ANGEL EYES CHAPTER 1

Posted on

“Tunggu dulu.. kau.. siapa?”

“Aku tidak tahu. Suaramu terdengar meski dari jauhpun. Bayanganmu satu-satunya yang ingin aku lihat..”

Angel Eyes

[CHAPTER 1]

Dunia pasti seperti menghitam di matanya. Tentu saja. Ia berjalan dengan kacamata hitam melindungi matanya. Tampan. Wajahnya memanglah sangat tampan. Terlalu tampan bahkan. Terlalu sempurna untuk turun dari kendaraan roda empat berwarna putih mengkilat. Mengundang tatapan kagum, terpesona dan juga tatapan nakal dari para gadis-gadis yang berserakan di halaman gedung-gedung tinggi tersebut. Seolah ingin mendekatinya, menggodanya..

Namun ia mana peduli..

Nampak sekali dari wajahnya. Bibirnya mencibir tak suka. Tidak nampak sombong. Mungkin ia terganggu dengan bisik-bisik dan juga tatapan nakal mereka.

Sejenak ia mengambil kacamata hitamnya lalu menggantinya dengan kacamata bening. Memperkuat penampilannya sebagai seorang pelajar. Salah satu penuntut ilmu di universitas yang halamannya ia pijak sekarang. Dengan buku tergantung di antara jemari di tangan kirinya..

“Tak usah memaksakan gayamu, Kyuhyunie! Kacamata hitam itu tidak cocok denganmu!”

Kyuhyun tersenyum sambil mematut wajahnya di kaca jendela mobilnya yang hitam. “Aku tampan, harus kau ingat!” bisiknya. “Kau hanya iri denganku, kan? Huh?” ucapnya sambil memamerkan gigi-gigi putihnya. “Apa kau lupa sejak kapan aku mengumpulkan kacamata-kacamata itu?”

“Dan hitam semua! Yeaah, itu keren, tapi kacamata bening ini lebih bagus..”

Kyuhyun merenggut. “Aku baru tahu pening di kepalaku akhir-akhir ini karena mataku yang rusak! Lihat sekarang aku jadi seperti seorang culun dengan kacamata ini?”

“Tidak! Pintarmu terlihat jika begini..”

Kyuhyun tersenyum lebar. “Kau pikir aku pintar? Atau kau baru sadar, dan baru sudi mengakuinya, Changmin-ah..”

“Mari bermain sore ini? Di lapangan dekat rumahku? Kau berani? Untuk membuktikan kepintaranmu?”

Lagi, Kyuhyun tersenyum lebar. “Kau sedang menyerang kelemahanku, hn? Aku bisa bermain bola, kau tidak percaya?”

Changmin mengangkat bahunya. “Aku tidak pernah  melihatmu bermain bola sejak kau dilahirkan..” ingatnya.

“Kau harusnya mengerti, orang pintar bisa melakukan hal baru. Apa saja itu jenisnya, ia akan bisa melakukannya!”

Satu lagi mengisahkan detik bersama seorang pemuda tampan. Turun dari mobilnya dengan satu senyuman hangat terbentuk dari bibirnya. “Aku pergi hyungie..”

“Hati-hati. Kibum sudah menunggumu di pusat gedung mahasiswa. Semoga semuanya lancar. Katakan pada hyung jika ada senior yang memukulmu, oke?” ucap sosok yang masih setia terduduk di kursi kemudi. “Aish, kenapa kau bandel tak ingin diantar? Akan lebih mudah, kan?”

“Hyung jangan terlalu cemas, aku akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga diriku..”

Sang hyung terpaku melihat adiknya tersenyum begitu manisnya. “Donghae-ya..” desahnya bernada kagum. “Jangan sampai terjadi apa-apa, oke? Hubungi aku segera jika sudah selesai. Hyung akan segera menjemputmu..”

“Umh!” angguk Donghae, sambil membungkuk memberi salam perpisahan lalu tak lupa melambaikan tangannya. “Sampai jumpa di rumah nanti malam. Aku mencintaimu hyungie..”

Mobil itupun melaju meninggalkan Donghae di antara orang-orang asing yang tak dikenalnya. Itu tak cukup membuatnya takut. Ia lantas masuk ke dalam universitas yang akan menjadi tempatnya belajar beberapa tahun ke depan. Jika ia pintar, mungkin bisa dalam waktu cepat.

“KimKim..” bisik Donghae sambil mencari nomor sebagaimana yang disebutkan oleh mulutnya baru saja, lalu menghubungi nomor tersebut. “Ya! Kibumie kau dimana?! Sudah kubilang tadi tunggu aku, kan? Jadi aku pergi diantar Leeteuk hyung!” sungutnya tak sabaran.

“Tidak perlu. Aku bukan anak kecil lagi. Aku punya mulut untuk bertanya dimana tempatmu berada sekarang. Lagipula ini bukan di hutan. Banyak orang disini!” cerocosnya seolah tak ingin berhenti.

Ada decakan dari ujung sana. “Jika begitu cepatlah kemari, bawel!”

Donghae menatap cengo ke arah ponselnya. “Sial kau mengataiku bawel,” makinya pada sang ponsel, seolah benda mati tersebut memang benar telah berkata padanya. Tak sempat ia menaruh ponsel itu kembali ke dalam tasnya, ia bergegas berjalan untuk mencari keberadaan si KimKim, Kim Kibum.

Ada peta di dekat salah satu gedung, dan dirinya mencoba menelusuri letak kampus melalui arah di peta tersebut. Telunjuknya berada di tempat yang kini dipijaknya. “Perpustakaan?” ucapnya, lalu memandang ke arah kiri.

“Oke, biar kuingat. Ada perpustakaan, belok lagi ke kiri dan ada gereja, kan? Dan dia berada tepat di sebrang taman dekat gereja..”

