THE BLACK ROSE [3]

Posted on

-THE BLACK ROSE Part. 3-

^Super Junior Fantasy Fiction^

Aiden Lee

Bryan Kim

Casey Kim

Denis Park

oOo

PROLOG

PART 1 : Aiden Lee

PART 2 : Want to be My Friend?

[PART 3 : The Magic House]

-O-

Kembali menapaki bagian, dimana cahaya lilin menggantikan posisi matahari di kediaman itu. Aiden, tengah menjatuhkan bagian sisi wajahnya pada meja di ruang tengah. Sedang Denis, berada di sampingnya, lalu mengelus pelan punggung Aiden sambil berkata “jangan marah, kumohon..”

Aiden sedikit menghela nafasnya. Ia melirik Denis lalu berkata pelan. “Tak adakah di antara kalian yang ingin memberitahuku?”

Dari ujung sofa, Bryan sedikit melempar bukunya pada meja yang sama, dimana wajah Aiden berada. “Jangan menjadi seenaknya!” ketusnya langsung dengan tatapan dingin mengarah pada Aiden.

“Kenapa? Aku berhak bertanya, atas apa yang aku lihat, Bryan! Semua terlalu aneh! Soal pintu itu?!” tunjuk Aiden pada satu-satunya pintu keluar dalam rumah tersebut. “Juga kau!” tunjuk Aiden lagi, kini pada Bryan yang hanya dapat balas menatapnya. “Sihirmu!” jelas Aiden.

Di samping lain, Casey mendengus sebal ke arah Bryan. “Memangnya apa saja yang kau lakukan tadi selama kami tak ada, Bryan?!”

“Aku tak melakukan apapun,” bantah Bryan tenang, namun..

“Bohong!” tukas Aiden cepat. “Dia membuangku ke tempat lain, dengan pintu itu,” tuduh Aiden dengan nada pelan.

“Huh?”

Bryan menggaruk kepalanya perlahan. Ia terlihat bingung. “Kau salah faham, Aiden! Jangan berfikir macam-macam!”

“Kupikir itu pintu keluar,” adu Aiden kemudian.

“Sudah kubilang untuk menyimpan sihirmu, Bryan! Sebenarnya apa yang kau lakukan?” tanya Casey, sesaat setelah dirinya membawa Bryan ke dalam kamar pribadinya.

“Aku tak sengaja, Casey! Semua terjadi begitu saja,” jawab Bryan. “Dan ia, hampir menginjakkan kakinya di lantai istana Ave,” tutur Kibum membuat Casey membuka matanya lebar.

“APA?!” jerit Casey.

“Aku yang membuatnya tersesat, Casey. Ia juga bertemu Marcus,” dengus Bryan kemudian.

Casey menyilang tangan di dadanya. “Terlalu dini baginya, untuk mengetahui ini semua, meski..” ujar Casey tertahan sambil berfikir. “Sebenarnya, ia tak perlu mengetahui ini semua.”

“Memangnya dia siapa?” tanya Bryan kemudian. “Kenapa dia bisa ada disini?”

Casey menghela nafasnya sedikit panjang. “Denis yang menemukannya, terjebak di antara pagar rose kita, Bryan! Dia berada di antara duri-duri itu. Dan ia melupakan segalanya kecuali namanya,” terang Casey.

“Apa kalian akan selamanya mempertahankannya disini?”

Casey diam. “Minimal hingga ia mengingat dirinya dan hidup sebelumnya, mungkin,” tutur Casey lagi.

“Oh!” desah Bryan. “Kupikir kita harus menjelaskan semuanya, sebelum ia salah faham dan mengacaukan kehidupan kita. Juga, jangan lupa hubungi nyonya Lilith, Casey..” lanjutnya sambil memandang Casey dengan lekat, membuat Casey tersenyum padanya.

“Aku tahu. Nyonya Lilith belum kembali. Tapi? Kau yang terbaik adikku, Bryan Kim,” puji Casey penuh makna dalam senyumnya.

Sementara di sisi lain, baru saja Denis menyerah, dan telah meminta persetujuan pada Bryan untuk memberitahu Aiden. Dan hasilnya?

