-NOTHING BETTER [11]-

Posted on

Bisikan orang, bunyi mesin kendaraan dimana-mana. Asap mengepul dari sesuatu yang terbakar di satu titik membuat segalanya menjadi lebih mencekam di siang yang terik itu. Ada banyak petugas kepolisian bersenjata yang bertebaran di tengah panas itu. Wajah mereka terlampau serius, berusaha menyapu kekacauan yang terjadi.

Disana, tepat di perbatasan kota keributan besar sedang terjadi. Anak-anak remaja yang bahkan masih mengenakan masing-masing seragam kebangaan mereka. Ciri, darimana asal mereka. Tak ada malu untuk melakukan perbuatan salah itu. Ambisi, telah membutakan mereka.

^Nothing Better^

[CHAPTER 11]

-Oo-

-Oo-

Donghae hampir saja kehilangan nafasnya. Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Tatapannya hampir seperti kosong dan hanya tertuju kesatu titik, dimana kedua kakinya terus bergerak ke arah titik tersebut. Telinganya seolah tuli, tak mendengar keributan yang ada. Padahal ada banyak jeritan di sisinya, juga banyak peringatan untuk menjauh dari sisi yang lain. Sementara itu..

Bunyi hantaman keras berlangsung, seperti apa yang dilihat kedua matanya. Menandakan sebuah kekerasan yang mampu membuatnya mengingat kejadian di malam itu.

“Ayah! Jangan pukul ayahku!”

Sama. Meski dulu terjadi di malam hari, dan ini terjadi di jam berbeda, tapi tetap saja Donghae merasa jantungnya berpacu cepat. Rasa cemas begitu menyerangnya. Sama seperti sang ayah dulu.. “Hyuk-ah., Siwonie!” isaknya perlahan.

Satu yang menarik Donghae ke dalam bahaya itu, adalah hanya karena orang terdekatnya berada disana. Dua orang terdekatnya berada disana, seperti terkepung di matanya. “Hen.. hent- hentikan!” isaknya. Air matanya mulai berjatuhan. Ia tak sabar dan tak sadar ketika tubuhnya semakin mendekati bahaya.

“Lepaskan aku! Menjauh dari sana, HEY!”

Donghae berteriak sangat keras, berbaur dengan bunyi keras lainnya. Ia berteriak pada dua sahabatnya agar menjauh dari sana. Ia juga berteriak pada salah seorang polisi yang berusaha mencegah langkahnya untuk lebih mendekat. “Mereka temanku! Mereka ada disana!” raungnya.

“Aa-” Donghae menahan nafasnya saat melihat satu kayu tumpul menghantam tepat di kepala Siwon, dan seketika darah mengucur deras dari pelipisnya. Donghae melihat aliran darah itu. Nafasnya mulai menipis. Pandangannya mengabur karena menangis, sedang tubuhnya tetap meronta dari tangan siapapun yang kini berusaha menahan tubuhnya.

“AYAH BERDARAH!”

Tubuh Donghae melorot jatuh kemudian, memaksa tangan-tangan yang menahannya menjadi terlepas begitu saja. Namun tetap Donghae terjaga, membuka kedua matanya untuk mengawasi keberadaan Eunhyuk dan Siwon di tengah kerumunan itu. Ada dua warna berbeda dari pakaian mereka yang Donghae lihat. Tapi ini tak menjamin apapun, toh Donghae hanya mengenal kedua sahabatnya.

Dan ketika sebuah botol minuman yang telah pecah, menyisakan tajam di ujungnya saja tengah berada dalam genggaman seseorang dan hendak menghampiri Eunhyuk, tubuh yang telah bertekuk lutut-lemas itu kembali mencari tenaganya untuk berdiri. Ia berlari membabi buta ke arah sahabatnya tersebut. Donghae menerjang siapapun yang menghadangnya.

Siwon tersadar akan kehadiran Donghae yang tiba-tiba itu. Ia juga melihat kemana arah Donghae berlari. Ia tersadar nyawa Eunhyuk berada di ujung tajam botol itu. Atau mungkin tergantung oleh tangan siapa yang memegangnya. Segera Siwon menarik lengan Donghae. “Kenapa kesini?!” sentaknya, lalu menghempaskan tubuh Donghae ke sisi lain.

Donghae mengaduh ketika sikutnya menyentuh sebuah dinding kaca pertokoan yang telah hancur. Anak itu sengaja menyembunyikan Donghae disana. Sedang Donghae melirik ke arah sisi kanan dan kirinya. Ia bergetar ketakutan. Entahlah, mungkin Siwon sedang menyelamatkan Eunhyuk, Donghae telah menyerah. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya. Semua keributan ini mengingatkannya pada kejadian buruk di masa lalu.

Kembali menangis, adalah hal yang Donghae lakukan setelahnya. “Hentikan, kumohon!” ia mendongak untuk mencari keberadaan Siwon dan Eunhyuk. Lalu “HENTIKAN SEMUANYA!” teriaknya pada mereka. Tapi apa?

Donghae nampak mencelos. Dua orang terdekatnya itu, kini bahkan tak ingin mendengarkan dirinya. Mereka sibuk melayangkan pukulan mereka membabi buta ke segala arah tanpa menghiraukan dirinya? Tangisnya? Cemasnya? Mereka seperti orang yang tak memiliki kesadaran, dan Donghae.. Donghae membencinya. Bahkan mereka tak bisa untuk sekedar dimintai pertolongan. Ayolah, Donghae sangat ketakutan sekarang, ia butuh seseorang.

“Hiks..”

Donghae terus menangis, setidaknya mencari wajah lain untuk dimintai tolong. Tapi naas ia seperti tak memiliki siapapun diantara banyak orang disana. Ia menyesal karena pergi dari pengawasan Heechul, orang yang pasti dan akan selalu ada untuk melindunginya, benar bukan?

“Adik saya ada disana, dia sedang sakit! Ijinkan saya kesana!”