Donghae mengukur jalanan itu dengan kakinya perlahan sambil mengingat. Ada jalan ke arah berbeda. Kiri dan kanan. Dia tersenyum. Gedung perpustakaan tepat berada di depannya. “Kiri?” ingatnya sambil menunjuk jalan ke kiri diikuti kaki yang melangah ke arah yang sama. Namun, baru kaki itu selangkah..

“Ya! Para senior tidak akan suka melihat tingkah adik kelasnya yang seperti dirimu! Kau pikir kau tampan, huh?”

“Jangan begitu. Aku memang tampan dan juga pintar, kan?”

“Dan senior perempuan akan menyukaimu, lalu kau menjadi bulan-bulanan pacar mereka, kau mau? Rubah sikapmu, setidaknya hanya sampai masa orientasi. Jangan perlihatkan tingkah sombongmu itu, tuan Cho!”

Donghae tak jadi berjalan ke arah kiri. Entah mengapa, justru tanpa sebab memang, ia membuntuti dua orang yang sedang berbincang dengan ramai itu. Keduanya sama tinggi. Donghae sama sekali tidak mengenalnya, namun ia ingin sekali mengikuti mereka..

“Aku adalah aku. Tak ada yang harus dirubah, mereka suka ataupun tidak..”

“Ini demi keselamatanmu, pabo!”

“Mana peduli! Aku tidak takut pada siapapun..”

“Jika tidak ada aku tidak ada orang yang mau berteman denganmu, idiot keras kepala!”

“Berhenti mengataiku, aku tidak pernah memintamu menjadi temanku, Changmin-ah..!”

“Ya, Cho..!”

“Aku tak butuh teman.. karena aku bisa melakukan apapun seorang diri. Aku ini anak pintar, catat itu..”

Donghae menggeleng pelan. Tatapannya terhadap dua pemuda tinggi itu terhitung bingung. Apa yang didengarnya hanya sebatas percakapan lewat yang mampir seperti bunyi angin di telinganya. Samar. Dan panik adalah ketika salah satunya menoleh, menatap tepat pada dirinya. Keningnya mengerut heran membuat Donghae menciut.

“Kau.. tidak sedang mengikuti kami, kan?” tanya salah satu di antara mereka.

Donghae menggeleng kaku. “Tidak,” jawabnya sambil tersenyum kikuk. “Hanya..”

“Hanya?”

Donghae menelan ludahnya. Ia nampak mendekat ke arah dua pemuda tinggi yang kini menatap utuh ke arahnya dengan wajah bingung. Sungguh bodoh terlihat, ketika Donghae tidak menghentikan langkahnya dan menghampiri salah satu di antara mereka. “Dompetmu terjatuh, baru saja..” ucapnya, melirik ke arah lantai dimana sebuah dompet terletak di bawah sana. “Lain kali berhati-hatilah terhadap barang-barangmu..”

Donghae meraih dompet tersebut. “Ini berada di bawah kakimu, kenapa tidak kau ambil? Kau ingin aku yang membawanya kabur lebih dulu? Ahh.. kau tenang saja aku bukan pencuri,” tuturnya, namun tak mendapat reaksi apapun. “Aku tidak salah, kan? Ini milikmu?”

Dia itu mengerjap pelan. “Ada aku dan Changmin disini. Kau begitu yakin ini milikku? Bukan milik Changmin?”

Changmin merangkul pundak Kyuhyun. “Kau kenapa? Dia ada di belakang kita. Tentu saja dia melihat dompet itu terjatuh dari saku celanamu. Santailah sedikit, kau seperti menuduhnya menguntitmu, Kyu!”

Donghae tersenyum canggung dan seperti tidak yakin. “Ya, yaa, temanmu benar..”

Ada anggukan kecil dari Kyuhyun. “Baiklah, terima kasih,” ucapnya singkat dan terkesan ringan. Ia sedikit tersenyum pada Donghae, lalu segera bergegas kembali pada tujuannya, bersama Changmin. Meninggalkan Donghae yang menggaruk kepalanya sendiri. Menatap kepergian Kyuhyun dan Changmin dengan tawa hambarnya. “Siapa yang aneh disini sebenarnya?”

“Jangan cemberut begitu, sebenarnya yang pantas marah disini siapa? Kau atau sebaliknya, huh? Hampir satu jam aku menunggu sejak kau menelpon tadi, asal kau tahu!”

Donghae menghentakan kakinya. “Kenapa kau tak bilang jika gedung ini dari gerbang itu begitu jauh, huh?”

“Dan kau merasa hebat bisa kesini sendirian, ya? Ponselmu hilang?”

Donghae terduduk lesu di sebuah kursi kayu di sepanjang lorong tersebut. “Kapan acaranya dimulai?” ucapnya tiba-tiba. Ia lalu mengusap wajahnya. “Kulihat kampus ini masih sepi, kan?”

“Mereka hanya meminta data kita saja untuk dikelompokan di masa orientasi nanti, semoga kita satu kelompok. Orientasi sendiri dimulai lusa, Donghae hyung yang tampan. Dan aku sudah membantumu mengisi datanya. Jadi kita pulang..”

Donghae berjengit dari duduknya. “Hwat?!” pekiknya tak terduga. “Jadi hanya itu?” tanyanya dengan nada kesal. “Setelah menghabiskan waktu santaiku? Hanya untuk mandi dan berdandan setampan mungkin, merepotkan Teuki hyung dan berjalan mengitari kampus hingga kakiku seperti akan copot? Dan aku datang lalu pulang kembali tanpa melakukan apapun? Kibumie?!” kesalnya.

Kibum terkekeh pelan. Ia ajak Donghae berdiri, ia rangkul kemudian, memapahnya berjalan, dan jangan lupa, ia tutup mulut bawel hyungnya itu dengan telapak tangannya. Keadaan gedung yang sepi membuat suara Donghae mendengung dan sangat berisik.

“Kita kerumahku saja. Ibu kosku sudah memasakan makanan siang. Jadi waktumu tidak terbuang percuma, kan?