Aiden melongo tak jelas, di langkah pertamanya memasuki pintu yang ia sebut dengan pintu ajaib tersebut. “Ini, adalah halaman luar yang sebenarnya dari rumah kami,” jelas Denis.

“Oh!” Aiden terkagum-kagum sambil meraba dinding luar rumah tersebut, yang nyatanya adalah sebuah pohon. Benar-benar sebuah pohon.. dengan langkah pelan, diiringi takjub di wajahnya, ia berjalan, lantas mendongakkan kepalanya. “Ini rumah kalian?”

Denis meringis, terlihat bingung, akan menjelaskan darimana. Namun, sejenak ia melihat pagar rose yang mengelilingi rumahnya. Ia lalu menghampiri Aiden, dan mengajaknya terduduk di sebuah ayunan kayu tepat di samping rumah pohon tersebut. Rumah pohon yang nyatanya, baru Aiden sadari. Dan itu? Sesuatu yang menakjubkan.

Denis mengayunkan ayunan yang tengah di duduki Aiden. “Kau tahu?” ucapnya, sambil tetap mengayunkan ayunan tersebut. “Kau, kami temukan di antara duri pagar rose ini,” ucap Denis, mengundang satu lirikan Aiden pada bunga-bunga rose di sekitarnya.

“Apa ini kebun rose yang kau maksud?” tanya Aiden, teringat kejadian tadi pagi, saat Denis berpamitan untuk mengunjungi kebun rosenya.

Denis menggeleng. “Bukan!” sergahnya. “Itu ada di tempat lain,” ucapnya.

“Lalu, hujan salju tadi pagi?”

Denis menghentikan gerakan tangannya, lantas beranjak, berjongkok tepat di depan Aiden, dan menyimpan tangannya di antara lutut Aiden. “Maafkan aku soal itu,” ucapnya penuh sesal.

“Apa maksudmu, Denis?”

Denis tersenyum kecil, lantas membuka telapak tangannya di hadapan Aiden. Tepat di hadapan Aiden, dan itu? Kembali membuat mata Aiden terbelalak hebat. Karena apa? Begitu Denis membuka telapak tangan tersebut, muncul butiran salju yang lalu mengapung terbawa angin.

“Apa ini?!!” pekik Aiden kaget, tentu saja!

“Jangan berlebihan, Aiden! Kau pikir ini apa?” tanya Denis kemudian.

Dengan pancaran kagum yang seolah tak ingin meninggalkan wajahnya, Aiden berpikir. “Itu sulap?” tanyanya, lalu “sihir?” tebaknya lagi.

Denis meniup sisa butiran salju yang masih berada pada telapak tangannya. “Terserah kau menganggap ini apa. Ini ajaib bukan?”

Aiden mengangguk semangat. “Bisa kau tunjukkan yang lain?” tanyanya antusias.

Denis tampak mengira-ngira, hingga kembali ia buka telapak tangannya, yang kini menghasilkan percikan air, seperti sebuah gerimis hujan. Aiden bertepuk tangan. “Kau hebat! Kau hebat, Denis!” puji Aiden tiada henti.

Namun Denis tak harus berbangga, apalagi menyombongkan dirinya. Ia segera memandang Aiden sambil bertanya, “sekarang kau sudah mengerti bukan?” tanyanya, membuat Aiden melongo. “Tentang semua yang ingin kau ketahui. Tentang pintu itu, tentang Bryan, tentang kami semua, Aiden. Kau tak harus lagi memikirkan hal tersebut,” tutur Denis.

“Kau tak menjawab itu semua,” sanggah Aiden terhenti. “Tapi,” lanjutnya. “aku mengerti! Aku mengerti Denis!”

“Bagus!” puji Denis. “Kau hanya harus mengerti, bahwa apapun bisa terjadi disini. Setidaknya hingga kau mengingat semuanya,” tutur Denis sambil mengusap rambut Aiden, lalu memeluk hangat adik kecil tersebut. “Pelajarilah semua dari awal, dan jadilah anggota keluarga kami,” simpul Denis kemudian.

