-NOTHING BETTER [12]-

Posted on

“Maafkan aku, Kyuhyunie.. Aku hanya tak ingin terjadi apapun padamu! Kau mengerti?! Bisakah kau menurut padaku sebentar saja? Akan kulakukan apapun selama kau baik-baik saja!”

“Maaf.. maaf.. aku telah salah. Aku terlalu memaksakan inginku. Aku terlalu buta untuk tak membiarkanmu hidup seperti apa yang kau inginkan..”

“Kau boleh.. kau boleh keluar semaumu. Mulai sekarang kau boleh berteman dengan siapapun. Kau boleh memakai sepedah kita seorang diri. Apapun itu, aku tahu kau telah dewasa, kau telah bisa merawat dirimu sendiri..”

[CHAPTER 12]

Bola mata di dalam kelopak yang tertutup itu terlihat bergerak-gerak tak sabar seirama dengan dentingan mesin waktu. Gelisah. Disusul gerakan bagian tubuh lain yang nampak gelisah. Nafasnya memburu, bibirnya bergetar namun seperti menggumamkan sesuatu. Kalimat yang sebenarnya ia ungkapkan. Ia ungkapkan kemudian.. di dalam mimpinya.

“Bicara apa kau! Aku memang ingin keluar kemanapun yang aku inginkan! Aku memang ingin berteman dengan siapapun yang aku inginkan! Tapi harus ada kau, Kibumie! Kau satu-satunya orang yang harus mengajariku bersepedah! Kau..”

“Kau tidak boleh bosan menjagaku!”

“kau..”

“Jangan pergi.. Kumohon..”

“Hah!”

Dengan tetesan keringat dingin yang menetes di antara pelipisnya, ia membuka matanya kemudian. Terbangun sambil mengatur nafasnya, sibuk membasahi bibirnya yang teramat kering. Ia ingat persis kalimat apa yang baru saja ia ucapkan, meski ia tak kalah sadar karena mengatakan itu di dalam mimpinya. Ia ingat kalimat utuhnya. Ia ingat pada siapa ia berbicara. Ia mengingat semuanya, dan seketika firasat buruk seperti mengingatkannya pada sesuatu.

“Ki-“

Tenggorokannya tercekat ketika ia tersadar berada di dalam ruangan berisikan dua ranjang di dalamnya. Dua lemari, meski hanya ada satu meja belajar. Semua barang. Semua pakaian yang tergantung, ia hafal. Ia berada di kamarnya sendiri. Tapi sejak kapan? Siapa yang membawanya pulang, dan..

“Kyu?”

Kyuhyun masih terduduk kebingungan di atas ranjangnya. Ia lalu menoleh, pada dia yang baru saja memanggilnya. Ada Leeteuk yang menyembulkan kepalanya saja di ambang pintu yang hanya sedikit terbuka itu.

“Kau sudah bangun?”

Ada rasa yang aneh saat ia menatap wajah Leeteuk. Begitu pucat. Seperti kehilangan warna seperti biasanya. Ada apa? Roman di wajah Leeteukpun, mengapa begitu mendung? Kyuhyun membatin. Ada apa?

Leeteuk tersenyum kemudian dan mendekat. “Kau baik-baik saja, kan?”

Hanya anggukan ragu jawaban dari Kyuhyun. Perlahan, ia menatap Leeteuk penuh keraguan. Ia cengkram baju Leeteuk. “Hyung Kibumie.. dimana dia?” tanyanya dalam suara yang sedikit serak, berbeda dari biasanya, mungkin karena ia baru saja terbangun dari tidurnya.

“Kau merindukannya? Kau ingin bertemu dengannya, hn? Bersiaplah, kita akan menemuinya, Kyu..” jawab Leeteuk, membuat Kyuhyun menatapnya bimbang. Matanya penuh akan tanya, tapi tak kunjung keluar melalui celah bibirnya. Seperti ada ketakutan yang sebenarnya, ia sendiri sudah merasakannya begitu kuat. Lagipula, bertemu Kibum dimana?

Donghae terbaring menyamping dalam diam. Baju bermotif beruang kecil itu harus kembali ia pakai setelah beberapa waktu lalu telah ia tanggalkan. Satu tangan terkulai di udara, sebagian tertahan di sisi ranjang, mengantar sebuah selang kecil yang menggantung disana, tersambung ke lengan kurus itu.

Bunyi denting jam beserta desiran angin yang masuk melalui celah jendela kecil seolah menjadi irama tersendiri baginya. Tirai yang bergerak-gerak kecil seperti menjadi tontonan menarik untuknya. Karena kedua mata indah yang meredup itu, hanya terdiam bahkan enggan berkedip.

“Kapan kau menghilangkan sifat manjamu, eoh? Mungkin ayah bisa bertahan untukmu hingga kapanpun, Hae. Aku pengganti ibumu. Seperti apapun dirimu, ayah akan selalu membelamu, menjagamu, berada di sisimu..”

“Ayah jangan pergi..”

“Mungkin, jika suatu saat ayah benar-benar pergi, Heechul adalah satu-satunya orang yang bisa menggantikan ayah. Di dalam tubuh kalian, mengalir darahku, sama! Seburuk-buruknya Heechul bagimu, seburuk-buruknya kau bagi hyungmu.. tak ada yang bisa menggantikan posisi kalian masing-masing..”

Tetesan air mata segera mengalir dari sudut matanya. Oh, ternyata ia sedang berfikir, meski sepertinya ia berfikir terlalu banyak. Berfikir terlalu dalam, hingga jiwanya tertarik dan ia tak tahu kemana jalan pulang..

.

Bahkan Donghae tak berniat menatap Heechul yang berada tepat persis di hadapannya. Terpaku melihat ke arahnya entah sudah dalam waktu berapa jam. Tatapan lirih Heechul ke arahnya, bahkan ia seperti tidak ingin mengerti.

Berulang kali Heechul memanggil nama Donghae. Berulang kali dirinya menyadarkan Donghae, tapi anak itu seperti kembali pada keadaannya semula. Keadaan yang benar-benar Heechul takutkan dan kini hal itu kembali terulang. Mengukir sakit yang sebenarnya, Heechul tak merasa harus menunjukannya.

Dokter berkata, Donghae trauma.. hanya itu, tapi ini adalah hal besar!

Perlahan Heechul meraih jemari Donghae, lalu menggenggamnya. Ia rapatkan punggung tangan Donghae di wajahnya, menyampaikan isi hatinya. Menyalurkan satu tetes air mata dari sudut matanya melalui tangan itu, lalu berbisik, “cepat sembuh, ya?” dalam nada getir.

Donghae merasa terusik. Ia memutar posisi tubuhnya meski tak melakukan banyak hal dengan menampik genggaman tangan Heechul di jemarinya. Ia nampak menatap langit-langit ruangan dan menerawang jauh kembali. Lama hingga kilatan bening perlahan muncul di balik kedua matanya. Terkumpul menjadi suatu tangisan tersimpan.

Tersimpan di balik kedua mata, dan ujung hidung yang mulai memerah. Tenggorokan yang mulai terasa panas dan perih. Hingga ia merasa tak kuat menanggungnya, pecah sudah menjadi sebuah tangisan. “Ayah..” panggilnya dengan nada sesal. “Ayah..!”

Heechul tak mampu berbuat banyak namun tak melupakan genggamannya. Ia menangis sambil menatap Donghae memanggil-manggil ayah mereka. Terisak pilu tanpa mengindahkan hal lain selain ingatan menyakitkan yang terus manghantui dirinya. Suara detik jam dan desiran angin tadi? Kalah oleh jeritan Donghae pada akhirnya..

Terus mengingat dan tertarik kembali pada masa lalu yang buruk, adalah sebuah hal yang tak kalah buruknya. Bayangkan saja..

“Kenapa aku tak pernah melihat wajah ibu? Hanya di gambar saja? Memangnya kemana ibu? Kenapa dia tak pernah menemuiku, ayah? Hyung? Apa dia membenciku?”