Donghae mendengus dan menghempaskan tangan Kibum. “Lain kali jangan begitu!” rutuknya. “Rumahmu kan lebih dekat ke kampus ini, jadi jika ada sesuatu yang tidak terlalu penting dan itu bisa diwakilkan, maka wakili saja aku. Aku kan tidak perlu jauh-jauh datang kemari..” keluhnya.

“Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu, lagi pula kita baru diberitahu jadwal kegiatan kita satu minggu ke depan selama perkumpulan tadi. Nanti aku pilah kegiatan yang sekiranya kau tidak usah datang. Salin dirumah saja, ya?”

“Hmm..”

Kibum menyenggol tubuh sisi Donghae. “Kau marah?”

“Tidak, aku hanya tidak ingin bicara padamu..”

Kibum mengulum senyumnya, tak lama lalu menyimpan tawanya seberapa besarpun keinginannya untuk tertawa. Karena Donghae telah memperingatinya. “Jangan tertawa atau aku akan menyebarkan foto telanjangmu di internet!”

Leeteuk menghela nafas berat. “Jadi kau akan menginap di tempat Kibum hingga masa orientasi selesai? Aku belum percaya meski dia temanmu sejak kecil sekalipun, Hae. Percayalah.. aku masih belum berani menitipkanmu pada siapapun setelah-”

“Cukup hyung. Jangan kau berani mengungkit hal itu lagi, kumohon..”

“Tapi Hae, kalian tidak dalam pengawasan orang tua..”

“Kami sudah besar hyung. Kau tahu? Nyonya Byun, pemilik rumah kos Kibum itu baik sekali. Lagipula kami sudah besar, kan? Mana bisa kau berkata seperti itu, seperti aku ini anak taman kanak-kanak saja!”

Leeteuk tanpa sadar tersenyum akan gerutuan Donghae. “Ingat, aku tak bisa menghilangkan cemas jika menyangkut adik tampanku..”

“Hentikan! Cukup tambahkan uang jajan saja ke tabunganku, ya?”

Donghae tertawa lebar. Tawa has yang sangat Leeteuk hafal. “Belum sehari kau menginap, sudah bertambah nakal saja! Tidak bisakah kalau hyung antar jemput saja?”

Lama tak menjawab, lalu Donghae berkata pelan. “Jadi kau masih tidak percaya padaku, hyungie? Nanti juga ada kegiatan berkemah saat kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kau mau ikut berkemah karena hawatir padaku?”

“Eo? Tidak begitu juga, Hae..”

Hening. Tak ada lagi bujukan atau rengekan dari Donghae. Leeteuk mengacak rambutnya. “Jangan marah..” ucapnya, namun tak ada jawaban. Donghae tidak bicara padahal mereka masih tersambung. “Hae?”

“…”

“Oh, Donghae! Oke.. Oke hyung ijinkan. Tapi baik-baik disana..” putus Leeteuk sedikit geram, lalu ada suara tawa renyah dari sana. “Kau anak nakal! Awas jika aku mendengar hal yang tidak-tidak selama kau tidak di rumah, kau dengar? Kau dengar itu baik-baik!”

Tuut..

Tuut..

Sambungan terputus. Sekali lagi Leeteuk menghela nafas beratnya. Ia pandangi sebuah foto besar yang terpajang di dinding. “Pertama kalinya aku melepasnya keluar sendiri sejak saat itu, bu.. kau mau menjaganya untukku, kan?” ucapnya pada gambaran wanita di dalam foto.

Matahari mulai menggelap, menampakan indahnya langit sore di atas sana. Leeteuk tersenyum. Sejauh yang ia pandang, mengapa hanya wajah adik bungsunya yang nampak dimana-mana?? Wajah tersenyum adiknya. Senyum manis yang menurutnya, mirip dengannya sendiri.. Telapak tangannya lalu mengusap permukaan kaca jendela, mencoba mengusir bayang-bayang Donghae disana. “Sepertinya aku harus belajar untuk tidak terlalu mencemaskanmu..”

Donghae tertidur, terlentang ke arah langit-langit ruangan orang lain, bukan kamarnya seperti biasa. Tepat di sampingnya, Kibum juga sedang dalam posisi terlentang. Keduanya masih tetap membuka matanya..

“Sudah lama sekali ya, kita tidak seperti sekarang ini?” bisik Donghae.

“Sejak kau dan Teuki hyung pindah kesini. Untung masih bisa saling mengabari..”

Donghae bergulingan dalam tidurnya, lalu berbalik menatap Kibum di sisi kirinya. “Kau ingat kita pernah tersesat sepulang memancing di sungai?”

Kibum mengangguk. “Sebenarnya kita tidak perlu tersesat waktu itu. Hanya saja.. kau menjatuhkan alat pancing ayahmu yang mahal itu ke sungai. Kau menangis seperti anak kecil!” cibir Kibum.

“Hey! Kita memang masih anak-anak waktu itu, pabo!” sela Donghae, sambil menendang kaki Kibum.

“Yaa. Yaa terserahmu saja, yang jelas karena kita mengikuti arah hanyut alat pancing itu kita tersesat. Berakhir dengan aku yang harus berenang dan bajuku basah semua..”

“Dan kau telanjang!” sorak Donghae.

“Tak usah dibahas, Hae..”

“Tapi aku masih punya fotonya!”

“Aku heran kenapa anak kecil sepertimu harus bawa ponsel!”

“Tapi karena ponsel itu kita ditemukan. Dan karena ponsel itu aku punya foto telanjangmu..”

Kibum mengerling. “Kenapa harus disimpan sampai sekarangm, huh?”

“Agar aku bisa menjadikan itu sebagai senjata jika kau berbuat jahat padaku..”

“Sebenarnya kapan aku jahat padamu, ah.. sial!” kesal Kibum sambil menggaruk kepalanya. Ia membalik tubuhnya untuk memunggungi Donghae yang terkikik geli setelahnya.

“Tapi ngomong-ngomong, ini baru jam tujuh malam, kenapa kau sudah mengajakku tidur?”