“Maaf merepotkan kalian,” ucap Aiden penuh sesal.

“Hm. Kau sama sekali tak merepotkan..” tukas Denis, kembali memberikan senyuman pada Aiden.

“Terima kasih..”

Keduanya saling memberikan pelukan yang hangat, hingga terdengar teriakan dari sebuah jendela, di antara pohon tersebut.

“Eh? Itu jendela kamar Bryan bukan?!”

Bahkan Aiden tak menyadari, bahwa dua hari ini, ia berada dalam sebuah pohon. Ia benar-benar tak menyadarinya. Sedang Denis melambai ke arah Casey di atas sana. Jangan tanyakan soal keberadaan Bryan, karena dari atas sana Casey berteriak “simpan dulu bukumu, Bryan Kim!!” sambil merutuk tak jelas.

Aiden dan Denis tertawa ringan, hingga tak hentinya, rasa terkejut menghampiri Aiden saat dilihatnya buah dari pohon tersebut yang membuatnya bertanya-tanya. “Denis!” gumamnya sambil terus mendongak, mencoba melihat ranting dan juga daun, yang dihiasi berbagai macam buah. “Sebenarnya ini pohon apa?!” tanya Aiden.

“Apa saja boleh,” jawab Denis seenaknya. Karena benar, terdapat berbagai macam buah menggantung disana. Apel? Jeruk? Mangga? Dan banyak lagi, membuat Aiden menutup mulutnya tak percaya. Dan setelahnya, Denis merunduk untuk berbisik pada Aiden. “Yang satu ini, perbuatan Casey..” bisiknya mengajak Aiden untuk melirik Casey yang masih melambai dari atas sana.

Dan Bryan?

Dengan mata tertuju pada barisan kata di buku barunya, ia berkata “kalian boleh mengatakannya, tapi dilarang sombong di hadapannya!”

Casey mendengus sebal. “Apa maksudmu, Bryan! Jangan begitu..” sergahnya.

Kembali pada Aiden dan Denis di bawah sana, yang masih berada di luar, tersorot cahaya matahari yang akan segera meredup. Aiden masih belum puas dengan semuanya. Ada satu hal yang membuatnya masih merasa penasaran.

“Bagaimana dengan Bryan?” tanyanya.

Denis terdiam. “Kau akan tahu nanti, atau kau tak perlu mengetahuinya,” ucap Denis. “Kupikir suatu saat, kau akan ingat semuanya, dan pulang ke tempat asalmu,” lanjutnya.

Aiden mengangguk pelan. “Tentu aku harus pulang nanti,” ucapnya dan lalu kembali menatap Denis. “Kecuali jika kalian tak menginginkanku pergi,” lanjutnya dalam sebuah candaan.

Denis menepuk pelan bahu Donghae. “Ya, jika kau tetap ingin bersama kami,” balasnya.

“Sepertinya aku akan nyaman berada disini, bersama kalian..”

Denis menarik panjang nafasnya. Melirik Casey Kim yang masih menampakan sebagian tubuhnya di balik jendela kamar atas. “Aku tidak tahu apakah kau akan betah tinggal disini nanti,” bisiknya. Entah telah merasa sedekat apa dirinya dengan Aiden hingga berani menarik adik kecil barunya itu ke dalam pelukannya dan mengusap punggung Aiden.

“Apakah ini.. desa Rose yang dimaksud orang itu?”

Leeteuk menarik pelukannya. “Orang yang mana?” tanyanya.

“Emh.. aku tidak tahu,” gumam Donghae dengan wajah berfikirnya. “Anak tampan- meski tidak setampan aku sih,” ujarnya sambil terkekeh pelan. “Itu, yang menyeretku ke hutan itu, aku tidak tahu namanya..”

“Marcus?”

Donghae berdiri kemudian. “Dia mengendus tubuhku, sungguh tidak sopan! Dia bilang aku berbau rose dan menudingku berasal dari desa Rose!” ungkap Aiden. Sedetik kemudian ia kembali menatap Denis, satu-satunya orang yang ia fikir, paling jujur saat ini.