Benar. Benar adanya bahwa Heechul adalah satu-satunya orang yang akan mementingkan Donghae dibanding dirinya sendiri. Heechul, sadar ataukah tidak, adalah satu-satunya orang yang menemani Donghae hingga detik sekarang. Tanpa banyak berfikir bahkan Heechul menerjang beberapa petugas keamaanan yang tengah memblokir jalanan.

“Donghae!” teriak Heechul dengan mata yang menatap resah. “Kembali, Hae! Hyung disini..” lirihnya. Ia tersenyum getir di antara cemasnya. Bahkan dia tak melihat Donghae seujung rambutnyapun. Sedangkan penjagaan semakin cepat, membuat Heechul hanya pasrah dan mampu berdoa. Memejamkan matanya, berharap Tuhan akan mendengarkan do’anya untuk keselamatan sang adik, hingga tepukan pelan dapat ia rasakan di bahunya, dan ia tersenyum lirih sambil memeluk sosok itu. “Donghae ada disana, hyung!”

“Semua akan baik-baik saja. Aku juga berfikir jika Kyuhyun dan Kibum benar-benar berada disana, Heechul-ah..”

Kibum menghantam satu rahang dengan sangat keras. Ia tak tahu mana yang harus dihajarnya dan mana yang tidak. Yang ia pertaruhkan saat ini adalah, nyawa Hankyung, jaminan atas diri Kyuhyun di tangan Ryeowook. Sama hal dengan Heechul, Kibum juga mungkin akan rela menggorbankan nyawanya sekalipun. Ikatan darah memang sekuat ini.

Sejak pertarungan pecah, tujuan masing-masing pihak menjadi tidak terarah. Entah apa yang mereka inginkan, hanya saling menghantam membabi buta. Sebagian ingin berlari untuk menyelamatkan diri, namun sebagian lagi bernafsu untuk saling menghabisi.

Kibum hanya melindungi Hankyung, dimana sebenarnya anak ini terlalu gagah untuk ia lindungi. Hankyung adalah yang terkuat, sehingga ia tak tahu Ryeowook, adik kandungnya juga menghawatirkannya, hingga rela menyekap Kyuhyun hanya ingin memastikan dirinya selamat. Tidak tahukah ia? Kibum yang menjadi tertekan disini.

Satu botol akan menghantam kepalanya, dan Kibum segera menerjang untuk menangkap botol itu. Hankyung ceroboh! Kibum segera memukul balik lawannya. Setelah lawan itu tak berdaya, Hankyung terlalu terlambat untuk menghabisinya, hingga Kibum mencegahnya.

“YAA! Kenapa menghalangiku, eoh?!” teriak Hankyung.

“Aku tidak ingin membunuh!” desis Kibum. Ia segera menarik Hankyung ke sisi lain yang sedikit lebih aman.

“Sial! Kenapa kita lari? Ini belum selesai! Aku belum menghabisi mereka semua!”

Kibum menyeret Hankyung yang terus saja berontak. Polisi sudah bertebaran dimana-mana, namun tetap perkelahian sulit untuk dihentikan. Ia segera mendekap erat mulut Hankyung, dan menyeretnya. Namun, di sudut lain Kibum berhenti setelah melihat sosok..

“Donghae?”

Hankyung melepas dekapan Kibum yang melemah di mulutnya. Ia melihat kemana arah Kibum memandang, lalu menyeringai. “Anak itu!” desisnya hendak menghampiri Donghae yang tengah meringkuk, namun Kibum menahan langkahnya dan menggeleng pelan.

“Biarkan saja dia disana, kau tak perlu repot-repot!” ujar Kibum dengan nada dingin. Ia tak ingin berlama-lama. Ia hanya ingin memastikan Hankyung selamat sehingga ia bisa menjemput Kyuhyun di tangan Ryeowook, itu saja!

Hankyung tersenyum, lalu meludah, mengeluarkan sedikit darah di mulutnya. “Itu maumu, hn?” ucapnya seolah hendak menuruti kata Kibum. Namun seperti seseorang yang tolol, ia meremehkan ucapan Kibum. Ia tetap berjalan menghampiri Donghae, hingga memaksa Kibum menarik lengannya cukup kuat dan menekan lengan itu di punggungnya.

“Kubilang hentikan! Polisi sudah lebih banyak dari sebelumnya, jadi kita pergi sebelum mereka menangkap kita!” desis Kibum, sedikit kewalahan. Ia sudah sedikit lelah dengan pertarungan yang ada sehingga dengan mudah pula Hankyung membebaskan dirinya dan menghempaskan tangan Kibum.

Dengan sedikit tajam dan senyum liciknya ia melirik Kibum. Ia menubruk bahu Kibum dan berlalu dari Donghae, melupakan niatnya, membenarkan ucapan Kibum. Namun, dirinya adalah lain. Dirinya adalah seseorang dengan kegilaan yang telah melekat di otaknya. Maka.. “hey..” panggilnya dan berbalik pada Kibum. “Kau lemah!”

Kibum menoleh, hendak menyusul Hankyung, namun “UGH!” sesuatu yang dingin menembus kulit di perutnya begitu saja. Ia melemah..

Donghae yang menunduk itu menoleh. Dari banyak suara ribut yang semakin menjadi, ada satu suara yang dihafalnya. Dengan mata basahnya ia menangkap satu sosok yang berlalu menjauh sambil membungkuk. Ia menajamkan matanya, dan lalu bangkit untuk menyusul sosok itu. “Kibumie..” panggilnya dengan nada pelan.

HEY! Semua orang berlarian semenjak polisi berdatangan lebih banyak. Pertikaian mungkin telah usai, menyisakan mereka-mereka yang terluka. Semoga tak ada yang meninggal seperti dulu lagi. Asap dari sesuatu yang terbakar itu semakin mengepul di udara menjadi saksi.

Donghae nampak kacau, namun masih sempat mengenali sesosok siswa yang tengah tergeletak sambil bersandar, bersembunyi di sisi gedung. Kakinya bergetar melihat genangan darah di sekitar tubuh itu.