“Karena tidak ada yang bisa kita lakukan selain tidur. Aku sedang malas mengajakmu belajar,” jawab Kibum. “Disini juga tidak ada televisi..”

Donghae memperhatikan isi ruang kamar kos milik Kibum. Lumayan besar tapi tidak terlalu besar, tidak juga terlalu kecil. Barang-barang di dalamnya juga belum begitu banyak. Hanya saja lampu di ruang itu begitu silau Donghae rasa. “Lalu kenapa tidak kau matikan lampunya?”

Kibum merubah posisinya, melirik Donghae. “Kau yakin ingin aku mematikan lampunya?”

Donghae tersenyum. “Kau ini lupa apa pura-pura bodoh, huh? Aku sudah terbiasa dengan gelap, kan? Gelap itu sudah menjadi temanku sekarang, Kibumie..” tutur Donghae, sambil memejamkan matanya.

Kibum hanya mengangguk lalu bangkit dari posisi tidurnya. “Baiklah, aku matikan,” ucapnya dan menghampiri kontak listrik yang ada di dinding sisi pintu. Tepat saat ia akan tiba, pintu terbuka lebih dulu menampakan satu wanita tua yang nampak sangat ramah.

“Hey anak-anakku yang tampan, kenapa masih siang sudah akan tidur? Aku sudah menyiapkan banyak hidangan untuk makan malam. Kebetulan anakku yang lain pulang malam ini. Mari makan bersama..”

Donghae sudah dalam posisi terduduk untuk menghormati wanita tua itu, lalu ia tersenyum hambar. Bibirnya bergumam “apa tidak apa-apa?” pada Kibum, namun Kibum tak menjawab dan berkata “kami akan menyusul sebentar lagi, nyo-”

“Panggil aku ibu..” ingat sang nyonya.

“Iya.. kami akan segera menyusul, bu..”

Donghae mengerjap pelan setelah pintu tertutup. “Apa tidak apa-apa? Aku hanya menginap, kan? Biarkan aku membayar padanya nanti, ya Kibumie..”

“Dia tidak akan mau kau bayar. Oh- ya.. dan panggil dia ibu, mengerti? Atau dia akan mengomel nanti.”

“Kupikir kau akan mengajakku ke rumahmu!”

“Ayolah Kyuhyun.. seperti tidak tahu saja rumahku ke kampus ini lebih jauh dari pada rumahmu. Lagipula.. kenapa mobil sebagus punyamu itu bisa mogok? Sebaiknya kau ganti sopir!”

Donghae melangkah pelan di lorong, sepanjang jalan menuju ruang makan. Samar ia mendengar percakapan-percakapan seperti suara yang pernah di dengarnya. Langkahnya melambat, mengundang Kibum untuk melihatnya. “Ada apa? Kau takut? Jangan malu. Mereka ini sama sepertiku. Sepertinya dia ini adalah anak kos yang dimaksud ibu Byun tadi..”

Donghae melangkah kecil sambil meraih ujung kaos Kibum. “Jadi bukan anak yang sesungguhnya, ya?” tanyanya pelan.

Kibum menggeleng. “Setahuku ibu Byun belum pernah menikah hingga sekarang..”

Oo.. beginilah kira-kira bentuk mulut Donghae. Membulat tanda mengerti.

“Aku tidak pernah tahu kau pernah menyewa kamar disini!”

“Lumayan, dua tahun sebelum akhirnya aku diberi kendaraan untuk pulang pergi ke kota ini dan bersekolah di sekolah yang sama denganmu. Kau tahu? Pemilik kos disini sangat baik. Itu kenapa aku mengajakmu kemari daripada menginap di hotel. Salahkan sopirmu yang bodoh!”

“Berhenti mengatai sopirku, SimChang! Aku menghormatinya.”

Perlahan sorot sinar lampu di ruangan tersebut menyinari sosok dua orang yang baru saja datang. Kibum dan Donghae, yang nampak tak ambil pusing dengan keberadaan dua biang ribut yang sudah duduk mengerubungi meja makan.

“Eh- kau?”

Jelas Kyuhyun dan Changmin mengenali wajah Donghae. Donghae yang lalu mengangguk saja dan duduk di hadapan mereka masing-masing diikuti Kibum. “Kita.. bertemu lagi..” sapa Donghae.

Kyuhyun mengangguk-anggukan kepalanya. “Mungkin hanya kebetulan, atau kita berjodoh?” ucapnya sambil menopang dagu, menatap lurus ke arah Donghae. Sikunya ia tekankan di atas meja.

Changmin mengambil sumpit dan melemparnya ke wajah Kyuhyun. “Apa maksudmu dengan jodoh itu, huh?! Kau terlihat menjijikan dan terlihat kasihan di waktu yang bersamaan!” gerutunya.

“Bukan,” bantah Kyuhyun. Ia lalu menyodorkan tangannya untuk berjabat. “Mungkin kita ditakdirkan untuk menjadi teman baik, jangan berfikir macam-macam!” dengus Kyuhyun.

Donghae menyambut jabatan tangan itu. Jelas sekali kedua matanya tak lepas dari sosok Kyuhyun, meski sama sekali tidak bisa disebut dengan tatapan terpesona. Tatapan Donghae bagai tidak bercahaya, sendu menatap Kyuhyun. Di sisi lain Kibum termenung. “Aku tidak pernah melihatnya sediam ini,” tuturnya tak sengaja, sehingga Kyuhyun dan Changmin memandangnya. “Maksudku, dia adalah tipe orang yang banyak bicara sebenarnya,” ucapnya sambil menyenggol kaki Donghae di bawah meja. Ia menatap Donghae, berkata ‘kau kenapa?’ dalam kedipan singkat di matanya.

Datang ibu Byun dengan sepanci besar sup ayam panas. “Aku memasak sup ayam sangat banyak! Senang sekali banyak anak-anakku yang akan menemaniku makan..”

“Woaaahh..”

