DEEP AFFECTION [9]

Posted on

“Berikan saat aku.. telah tiada..” – Donghae

[CHAPTER 9]

“Jangan takut.. aku disini, sayang..”

Kibum berbisik. Di telinga Donghae dia berbisik dengan lembut. Punggung tangannya mengusap pipi Donghae yang bahkan terasa tipis seperti tak berdaging. Kibum lupa kapan terakhir kali Donghae makan dengan baik. Sejak seminggu lalu hanya cairan infus saja yang masuk ke dalam tubuhnya. Itu karena Donghae tak lagi bangun sejak itu.

Ada senyum kecil di bibir Kibum. “Kau tetap cantik, kau tetap Donghaeku yang manis..” lirihnya. Kedua matanya, sekali lagi- entah sudah yang keberapa kali ini, tanpa bosan memandangi wajah Donghae. Ia bayangkan kedua bola mata jernih yang tersimpan di balik kelopak matanya.

“Aku.. aku merindukanmu, Hae..” ucapnya dengan nada yang mulai bergetar. Kibum menggigit bibirnya, menahan sakit. Ia menggenggam jemari Donghae seketika. Ia sembunyikan wajahnya di balik punggung tangan Donghae. Kedua bahunya bergetar. Isakan kecil mulai terdengar. Kibum..

Dia menangisi Donghaenya..

“Kau akan bangun lagi untukku, kan sayang? Kau akan membuka matamu lagi dan melihat dunia bersamaku, kau mau?”

Minho membuka tirai sehingga ruangan putih itu nampak lebih segar. Sorot matahari segera menyinari seluruh ruangan. Menghangatkan seluruh isi di dalamnya. Ia berbalik, dan tersenyum ketika mentari pagi itu menyambut sang hyung yang masih saja terlelap damai. Membuat kulit pucat Donghae sedikit menguning, efek sinarnya.

“Lebih baik, bukan?” Minho mencoba bertanya. Pada dia, Donghae yang mungkin mendengar, mungkin juga tidak.

Anak itu mendekat, merapihkan selimut Donghae. Menyembunyikan tangan yang terluka karena tusukan jarum infus yang terlihat mengerikan. Minho tidak suka pada hal yang melukai hyung tercintanya, apapun itu jenisnya.

Ada handuk kecil tersimpan di dalam wadah yang berisikan air hangat. Minho sendiri yang membawanya beberapa menit lalu, sebelum ia membuka tirai. Ia meremas handuk hangat itu di dalam wadahnya, namun kedua matanya tetap terpaku pada sosok Donghae.

“Aku takut kau kedinginan jika aku membuka jendelanya..” ucapnya. Ia mengatakan hal yang sia-sia sebetulnya. “Ini masih terlalu pagi untuk merasakan udaranya..”

Minho menatap Donghae lagi sejenak dengan handuk hangat di tangannya. Niatnya membasuh tubuh Donghae. Ingin membuatnya tetap segar meski telah tertidur lama. Meski dengan wajah yang teramat tirus, Minho tak ingin sang hyung kehilangan aura cantiknya. Donghae tetap seperti dirinya..

Anak itu mengelap wajah Donghae perlahan. Dengan telaten mengelap hingga ke leher sang hyung. “Kau jahat sekali tidak pernah memberiku kabar. Kau ini.. masih meganggapku tidak, sih?” dia  merutuki Donghae kemudian.

“Aku sudah memberitahu ayah dan ibuku. Mereka akan segera datang kemari. Kau.. tidak akan sendirian lagi..”

Minho tidak tahu jika Kibum datang dan meletakan segelas air putih di nakas di samping ranjang. “Maafkan aku..” ucapnya tiba-tiba.

“Kenapa tiba-tiba?” tanya Minho seadanya. Sejujurnya ia masih terlalu sibuk merapihkan piyama Donghae setelah ia mengelap tubuh Donghae hingga ke dada. Ia belum bisa membaca raut wajah Kibum. Maaf untuk apa, kan?

“Karena aku Donghae menjadi seperti ini. Karena aku pernah meninggalkannya dan memberikan waktu tersulit baginya..”

Minho menoleh seutuhnya. Ia tersenyum kepada Kibum. Setelah mendengar cerita seutuhnya tentang apa yang terjadi, ia urung untuk marah dan lebih memilih fokus pada kondisi Donghae daripada memikirkan hal lain. “Tidak hyung,” tukasnya. “Terima kasih, karena kau begitu mencintai hyungku selama ini..”

Kibum menatap Minho serius.