“Dia berkata benar..”

“Jadi ini desa Rose?” ucap Donghae lagi, lalu melirik ke arah sekitarnya. “Apa karena bunga rose yang banyak disini, kalian menamai desa ini dengan desa Rose?!” – Denis mengangguk, sedang Aiden menepuk pelan keningnya sendiri.

“Memang kau tak bisa mencium aroma mawar disini? Tentu saja harumnya ikut menempel di tubuhmu,” ujar Denis, membuat Donghae mengendus-endus tubuhnya. “Kau sangat harum, tak usah dibuktikan lagi..”

“Iya! Kenapa harumnya bisa melekat begini? Sungguh aneh..”

Denis tersenyum. “Karena ini bukan rose biasa,” katanya. “Jangan sesekali melukai mereka, terlebih memetik mereka, mengerti?!”

“Kenapa?”

“Bunga-bunga ini adalah nyawa kami semua, dan sebagian dari mereka telah menghitam dan menjadi nyawa orang lain pagi itu, karenamu..” tuding Leeteuk sambil mengapit kecil hidung Aiden, Aiden yang hanya berkedip kemudian. Ia merasa kebingungan dengan kalimat terakhir Denis. Terlalu sulit untuk dimengerti, namun entah mengapa Aiden membeku tak bertanya.

“Aku ingin ke kamar mandi!” ujar Aiden rusuh. “Auh! Aku ingin pipis!” jeritnya tertahan sambil berjinjit-jinjit tak sabar. Di hadapannya sudah nampak pintu kamar mandi, namun semenjak kejadian tempo hari ia menjadi enggan membuka pintu manapun tanpa pengawasan.

“YA! Jika ingin pipis kenapa tidak masuk ke dalam? Aku tidak mau membersihkan air pipismu dilantai nantinya!” geram Casey yang melihat tingkah Aiden.

Aiden memasang wajah memelas. “Bukakan pintunya untukku, Casey..” lirihnya seperti hendak menangis.

Denis yang baru datang menggelengkan kepalanya. Ia hampiri Aiden dan membukakan pintu kamar mandi untuknya. “Semua pintu aman sekarang, kau tidak usah takut..”

Aiden mendengus sebal. “Bagaimana aku tida takut?! Terakhir kali aku membuka pintu dan berakhir entah dimana!” rutuknya, padahal ia sudah berada di dalam kamar mandi sekarang, dan mengoceh keras dari dalam sana.

Sepi kemudian..

Aiden menyelesaikan kegiatannya dengan aman. Ia keluar dari kamar mandi dan menempati ruangan semula. Ada peralatan dapur yang menyambutnya. Ia tak keheranan ketika tak mendapati siapapun. Ia tahu Bryan telah pergi ke sekolah. Denis ke taman rosenya, dan Casey yang entah kemana.

Aiden mulai terserang sebuah rasa penasaran akan rumah ajaib yang tengah dihuninya. Ia melihat sebuah tangga kayu menuju ruangan di bawah sana. Ruangan yang belum ia lihat sama sekali. Dengan berani ia menapaki tangga kayu itu. Toh tak ada larangan untuk tak pergi kesana meski hanya tulisan kecilpun. Aiden tercengang..

Nampak seperti ruang bawah tanah dengan banyak lilin di sekitar dinding kayunya. Waaah..

Ia berjalan mengitari ruangan tersebut, dan “au!” pekiknya saat merasa kakinya tersandung. Ia melihat permukaan lantai yang tidak rata, karena “.. ini akar pohonnya, ya? aku berada di ruang paling bawah?” ia menduga-duga.

Mulai tersenyum. Bibir Aiden melengkung indah tatkala dilihatnya akar-akar kecil mencuat di balik dasar dinding. Ia menepuk-nepuk dinding. “Ini sungguh kayu! Ini hebat!” decaknya penuh akan kekaguman. Hingga tiba jemarinya meraba sesuatu yang tidak rata seperti dinding yang lain.

“Eh?”