Sejenak Donghae terpaku pada genangan merah itu. Seperti menariknya pada kejadian buruk yang sama di masa lalu. Tanpa sadar, dengan tatapan kosongnya ia jatuh bertumpu di kedua lututnya menghadap ke arah dia yang tak berdaya. “Kau- kau baik-baik saja?” tanyanya bergetar. Kedua tangannya ia arahkan pada sumber darah itu mengalir.

Hangat. Cairan merah itu hangat menyentuh kedua telapak tangannya. Darah itu mengalir deras ketika Donghae menekan perut dia- Kibum, yang terluka.

“Oh Tuhan! Oh Tuhan!” cemas Donghae.

“Pergilah..” lirih Kibum.

Donghae menggeleng keras sambil menangis dan tetap menekan luka di perut Kibum. “Ayah!” isaknya sambil memandangi darah yang terus saja mengalir. “Ayah jangan pergi,” isaknya lagi. “Kau jangan mati! Kau jangan mati!”

Kibum mengernyit keheranan di tengah perih yang melanda tubuhnya. Bahkan ia merasa dirinya lebih baik-baik saja daripada Donghae yang kacau di hadapannya. Menangis sambil memanggil-manggil ayahnya. Sedang Kibum tak berani bertanya sedikitpun. Ia hanya menatap Donghae, terlebih tenaganya seperti menghilang perlahan. Ia kedinginan..

“Kumohon! Kumohon tolong kami! Ayah tidak boleh pergi!”

Kibum mulai resah. Pertikaian telah berhenti dan suasana berubah hening, menyisakan tangis Donghae seorang. Sialnya ia belum terlalu jauh dari tempat kejadian. Ada derap langkah setelahnya, dan Kibum mulai cemas. Ia harus pergi sebelum siapapun datang menghampiri mereka. Maka dengan sisa tenaga yang ada, ia menghempaskan tangan Donghae dari perutnya.

Sedikit tangis Donghae mereda. Ia terkejut karena Kibum tiba-tiba saja berdiri dan berjalan sempoyongan. Lagi-lagi dirinya ditinggalkan, ia kecewa. Ia berusaha melangkah dengan kedua tangan yang berlumuran darah, namun beberapa polisi datang dan menahan kepergiannya.

“Anda harus ikut kami, nak..”

Darah di kedua tangan Donghae mungkin menjadi alasan mengapa para polisi itu menangkap Donghae di antara tersangka lainnya. Donghae yang masih kehilangan kontrolnya hanya terkejut dan merelakan tubuhnya dibawa begitu saja. Mulutnya diam. Matanya terpaku pada lorong di antara gedung, tempat dimana Kibum menghilang disana.

Yang memenuhi fikirannya adalah, ‘mengapa semua orang meninggalkanku?’

Kedua matanya tertutup sempurna. Jiwanya seperti melayang ke masa yang lalu. Masa-masa menyakitkan yang telah ia lupakan seutuhnya.

“Kau tak ingat? Ayah dan ibu meninggal saat kau masih kecil sekali, Hae..”

Pembual! Donghae tersenyum getir di antara kedua matanya yang tertutup itu. Mengapa sang hyung berkata bahwa dirinya tak ingat? Sekarang ia mengingatnya. Kenangan itu mengalun pelan dalam ingatannya. Tak peduli pada bising-bising di sekitarnya sekarang. Donghae sedang memutar balik ingatannya.

“Ayah jangan pergi! Buka matamu, ayah! Aku takut pulang sendirian..! Kenapa mereka memukulmu hingga berdarah!”

Samar, perlahan-lahan suara Heechul menggema. “Dia adik saya, kenapa kalian membawanya?! Kupastikan dia tidak terlibat pada perkelahian ini, Demi Tuhan! Kami hanya orang yang tak sengaja lewat karena baru saja pulang dari rumah sakit!” jelas Heechul dengan sedikit terburu-buru.

“Maaf. Dari semua yang kami tangkap, hanya adik anda ini yang tidak terluka. Dia satu-satunya saksi hidup kami, setidaknya hingga korban luka-luka yang ada sudah bisa kami tanyai..”

Heechul menggeleng keras, merasa tidak terima. Ia menarik Donghae ke dalam tubuhnya, memeluknya untuk melindunginya. “Kalian tidak tahu,” lirihnya. “Kalian tidak tahu,” bisiknya. Ia terus saja memeluk Donghae erat, melindunginya takut takut Donghae benar harus dibawa pergi. Sedang Donghae sendiri tak bergeming.

“Kami mohon kerja samanya..”

Kembali Heechul menggeleng. “Kalian hanya akan memperburuk kondisinya, mengertilah.. Dia tak baik-baik saja seperti yang kalian fikir..” jelas Heechul dalam nada bergetar. Sekuat mungkin ia menjaga Donghae dalam pelukannya. Memeluk Donghae rapat-rapat. Menenggelamkan wajah anak itu di dadanya, seperti tak ingin mengijinkan lagi Donghae untuk melihat sebuah kekacauan meski itu hanya sedikit sekalipun.

“Tapi kami-“

Langkah Heechul memundur. Ia sama sekali tak mengijinkan. “Dia tidak tahu apa-apa!” bentaknya. “Jangan berharap kalian bisa membawanya dariku!”

Hmhh.. Heechul kalap seperti ada setan gila yang tertanam di tubuhnya sekarang. Ia memohon-mohon agar Donghae tak dibawa darinya. Segalanya akan ia lakukan untuk saudaranya, ini bukan hanya sekedar cerita, bukan??

Leeteuk memandang semuanya dengan sendu. Terharu. Memang seperti itu seharusnya mereka sejak dulu. Lebih terbuka untuk saling melindungi. Tak ragu untuk mengungkapkan betapa tulus Heechul menyayangi Donghae. Sayang selama ini ia menutupi kasih tulusnya itu dengan omelan, cibiran dalam candaan sekalipun, sehingga kasih itu menjadi sesuatu yang samar di mata Donghae. Donghae tak mampu mengartikan itu!