“Bukan begitu, Hae..”

“Lalu, apa hyung pernah melihat wajah ibu?”

“Hm..”

“Hyung pernah melihat ibu, kenapa aku tidak?! Orang lain memiliki ibu, kenapa aku tidak? Aku ingin ibu!”

“Donghae, sayang.. tak ada yang bisa menggantikan posisi ibu kita. Ayah juga sepertinya tak berniat membawa ibu baru untuk kita. Karena ia bilang.. ibu selalu ada disini..”

Gerakan pelan terjadi. Perlahan, di batas lamunan itu telapak tangan Donghae menyentuh dadanya sendiri. Mengusapnya perlahan. “Ibu kau ada disini?” lirihnya dengan mata terpejam.

“Eo, ibu ada disana, Hae.. ayah juga..” gumam Heechul. Tak sedikitpun ia melewatkan setiap gerakan kecil Donghae. Mengamati perkembangan sekecil apapun. Ia simpan jemarinya di atas telapak tangan Donghae yang masih mengusap dadanya sendiri. “Kau tidak sendirian, kumohon..” lirih Heechul.

Donghae lebih banyak melamun. Donghae lebih banyak tertidur dan bermimpi, lagi-lagi tentang masa lalunya. Terakhir kali dokter memeriksanya sore itu, ia berkata “Donghae akan segera membaik. Ia hanya sedang bingung. Ia sedang mencoba membuka mata untuk segalanya. Dia akan baik-baik saja, asal kita biarkan apa saja keinginannya. Apa saja yang diingatnya, biarkan ia mengingatnya..”

Heechul mengusap wajahnya kasar, mengusir kantuk yang begitu kuat menyerangnya. Sejak memutuskan membawa Donghae ke rumah sakit sore kemarin itu, dia tak bisa tidur dengan tenang. Menunggui Donghae dengan seksama, terlalu takut Donghae menjadi kehilangan akal untul melakukan hal bodoh.

“Kita harus selalu mengingat, Hae bodoh! Sejauh apapun ayah, ibu sekalipun aku, kita harus selalu mengingat, Hae! Kami adalah kepingan hidupmu sejauh dan seburuk apapun kami. Berbeda dengan orang lain, sedekat ataupun sebaik-baiknya mereka. Mungkin aku telah salah, karena dulu mempercayakanmu pada orang lain. Tapi aku berusaha untuk tidak mengulang kesalahan itu, Hae. Berhenti menghukumku seperti ini. Hyung ingin kau kembali..”

Leeteuk menggenggam penuh jemari Kyuhyun. Di malam itu, tepat saat mereka masih di dalam taksi, Kyuhyun masih diserang banyak pertanyaan dalam benaknya, namun tak berani bertanya sedikitpun. Terlebih tingkah Leeteuk aneh sekali. Berulang kali berkata, “tetap jaga kondisimu apapun yang terjadi, Kyu. Kau janji pada hyung?”

Disepanjang gemerlap lampu kota, tak hentinya Kyuhyun menghembuskan nafasnya, berusaha membuang sesak yang dirasanya. “Kau juga harus berjanji, tidak terjadi apa-apa, kan?”

Leeteuk diam. Ia memeluk Kyuhyun dengan hangat dan enggan menjawab. Ia lalu mengusap rambut Kyuhyun perlahan. “Aku bahagia Kyu, Kibum sudah memaafkanku, Kyuhyunie!”

“Huh?”

Ada tatapan berarti dari Leeteuk untuknya. “Hyung jangan membuatku cemas! Tidak terjadi apapun dengannya, kan hyung?” desaknya. Ia tak suka dengan ketidaktahuan dirinya mengenai saudara kandungnya sendiri! Tapi Leeteuk enggan menjawab hingga ia menggungcang-guncang tubuhnya yang berada dalam pelukan Leeteuk. “Katakan dia baik-baik saja!” raungnya tak sabar. Ia mencoba untuk kuat, mengatur nafasnya sebaik mungkin.

“Hyung!”

Kyuhyun berhenti berontak ketika dirasanya mesin dari taksi yang ditumpanginya mendadak berhenti, menandakan mereka telah sampai. Namun.. halaman rumah sakit yang menyambutnya tiba-tiba saja membuat perasaannya kembali tidak enak. Ia bertanya melalui tatapannya pada Leeteuk, namun tak kunjung menuai jawaban hingga Leeteuk menggenggam erat jemarinya dan sedikit menyeret tubuhnya yang mendadak ketakutan untuk segera turun dari taksi. “Hyung kumohon,” isak Kyuhyun. “Katakan sesuatu padaku, aku mohon hyung..”

Berulang kali Leeteuk meyakinkan pada Kyuhyun agar tidak takut dan mengikutinya saja. Tapi.. mana bisa Kyuhyun tenang jika Leeteuk membawanya menuju ruang gawat darurat. Kyuhyun menjerit kecil dan tak ingin lagi mengikuti Leeteuk, berusaha menampik kabar buruk tentang keberadaan saudara kembarnya. Akan tetapi, Leeteuk menangkap kedua bahunya. Dia tekankan, “Kibum baik-baik saja, Kyu..”

“Tapi-”

Hyung tidak membawamu ke ruangan mayat, kan? Berhenti berfikiran buruk..”

Ya. Seharusnya Kyuhyun berfikir lebih positif. Mengapa otak pintarnya mendadak menjadi bodoh dan tidak berfikiran panjang? Ia menunduk malu, sedang kedua tangan Leeteuk masih tersimpan di bahunya, dan mengguncang tubuhnya pelan. “Dia ada di dalam..”

Kyuhyun menoleh ke samping dan mendapati sebuah pintu, meski masih bertulisan sama, ‘emergency’, namun ia cukup bernafas lega. Ia mencoba untuk menegarkan dirinya kembali, bersikap lebih tegar saat Leeteuk membawanya masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan pakaian steril yang terlebih dahulu harus ia pakai. “Hyung..” lirihnya ragu.

Leeteuk mencoba meyakinkan, dan lalu membawa Kyuhyun masuk ke dalam pintu lain di dalam. Pintu kaca, yang sebenarnya sudah memantulkan sosok Kibum dari dalam.

Hyung dia-”

Kyuhyun menahan nafas saat dimana ditemukan tubuh Kibum terbaring di atas ranjang itu. “Dia kenapa?” lirihnya.

Sejenak Leeteuk mengusak rambut Kibum, pasien kritis yang masih saja memejamkan matanya. “Si bodoh ini, kehilangan banyak darah kemarin, kau tahu?!” terang Leeteuk. Ia merapihkan lengan Kibum dalam lindungan selimut. Sedang Kyuhyun masih mematung di tempatnya. Mengira-ngira seberapa buruk hal yang menimpa saudara kembarnya itu.

“Kenapa ini bisa terjadi padanya, hyung!”

Dada Kyuhyun berdesir. Apapun itu yang terjadi, apapun itu yang membuat saudaranya terluka seperti ini, Kyuhyun tidak peduli. Ia memilih bungkam, dengan tangis yang ia simpan rapat-rapat. Ia menatap Kibum seksama. Mata itu, tidak pernah tertutup sebelum memastikan dia terlelap. Biasanya, Kibum tak akan pernah berani meninggalkannya sekalipun tidur adalah persoalannya.

“Berani kau menutup matamu di depanku, huh?” decak Kyuhyun, terbalut nada geram yang tertahan di tenggorokannya. “Berani kau mengabaikanku, Kibumie?” ucapnya sambil mengusap pelan dadanya yang mulai terasa berat. Ia seperti menghirup udara yang penuh dengan tanah, memenuhi saluran pernafasannya.

Menyadari satu hal yang kurang baik, Leeteuk segera mendekap Kyuhyun ke dalam dadanya. “Kubilang tahan emosimu, kan?” tuturnya sambil mengurut pelan punggung Kyuhyun. “Dia sudah melewati masa kritisnya setelah mangambil separuh darahku, Kyu. Kau tenang saja. Dia akan segera terbangun untukmu,” ungkap Leeteuk.