Aiden semakin gencar meraba bagian yang tidak rata itu, lalu ia sedikit terkejut. Ada ukiran-ukiran nama disana. Ia membersihkan dinding bagian itu dan mulai membacanya.

Casey Kim..

Bryan Kim..

Nathan Kim..

Denis Park..

Joshua Tan..

Marcus Cho..

Kesemua nama yang ia baca ia mengetahuinya. Casey? Bryan? Denis? Ia tahu tentu saja -, sedang Marcus dan Joshua ia pernah mendengarnya. Tapi satu nama lagi?

Nathan Kim adalah nama asing yang tidak ia ketahui. Tidak ia tidak tahu, hingga sebuah pergerakan dapat ia rasakan. Seperti guncangan kecil dan dinding-dinding kayu itu mulai bergeseran, membuat Aiden merinding ketakutan. Kakinya seakan melemas tak mampu bergerak.

Aiden tidak melihat, saat dimana sebuah ruas akar muncul dari balik dinding, melambai panjang dan lalu meringkus tubuhnya, memenjarakannya di antara dinding, bersamaan dengan akar lain yang bermunculan. Sebagian melilit kedua tangan dan juga kakinya. Lebih parah, satu akar yang cukup tebal melilit lehernya. Aiden kesulitan untuk sekedar meminta tolong!

Tubuh Aiden mulai memucat sejak beberapa aliran di tubuhnya dihimpit sedemikian rupa. Wajahnya memucat dan hampir membiru. Paru-parunya seakan turut diremas. Setitik air mata jatuh dari kedua sudut matanya. “Ayah.. ibu..” lirihnya disela tangisnya, dan gelap menelannya di detik berikutnya.

“Ayah.. ibu..”

Satu alis Kibum berkedut pelan mendengar sebuah bisikan. Ada sesuatu. Hal aneh yang tiba-tiba saja merenggut sebagian jiwanya. Tangannya berubah gusar dan melepas alat tulisnya. Ada setetes keringat yang mengalir di dahinya ketika ia merasakan sebuah suara bergemuruh yang terdengar buruk. Maka tanpa kata..

“Ada yang bisa saya bantu, Bryan Kim?!” sela sang pengajar yang kini tengah menerangkan sebuah rumus matematika di depan sana. Ia terganggu dengan bunyi deret kursi yang timbul dari kursi Bryan.

Bryan tak bergeming. Ia telah berganti posisi. Ia berdiri dan mendapat tatapan aneh dari teman-teman sekelasnya. Si dingin Bryan, siapa yang tidak mengenalnya? Nyaris tak ada siswa yang ingin mendekatinya. Ia bergerak, berjalan menuju pintu keluar tanpa ada kesan sopan sedikitpun.

“HEY! Tak ada yang boleh meninggalkan kelasku!” geram sang guru.

Namun seperti sengaja menulikan dirinya, Bryan tergesa-gesa menuju pintu, dan..

BLAM!

Sang guru menatap garang pada pintu yang sudah tertutup sempurna. Wajahnya memerah sempurna dan ia hendak mengikuti langkah muridnya yang kurang ajar tersebut. Berniat mengejar Bryan, namun saat ia membuka pintu..

Hening..

Bryan Kim telah pergi tanpa jejak dan menghilang dalam hitungan detik saja. “Ini tidak mungkin!”

BRAK!

Kibum menghantamkan pintu rumahnya tanpa ampun. Dengan kasar kakinya menapaki rumahnya di bagian yang paling bawah. Di langkah-langkah tersebut, ia dapat mendengar pekikan cemas Denis dan Casey meski dari jauh. Mereka memang terletak lebih dekat dengan posisi Aiden, namun Bryan sangat mengerti bahwa dirinya akan lebih cepat.

Dituruninya anak tangga kayu menuju dasar ruangan itu, dan matanya terbuka sempurna meski tak banyak merubah raut dingin di wajahnya. Ia turun tergesa dan menyibakan sebelah tangannya. Sang akar seperti menciut, menurut akan titah Bryan dan mulai melepas tubuh Aiden..