Ooh- ya! Bukankah kini gilirannya? Mencari kedua dongsaengnya yang hilang? Ia segera meninggalkan mereka tanpa berniat menolong. Sudah cukup keberadaan dirinya membuat Donghae salah faham selama ini. Membuat Donghae beranggapan bahwa ‘Leeteuk hyung selalu ada untukku!’ cukup sudah! Gilirannya membiarkan Donghae membuka matanya untuk Heechul, melihat kebenaran yang ada. Ia segera pergi..

“Ryeowookie.. ini terlalu..” cicit Kyuhyun dengan sedikit ragu. Pasalnya ia tak mengerti, mengapa seorang korban penculikan seperti dirinya harus mendapatkan serangkaian hal-hal yang menyenangkan. Ryeowook bahkan membelikannya pakaian ganti meski tak membiarkannya sekolah. Ya. Untuk apa? Sekolah sedang sepi, lebih tepatnya diliburkan karena pertikaian hebat yang sedang terjadi.

Ada sekotak besar ice cream terpajang di hadapannya. Kyuhyun menatapnya ragu. “Kau.. hari ini kau aneh sekali, sungguh. Ah-“ sela Kyuhyun. “Bukan, bukan! Bukan hanya hari ini! Mengapa kau berbeda sekali sejak kau menemukanku di rumahmu..”

Ryeowook hanya berkedip pelan sambil menautkan jemari-jemarinya. Ia topang dagunya di antara jemari yang terlipat itu. Sikutnya tertahan di atas meja. “Aku?” herannya. “Apa yang berbeda denganku memangnya?”

Kyuhyun menggaruk kepalanya bingung. “Posisiku ini, bukankah hyungmu sedang mengurungku dengan alasan tertentu? Mengapa kau memperlakukanku berbeda? Kau tak takut Hankyung hyung marah padamu?”

Ryeowook tak suka ice cream kabarnya. Maka ia memilih membeli segelas ice tea saja yang telah ia seruput hingga tak bersisa di wadahnya. “Dia tak pernah marah padaku soalnya..” ungkapnya. Kyuhyun membulatkan kedua matanya.

“Sungguh??”

Ryeowook mengangguk. “Dia tak pernah melarangku untuk melakukan apapun! Dia tak pernah marah padaku, Kyu. Sekalipun. Dia sangat baik. Untuk itulah aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Termasuk hari ini. Aku berterima kasih padamu. Pada Kibumie juga!”

“Sejujurnya, aku belum tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mengapa kau lebih memilih membawaku kemari daripada menjadikanku umpan atau sejenisnya mungkin. Kupikir aku akan berada di tengah-tengah tawuran itu..”

Ryeowook tersenyum lembut. “Tenang saja. Kau dan aku, kita tak usah cemas. Karena Kibum akan menjemputmu sebentar lagi..” tuturnya.

“Eh?”

“Kibum akan menjemputmu kemari. Dia akan kemari bersama Hankyung hyung.. aaa-h, cuaca hari ini benar-benar sangat baik. Senangnyaaa..”

Kyuhyun mengerutkan kedua alisnya. Ia keheranan. Dipandangnya Ryeowook yang tengah tersenyum memandangi langit di luar sana yang memang benar, sangat cerah dan panas. Tapi, mengapa anak itu begitu bahagia, bahkan terbilang biasa-biasa saja, padahal berita tawuran itu begitu gencar. Kyuhyun dapat melihat asap hitam mengepul di sudut kota ketika mereka berada di jalan menuju kedai tersebut. Juga..

‘Apa baik jika tak ada satu orangpun yang memarahi kita? Sedang seorang manusia, pasti sempat melakukan kesalahan sekecil apapun. Apa akan baik-baik saja jika dibiarkan begitu saja??’

Bola mata Kyuhyun bergerak resah. Sikap Ryeowook sungguh tidak wajar. Ia mengumpat dalam hati. Apa Ryeowook gila?

Leeteuk melangkah cepat. Sejak di tempat dimana ia dan Heechul menemukan Donghae, ada satu benda yang tercemar di antara satu genangan darah disana. Jika para polisi mengamankan segalanya, dan Heechul pergi bersama Donghae, ia belum beranjak. Ia belum bisa.

Sebuah sapu tangan yang ia yakin, milik Kyuhyun..

Ada jejak darah mengotori aspal berasal dari genangan darah tadi. Leeteuk menjadi lebih was-was. Ia berusaha menepis bahwa Kyuhyun terlibat dalam tawuran besar itu. Tapi sapu tangan itu??! Leeteuk mempercepat langkahnya. Ia berlari sedang jejak darah itu semakin memudar dan tak nampak lagi di aspal. Ia menggeram frustasi seorang diri, hingga dering ponsel mengejutkannya. Dari nomor yang tidak dikenalnya. Nomor telpon umum..

“Hyungie..”

Leeteuk tertegun di tempatnya. Ia mengenali suara berat itu. Kibum! Di antara gedung-gedung tinggi dimana ia berdiri kini, ia mencoba mencari tahu darimana asal suara tersebut. Meskipun mustahil, sedikit kemungkinan bahwa Kibum berada di dekatnya kini.

“Kau dimana, Kibumie?! Kau baik-baik saja?”

Hening.. Lama Leeteuk hanya mendengar deru nafas Kibum di ujung sana, sedang ia tengah menunggu dengan tak sabar. “Katakan kau dimana? Dimana Kyuhyun? Dia bersamamu? Kalian baik-baik saja? Katakan kau dimana agar hyung bisa menjemputmu kesana!”

Cemas itu Leeteuk ungkapkan lewat pertanyaan yang sepertinya tidak akan habis jika saja Kibum tak mencoba membuka suara di ujung sana. “Hyung, tolong jemput Kyuhyun di kedai ice cream yang terletak di depan perpustakaan umum yang sering kita kunjungi dulu..”

