DEEP AFFECTION [8]

Posted on

“Perpisahan.. adalah bagian dari hidup kita..”

[CHAPTER 8]

Kibum melupakan gelas berisikan air yang hendak dibawanya untuk Donghae. Ia tahu bahwa baru saja bel rumah mereka berbunyi, menandakan ada seorang tamu berkunjung. Ia sadar, membiarkan Donghae menyambut tamu mereka bukanlah ide yang cukup baik.

Setitik air di lengannya Kibum usapkan pada bajunya sendiri. Ia mengambil langkah untuk kembali menghampiri Donghae di ruang tamu. Ada. Donghae tengah berdiri di ambang pintu. Pintupun masih terbuka. Namun Kibum sedikit heran. Mengapa Donghae hanya berdiam diri disana? Apa ia tak menyambut tamunya?

Segera Kibum lebih mendekati Donghae. “Siapa yang datang?” tanyanya pada Donghae. Ia semakin membuka pintu dan terheran kala tak mendapati siapapun di depan pintu tersebut. Lalu dipandanginya sebuket mawar merah yang kini ada di tangan Donghae. “Dari siapa?”

Donghae nampak melamun meski tidak sepenuhnya. Bola matanya bergerak untuk menatap Kibum. Ia angkat sedikit bunga di tangannya. “Apa aku bersalah padanya, Kibumie?” ucapnya kebingungan. “Aku- aku bahkan tidak tahu siapa dia. Kupikir dia temanmu. Lalu dia hanya mengatakan ‘lupakan saja, hyung..’ padaku dengan nada kecewa. Aku..”

“Ssst..” sela Kibum, hanya untuk menghentikan ocehan panik Donghae.

Kibum tersenyum dan mencoba untuk membawa Donghae masuk. Ia mengaping Donghae agar terduduk di sofa dengan nyaman. Ia raih bunga di tangan Donghae lalu meletakannya di atas meja. Dalam sekejap ia mengecup kening Donghae dan mengusap-usap lengan Donghae untuk menenangkannya.

“Biar aku yang menyusulnya. Kau tunggu disini, jangan kemana-mana!” peringat Kibum setelahnya. Ia tatap Donghae dengan penuh akan keyakinan. Ia berharap bahwa Donghae benar-benar akan menurutinya.

Sesungguhnya Kibum terlalu cemas untuk meninggalkan Donghae meski hanya sebentar saja. Meninggalkan Donghae beberapa langkah saja di belakangnya, ia terlalu takut. Maka saat ia keluar untuk memastikan siapa tamu yang datang tadi, ia mengunci pintu rumah tersebut, seolah mengunci Donghae di dalam. Tak mengapa, demi kebaikan..

Kibum nampak berada di bawah langit terang saat itu. Tak ada reaksi berarti dari wajahnya, termasuk disaat dirinya telah mendapati apa yang dia cari. Seseorang yang kini tengah berdiri tak jauh darinya. Seseorang yang ia yakin, orang tersebut baru saja berkunjung ke rumahnya. Orang yang dicarinya. Orang yang berdiri sambil bersandar pada dinding tak jauh dari rumahnya.

Kibum mendekat. “Kenapa tidak masuk, Kyu?”

Ya. Sosok itu adalah Kyuhyun. Dia yang bertamu. Dia yang memberi bunga pada Donghae, dan dia yang kini.. tengah menelan pahit hidupnya sendiri. Bahkan senyum  yang ia berikan kini terhadap Kibum, nampak kecut.

“Aku sudah tahu, bahwa hari ini akan datang. Tapi aku tak menyangka sakitnya akan seperti ini!”

Kibum hanya menatap Kyuhyun dengan serius. “Kau pikir hanya kau?” ucapnya pada Kyuhyun. “Apa kau tahu bahwa suatu saat nanti ia juga bisa melupakanku?! Kau hanya membuatku ketakutan sekarang ini, Cho Kyuhyun! Kau sama sekali tidak membantu!” dengus Kibum.

“Aku..”

“Jangan!” sela Kibum kemudian. Tatapannya berubah sendu dan penuh harap, menatap lurus ke arah Kyuhyun. “Jangan katakan seberapa sakitnya, Kyu. Jangan mengatakannya. Aku belum siap, bahkan jika hanya membayangkannya saja..”

Mata Donghae melebar ketika mendapati Kibum telah datang dan nampak di ambang pintu. Ia segera menghampiri Kibum, dan lalu langkahnya berhenti ketika didapatinya sosok di samping Kibum. “Kau?”

Sosok itu adalah Kyuhyun yang nyatanya telah Donghae lupakan seutuhnya. Ia hanya berusaha untuk menarik dua sudut bibirnya untuk mengukir satu senyum tulus. “Hai. Maaf atas yang tadi. Aku.. umh.. aku Cho Kyuhyun..”

Donghae nampak berfikir sejenak. Sesaat setelahnya keningnya mengerut dan bola matanya memutar ke arah Kibum. Tatapan yang memiliki satu arti, atas pertanyaannya terhadap sang tamu yang kemudian Kibum jawab. “Dia temanku, Hae. Kau benar, ternyata dia temanku..”

Reaksi tanya di wajah Donghae memudar. Berubah sedikit panik dengan bibir pucatnya yang merenggut kecewa. “Begitukah?” ucapnya berubah dingin. Bola mata Donghae bergerak gelisah kemudian. “Lalu.. lalu bunganya?“

“Eh?!”

Donghae menatap Kibum dan Kyuhyun bergantian dengan sedikit hati-hati. “Bunganya darimu untuk Kibumie?” ucapnya pada Kyuhyun seperti sebuah tebakan. Telunjuknya terangkat lurus di depan Kyuhyun.

Kibum dan Kyuhyun tercengang dengan ungkapan Donghae. Sungguh tak disangka oleh keduanya jika pemikiran Donghae akan mengarah kesana. Kibum mengambil langkah untuk mendekati Donghae, namun Donghae segera menjauh dengan wajah tertekuk. “Jika begitu ajak dia masuk, Kibumie. Silahkan.. akan kubuatkan minuman..” tuturnya tanpa jeda dan lalu melangkah masuk ke dalam untuk mewujudkan tawarannya baru saja.

Kibum akan mencegah namun percuma. Donghae terlanjur masuk ke dalam. Hanya ringisan kecil ia tampakan pada Kyuhyun. Ia tepuk pundak Kyuhyun dan lalu mengajak Kyuhyun masuk ke dalam. Hingga keduanya terduduk di sofa, menanti Donghae tanpa berucap satu kalimatpun.

Benar-benar tak ada percakapan hingga Donghae kembali datang dengan nampan di tangannya. “Jujur aku terkejut tadi karena kau pergi begitu saja, Kyu..?” ucap Donghae bahkan ketika kakinya masih melangkah. Apa marah atas kecemburuannya sudah menghilang? Entahlah..

“Kyuhyun. Namanya Kyuhyun, Hae..” ingat Kibum.

“Ah, iya..” tanggap Donghae. Ia suguhkan minuman untuk tamunya, dan juga untuk Kibum sang tuan rumah. Namun..

Trek..

Trek..

Bunyi nyaring terdengar saat permukaan gelas bertemu dengan permukaan kaca meja. Disinilah Donghae tersadar. Dua kali bunyi pertanda dua gelas yang telah mendarat di meja. Namun..

Bola mata Donghae bergerak gelisah. Tersisa dua gelas berisikan minuman di atas nampan. Untuk siapa lagi? Jika satu untuk dirinya, lalu untuk siapa sisa satunya? Donghae kebingungan dan menatap cemas ke arah Kibum sambil menggigit bibir bawahnya. “Aku.. Oo- sepertinya minuman yang kubuat berlebih,” ungkap Donghae sambil tersenyum hambar. “Maaf, aku..”