Tubuh kecil itu melorot tanpa daya. Dia telah tak sadarkan diri dengan sempurna. Bryan bahkan harus setengah berlari untuk menghampirinya dan membalik badannya. Ia tertegun. “Bangun, hey!” pekik Bryan sambil menampar pipinya. Sepertinya ia tak kesakitan meski di tampar sedemikian rupa.

Bryan mulai panik. “CASEY!” teriaknya, bertepatan dengan Denis dan Casey yang berhamburan menuju ke arah keduanya.

“Astaga! Kenapa dia bisa ada disini,” panik Casey. Ia melihat Denis yang tanpa kata memangku tubuh mungil Aiden yang mulai kaku. “Badannya dingin, Denis! Demi Tuhan, jangan biarkan dia mati!”

Bryan mengekor di belakang langkah yang lebih tua. Ia terlalu banyak berfikir seperti orang tua. Matanya melirik ke arah dinding dengan nama-nama yang tertera disana, termasuk nama dirinya. “Dasar anak bodoh! Kenapa kau ada disini!”

Denis meminumkan air putih perlahan, pada Aiden yang baru saja bangun dari tidurnya. “Kau sudah baikan sekarang?”

Dapat Bryan lihat, jemari-jemari Aiden bergetar saat memegangi gelasnya. Wajahnya masih pucat meski tak sepucat saat ia hampir mati tadi siang. Bryan hampir menahan nafasnya saat dilihatnya tak ada pergerakan naik dan turun dari dada anak itu. Ia mendengus, karena sulit untuk mengakui bahwa ia sempat merasa cemas.

Casey tak banyak bicara dan hanya berdiri mengamati semuanya. Ia sudah membuat semua orang sepakat agar tak menanyakan banyak hal pada Aiden untuk saat ini, atau jika tidak, akan berbalik mulut Aiden yang akan menjadi banyak bertanya yang macam-macam. Ia sudah sedikit tahu, bagaimana cerewetnya mulut Aiden.

“Jangan berfikir yang macam-macam. Badanmu pasti sakit semua. Menurut padaku, ya? Istirhatlah..”

Ada sedikit kelegaan dalam diri Casey saat ia memandang Denis. Ia sungguh sangat bersyukur akan keberadaan Denis  Park di antara mereka. Denis yang selalu membuat semua hal menjadi lebih baik, sungguh..

Denis membantu menyangga tubuh Aiden dengan bantal dan bersandar di kepala ranjang. Aiden benar tak banyak bicara kali ini. Mungkin terlalu terkejut, atau masih belum memiliki tenaga untuk berkata banyak. Ia hanya berujar terima kasih dengan mulut keringnya.

Tak ada percakapan. Hanya ada Denis yang sibuk menyelimuti Aiden, sedang Casey mulai melangkah keluar dalam diam. Sesungguhnya ia sedikit marah pada Aiden yang diam-diam mengobrak-abrik isi rumahnya. Namun Casey tak mungkin menyalahkan Aiden yang tak tahu apa-apa. Merutuklah ia dalam hatinya dan pergi, setelah melirik Bryan yang nampak sibuk membaca di pojok lain di ruang tersebut.

Denis masih memperlakukan Aiden dengan lembut. Ia usap rambut Aiden yang masih basah karena keringat. Ia benahi selimut Aiden dan mengusap pelan dahinya. “Tidurlah lagi, besok baru kita bicara, hn?” tuturnya, dan ia tersenyum melihat Aiden yang hanya menurut padanya dengan menutup kedua matanya.

“Aku pergi tidur. Jaga dia baik-baik, Bryan..”

“Hm..”

Tepat setelah Denis Park pergi, Bryan menutup buku yang sebenarnya tidak ia baca barang sedikitpun. Ia beralih menatap Aiden. “Aku tahu kau belum tidur..”

Aiden membuka matanya perlahan..

Bryan sedikit menghela nafas saat menutup kedua matanya. Ada bisikan ‘ayah.. ibu’ yang kembali terngiang. Ia tahu, itu adalah bisikan Aiden beberapa waktu lalu sebelum ia sekarat. “Kau membohongi kami. Kenapa? Kenapa bersikap kau seperti melupakan segalanya, huh?”

