untuk meletakan sandaran kepalanya di atas bantal dengan baik. Ia peluk rapat-rapat selimut tipisnya. Ia sangat ketakutan, terlebih..

Tik..

Tik..

Tik..

Suara detik jam dinding memperburuk keadaan. “Huhuhu..” Donghae mulai menangis lebih kencang, tak tahan jika harus melawan ketakutannya lebih lama. Ia tak pula meminta pertolongan seolah hanya tinggal sendirian di bumi ini, padahal ia menjerit keras dalam hatinya. Hari yang buruk..

Kibum melangkah gontai di antara orang-orang yang sama dengannya, tengah melewati jalanan saat dimana kendaraan bermesin tengah memberi mereka jalan. Kibum adalah satu-satunya orang yang nampak kacau di antara mereka semua. Ada jejak air mata di wajahnya, yang dalam waktu yang sama itu, seperti ada amarah yang juga menguasai wajah tersebut.

Begitu pelan langkahnya, begitu senyap. Kehadirannya seolah tertelan orang-orang di sekitarnya, namun roman wajahnya seolah yang paling mencolok. Perlahan ia menengadahkan wajahnya ke atas langit yang gelap. Benar, sudah gelap namun ia kebingungan untuk menentukan tujuan langkahnya kemudian.

Kemana? Pulang? Tanpa Kyuhyun?

Kibum tersenyum miris. Ia sudah sepenuhnya menyebrangi jalanan, dan perlahan terlepas dari bayang-bayang orang yang tadi satu iringan bersama langkahnya. Ia mulai terlihat, menembus malam sendirian, hingga..

Bruk..

Tanpa sadar Kibum menjatuhkan tas yang tadi berada dalam gendongan sebelah pundaknya. Kibum seperti tidak peduli seolah tas itu tidaklah berharga lagi. Membiarkannya tergeletak begitu saja di atas aspal. Biar saja..

Kibum tak bisa pulang dengan tubuh penuh luka. Kibum tak berani pulang tanpa Kyuhyun. Apa yang harus dikatakan olehnya pada Leeteuk sebagai alasan? Penculikan? Pecundang sekali dirinya, tapi Kyuhyun mungkin butuh dirinya yang pecundang untuk saat ini?!

Perlahan Kibum merapuh. Seperti tak mampu lagi menahan rasa kesalnya, ia menjadi lemas. Ia berjongkok kemudian dan memendam wajah di antara lututnya, lalu berteriak keras dan menangis disana. Tak peduli akan tatapan orang-orang yang menatapnya begitu aneh. Mungkin sebagian mengira Kibum gila.

“Makan sedikit lagi saja, ya?”

Heechul tengah menemani Donghae malam itu. Ada perkembangan dari diamnya Donghae sejak beberapa jam yang lalu. Ia sedikit berbicara, sedikit tersenyum pula. Heechul merasa adiknya mulai kembali sehingga tak ada cemas berlebihan yang mengganjal di hatinya. Tapi satu hal lagi..

Donghae makan sedikit. Hanya beberapa suap, padahal Heechul tahu benar hari ini Donghae termasuk jarang menyentuh makanan. Apa karena pengaruh mabuknya beberap waktu lalu?

“Aku sudah kenyang..”

“Tapi hanya beberapa sendok saja, Hae. Sedikit lagi!” desak Heechul.

“Tidak!”

Cukup tegas dan Heechul sempat menahan nafasnya. Ia tak ingin menyinggung Donghae barang sedikit saja. Takut takut jika Donghae menangis lagi, dan ketakutan seperti apa yang dilihatnya tadi siang, tepatnya sepulang Leeteuk menjenguk. Didapatinya Donghae tengah menangis ketakutan di atas ranjang pasiennya.

“Oke! Baik hyung mengerti..” tandas Heechul. Ia mencoba tersenyum lalu menyerahkan coklat. “Setidaknya kau makan coklat ini saja. Ini akan memberimu sedikit tenaga, ne? Aigoo~” decak Heechul sambil membuka bungkusan coklat tersebut. “Lihat! Cium harumnya, Hae! Hyung tahu kau begitu menyukai makanan yang satu ini..”

Donghae terpaku pada penampilan si coklat. Bentuknya dan tampilan bungkusnya, Donghae hafal benar. Maka dari itu, bukan menanggapinya dengan sebuah binar bahagia, ia memalingkan wajahnya. “Aku tidak mau!” tolaknya.

Heechul mencelos. Nampak sekali raut kecewa di wajahnya. “Kenapa? Kau menyukainya bukan?” ucapnya untuk meyakinkan. Ia melihat dengan jelas bagaimana Donghae menolak pemberiannya baru saja. Hal itu membuat keyakinannya memudar. Heechul kembali merasa buruk di hadapan adiknya sendiri.