Leeteuk menautkan kedua alisnya. “Lalu bagaimana denganmu, huh? Kau dimana Kibum! Mengapa kalian bisa tidak bersama, HEY-!!” ia menjerit ketika Kibum memutus sambungan telponnya. Kemungkinan besar kedua dongsaengnya itu berada di tempat berbeda saat ini, dan ia belum tahu seperti apa kondisi keduanya setelah mereka hilang dalam waktu dua hari terakhir.

Leeteuk bingung. Mencari Kyuhyun yang memang, kondisi kesehatannya lebih harus diperhitungkan. Tapi tidak menutup kemungkinan jika terjadi sesuatu dengan Kibum. Leeteuk bisa mendengar suara Kibum sedikit berbeda. Nafasnya berat, dan.. Leeteuk memejamkan kedua matanya sambil mengelus dadanya yang berdesir tidak tenang.

Kedai ice cream di depan perpustakaan. Ia tahu tempat itu, dan Leeteuk telah memutuskan..

Jalanan begitu sepi, mungkin karena tawuran beberapa waktu lalu, membuat siapapun enggan keluar untuk mengunjungi daerah tersebut. Kibum tersenyum sambil bernafas lega, meski ia merasa dingin terus merasuk di tiap ruang di tubuhnya. Nafasnya mulai terasa berat dan lebih berat..

Sudah sejak lama ia menghubungi Leeteuk, mewakilkan kehadirannya pada sang hyung untuk menjemput Kyuhyun. Sudah sejak lama itu pula darah di tubuhnya tak kunjung berhenti mengalir. Entah sudah sebanyak apa, Kibum tidak tahu. Sakitnya sudah tak mampu Kibum gambarkan seperti apa. Ia tak memikirkannya, karena ada banyak hal lebih penting yang harus ia fikirkan sebelum ia mati, mungkin.

Tentang dirinya. Tentang bagaimana hidupnya selama ini. Bayangan-bayangan di masa sebelumnya mulai tergambar. Ada banyak pertanyaan, tentang mengapa ia bisa sangat membenci sang hyung?

Benarkah itu adalah benci yang sesungguhnya?

Sejak kapan itu terjadi? Mengapa ia bisa mengira bahwa Leeteuk yang menyebabkan orang tua mereka tiada? Setega itukah Leeteuk melakukannya? Leeteuk benar-benar melakukannya? Seharusnya Kibum tersadar jika semua itu hanyalah ketidaksengajaan saja. Seharusnya semua pertanyaan itu tidak ada, dan ia hanya harus membayarnya dengan sebuah keikhlasan. Tuhan yang menghendaki itu semua terjadi, bukan Leeteuk.

Keegoisan telah membutakan dirinya. Kibum telah sadar, melalui setitik air bening yang mengalir di sudut matanya. Setetes air mata yang akan segera mengantarnya pada sebuah kegelapan, seperti jiwanya yang terasa menghilang perlahan. Kibum sekarat. Kibum sekarat. Bibirnya memucat sudah..

Disaat-saat terakhirnya, tentu Kibum memiliki harapan. Bibir pucatnya berbisik “hyung” dengan sangat pelan. Mungkin ia ingin melihat sang hyung untuk terakhir kalinya. Dan Tuhan sedang berbaik hati padanya, dan ia tersenyum menyambut satu wajah panik di hadapannya.

“Ya Tuhan, Kibum! Kibum kau baik-baik saja? HEY!”

Kibum kembali terjaga dan menahan rasa sakitnya. Pipinya ditepuk cukup keras, membuat kesadarannya kembali. Dengan mata sayunya ia melihat orang yang ingin dilihatnya. Lalu ia beri senyuman singkat. “Hyung..” lirihnya pelan. “Hyung ini kau?” tanyanya untuk meyakinkan. Jangan salah, karena penglihatannya mengabur sudah.

Leeteuk menahan isakannya sambil sedikit mengangkat tubuh Kibum. Miris ia rasa ketika merasakan tubuh Kibum terasa dingin. Ia peluk kemudian. “Apa yang terjadi padamu, hn? Bertahan, ne? Kau baik-baik saja..”

Kibum tersenyum dalam tangisnya. Ia menahan dada Leeteuk dengan jemarinya yang penuh darah. Ia mencoba bangkit dan bersandar di dinding kaca milik rumah telepon umum tersebut. Ia ingin melihat sang hyung lebih jelas. “Hyung Kyuhyun?”

Leeteuk menangis sudah. “Dia baik-baik saja, aku berjanji padamu..”

Beberapa waktu sebelum Leeteuk mencari dan menemukan Kibum..

“Kyu?”

Leeteuk melihat Kyuhyun mengenakan pakaian yang tak dikenalinya sedang terduduk di salah satu bangku milik kedai itu. Leeteuk telah memastikan bahwa itu adalah Kyuhyun sehingga ia mendekat. Ternyata Kyuhyun tengah terduduk bersama temannya mungkin?

“Aa- anda..”

Leeteuk mencoba tersenyum di antara teka-teki yang memenuhi otaknya. Kyuhyun bahkan sangat baik-baik saja, jauh dari perkiraannya. “Saya saudara Kyuhyun. Kau, Kyu?” tanyanya pada Kyuhyun kemudian. Ia menatap Kyuhyun dengan penuh tanya.

“Mengapa kau bisa berada disini dan tidak pulang? Kau bahkan terlihat sedang menikmati ice creammu, hn? Dan kenapa kau bisa tidak bersama Kibum? Dimana Kibum? Apa yang terjadi?”

Kyuhyun sendiri tidak tahu darimana ia harus memulai untuk bercerita. Sedang Leeteuk sudah menuntut banyak jawaban darinya. Tapi bagaimana bisa Kyuhyun menjawab sedang dirinya sendiri saja tidak tahu Kibum berada dimana, dan apa yang terjadi padanya. Maka..

“Ryeowookie..”