Aiden nampak meremas selimutnya ketakutan. “Kupikir ini mimpiku,” ucapnya hati-hati dalam nada bergetar.

“Jadi kau menganggap semua ini hanyalah ilusimu? Termasuk aku, Casey dan Denis? Sadarlah kau terjebak disini sekarang dan ini bukanlah mimpi!”

TBC

Umhh.. ada yang masih ingat ini?? >____________< saya lihat terakhir kali update chapter terakhir itu, chapter 2 adalah bulan mei 2013 kalo gak salah. 1o bulan!! *Prok-prok-prok..

Berhubung saya sedang bosan, saya iseng lanjut yang ini. Ga tau ada yang masih nunggu ataukah tidak. ^^ pasti pada lupa, untuk itu saya sediakan chapter sebelumnya di atas, kali aja mau baca ulang. :p

Ceritanya itu fantasy. Semoga ga pusing dan ga aneh ya.🙂

24 thoughts on “THE BLACK ROSE [3]

    Tsafa Fishy said:
    Maret 29, 2014 pukul 3:44 am

    Tentu saja masih ingat,, dan akhirnya dilanjut juga hehehe
    Masih banyak teka-teki sih siapa sebenarnya”aiden” itu dan berasal dr mana dan bryan juga seperti punya ikatan batin dgn aiden,,,
    Makin penasaran kali ini lanjutanya jgn setahun kemudian yah hehehe

    Haebaragi (Rosya) said:
    Maret 29, 2014 pukul 7:53 am

    akhirnya ff ini lanjut juga🙂
    wihh… penuh misteri benget ff ini unnie. makin penasaran sama ceritanya.
    aiden imut-imut banget sih! jadi gemes😀
    ditunggu chap selanjutnya🙂

    ida elfishy said:
    Maret 29, 2014 pukul 8:31 am

    Akhirnya,,,
    Q pkir ga di lnjutin,sering2 bsen aja deh klo gtu,hehehe
    Kibum terhebat ya,? Apa mreka semacam peri???
    Lnjutiny jngn 10 blan kmdian ya eon,,^_^

    leesooyoung said:
    Maret 29, 2014 pukul 10:30 am

    Akhirny update. Kirain dah dilupain. Tapi dikit… Kurang panjang… Lanjutin lg y minah. Fighting…

    ElizElfishy said:
    Maret 29, 2014 pukul 2:44 pm

    Ungat donk. Udah nunggu lama lo kelanjutan nie FF. Dan akhirnya d’lanjut juga deh.🙂

    ElizElfishy said:
    Maret 29, 2014 pukul 2:45 pm

    Wah ada typo. Maksudnya ingat bukan ungat.

    dydy said:
    Maret 29, 2014 pukul 3:17 pm

    wahh.. udah hampir setahun yaa gak update.. *prokprokprok =D
    jadi sebenernya aiden gak hilang ingatan yaa?
    bryan bisa nebak gitu pasti udah ada ikatan batin yaa sama aiden..
    next.. lebih panjang lagi dong..
    deep affection jg di tunggu lhooo~
    cemunguuddtthh

    arumfishy said:
    Maret 29, 2014 pukul 4:30 pm

    Kuranggggh puuaasss oennnnn…..:O

    Jdi si Hae ga amnesia,,??
    Trusss knp ada nama nathan,marcus sma joshua???
    Apa hubungan mereka???