“Memang aku yang meminta lebih, kan? Kau lupa?” sanggah Kibum.

Donghae mendongak ke arah Kibum yang tengah tersenyum padanya. “Benarkah begitu?” resah Donghae. Alasan Kibum tak membuatnya lebih baik. Nyatanya mendadak tubuhnya melemas. Termasuk disaat Kibum menahan lengannya agar tubuhnya tak melorot jatuh.

Kibum mencoba menarik tubuh Donghae, namun tubuh itu terlalu lemah, hingga..

Bruk..

Saat dimana Kibum kehilangan kontrol tubuhnya untuk menopang Donghae, ia hampir saja membuat Donghae terjatuh, tapi untung saja Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk menolong. Berakhir dengan tubuh Donghae yang menubruk bahu Kyuhyun. Dan disaat itulah..

Deg.. Deg..

Donghae mengenal harum tersebut. Donghae ingat hangat bahu tersebut. Perlahan jemarinya meraba dada Kyuhyun dan beralih menuju bahu Kyuhyun. Matanya terpejam sesaat untuk mengendalikan pusing yang menderanya. Ia melenguh pelan..

“Kau baik-baik saja, hyung?” sapa Kyuhyun dengan sedikit nada cemas.

Sedang Kibum menjadi mematung. Ia melepas pegangan tangannya di lengan Donghae seutuhnya dan hanya menyaksikan reaksi Donghae yang saat ini menghadap ke arah Kyuhyun dan memunggungi dirinya. Terlihat Donghae yang sedikit mendorong tubuh Kyuhyun dan mulai menjauhkan dirinya.

“Aku baik-baik saja, Kyuhyunie. Jangan cemas..”

Hmh. Ada panggilan hangat dari bibir Donghae untuk nama Kyuhyun. Tidakkah Donghae sedang mengingat keberadaan Kyuhyun saat ini? Entahlah. Donghae benar-benar nampak linglung. Dan Kibum dibuat resah karenanya. Kali ini rasa cemburu dan takut mulai menyerang dirinya.

Sedang Donghae berjalan oleng dan memasuki kamarnya tanpa melirik lagi ke belakang. Ia tak melihat wajah Kyuhyun yang nampak bingung, sedang Kibum nampak mengatur hembusan kasar nafasnya. Meski Kyuhyun telah meminta maaf untuk beberapa hal tidak mengenakan di pagi itu, namun tetap saja Kibum tak mampu membendung rasa cemburunya.

Dan meski Kyuhyun mengingatkan Kibum perihal kesehatan Donghae, tetap saja. Kibum merasa dirinya cemburu, sangat!!

Donghae telah mengenakan piyama di balik jaket hangatnya. Begitupun kakinya yang telah terbalut sepasang kaos kaki. Semua adalah perbuatan Kibum. Kibum yang membersihkan tubuhnya. Kibum yang mengenakan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Semua. Semua Kibum yang melakukannya. Begitupun dengan sekarang..

Satu butir pil telah berada di dalam mulut Donghae, dan lalu Kibum menyodorkan satu gelas air putih untuk membantu Donghae agar menelan obatnya tersebut.

Satu yang berbeda dari Kibum. Perbedaan itu Donghae sadari dari tatapan dingin Kibum. Juga dari bungkamnya mulut Kibum. Tak mengatakan apapun termasuk kata-kata cinta dan penyemangat untuknya. “Kenapa?” tanya Donghae setelah obatnya berhasil ia telan.

Kibum tak menjawab. Ia berlalu meninggalkan Donghae yang masih terduduk di sofa untuk menyimpan gelas di dapur. Benar-benar tak ada sepatah katapun dari bibirnya. Atau sedikit ekspresi di wajahnya untuk menjawab tanya Donghae. Ia sama sekali tak melakukannya.

Setelah meletakan gelas itu, Kibum kembali dan mendapati Donghae masih menempati tempat yang sama. Namun kali ini Donghae nampak meletakkan kepalanya pada sandaran kursi dan memejamkan matanya. Itupun tak membuat Kibum angkat bicara.

Kibum yang lalu terduduk di sisi Donghae dan seketika ia merasa ada tarikan pada ujung pakaiannya. Itu perbuatan Donghae dan membuat Kibum menoleh.

“Kibumie..”

Kibum fikir Donghae akan kembali bertanya mengenai aksi diamnya. Ia ingin membicarakan hal serius yang kini tengah menimpa hatinya. Namun ucapan Donghae membuat keningnya saling bertautan.

“Mengapa udaranya begitu dingin?” lirih Donghae.

Kibum merasa heran. Ia meraba kulit di lengan Donghae. Kedua telapak tangannya ia gerakan untuk menyentuh leher dan juga wajah Donghae. Kibum terenyuh oleh hangat berlebih di tubuh itu. Seketika rasa cemas menyerangnya. Ia mengusap-usap wajah Donghae dan lalu merekatkan jaket di tubuh Donghae.

“Berbaring di kamar saja ya?”

Akhirnya mulut Kibum melontarkan katanya. Dengan lembut ia merengkuh Donghae dalam pelukannya meski tak seerat biasanya. Sejenak ia usap punggung Donghae dan lalu membawa Donghae bangkit untuk menempati ruangan tidurnya agar segera beristirahat.

Panik..

Kibum panik karena Donghae terus saja mengeluh dingin dan dingin. Donghae telah meringkuk di ranjangnya. Dengan segera Kibum membawa seluruh persediaan selimut yang ada. Ia tambahkan selimut untuk menutupi tubuh Donghae menjadi dua lapis.

“Apa masih dingin, hm?” tanyanya setengah berbisik.

Donghae mengangguk untuk mengatakan bahwa dirinya masih kedinginan. Tak tanggung lagi, Kibum tambahkan tiga selimut, namun Donghae masih mengeluh dingin. Ia tambahkan lagi selimut terakhir. Sayangnya Donghae masih merintih dingin. Kibum benar-benar panik kali ini.

Usaha lain. Kibum dekap tubuh Donghae yang berada di balik empat lapis selimut itu. Ia dekap erat sambil diusap-usapnya helaian rambut Donghae yang mulai berkeringat. Ditatapnya wajah Donghae yang menjadi pias dengan kedua matanya yang terpejam erat.

“Sudah lebih baik?” tanya Kibum lagi sambil terus memeluk Donghae.

“Belum..” isak Donghae dengan setitik air mata yang mulai terkumpul di sudut matanya.

Ah! Kibum cemas luar biasa. Usaha lainnya lagi? Dirinya memutuskan untuk turut masuk ke dalam selimut dan mendekap Donghae di balik selimut. Kali ini terdengar isakan Donghae. Kibum dapat merasakannya. “Kenapa menangis? Apa sakit? Apa masih dingin?”

Isakan Donghae sedikit lebih jelas. Kibum tersadar saat Donghae memutar posisi tubuhnya agar menyamping untuk menghadap padanya. Saat tangan Donghae mulai melingkar di tubuhnya. Saat wajah Donghae terbenam di dadanya. “Dingin..” cetus Donghae kemudian.

“Kau tak sehangat biasanya, Kibumie. Kau begitu dingin, aku benci itu!”

“Hae?”

“Kau tak bicara padaku. Kau tidak tersenyum. Kau marah padaku!”

Kibum tak menjawab. Ia sadar bahwa sikapnya beberapa waktu lalu telah menyakiti Donghae. Tak ada jawaban dari mulutnya, hanya saja Kibum lebih erat untuk memeluk Donghae.

“Apa aku bersalah padamu, Kibumie? Maafkan aku. Sungguh..”

Semakin Kibum mendekap Donghae. Tak ia pedulikan tubuhnya yang mulai terasa kepanasan dan mengeluarkan banyak keringat. Tak mengapa asal Donghae bisa merasa lebih hangat.