Sorakan terdengar dari bibir Changmin. “Sudah lama sekali aku tidak mencicipi sup ayammu, ibu!” cerianya.

Ibu Byun tersenyum. “Kalian belum berkenalan? Ini Changmin anak kosku yang dulu, dan ini Kibum, anak kosku yang sekarang, dan dua orang lagi, pasti teman dari Changmin dan Kibum? Ahh.. kalian sama saja menjadi anakku, ya? Kalian mau?”

Donghae mangangguk samar, begitupun Kyuhyun.

“Makanlah sekarang jika begitu, mari..”

Kyuhyun menatap mangkok kecilnya dengan ragu. Pegangannya pada sumpit juga nampak bergetar. Matanya tertuju pada nasinya, yang baru saja diberikan oleh ibu Byun di masing-masing mangkok mereka beserta lauknya.

Donghae mengunyah dalam diam. Ia duduk berhadapan dengan Kyuhyun, dan sebenarnya matanya tak lepas dari gerik Kyuhyun. Kyuhyun belum menyentuh nasinya. Dan entah mengapa pula..

Tanpa kata Donghae mengarahkan sumpitnya ke arah mangkuk Kyuhyun, lalu menyumpit sepotong tahu disana dan memakannya, seperti tidak sadar. Semua melihatnya dan diam kemudian, sementara Donghae mengunyah tahu itu dengan bingung, begitupun Kyuhyun pada Donghae. Ia tak mengerti mengapa Donghae tiba-tiba saja mengambil tahunya.

“Ma.. maaf. Aku sangat menyukainya,” ucap Donghae gugup.

“Oh sayang.. jika kau suka, ambilah lagi di piring. Tahunya masih banyak. Jangan mengambil bagian Kyuhyun..”

Kyuhyun menggeleng, ada senyum di bibirnya. “Tidak apa-apa ibu, terima kasih..”

Donghae menunduk kemudian. Cukup lama, dengan telapak tangan mengusap-usap wajahnya. Kemudian Kibum memegangi lengannya. “Ada apa? Kau kenapa?” tanyanya.

Donghae mendongak. “Aku sakit kepala,” lirihnya.

“Ya?”

“Aku tidak enak badan, Kibumie. Maaf semua, ibu.. aku ingin kembali ke kamar saja..”

Semua menatap heran kepergian Donghae, sementara Kibum buru-buru menghabiskan makanannya hanya karena ingin cepat-cepat menyusul Donghae, hawatir. Tak ada yang sadar, Kyuhyun mengunyah butiran nasinya dalam diam, tak memperhatikan, tak ingin peduli atau memang sedang melamun. Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirnya..

“Menurut sebaran berita di pesan singkat ini, kita harus mengumpulkan beberapa bahan mengenai budaya dan seni Korea lalu membuatnya dalam bentuk esay,” ucap Kibum sambil memegangi ponselnya. “Itu dikumpulkan di awal pertemuan masa orientasi, hey? Kau mendengarku?”

Donghae menatap Kibum “Ya, aku mendengarnya..”

Kibum menghela nafasnya. “Sebenarnya kau ini kenapa? Sejak semalam kau menjadi lain..”

“Aku? Tidak..”

“Katakan jika kau benar-benar tidak enak badan, hyung. Jika tidak, Teuki hyung yang akan menyebarkan foto telanjangku di internet nantinya!”

Ucapan Kibum mengundang satu tawa renyah di bibir Donghae. “Kau menginginkan itu terjadi? Dengan senang hati aku akan memberitahukan rahasia ini padanya, untuk jaga-jaga..”

Kibum memutar malas bola matanya. “Oke, terserahmu! Aku cukup bernafas lega karena kau masih usil dan gila seperti biasanya..”

“HYA!”

“Changmin jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa menemukan bukunya, idiot! Aku pusing, disini banyak sekali bukunya!”

“Hey orang pintar, jangan katakan kau tidak tahu caranya mencari buku di perpustakaan! Aku pergi..”

Donghae menghentikan langkah kakinya tepat di depan perpustakaan lalu bergerak gelisah. “Kibumie..” panggilnya, namun Kibum tak mendengar. “Kibum!” teriaknya lagi, hingga Kibum menoleh dan memandang ‘ada apa?’

“Kita cari sumbernya sekarang saja, selagi perpustakaan ada di depan mata kita, bagaimana?”

“Dimana? Seni dan budaya, ada dimana itu!”

Di antara rak-rak buku yang terpajang disana, Kyuhyun hanya mengerang frustasi memandang buku-buku yang berjajar rapih, saling merapat dengan buku lainnya. Hanya menampakan bagian sempit sisinya, berisikan judul atas nama mereka dalam tulisan yang kecil-kecil. Ini dia yang membuat Kyuhyun kesulitan.

“Agh, sial!” decak Kyuhyun. Saat mendongak untuk melihat buku lain di bagian rak atas, ada debu bertebaran ke arah matanya. Tidak terlihat, tapi mereka nyata, dan buktinya Kyuhyun kesakitan karenanya.

Kyuhyun terus mengusak kedua matanya sambil menghampiri meja baca di sisi ruangan, berdampingan dengan rak-rak buku itu. Ia simpan tasnya di atas meja dan lalu terduduk untuk menenangkan dirinya, mengistirahatkan lelah dan kesalnya sejenak.

Terdengar bunyi bergerak di atas permukaan kayu, mengundang perhatian Kyuhyun tiba-tiba. Ia melihat sebuah buku tepat di dekat tasnya. Ia termenung. Buku itu adalah buku yang dicarinya. Kyuhyun termenung ketika melihat siapa yang memberinya buku itu. Ia mendesah putus asa. “Kau lagi..” bisiknya.

“Bukunya tersusun dengan judul yang disusun secara alfabet. Kau.. masih tidak mengerti susunan alfabetis?”

“Maaf?” bingung Kyuhyun.