“Kau tidak mau?” ucapnya lagi. Ia gigit sebagian coklat itu, ia telan bersamaan dengan rasa kecewanya hingga coklat yang manis itu terasa pahit di lidahnya. “Hae kau benar tidak mau?” tanyanya lagi, lalu Donghae menggeleng yakin.

Dunia begitu berbeda dalam pandangan sepasang mata tiap manusia. Tiap detiknya mereka lalui dalam keadaan berbeda, menempuh jalan hidupnya sendiri. Seperti saat ini, detik mengalir, mengalun pelan seperti biasanya.

Leeteuk tengah meremas jemarinya. Cemas menantikan kehadiran kedua dongsaengnya yang tak kunjung pulang padahal waktu sudah sangatlah malam. Bukan diam saja, ia telah berulang kali memeriksa keberadaan keduanya. Sejak kepulangannya dari  menjenguk Donghae siang tadi, ia terheran mendapati keadaan rumahnya yang senyap tak seperti biasanya.

Memang benar, ternyata kedua saudaranya belum pulang. Ia kira mereka belum pulang dari sekolah mereka, karena tak ada terpajang sepatu sekolah dan tas mereka dimanapun di tiap sudut rumah mereka. Leeteuk masih mengira-ngira karena tak ada satupun di antara mereka yang memberinya kabar. Begitupun panggilan dirinya yang terabaikan begitu saja.

Mulanya Leeteuk masih menunggu, hingga cemas menyerangnya saat sedikitpun kabar tak ia temui. Berulang kali ia melepas dan memakai kembali jaketnya hanya karena ingin memeriksa keberadaan Kyuhyun dan Kibum di luar sana, namun semua percuma. Mereka tak kunjung pulang, berujung dengan lamunan panjang Leeteuk kemudian. Termenung di hadapan jendela besar rumahnya yang tirainya sengaja tak ia sebarkan untuk menutupi jendela tersebut.

Leeteuk sengaja ingin melihat gelap di luar sana, berharap langkah kaki kedua dongsaengnya akan memenuhi taman beberapa detik kemudian. Ia masih menunggu, dan ia tidak tahu..

Kibum tengah meringkuk melawan dingin di luar sana. Termenung sendirian bersama malam. Terududuk di antara tangga yang tersorot sinar lampu milik mini market 24 jam yang kini halaman depannya ia huni. Tak ada tempat baginya, karena ia tak sempat berfikir tempat apa yang layak, sedang ia tahu Kyuhyun juga tak mungkin nyaman saat tersebut. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berharap Kyuhyun akan baik-baik saja hingga 2 hari ke depan, dan Kibum yakin, 2 hari ke depan akan menjadi hari yang lama untuk di tunggu. Kibum meremas jemarinya sendirian.

Sama hal seperti Heechul di tempat berbeda. Sama. Sama termenung tepat di hadapan pintu kaca yang tengah memisahkan jaraknya dengan satu-satunya saudaranya, Donghae, meski tak jua pintu kaca tersebut menghalangi pandangnya. Tak mampu menghentikannya untuk melihat Donghae yang terlelap di dalam sana sejak beberapa jam yang lalu.

Miris jika dirasa, bahkan ia merasa dirinya tak cukup mampu untuk mendekati Donghae, menghiburnya yang tengah terguncang. Terlalu takut untuk mengganggu tidur nyaman itu..

“Hhh..”

Sedikit helaan nafas Heechul hembuskan untuk menghilangkan penatnya, namun tak sekalipun ia mengalihkan pandangannya dari Donghae. Tak ingin lebih tepatnya. Ingin mengamati dan menjaga namun tak juga ingin mengganggunya. Hanya dengan cara seperti itu. Mungkin ia tak akan keberatan jika harus menghabiskan malamnya hanya untuk memandangi Donghae dari pintu tersebut. Ia tak akan lelah berdiri dan berdiri disana. Inikah bentuk kasih sayang itu?

Seharusnya Donghae lebih peka. Seharusnya Donghae lebih merindukan hyungnya daripada siapapun. Seperti Kyuhyun yang diam-diam menangis terpojok di sebuah sudut ruangan. Seragamnya telah lusuh dan ia begitu rapuh. Ia tersedu dan ketakutan. Mengingat saudara kembarnya yang lain, Kibum dan juga mengingat hyung tercintanya sungguh membuatnya gila, dan melupakan sakitnya. Padahal tak henti ia menggenggam alat bantu nafasnya. Terus ia bertahan, hanya untuk kedua orang yang disayanginya. Ia ingin kembali dan berusaha menghapus pemikiran bahwa dirinya benar-benar dalam bahaya besar kali ini. Ia percaya ia akan kembali ke rumah, bersama Kibum dan Leeteuk. Ia berusaha bertahan meski sepertinya, ia merasa semuanya terasa dingin, gelap, dan ia tak tahu lagi. Ruangan itu begitu gelap, ia tak tahu berada dimana..