“Apa aku melupakan sesuatu yang telah membuatmu marah sekarang? Maafkan aku..” tanya Donghae dengan tangis di wajahnya.

Kibum menyerah. Ia berikan kecupan lama di kening Donghae sambil mengusap punggung Donghae. “Tidak. Aku yang bersalah. Aku yang lupa. Maafkan aku, Hae. Maaf..”

Diam. Keduanya diam. Butuh berpuluh menit bagi Donghae untuk menyadari bahwa sejak lama Kibum memandangnya. Begitu lamban kesadarannya hadir, dan ia hanya memberikan kedipan kecil sebagai balasan. Juga sepenggal kalimat. “Kenapa memandangku seperti itu?”

Hanya Kibum balas dengan senyum simpul di bibirnya. Hanya gerakan kelima jemarinya yang lalu membelai wajah Donghae, dan tak lupa mengusap bagian wajah Donghae yang berkeringat. “Sepertinya kau kepanasan sekarang..”

Donghae mengangguk kecil. Namun demikian, ia tetap melingkarkan tangannya lebih erat bahkan di tubuh Kibum. Membuat sebagian peluhnya menempel pada kaus yang Kibum kenakan. Sementara Kibum mulai menyibak satu persatu helai selimut yang menutupi tubuh mereka. Ia abaikan selimut selimut itu meski mereka tergeletak di atas lantai yang mungkin saja sedikit berdebu.

Hanya tinggal satu selimut, dan juga dekapan hangat yang Kibum janjikan untuk Donghae. Untuk menghangatkan Donghaenya yang nampak lebih baik dari sebelumnya sekarang. Kibum tersadar, dirinyalah yang telah melukai Donghae. Dirinyalah yang membuat Donghae sakit. Karena Donghae begitu rapuh saat ini, maka seharusnya ia tak menekan Donghae sekecil apapun itu.

Tiba-tiba saja Donghae meregangkan dekapan hangat Kibum di tubuhnya. “Kibumie..” dan ia memanggil Kibum, memecah keheningan ruangan tersebut. Ia menjauhkan diri untuk mendongak dan menatap wajah Kibum. “Lihat aku..”

Mata Kibum beralih untuk menatap kedua mata Donghae. Mata jernih Donghae yang ia rasa, semakin layu di tiap harinya.

“Kau tak lihat, tak merasakan apa yang tertulis di mataku? Lihatlah lebih seksama..” bisik Donghae.

Kibum mencoba menemukan apa yang tertulis di dalam dua mata indah itu. Lama ia pandangi, lama ia resapi..

“Aku merindukanmu, Kibumie, sangat..”

Donghae sedang menjawab untuknya, dan ia berdecak dalam hati, mengatakan bahwa dirinya benar-benar payah. Ia hanya mampu mendengar apa yang Donghae utarakan. Menyimak isi hati Donghae saat ini.

“Seperti tidak bertemu dalam waktu yang lama, aku begitu merindukanmu,” ungkap Donghae sambil tersenyum.  Sedang Kibum tersenyum pedih. Ia tahu Donghae tak menyadari sama sekali, bahwa mereka memang tak bertemu dalam jangka waktu yang panjang. Donghae telah melupakan kejadian beberapa waktu ini. Penyakit itu sudah mulai menelan ingatan Donghae perlahan-lahan..

“Apa kau sama denganku?”

“Huh?”

“Apa rindumu, cintamu sama besarnya denganku, Kibumie?”

Kibum tersenyum. “Kau juga seharusnya bisa melihatnya dari mataku, Hae!” ucapnya dengan tegas tanpa keraguan. Ia biarkan Donghae menyelami kedua matanya cukup lama, hingga tatapan kedua mata itu melembut, berubah sayu ditemani usapan kecil jemari Kibum di sisi wajah Donghae.

Kedua mata yang menjadi sayu, memberikan tatapan lemah dan akhirnya terpejam lembut bersamaan dengan wajah mereka yang menyatu begitu saja. Bibir yang saling menyentuh pelan, menyalurkan masing-masing dari cinta kasih keduanya. Terasa lembut, bagi Donghae dan terasa manis, bagi Kibum.

Mereka nampak menikmati sentuhan kecil tersebut. Saling mengatakan bahwa mereka rindu akan hal tersebut. Merindunya, dan juga begitu menginginkannya. Mengecup ringan, melumat pelan, dan sedikit hisapan-hisapan kecil untuk mengecap bibir dari pasangannya.

Tak ada tuntutan kejam yang memaksa satu pihak. Hanya ciuman ringan, padahal tubuh mereka kian merapat. Mungkin Kibum tak sadar tubuhnya telah merajai tubuh Donghae, menindih meski tak seutuhnya menindih. Ia tetap menahan bobotnya sendiri, sementara bibirnya terus saja mengecup.

Kecupan ringan berikut sentuhan lain yang tak kalah ringan. Donghae mendesah kala merasakan bibir basah Kibum menyentuh permukaan kulit di balik telinganya. Seperti tergelitik, namun menggugah selera nikmatnya. Kibum mengecupnya perlahan, namun dalam diam menjentikan lidahnya disana. Sungguh nakal!

Lalu bagaimana? Apakah Sebuah kisah indah itu akan terulang?

…  

Sepoi angin menggerakan tirai putih yang menghambat jalan masuknya sinar bulan yang indah di luar sana. Donghae tengah menikmati sentuhan langsung tiap inci kulit Kibum di kulit telanjangnya. Sentuhan jemari Kibum yang menelusuri lekuk punggungnya, menyentuh lembut bagian bagian itu, menelusurinya perlahan hingga mencapai permukaan kulit di paha dalamnya..

“Mmhh..”

Donghae menggeliat, karena di waktu yang sama Kibum mencium bibirnya cukup dalam dalam tempo yang sedang, tak bernafsu. Donghae mulai menekuk kedua kakinya dan membukanya cukup lebar, bersiap menyambut Kibum yang akan datang padanya. Helaian selimutpun terbuka perlahan menampakkan sebagian tubuh atas mereka.

Dan ketika ciuman itu begitu lembut dan tak menemukan akhir, terus menyambung seiring waktu. Kedua celah bibir yang saling mengisi itu terasa begitu indah meski tak disaksikan oleh kedua pasang mata yang tengah tertutup dalam diam. Saat dimana keindahan itu terjadi, saat itulah kening Donghae mengerut. Bibirnya diam seketika menahan rintihannya. Rasa sakit mengalihkan segalanya.

“Ukh, ngh!”

Remasan keras di rambutnya membuat Kibum tersadar dan segera membuka matanya. Ditatapnya Donghae dengan hembusan nafas kerasnya. Terengah-engah dan begitu kelelahan dengan bercak saliva dan keringat di wajahnya. Ia menjadi ragu. “Hae..” ia tercekat melihat wajah Donghae yang sedikit pucat, namun sebagian dari dirinya telah menyatu di tubuh Donghae kini.

Seakan tahu keresahan di mata Kibum, Donghae mencoba tersenyum dan membelai wajah Kibum meski ia tak mampu meredam lelahnya sendiri. “Lakukan..”

“Tapi..”

Kembali Donghae tersenyum. “Kau meragukanku, hm? Atau kau meragukan dirimu sendiri?” tantang Donghae.

Kibum tersenyum kecut. Ia mengutamakan keadaan Donghae, tapi Donghae terlanjur menantangnya. Lagipula sudah cukup terlambat untuk menyudahinya. Sehingga di putusan terakhirnya, Kibum mempercepat semuanya dan menyatukan tubuh mereka dengan sempurna dalam satu kali dorongan. Meskipun..

“UGH!”

Nampak Donghae mengenyit sakit. Jemarinya meremas sprei mereka dengan sangat kuat sementara kepalanya melesak pada bantal yang tadi dihuni kepalanya tersebut. Kibum menyaksikan segalanya dengan sedikit pilu. Donghae mendongakan wajahnya, hingga Kibum hanya mampu melihat setetes keringat yang turun dari ujung dagu Donghae, dan mengalir pelan melewati leher Donghae perlahan. Hal itu nampak.. indah..