“Ini semua adalah jalan yang ia pilih. Aku sudah pernah menyuruhnya untuk pindah saja ke Jepang bersamaku. Tapi ia lebih memilih disini bersama dirimu. Jikapun sekarang ia sakit, itu bukan karenamu, tapi itu adalah apa yang diberikan Tuhan untuknya. Aku harus berterima kasih karena bahkan kau ingin kembali untuknya. Bahkan kau tidak meninggalkannya sekarang..”

Kibum memberikan senyum terbaiknya. Ia berbalik untuk memandang Donghae. “Aku tidak akan meninggalkannya, Minho-ya.. terima kasih telah memaafkanku, dan terima kasih telah percaya padaku,” tutur Kibum, lantas merunduk untuk menyentuh kening Donghae dengan bibirnya. “Ya, benar. Aku sangat mencintainya..”

“Kau memberitahuku setelah satu minggu lebih dua setengah hari, Demi Tuhan!”

Kyuhyun merutuki Kibum setelah ia keluar dari ruang rawat dan melihat Donghae dengan puas di dalam sana. Ia mendapati Kibum bersandar di dinding dekat pintu.

“Aku tidak akan tahu jika saja aku tidak berkunjung ke rumah kalian!”

“Maaf.. aku bahkan tidak ingat dimana ponselku,” tukas Kibum.

‘Benar Juga’, batin Kyuhyun. Mungkin satu minggu belakangan ini menjadi minggu terberat bagi Kibum. Menanti Donghae siuman dari komanya. Dan kemungkinannya hanya sedikit saja. Sedikit nyeri di hatinya Kyuhyun rasakan ketika mendengar itu. Namun ia coba untuk menepisnya dengan alasan, Donghae bukan siapa-siapa untuknya.

“Hyung, apa kau tahu kenapa aku begitu menyayangimu?”

“Maksudmu, Kyu??”

“Apa ini yang dinamakan cinta? Apa boleh aku merasakan itu padamu? Tidak boleh ya?”

Masih teringat jelas. Masih terasa pekat sakitnya saat Donghae menolak perasaannya. Dan itu semua hanya karena kokohnya rasa cinta yang dibangun Kibum di hati Donghae. Bayang-bayang Kibum terlalu kuat mengikat hati Donghae. Meski tidak salah pula, jika Kyuhyun lihat.. Posisi Donghae di hati Kibum sama kuatnya. Kyuhyun tersenyum..

“Jangan tinggalkan aku, Kyuhyunie! Aku tidak ingin sendirian! Tolong aku..”

Iya. Selama ini mungkin Donghae hanya sebatas mengandalkan dirinya. Kehadirannya hanya sebagai pendamping sementara saja. Tapi itu tidak mengapa. Sedikit saja Kyuhyun merasakan bangga bisa menjadi seseorang untuk Donghae. Cukup lama pula ia bersama Donghae, bukan? Banyak hal yang telah mereka lalui.

Kyuhyun menerawang ke arah langit-langit. Membayangkan wajah ceria Donghae disana, namun entah mengapa itu malah menjadi kesedihan yang bertebaran di dalam hatinya. Ia merindukan Donghae, bahkan hanya kedipan matanya saja.

“Bantu aku belajar bahasa asing..”

“Untuk apa?”

“Aku ingin memberi Kibum kabar melalui surat-surat yang aku tulis. Aku ingin menggunakan bahasa asing. Bantu aku ya?”

“Lalu kau ingin memintaku untuk mengirimkannya kesana?”

“Tidak. Berikan setelah aku tak bisa bicara. Berikan ketika aku tak bisa lagi membuka mataku. Berikan ketika aku..

..telah tiada.”

Sontak Kyuhyun membuka kedua matanya. Ia masih ingat bahwa ia mengajarkan bahasa asing pada Donghae selama Donghae berada di dalam penjara. Dirinya yang menemani Donghae menghafal kata-kata asing perlahan. Dirinya yang membantu Donghae menulis bahasa asing itu. Dengan ingatan Donghae yang semakin terbatas kala itu. Ia masih ingat bahwa..

“Hey!”

Kibum menoleh pada Kyuhyun yang menyentuh bahunya dengan tiba-tiba sambil berseru seperti seseorang yang melihat uang tergeletak di jalan. “Ada apa?”

“Aku punya sesuatu untukmu. Kurasa ini saat yang tepat untuk memberikannya padamu. Ah.. aku akan segera kembali..”