“Sakit, hyung.. Kibum.. tolong aku! Aku ingin pulang.” lirihnya percuma.

Kibum merekatkan topinya, berusaha menutupi sebagian wajahnya agar tak dikenali. Seragamnya sudah kusut tak berbentuk, bahkan sudah tak lagi berwarna putih seperti biasanya. Tasnyapun demikian, tergantung layu di antara pundaknya dan penuh oleh debu. Tapi mana Kibum peduli.

Langkahnya hampir menyamai beberapa siswa yang sepertinya akan berangkat sekolah pagi itu. Matanya mencoba mengenali beberapa siswa yang dicarinya, tak peduli pada mereka yang menatapnya begitu aneh. Mungkin karena dirinya begitu kotor dan nampak mencolok. Ah, masa bodoh!

Satu target Kibum temukan. Adalah dia, siswa laki-laki yang Kibum hafal, yang juga Kibum yakini, bahwa orang ini memiliki hubungan baik dengan salah satu yang menyeret tubuh Kyuhyun kemarin. Kibum menajamkan sorot matanya yang terlampau dingin itu. Sempat ia beralih untuk memastikan keamanan di sekitarnya. Hingga dirasa cukup aman, saat mereka tak lagi dihadapkan pada keramaian, Kibum segera mendekat.

Tangannya cukup kuat untuk memenjarakan targetnya. Jemarinya ia gunakan untuk menutup mulut yang akan menjadi berisik itu. Dan meski dengan tenaga seadanya, ia mampu menyeret tubuh bugar itu menjauhi gerbang sekolah. Kibum telah bertekad, bahwa ia akan menemukan Kyuhyun sebelum waktu yang dijanjikan mereka. Meskipun ia harus bersembunyi barang sebentar..

Mata Kibum terpaku pada sebuah taksi yang sempat melintas di hadapannya. Ada sosok Leeteuk di dalam sana. Kibum meneguk ludahnya. Ia tahu Leeteuk pasti mencarinya dan juga Kyuhyun. Rasa bersalah semakin menggerogoti dirinya. Semakin memberinya kekuatan untuk segera menyeret sosok yang ada dalam genggamannya saat ini. Matilah dia!

Bahkan Kibum tak sedikitpun memberi celah pada mangsanya. Ia seret dengan melingarkan satu tangannya di leher sang musuh. Nafasnya hampir tak terdengar, dingin seperti tak menyadari seberapa buruk hal yang tengah dilakukannya saat ini. Tepat di belakang sekolah mereka, Kibum menekan tubuh itu.

“Katakan dimana Kyuhyun!” ucapnya cepat seolah tak ingin berbasa-basi.

“Jangan begini, Kibum. Kyuhyun tidak akan selamat jika mereka tahu apa yang kau lakukan saat ini padaku,” ujar si dia yang bertubuh cukup mungil, lebih kecil dari Kibum itu.

Kibum meluluh. “Kau tak mengasihani Kyuhyun?” lirihnya. “Dia sakit! Demi Tuhan berikan dia padaku!” racau Kibum. “Aku yakin kau mengetahui setiap gerik hyungmu, kan? Kau tahu kemana dia membawa Kyuhyun, Ryeowook kumohon..”

Ryeowook menghela nafas, serta menatap Kibum dengan sendu. “Aku tahu, kau percaya padaku?” ucap Ryeowook. Ia mengusap pundak Kibum dengan lembut. “Aku mengerti perasaanmu, dan aku tahu persis, Hankyung hyung tak akan menyakitinya. Dia aman, aku berjanji padamu..”

Ada sedikit sesal dan ragu yang bercampur di nafas Kibum yang berhembus perlahan. Ia belum menemukan jawaban yang puas dari tawanannya saat ini. “Aku sudah muak dengan pertikaian tak berujung ini. Aku ingin lepas. Kenapa kau tidak mengerti? Biarkan aku membawa Kyuhyun!”

“Kau pikir aku tidak sepertimu? Aku sudah sangat sering dibuat hawatir oleh ulah hyungku yang seolah ingin membunuh dirinya sendiri dengan pertikaian hebat ini. Aku selalu dan selalu merasa cemas dibuatnya. Kau pikir aku bisa apa? Dendamnya terlalu dalam. Kupikir semua akan selesai jika hyung sulungku bebas dari jeruji besi itu..”

“Aku tidak ingin mendengar hal lain selain Kyuhyun!”

“Kumohon bersabarlah hingga esok hari. Aku janji akan menjaga Kyuhyun dengan baik. Setelah pertikaian esok hari, kuharap kalian segera pindah saja, agar tak ada lagi yang mengejarmu. Aku menyayangi kalian..”