Kibum meneguk ludahnya. Ia tergoda. Ia sangat merindukan Donghae lebih dari apa yang dibayangkannya. Perlahan dirinya mulai merengkuh Donghae bersamaan dengan pergerakan kecil dari pinggulnya. Mulutnya terjulur untuk menelusuri jejak keringat tadi.

Seketika itu jemari Donghae mencengkram lengannya, diikuti rintihan kecil yang nampak bagai sebuah alunan nikmat dari bibir Donghae, dan satu irama dengan pergerakan yang Kibum buat. Semoga tak terjadi apa-apa setelah ini, Kibum berharap..

Kibum telah terjaga dan masih terbaring hanya untuk menyaksikan wajah Donghae yang tertidur. Begitu damai meski wajah itu terpahat oleh balutan kulit yang memucat. Miris, namun ia cukup bahagia karena masih dapat mendengar deru nafas Donghae yang mengalun teratur.

Seolah enggan mengusik tidur itu. Tak ingin mengganggu wajah cantik yang terlelap itu, Kibum hanya mengelus pelan pipi pucat Donghae. Ia raih selimut untuk lebih menutupi sebagian punggung polos Donghae. Menghangatkan Donghae agar dirinya tetap terlelap dalam hangatnya.

Kibum pikir, biarlah Donghae melewatkan satu pagi yang indah, karena mungkin mimpi Donghae saat ini tak kalah indahnya. Karena ada sebentuk lengkungan senyum di bibir Donghae, dan Kibum nampak senang dibuatnya. Membuat ia lebih bersemangat untuk terbangun lebih dulu.

Kibum turun dari ranjangnya. Ia meraih handuk lalu melangkah ke kamar mandi, meninggalkan Donghae yang masih tengah terlelap. Beberapa belas menit ia habiskan waktu di kamar mandi, dan mendapati Donghae yang masih menggeliat nyaman menikmati tidurnya.

Kembali Kibum tersenyum. Ia telah berganti dengan pakaian yang nyaman dan lalu memutuskan untuk menghabiskan waktu di dapur. Menyiapkan sedikit sarapan untuknya dan Donghae, mungkin..

Namun ketika ia telah menyelesaikan urusannya di dapur, dan ketika telapak kakinya menapaki lantai ruangan tidurnya, ia mendapati Donghae telah terbangun dan sedang duduk di sisi ranjangnya. Tatapannya sedikit kosong dan menatap lurus ke arah pintu dimana Kibum sedang berada, bahkan Kibum nampak masih memegangi daun pintu.

“Hae..”

Tiba-tiba saja raut wajah Donghae berubah. Ia sedikit ketakutan sambil melindungi tubuh polosnya dengan selimut. Raut wajah Donghae mengatakan ia begitu cemas saat ini. Kibum tertegun dibuatnya.

“Kibumie..” lirih Donghae.

Kibum hendak melangkah untuk mendekati Donghae. Ia ingin bertanya mengenai resah di wajah Donghae. Namun belum sempat ia mendekat, isakan Donghae mulai terdengar. Juga “jangan- jangan mendekat, kumohon..” cegah Donghae saat itu. Donghae nampak ketakutan.

“Kenapa? Ada apa, hm?”

Tatapan Donghae menjelajah seisi ruangannya. Menatap jam kecil di atas nakas yang menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Masih terlalu pagi. Mata Donghae menjelajahi kondisi ranjangnya yang begitu berantakan. Juga.. tubuhnya sendiri yang tanpa busana. “Kau.. baru tiba? Kau darimana? Lalu..”

Kibum mengernyit. Donghae mulai kebingungan dan bahkan menitikan air matanya. Seperti menyesali sesuatu yang Kibum tak tahu itu apa. Maka Kibum mencoba untuk lebih mendekati Donghae yang nampak kacau di balik selimutnya.

“Aku tidak tahu siapa. Ini.. maafkan aku..”

Donghae mendongak menatap Kibum yang mendekat padanya. Aliran air matanya deras mengalir begitu saja. Ia menangis terisak, terlebih disaat Kibum telah berada di hadapannya. Telapak tangan Kibum yang mengapit kedua sisi di wajahnya, semakin membuat Donghae menangis pedih. Ia katakan.. “aku kotor?” meski ada sedikit nada ragu.

OH! Kibum tersenyum pilu. Tidakkah Donghae melupakan kejadian semalam tadi? Maka Kibum menggeleng untuk memberikan Donghae sedikit ingatan, sedikit penjelasan. “Tidak ada siapapun, Hae,” tuturnya lembut. Ia mencium kening Donghae dengan hangat.

“Tidak ada siapapun semalam. Itu adalah aku..”

“Huh?”

Meski hambar, namun Kibum mencoba untuk tertawa kecil. Dalam hati Kibum menyesali keputusannya untuk meninggalkan Donghae di tempat tidur. Ia tahu kemampuan ingatan Donghae semakin melemah. Ia dekap Donghae erat. “Aku bersumpah itu aku..”

Dan Donghae habiskan pagi itu dengan tangisan yang terbuang percuma, ditemani untaian sakit di hati Kibum..

Pupus sudah kejadian pagi yang Kibum pikir, adalah pagi yang indah. Bagaimana bisa dikatakan indah jika sarapan saja Donghae habiskan ditemani isakannya yang tiada henti. “Aku tidak bermaksud melupakannya, Kibumie..” isaknya.

Kibum hanya menyimak. Ia tuangkan air ke dalam gelas dan lalu memberikannya pada Donghae. “Minumlah agar kau lebih tenang, hn?” ucapnya sambil mengusap deraian air mata di wajah Donghae. “Aku mengerti, dan aku tidak apa-apa.”

“Tidak sadarah kau, Kibumie? Ini akan semakin sulit untuk kita, terutama untukku..” Donghae mendesah putus asa. “Aku tak ingin menyakitimu lebih dari ini. Kibumie sadarlah! Aku akan melupakanmu! Aku..”

Kibum segera merengkuh tubuh Donghae. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dengar itu baik-baik!” tegas Kibum.

Donghae menangis sejadinya dalam dekapan Kibum. Tak peduli pada suara bel pintu yang terus berbunyi dan akhirnya mereka abaikan begitu saja, membuat niat sang tamu yang mengunjungi mereka menjadi urung. Entah tamu siapa.

Donghae tersenyum tenang. Kejadian-kejadian yang kini terpampang di hadapannya, yang kini dirasakan olehnya adalah hal-hal yang terlalu langka, bahkan terlalu sayang untuk tidak diabadikan. Melihat Kibum menggenggam jemarinya dengan hangat. Kibum yang tiada henti membimbing langkahnya. Menuruti apa yang menjadi inginnya. Mewujudkan hal-hal kecil yang sempat tertimbun dalam benaknya. Kibum yang..

“Biru, tidak apa-apa?”

Donghae menggeleng sambil tersenyum lagi. Ia menjawab Kibum yang menawari balon terbang berwarna biru untuknya. Mulutnya mengatakan kuning, tapi yang tersisa hanya balon yang biru. Tidak mengapa, itulah jawab Donghae baru saja.

Namun Kibum nampak bersikukuh. “Apa benar tidak ada lagi yang kuning? Aku beli berapapun!” tegasnya sedikit memaksa dan tidak sabaran pada si penjual balon.

“Psst!” Donghae segera menarik ujung kemeja yang dikenakan Kibum untuk sekedar memperingati. “Kau tidak lihat di antara balon ini, tidak ada yang berwarna kuning, hn? Kau ini kenapa, sudahlah.. aku tidak akan menangis karena tidak mendapatkan balon kuningnya!”