Namun Kyuhyun tahu, itu hanyalah sebuah harapan yang belum mampu Kyuhyun pegang kebenarannya. Kyuhyun segera terisak. “Dia bilang dia akan menjemputku, kemarin!” isaknya. Jemarinya perlahan mencengkram baju yang dikenakan Leeteuk. “Dia berbohong! Dia me- hn.. sakit!”

Leeteuk panik meski berusaha untuk tidak terlalu menunjukannya. Diliriknya Kibum yang masih terlelap tenang. Tak ada sedikitpun hal yang ditakutinya, ia segera membawa Kyuhyun ke arah luar. Membawa Kyuhyun agar mampu menghirup sedikit udara yang segar.

“Lihat ayah, hyung tidak mau mengajakku bermain! Dia benci karena aku selalu menangis, katanya! Ayah bekerja, lalu dengan siapa aku bermain?! Jika ibu ada, aku akan bermain dengannya! Kenapa ibu tidak mau bermain denganku!”

.

Menatap bintang dari arah jendela cukup membuat suasana hati membaik. Malam begitu cerah, meski lampu kota di luar sana turut berbaur menambah cahaya di malam tersebut. Masih dengan ranjang pasien yang didudukinya. Masih dengan sebuah alat yang tertancap di pergelangan tangannya. Masih dengan..

Fikiran-fikiran di masa lalu yang diukirnya. Mengalun pelan dalam ingatannya. Bukan bohong jika dikatakan, ia sedang berusaha mengingat semuanya, karena ia ingin. Donghae menginginkannya. Ia ingin melihat jalan hidupnya di waktu yang telah terlewati. Seperti apakah? Apa secerah bintang-bintang yang sedang dilihatnya di balik jendela itu? Apa dulu ia selalu tersenyum indah seperti guratan indah cahaya sang rembulan di atas sana?

Klek~

Sosok Heechul nampak hadir, membayang di antara kaca jendela, dan dapat dilihatnya. Heechul dengan bungkusan plastik di tangannya. Heechul yang baginya, tetap berwajah sama. Karena Donghae mengingatnya. Ia mengingat sosok tersebut. Mana harus Donghae melupakannya dalam keadaan apapun.

Heechul sedikit tersenyum melihat sekotak susu di dalam plastik yang dibawanya. Ada beberapa buah jeruk manis pula di dalamnya. Sebatang coklat?

Aah, Heechul menatap Donghae, dan sedikit terkejut mendapati Donghae sudah berada dalam posisi terduduk di ranjangnya. Ada sedikit kelegaan di wajahnya. Ia menghampiri saudara kecilnya, lalu ikut terduduk di sisi Donghae. “Kau sedang mencari pelangi, hn? Ini malam lho..” candanya.

“Atau kau sedang menghitung bintang disana, Hae? Ceritakan..”

Donghae menanggapi, meski hanya sekedar gelengan pelan. “Hyungie..”

“Hmm?”

Untuk pertama kalinya kedua mata sayu Donghae menatap sang hyung. “Sulit sekali mencari dimana ibu,” lirihnya. Ia lalu mengusap dadanya. “Disini tidak ada, ayah juga tidak ada!” bisiknya sambil menepuk-nepuk dadanya. “Apa mereka marah padaku? Karena aku ayah pergi. Apa ibu juga marah padaku?”

Kedua pasang mata mereka bertemu. Heechul tersenyum getir sambil mengusap satu sisi wajah Donghae. “Mereka selalu ada di hati kita, percaya pada hyung..” jawab Heechul. “Ap- apa kau begitu kesepian? Apa hyung tak cukup menghiburmu? Katakan apapun yang kau inginkan, akan hyung berikan, Hae..”

Donghae kembali menggeleng pelan. “Aku sudah besar. Apa aku boleh bertanya sekarang, mengapa ibu bisa meninggal, hyung?” tanyanya penuh akan nada yang begitu berat. “Aku ingin mengetahuinya!”

Pada awalnya Heechul ragu untuk mengatakan. Namun di sisi lain, Donghae telah benar. Ia katakan, “ibu meninggal setelah melahirkanmu, Hae..”

Dan Donghae? Segera menunduk begitu dalam. Jujur saja ia baru mengetahui hal tersebut. “Jadi salahku lagi? Ibu pergi karena aku? Apa aku begitu membuat kalian kerugian karena terlahir di dunia ini?? Apa ini sebabnya sejak dulu, kau tak ingin dekat-dekat denganku? Kau tidak ingin mengajakku bermain? Kenapa kalian meninggalkanku!”

“Bukan- bukan begitu, Donghae..” Heechul tercekat kemudian. Ia panik karena Donghae kembali menangis dan ketakutan sambil memeluk lututnya di atas ranjang. “Aku takut sendirian!”

Heechul memeluk erat Donghae, dan Donghae terisak di bahunya. “Aku tidak ingin dilahirkan jika hanya sendirian saja! Kalian seperti membenciku! Kalian sengaja ingin pergi dariku! Kalian membohongiku!”

Masih di pagi yang cukup buta. Heechul tengah memakaikan jaket pada Donghae. “Sebenarnya kau ingin kemana, Hae? Ini masih sangat pagi,” tanyanya. Ia sisir rambut Donghae, ia rapihkan dengan jemarinya.

“Aku ingin keluar. Aku bosan, hyung..” jawab Donghae sambil melirik ke arah jendela dan menatap embun pagi di luar sana. “Aku ingin mendengar suara burung..”

“Kenapa suara burung? Hyung tidak yakin ada burung di sekitar sini..”

Donghae berkedip. “Seseorang mengatakannya padaku, tapi aku tidak ingat siapa..” ucapnya.

“Jika kau sedang kesal, jika kau sedang bingung dan sangat kebosanan, maka cobalah keluar di pagi hari sebelum matahari menjadi terik. Kau dengarkan suara burung di sekitarmu, dan rasakan.. itu bukanlah cicitan mereka semata. Itu akan terdengar seperti nada yang indah dan hatimu akan menjadi senang..”

Donghae mengacungkan tangannya yang berinfus. “Sebenarnya sampai kapan kalian mengurungku disini?”

Heechul memandang Donghae ragu. Setahu dirinya Donghae tak akan bisa pulang, karena kondisi emosi jiwanya yang belum membaik, menurut dokter. Ditakutkan Donghae akan kembali mengamuk dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan jika dia menemui hal yang ditakuti olehnya. Heechul telah memutuskan, agar Donghae di rawat di rumah sakit umum tersebut dan memilih mengundang dokter kejiwaan untuk menangani Donghae. Lebih baik daripada harus membawa saudaranya menginjak lantai rumah sakit jiwa, hey! Donghae tidak gila!!

“Hyung..” panggilan Donghae menyadarkan Heechul dari lamunannya. “Sebenarnya kapan aku boleh pulang?”

“Hingga semua baik-baik saja, Hae. Kau sungguh ingin pulang? Biar hyung bicara pada doktermu nanti..”

Masih berada di atap yang sama. Kyuhyun dan Leeteuk duduk berdampingan di kursi tunggu yang berada di ruang utama rumah sakit. Membiarkan Kibum terlelap sendirian di dalam sana, toh dia tertidur begitu pulasnya.

“Jika kau bertanya, dia kenapa dan siapa yang melakukannya, hyung sungguh tidak tahu, Kyuhyunie. Hyung temukan dia sudah dalam keadaan seperti itu. Yang jelas, dia terlibat dalam tawuran kemarin..”

Kyuhyun menoleh. “Maafkan aku tidak menceritakan semua dari awal,” ungkapnya. Nadanya bergetar karena menahan tangis. “Teman-teman menyekapku untuk memaksa Kibumie agar mau ikut dalam perkelahian itu! Aku tidak tahu kenapa Ryeowook bisa membawaku, lalu mengatakan Kibumie akan menjemputku di kedai itu..”

“Sudahlah. Semua sudah terjadi. Hyung cukup merasa senang karena masih dapat melihat kalian hingga detik ini. Tak usah ungkit masalah apapun..”

“Tapi..” Kyuhyun menatap ke satu titik dan terpaku. Tak ingin Leeteuk menyadarinya, buru-buru ia tersenyum pada sang hyung, dan lalu menunduk menyembunyikan gundukan air di kedua matanya yang akhirnya menetes. “Ini bukan karena Donghae, kan?”

“Huh?”

Kyuhyun tersenyum dalam tangisnya. “Ini bukan karena Donghae, kan? Aku tidak membencinya. Kibum terluka karena diriya sendiri, atau bahkan karena aku. Bukan karena Donghae!”

“Hey..” Leeteuk memeluk Kyuhyun yang masih menangis. Ia tidak tahu mengapa Kyuhyun bisa tiba-tiba membahas perihal Donghae.

Ya. Leeteuk memang tak mengetahui apa yang beberapa detik lalu dilihat Kyuhyun. Sosok Donghae di atas kursi roda yang sempat dilihatnya dari kejauhan, bersama Heechul. Orang itu, yang begitu mengingatkan dirinya pada kebencian Kibum. Semua.. adalah karena Donghae? Sejak awal? Berusaha keras Kyuhyun menampiknya. Ia hanya belum ingin, untuk bertemu dengan sosok itu, sebelum kondisi Kibum dipastikan baik-baik saja. Tapi jika tidak?

“Bolehkah kita berteman?”

Donghae merasa kepalanya nyeri tiba-tiba melihat wajah menangis di kursi tunggu itu. Wajah itu membuatnya sakit. Ia tidak tahu dia siapa, tapi mengapa ada satu ingatan yang membuatnya bungkam untuk sekedar bertanya pada dirinya sendiri, ‘siapa itu?’

“Aku harus mengembalikan sapu tangan Kyuhyunie!”

Tes..

Donghae melemah. Ia tak mengindahkan tetesan darah dari hidungnya. Ingatan itu berdatangan, menghantam kepalanya dan semakin menyakitinya. Heechul tak akan sadar jika saja Donghae tak mengerang pelan sambil merunduk, menyimpan wajah di kedua lututnya.

“Kenapa?” cemas Heechul. Ia memilih untuk menekuk lututnya di lantai menghadap ke arah Donghae. “Ada apa? Kau merasa sakit?” tanyanya. Satu titik darah di kain celana Donghae segera menyadarkannya. “Ya Tuhan!”

Lutut bertekuk di lantai. Kedua tangan terangkat ke atas. Sungguh buruk sebuah hukuman. Meski hanya sebuah hukuman konyol yang dilayangkan Heechul untuk mereka, Siwon dan Eunhyuk, yang kabarnya ingin menjenguk Donghae siang itu. Padahal masih terdapat beberapa luka di wajah mereka, tak mengurungkan niat Heechul untuk memarahi keduanya.

“Berani-beraninya kalian berkelahi seperti itu!” cerocos Heechul. Ada koran tergulung di tangannya, untuk memukul kepala Siwon ataupun Eunhyuk yang sekali saja berani menyela perkataannya. “Kalian tahu Donghae menyusul kalian kesana kemarin? Terjebak bahaya disana, dan kalian meninggalkannya, eoh?”

“Kami tidak bermaksud meninggalkannya, hyungie..” desah Siwon pasrah, dan “auu!” ia memekik kaget ketika Heechul memukul kepalanya.

Mereka menekuk lutut tepat di depan ranjang Donghae, sedang Donghae masih terlelap semenjak kejadian tadi pagi. Sejenak mereka memandang Donghae dengan wajah sedih. “Donghae baik-baik saja, kan?” tanya Eunhyuk dengan pelan.

“Apanya yang baik-baik saja? Ia hampir diseret ke kantor polisi, asal kalian tahu!” ketus Heechul. “Kemana kalian saat Donghae bermaksud menyusul kalian waktu itu, huh? Kalian malah berlarian!” marah Heechul. “Kalian meningalkannya, dan itu buruk..”

“Hyung..”

Heechul tak bergeming menatap Donghae. “Aku tidak tahu apa masalah kalian, selesaikan sendiri tanpa Donghae, mengerti?! Sudah cukup, aku tak ingin melihat Donghae semakin memburuk! Sudah..”

Baik Siwon ataupun Eunhyuk tak mengerti apa yang Heechul maksudkan. Kemudian mereka melihat pergerakan di ranjang. Donghae perlahan bangun, lalu terduduk, mungkin merasa terganggu oleh ribut-ribut yang ada. Anak itu lalu terduduk di ranjangnya dan..

dan..

dan.. lama mengamati keduanya dengan tatapan kosong. Lalu berkedip pelan sebelum akhirnya menggapai Heechul si samping ranjang, seperti ketakutan.

“Kami bukan orang baik seperti yang kau pikir, ya! Kerjakan PR kami atau kau tidak akan hidup tenang selama bersekolah disini!”

“Boleh saja aku mengerjakan PR kalian, asal kalian mau berteman denganku, apa itu sulit?”

“Aku tak suka kekerasan, Hyuk! Siwon-ah! Hentikan itu!”

“Tidak Hae, kami akan melindungimu..”

“Lalu kenapa.. kenapa kalian juga meninggalkanku?”

Donghae mencengkram erat lengan Heechul, lalu merapatkan tubuhnya disana. Ada ketakutan yang datang menyerang mengingat siapa mereka, siapa yang ia ingat itu! “Aku tidak mau..” lirihnya pelan. “Aku tidak mau bertemu..”

“Hae..”

Heechul mengerti. Ia merangkul Donghae untuk memberikan sedikit ketenangan. Dengan berat hati, diliriknya Siwon dan Eunhyuk, lalu mencoba untuk tersenyum. “Sepertinya Donghae belum siap bertemu siapapun..” ucapnya. Ia merasa sangat bersalah saat melihat Siwon dan Eunhyuk berpamitan, lalu beranjak pergi dengan wajah kusut mereka. Bagaimana lagi? Donghae bahkan tak ingin lepas darinya sekarang. Heechul tak mampu berbuat apapun untuk mereka.

Menyisakan mereka berdua saja di dalam ruangan. Hening ketika Donghae menyelesaikan tangisnya.

“Kenapa kau tak ingin bertemu mereka?” tanya Heechul dan wajah Donghae menjadi merenggut. “Kenapa? Kau ingat mereka adalah sahabat terdekatmu, kan?”

Donghae diam dan hanya menatap ke arah selimutnya.

“Kenapa kau takut pada mereka? Apa mereka melakukan sesuatu padamu, hn?” tanyanya lagi, dan Donghae mengangguk kecil, lalu mendongak ke arah Heechul. Bibir tipisnya berkata, “mereka meninggalkanku!”

“Donghae..”

Cepat-cepat Donghae menggeleng. “Aku tak ingin lagi dekat-dekat dengan orang yang akan meninggalkanku, aku tidak suka!” cetusnya, terdengar menyeramkan bagi Heechul.

“Mereka tidak meninggalkanmu, Hae.. mereka-”

Donghae menutup erat kedua telinganya dan memejamkan erat matanya. Tidak. Cukup sudah, Heechul tak memiliki wenang untuk mendesaknya, atau jika tidak, Donghae akan kembali ketakutan. Donghae tak bisa didesak sedikit saja.

“..yang kuinginkan adalah, jauhi kami. Jangan pernah mencoba untuk muncul lagi di hadapan kami, terutama Leeteuk hyung! Jangan pernah kau mencoba untuk mengambilnya lagi!”

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Donghae! Kau adalah penyebab segalanya!”

Entah karena mimpi buruknya, atau entah terganggu dengan suara bising di sekitarnya, ia menjadi tidak tenang. Matanya yang terpejam bergerak gelisah. Ada yang mengganjal di sekitar hidungnya, dan sesuatu itu seperti menghembuskan udara untuknya. Kibum perlahan menggerakan jemarinya..

“Kibumie? Kibumie kau sudah bangun? Kau mendengar aku?! HEY!”

Samar Kibum mendengar suara Kyuhyun di sampingnya. Perlahan kedua matanya terbuka, meski sangat sayu, menampakan gurat sakit dan lelah yang luar biasa. Ada sensasi yang sangat perih di sekitar perutnya. “Kyuhyunie?” panggilnya pelan, mencoba untuk memastikan.

“Ya, ini aku! Kau sudah sadar, syukurlah!”

Kibum mencoba menampilkan senyum terbaiknya. “Kau baik-baik saja? Kau tidak apa-apa kan?”

Tanpa sadar Kyuhyun telah menangis. Ia usap kasar wajah penuh tangisnya. “Kau bodoh, huh?!” dengusnya, nampak tak suka dengan pertanyaan Kibum baru saja. “Siapa yang baik-baik saja, dan siapa yang tidak baik-baik saja disini?!”

“Ugh.”

Kibum mengerang merasakan sakit di tubuhnya. “Dimana hyung, Kyuhyunie? Aku tidak melihatnya..”

“Entah sudah sejak kapan kau tak menanyakan keberadaanku setulus itu,” timpal Leeteuk tiba-tiba. Ia tersenyum betapa lega, mendapati kedua saudaranya tengah berbincang.

Kibum menarik nafasnya dalam-dalam berulang kali. Untuk menghilangkan, lebih tepatnya mengurangi rasa nyeri di dalam tubuhnya. Hanya ingin mengangkat satu tangannya, menggapai Leeteuk di sisinya. “Aku tidak bermimpi, kan?” ucapnya. “Waktu itu.. apa yang aku ucapkan untuk terakhir kali, adalah benar..” ungkapnya. “Aku tidak berbohong.. aku.. aku minta maaf, hyung..”

Leeteuk mendekat ke arah Kibum dan berbisik. “Kita harus lebih banyak bicara setelah ini, hn? Hyung senang kau kembali..”

Ada air mata tertimbun di kedua mata Kibum. “Dia.. aku melihatnya disana. Dia..”

“Donghae maksudmu?”

Kyuhyun menjadi heran. “Ada apa dengan Donghae, Kibumie? Dia yang melakukan ini padamu?!” kagetnya.

“Tidak, bodoh!” erang Kibum. “Dia.. dia menangisiku,” bisiknya penuh rasa bersalah. “Aku ingin melihatnya..”

Entah mengapa ada nafas kelegaan dari Kyuhyun. “Kau berhutang banyak cerita padaku, Kibumie! Terlebih mengenai Donghae, apa kau telah merubah hatimu untuknya?”

Leeteuk mengulum senyumnya. “Yang lebih penting sekarang adalah, Kibum akan dipindahkan ke ruang rawat!”

Dalam keheningan Heechul mengupas jeruk-jeruk yang semalam dibawanya. Sekotak susu berada dalam dekapan Donghae, dan hal ini membuat Heechul senang. Tersenyum dengan perasaan yang seperti meledak-ledak. Donghae berangsur membaik, bahkan berubah sangat baik dalam waktu singkat. Sedikit banyak bicara, dan banyak makan meski hanya memakan makanan ringan saja.

“Aku ingin lebih banyak minum susu, agar bertambah tinggi!”

Heechul tertawa renyah. Lihat? Donghae sudah bisa bercanda, meski itu bukan candaan yang lucu. “Kau itu sudah tinggi, Hae. Mau jadi setinggi apa?”

“Aku ingin menyusul tinggimu!”

“Baiklah, susul tinggiku. Boleh saja. Karena hyung sudah tidak akan lagi bertambah tinggi..”

Donghae betah memandang Heechul yang masih fokus mengupas satu buah jeruk. Mengelupas serat-serat putih disana. Donghae terpaku melihat semua yang dilakukan sang hyung. Perlahan mata dan hatinya terbuka, setengah menerawang kembali ke masa lalu..

“Hyungie bantu aku mengerjakan PR, ya?”

“Hyung sedang ada teman, Hae. Kerjakan PRmu sendirian saja..”

“Hyung lebih suka bermain dengannya saja! Hyung tidak suka bermain denganku? Aku tidak suka pada hyung! Aku bermain dengan Changminie saja!”

“Donghae ya jangan begitu.. tadi itu, ada teman, jadi hyung tidak bisa menemanimu..”

“Benarkah?”

“Hng!”

“Jika begitu, aku mau es jeruk hyungie..”

“YA! AMBIL SENDIRI!”

“Ugh,” meski ingatan masa lalu itu selalu membuatnya meringis merasakan sakit kepala yang begitu mendadak.

“Ada apa?” panik Heechul, dan Donghae hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Apa hyung sayang padaku?” tanya Donghae kemudian. “Apa aku tidak sendirian lagi?”

Heechul menangkup kedua sisi wajah Donghae. “Memang sejak kapan kau sendirian, eoh? Hyung selalu berada di sampingmu kapanpun itu, bukan? Meski hyung sibuk bekerja dan jarang di rumah. Hm? Itu masalahmu? Bayangkan saja sendiri, untuk siapa hyung mencari uang jika bukan untuk kita?”

Donghae berkedip berulang kali, mencerna apa yang Heechul ucapkan. Ia sadar ternyata matanya tertutup oleh pekatnya sebuah keegoisan. Selama ini, ia hanya berfikir tak ingin sendiri. Merasa ditinggalkan oleh satu-satunya saudaranya.

“Sejauh apapun hyung pergi, pasti hyung pulang untuk menemuimu kembali.”

Benar. Heechul telah benar. Mengapa Donghae tak sadar, selama apapun Heechul pergi, ia pasti kembali. Bahkan jika ia harus bekerja satu hari penuh, jika sempat maka ia akan pulang selarut apapun itu.

“Kau rumahku, Hae. Begitupun sebaliknya. Jika kita tiba-tiba berpisah, kita akan saling mencari kelak. Itu pasti..”

Donghae mengangguk-anggukan kepalanya patuh. “Jadi aku bersalah padamu ya?” ucapnya sambil menatap lurus dada Heechul, tak berani menatap matanya. “Aku juga merasa wajahku lengket dan bau amis jeruk sekarang. Kenapa hyung memegang wajahku dengan tanganmu yang kotor, hyung!!”

Saudara kita, akan berbeda dengan mereka yang hanya kita anggap saudara sekalipun. Ingat ikatan darah sangatlah kuat? Setiap orang memiliki kepentingan mereka masing-masing. Jika kepentingan Heechul adalah Donghae, maka Leeteukpun memiliki kepentingannya sendiri di atas Donghae. Jangan menyangkal, ini adalah benar!

Tapi ini bukan berarti kita harus menutup diri atas keberadaan orang lain, kan?

Dan saat sebatang coklat merubah segalanya dalam waktu singkat..

“Itu..”

“Makanan manis akan memberimu sedikit tenaga, Hae..”

“Kenapa kau membawa barang itu kemari? Siapa yang memberikannya padamu, huh?” panik Donghae. Mendadak ia ketakutan akan keberadaan coklat yang masih berada di tangan Heechul. Ia menggeser duduknya menjauh.

“Jangan bilang pada Heechul jika kau memakan banyak coklat dariku hari ini, oukay?”

“Jangan lupa menggosok gigimu. Hyung takut kau sakit gigi lagi..”

“Aku lebih menyukai pemberian coklat dari Leeteuk hyung..”

Satu nama yang diingat Donghae, membuka banyak kenangan yang sulit ditebaknya. Ia mencoba memejamkan kedua matanya, menghilangkan bayangan-bayangan itu, namun mereka semakin menyerang dan mengisi ruang dalam ingatannya.

“Mengapa Leeteuk hyung pergi dan tak kembali padaku?”

“Aku ingin Leeteuk hyung!”

Ini dia, Donghae. Pahamilah. Karena Leeteuk hyung memiliki sesuatu yang lebih penting darimu. Kau harus paham sekarang, karena kau menyadarinya seorang diri. “Ugh..” Donghae menggeleng keras.

“Semua karena kau! Karena kau tak melepas Leeteuk hyung sebentar saja, sehingga ia tak pernah pulang ke rumah. Karena kau orang tua kami meninggal!”

“Aku tak akan pernah memaafkanmu!”

“..yang kuinginkan adalah, jauhi kami. Jangan pernah mencoba untuk muncul lagi di hadapan kami, terutama Leeteuk hyung! Jangan pernah kau mencoba untuk mengambilnya lagi!”

“Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Donghae! Kau adalah penyebab segalanya!”

Donghae bergerak panik, menutup kedua telinganya. “Hentikan!” jeritnya, entah pada siapa. “Hentikan kumohon!” isaknya. Ia menangis sejadinya, menekuk kedua lututnya, lalu membenamkan wajahnya disana.

Heechul merenggut kecewa. Sudah kesekian kalinya Donghae menolak pemberian coklat darinya. Jika ia berfikir, apa bedanya coklat pemberian dirinya dan juga dari Leeteuk? Jelas-jelas ia membeli kemasan coklat yang sama, dengan coklat kadaluarsa yang Donghae simpan sejak dulu di dalam lemarinya, pemberian Leeteuk.

“Kau masih berfikir Leeteuk hyung lebih baik dariku, Hae? Sejauh apa kau sudah mengerti, hn? Bahkan aku sengaja mencari coklat ini, tapi kau menolaknya. Apa jika Leeteuk hyung yang memberikannya kau pasti mau? Kau pasti mau, untuk menambah koleksi coklat usangmu di dalam lemari, iya?”

Heechul telah kalap dan kembali buta oleh kekecewaannya. Ia tak sadar Donghae tidak dalam kondisi untuk mengerti. Ia lupa bahwa Donghae belum pulih dari ingatan buruknya. Ia lupa sehingga pergi begitu saja dengan kecewa yang terus menghantam jiwanya. Ia meninggalkan Donghae menangis seorang diri.

Dan Heechul tidak tahu. Justru Donghae lebih memilih untuk membenci coklat pemberian Leeteuk. Terakhir kali Leeteuk memberikannya coklat itu, Donghae menolak. Donghae berniat melupakan keberadaan Leeteuk dalam hidupnya, sebagaimana apa yang Kibum minta. Mengapa Heechul harus membeli coklat dengan kemasan itu jika masih ada kemasan coklat yang lain??

Klek..

Pintu tertutup rapat. Heechul menyandarkan dirinya di pintu perlahan sambil mengusap setitik air di sudut matanya. Mungkin ia sedang memarahi dirinya sendiri karena membuat Donghae menangis sendirian di dalam. Baru beberapa waktu lalu padahal mereka terdengar akrab. Hingga sebuah ranjang dorong beserta beberapa orang, ramai melewati lorong di depannya. Heechul terpaku.

Leeteuk berada di antara mereka. Dan oh? Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Kibum yang kini berada terbaring di atas ranjang itu. Mungkin ini alasan Leeteuk menghilang beberapa hari ini.

Ada keraguan dalam diri Heechul. Menghampiri Leeteuk ataukah tidak? Ia menanyai dirinya sendiri. Sebenarnya dirinya ini, marah atau tidak terhadap keberadaan Leeteuk yang sekarang? Toh ia yakin, Leeteuk tidak sengaja datang untuk mengacaukan hidupnya ataupun Donghae. Tidak!

Tetap meragu. Mendekat, tidak.. mendekat, tidak.. mendekat atau tidak? Sosok Leeteuk semakin menjauh hampir menghilang di tikungan depan, namun.. Leeteuk menoleh ke arahnya tanpa ia sadari.

“Heechul-ah?”

“Maaf hyung, aku tidak tahu musibah yang menimpamu. Aku terlalu panik membawa Donghae hingga tak membantumu mencari kedua dongsaengmu..” ungkap Heechul sambil melirik ke arah Kibum yang terbaring, dan Kyuhyun yang duduk di seberang ranjang Kibum. Mereka sudah berada di sebuah kamar rawat.

“Tidak apa-apa. Semua sudah baik-baik saja..” jawab Leeteuk.

“Hn. Kau benar sudah merasa baikan?” tanya Heechul pada Kibum, dan Kibum hanya mengangguk ragu. “Syukurlah..”

“Itu.. lalu.. bagaimana keadaan Donghae.. hyung?”

Kyuhyun menatap terkejut ke arah Kibum. Ia tidak salah dengar, kan? Kibum bertanya perihal keadaan Donghae. Kibum seperti telah benar-benar menghapus kebenciannya terhadap Donghae. Kyuhyun tersenyum lega.

“Dia baik-baik saja. Kau boleh menjenguknya jika sudah sembuh nanti. Mmh.. atau bisa jadi Donghae pulang lebih dulu, kan?” canda Heechul.

Leeteuk menatap sendu ke arah Heechul. “Dia benar baik-baik saja? Kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kyuhyun memutuskan untuk menjenguk Donghae lebih awal. Kibum sedang tertidur. Leeteuk dan Heechul mencari tempat lain untuk berbincang, dan ia mencari cara untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia sudah bertanya nomor kamar rawat Donghae. 105. Tak jauh mengingat nomor kamar Kibum adalah 119.

Setibanya disana, Kyuhyun segera membuka kamar rawat itu, namun..

“Kemana dia?”

Kyuhyun masuk sebentar untuk memeriksa keberadaan Donghae. Tapi ruangan itu terlalu sepi dan memang tak ada tanda siapapun tengah berada di ruangan tersebut. Ranjangnya kosong, menyisakan bekas selimut dan.. cairan infus yang menetes ke lantai?

Mencoba untuk tenang, Kyuhyun mencari di sekitar ruangan tersebut. Ia terus mencari namun tak kunjung menemukan sosok Donghae. Hingga di tangga menuju lantai bawah, Kyuhyun bertemu kembali dengan Heechul dan Leeteuk.

“Lho? Kupikir kau sedang bercanda dengannya?” pikir Heechul.

Kyuhyun menggeleng pelan. “Dia tidak ada di ruangannya, hyung..”

“EH?!”

TBC

Selesai untuk chapter ini. Kaliaaaaaan~ terima kasih komentarnyaaaaa!!!! xDD Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca FF saya. Entah bagaimana jadinya, semakin buruk atau tidak, semua tergantung kepuasan masing-masing, ya? Disini saya hanya berusaha yang terbaik, menyalurkan apa yang ada dalam daya imajinasi saya, dan berbagi bersama kalian.🙂

Semoga berkenan, ya. Sampai bertemu di chapter depan atau di FF lainnya ya. ^^

-THANKYOU ^O^ GOMAWO ^O^ ARIGATOU-

45 thoughts on “-NOTHING BETTER [12]-

    Sutry Eea said:
    April 25, 2014 pukul 10:28 am

    Kurang kurang kurang >_<

    Sutry Eea said:
    April 25, 2014 pukul 10:29 am

    Kaya nya jiwa hae bener bener terguncang (?)
    Itu hae ga kenapa kenapa kan?? Kenapa pas heenim udah dekat lagi sama hae malah jadi kacau gara gara coklat >_<

    ik said:
    April 25, 2014 pukul 10:48 am

    masih kuranggg..

    makasih udah updet cepet ^ ^

    Maya Nurhikmah said:
    April 25, 2014 pukul 11:20 am

    donghaeeeeee…….
    aishhh hikhikkk…. sedihh liat c.fishy kya gtu, dy ky.y beban bnget dan menyalhkn semua yg trjdi adlh krena drinya…
    kematian eomma.y appa.y orng tua teukbumkyu pasti tertekan bngetttt… oh my fishy lovely dovey…
    #ngeness..
    teh minahhhh kau memang yg terbaikkk^^

    KyuHaeELF said:
    April 25, 2014 pukul 11:34 am

    Aaa, donghae pergi kemana?
    Syukur deh kibum udah maafin donghae,,,, next chapter chingu😉

    mtyendahs said:
    April 25, 2014 pukul 11:41 am

    Yessss, update xD
    Kasian hae, Itu dia mimisan? Semiga gakenapa2 yaa T.T
    sempet pikiran buruk tentang kibum ,kukira Kibum beneran udah gamau Jagain Kyu lagi xD ,Itu kibum udah mulai care kan sama donghae :))
    Next! Update secepat ini juga ya.. hehe, semangat!!

    Tsafa Fishy said:
    April 25, 2014 pukul 11:43 am

    Wah donghae kemana,,, yaa ampun hae jgn kabur jauh2 yah nak.. Sedih bgt liat donghae tertekan kayak gitu hiks..hiks…
    Kali ini endingnya harus happy yah jgn ada yang meninggal lagi hehehehe

    lee gihae said:
    April 25, 2014 pukul 12:03 pm

    sumpah gatung banget!!!
    I’m Traped ..#nynyibrenghenry

    nyesek eonnii, dongek kusayang knapa kau sangat rapuh .. dongek kusayaaanngg .. hiks miris ..
    dan kau kibumie asal kau tau keadaan skarang berbalik!! Y.Y

    kemana kemana donghae ku ..?!!

    lienana said:
    April 25, 2014 pukul 12:51 pm

    aku fikir semuanya akan menjadi lebih baik, tapi kemana Hae pergi??

    untung Kibum g kenapa knapa, klau terjadi sesuatu lebih parah dari ini, aku mau kesana peluk kyuhyun… kkkkk🙂

    sampai disni dlu komennya,, aku mau pergi mencari donghae oppa,,😀
    d tggu kelanjutannya ya!!

    dydy said:
    April 25, 2014 pukul 1:17 pm

    Dongek kemanaaaaa?????
    jiwa dongek bener2 lagi terguncang sekarang.. kenapa heechul harus ninggalin hae di saat hae nangis kaya gitu sih…..
    keselllll………..
    disaat kibum nya udah mau maafin hae.. sekarang malah hae nya yg ngilang..
    chapter ini bener2 nyiksa ikan manis gw dehhh.. kasiaannn…

    update nya jangan lama2 yaa..
    cemunguuddhh

    KimKeyNa said:
    April 25, 2014 pukul 1:33 pm

    Bener geh eon saya langsung loncat kegirangan pas tau chap ini update padahal masih ada anak les,soalnya bener nunggu saya,kibummie baik2 saja,sekarang Hae pasti tkut ketemu kibum,eh kemana itu Hae?next chap ditunggu eon,fighting!!

    lifelocked said:
    April 25, 2014 pukul 1:55 pm

    teh minnaaaaaaaaahhh, huhuhu
    chap ini ga ada duanyaaa.. LOPE! kkk. ikut kbawa masa aku unn.. :*..*: jdi ikut2an emosional :-X
    donge ny jgan dbikin lebih parah dri trauma yak! :-@ nyahaha lnjuuuuuttt❤

    Isty loyalty said:
    April 25, 2014 pukul 2:17 pm

    Aduh* kenapa jadi nyesel ya dulu pernah berharap kibum ama kyu ketemu hae. Sekarang malah rubes banget critanya

    cloudy kim said:
    April 25, 2014 pukul 2:41 pm

    jiwa hae bener2 terguncang. jd g tega sumpah. miris lihat masa lalu’y hae, bahkan hae baru tw penyebat kematian ibu’y sekarang.
    makin banyak chapter makin bwt penasaran n makin suka tentu’y.
    kalo menurutq baca ff ini punya daya tarik tersendiri n g ngebosenin malah makin penasaran, jalan cerita’y susah bgt d tebak’y. pokok spesial bgt de ni ff d hatiq.
    cepet d lanjut n te2p semangat bwt nulis ff.😀

    Awaelfkyu13 said:
    April 25, 2014 pukul 3:13 pm

    yes..yes..yess udah update.. dan ini cpet bgd.. tengkyu tteh… ooohh tteh.. knpa kau mmbuat hae smenderita ini?? trauma psikis.. knpa ga kyu ajj yg mnderita??*PLAKK #dgamparsparkyu.. smuanya smakib jelaaass. mulai ngerti sma sikap hae dan heechul.. akhrnya teuk sma bun akur. kyukyu adem ayem ajj.. ciyeeee yg lg sehaatt euy… keknya skrg nkal kebalik.. bum akan ngerasain apa yg dlu hae rasain saat di tolak sma bum atas keberadaannya… waaaahh ga sbar next chap.. updatr asap lg ya tteh.. semangaàaaaatttt!!!

    arumfishy said:
    April 25, 2014 pukul 3:20 pm

    Donghaekkkkkk T_T

    Kurangghg oennnn…..ahkkkkkkkkk aku mewek

    Hae ku kasiannnn…
    Dia sdkit melupakan masa skrang dan mulai mengingat dlu….

    Hae jangan ilanggggg
    Lanjutttt oen

    kimHaEna elfish said:
    April 25, 2014 pukul 3:49 pm

    Jedotin pala dongekk pake
    panci biar gax salah paham mulu.
    Kasiankan chulie hyung.

    Dasar uke ganjen lol …

    Oeni please . Chap ini sangat menyentuh
    dan emosinya dapet bgttt🙂

    Jakyu said:
    April 25, 2014 pukul 3:50 pm

    Untung kibum udah gak apa2…
    Tp donghae jadi trauma gtu,dia jadi takut dg org2 yg disekitarnya yg memiliki kenangan dg dia…
    Kibum udah memaafkan leeteuk dan donghae.
    Tp donghae sekarang menghilang…
    Donghae kemana yah?

    Epy Rayong Angels said:
    April 25, 2014 pukul 4:48 pm

    Wahh….. jeongmal Gomawo min dah di next😀 untuk selanjutnya Kyuteuk atau TeukHae momentnya banyakin ya !!! Untuk part ini aku sukaaaa pkek bangetttt #lebay_abaikan -_- kumohon jangan sampai Donghae benci ma Leeteuk !!! cepet dinext ya ….. Gomawo^^

    Epy Rayong Angels said:
    April 25, 2014 pukul 4:51 pm

    Wahh….. jeongmal Gomawo min dah di next😀 untuk selanjutnya Kyuteuk atau TeukHae momentnya banyakin ya !!! Untuk part ini aku sukaaaa pkek bangetttt #lebay_abaikan -_- kumohon jangan sampai Donghae benci ma Leeteuk !!! cepet dinext ya ….. Gomawo^^ …

    dewi said:
    April 25, 2014 pukul 6:24 pm

    syukurlah kibum ga kenapa2.
    tapi kemana donghae pergi.
    ceritanya kurang banyak nich.
    jadi ga sabar nunggu kelanjutannya.

    905re said:
    April 25, 2014 pukul 7:10 pm

    Eheyyy!!! Syukur kibum nya gak kenapa2,,, legaaaaa
    Ini chapter yang paling daebak! (Dari chap1), semoga di chap2 selanjutnya juga gak kalah seru^^
    Lega karena bumie selamat, tapi juga kesian ngeliat kondisi donghae😥

    Linda ★☆ said:
    April 25, 2014 pukul 10:18 pm

    wahhh 2 minggu udah update♥♡
    haeee~ dirimu sungguh kasian di beberapa chapter belakangan >3< stress banget ya kamunya?😦
    dan kini kibum lah yg ada di rumah sakit.. hehe biasanya kyu aja padahal kkk ganti tugas mereka~

    dan next chapter, update cepat dipersilahkan loh :p

    Uthrie Elfishy said:
    April 25, 2014 pukul 11:20 pm

    Yes! Akhirnya update..😀
    Oh Kibummie, syukurlah dirimu baik” saja..
    Dan Hae, hmm..
    Miris sekali keadaanmu?!! >_<

    Ditunggu chapter 13 nya kak!😀😀
    Fighting! ^_^

    Dinan Lee said:
    April 25, 2014 pukul 11:53 pm

    Kibum’ny gk knpa”,, yeayyyy!
    Donghae’ny d kmna in min,??
    Makin seru cerita’ny,,, next Chapt iyaa Min,, semangat!!😀

    Kim Hyunki said:
    April 26, 2014 pukul 12:36 am

    Aaaaaaa Donghae paboooooya!!
    udah, itu aja :v

    erleenescallps said:
    April 26, 2014 pukul 4:09 am

    ahhhh leganyaaaaaa….. kyu n kibum gapapa.. tinggal nunggu donghae-nya.. ditunggu lanjutannya min….. hahaha

    rini11888 said:
    April 26, 2014 pukul 5:43 am

    Hae hilang….bumbum terlihat lemah dsini. Kyu terlihat lbh kuat atw berusaha terlihat kuat???

    nia na yesung said:
    April 26, 2014 pukul 1:58 pm

    Syukur Lah , Aku Pikir Kibum Meninggal Untuh Engga
    Ya ampun Hae Hidup mu begitu Miris ya ,,
    padahal Kibum dah Mulai bisa Membuka Hati wat Hae,
    Hae Pergi kemn Ya ???
    ya semoga gak kenapa” ya Hae.a
    aku tunggu kelanjutan.a
    FIGHTING !!!! ^^

    idaelfishy said:
    April 26, 2014 pukul 4:00 pm

    Kmna donghae????
    Donghae quuu cpatlah smbuh eoh,,,
    Syukarlah kibum baik2 ja
    Qu hrap suatu saat nanti mreka smua akn berkumpul jdi donghae qu ga merasa kesepian^^
    Next eonni aq msih mnunggu!!!!

    dewiangel said:
    April 27, 2014 pukul 7:02 am

    lho dnghaenya kemana lagi,,,,?
    ow untungnya ga ada yang mati disini,,, semoga semuanya baik-baik saja,, dan happy end,,,

    AldMin said:
    April 27, 2014 pukul 8:26 am

    aduh haaaeeeee;;__________;;
    hiks kenapa siiiii
    jangan dibuat yang macam2 ya kak😥
    happy end aja ya kak :’))
    2 minggu lagi nothing better 13 aja ya kak🙂 hehe
    FIGHTING!!~^^

    sofyanayunita said:
    April 27, 2014 pukul 3:53 pm

    Gomawoyo~~~ eonni , kyukyu, donghae sama kibum ga di apa-apain . hhehehehe , sempet bikin deg-deg an juga pas awal baca soal kibum . aigoo… cepetan update lagi yaa , semangaaat….

    vicya merry said:
    April 27, 2014 pukul 5:36 pm

    kayaknya dari semua cast yang paling menderita adalah hae, bahkan dia lupa sama orang lain atau berusaha melupakan orang yg membuatnya sendirian. Begitu traumakah hae sampai dia jadi seperti sekarang. Aduh heechul harusnya lebih ngerti hae, hae bukannya gak suka tp dia takut untuk kembali mengingat leeteuk.

    Moga hae cepet ketemu dan keadaan hae bisa pulih seperti semula.

    yolyol said:
    April 27, 2014 pukul 11:59 pm

    Untunglah kibum sdh sadar.dan keadaan donghae ckup bkin cemas.kehilangan ortunya ckup bkin dia trauma,apalg hae mrasa dialah penyebabnya.kasian..sapa sangka namja seimut hae ternyta punya msa lalu yg bgtu kelam.

    pantes aja klu hae trauma sama yg nmnya dtinggalkan.hh….

    dan itu kmna pla si hae pergi?? aigoo…..bkin khawatir to the max aja ini….huaaa…mina-chan,update lg yah gk pke lma /plaak

    kim icha said:
    April 28, 2014 pukul 9:23 am

    huaaa…
    ini jgan di abisin dong ceritanya, klo bsa jgan ada kata END..hehe
    keren, salut buat author..😀

    yetha said:
    April 29, 2014 pukul 4:41 am

    Syukurlah Kibum udah lewat masa kritis dan udah ga kenapa2, tapi yg kenapa2 skrg itu Donghae. Hae knpa lagi itu >.< kenapa hilang. Udah seneng liat Hae berangsur membaik, eh malah kayak gitu lagi, merasa ditinggalin lagi kah Donghae makanya menghilang gitu ???
    ditunggu kelanjutannya yaa chingu, figthing😀

    casanova indah said:
    April 29, 2014 pukul 4:09 pm

    Dongeeeeekkk… ngumpet kemana kamu baby???
    baru jg akur ma heechul eh dah mulai lg sensi’a cm krna saling salah paham..
    Huaa… untung donghae cm depresi ga smp gila..
    benar2 menakutkan…😦
    Tp chap ini kebanyakan flasback’a, jd terasa pendek bgt.. kurang puas bacane….
    Oh iya knapa disaat kibum mulai mau menerima donghae, malah donghae yg gantian parno dg trauma’a…
    Lanjuuut… mg makin cepet nongol’a..😀

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 2, 2014 pukul 3:02 pm

    Syukurlah Kibum sudah agak membaik🙂

    tapi Donghae ??
    miris dgn keadaanx yg mkin trguncang
    😥
    Donghae kemnaaa ????
    Ditunggu next chapnyaaa eonieeee…

    kyuli99 said:
    Mei 3, 2014 pukul 10:15 am

    aissh padahal baru aja mau dimulai kisah baru tp hae kemanaaaaa???? eonni semangat terus nulisnya hwaiting

    etin prawati said:
    Mei 3, 2014 pukul 8:10 pm

    Ahh baru sempat baca nih.
    Akhirnya Kibum udah membuka hatinya buat nerima Hae, begitupun dengan Hae yang udah membuka mata dan hatinya kalau Heechul itu kakak yang baik banget, dia selalu ada buat Hae. Ah jadi pingin punya kakak cowok yang karakternya kayak Heechul disini hihi…
    Author-nim ada apa dengan Hae, jangan bikin dia sakit lebih parah lagi kan kasihan, aku gak terima pokoknya, Hae harus sembuh dan jangan bikin dia sakit lagi.
    Ditunggu next chap.

    TeukHaeKyu said:
    Mei 9, 2014 pukul 8:31 am

    sumpah, saya nangis bombay waktu baca kalimat-nya Heechul yang ini, “Sejauh apapun hyung pergi, pasti hyung pulang untuk menemuimu kembali.”

    OMYGOD! T.T

    Tapi Hae-nya kok tambah parah ya,… mana dia kabur lagi,.. dia ke mana coba? Dulu Hae juga pernah mau kabur kan pas masih kecil,… semoga dia nggak apa2 deh,…

    moga2 kalo Kibum udah ngomong sama dia, mereka damai, Hae-nya sembuh, happy ending deh,..

    kita lihat aja, ini FF nanti beneran happy ending,… atau bakal sama nasibnya kaya Ageusia. huhu T.T

    *btw saya minta Sorry karena saya baru baca ini FF,.. pdahal udah lumayan lama update-nya ya,… berarti bentar lagi Mbak Minah update chapter 13. Hihihi…..

    yuu chan said:
    Mei 11, 2014 pukul 12:59 am

    Annyeong…aq reader baru yg ijin baca smpe chap12 mianhae baru review… Chinguu aq ska ff nyaaaa… Kyaaaa lanjut lajuuutt…. Ska bgt deh sm ff chingu, fighting lanjut ne! ^^

    Elfishyhae said:
    Mei 16, 2014 pukul 7:09 am

    Hikz. . . Miris banget si ikan. . Apalagi tadi bca berita dia lagi sakit. .
    #nangisdipelukankibum

    kang yong ra said:
    Mei 16, 2014 pukul 2:16 pm

    ya ampuuuun haeeee, km kmn lg naaaaakkk???
    gk puas bgt buat org2 cemas nih anak kkkkkk
    saya menunggu chap berikutnyaaaa~~~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s