Ungkapan sayang baru yang diucapkan Ryeowook membuat Kibum diam. Ryeowook bukanlah siapa-siapa selain teman satu kelas Kyuhyun. Kibum patut untuk tak percaya seutuhnya. Karena siapa tahu..

“Jaga hyungku seperti aku melindungi Kyuhyunmu, bagaimana?” kata Ryeowook menawarkan. “Hanya esok hari saja dan semua akan selesai. Lindungi dia semampumu. Lindungi Hankyung hyung seperti yang akan aku lakukan pada Kyuhyun.”

Kibum semakin muak, namun tak juga menolak. Perlahan ia melepas cengkramannya di tubuh Ryeowook, orang yang sama saja, mementingkan egonya sendiri. Menekan orang lain hanya karena ada yang diinginkannya. Ryeowook tak sepolos seperti yang ada dalam bayangannya, dan sosok polos Donghae yang paling dibencinya saja masih lebih baik.

“Akan kuingat janjimu!”

Kibum segera berbalik dan melangkah lunglai. Sekali lagi ia mengambil keputusan untuk melepas Kyuhyun, mempercayakan Kyuhyun pada orang lain dan membuat dirinya sendiri merasa buruk. Kibum meremas pelan helaian rambutnya. Langkahnya penuh akan keraguan, tapi apa lagi yang bisa dilakukannya??

“Aku mendengarnya langsung dari adikku! Kenapa kalian tak pernah menceritakan kejadian ini? Bukankah ini sangat serius? Jika begini, aku menyesal menyekolahkan adik-adikku disini..”

“Bukan begitu. Masalah ini sudah lama terjadi. Mungkin waktu itu, kesalahan terletak pada siswa di sekolah ini. Seperti yang kau dengar, tawuran besar pernah terjadi dan-“

“Dan nyawa melayang!” geram Leeteuk. “Demi Tuhan ini adalah soal nyawa! Apa kalian melewatkannya begitu saja? Apa reputasi sekolah lebih penting? Kemana kalian membawa kasus ini dulu? Apa semua sudah ditangani sampai selesai? Kenapa adikku harus terseret dalam masalah ini!” marah Leeteuk.

“Untuk kasus dulu, salah satu siswa kami memang terbukti telah melenyapkan satu nyawa musuhnya. Tapi dia telah ditangani pihak berwajib dan hingga saat ini masih di dalam penjara. Kami minta maaf jika kami teledor dalam menjaga anak-anak didik kami, dan tak mengetahui masalah permusuhan mereka yang berlanjut berkepanjangan hingga sekarang..”

Leeteuk merebahkan punggungnya di kursi dalam posisi sedikit tak nyaman. “Maaf tapi- tapi karena kedua adikku telah hilang melebihi batas waktu tanpa kabar, aku telah melapor pada pihak berwajib. Mungkin mereka akan segera datang kemari, dan gunakanlah kesempatan ini untuk mencari apa yang sedang terjadi. Juga, jangan lupakan pihak sekolah lain yang terlibat, aku menunggu kabar kalian..”

“Terima kasih atas peringatan yang anda berikan. Akan kami selidiki segera..”

“Aku tetap akan mencari dua adikku sendiri. Hubungi aku jika kalian lebih dulu menemukan mereka..”

Krieeet..

Kyuhyun menautkan dua alisnya saat setitik cahaya menerpa penglihatannya. Meski lelah ia rasa jika harus menggerakan tubuhnya lebih banyak. Hanya kedua mata yang semakin terbuka bersamaan deru nafas yang terdengar keras. Ada bayangan hitam mendekat, sosok seseorang yang datang bersamaan dengan cahaya dari luar sana.

Orang itu lalu berjongkok agar Kyuhyun dapat melihatnya dengan jelas. “Hh? Ryeowook?” lirih Kyuhyun dengan sisa tenaganya. Ia sudah sangat lelah. Keringat dingin tak kunjung berhenti mengalir dari tiap permukaan kulitnya.

“Ini aku. Kau baik-baik saja?”

Kehangatan menerpa begitu saja ketika Kyuhyun melihat Ryeowook menyelimuti tubuhnya. Gumaman terima kasihpun terlontar dalam bisikan, bersamaan dengan bibir pucat yang perlahan tersenyum itu. Ia mengenal Ryeowook tentu saja, teman satu kelasnya dan juga Kyuhyun mengetahui siapa sosok Ryeowook, dan mengapa orang itu bisa berada di hadapannya saat ini, Kyuhyun tahu.

“Maaf jika hyung begitu kasar padamu..”

Meski samar, Kyuhyun bisa mendengar Ryeowook yang tak henti mengoceh, sama seperti saat di dalam kelas, biasanya Ryeowook memang banyak bicara. “Omo! Kau begitu dingin. Pindah saja ke kamarku, ne?”