Kibum nampak kecewa dan tak menjawab. Donghae tersenyum sedih, namun otaknya mencari cara lain untuk membuat kekasihnya tidak kecewa. “Aku ganti permintaanku. Aku ingin balon dalam jumlah banyak..” tutur bibir manis itu, membuat Kibum tersenyum. Maka tanpa ragu ia membeli semua balon yang tersisa, hanya untuk memenuhi keinginan Donghaenya. Hal yang selalu ingin dilakukannya.

“Mintalah sesuatu padaku, Hae. Apa itu terlalu sulit bagimu? Aku akan senang melakukan hal yang menjadi keinginanmu, hn? Apapun itu..”

Dengan sekumpulan benang balon di telapak tangannya, Donghae melangkah lebih riang, lebih ringan tanpa beban. Satu bagian jemarinya menggenggam erat lengan Kibum, seperti menyerahkan segala bebannya di lengan itu. “Kibumie.. aku ingin meminta sesuatu padamu, lagi..” ucapnya, mengambil jeda sejenak dalam sapuan nafasnya. “Bolehkah?”

Kibum nampak lebih bahagia dari apa yang Donghae duga. Laki-laki yang lebih tinggi darinya itu lalu meremas kecil jemarinya dan berkata “tentu, apapun..” mengundang kedua sudut bibir Donghae untuk tertarik ke atas.

Donghae melepas tautan jemari mereka dan berjalan mendahului Kibum, dalam posisi saling berhadapan. Ia melangkah mundur sambil tersenyum ke arah Kibum. Ia terbangkan satu balon di tangannya untuk terbang ke arah langit. “Aku ingin kau mengatakan kau mencintaiku..”

“Saranghae..”

Donghae diam sejenak, hanya untuk merasakan debar jantungnya mendebar kata cinta itu. Bibirnya berpura-pura mencibir tak suka. “Benarkah? Semudah itu?” ucapnya, meski tatapan Kibum terpancar tulus dan lurus ke arahnya. Dia lalu menerbangkannya lagi. “Katakan sekali lagi, Kibumie..” ucapnya, masih dalam posisi berjalan mundur.

“Aku.. mencintaimu.. sangat..”

Donghae tertawa ringan, menumpahkan bahagianya. Lalu diterbangkan lagi satu balonnya. “Aku ingin kau membuktikannya, sekarang..” tuturnya, bersamaan dengan sang balon yang terbang jauh ke langit, bersama harapannya yang sepertinya, akan segera Kibum wujudkan dengan..

Kecupan kecil. Beberapa saat lalu, tepat setelah Donghae mengucapkan harapnya, Kibum benar-benar mewujudkannya. Seperti tak ingin ia berhenti untuk tersenyum. Lalu diterbangkannya lagi satu balonnya. Bahkan ketika kedua telapak tangan Kibum masih menghangatkan wajahnya. Ia menutup kedua matanya lalu bergumam pelan. “Aku.. ingin kau membuktikannya..”

Kalimat yang sama membuat Kibum sedikit terkecoh dan lalu melakukan hal yang sama pula. Mengecup apa yang menjadi candunya. Mengecap hangat dan manis bersamaan di bibir tipis itu, mendalami sejauh mana ia telah merindukan sosok Donghae dan segala hal tentangnya, mencintainya.

Ketika kecupan itu berakhir, Donghae menerbangkan kembali balonnya dan berkata “Aku.. selalu ingin kau membuktikannya..” berakhir dengan kecupan lembut selanjutnya di bibirnya.

Balon-balon itu beterbangan bersama dengan runtutan permintaan di waktu yang sama. Permintaan yang sama. “Aku ingin kau membuktikannya..”

“Buktikan..” diikuti kecupan lagi.

“Buktikan, Kibumie,” lirih Donghae, dengan sendu menanti tiap kecupan itu, bersamaan dengan balon-balon miliknya yang terus beterbangan. Dengan mata terpejam menikmati tiap kecupan Kibum di bibirnya yang samar akan jumlahnya, sejumlah balon-balon yang telah melayang pergi. Lebih jauh balon itu melayang, lebih dalam pula Kibum menyentuh bibirnya.

Donghae sibuk meresapi. Donghae sibuk menahan tangis dan pedih hatinya. Ia biarkan dua orang anak muda menonton mereka di sudut taman. Dia biarkan orang-orang yang berlalu lalang dengan kendaraan mereka menonton. Akhirnya Donghae menangis, mencuatlah kata akhir dari kecupan itu.

Kibum menahan tangan Donghae agar tak melepas dua balon terakhir. Dia kecup kening Donghae, lalu bertanya “kau tak ingin meminta padaku untuk melihat pelangi?”

“Huh?” Donghae mencoba mendongak, sementara Kibum tengah mengusap air mata di ujung matanya. Menangis bagi keduanya bukanlah hal aneh, sehingga tidak perlu Kibum sekedar bertanya ‘mengapa kau menangis?’ atau pertanyaan semacamnya. Toh mereka sudah saling mengerti, apa yang bisa membuat mereka menangis, tertawa dan banyak hal lagi.

Kibum tersenyum. Ia membantu Donghae melepas satu balon hingga hanya tersisa satu balon saja. Ia membalik tubuh Donghae ke arah yang sama, lantas menunjukan langit dengan guratan warna berbeda di sudut langit, nampak di antara gedung-gedung tinggi di hadapan mereka.

“Eo?” Donghae tercengang, merasakan bahwa Kibum benar-benar mendatangkan pelangi itu untuknya. “Kau membawa pelangi ini untukku?”

“Hm..”

“Benar-benar untukku?”

“Ya..”

Hening. Keduanya menikmati bias berwarna di langit itu hingga beberapa menit. Dia memudar, memudar dan entah mengapa menjadi menghilang sendiri. Senyum kecil terpahat di wajah Donghae. Dengan satu balon yang masih dalam genggamannya, ia menuntun Kibum. “Aku lelah, Kibumie.. bisakah kita pulang sekarang?”

“Terima kasih untuk semuanya.”

Ketika hari telah menjadi dingin dengan langit menghitam. Ketika satu balon masih tergenggam di jemari Donghae. Ketika langkah mereka berhenti, tepat di bawah sebuah lampu kota dan menghabiskan waktu mereka untuk berdiam diri, melihat kendaraan berlalu lalang memadati jalan raya.

“Kau ingat tempat ini?” tanya Kibum tiba-tiba. Lama, nampaknya ingatan Donghae sudah mulai terkikis dan itu cukup membuatnya resah. “Kau ingat?”

Donghae nampak tersenyum. Lembut di samping cahaya redup yang menghiasi wajah pucat itu. “Kau tidak tahu, betapa takutnya aku saat itu. Kupikir aku akan bertemu seorang pervert seperti yunho hyung..” ujarnya sambil terkekeh pelan.

Ah. Kibum menarik nafasnya lega. “Pertama kali saat melihatmu, adalah seperti kau yang sekarang. Manis..”

“Aku? Semanis itukah?”

Kibum memeluk Donghae. “Kau itu menarik. Aku sampai cemas melepasmu sebentar saja tanpa pengawasanku. Takut, takut seseorang menyukaimu separah aku dan merebutmu dariku,” jujur Kibum.

“Apa aku boleh mengatakan, bahwa aku begitu berharga untukmu, Kibumie?”

Kibum tak menjawab. Ia mempererat dekapannya di tubuh Donghae. Hanya saja mulutnya terus berkata “aku tidak akan melepasmu sampai kapanpun. Tidak akan melupakanmu kecuali hingga Tuhan merenggut nyawaku nanti..”

Ada setitik air mata di sudut mata Donghae. Tangannya terulur untuk merengkuh tubuh Kibum lebih erat, lantas mengelus punggung Kibum pelan. Ia begitu berat, berat untuk mengakui bahwa dirinyalah yang tidak bisa bertahan disini. Seberapa kuatpun ia melawan, ia tak akan mampu melewatinya. Tamatlah..