Donghae tak menjawab Kyuhyun, juga berbalik menatap bingung ke arah Kyuhyun. Bibirnya bungkam seketika, tak juga menjawab keterkejutan Kyuhyun akan kalimat yang dibuat bibirnya sendiri. Tiba-tiba ada suara gaduh yang datang. “Heyo? Kau sudah mendapatkan bukunya, Kyu?”

Sang sumber suara menemukan sebuah buku tergeletak di atas meja. “Ya, benar yang ini. Ini bisa kau jadikan sumber esay yang akan kau buat nanti. Kupikir kau akan kesulitan mencarinya..”

Kyuhyun tak mengindahkan ucapan Changmin, kawan dekatnya. Ia memperhatikan Donghae dengan seulas senyum aneh di bibirnya, membuat Kyuhyun terpaku seketika. Terlebih.. “tidak semua hal bisa dilakukan oleh orang pintar sekalipun. Lain kali jangan sengaja membiarkan dia sendirian, Changmin..”

Kalimat dari mulut Donghae terlantun cukup rapih dan terkesan memojokan. Changmin mengerjap pelan, tertular oleh bingung yang sempat hadir di wajah Kyuhyun. Tak ada yang menyangka  jika mulut Donghae bisa setega itu, menyindir seseorang.

Tak lama, Donghae melangkah pergi begitu saja. Kyuhyun hendak menyusul, namun lengannya dicekal oleh Changmin. “Untuk apa kau menyusulnya?”

Kyuhyun menjadi urung. “Aku hanya heran dan merasa sangat penasaran tentang orang ini!” dengus Kyuhyun.

“Aneh karena dia ternyata bermulut pedas, huh? Aku korban dan bersedia menjadi saksi..”

“Jangan bergurau!” resah Kyuhyun. “Aku serius sungguh, SimChang!” ketusnya. “Orang ini betul-betul membuatku bingung bahkan dihari pertama kita bertemu, kau ingat? Insiden dompetku yang terjatuh..”

Changmin memandang Kyuhyun merasa keheranan, merasa tertarik dan turut merasa penasaran. “Aku tidak begitu memperhatikan, Kyu. Mungkin kau bisa menceritakan keresahan hatimu tentangnya itu padaku, hn?”

Kyuhyun menutup kedua matanya. “Aku hanya bingung, mengapa dia bisa tahu banyak hal tentangku..”

“Heoh?”

Kembali Kyuhyun membuka kedua matanya. “Sekalipun kau temanku sejak kecil, tidak semua hal kau tahu tentangku. Tapi dia..” sungutnya mengambil jeda. “Percayalah dia mengetahuinya, Sim Changmin!” ucapnya dalam nada bergetar seperti sedikit ketakutan akan pernyataannya sendiri. Nama lengkap sahabatnya yang ia sebutkan adalah bukti bahwa ia sedang serius.

“Apa yang dia ketahui tentangmu hingga kau ketakutan begini?” ujar Changmin, mengelus punggung Kyuhyun, menenangkan kawannya tersebut.

Kyuhyun mengangkat sejenak kedua tangannya, menepuknya pelan di kedua pahanya. Kyuhyun seperti benar-benar kebingungan. “Dia mirip seseorang..” desahnya.

“Siapa? Mungkin dia memang orang yang kau maksud?”

Segera Kyuhyun melirik Changmin. “Itu tidak mungkin! Tidak mungkin! Apa menurutmu mungkin jika kukatakan dia mirip..”

Suara di langit sana begitu menggelegar. Langit seperti sedang marah dan tidak bersahabat. Hari sudah menjelang petang dan Donghae sedang berjalan pulang ke rumah sewaan Kibum, karena dia telah mengatakan akan menginap hingga masa orientasi selesai, kan?

Kibum sedang menunggunya di kedai ramen tepat di antara jalanan menuju gerbang kampus, sementara Donghae tengah menghadap mesin atm untuk mengambil beberapa uang untuk bekalnya. Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Donghae terjebak di dalam rumah atm tersebut.

Donghae mendengus kesal dan memilih diam, menunggu hujan reda, toh tak ada orang yang akan sibuk mengambil uang di tengah hujan yang begitu deras. Sekitar 10 menit telah berlalu, ia mulai sedikit menggigil. Ia kedinginan dan berjongkok di dalam sana. Mungkin ingin mengatasi dingin yang menyerangnya. Apa yang bisa menyelamatkannya? Karena ponselnya saja bahkan ia titipkan pada Kibum.

Mungkin ada sekitar delapan menit kemudian, bayangan seseorang tiba-tiba saja timbul dan membuka pintu rumah atm. Donghae sempat terhenyak mendapati siapa yang datang. Orang tersebut langsung saja menarik lengan Donghae tanpa berbasa-basi. “Ikut saja, ada yang ingin kubicarakan denganmu!”

Sementara itu, Kibum hampir kesal telah dibuat menunggu terlalu lama. “Apa harus menghabiskan waktu makan semangkuk ramen untuk menunggumu, hyung?” decaknya pelan. Maka diputuskan ia berhujan-hujanan untuk mencari Donghae di mesin atm terdekat, setelah membayar apa yang sudah dimakannya di kedai tersebut tentu saja.

“Kita mau kemana?! Kenapa kau tidak langsung bicara saja?”

Donghae merasa terseret-seret. Lengannya ditarik cukup keras. Teriakannya tak cukup mampu untuk mengalahkan bunyi deras hujan sehingga si orang yang menyeretnya tidak mendengarnya, atau sengaja tidak mendengarnya. Tubuh mereka basah kuyup.

“Hentikan! Kyuhyun!” Donghae berteriak dan tenaganya cukup untuk menghalau segala tingkah kekerasan yang dilakukan oleh Kyuhyun, ternyata. “Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?! Hentikan sikap burukmu yang seperti ini!” dengusnya.

Bukan meminta maaf, Kyuhyun berbalik memandang Donghae, dengan pandangan tajam. “Kau..”