Oh! Kyuhyun tahu kini tempat yang menyekapnya bukanlah tempat mengerikan, meski ruangan tersebut dingin dan gelap, setidaknya, jika itu adalah rumah yang masih ditempati, berarti akan terasa lebih baik. Ia merasakan banyak pergerakan di tubuhnya dibantu Ryeowook. Lebih tepatnya Ryeowook yang menyeret-nyeret tubuh lemahnya itu.

“Kita ke kamarku, dan akan kubuatkan minuman hangat..” tutur Ryeowook dengan susah payah karena iapun sedang sibuk membopong tubuh Kyuhyun. “Sakitmu kambuh? Kau bawa obatnya?”

Kyuhyun hanya mengangguk pasrah. Sejenak ia menahan lengan Ryeowook, dan dengan sisa tenaganya menoleh ke arah Ryeowook, mengutarakan keraguan atas sikap Ryeowook padanya.

Ryeowook tersenyum. “Tenang saja, hyung tak akan berani memarahiku. Kau tenang saja, ya?” ungkap Ryeowook sambil tersenyum manis. Sayang Kyuhyun terlalu janggal menanggapi senyum manis tersebut. Sayang pula ia tak bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri, salahkan kondisi tubuhnya, meski ia sempat melirik sebuah pintu yang mengantarnya beberapa saat pada pemandangan luar.

“Tapi kau tidak boleh keluar dulu, Kyu! Tunggu hingga esok hari. Kibum akan menjemputmu. Dan hingga saat itu aku berjanji akan menjagamu. Aku sudah berjanji padanya..”

Kyuhyun hanya pasrah mendengarnya, memasrahkan tubuhnya yang diseret Ryeowook begitu saja menuju ruangan lain, dan.. BLAM! Pintu depan itu tertutup rapih kembali di detik kemudian.

Donghae menatap langit di balik jendelanya. Dua hari ia lewati waktunya terkurung di rumah pesakitan, meski itu tak membuatnya merengek sama sekali. Ia tetap dalam diamnya. Tak memperhatikan Heechul yang tengah sibuk membenahi barang-barangnya di sisi ranjang yang lain.

Kedua mata Donghae bahkan berkedip begitu lambat, seolah hal sekecil itu saja terlalu malas ia lakukan. Tak ada semangat sekalipun dalam tiap prilakunya selama dua hari ini, tepatnya setelah ia tersadar beberapa waktu lalu. Helaan nafaspun begitu mengalun pelan. Tiba-tiba ada kilatan cahaya yang terpantul di balik dua bola matanya yang kian membulat, berbinar.

“Oo-!” pekiknya tanpa sadar. Jemarinya beralih mencengkram sisi-sisi jendela. Tatapannya lurus menatap ke atas langit sana.

Heechul menoleh mendengar suara adiknya yang termasuk jarang ia dengar sekarang. “Hm?” balasnya.

Bibir tipis Donghae yang masih sedikit pucat itu tersenyum kearah hyungnya. Telunjuknya mengarah kebalik jendela. “Mari berburu peri!” ucap Donghae, sedikit terdengar girang.

“Huh?”

Heechul tertegun sesaat setelah melihat apa yang Donghae tunjukan padanya. Beberapa gurat warna berbeda nampak menghiasi langit, melintang di sudut langit yang terlihat dekat, padahal ia sulit untuk dijangkau. Bias cahaya itu, adalah pelangi. Tatapan Heechul kembali mengarah pada saudaranya dan berubah sendu. “Hae..”

Donghae menunduk dalam. “Bukankah ada banyak peri yang sedang turun ke bumi melewati pelangi itu?”

Heechul menghentikan segala yang tengah dilakukannya. Ia beringsut untuk mendekati Donghae dan menangkup kedua pipi dongsaengnya tersebut dengan lembut. “Kau ingat ayah, hn?” lirihnya sambil sedikit mengangkat wajah Donghae agar menatapnya. Heechul ingat, salah satu kata penghibur dari ayah mereka tentang pelangi tersebut.

Kedua mata Donghae berkedip lebih cepat dari biasanya. Ia mencoba mengangguk sambil menahan buliran air matanya. Ada gerakan halus jemari Heechul di kedua sisi wajahnya, seolah elusan itu turut menyentuh relung hatinya. Hidungnya kian memerah menahan tangis. Kemudian ia bergerak pelan untuk lebih dekat, dekat dan lalu menjatuhkan dirinya pada pelukan Heechul. Deru nafasnya segera menerpa permukaan bahu Heechul.

“Sudah lama sekali. Disini kita tidak sering menemukan pelangi, tidak seperti Seoul,” ungkapnya pelan. Perlahan, jemarinya meremas ujung baju yang Heechul kenakan. “Aku rindu ayah dan ibu. Aku rindu Seoul. Aku ingin kembali..”