Sang balon bergoyang-goyang di udara. Donghae ingat, tangannya masih menggenggam tali balon biru itu. Ia melepas diri dari peluk Kibum. “Aku punya satu harapan lagi, kau mau mengabulkannya, kan?”

“Kubilang apapun untukmu, kan?” tukas Kibum.

Donghae tersenyum. Ia terbangkan balon terakhirnya lantas berkata “aku ingin kau pergi sekarang.”

“Donghae?”

Kali ini Donghae tidak tersenyum, tidak juga menangis, mungkin belum. “Kau bilang kau akan menuruti apapun untukku, kan?” sela Donghae. Air mata mulai menggenang di kedua matanya. “Pergilah sebelum aku yang meninggalkanmu. Lupakan aku sebelum aku yang melupakanmu..”

“Tapi..”

“Ini permintaan terakhirku..”

Kibum merasa lemas seolah seluruh tulangnya hilang tak berbekas. Tubuhnya membeku seperti tak lagi mematuhi perintah otaknya. Kedua matanya hanya memandang Donghae tanpa berkedip dan akhirnya terasa perih, ingin menangis. Bibirnya tak bergerak sedikitpun. Ia diam hingga sang balon telah pergi lebih dulu.

Donghae memundurkan langkahnya, dan Kibum mulai resah. “Kumohon..”

“Aku akan marah dan tidak akan memaafkanmu jika kau melanggar janjimu sendiri.”

Kibum membasahi bibirnya yang terasa mengering tiba-tiba. Donghae masih ada beberapa langkah dari hadapannya, dan baginya itu adalah anugrah. “Jika kau datang padaku sekarang, maka kuanggap ini adalah lelucon. Jika kau sungguh-sungguh, maka aku akan..”

“Lepaskan aku..”

“Ya. Ya,” tukas Kibum dengan ragu yang seolah menelan jiwanya.

Sekian menit Kibum menanti, namun gelap yang menyambutnya. Pedih hatinya seperti tak berbentuk. Donghae telah mengambil langkahnya, sayang bukan mendekat melainkan sebaliknya. Bayangannya bahkan perlahan menghilang hingga menghilang seutuhnya dengan sebuah taksi. Kibum tak harus cemas, setidaknya taksi itu tidak akan membuat Donghae kesulitan menemukan rumah.

Tapi bagaimana dengan hati Kibum yang tak berbentuk? Jiwanya seperti telah kehilangan jantungnya, lalu bagaimana ia hidup?

Hey, Kibum melupakan segalanya dan melangkah tiada arah sepanjang malam itu. Tanpa arah, tanpa rasa. Matanya menatap lurus dengan bayangan Donghae yang terus menjauh, dan ia terus mengejarnya, mengenang bayang itu. Ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya. Sebanding dengan dinginnya angin, sebanding dengan gelapnya di malam itu. Kibum seperti buta, jika saja tidak ada sorot lampu menyengat kedua matanya.

Kendaraan itu mendekat padanya dengan bunyi memekakan telinga tanpa jeda. Kibum tidak mengerti, karena posisinya berada di zona aman untuk seorang pejalan kaki. Tapi satu kendaraan itu terus meneriakinya. Jika suasana hatinya dalam keadaan sadar, maka ia pasti sudah akan menendang mobil itu. Tapi kali ini ia diam saja hingga sang kendaraan mendekat padanya dan berhenti tepat di sisi tubuhnya.

“Kim Kibum! Kau kemana saja? Kami mencarimu! Ah.. mencari kalian sejak tadi!”

Kibum mengerjap pelan. Suara yang dihafalnya, menyadarkan ia dari lumpuh hatinya sementara. Nafasnya sempat berhenti ketika ia melihat wajah-wajah yang dikenalinya. Seperti ingin mengadu, menanyakan jalan terbaik untuk mengatasi pedih hatinya. Seperti ingin menumpahkan segalanya, tapi bibirnya tetap bungkam. “Hyung..”

“Ya Tuhan! Kau melamun di sepanjang jalan ini, huh? Kau membawa Donghae jalan-jalan di malam hari, dan.. dimana dia?!”

Kibum belum mengatakan satu kalimatpun. Terpaku oleh kenyataan yang membuat hatinya seperti membiru di dalam sana.

“Tadi kami mencari kalian ke rumah, tapi tidak ada siapapun, huh? Kalian dari mana saja?”

Jaejoong meneriakinya tiada jeda, tak mengerti akan tatapan terluka Kibum pada keduanya. Keduanya; mereka Jaejoong dan Yunho. Duduk berdampingan di dalam sana. Kibum menangkap apa yang dilihatnya. Cincin yang sama di masing-masing jari manis mereka. Tidakkah mereka seperti pasangan yang bahagia sekarang?

Kibum merasa hatinya jatuh berulang-ulang. Jatuh dan tak bisa kembali. Terluka oleh sejuta hal yang mengganggunya. Air mata mulai berkumpul di kedua matanya. Ia lalu pergi meninggalkan mereka, dengan suara jeritan Jaejoong memanggil namanya, atau sekedar sebutan ‘kurang ajar’ untuknya, sebagaimana Jaejoong yang biasanya. Kibum tak peduli dan tetap menembus malam dengan bebannya sendiri. Tentang:

“mengapa aku tak bisa bahagia seperti pasangan lainnya?”

Mungkin Kim Kibum sedang bertanya kepada Tuhan. ‘Mengapa disaat ia mencintai, tapi wanita itu menghianatinya?’ lalu ‘mengapa disaat dia dan pasangannya saling mencintai, Tuhan berkata lain?’

Kibum mempercepat langkahnya ditemani emosi yang sedang berusaha ditahannya. Dan demi apapun Kibum bersumpah, kematian lebih mengerikan daripada sebuah penghianatan. Ada ketakutan yang terus menghantuinya, dan semua seolah menjadi kenyataan yang terjadi, meski sebenarnya kematian itu belum menerjangnya; Donghae. Tapi Kibum seperti telah kehilangan kekasih manisnya..

Disaat ia masih melangkah, di tengah ketakutannya, Kibum menemukan sosok Kyuhyun tengah menikmati air hangat di dalam cangkirnya entah apa. Kibum masih melihatnya dari balik jendela di kafe tersebut. Ia mengingat pemuda itu dan segala yang pernah dikatakannya.

“Aku mencintainya, tapi ia tidak membalasnya..”

“Aku telah sadar, bahwa tak selamanya cinta itu harus berakhir bahagia. Bagiku, aku cukup bahagia telah mengenalnya, telah menyukai, mencintai bahkan menyayanginya. Cukup beruntung bisa mengenalnya, bisa melihat wajahnya, senyumnya dalam jarak yang begitu dekat.”

“Semua orang memiliki takdir mereka sendiri-sendiri. Kau tahu dirimu lebih beruntung dari aku, kan? Karena kau memiliki hatinya hanya untukmu. Seharusnya kau beruntung dengan segala hal baik ataupun buruk di waktu yang akan datang. Perpisahana, adalah bagian dari hidup kita..”

Sambil memikirkan kalimat-kalimat itu, Kibum tetap memandang Kyuhyun; pemuda yang sedikit memberinya petuah berarti itu. Kyuhyun yang Kibum tahu, pemuda itu sedang berusaha menikmati waktu di antara hatinya yang kosong, hampa seperti hatinya semenjak Donghae memutuskan pergi dari sisinya beberapa waktu lalu.