    Ayo dilanjuttt oennnn….
    Jangan lama” oen^_^

    donatan144 said:
    Maret 30, 2014 pukul 2:31 am

    Hae lpa ingatan ya,pa sblumnya hae jg pnyihir lnjut dong

    donatan144 said:
    Maret 30, 2014 pukul 2:32 am

    Hae lpa ingatan ya,pa sblumnya hae jg pnyihir lnjut dong dah lma bngt ya

    alicekang said:
    Maret 30, 2014 pukul 5:03 am

    akhirnya ff ini d lanjut juga
    q bingung sebenernya mereka itu d mana?
    kok kibummie bilang ini kenyataan?
    terus kenepa waktu d kelas d panggilnya kibum bukan bryan kim?

    kimHaEna elfish said:
    Maret 31, 2014 pukul 7:23 am

    Demi apapunn ini ff ckkkk…
    Oeni red ing juga dong🙂

    Sutiia Ningsih said:
    Maret 31, 2014 pukul 9:48 am

    baca ff ini harus nunggu rumah sepi dulu biar feel nya dapet hahaa >_<
    aduh ini asah imajinasi banget lanjuut author-san

    lifelocked said:
    Maret 31, 2014 pukul 11:54 am

    unnnn… penyebutan nma bryan-kibum atau aiden-donge ny itu typo bukan? *…….* shrusnya disini pke ny western name mrka kan?😄 kkk jdi rada bingung….😄

    donge pura2 amnesia? huhu blum dapet alurnya nih unn~ kkk lanjuuuutttt❤

    Elfishyhae said:
    April 4, 2014 pukul 5:10 am

    Akhirnya eonie lanjutin juga ni ff. Makin seneng. Pnuh misteri. Yang nothing better kmarin coment q kok gk mau masuk ya. . Menyebalkan deh(malahcurhat). . . Hehehe next eon

    Yoon Eun Na Elfishy said:
    April 5, 2014 pukul 12:47 pm

    wah ni ff dah jamuran thor #plakkk

    lanjutttt……

    laila mubarok said:
    April 5, 2014 pukul 1:34 pm

    huwooo aku hampir lupa klo ada ff ini.. tpi pas baca judulnya langsung inget ceritanya heheheh… lanjut eon..

    vicya merry said:
    April 6, 2014 pukul 4:43 am

    jadi aiden gak lupa sama smuanya. penasaran sebenernya apa hubungan mereka smua dan knapa marcus sama joshua jadi jahat kan klo dilihat sepertinya mereka dulu dekat.

    moga chapter depan lebih bisa jelasin smuanya dan nathan kim juga muncul.

    cloudy kim said:
    April 10, 2014 pukul 10:22 am

    woahhh kerennnnnn. ff’y keren bgt. q jarang luh nemu ff fantasy dg main cast donghae. pokok’y q suka bgt. hehehe.
    minta izin ne bwt ngobrak-abrik wp bwt cari ff, ntar tak usahain review de. pengen baca ff main cast donghae kalo perlu yg cast kihae. hehehe. ok.

      MINA-HAE responded:
      April 11, 2014 pukul 9:46 am

      Silahkan, terima kasih udah mampir.🙂

    lee gihae said:
    April 13, 2014 pukul 12:58 pm

    akhirnya kesampean juga baca dari ch 1 cuz aku lupa lgi jlan cerita ny … kkk ~

    eonniiiiiiii ff mu itu huh sungguh bagaimana aku mengungkap kan ny..
    jlan cerita, gx ketebak.. amazing
    tutur kata yg amazing ..
    jga penokohan yg amazing ..

    hhhhh aku terjebak lagi mina eonniii .. T.T
    tlong aku dgn update cepet ne .. #puppyeyes
    bnran deh aku penasaran banget and cinta banget sma aiden lee … >.<

    fighting..! fighting..! fighting!!

    bryan said:
    April 22, 2014 pukul 7:37 am

    Such a good story! I love your blog! I love your FFs!! Sorry for being silent reader here. Hehe. Fighting! (:

    Kim min soo said:
    April 22, 2014 pukul 12:56 pm

    Udah pernah bca part 1 nya sih, tp blm koment😀 hehe😀 dan bru baca lanjutannya sekarang #mian keren thor.. Dilanjut ^_^ like this.. Dapet bgt pokoknya..

    Aliva Anjells said:
    Juni 10, 2014 pukul 11:41 am

    Jujur,q mch bgg dg crita ini,siapa aiden?dn siapa sbnry marcus,bryan,casey,denis,joshua dn nathan?hemm next aj,salam kenal min,sy bru dsni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s