Donghae sedang mengusap satu pergelangan tangannya yang terasa sakit ketika dirasanya hari sudah gelap, dan mereka berdua entah sedang berada dimana. Tempat yang cukup sepi, mengingat hujan sedang deras-derasnya. Ada telpon umum di samping tempat mereka berada. Ada sebuah rumah makan sederhana di seberang jalan dengan penerangan yang seadanya tak mampu mengalahkan gelap yang ada.

Perlahan Donghae mengusap wajahnya dari air hujan yang tak henti mengguyur tubuh dan wajahnya hingga pandangannya tidak terarah. Ketika itu ia merasa kedua bahunya dicengkram begitu erat.

“Sebenarnya.. kau ini siapa, huh?”

Donghae tak menjawab, dan berkedip pelan. Selain pertanyaan Kyuhyun terdengar samar oleh air hujan, ucapan Kyuhyun juga membingungkan. “Apa maksudmu?”

“Mengapa kau bersikap seolah kau telah mengenalku dengan baik, huh?”

“Kenapa?” bingung Donghae.

Tanpa sadar Kyuhyun mempererat pegangannya pada tubuh Donghae. Tak mendengar Donghae yang mengaduh pelan. “Sejak pertama bertemu, mengapa kau bersikap seolah kau mengenalku dengan baik? Apa kau menguntitku hingga sejauh ini?”

Tatapan Donghae seperti diapun tidak mengerti akan apa yang Kyuhyun ucapkan.

“Jangan berpura-pura bodoh, jawab aku, siapa kau sebenarnya?!” bentak Kyuhyun.

“Aku tidak..” bantah Donghae sambil menggeleng pelan.

“Bohong! Kau selalu mengikutiku! Kau tahu aku tidak suka makanan itu dan kau membantuku menghabiskannya. Lalu kau mengatakan aku tidak bisa membaca urutan alfabetis, huh? Kau tahu itu kelemahanku, iya?!”

Donghae memejamkan kedua matanya erat, seperti ketakutan. “Kumohon jangan berteriak..” bisiknya.

“Lalu apa yang kau katakan pada Changmin tadi? ‘Tidak semua hal bisa dilakukan oleh orang pintar’, siapa yang memberitahumu kalimat itu? Siapa yang mengajarimu untuk mengatakan itu terlebih dihadapanku!” raung Kyuhyun. “Kau diutus olehnya untuk mengikutiku? Karena dia tetap saja menghawatirkanku? Kau masih setia pada dia yang sekarang sudah mati?!”

Mendengar kata mati membuat Donghae semakin menciut. “Apa yang kau katakan, aku tidak mengerti!”

“Kau pikir aku mengerti, huh? Kita baru bertemu dan kau berkata padaku untuk menghentikan sikap burukku, iya? Jadi kau tahu aku ini terlalu buruk untuk ukuran seorang yang pintar, karena tidak sabaran dan kadang bisa bersikap kasar?! Bahkan kau tahu sikap burukku?!”

Donghae menggeleng tidak mengerti.

“Dengar, aku bertanya untuk terakhir kalinya. Sejauh mana kau tahu tentang diriku, huh?”

“Demi Tuhan aku tidak mengerti!” bantah Donghae.

“Kau pembohong!”

Donghae menggeleng keras, menatap dalam ke arah Kyuhyun untuk meyakinkan. Namun seketika sesuatu menyakiti kedua matanya. Donghae fikir, mungkin itu adalah air hujan. Ia merunduk untuk meredakan sakit dikedua matanya, namun hal ini tak meredam rasa marah dalam diri Kyuhyun. Ia akan memaksa Donghae kembali jika tidak ada lengan yang mencekalnya.

“Hey hey.. tenanglah nak. Kau sedang menyiksa siapa, hm?”

Kyuhyun menatap sebal ke arah dia, seorang paman yang tak dikenalnya. Ia katakan “jangan ganggu aku!” dengan hentakan keras oleh tangannya.

“Kau sedang mencuri, huh? Sayangnya ini wilayahku. Walaupun sedang hujan, aku tetap menjaganya dengan baik. Jadi jangan macam-macam jika kau ingin selamat. Serahkan kelincimu padaku..”

“Sial!” geram Kyuhyun. Ia layangkan pukukannya pada sang paman yang telah berkata tidak karuan. Ia pukul beberapa kali hingga sang paman tersungkur di aspal yang basah. “Kubilang jangan ganggu aku!”

Donghae masih mengerang merasakan betapa perih kedua matanya. Ia tak mengerti ketika pandangannya berubah terang padahal ia yakin ia menutup kedua matanya tersebut. Ada wajah Kyuhyun tercetak jelas, bersamaan dengan sebuah tongkat kayu di belakang punggungnya. Tongkat itu melayang indah dan lalu..

Memukul punggung Kyuhyun berulang-ulang. Donghae berjengit kaget kemudian. Ia melihat semburan darah di mulut Kyuhyun. Timbul perasaan mengiba dan tentu saja ia harus menolongnya. Tapi Donghae masih belum mengerti, ketika dia beranikan dirinya untuk membuka matanya. Ia terhenyak.

Kejadian yang sudah dilihatnya dengan jelas beberapa waktu lalu kini terulang sama persis. Kyuhyun sedang berjalan ke arahnya, namun ia tak menyadari ada tongkat kayu di belakang punggungnya. “Kyu..” panik Donghae. Ia hampiri Kyuhyun, lalu menarik baju depan Kyuhyun cepat-cepat, dan..

Pukulan itu terjadi, seperti apa yang ada dalam bayangannya beberapa detik yang lalu. Donghae merasa telah melakukan hal tepat ketika ia menolong Kyuhyun. Meski tidak sepenuhnya, karena pukulan itu mengenai tubuhnya dan tubuh Kyuhyun, tapi Donghae berfikir, mungkin dengan sedikit berbagi, segala hal beratpun tidak akan terasa terlalu berat. Donghae juga berfikir di sela-sela rasa sakitnya, ‘apakah dirinya memiliki semacam indra ke-enam?’.