Kyuhyun lebih memilih menatap Ryeowook daripada menjawab pertanyaan Leeteuk. Karena ia sadar, yang ingin diketahui Leeteuk, Ryeowook mengetahuinya. Maka perlahan ia mendekat pada Ryeowook dan mulai mencengkram leher anak itu. “Katakan apa yang terjadi, Ryeowookie! Aku yakin kau mengetahuinya!” tuntutnya.

“Jangan macam-macam, Kyu! Apa yang kau lakukan?” panik Leeteuk.

Kyuhyun tetap menahan Ryeowook. Ia merasa sebal karena tak ada ekspresi takut sedikitpun dari Ryeowook. “Bukankah kau bilang Kibumie yang akan menjemputku, huh?”

Leeteuk mengusap kesal wajahnya. Ia tidak mengerti. “Memang tadi Kibum menghubungi hyung dan mengatakan tempat dimana kau berada ini, Kyu. Tapi ia tak memberi banyak waktu pada hyung untuk bertanya ada apa, dan dimana dirinya!”

Semakin gencar Kyuhyun menatap Ryeowook. Ia tak pernah merasa sekuat sekarang, terlebih memiliki kekuatan untuk mengancam seperti itu. Keadaan kedai sudah mulai kacau.

“Aku yakin dia tidak akan mengingkari janjinya! Biarkan aku memastikan! Aku harus memastikan Hankyung baik-baik saja!”

“Kau gila?!” bentak Kyuhyun kemudian. “Kau hanya berfikir tentang hyungmu, huh? Aku bertanya apa yang terjadi pada Kibum!”

Ryeowook tersenyum menyebalkan. “Kau juga, Kyu.. Kau juga hanya peduli pada saudaramu saja, kan? Apa bedanya denganku, hm?” ledeknya, tepat sasaran. Cengkraman Kyuhyunpun melemah sehingga ia bisa bebas. “Sudahlah! Aku tidak tahu siapa yang bersalah disini! Yang jelas Kibum dan hyungku menghilang! Jadi kubiarkan kau mencari Kibum dan aku akan mencari Hankyung hyung sendirian!” rutuknya, lalu membungkuk hormat pada Leeteuk. “Permisi..” desisnya.

Nafas Kyuhyun memburu menatap kepergian Ryeowook. Sungguh. Demi apapun ia tak mampu menebak otak aneh milik teman satu kelasnya itu. Ia menjadi kebingungan sehingga Leeteuk harus menepuk bahunya berulang kali.

“Kau baik-baik saja, kan? Kau tidak terluka?”

Kalimat sambutan Leeteuk setelah dua hari penuh mereka tidak bertemu, terasa hangat dan Kyuhyun menjatuhkan setetes air matanya, terutama disaat sang hyung mengusak rambutnya pelan. “Hyung bagaimana dengan Kibumie!” isaknya pelan.

Leeteuk menghembuskan nafasnya perlahan. “Dia menghubungiku dengan telpon umum. Kau tenang saja, hyung akan melacak nomornya. Hyung pikir dia tak berada jauh dari kita. Dia baik-baik sa-“

Kyuhyun memotong ucapan Leeteuk dengan memukul dadanya sendiri. “Disini sakit, hyungie..” lirihnya. Berulang kali bahkan ia menepuk dadanya itu dengan cukup keras, memaksa Leeteuk untuk menghentikannya.

“Apa-apan kau, Kyu! Hentikan! Kau menyakiti dirimu sendiri..” cegahnya dengan cukup keras, namun sebenarnya itu terjadi karena ia hawatir. “Dimana obatmu?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan. “Kibum!” pekik Kyuhyun sambil mencengkram dadanya kuat-kuat. “Aku harus menemukannya! Terjadi sesuatu dengannya, hyung!”

Leeteuk telah sadar. Sakit yang dirasakan Kyuhyun saat ini, adalah sakit yang lain. Sakit yang berbeda. Sakit yang diciptakan dari naluri kembar milik Kyuhyun. Meski Leeteuk mencoba untuk menampik karena tak ingin menganggap teradi sesuatu pada Kibum. Ia tak berharap itu, tapi firasat Kyuhyun, mungkin kebenarannya berada di atas 50 %!

“Tunggu, Kyu!” titahnya, disambut oleh tatapan bingung Kyuhyun. “Kau tunggu disini, ya? Biar hyung yang akan mencarinya. Kau mengerti?”

Yang ada Kyuhyun mencengkram kuat lengan Leeteuk. “Aku ingin ikut mencarinya, hyung..”

Leeteuk memutar otak untuk mencari alasan. Ia tidak mungkin membawa Kyuhyun, berakhir dengan kesehatannya yang memburuk, terlebih cuaca begitu terik. “Kau berjaga disini, hyung takut Kibum akan mencarimu kesini..”

Berakhir dengan Leeteuk yang menitipkan Kyuhyun pada sang pemilik kedai. Memastikan Kyuhyun baik-baik saja disana sehingga ia dapat berlari lebih cepat untuk segera menemukan Kibum. Saudara yang telah mengambil seluruh perhatiannya saat ini.

Kibum telah berkeringat banyak, padahal tangan Leeteuk rajin menghapus keringat itu. Keringat dingin yang seperti menyiksa, dibantu aliran-aliran darah yang mengalir di sudut bibir Kibum bahkan ketika ia tetap memaksakan untuk bicara.

“Maafkan aku, hyung. Aku- aku bersalah! Aku menyakitimu..”

“Tidak Kibumie..”

“Aku membuat semuanya menjadi seperti sekarang. Aku bahkan menyeret Kyuhyun ke dalam bahaya. Aku sangat-“

“Kyuhyun baik-baik saja. Kau tidak menyakiti siapapun!”

Kibum telah melemas. Perlahan wajahnya menubruk bahu Leeteuk. “Aku egois!” bisiknya dengan sisa tenaganya. “Aku bahkan telah melukai orang lain, kan?!”