Tepat setelah Kyuhyun pergi, datang sepasang kekasih bahagia, yang mana Kibum tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan keduanya. “Kalian datang?” tanya Kibum singkat. Namun sekarang, di hadapan Jaejoong dan Yunho, dua orang yang sama penting untuknya dan juga Donghae, ia tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya.

“Kau tidak memberitahu kami!” desis Jaejoong dengan nada kejam seperti biasa, namun kali ini dia yang pertama kali memeluk Kim Kibum. “Bagaimana bisa dia separah ini!” bisik Jaejoong putus asa ketika memeluk Kibum.

Yunho menatap sendu pada sosok yang tengah terbaring di dalam ruangan, di balik celah kecil pintunya yang sedikit terbuka. Wajah Donghae benar-benar terlelap seperti kabarnya. Yunho menarik nafas dalam. “Sejak kapan dia.. seperti ini, Kibum-ah?”

Kibum menarik diri dari pelukan Jaejoong. Ia membukakan pintu untuk keduanya agar mereka bisa melihat Donghae dengan jelas. “Sejak satu minggu yang lalu, kurang lebih..” jawabnya, masih dalam posisi berjalan.

“Oh Tuhan! Donghae! Donghae!” seru Jaejoong tak sabaran, dan langsung menghampiri ke arah sisi ranjang Donghae. Ia mengusap-usap wajah dan tangan Donghae, seperti tidak percaya bahwa yang terpejam tak berdaya di atas ranjang pasien itu adalah Donghae, adik kesayangannya. “Ini tidak mungkin!” isaknya.

“Jae! Jangan terlalu keras memeluknya, kau harus lebih berhati-hati,” sambung Yunho, panik ketika Jaejoong memeluk Donghae erat dan hampir mengguncang keras tubuh Donghae. Kibum turut andil memperbaiki selimut Donghae yang sedikit terkoyak.

“Tapi Yun.. aku.. bahkan tidak percaya pada apa yang kulihat ini!” pekik Jaejoong dengan air mata tergenang di kedua matanya. “Donghae astagaa..!”

Kibum tersenyum menatap Donghae. “Dia tidak apa-apa hyung. Dia hanya sedang tertidur dan bermimpi.”

“Kibum-”

“Aku serius. Dia akan segera bangun.. Karena dia tak boleh meninggalkanku!”

Yunho segera menyeret Jaejoong keluar. “Kau membuat situasi memburuk, Jae! Kita datang menjenguk dan harus menghibur Kibum, bukan sebaliknya!” desis Yunho di telinga Jaejoong.

“Maaf..” sesal Jaejoong.

Kibum tak ingin mendengar bisikan-bisikan aneh yang tidak penting. Sekali saja ia melihat Donghae, maka ia tak akan berani pergi lagi. Itulah mengapa sejak dua hari lalu ia lebih memilih menunggu di luar ruangan saja. Lihatlah sekarang.. ia terduduk di sisi tubuh Donghae, lalu meraih jemari Donghae dan menciuminya.

“Aku benar, kan? Kau merindukanku, sayang. Kau akan terbangun..” ucap Kibum, seperti terenggut sebagian akal sehatnya.

Sudah banyak orang berlalu lalang untuk menjenguk Donghaenya. Di hari ke dua puluh, Kibum kembali sendiri. Donghae belum juga bangun dari tidur panjangnya. Hanya dirinya yang setia menunggui Donghae, karena Minho pulang ke Jepang, berancana akan pindah kembali ke Seoul setelah mengurus segala sesuatunya disana.

Pemandangan rumah sakit entah mengapa begitu mendung pagi itu. Kibum memandangi langit dan berharap langit hitam itu bukan menjadi petunjuk yang buruk. Ia tetap berdo’a kepada Tuhan agar dia mampu melewati hari ini seperti hari kemarin. Hari dimana dirinya masih bisa memandang wajah Donghae. Hari dimana dirinya masih bisa merasakan kulit hangat Donghae. Masih bisa menggenggam jemari Donghae..

Sekalipun Donghaenya tidak terbangun lagi. Kibum tersenyum miris.

Bunyi detik jam semakin terdengar mengejeknya. Kibum mulai tertelan bosan dan mengantuk jika saja ia tak mengingat setumpuk kertas yang Kyuhyun berikan beberapa waktu lalu. Ternyata yang dimaksud Kyuhyun waktu itu, adalah setumpuk surat berharga dari Donghae. Dan Kibum belum mampu membacanya hingga detik sekarang.

Satu surat, Kibum coba untuk membukanya. Dan ketika sebaris tulisan ia lihat, maka kedua matanya segera memerah.

“Hello love, How have you been there? