-NOTHING BETTER 13-

Posted on Updated on

 “Kau masih berfikir Leeteuk hyung lebih baik dariku, Hae? Sejauh apa kau sudah mengerti, hn? Bahkan aku sengaja mencari coklat ini, tapi kau menolaknya. Apa jika Leeteuk hyung yang memberikannya kau pasti mau? Kau pasti mau, untuk menambah koleksi coklat usangmu di dalam lemari, iya?”

[CHAPTER 13]

Matanya berkilat tajam. Nafasnya memburu. Bola matanya bergerak kasar, menyapu ruangan yang kini dihuninya. Ruangan yang tidak asing baginya, yang sudah ia acak isinya. Ia seperti masih mencari..

“Coklat usang.. di dalam lemari..”

“Di dalam lemari”

Ulang. Di dalam lemari! Catat dan ingat! Segera langkah kakinya ia percepat menuju sebuah lemari. Otaknya bergerak sesuai ingatannya. Le.ma.ri!  Ia menuju sebuah lemari dan lalu membukanya dengan cepat, mengobrak abrik isinya. Membuang helaian-helaian pakaian miliknya sendiri di dalam sana, sekalipun itu adalah baju kesayangannya.

Hingga satu isi dari sebagian tempat di dalam lemari telah kosong sepenuhnya, menyisakan sebuah kotak cukup besar di bagian dalam, berwarna biru, dan nampak sudah lecet di beberapa bagian. Ia seret kotak tersebut. Dan tubuhnya melemas seketika, dengan kotak yang jatuh di lantai menimbulkan bunyi yang berat dan keras.

Donghae menyandarkan tubuhnya di badan lemari, memandang ngeri ke arah kotak yang sudah hampir terbuka atapnya, membuat isi di dalamnya terlihat. Bungkusan-bungkusan coklat yang benar, ia menghafalnya, meski awalnya ia tak mengingat keberadaan coklat itu sendiri jika saja Heechul tak mengatakannya beberapa waktu lalu.

“Jadi kau tidak memakannya? Kenapa kau tidak memakan mereka? Dan kau mengurut mereka dengan nomor?”

“Coklat Leeteuk hyung itu berbeda! Terlalu sayang untuk dimakan..”

Donghae duduk lemas bersandar pada lemarinya. Ia tak ingin mempercayai bahwa ia telah melakukan hal sejauh itu. Bahkan menyimpan coklat usang di dalam lemarinya. Ingatan itu menghantam memorinya dengan cukup kuat, membuat emosi-emosi kesedihan menguasai dirinya. Ia menolak. Ia ingin menolak bahwa dirinya benar-benar menyayangi si pemberi coklat itu. Karena satu hal yang juga diingatnya..

“Aku tak akan pernah memaafkanmu!”

“Semua terjadi karena kau!”

“Jauhi kami..”

Jadi dia telah salah selama ini. Pemahaman yang Donghae tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Sekedar menyayangi seorang Leeteuk, apa sefatal itu salahnya?? Ia telah salah. Donghae merasa dirinya bersalah. Ia menangis, lagi.. menangisi kesalahannya. Tapi ia bingung, apa yang salah hingga ada yang terluka sejauh itu karenanya?

Kyuhyun membantu Kibum untuk duduk di atas ranjang tidurnya. Sesekali ia meringis kecil, meski itupun terdengar samar, mengingat Kibum bukanlah seorang yang cengeng yang akan menangis jika terluka.

“Jadi, mereka menyusul dia kemana?” tanya Kibum setelah ia berhasil merebahkan tubuhnya dengan nyaman di bantal.

“Aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu kemana Donghae hyung pergi. Dan..”

Kibum melirik ke arah Kyuhyun, menemukan raut penuh menyesal disana. “Dan?” tanya Kibum, ingin mendengar Kyuhyun melanjutkan kalimatnya. Maka Kyuhyun melirik ke arahnya.. “Sebenarnya..”

.

“Kondisi jiwa Donghae hyung tidak baik semenjak ia kecil. Wajah cerianya selama ini, hanyalah sebuah wajah lain yang baru dibalik ingatan yang ia lupakan, atau.. katakan orang-orang disekitarnya, termasuk Leeteuk hyung kita, pengasuh dia yang berusaha membuat ia melupakan kenangan masa kecilnya..”

Heechul sama sekali tidak menikmati perjalanannya. Ia terduduk resah. Ia tahu ia tak akan bisa tenang sebelum menemukan Donghae, untuk itulah ia mengijinkan Leeteuk mengambil alih mobilnya, lalu bersama mencari Donghae disekitaran rumah sakit dengan alasan: “mungkin dia belum pergi terlalu jauh..”

“Dengan kata lain, ada hal-hal tertentu yang ia lupakan, lebih tepatnya sengaja dibuat agar ia tidak mengingat hal itu, ya.. aku tidak- atau belum tahu itu apa, karena sejujurnya aku penasaran pada hal tersebut!”

“Tapi kenapa?”

“Sejak awal ini adalah salahku,” desah Heechul sambil memejamkan kedua matanya, menahan tangis. Ia hirup nafasnya sedalam mungkin untuk menenangkan fikirannya. “Seharusnya aku jujur padanya, mengenai ayah dan ibu. Seharusnya aku mengatakan apa yang menimpanya dan ayah malam itu. Seharusnya aku membiarkan ia menjerit ketakukan dan ia melupakannya sendiri dengan penuh kesadaran. Seharusnya.. Seharusnya..” Heechul menggigit bibirnya, perih..

“Aku tidak tahu pasti. Tapi yang aku simpulkan, Donghae hyung hampir ‘sakit’?”

“Gila maksudmu?”

Ada sekumpulan air terbendung di kedua mata Heechul. “Seharusnya aku percaya padanya, bahwa ia bisa menerima apapun yang terjadi padanya dulu, sepahit apapun itu. Agar ia bisa lebih menerima hal seburuk-buruknya yang menimpa dirinya! Aku tidak membuatnya belajar untuk menerima kenyataan itu. Aku bersalah..” lirihnya. Ia lalu melirik Leeteuk di sampingnya yang sedang mengemudi. Tapi Leeteuk tersenyum..

“Kau yang terbaik..” kembali Leeteuk tersenyum. Ia sama sekali tak melihat ke arah Heechul, karena jalanan yang harus dilaluinya dengan cermat. Tapi kalimat itu, pastilah benar untuk Heechul.

“Kau telah berusaha Heechul-ah.. Sejauh yang aku tahu, semua ini kau lakukan untuknya. Untuk dia yang kau lindungi. Kau sudah berusaha, harus kuulang? Kau sudah berusaha sejauh ini. Apa lagi yang membuatmu menyesal?”

Heechul hanya diam memandang Leeteuk.

“Kau hanya tidak percaya pada dirimu sendiri. Kau ketakukan hal buruk menimpa dia, dan kau tidak sadar, bahwa yang dia butuhkan hanyalah kau. Salahmu adalah, mengapa dulu takut untuk meraihnya, dan menitipkan dia pada orang lain sepertiku? Yaa.. aku tak pernah menyesali itu sebenarnya. Aku hanya mengatakan kemungkinan yang ada, jika saja dulu kau lebih berani untuk menghadapinya. Donghae.. saudaramu..”

.

“Mmh.. aku tak ingin berkata dia gila, Kibumie! Mungkin sesuatu hal yang begitu buruk membuatnya jatuh begitu dalam pada sebuah ketakutannya sendiri..”

Kibum menunduk, dan lalu ada Kyuhyun yang menaikan selimutnya. Ia kembali mendongak dan menatap Kyuhyun di sampingnya. “Aku takut apa yang menimpanya adalah salahku..”

“Eh? Kubilang kan, sesuatu yang mengganggu Donghae hyung itu terjadi sejak dulu, saat sebelum kita semua saling mengenal mungkin..”

“Kau pikir kenapa Donghae hyung tiba-tiba seperti sekarang? Bukankah sebelumnya dia baik-baik saja dan lupa pada kenangan buruknya apapun itu? Kau tidak tahu Kyuhyunie.. kau tidak tahu!”

Kyuhyun memandang Kibum, “ada hal yang tidak kuketahui, eoh? Kau menyembunyikan sesuatu dariku? Memang apa yang sudah kau katakan padanya?”

Kibum berbalik menjadi resah. “Kenapa kita tidak ikut mencarinya saja? Aku tidak bisa hanya diam saja disini, Kyu!”

“Tidak bisa! Kau belum boleh banyak bergerak!” sergah Kyuhyun ketakutan. Terlebih Kibum sudah seperti akan berdiri dari tidurnya, dia segera menahan pundak saudaranya tersebut. “Kubilang jangan!” panik Kyuhyun. Ia nyaris membulatkan kedua matanya dengan sempurna.

Melihat Kibum bangkit dengan nekatnya, juga membayangkan seberapa terganggunya luka menganga di perut Kibum membuat Kyuhyun meringis takut seolah bisa merasakan perih itu pula. Setelah Kibum yang terpaku akan reaksinya sendiri, Kyuhyun segera mendudukan dirinya di kursi dekat ranjang Kibum, lalu menenggelamkan wajahnya di selimut Kibum.

“Kyu? Kau.. kenapa?”

Kyuhyun diam. Punggungnya nampak naik dan turun lumayan cepat. Jemari di satu tangannya menggenggam selimut sedang jemari lain mengurut dadanya sendiri. Dadanya terasa sakit akibat serangan panik baru saja. Sesak meski tidak sesakit biasanya, tapi tetap saja ia butuh ketenangan.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Kibum mengguncang bahu Kyuhyun pelan.

Segera Kyuhyun bangkit lalu menatap sebal ke arah Kibum. Kedua matanya sedikit berair dan ia nampak mengatur nafasnya sendiri. “Kau membuatku cemas!” sentaknya kemudian, “jangan ulangi!”

Kibum bungkam dan kembali duduk bersandar dengan nyaman. Melihat Kyuhyun yang marah padanya, tentu membuat dirinya merasa lega, karena itu tandanya Kyuhyun masih baik-baik saja. Namun Kibum adalah seseorang yang lahir bersamaan dengan Kyuhyun. Tak mungkin bisa mereka saling menyembunyikan satu sama lain apapun itu. Kibum segera menyipitkan kedua matanya. Ia melihat bibir Kyuhyun lebih pucat dari biasanya. Mata Kyuhyun juga nampak sayu.

“Aku tidak yakin kau baik-baik saja, Kyu. Kau makan teratur, kan? Kau tidak menghabiskan waktumu untuk menjagaku disini, kan? Kau..”

Kyuhyun nampak merunduk. Ia katakan “jangan katakan pada hyung..”

Kibum tercekat. “Apa maksudmu?” tanyanya, sambil mencengkram kedua bahu Kyuhyun agar anak itu mau menatapnya.

“Aku tidak apa-apa sungguh. Hanya terlalu kelelahan, menurut dokter kemarin..”

Kibum menatap lekat ke arah Kyuhyun, hawatir. Hal kecil saja bisa melukai saudara kembarnya tersebut. Tapi ia hanya bisa mengangguk kecil, meyakinkan dirinya sebagaimana yang dikatakan Kyuhyun padanya.

“Tanya hatimu, Heechul-ah.. tebaklah kemana Donghae bisa pergi?”

Heechul menggigiti ujung kukunya, berfikir. Kemana kira-kira Donghae bisa pergi? Lalu bola matanya berputar ke arah Leeteuk. “Dia tak punya tempat lain selain rumah, hyung..” ujarnya pada Leeteuk yang lalu tersenyum dalam diam.

“Aku percaya padamu..”

Leeteuk melajukan mobil, membawa mereka berdua ke arah dimana kediaman Heechul dan Donghae berada. Tak berselang kemudian.. tiba-tiba mereka, lebih tepatnya Heechul yang lebih jeli, melihat bayangan seperti dia yang sedang mereka cari. Donghae dengan sepedah yang dikendarainya. Yang membuat yakin adalah pakaian seperti piyama bermotif beruang kecil meski inipun nampak tidak jelas mengingat jarak pandang Heechul cukup jauh.

Anak itu berjalan, berlawanan arah dengan mobil mereka.

“Itu.. Donghae?” tunjuk Heechul setengah yakin.

“Mana?” tanya Leeteuk terkaget lalu memperlambat laju mobilnya.

Ada sebuah kotak yang Heechul lihat sepintas di kursi belakang sepedah. “Ya Tuhan Ya Tuhan! Hyung itu benar dia! Putar arah kita harus mengejarnya!”

Segera Leeteuk memutar balik arah kendaraannya. Ia tidak bisa berhenti mengulum senyum ketika Heechul nampak sangat panik. “Tenanglah, kita akan mengejar dia Heechul-ah. Kenapa sepanik itu?”

“Kau tidak mengerti!” ricuh Heechul. “Ya Tuhan jadi dia pergi karena perkara coklat!”

“Eh? Coklat?”

Donghae merasa dirinya keterlaluan. Itu saja. Ia telah bertekad, “aku tidak boleh manja lagi! Aku tidak boleh bergantung pada siapapun lagi. Biarlah sendiripun semua akan baik-baik saja!” ungkapnya pada angin yang menggoyangkan helaian rambutnya. Ada air mata mengalir, seperti tidak rela mengatakan kalimat itu.

“Aku tidak boleh menyakiti orang lain. Tidak boleh..”

Di hadapan Donghae, kini terbentang jurang yang cukup dalam dan curam. Ia tepat berada di bibir tebing tersebut. Entah apa maksudnya, ia lalu mengangkat kotak yang penuh coklat di kedua tangannya. Ia memejamkan kedua matanya..

“Selamat tinggal semuanya! Aku mencintai kalian.. setelah ini, aku akan pergi jauh dari kalian. Semoga.. bahagia!” tuturnya dengan lengkungan indah di kedua sudut bibirnya. Meski tak lama, lengkungan itu tertarik ke arah bawah, dan buliran air mata segera membasahi kedua pipinya. “Maaf, aku selalu menyusahkan kalian semua..”

“Kau salah, Heechul-ah.. terakhir kali aku memberikan coklat itu, dia menolaknya. Sepertinya dia sedang berusaha menghindariku, entah alasan apa. Jadi, ketika kau memberikan coklat yang sama, dia akan menolak, seolah dirinya harus membenci segala hal yang berhubungan denganku. Kau.. harus lebih mengasah kepekaanmu terhadap apa yang dia rasakan dan apa yang dia mau..” ucapnya, tiba-tiba..

Leeteuk terkesiap saat sepedah Donghae terjungkal di sisi jalan dengan ban belakang yang masih berputar. Sisi jalan itu terhubung pada jalan setapak yang berumput subur, menanjak terarah pada sebuah tebing jauh di atas sana.

Heechul menggigit bibirnya tak sabar. “Kau tahu disini ada tebing? Jurang yang curam?” risaunya. “Kita harus berpencar mencarinya! Demi Tuhan, dia tidak boleh melakukan hal bodoh!”

Keduanya berpencar, naik ke arah yang berbeda. Leeteuk heran jika harus berfikir Donghae akan menjatuhkan dirinya. Seburuk itukah? Sehancur itukah jiwa adik kecilnya itu?

Jujur saja Leeteuk merasa cemas luar biasa. Dan rasa sesal begitu bertumpukan di dalam dirinya, mengingat semua ini hanyalah karena dirinya. Benar ini adalah karena kehadirannya selama ini. Mungkin ia harus berlatih agar bisa sedikit bertindak kejam agar tidak ada lagi orang yang akan merindukannya, seperti Donghae yang begitu lengket padanya.

Nafasnya semakin terasa berat akibat jarak berat yang ditempuhnya. Ketika hampir mencapai puncak tebing, ia melihat sosok Donghae disana, ia yakin. Ia terkejut ketika anak itu benar-benar berada di bibir tebing, berjongkok entah melihat apa. Leeteuk merasa isi jantungnya berdesir-desir tak tentu.

Tak ingin mengejutkan Donghae, karena bisa saja anak itu tak sengaja menjatuhkan diri nantinya, ia mengendap mendekati Donghae, mencoba memeriksa apa yang dilakukan anak itu terlebih dulu, bukan langsung menuduhnya sebagai pelaku bunuh diri meski itu masih menjadi ‘hampir’.

Leeteuk berjongkok di samping Donghae, tepat di sisinya, dan si anak belum juga menyadari. Tatapan Donghae kosong, cukup membuat Leeteuk takut dibuatnya. Bibirnya tak bersahabat. Sebagian wajahnya tenggelam di antara lutut. Perlahan Leeteuk mengusap rambut Donghae, dan benar saja anak itu terkejut, dan menumpahkan sebagian kerikil kecil akibat gesekan kakinya. “Ooh!” Sungguh Leeteuk terkejut dan mencengkram baju pasien Donghae dengan kuat.

“Siapa kau?!” jerit Donghae, lebih terdengar mendengus sebal.

Leeteuk tersenyum. “Kenapa begitu padaku? Kau tidak akan lupa siapa aku ini, kan?” ucapnya senyaman mungkin, tanpa memaksa sedikitpun. Ia beringsut mendekat, takut Donghae terjatuh. Di bawah sana ada sungai.

Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain selain Leeteuk.

“Ada apa, hm? Jadi aku tidak seperti Leeteuk hyung yang kau rindukan itu ya sekarang. Sayang sekali..”

Donghae semakin tak ingin melihat wajah Leeteuk. “Sudahlah. Jangan dekat-dekat!” risihnya. “Untuk apa hyung kesini? Untuk apa menemuiku? Aku ini bukan seseorang yang harus kau pentingkan dalam hidupmu, aku mengerti sekarang. Kibum bahkan lebih membutuhkanmu! Kyuhyun juga! Mereka adalah yang terpenting bagimu!”

“Itu benar..”

Donghae menangis kecil.. Ia terus menjauh dari Leeteuk dan benar-benar hampir terjatuh.

Leeteuk sungguh takut. Dengan sedikit tenaga ia menarik Donghae, lalu memeluk adik kecilnya itu perlahan. “Memang benar, keluarga adalah hal pertama yang terpenting dalam hidup kita. Sama hal dengan Kyuhyun dan Kibum. Mereka adik kandung hyung. Mereka adalah segalanya..” ucap Leeteuk, bercampur dengan desiran angin yang berlalu.

“Tapi bukan berarti kita harus menutup diri untuk bersentuhan dengan orang lain yang bukan saudara kita, kan? Kita semua adalah manusia yang saling membutuhkan. Hanya saja pilihlah mana yang harus didahulukan, dan mana yang tidak..”

Donghae terisak pelan. “Berarti kau tidak memilih dengan benar!” cetusnya serak.

“Eoh?” segera Leeteuk melepas pelukan mereka, lalu mulai menatap wajah Donghae yang penuh tangis.

“Kau mengabaikan saudaramu yang lebih penting karena kemanjaanku! Karena aku orang tuamu meninggal. Karena aku Kibum membencimu!”

“Oh Tuhan,” pekik Leeteuk tak percaya. Ia tahu sekarang. Mungkin ada ucapan Kibum yang membuat Donghae menjadi seperti sekarang. “Itu tidak benar sama sekali, Hae.. Semua sudah menjadi rahasia Tuhan. Jika hyung tahu orang tua hyung akan meninggal gara-gara kau, maka sejak awal hyung tidak akan mau menemanimu!”

“Tapi..”

“Kapan Kibum mengatakannya, hn? Dia hanya sedang emosi, percayalah. Ia bahkan menanyakanmu saat pertama kali ia sadar dari kritisnya. Dan ia meminta maaf padamu untuk kata-katanya yang menyakitimu, Donghae..”

Donghae menghentikan tangisnya. Ia garuk pipinya yang terasa gatal karena jejak air mata disana. Anak kecil, eoh? Gampang sekali kau dibujuk, Donghae.. “Benarkah?” tanyanya, masih serak.

Leeteuk tersenyum. “Ingatlah, jika kita mengalami kesulitan apapun, yang paling dekatlah yang pertama akan mendengar. Dan dia adalah saudara kandung kita, bukan orang lain. Begitupun aku, kau dan kita semua.. Siapa yang pertama kali menolongmu saat kau terjatuh? Dia adalah hyungmu, Hae.. kau boleh mengagumi sosok lain, tapi jangan lupakan sosok di sampingmu. Dia melakukan banyak hal untukmu..”

“Tapi dia tidak mencariku sekarang!”

Leeteuk menggelang pelan. Ia menuntun Donghae agar berbalik, hingga mereka temukan sosok Heechul berdiri tak jauh dari mereka. “Dia mencarimu, Hae. Kau harus percaya, bahkan dia yang pertama kali mengenalimu ketika bersepedah tadi,” ucapnya.

Donghae memberenggut dengan tangis yang kembali terbendung. Terutama saat Heechul mendekat padanya. Dengan gaya sang hyung seperti biasa. Mencibir ke arahnya. “Kau menikmati jalan-jalanmu, anak nakal?”

Donghae mengangguk.

“Kau puas sudah membuang coklat-coklat usang itu?”

Donghae mengangguk lagi dengan tetesan tangis yang mulai mengalir.

“Jadi, kau mau aku membelikan coklat yang seperti apa?”

Donghae tersenyum hambar di antara tangisnya. Ia melangkah sedikit lebih cepat, lalu masuk ke dalam pelukan sang hyung. “Kau.. menyebalkan!” isaknya.

Heechul dapat menarik nafasnya begitu lega. Inilah gaya mereka saat saling menunjukan kasih sayang itu. Penuh cibiran seolah tidak butuh satu sama lain, padahal?

“Donghae bodoh! Kubunuh kau jika berani terjun kesana!”

Donghae menangis kencang dan kesal. “Aku marah padamu!!” teriaknya. Namun mengundang tawa ringan dari Leeteuk dan Heechul yang sedang saling bertukar pandang, dengan setitik air mata di masing-masing pasang mata mereka.

“Jangan ulangi, kau gila!” dengus Heechul, namun ia tepuk-tepuk punggung Donghae dengan sayang. Sesaat ia merasa pundaknya basah karena air mata, namun ada bau lain disana. Heechul merasa curiga, dan lalu menjauhkan Donghae darinya. “YA!” ia memekik mendapati hidung Donghae berlumuran darah.

“Ada apa?” tanya Leeteuk. Ia panik melihat noda darah di baju Leeteuk. “Kita harus kembali ke rumah sakit, Hae. Kau baik-baik saja? Sepertinya karena hari begitu terik,” simpulnya..

Donghae masih menangis tersedu. “Semuanya karena orang ini!” tudingnya tak sopan pada Heechul. “Aku pusing. Aku ingin digendong saja!” rengeknya kemudian.

“Astaga.. kau meminta gendong pada orang yang kau benci, huh?” sewot Heechul, namun begitu ia berjongkok di depan Donghae, agar saudaranya itu mampu naik ke punggungnya dengan mudah. “Berpegangan!” ketusnya.

Leeteuk menyentuh punggung Donghae, berjaga-jaga bila Donghae terjatuh, sambil tak henti ia tersenyum. “Aku ingin kau bertemu dengan Kibum dan Kyuhyun, Hae..” tuturnya penuh kelegaan.

“Dia tidak apa-apa. Sejak awal dia tidak apa-apa. Hanya saja, jangan membuatnya terlalu banyak berfikiran berat..”

Heechul melotot ke arah Donghae yang sudah terbaring. “Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan?!” desaknya dengan sedikit bernada kejam, membuat Donghae mendelik kesal padanya. Meski ia sendiri sudah tahu jawabannya, hanya sekedar menggoda untuk menghangatkan suasana, agar tidak terlalu tegang. Inilah gayanya, dan sejauh apa yang bisa ia lakukan.

“Bisakah kau tidak kasar saat menyeka wajahku, hyung! Ini perih! Kau bukan sedang membersihkan cairan hijau mengering disana!” ketus Donghae, saat Heechul menggosokan sapu tangan yang memang bergestur kasar di bawah hidungnya, sisa darahnya tadi. Sedikit keras membuat kulit disana memerah.

Sang dokter tertawa. Sepertinya pasien-pasiennya akan lebih baik jika cerewet seperti pasiennya yang satu ini. Rumah sakit akan sedikit lebih gembira, atau tepatnya ramai di tiap harinya.

“Baik, tapi aku minta kau diam!” ancam Heechul. Ia benar-benar telaten merawat saudaranya itu, meski dengan cara yang dibilang tidaklah lembut sama sekali. “Kau pikir ini tidak menjijikan, huh?”

“Jadi kau tidak tulus melakukannya?!” sengit Donghae.

“Sudah..” lerai sang dokter. “Jangan bicara terlalu keras, kau tidak boleh terlalu lelah agar sehat dan cepat pulang..”

“Tapi dokter tidak tahu betapa menyebalkannya hyungku ini,” bela Donghae. Anehnya ia tetap diam saat Heechul menyeka wajahnya. Marah tapi tidak. Merasa kesakitan tetapi terlihat nyaman.

“Diamlah, apa perlu aku menaburi wajahmu dengan bedak bayi?”

“HYUNG!”

Sang dokter hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menepuk pundak Heechul, lalu berbisik pada saudara pasiennya tersebut. “Pastikan ia istirahat dan meminum obatnya. Dia sedikit demam, jangan biarkan dia turun dari ranjang selama beberapa jam ke depan. Lebih baik jika dia tidur..”

Heechul menoleh ke arah Donghae. Hidung anak itu memerah, flu. Ia mengangguk sekilas, untuk mengantar pamitnya sang dokter dari hadapan mereka. “Kau kedinginan? Perlu selimut lain?”

Donghae tidak menjawab dan masih berwajah jengkel. Ia memutar tubuhnya untuk membelakangi sang hyung.

“Hey, kau tidak perlu marah padaku!” elak Heechul, menahan tawanya.

“Ish, sudahlah kau menyebalkan! Aku mengantuk!”

“Makan obatmu baru kau boleh tidur, atau bahkan marah padaku sepuasmu..” tutur Heechul, terkekeh pelan. Ia meremas sebutir obat di alas sendok, tahu jika Donghae tak mampu menelan obat dalam ukuran cukup besar. “Ayolah..” bujuknya sambil mengguncang tubuh Donghae.

“Aku tidak mau! Pahit, hyungie..” ucap Donghae, mengerang pelan.

“Sedikit saja..”

Donghae bangun kembali dengan wajahnya yang berantakan. Pipinya mengembung, merenggut dan nampak terpaksa. “Coba kau sendiri yang mencobanya. Sekali saja kau jadi aku!” keluhnya.

Heechul menyingkap poni Donghae utuh, sedang satu tangannya yang lain sibuk memegangi sendok. “Jika aku menelan obat ini dan kau bisa sembuh, maka akan aku lakukan untukmu sejak kemarin-kemarin, bodoh!” cetusnya, mengundang satu tatapan sendu nan haru di kedua mata Donghae. “Tutup saja hidungmu saat menelannya..” sarannya.

Donghae menurut, mengapit hidung dengan dua jarinya. Mulutnya terbuka perlahan, dan obat itu mulai masuk ke dalam mulutnya. Mengalir di dalam sana, dan Donghae menelan mereka utuh sambil merapatkan kedua matanya.

“Jangan berlebihan, tidak sepahit yang kau pikir..”

Donghae nampak merinding, lalu Heechul menyodorkan segelas air putih padanya. Dan sebelum ia meminum air itu, ia tersenyum tulus ke arah saudara tertuanya itu. “Terima kasih, hyungie..”

“Ya.. ya.. aku bosan mendengarnya..”

HYUNG!”

Heechul terkekeh pelan. Ia mendorong Donghae pelan ke ranjang, menyuruh anak itu untuk tertidur. “Kau yakin tak ingin menjenguk Kibum?” tanyanya saat menemani Donghae yang hampir menutup matanya.

Donghae memejamkan matanya, namun anak itu belum tidur, dan ia sengaja tidak menjawab pertanyaan Heechul.

“Hyung akan mengantarmu. Kau dengar sendiri, kan? Bocah nakal itu sudah minta maaf padamu? Hey itu kabar bagus..”

Donghae nampak gelisah dalam tidurnya. “Bisakah hyung tidak menggangguku? Aku mau tidur..” selanya, seolah tak menghiraukan ucap Heechul mengenai Kibum. Ia lalu menarik selimut dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Heechul merasa maklum akan sikap Donghae. Mungkin anak ini masih segan untuk bertemu Kibum, orang yang beberapa waktu lalu sangat-sangat membencinya. Wajar jika Donghae takut kejadian sama terulang. Mendapat tatapan tidak suka dari seseorang merupakan mimpi buruk, terutama Kibum dengan gamblang mengatakan dirinya begitu membenci, bagaimana tidak sakit hati Donghae..

“Baiklah. Tidurlah. Jangan berfikiran apapun, hyung disini menemanimu..”

Donghae merasa hatinya sangat hangat. Benar sekali tentang apa yang dipelajarinya beberapa waktu ini. Seorang saudara kandung adalah yang terdekat setelah orang tua, seburuk apapun dia- meski Heechul tidak buruk disini. Donghae tersenyum di antara kantuk yang mulai menyerang. Tanpa sadar jemarinya keluar dari lindungan selimut, mencari Heechul, meski hanya ujung pakaian sang hyung yang ia dapat, lalu ia cengkram. Cukup mewakilkan isi hatinya agar:

“Jangan tinggalkan aku. Kau tetap disini!”

“Sudah lama ia tertidur?”

Leeteuk dikagetkan oleh keberadaan Kyuhyun yang tertidur di atas ranjang pasien milik Kibum. Kibum sendiri membawa kursi, duduk di sisi jendela entah sejak kapan. “Cukup lama..” jawabnya.

“Kenapa dia bisa tidur disini? Sejak kapan kau duduk disana, eoh? Kau tidak boleh banyak bergerak, Kibum-ah.. lukamu belum kering benar..”

“Aku baik-baik saja hyung. Aku tak ingin membiarkan dia tidur di sofa. Badannya akan sakit nanti. Dan juga.. hyung harus lebih memperhatikan Kyuhyunie mulai sekarang. Aku baik-baik saja, dan aku berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak lagi..”

Leeteuk diam mendengar tutur Kibum setelah ia menaikan selimut Kyuhyun hingga ke dada. “Apa maksudmu? Selama ini aku selalu memperhatikan kalian,” sanggahnya pelan. Ia takut Kibum akan kembali tersinggung karena dirinya mulai berurusan dengan orang lain selain mereka.

“Bukan,” bantah Kibum. “Aku hanya merasa kesehatan dia lebih sering menurun akhir-akhir ini. Tidakkah kau sadar? Sesaknya sering kambuh ketika diserang panik yang kecilpun. Tidak seperti dulu. Ia lebih rentan sekarang..”

Segera Leeteuk memandang Kyuhyun. Hawatir. Wajah saudara bungsunya itu sedikit lebih tirus sekarang, juga kulit, yang baru disadarinya itu, lebih pucat dari biasanya. Diusapnya kening Kyuhyun, untuk menyibak sedikit rambut yang basah oleh keringat disana.

“Sepertinya kau benar,” ucap Leeteuk. Ia merasa deru nafas Kyuhyun saat tertidurpun nampak kepayahan. Kulitnya lebih hangat. “Aku harus lebih memperhatikan kesehatan Kyuhyun..”  ucapnya disambut anggukan oleh Kibum.

“Hng. Tak ada yang perlu kau hawatirkan lagi kan, sekarang?” tanya Kibum. “Maksudku.. Donghae sudah kalian temukan? Dia baik-baik saja?”

Leeteuk tersenyum. “Ia baik-baik saja sekarang. Lebih dari baik. Aku bersyukur karena kau mau menanyakan keadaannya,” tuturnya. Ia melihat Kibum memalingkan wajahnya dengan enggan. “Akan lebih baik jika kalian segera bertemu dan saling memperbincangkan kesalahpahaman yang terjadi, hey..” peringat Leeteuk, Kibum seperti tidak mendengarnya.

“Aku tahu!” ketus Kibum, bernada terpaksa. “Aku akan meminta maaf padanya nanti..”

“Yeah.. nanti, karena mungkin saja sekarang dia sedang beristirahat. Kau juga harus.. kemari..” titah Leeteuk. Ia membimbing Kibum ke arah sofa yang cukup luas. Ia terduduk dan membimbing Kibum agar tertidur dengan bersandar padanya. “Jangan so’ menjadi jagoan dan tak butuh kasih dariku,” ejek Leeteuk, saat Kibum terlihat enggan.

Leeteuk menarik Kibum agar bersandar padanya, lalu ia usap-usap rambut Kibum dengan sayang. “Rasanya sudah lama sekali kita tidak seperti ini ya. Tidak pernah malah..”

Kibum tersenyum dalam diam. Ia menikmati usapan sang hyung di kepalanya. Hari yang baik.. “Aku.. bersalah padamu..”

“Benarkah? Hyung tidak sadar sama sekali..”

“Ayolah hyung.. jangan selalu menjadi orang yang baik. Pujilah kami jika melakukan kebaikan, dan marahlah ketika kami berbuat salah. Apa kau perlu berlatih bagaimana caranya untuk marah?” kesal Kibum, meski matanya terpejam.

Leeteuk terkekeh pelan. “Aku tahu kau jago dalam hal berkelahi dan marah-marah..”

“Hyung ini, sebenarnya sangat menyayangi kami atau tidak peduli, hingga seperti apapun kami kau akan tersenyum!”

“Boleh aku memuji diriku sendiri? Aku ini orang yang sangat baik. Sehingga akan tersenyum dan tenang ketika menghadapi apapun. Berbeda dengan orang yang tidak peduli. Tidak akan marah, tidak akan melarang, tidak akan menasehati dan bahkan tidak akan tersenyum, begitulah..”

“Ahh, sepertinya aku harus banyak berlatih kesabaran denganmu..”

Kyuhyun sedikit tersenyum dalam tidurnya. Sesungguhnya ia telah terbangun sejak sang hyung mengusap keningnya tadi. Ia tidak menyangka Kibum, saudara kembarnya itu mampu berbicara banyak. Terdengar lembut, tidak ketus seperti biasanya. Satu kelegaan, yang entah mengapa seoerti memperlancar aliran udara di dalam paru-parunya. Ia merasa sehat. Hanya saja..

“Berbeda dengan orang yang tidak peduli. Tidak akan marah, tidak akan melarang, tidak akan menasehati dan bahkan tidak akan tersenyum, begitulah..”

Tiba-tiba saja wajah teman satu kelasnya nampak membayangi tidurnya. Ryeowook. Ia benar-benar mengingat anak yang tatapannya seperti orang gila itu. Ia juga ingat betul apa yang dikatakan Ryeowook tentang saudaranya, Hankyung..

“Dia tak pernah melarangku untuk melakukan apapun! Dia tak pernah marah padaku, Kyu. Sekalipun. Dia sangat baik. Untuk itulah aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Termasuk hari ini. Aku berterima kasih padamu. Pada Kibumie juga!”

Jelas-jelas Ryeowook telah salah paham mengenai kebaikan hyungnya itu. Jelas-jelas itu bukanlah kebaikan, melainkan ketidakpedulian. Rasanya Kyuhyun menjadi iba, dan bertanya-tanya dimana dan sedang apa anak itu sekarang?

“Donghae masih tidur! Jika kesini jangan ribut!” sergah Heechul.

Si duo rusuh langsung menciut takut. “Hyung sendiri yang mengatakan bahwa Donghae telah membaik, kan? Jadi kami bergegas kemari untuk menjenguknya..”

Heechul memutar bola matanya kesal. “Tapi tidak di sore hari juga kan? Seperti tidak ada hari esok saja!” ketusnya. “Lagipula hampir malam, sebaiknya kalian pulang dan kembali besok..”

Siwon dan Eunhyuk memamerkan deretan gigi mereka, konyol. Yang lebih pendek memamerkan tas gendongnya yang berukuran besar. “Kami akan menginap disini!”

“Apa?!”

Sekali lagi mereka tersenyum. Kali ini yang lebih tinggi yang angat bicara. “Kami membawa persediaan selimut dan bantal. Makanan yang banyak juga. Baju tidur.. alat-alat mandi..”

“Astaga!” desah Heechul sambil menepuk keningnya. “Kalian pikir kalian akan berlibur, eoh?”

“Ayolah hyung.. kami merindukan Donghae, sangat-sangat!”

“Jangan berlebihan, Hyuk..”

“Tapi itu benar,” sela Siwon. Kami janji tidak akan menggaunggunya. “Sungguh!”

Heechul berkacak pinggang, terlebih disaat Donghae mulai bergerak dalam tidurnya. “Lihat.. baru datang saja kalian mengganggunya. Bagaimana jika berlama-lama disini? Lagian pihak rumah sakit belum tentu mengijinkan.”

“Jika tidak diijinkan kami akan tidur di halaman dan membawa tenda,” celetuk Eunhyuk.

“Paboya!” decak Heechul, memukul kepala keduanya. Keduanya diselamatkan oleh ponsel Heechul yang berdering. Ia bersiap-siap meninggalkan ruangan. “Aku terima telpon dulu. Jaga Donghae, dan jangan berisik! Ingat?!” ancamnya.

Keduanya mengangguk patuh, Siwon mengacungkan dua jarinya membentuk V dengan senyum benderang dari deretan gigi putihnya. Tak lama mereka melihat Donghae memeluk bantalnya cukup erat, mengira Donghae terbangun.

“Donghae?”

Donghae diam saja. Wajahnya berkeringat dan ia menggerakan tubuhnya gelisah. Anak ini.. sepertinya mimpi buruk. Ya.. itu benar jika harus Donghae menceritakan. Seorang pria paruh baya datang padanya dengan kepala berlumuran darah..

“A.. a-ayah?” bisik Donghae.

Aneh, pria itu tidak kesakitan dan tersenyum lembut padanya. Mengulurkan tangan penuh darahnya ke arah Donghae. Mulanya Donghae menjerit takut. Ketakutan namun, hatinya dengan yakin mengatakan itu adalah ayahnya sendiri. Kenapa harus takut hanya karena tubuhnya berdarah? Dia kesakitan, Donghae.. Dia membutuhkanmu..

Perlahan Donghae mencoba melenyapkan rasa takutnya. Uluran tangan itu masih ada untuknya. Segera ia sambut, ia sambut uluran tangan itu, maka seketika semua darah yang membuatnya takut menjadi hilang. Maka jelaslah wajah sang ayah yang tersenyum lembut padanya..

“Donghae? Donghae, bangunlah..”

Donghae merasa tubuhnya terguncang hebat. Ia terbangun dengan nafas tercekat di teggorokannya. Ada tangan yang mengusap rambutnya yang berkeringat. Donghae melirik, dan itu adalah Heechul.

“Hyung.. ini, beri dia minum..”

Donghae mengernyit mendegar suara lain dan suasana kamarnya begitu ramai.

“Kau bermimpi buruk?”

Donghae tidak menjawab. Dia sibuk melihat ke sisi ranjang yang lain. “Kalian?” tunjuknya pada dua sahabatnya. “Oh.. pantas saja aku bermimpi buruk,” desahnya..

“Hya! Kau pikir kau bermimpi buruk gara-gara ada kami, eoh?”

“Iya, soalnya wajah kalian jelek!”

Suasana mendadak menjadi sangat ramai. Heechul tak sengaja mengulum senyumnya. Satu perubahan. Donghae, saudaranya itu ternyata mampu mengatasi mimpi buruknya sendiri sekarang, berbeda dengan waktu ke belakang, dimana dia akan menjerit ketakutan karenanya. Entah bermimpi apa, Heechul sebaiknya jangan bertanya.

Waktu sudah menapaki malam hari. Donghae sedang terduduk sambil mellihat langit berbintang di balik jendela. “Hyung..” panggilnya pada Heechul di sampingnya. “Sepertinya aku benar-benar ingin kembali ke Seoul..”

Heechul melihat ke arah Donghae. “Kau.. yakin? Kau tidak sedang menghindari apapun, kan?”

Donghae menggeleng pelan. Ia melihat dua sahabatnya tidur saling bertumpukan di atas sofa. “Mungkin akan berat meninggalkan mereka. Meninggalkan Leeteuk hyung.. juga..”

“Kyuhyun dan Kibum..” sambung Heechul.

“Iya. Tapi aku yakin kali ini. Aku baru tahu kau sibuk bolak-balik ke Seoul untuk mengerjakan proyek bangunan terbarumu. Kau pasti lelah sekali, kan? Bagaimana jika kita pindah saja lagi ke Seoul..”

“Tapi Hae, aku benar tidak apa-apa..”

“Dan ponselmu terus berbunyi dari rekan kerjamu?”

Heechul menghela nafasnya. Antara bahagia dan tidak saat mendengar keputusan Donghae. Bahagia karena Donghae mau mengerti, dan tidak bahagia, karena dia tahu, teman-temannya disini adalah sumber kabahagian yang lain bagi Donghae.

“Aku harus belajar hyung. Aku harus terbiasa dengan yang namanya perpisahan. Aku akan mendapat teman baru di Seoul nanti. Aku tidak takut, sungguh..”

Heechul mengusak rambut Donghae. “Baiklah jika itu keputusanmu. Kita pindah lusa, bagaimana? Pekerjaanku sudah benar-benar menunggu..”

“Besok juga boleh..”

Donghae telah bersiap. Ranjang pasiennya telah rapih, bersamaan dengan pakaian rumah sakit bekas dirinya, yang dilipat rapih di atas ranjang. Heechul sedang membereskan barang di nakas, sedang Siwon dan Eunhyuk, berwajah murung ketika mendapat kabar kepindahan Donghae yang mendadak, tepat saat mereka bangun dari tidur.

“Kenapa mendadak sekali, sih?!” ucap Eunhyuk, bernada kecewa.

Donghae tersenyum. “Kita masih bisa saling memberi kabar, Hyuk.. jangan bersikap seolah aku akan pergi ke kutub utara sana! Kalian bisa main sesekali ke Seoul jika mau, atau aku yang akan kesini..”

“Tapi itu berbeda,” desah Siwon.

Donghae menghampiri keduanya, lalu memeluk mereka dalam satu pelukan. “Maafkan aku, ya..” tuturnya dengan tulus. “Maaf jika aku selalu merepotkan dan menjengkelkan. Maaf aku cerewet pada kalian. Maaf jika aku tak bisa menjadi teman yang baik, dan maaf karena harus meninggalkan kalian..”

Baik itu Siwon ataupun Eunhyuk, merapatkan pelukan mereka pada Donghae dan mengatakan, “kau yang terbaik- kau yang terbaik, Hae..” bahkan Eunhyuk menanggis.

“Jangan pernah berkelahi lagi, atau aku akan datang dan menampar kalian satu persatu!” ancam Donghae, lalu terkikik geli.

“Jangan lupa hubungi kami selalu setelah kalian sampai disana,” sergah Siwon, yang masih bisa mengatasi kesedihannya.

Heechul tersenyum. “Sudah..” lerainya, hingga pelukan itu terlepas. Ia pakaikan topi di kepala Donghae dengan alasan “di luar sangat panas,” dan lalu mengajak Donghae pergi. Tentu Eunhyuk dan Siwon mengiringi langkah mereka, mungkin akan mengantar hingga halaman rumah sakit, dan setelahnya mereka akan pulang.

“Kau yakin tak ingin berpamitan pada Leeteuk hyung? Kyuhyun? Kibum?”

Donghae menggeleng pelan. Tercetak jelas raut ragu dan takut di wajahnya. “Nanti saja..”

Heechul mengerling pelan. “Memangnya bisa kapan lagi?”

Mereka melangkah di lantai utama rumah sakit dalam diam. Orang-orang tak dikenal berlalu lalang dengan keperluan mereka masing-masing, tak perlu dihiraukan. Donghae sibuk menunduk, melihat ke lantai sehingga wajahnya tehalang sempurna oleh topi yang dipakainya. Namun begitu..

“Kalian akan pergi?”

Donghae menghentikan langkahnya ketika satu suara yang ia hafal telah ia dengar. Ia mendongak dan mendapati Leeteuk dan juga..

Deg.. Deg..

Donghae menciut takut oleh sosok di samping Leeteuk saat ini, padahal sosok itu adalah seorang pasien. Ia masih ingat bagaimana Kibum mengatakan kebenciannya dengan tegas dan menakutkan baginya.

Heechul tertawa hambar. “Maaf tidak sempat mengabarimu, hyung. Aku sedang ada proyek penting di Seoul. Maka dari itu aku pergi terburu-buru,” ungkap Heechul, mencoba mengerti bahwa Leeteuk akan kecewa.

“Tapi kita masih di rumah sakit yang sama, dan itu bukan alasan yang bagus Heechul-ah.. tidak butuh waktu satu jam untuk berpamitan padaku, kan?”

“Ah, itu..” Heechul melirik ragu pada Donghae.

Kibum mengamati Donghae yang malah sibuk menatap lantai di bawah kakinya. Sekalipun Donghae tak menunjukan wajahnya, membuat Kibum merasa Donghae takut padanya. Ia semakin merasa bersalah dan tak tahu harus melakukan apa. Semua orang yang ada menjadi bungkam, hingga harus Kibum memberanikan dirinya untuk mendekat..

“Waktu itu.. aku minta maaf,” bisiknya pada Donghae.

“E- eoh?”

Kibum menyodorkan sebotol susu coklat. “Aku dengar kau sedang membenci coklat hingga membuang sekotak coklat ke jurang, kemarin. Jadi.. aku beli ini saja, sebagai permintaan maafku..”

“Kibumie..” lirih Donghae tak percaya. Semua melihat betapa tidak percaya tatapan yang Donghae berikan.

“Aku tidak tahu kau akan pergi,” ucap Kibum, terdengar lebih gugup. “Ini untuk bekalmu di jalan saja..” lanjutnya.

“Terima kasih,” balas Donghae tanpa ekspresi, atau lebih terlihat lesu sambil meraih botol susu dari Kibum.

“Aku tidak tahu kalian tiba-tiba pindah ke Seoul. Jika tidak, mungkin sebotol susu saja tidak akan cukup..”

Heechul mengerutkan keningnya, tak faham akan kalimat Kibum.

“Jika kau tetap disini, maka akan kubelikan susu coklat setiap hari sebagai ungkapan maafku. Aku tahu itu masih kurang..”

Heechul tersenyum dan bersorak dalam hatinya. “Leeteuk hyung, aku tidak tahu jika adikmu yang satu ini pandai juga membujuk orang, huh?” godanya. “Kau sering menggoda gadis di sekolahmu, ya?”

Kibum menatap sebal pada Heechul, tak bersahabat. Salahkan mulut usilnya yang tidak Kibum sukai.

Donghae menatap Leeteuk, beralih pada Heechul, lalu pada Kibum dan berkata “aku harus pergi,” tapi kali ini disertai senyum tulusnya, pertanda ia memaafkan Kibum, karena memang ia tidaklah marah.

Leeteuk bergerak resah. “Tidakkah kalian bisa menundanya? Atau Heechul saja yang pergi sebentar sampai dia menyelesaikan proyeknya. Donghae.. Donghae biar menginap saja di rumahku, Heechull-ah..”

“Ini semua adalah keputusan Donghae sendiri, hyung, bukan aku..”

Donghae menatap Leeteuk penuh penyesalan. “Maafkan aku, hyungie..”

“Tapi, tapi Kyuhyun menanyakanmu, Hae. Ia jatuh sakit sejak kemarin..”

“Eh?”

Segera Heechul bertanya melalui tatapannya, dan Leeteuk mengangguk lemas. “Asmanya kambuh lebih buruk semalam. Sangat disayangkan, mengingat aku melupakan kondisinya akhir-akhir ini,” ujar Leeteuk penuh kesedihan. “Dia menanyakanmu, Donghae. Dia ingin sekali bertemu denganmu..”

Donghae menghampiri Leeteuk lalu memeluknya. “Aku bisa menjenguknya sekarang sebelum kami pergi, kan hyung?” tanyanya sejenak pada Heechul dan mendapat anggukan kecil.

Leeteuk menatap Donghae lirih. Sungguh disayangkan karena Donghae tak merubah niatnya untuk pergi. Tapi apa daya, tak ada yang mampu memaksanya untuk tetap tinggal. “Baiklah..”

Maka diputuskan, Donghae pergi menjenguk Kyuhyun sebelum dia pergi kembali ke Seoul dengan penuh harapan..

Donghae tidak pernah tahu, jika Kyuhyun memiliki sakit yang berat selama ini. Yang dirinya tahu, Kyuhyun adalah seorang anak yang mendapat perlindungan berlebihan dari saudara kembarnya. Ternyata ini dia alasan Kibum.

Sangat menakutkan. Donghae melihat sebuah selang tertanam di hidung Kyuhyun, dan anak itu tidak memejamkan matanya. Dia tersadar seutuhnya dan bahkan tersenyum padanya. Padahal Donghae tahu, itu pasti rasanya sakit.

“Kyuhyunie? Ini kau?” lirih Donghae, sebenarnya merasa tidak tega melihat Kyuhyun sedemikian rupa.

“Hng..” jawab Kyuhyun sedikit kesulitan.

“Kau kenapa sih? Aku tidak tahu kau sakit keras seperti ini!” isaknya tertahan. Tenggorokannya terasa perih. Kyuhyun hanya menggeleng pelan padanya.

“Aku baik-baik saja..”

“Pembohong!” bantah Donghae. Ia menahan tangisnya sekuat mungkin.

“Hyung.. maafkan aku. Maafkan perkataan Kibumie yang pernah menyakitimu..”

Donghae menggeleng pedih. “Tidak,” bantahnya. “Aku tidak marah pada kalian. Aku hanya merasa bersalah, terlalu bergantung pada Leeteuk hyung padahal kalian lebih membutuhkan dirinya..”

Kyuhyun tersenyum. “Itu bukan masalah..”

“Itu masalah besar, kau tahu!”

Lagi Kyuhyun tersenyum. “Kalian sudah berbaikan, kan? Aku akan senang..” sejenak ia pejamkan matanya untuk lebih fokus menarik nafasnya.

Donghae mengangguk sedih. “Sudah! Kami akan berteman dengan baik. Kita akan bermain bersama, setelah kau sembuh nanti, aku janji..”

“Kudengar kau akan pergi?”

“…”

“Leeteuk hyung bilang padaku baru saja..”

“…”

“Kenapa kau pergi? Kenapa tidak disini menemaniku?”

Donghae duduk dan menggenggam tangan Kyuhyun. “Untuk apa? Sudah ada Leeteuk hyung dan Kibumie yang akan menjagamu, Kyu. Mereka lebih penting dan lebih baik berada di sisimu saat ini. Mereka adalah saudaramu..”

Kyuhyun mengerjap pelan. “Jika begitu.. jadilah saudaraku, agar kau tetap berada disini..”

Entah ada dorongan dari mana, Donghae menarik kuat senyumnya. Membentuk senyum cerah penuh bahagia. Setelah kalimat terakhir dari Kyuhyun, ia melihat kehangatan dan ketulusan yang begitu kuat. “Boleh?” tanyanya ragu, dan mendapat anggukan dari Kyuhyun.

Donghae semakin dilanda perasaan yang teramat bahagia. Maka setelah membuka pintu ruang rawat Kyuhyun, disambut Leeteuk, Kibum, Heechul serta dua orang sahabatnya yang masih setia menunggu, ia segera tersenyum lebar. Ia melirik Leeteuk dan Kibum. “Aku akan kembali setelah mengunjungi ayah dan ibu, lalu menginap di rumah kalian, boleh?”

Heechul terkaget-kaget dengan keputusan Donghae, namun ia tahu, kali ini tidak ada hal yang perlu dihawartikan. Semuanya akan berjalan dengan baik jika kita membawanya dalam langkah yang ringan. “Jika kalian mengijinkan, maka aku titip dia pada kalian, ya?”

Donghae merenggut ke arah Heechul. “Kau harus menjengukku seminggu sekali, ya?!”

Heechul memukul pelan kepala Donghae. “Kau bilang tak ingin membuatku lelah, eoh?”

“Kalau begitu dua minggu sekali saja!”

“Oke.. Oke..”

Siwon dan Eunhyuk? Menatap sebal ke arah Donghae. “Dia ini tidak punya pendirian!” lalu mendapat cibiran dari Donghae.

“Kita juga harus mengurus kepindahan sekolah mereka, Heechul-ah.. sekolahkan mereka di sekolah yang sama, jangan di sekolah yang lama!” ujar Leeteuk, mendapat jawaban antusias, tapi bukan dari adik-adik mereka, melainkan Siwon dan Eunhyuk. “Kami juga! Kami juga akan pindah ke sekolah yang sama!”

“Aish, kalian merepotkan!” rutuk Heechul.

Kibum sibuk memberi senyum pada Kyuhyun di dalam, yang hanya terhalang kaca jendela saja, dan Donghae turut melambai pada Kyuhyun dan berkata “cepat sembuh, aku akan kembali besok!” melalui gerak bibirnya. Kibum menatapnya sebal.

Awan di sore hari, dihiasi sisa sinar mentari begitu menyejukan. Dengan mengenakan seragam bermotif sama, mereka, bertiga tengah menatap hamparan langit luas di atas gedung tinggi.

“Tebak, apa bintang akan datang malam ini?”

“Menurutku tidak!”

“Kenapa, Kibumie? Menurutku akan ada banyak bintang nanti malam, karena sore ini begitu terang. Tak ada mendung sedikitpun..”

Donghae tersenyum. “Akan kutraktir makan besok sepuasnya jika malam ini ada pelangi di langit. Aku ingin melihat pelangi..”

“Hentikan candaan bodohmu, hyung..” sebal Kibum. “Mana ada pelangi di malam hari!”

“Aku tidak bodoh! Aku selalu meminta harapan ketika pelangi datang..”

Kyuhyun terkekeh pelan. “Meminta harapan itu disaat ada bintang jatuh, bukan pelangi, hyungie..”