“Hae..”

Heechul mulai dapat mendengar isakan kecil Donghae dalam dekapannya. “Aku ingin pulang!” isaknya. Heechul tertegun, terdiam mendengar permintaan saudaranya tersebut. Ia mulai melepas pelukan itu.

“Kau yakin? Disana kau akan sendiri, Hae. Tak ada Siwon dan Eunhyuk. Tak ada Kyuhyun dan Kibum, juga tak ada Leeteuk hyung yang bisa menjagamu selain aku..”

Donghae menahan nafasnya. Heechul hyungnya memang benar. Tapi, ada banyak hal yang tak Heechul sadari dan tak Heechul ketahui. Donghae bersedih karenanya. Terutama..

“Kau tahu apa yang aku inginkan? Yang kuinginkan adalah, jauhi kami. Jangan pernah mencoba untuk muncul lagi di hadapan kami, terutama Leeteuk hyung! Jangan pernah kau mencoba untuk mengambilnya lagi!”

Kata-kata Kibum tempo hari, saat terakhir kali mereka bertemu sungguh mengganggu fikirnya dan juga mencabik hatinya. Donghae begitu tertekan karenanya, dan Heechul tidak tahu. Dibenci adalah hal yang tak diinginkan siapapun, terutama jiwa rapuh seorang Donghae. Tak ada yang mengetahuinya.. Donghae terluka seorang diri.

“Aku ingin pulang hyung. Biarkan aku sendirian saja jika kau, ayah dan ibu tak ingin menemaniku lagi!”

Ayah dan ibu. Heechul tersenyum getir mendengar dua kata tersebut. Racauan apa yang tengah Donghae ucapkan saat ini?! Heechul mengutuk dirinya sendiri dan segera memeluk erat Donghae. Jiwanya turut terguncang setelah mendengar pernyataan dokter beberapa waktu lalu sebelum mengijinkannya membawa Donghae pulang. Dokter itu.. Dokter itu berkata:

“Jika memang ia pernah mengalami hal buruk di masa lalu, jangan buat ia melupakannya. Biarkan ia mengingat perlahan dan mencoba untuk menerima hal buruk apapun yang pernah ia lalui itu. Jika tidak, maka ia akan selalu terjebak dalam ketakutannya sendiri. Ingat! Jangan sembunyikan hal apapun yang selama ini kau sembunyikan darinya…”

Di sisi lain, Kibum tengah menyiapkan dirinya. Menghirup dalam-dalam nafasnya sambil bercermin di depan cermin milik sebuah toilet umum. Jangan lupa bahwa selama dua hari ini ia memang belum pulang sama sekali. Biarlah Leeteuk mencemaskannya, daripada ia harus melihat Leeteuk yang mencemaskan Kyuhyun dan menyalahkan dirinya sendiri.

Berulang kali Kibum membasuh wajahnya yang begitu kusut. Begitu kotor dan begitu lesu, juga pucat.

Masih dalam keadaan memandangi wajahnya sendiri, Kibum berfikir. Ia memikirkan apa yang menjadi tujuan tawuran ini sebenarnya? Mana Kibum tahu, dan bagaimana Kibum akan mengerti jika tugasnya hanyalah menghabisi siapapun yang ada dihadapannya nanti.

Tuhan! Kibum mengusap kasar wajahnya. Ia begitu kebingungan. Setelah membebaskan kembali wajahnya dari telapak tangannya sendiri, dengan salah satu jemari basahnya, ia mengukir satu nama di cermin.

‘Kyuhyun’. Itu karena dirinya tengah mencemaskan saudara terkasihnya tersebut. Juga ‘Leeteuk’ yang lalu ia pandang penuh kerinduan akan nama tersebut. Jemarinya belum terhenti. Ia mengukir nama..

DONGHAE!

“Ish!” Kibum mendecih tajam kali ini. Sebenarnya semua masalah ini, apa karena Donghae hingga ia nampak kesal seperti itu?? Ia tinju cermin di hadapannya kemudian, namun tak cukup mampu memecahkan cermin tersebut. Ia masih ingat bahwa cermin tersebut milik semua orang. Kibum merunduk dalam..

Setelah lama merenung, ia meraih tas lusuh di sisi tubuhnya. Memantapkan hatinya meski tetap tak memiliki tujuan berarti. Mungkin membawa pulang Kyuhyun adalah tujuan utamanya saat ini.

“Aku ingin ice cream strawberry!”

“Donghae sayang.. ini sudah malam. Darimana ayah bisa mendapatkan ice cream itu, eoh? Besok siang ayah belikan banyak ice cream strawberrynya untukmu!”

“Tidak mau! Aku ingin sekarang! Aku ingin sekarang! Ibu selalu membelikannya untukku. Jika ada ibu.. jika ada ibu..”