Leeteuk tahu apa dan siapa yang Kibum maksud. Ia menarik kedua sisi wajah Kibum yang turut mendingin. “Dengar! Jangan pernah berani menutup matamu sekarang, Kibum!” ujarnya keras, lebih terdengar panik saat menatap kelopak-kelopak mata Kibum mulai melemah.

“Jika kau merasa bersalah, maka kau harus bertahan. Kau harus hidup dan memperbaiki semuanya olehmu sendiri!” teriak Leeteuk tak sabar. Sekali lagi ia mengguncang tubuh Kibum saat dongsaengnya itu mulai kehilangan kesadarannya. “Jangan tidur! Kubilang jangan tidur!”

Kibum kembali membuka kedua matanya. “Maaf..” bisiknya diiringi aliran darah di sudut bibirnya. Terakhir ia menangis, terisak dan terisak lebih keras. Leeteuk segera memeluknya dengan erat, cukup membuat tubuh dinginnya sedikit menghangat dalam dekapan itu, sedang tangisnya tetap tak bisa ia bendung.

Keduanya telah bermandikan darah di dalam sempitnya rumah telepon umum itu. Leeteuk segera tersadar dan segera menggendong tubuh Kibum. Ia berlari membabi buta, meski otaknya menjadi bodoh untuk mengingat dimana rumah sakit berada. Kemana ia harus pergi untuk menemukan rumah sakit terdekat? Ia berlari seperti orang gila sambil mengoceh, menjaga agar kesadaran Kibum tidak hilang.

“Kau berbohong! Kau berbohong padaku!”

Heechul memandang miris, menatap lurus ke arah kedua mata Donghae yang balik menatapnya dengan geram. Beberapa saat lalu saat dirinya membawa Donghae masuk ke dalam mobil, Donghae menyerangnya dengan pertanyaan seputar kematian ayah mereka. Berkata bahwa ‘aku ingat! Ayah.. malam itu..! Aku ingat semuanya!’ dan dengan bodohnya ia mengamuk disana.

Inilah mengapa Heechul mencengkram kuat kedua tangan Donghae. Ia berusaha mengunci pergerakan adik kecilnya, untuk mengurangi resiko-resiko terburuk yang akan menimpanya. “Maafkan hyung, Donghae..”

Donghae berteriak cukup keras. “Kenapa kau berbohong padaku! Aku membencimu!” bentaknya.

Heechul meringis mendapat cakaran kecil di lengannya. Mungkin Donghae tak sengaja. Ia menahannya dan tetap berusaha membuat Donghae lebih tenang.

“Lepaskan aku, hyung! Kenapa kau begini?! Kenapa kau begini! Kenapa kau membodohiku?! Kau membuatku lupa, bahwa akulah penyebab ayah meninggal! Dia meninggal karena aku! Ayah berdarah karena aku!”

Runtuh sudah. Heechul mengeluarkan air matanya kali ini. Inilah yang tak diinginkannya. Inilah yang dihawatirkannya selama ini. Ini dia yang selalu membuatnya takut setiap malam. Dan kini semuanya terjadi..

.

“Dia mengalami trauma yang hebat menurut penuturan dokter. Dia adalah satu-satunya saksi hidup bagaimana saat kejadian itu terjadi. Bayangkan saja, melihat ayahmu sendiri sekarat di tengah malam. Tak ada siapapun yang bisa ia mintai tolong. Donghaeku.. bahkan usianya terlalu dini..”

“Aku tidak yakin bisa membuatnya lebih baik..”

“Dokter bilang, akan lebih baik jika kita mengubur kejadian itu dalam-dalam. Saat terbangun tadi, dia bersikap seolah kehilangan ingatan itu dengan sendirinya. Ingatan tentang kejadian semalam, ia melupakannya..”

“Bagaimana bisa ia menerima orang asing sepertiku dengan mudah? Mungkin ia butuh dirimu di sampingnya saat ini. Kau saudaranya yang sesungguhnya..”

“Bukankah sudah kukatakan sebagian ingatannya telah hilang?”

“…”

“Dia adalah seseorang bertipe ramah yang akan menerima siapa saja di sisinya. Jadi.. bantu aku memulai hidupnya dari awal. Hidup yang lebih baik tanpa harus dibayangi oleh kejadian buruk itu!”

“Lalu bagaimana denganmu sendiri?”

“Aku akan banyak menghabiskan waktuku di luar. Lagipula pekerjaanku memakan cukup banyak waktu. Aku tak ingin terlalu lama berada di sampingnya. Aku ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan konyolnya nanti jika bertanya tentang ayah dan akan membuat ia ingat pada akhirnya..”

“Kau akan berbohong padanya, soal kematian ayah kalian?”

“Demi kebaikannya. Kumohon bantu aku, Leeteuk hyung. Bantu aku merawat Donghae hingga ia pulih dari rasa takutnya..”

.

“Semua.. Semua adalah demi kebaikanmu, mengerti?!” kecam Heechul pada akhirnya. “Benar aku telah berbohong padamu! Tapi.. tak bisakah kau menemukan sisi baiknya, Hae? Tak bisakah kau mengerti hyung sedikit saja?!”

Donghae diam. Bungkam. Tatapan matanya melemah dan ia memilih melihat hal yang lain.

“Sekarang hyung ingin bertanya, apa yang kau dapat setelah mengingatnya kembali?” ucapnya, mengundang Donghae untuk segera menutup telinganya. “Kau merasa puas? Jika belum, lalu apa yang ingin kau lakukan setelah mengingatnya, hn?”

Nafas Donghae memburu, tak ingin lagi mendengar kalimat yang membuat kepalanya sakit.

“Sebenarnya kau marah pada siapa, Hae? KATAKAN!” marah Heechul. “Kau membenciku? Baiklah, bencilah aku seumur hidupmu sampai kau puas! Menyesalah hingga kau merasa senang!”

Donghae tak ingin mendengar kalimat itu. Ia menutup kedua telinganya sambil terisak pedih. Sekarang ia telah mengingatnya. Bagaimana sang ayah telah meninggalkannya. Bagaimana sang hyung telah menajuhinya selama ini. Bagaimana sakitnya kesendirian di malam itu, membuat Donghae tak ingin sendirian sedetikpun. Sedangkan orang terdekatnya?