“Aku meminta pada peri yang sedang menyebrang pada pelangi itu, bukan pada pelanginya. Lagipula, mana ada peri yang mau menaiki bintang yang jatuh. Nanti dia ikut jatuh!”

“Terserahmu saja!”

Sudah berbulan semenjak kejadian terakhir, mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama. Berbulan pula proyek milik Heechul sulit dihentikan, meski tepat dua minggu sekali ia akan datang untuk Donghae. Sore ini mereka sengaja menghabiskan waktu bersama seperti biasa.

Kyuhyun sedang menatap ke bawah bangunan perpustakaan yang lantai atasnya mereka injak kini. Matanya tak sengaja menangkap siluet seseorang di jembatan penyebrangan tak jauh dari mereka. Ini dia yang membuatnya gelisah beberapa waktu ini. Jelas itu adalah.. “Ryeowook?”

Donghae sedang asik mengirim pesan pada hyungnya dan Kibum sibuk menerima panggilan dari Leeteuk yang mengatakan pada mereka untuk segera pulang karena Sungmin ingin bertemu sekedar untuk makan malam.

Kyuhyun sendiri yang menyadari kehadiran Ryeowook disana. Memang sosok Ryeowook ini adalah sosok hilang yang Kyuhyun pertanyakan. Bila tiba-tiba ia melihat, bahkan.. wajah Ryeowook lebih mendung dari terakhir kali dia melihatnya. Kyuhyun tahu selicik-liciknya orang ini, ia rapuh dari dalam. Dan mengenai hyungnya yang tidak peduli? Oke, tidak peduli.. Kyuhyun menjadi resah saat nampak Ryeowook tengah menaiki pagar pembatas jembatan itu.

“Oh, tidak!” gumam Kyuhyun. Ia berfikir, mungkin Ryeowook itu memang bermasalah. Dengan hyungnya yang tidak peduli itu. Tidak ada yang mengetahui seberapa berat ia menanggung beban itu.

Dengan langkah tergesa Kyuhyun menuruni tangga, tak mempedulikan teriakan Donghae dan Kibum yang mengejarnya. Ia lari membabi buta keluar dari gedung perpustakaan umum dan hampir saja melintasi jalanan jika saja Kibum tidak menariknya. “Ada apa, Kyu!” sentak Kibum.

Nafas Kyuhyun memburu. Ia terlambat. Bunyi benturan sangat keras terjadi saat tubuh Ryeowook melesat turun dari atas, hinggap di salah satu kendaraan lalu turun ke aspal dan tepat dengan wajah mengarah padanya. Kyuhyun menutup mulutnya terkejut, begitupun Donghae dan Kibum.

“Astaga! Ada orang bunuh diri!”

Air mata tergenang di kedua mata Kyuhyun. Jelas ia melihat Ryeowook tersenyum padanya sebelum menutup kedua matanya. Seolah mengantar satu pesan, bahwa kau lebih beruntung daripada aku, Kyuhyunie. Kyuhyun menyesali yang terjadi. Inilah bentuk dari ketidakpedullian, menghasilkan sebuah rasa putus asa dan berujung kematian, lebih buruk. Beruntunglah kalian yang diliputi rasa peduli, jangan pernah menyiakan hal tersebut dengan berbalik tidak peduli pada mereka..

END/jangan??

“Donghae, kau harus benar-benar pindah setelah lulus seolah nanti. Pilih Universitas yang bagus di Seoul..” – Heechul

“Kupikir kau akan mengijinkanku menginap selamanya di rumah Leeteuk hyung?” – Donghae

“Jangan bodoh! Masa iya, menginap selama itu, huh? Lama-lama Leeteuk hyung akan menagih tagihan sewa kamarmu!” – Heechul

“Jangan takut, nanti biar Kibum dan Kyuhyun yang menginap di rumahmu di Seoul..” – Leeteuk

“Jangan lupa tengok kami dua minggu sekali, ya?” – Kyuhyun

“Jangan berlebihan. Pindahnya kan belum, Kyu..” – Kibum.

“Kami juga! Kami juga ikut!!” Oo- siapa ya??

Oo

Yaa! Apa ini? Saya merasa tak enak update disaat Donghae sedang sakit kabarnya. Huhuhu.. terserah kalian ceritanya jadi seperti apa ini, hhi.

62 thoughts on “-NOTHING BETTER 13-

    Chokyu said:
    Mei 19, 2014 pukul 12:27 pm

    akhirnya update juga😀 ditunggu kelanjutannya kakak. Daaaan… Please bgt jangan ada yaoinya ya? Pelis pelis pelis beud ya? Haha *alay kumat*

    kim icha said:
    Mei 19, 2014 pukul 2:03 pm

    wuah saya telat baca ini, jgan di END dooongg jebaL author- nim..
    saya tunggu next partnya ya..

    kim icha said:
    Mei 19, 2014 pukul 2:05 pm

    wuah saya telat baca ini, jgan di END dooongg jebaL author- nim..

    kyuli99 said:
    Mei 20, 2014 pukul 3:40 am

    aku telat rivew , eonni jangan diend ya. Lanjutkan critanya ya ya ya

    casanova indah said:
    Mei 22, 2014 pukul 3:04 am

    End? andweee…
    kan blm smp gede, kmrn kan dah ada sedikit cuplikan pas udah sma..
    akhir’a semua berakhir bahagia, akur n bersama..
    biarpun itu ga berlaku utk ryeowook..
    iihhh.. siwon ma hyuk tuh yg ngintilin donghae mulu kemana2..
    tapi itulah teman yg baik sll bersama dlm
    keadaan apapun..
    aq iri ama dongeeeekkkk…

    liila sparkkyu said:
    Mei 29, 2014 pukul 5:55 am

    LNJUT LNJUT…….KEREN BNGT BROTHERSHIPNYA,,,,Q SUKA FF LO KHYUHUN YANG SAKIT SAKITAN HE HE HE

    asri cikiprit said:
    Mei 31, 2014 pukul 11:50 am

    Wah wah ketingalan nih

    Seneng akhirnya happy ending
    Tapi kasihan ryewook…

    haekyuLLua said:
    Mei 31, 2014 pukul 5:49 pm

    end beneran kah?! aaa jangan! aduh kak chap ini campur2 lah.. ada harunya, lucunya, top lah wkwk kalo lg part eunhyuk sma siwon kenapa bawaannya ngakak terus ya xD wahaha
    seneng itu waktu bagian donghae, kibum, kyuhyun udh baikkan :”) tp sayang part yg mereka barengan cuma dikit😦
    kalo bisa ini lanjut atau sequel kak!😀

    phoutree said:
    Juni 8, 2014 pukul 1:54 pm

    END?? jangan dulu dong,endingnya masih nanggung nih,,,
    aku seneng banget brothershipnya kyuhyun,kibum,leeteuk & friendshipnya bumkyu sama haewonhyuk,,tapi sayang part’nya bumkyu dibandingin donghae,lbih bnyak donghaenya scara MC’nya ya hehehe,tapi pngin bnget partnya bumkyu lbh bnyak atau detail gitu,wktu partnya kyu misalnya tau tau dah sakit aja gk tau kronologinya
    tapi sjauh ini aq suka bngt ni FF,,,fighting thor ditunggu karya brktnya🙂

    Aliva Anjells said:
    Juni 10, 2014 pukul 10:56 am

    Huwa kyuhae couple,sya ska ska,hae jgn prg,ttplh brsma kyu,,ffy daebak, next aj,blm end kn

    Aliva Anjells said:
    Juni 10, 2014 pukul 4:57 pm

    Cment q kmana,td uda cment,tp knp gk ad,,kmana ya, pkoky FF y daebak..next aj

    yolyol said:
    Maret 15, 2015 pukul 1:25 am

    ARGH!! SRIUSS…KANGEN SAMA FF INI DAN FF LAINNYA (yg msh TBC) mknya bca ulang ni ff..huweeeee…mi authornimnya kmna ya???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s