“Hhh.. baiklah. Kau tunggu disini bersama Heechul, ya? Ayah akan membelikannya sekarang..”

“AKU INGIN IKUT!”

Mengapa semua begitu gelap dan sepi?? Donghae memutar-mutar tubuhnya untuk memastikan dimana dirinya berada? Lalu kemana semua orang? Hanya ada sebuah kursi usang di sisi jalanan. Jalan aspalpun yang terlampau sepi. Ada kedai makanan yang sepertinya belum lama tutup, karena arang di pemanggangan di depannya yang masih menampakan kepulan asap.

Dimana?

Donghae tetap berfikir dan terus mengingat. Seolah memang tempat tersebut pernah ia datangi. Tiba-tiba ada suara-suara terdengar.

“Besok, ayah janji akan tunjukan pelanginya padamu, asal kau mau menemani ayah memancing..”

“WA!” pekikan seorang anak bernada manja dapat Donghae benar. “Ayah benar akan menunjukan pelanginya jika aku mengantar ayah memancing?” sorak sang bocah.

Disana, dari ujung jalan sana memang ada seorang ayah dan anak mungil dalam gendongannya. Mereka tampak gelap dan berbayang karena memunggungi sinar rembulan. Lama Donghae mengawasi hingga mereka mendekat ke arahnya. Dua wajah yang..

“Apa aku sedang bermimpi?” gumam Donghae dalam hatinya sambil tersenyum, saat melihat dua wajah yang dihafalnya. Wajah sang ayah dan juga dirinya yang masih sangat kecil masa itu. Tentu Donghae sedang bermimpi. Bahkan ia tak bisa merasakan dinginnya angin di malam itu.

Si anak nampak menggoyangkan kaki-kakinya yang tergantung dalam kedua lengan si ayah.

“Kenapa begitu sepi, ya?”

“Donghae anak ayah yang tampan, ini sudah sangat larut sayang..”

“Pantas saja, menyeramkan!”

“Bagaimana jika ayah nyanyikan lagu pelangi?”

“Boleh!”

Donghae memejamkan kedua matanya. Suara sang ayah saat menyanyikan lagu untuknya mengalun indah di keheningan malam tersebut. Mengalir hangat melalui gendang telinganya dan menyentuh hatinya. Ia benar-benar merindukan suara tersebut. Suara ayahnya bernyanyi, mengantarkan satu bulir air keluar di sudut mata Donghae yang tertutup damai.

Ia terhanyut, hingga..

Trak!

Tak sengaja kakinya menyentuh benda keras seperti benda pecah dan sedikit mengejutkan dirinya. Segera Donghae membuka matanya dan mendapati botol bekas tak berisi tengah menggelinding di sekitar kakinya. Donghae baru tersadar, di sekitar kakinya terdapat beberapa botol bekas. Berserakan, dan..

Kedua mata Donghae tertuju pada beberapa orang yang tengah tertidur dalam keadaan berantakan dalam posisi saling bertumpuk di sisi kedai yang Donghae temukan tadi. Orang mabuk! Beberapa orang itu mulai menggeliat tak nyaman, terganggu oleh sebuah suara.. oh!

“Ayah jangan bernyanyi lagi! Hentikan!” batinnya. Sesungguhnya ia berteriak, namun entah mengapa suaranya tidak keluar sama sekali. Suara yang jelas-jelas terdengar dan mungkin akan Donghae sesali adalah:

“Aku mengantuk. Jangan berhenti bernyanyi sampai kita sampai di rumah, ayah!”

TIN!

TIN!!

TIN!!!

Jreg.. Donghae membuka matanya seketika. Tak tanggung-tanggung, kedua mata itu terhentak dan tergesa, dipaksa untuk terbuka seutuhnya, menunjukan satu keterkejutan yang teramat sangat. Nafas Donghae berburu keras. Ia melirik ke kiri dan kanannya. Ia berada di dalam mobil yang berhenti. Suara bising melanda dimana-mana, entah keributan apa yang sedang terjadi di luar sana. Seperti arwah yang belum seutuhnya kembali, Donghae kebingungan dan mengusap keringat yang menetes di pelipisnya.

Mulai ingat, Donghae ingat beberapa saat lalu Heechul membawanya pulang dari rumah sakit. Ia tertidur dan bermimpi..

Ah.. Donghae menyenderkan punggungnya pada kursi. Tangannya mengepal dan bergetar. Kenangan buruk yang tiba-tiba hadir menerpa ingatannya. Benarkah pernah terjadi seperti apa yang dialami di mimpinya? Ia tidak tahu persis.