Tanpa sadar Kibum mengusak kedua matanya yang hampir menjatuhkan kumpulan air disana. Ia berfikir keras. Memang ada banyak kemungkinan. Seharusnya ia lebih menerima sebuah perpisahan yang memang akan terjadi nanti tanpa tangisan. Ataukah.. seharusnya ia memberitahu Donghae tadi mengenai hal itu, dan meyakinkan Donghae agar mereka tetap bersama hingga perpisahan itu benar-benar akan datang.

Bodohnya.. Kibum mengutuk dirinya. Kenapa ia membiarkan Donghae pergi begitu saja?

Maka dengan segenap kesadaran dan harapan yang perlahan menjadi kembali sempurna ia memutar langkah, berbalik untuk mencari dan menemukan Donghaenya. Pelajaran yang berharga adalah, ketika kita menyadarinya sendiri. Semua akan nampak. Semua akan lebih dimengerti. Semua akan menjadi terasa mudah..

Kibum melangkah kasar dengan segenap harapannya, hingga tiba-tiba ponselnya berdering.

“Apa ini Kim Kibum? Bisakah kau datang kesini agar aku bisa menampar wajahmu?”

“…”

“Apa yang kau lakukan pada Donghae hyung selama aku tidak bersamanya? Well.. aku tahu mungkin karena aku datang dini hari seperti pencuri. Tapi bagaimana bisa Donghae hyung meneriakan kata pencuri di depan wajah sepupunya sendiri?! Mengapa dia tidak mengenaliku? Mengapa dia ketakutan saat melihatku dan berteriak menuduhku sebagai seorang pencuri?!”

Deg.. Deg..

Minho telah kembali. Seperti menuntut sesuatu. Keadaan Donghae yang memang tidak sama seperti dulu. Ini butuh penjelasan dan Kibum tak takut jika harus menjelaskan semuanya secara detail, apapun yang akan terjadi padanya nanti. Tapi hal lain membuatnya lebih cemas. Donghae..

Adalah Donghae yang tak mampu Kibum tebak keadaannya seperti apa saat ini. Maka tanpa ragu ia mencoba untuk melanjutkan jedanya saat berlari tadi, datang ke tempat Donghae secepat yang ia mampu.

“Tidak! Menjauh!”

Kibum terhenyak mendengar teriakan Donghae dari dalam rumah. Nafasnya belum sepenuhnya mengalun sempurna. Ia masuk dalam keadaan berantakan, sebagaimana keadaan di dalam rumah.

Hyung kau kenapa? Ini aku, saudaramu, demi Tuhan!”

Langkah Kibum melambat ketika ia menemukan punggung Minho. Bahu anak itu nampak bergetar. Pemandangan lain, adalah Donghae dengan pisau di tangannya. Ia tak kalah bergetar. Sorot matanya menampakan ketakutan yang begitu sangat, Kibum sampi takut sekedar melihatnya.

“Tidak, aku tidak mengenalmu. Datang diam-diam di tengah malam, jelas kau pencuri!”

Kibum segera menerjang keduanya. Ia sedikit menyenggol tubuh Minho dan membuat anak itu terkejut. Kibum tahu Minho tidak akan terkejut lebih lama lagi. Dengan cepat ia hampiri Donghae, yang sontak berteriak lebih gila padanya. Donghae terkejut dan juga takut akan kedatangannya yang tiba-tiba.

Satu goresan di lengan tak membuat Kibum mundur dari posisinya. Pisau di tangan Donghae telah melukainya namun tak kunjung membuatnya takut dan menyerah. Ia cekal ledua tangan Donghae dan menatap Donghae yang sudah menangis.

“Kenapa kalian ini! Siapa? Kenapa banyak orang asing masuk ke rumahku. Pergilah.. kumohon!”

Kibum menatap Donghae dengan sendu. Ia dekatkan Donghae dalam dekapannya. “Sudah kubilang aku tak akan meninggalkanmu, kan? Kau.. tidak akan bisa tanpaku, percayalah..” tuturnya dalam bisikan.

Donghae berhenti berteriak dan tak melepas sosok Kibum yang berada dekat dengannya. Ia mengerjap beberapa kali dengan kening mengernyit seperti menahan sakit. Sedikit mendongak untuk lebih jelas melihat wajah yang menurutnya asing, namun beberapa kali ia melihat wajah itu, merasakan debaran orang itu secara langsung, merasakan terpaan nafas orang itu. “Kau.. apa kau mengenalku? Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” lirih Donghae.

Tak mampu lagi menahan pedihnya, Kibum meneteskan buliran bening dari kedua matanya. Ia menangis, menangis diam di hadapan Donghaenya yang rapuh. Donghae yang tak seharusnya melihat sisi lemah dirinya. Ah.. Kibum tampak menyesalinya. Ia segera membawa Donghae ke dalam dekapannya.

Anehnya Donghae tak lagi melawan dan meronta sebelumnya. Ia melemah dalam dekapan Kibum. Ia juga menangkap sosok Minho tak jauh dari mereka, dan ia bingung, mengapa kedua matanya terasa panas. Mengapa ada desiran aneh di dalam dadanya? Dan mengapa tenggorokannya terasa perih sekali, ia ingin menangis.

“Hyung..” Minho menatap keduanya dari kejauhan.

“Katakan,” lirih Donghae. “Kalian siapa?” bisiknya teredam bahu Kibum. Ada rasa sakit yang mulai mencabik bagian kepalanya. Kedua tangannya sudah terkulai tak mampu bergerak. “Kumohon.. kepalaku sakit!” rintihnya. “Kenapa kalian membuatku sakit, huh? Aku tak bisa bernafas..”

Kibum berjengit dan sedikit bergerak dari posisinya. “Jangan memaksakan diri, Hae. Kumohon tenanglah, sayang..”

Donghae menggeleng, mengantar air mata yang akhirnya mengalir di wajahnya. Nafasnya mulai terdengar tidak baik. Ia tak bergerak lagi, lebih memilih menyandarkan tubuhnya di dada Kibum.

Tak lama Kibum merasakan beban tubuh Donghae sepenuhnya. Ia mulai panik meski tak berkata. Ia sedikit menoleh ke arah Minho sambil tetap menahan beban Donghae dalam dekapannya. “Bisakah.. kau panggilkan ambulans kemari, sekarang?”

“Huh?” bingung Minho. Ia tak menyangka jika rumah sakit adalah jalan keluarnya.

“Kumohon,” desak Kibum, terlalu takut untuk menunjukkan paniknya. Ia melihat kedua mata Donghae sudah terpejam sempurna. Tubuhnya mulai bergetar menahan rasa takut yang begitu kuat menghantam pertahanannya. “Cepat!” bisiknya, namun ada nada tegas disana. Mungkin Kibum tak sadar, ia tak bisa lagi menyembunyikan rasa paniknya.

.

“Dia mengalami koma..”

“Apa?!”

TBC

Pendek? Gak juga. Hheee. Lama update-nya? EMANG!! xDD Duhh Duuh maaf banget ya, semoga kalian masih ngeuh sama ceritanya. Sekian dulu..🙂

Yang nunggu brothership? Siap-siap, :p

23 thoughts on “DEEP AFFECTION [8]

    eLice here Bos said:
    Mei 30, 2014 pukul 6:45 pm

    uwoooo..

    miris bgt sih mereka, Hae makin parah aja yah..
    hiksT.T
    Perhatian Bum ke Hae bikin terharu aja…
    Koma ? apa itu my Donghae ? moga ini happy end #semoga
    Next chap jgn lama² lagi ya eonn author…

    Brothersip mau apdet? dalam waktu dekat kayaknya..
    okeh di tunggu ..

    kimHaEna elfish said:
    Mei 30, 2014 pukul 10:38 pm

    owwhhh ya ampun!!!setelah sekian lama menanti
    kenapa cap ini begitu memilukan.
    oeni nanti gmn minho?donghae koma?
    semakinnn penasarannn
    semoga happy ending .walau gax yqkin
    gara gara ntu sakittt 😥

    Maya Nurhikmah said:
    Mei 31, 2014 pukul 1:16 am

    ohh my donge..dongeee….
    gak tega bca.y jdi ikutan ngilu… huhuuu
    msih ada hrapankah bwat happy end, eonn..
    ngenes bgett masa..
    makasih eon deep ny dh d lnjutt…

    Maya Nurhikmah said:
    Mei 31, 2014 pukul 1:21 am

    oh my donge..dongee…
    ngenes bnget eon masa… huhuuu gk tega bcany jdi ikutan ngilu.. tpi msh ad hrapan happy end kn eon.. masa kihae d pisah” in teruss…
    d tunggu update cepat.y eonnie😀

    ritafishyelf said:
    Mei 31, 2014 pukul 1:37 am

    Annyeong chingu.. aku msh ngeuh ko critanya.. dan itu donghae koma?? Jgn bkn donghae meninggal please chingu.. :’D
    Semangat nulisnya chingu, ff chingu emang slalu daebak..