Leeteuk hyung yang pada akhirnya pergi meninggalkannya.

Kyuhyun yang sesungguhnya tidak terlalu lama dekat dengannya, karena Kibum yang tak ingin dekat dengannya.

Kedua sahabatnya- Siwon dan Eunhyuk yang pada ujungnya melupakannya pula.

Setidaknya inilah pikiran yang begitu menghantui Donghae, hingga ia dikejutkan ketika Heechul menariknya dalam satu pelukan hangat. “Sepertinya telah benar, jika aku bersalah. Seharusnya aku tidak membodohimu, sehingga kau bisa melawan rasa takutmu sejak dulu. Kau takut sendirian, eoh? Kau merasa sendirian? Kau tidak tahu jika aku selalu bersamamu?”

Seharusnya Donghae sadar, dari sekian banyak hal yang meninggalkannya, hanya Heechul yang selalu kembali untuknya.

Bersusah payah Leeteuk melangkahkan kedua kakinya dengan beban berat tubuh Kibum di punggungnya. Bersusah payah Leeteuk melawan terik matahari dan juga lelahnya. Bersusah payah Leeteuk mengingat dimana rumah pesakitan itu. Bersusah payah Leeteuk menjaga agar kesadaran Kibum tetap terjaga.

Dan ketika kakinya tepat berada di depan sebuah rumah sakit, menapak di halaman rumah sakit, dengan keringat bercucuran di pelipisnya, saat itu pula..

“Kibum?”

“Kita sudah sampai..”

“Kau masih bisa mendengarku?”

..saat itu pula, Kibum telah jatuh tertidur, mengundang air mata yang tak mampu dibendung seorang Leeteuk.

Kyuhyun melemas. Sungguh hatinya terasa tidak baik. Kepalanya terkulai di atas meja begitu saja. Tangannya mencengkram kuat gelas berisikan air putih yang beberapa lalu diberikan oleh sang pemilik kedai untuknya. Bibirnya memucat tiba-tiba..

“Hey nak, kau baik-baik saja?”

Perlahan..

Perlahan..

Entah mengapa Kyuhyun merasakan separuh jiwanya melayang begitu saja. Membuatnya lelah dan tak sanggup lagi untuk sekedar membuka mata. Matanya sayu dan terus melemah berikut genggaman tangan yang melepas gelas itu hingga jatuh ke lantai menjadi berkeping-keping. Ia merasa jantungnya melemah dan mungkin saja berhenti?

Suara panik itu terdengar samar, hingga Kyuhyun menutup kedua matanya setelah berbisik, “Kibumie..”

TBC

Oo-

Setega itukah sayaaaaaaaaaaaaaaaa????? O.o Maaf.Maaf.Maaf.Maaf.Maaf.Maaf… beribu maaf teman-teman, T________T untuk cerita yang semakin tidak karuan. Jujur, saya masih kehilangan ‘rasa’ saat membuatnya. Masih mengambang. Hhaa..

Dan soal cerita? Zz~
Buat teman-teman yang komen di chapter sebelumnya? TERIMA KASIH telah memberikan sentuhan ide-ide kecil untuk saya. Kalian itu ide saya lho, ^^Buat yang baca diem-diem? Terutama yang selalu bilang bahwa kalian menunggu, kalian itu semangat saya. Terima kasih. :’))

Sudah (titik)

59 thoughts on “-NOTHING BETTER [11]-

    Elfishyhae said:
    April 17, 2014 pukul 10:23 pm

    Oh. . . .tidak kenapa jadi begini eonie?
    #nangis bareng hae dipojokan.

    Seo YoonHi said:
    April 18, 2014 pukul 3:24 am

    Aku pengen mereka semua hidup sama sama🙂 atau paling gak hubungan pihak haechul sama teukbumkyu gak sekaku sekarang, terus Hae sama chulie tambah deket, bumie sama teukie juga..

    hehe, sepertinya saya sudah fallin’ love sama genre brother ship😀 *gara gara author*
    Hwaitting, Author!!! ^_^

    auhaehae said:
    April 19, 2014 pukul 10:58 am

    huweeeeee nagis baca nya😥 , knpa donghae jdi gtu ?? trus kibum ny gimana??

    TeukHaeKyu said:
    April 21, 2014 pukul 4:05 am

    omaigat,.. kenapa jadi begini?? T.T

    Gapapa sih, pasti Mbak Minah udah punya jalan sendiri buat kebahagiaan mereka XDDD

    Fighting~

    yetha said:
    April 21, 2014 pukul 9:49 am

    huwaaaa chapter ini bener2 menguras perasaan >.< . Rasa cemas, khawatir, tegang dan tertekan semuanya terasa banget. Miris banget liat keadaan Donghae kayak gitu, tertekan setelah ingat kematian ayahnya😦 . huwaaa itu Kibum bisa bertahankan ?😦 ….
    Ditunggu kelanjutannya chingu, fighting !!!😉

    Kim min soo said:
    April 23, 2014 pukul 1:16 pm

    Ada apa ini ? Gua pasti selalu geregetan ama karakter donghae dan kibum, oh.. Ayolah.. Please don’t be dead.. Jgn bikin kibum mati donk thor😦 keren, tiap baca selalu dpt feel. Lanjut😀

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 2, 2014 pukul 2:40 pm

    Demi apapun … kumohon jgn biarkan Kibum mati T_______T
    Jgn buat Hae trsiksa spt itu lagiiii.. huweee knpa khidupan mrka mjd bgtu sgt pelikk😥

    kyuli99 said:
    Mei 3, 2014 pukul 10:02 am

    aku ketinggalan tp ini keren

    kang yong ra said:
    Mei 16, 2014 pukul 1:40 pm

    baru baca skrng, kereeeennnn…
    jangan buat bumnya mati yaaaaa~~~~
    Lanjutkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s