“Kenapa hyung tidak mengatakan jika mereka hilang? Bahkan sejak kemarin?! Aku bisa saja membantumu. Jangan meminta maaf soal kau yang tidak bisa menjemput Donghae dari rumah sakit, kami baik-baik saja! Sekarang katakan kau dimana? Huh, dimana?! Hallo..”

TIIIN!

“Oh sial! Bisakah kalian diam?!”

Heechul yang tengah saling memberi kabar dengan Leeteuk melalui ponselnya merasa terganggu dan merutuki para pengendara lain yang tak sabar sejak kemacetan melanda. Heechul terus saja merutuk. “Kalian meneriaki siapa, sih?! Tidak taukah disana ada keributan serius? Lihat tanda polisi tidak, huh?!” omelnya entah pada siapa, yang jelas ia masih sibuk menghubungi Leeteuk.

Sedang Donghae mulai terganggu dengan kebisingan yang ada. Ia melirik ke sisi lain dan jalanan benar-benar macet dan padat. Ia lalu melihat bayang-bayang warna seragam yang dihafalnya di depan sana. Juga..

“Siwon-ah.. Eunhyuk-ah..” lirihnya sambil membuka pintu mobil dengan separuh kesadarannya, tanpa berkata apapun.

Heechul tersenyum di sisi lain, ponselnya kembali tersambung dan Leeteuk mengangkat panggilannya. “Hyung, kau dimana? Aku akan ke tempatmu bersama Donghae, tapi kau harus bersabar. Ada tawuran sekolah yang cukup hebat di depan sana! Mereka menghambat jalanan!” rusuhnya. “Aku bahkan tak bisa memutar balik. Aku akan cari jalan keluar. tunggu aku..”

Suara Leeteuk tak kalah ribut di ujung sana..

“Tawuran sekolah?! Lihat apakah itu sekolah Donghae atau sekolah Kibum dan Kyuhyun! Cepat lihat Heechul-ah.. Sepertinya aku yang akan menemuimu. Tunggu aku disana, dan katakan kau ada dimana?!”

Heechul keheranan setelah Leeteuk memutus sambungan secara sepihak. Tapi perkataan Leeteuk yang terakhir cukup jelas dan ia dapat memahaminya. Lagipula ia memang tak bisa pergi kemanapun selain menunggu kedatangan Leeteuk. Satu yang membuat Heechul penasaran.

Lihat apakah itu sekolah Donghae atau Kibum dan Kyuhyun?

‘Mana kutahu sekolah mana,’ batin Heechul, dan berniat menanyakannya pada yang lebih tahu. Ia segera memasuki mobilnya. “Hae, kau tahu seko-” bibir Heechul bungkam. Matanya seperti terpaku pada satu titik. Kursi penumpang, dimana tak ada lagi penghuninya disana. Seharusnya Donghae sedang tertidur disana, kan?

Heechul menegang menyadari dirinya kehilangan Donghae. Sekuat tenaga ia menenangkan dirinya dan turun kembali dari mobil, berharap Donghae berada tak jauh dari kemacetan. Tapi.. “Ya, DONGHAE?!” Donghae menghilang.

TBC

Oo

Oo

Boleh saya kembali?? ^O^

TERIMA KASIH SEMUANYA! Atas dukungannya, kritik saran dan juga, ‘pujian’? kkk.. Saya senang tentu saja. :’)) yang rajin baca, yang nengok silahkan mampir. Yang komen silahkan merapat!!!!!! >____<

Btw.. cape gak sih bacanya pemirsah?? Kok saya ngerasa cape sendiri ya?? Bagaimana dengan chapter di atas? Pasti ada yang kurang, typos mah jangan ditanya. Heu.. ^^

Silahkan saja yang ingin baca berulang juga, gratis kok. Komen yang panjang juga gpapa, di antos..

Dagh.. sampai bertemu di chapter berikutnya, umh.. kapan-kapan.😀

53 thoughts on “-NOTHING BETTER [10]-

    dewi said:
    April 16, 2014 pukul 6:25 pm

    wah ternyata udh update ya….
    bagaimana nasib kibum semoga dia akan baik2 saja dan bisa membawa kyuhyun pulang dengan selamat.
    ditunggu chpater selanjutnya ya…..

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 2, 2014 pukul 2:17 pm

    Semoga Semuanya baik2 saja.. Kibum.. Kyu.. Hyuk.. Siwon.. trlebih Donghae… tolong jgn biarkn Hae mndekati tawuran ituuuu.. dy sudah sakit n trsiksa dgn perasaan brsalahnyaa😥

    sparkyu said:
    Oktober 10, 2014 pukul 1:21 pm

    sebenernya bias nya saya itu Kyuppa….
    tapi suka aja kalo bagian baca ff kyuppa jadi tokoh tersiksa😀
    yaaa….. berharap kyuppa sekarat dulu deh sebelum akhirnya happy end🙂
    *semoga gaada death character*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s