    Shin Y said:
    Mei 31, 2014 pukul 4:35 am

    huhuhuhuhu, kenapa tega sekali membuat mereka menderita ,, hueeeeeeeeeee TT

    aku ga kuat kalo ini bkalan angst… huhuhu😥

    donatan144 said:
    Mei 31, 2014 pukul 4:36 am

    Haaa gk tga liat hae kyak gtu sdih bngt,pa lgi kibum hrus mnahan skitnya mmliht rang yg d cntai,mdahan mreka brsatu dg kmbalinya hae dri koma

    Tsafa Fishy said:
    Mei 31, 2014 pukul 10:04 am

    Yaa ampun tragis. Banget tapi suka cara penceritaannya detail jadi feelnya dapet🙂
    Itu donghae koma????
    Akan seperti apa nantinya saya tunggu lanjutannya semoga tidak selama sebelumnya hehehe

    dydy said:
    Mei 31, 2014 pukul 2:49 pm

    oh my to the god……
    keadaan hae makin parah aja.. sampe2 kibum aja di lupain..
    tapi ada satu part yg bikin nyengir nih.. pas kyu datang ke rumah hae dan kibum bilang kyu temen nya. nah, pas hae tanya lalu bunga nya….. asli bikin geli sendiri.. bayangin aja, kyu ngasih bunga buat kibum… hahahahaha

    part selanjut nya bakalan makin sedih nih kaya nya.. hae koma.. kira2 hae nya bisa di sembuhin gak sihhhhhhh
    kasian kalo di bikin menderita terus…

    oke… di tunggu chapter selanjut nya..
    tetep semangatt yaaaa🙂

    arumfishy said:
    Mei 31, 2014 pukul 3:15 pm

    omo Hae komaaaaaa…..
    Andweeeeeee oennnnnn

    Secepat itukah hae lupa sama kibum T_T
    Padahal baru jalan-jalan bersama…

    Jangan tambahin derita Hae lagi oen….
    Satukan mereka…

    kim icha said:
    Mei 31, 2014 pukul 4:02 pm

    yaah kok aku gak baca yg judul ini ya ? pdhal cakep loh critanya, part 1 nya manahh??:'(

    nia na yesung said:
    Juni 1, 2014 pukul 11:33 am

    Akhirnya Update Juga LaMaaaaaaaaaaaaaaaaa ><
    Lama Bgt Update.a T_T
    Saya mau Protes …
    Itu Hae beneran ngelupain Kibum ???
    yang Koma Itu donghae Kan ? Ya ampun kebayang gimn rasanya hati kibum
    aku suka jln cerita.a hehehe
    udah sering bilang ya
    aku pikir ini bakalan final, ternya engga ya ,,,
    satu permintaan saya, jgn buat hae Mati ya ya ya😀
    Next Chap jgn Lama'' Ya
    n aku tunggu yang brothership.a Yang Angel Eyes bukan ???

    idaelfishy said:
    Juni 1, 2014 pukul 3:22 pm

    Huhuhuhuhuhuhuhu
    Ga bsa nhan air mta,sumpah sedih bingit
    Ini ff tersdih
    Donghae ga mati kan eonn?
    Sembuhin donghae ya?
    Huhuhuhuhuhuhuuuuu
    Next eon
    Brothership? Super siap

    Maya Nurhikmah said:
    Juni 1, 2014 pukul 6:16 pm

    huhuuuu… donge oh dongeee….
    masih brhrap ini happy end, eonnie…

    leesooyoungelf said:
    Juni 2, 2014 pukul 11:16 am

    Koma trus giMana dong…
    Aah… g rela donghae mati.
    Donghaeny jgn mati ya sugih…

    lee gihae said:
    Juni 4, 2014 pukul 12:32 pm

    telat lagi … Y.Y

    Kyaa ada nceh ny .. #skip
    hiks hiks kihae bikin nyesek tau .. kenapa klau ada hal manis sedikit ujung” ny sedih gx kepalang ..
    aku harus ngomong apa lgi ya? cerita ny miris bangetttt …
    hiks dongek koma? hiks jangan sampe ada angst(lagi) dong .. plisss eonni …😥

    cpet update lgi donk .. hiks
    #bawatisseu
    enggal nyh teh tong lami” ..

    yolyol said:
    Juni 4, 2014 pukul 1:33 pm

    Akhirnya update jg……!!!!

    Hae KOMA….????!!!

    tidaaaaakkk….!!!

    knpa takdir gk bsa membiarkan hae bahagia sebentr saja,setdknya disisa hidupnya…hiks…

    tak ada yg lbh menyakitkan slain melupakan/dilupakan, meninggalkan/ditinggalkan org yg kta cintai..hiks…
    aku nangis lg…T.T

    Hae-ah…!!!

    casanova indah said:
    Juni 5, 2014 pukul 3:49 am

    Iyaaa.. lama banget update’a nich ff, ampe kudu nginget2 mpe mana ceritane terakhir kmrn..
    Huweee… makin sedih aja nih cerita..
    penyakit donghae makin parah aja n kibum juga kudu tambah sabar ngadepin donghae yg semakin pikun…
    tapi salut bgt ama cinta kibum ke donghae yg tetep nerima donghae sepebuh hati biarpun keadaane udah kaya gt, sering ngelupain kibum lg…
    ahh koma?? ouwh.. jgan buat donghae matiiiii….

    lifelocked said:
    Juni 9, 2014 pukul 3:16 am

    tarraaaaaa huhuhu… laamaaaaa sampe sempet baca part yang sebelumnya dulu sebelum kesini… kkkk.. dannn ewww… jangan biarkan mreka menderita lebih dari itu teteh~ biarkan mereka bahagia~… kesian kihae unnn!! biarkan mereka bersatu T.T

    ELFarida said:
    Juni 12, 2014 pukul 7:16 am

    EONNIIIIII . . .
    Donghae knapa, ? Dia lupa sama kibum eon . .hiks.hiks.hiks . .
    Ini lebih sdih dan mnyakitkan daripada the name i love ,eon . . .di tunggu chap slanjutnyaaaa . .

    Nelly Key Donghae said:
    Juni 14, 2014 pukul 10:57 am

    Astagaaa… astagaaaa…. kenapa keadaan Donghae makin miris ajaaaa.. sedih pas dia tak ingat Kyu dan skrg Kibummmpun tak ia ingatt jg😥

    dan sekarang dia koma… Lengkaplah sudah… Aigohhhhhh T_______T

    laila mubarok said:
    Juli 1, 2014 pukul 3:15 am

    hyaaaaaaaa… masa kibum juga dilupakan… tidaaaakkkksss…

    Elfishyhae said:
    Juli 3, 2014 pukul 10:03 pm

    Hikz. . Hikz. . Hae makin parah. Sekarang koma lagi. Ni ff yg paling kutunggu eon. Next segera ne jangan lama2. Please. . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s