Kyuhyun merasakan sakit tiba-tiba akibat hantaman benda tumpul yang sangat keras mengenai tubuhnya. Ia tutup wajahnya setelah satu hantaman mengenai kepalanya, dan ia perkirakan ada darah mengalir di antara basah di wajahnya. Setelah ia menutup wajah dengan kedua lengannya, sakit itu berpindah kesana, ia hanya dapat mengerang dan bertahan.

Kyuhyun sudah merasa seluruh tubuhnya melayang ketika tiba-tiba saja pukulan itu berhenti begitu saja. Petir menyambar dengan kilatan singkat yang membuat Kyuhyun mampu melihat, bagaimana tangan Donghae mencekal lengan sang paman yang memukuli mereka.

“Aa- aaaaaargh!”

Kyuhyun juga tidak mengerti kenapa paman jahat itu menjadi berteriak dan lari ketakutan setelah berhadapan dengan Donghae si aneh itu, menurutnya. Ia bangkit di antara rasa sakitnya. “Kau.. apa yang kau lakukan padanya? Kenapa dia lari seperti ketakutan, huh?” tanya Kyuhyun.

Donghae masih dalam posisi membelakangi Kyuhyun dan tak bergeming dalam posisinya. Kyuhyun tertatih-tatih dan mencoba membalik tubuh Donghae, untuk memastikan ada apa hingga membuat sang paman lari terbirit-birit.

Seketika Kyuhyun tercekat. “Kau.. kenapa?” lirihnya disambut kilatan petir selanjutnya. Hujan masih membasahi tubuh keduanya. Kyuhyun mulai bergetar. Ada banyak ketakutan yang melandanya. Ada banyak rahasia yang tak diketahuinya dari seseorang tersebut. Donghae si aneh. Donghae yang dia tidak tahu siapa. Kyuhyun mematung seketika, menegang dengan rasa dingin yang terasa menusuk-nusuk tulangnya bahkan..

Kilatan petir senantiasa menerangi penerangan Kyuhyun untuk sosok Donghae yang kini ditatapnya tanpa jeda. Memandang wajah Donghae dengan penuh keterkejutan. “Kau..”

TBC

59 thoughts on “ANGEL EYES CHAPTER 1

    bella said:
    Mei 31, 2014 pukul 11:39 am

    eonnie eonnie, masih inget aku?
    ini keren as usual eonn!!!!!
    kyuhyunku galak banget kkk
    donghae masih penuh misteri, kyu sm hae pernah kenal ya dulu?
    eh ada changmin, pemeran baru di ff eonni nih
    ditunggu lanjutannya

    asri cikiprit said:
    Mei 31, 2014 pukul 12:52 pm

    Yak yak kenapa ada apa eoh ??
    Ada apa sebenar’a dengan donghae sampai2 kyuhyun jadi ketakutan….
    Aku masih belum mengerti thor cepat di lanjut ne

    haekyuLLua said:
    Mei 31, 2014 pukul 6:36 pm

    AAAA APA INI?! HAEKYU?!! aaaah maafkan aku kalo udh menyangkut mereka pasti heboh wkwkwk
    di chap satu ini belom terlalu nangkep maksudnya. tp entar chap2 slanjutnya ngerti kok pasti! makanya dilanjutnya yg cepet ya! ff ini fokusnya ke donghae-kyuhyun kan? aah mudah2’an iya, iya ya? hhehe sip kak lanjut, fighting!

    Isty loyalty said:
    Juni 1, 2014 pukul 8:01 am

    Tadinya aku kira mata Hae itu matanya orang yg kyu maksud, bukan yaa????
    Apa mata hae bisa berganti warna?? Judulnya ada mata* nya sih jadi ada hubungannya dengan mata kan?

    jakyu said:
    Juni 1, 2014 pukul 9:47 am

    Ff nya bgus,sbenarnya donghae ada hub apa ya dg kyu?
    Knpa dia kyak knal kyu gtu…
    Masih bnyak misteri…
    Lanjut yah,fighting.

    nia na yesung said:
    Juni 1, 2014 pukul 11:41 am

    Masih Belom Keliatan ngerti ceritanya ,,,
    kya.a ada sesuatu di mata.a hae ya ?
    apa dulu hae gak bisa liat, n sebenernya ini penglihatan.a hae dari kornea orang yang dulu deket sama Kyu ?
    aku ngaco ya Heheheh😀
    aku tunggu kelanjutan.a aja Ya …

    casanova indah said:
    Juni 2, 2014 pukul 4:07 am

    WOWWW… keren ceritane.. ahhh.. ada apa dg kyuhyun dan donghae
    ada apa dg masa lalu mereka,,
    tapi kedekatan kibum dan donghae lucuuu.. asal jgan jd cinta aja..
    eh ini brother pa yaoi sih?? -_-
    eh knapa donghae? jgan2 donghae berkepribadian ganda ya..
    whuaaa.. spertinya cerita ini agak2 ngeri deh…😀

    sithakyu said:
    Juni 3, 2014 pukul 12:11 pm

    kayaknya kyuhyun di sini mengidap disleksia deh coz ada temen aku yg mengidao penyakit ini, dia emang kesulitan dalam membaca tapi dia jenius banget.

    itu hae dapet donor matanya mungkin makanya ada ikatan batin yg dirasain hae ke kyuhyun. di sinetron biasanya klo ada adegan2 donor mendonor ceritanya si penerima bisa melakukzn kebiasan2 yg dilakukan pendonorndi luar kesadarannya.

    suka banget teukie di sini. kyu bisa merasakan kehangatan seorang leeteuk. hehehehe…..!!!

    Rien ELFishy said:
    Juni 7, 2014 pukul 9:38 pm

    woah~ ff baru nih… ^^ hehehe~ telat baca tapi, aku uda penasarn ama ini ff, masih bertanya2 hae itu kenal kyu atau jgn2 hae itu renkarnasi seseorag?? hah, hrus baca chap.2 nih eonni ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s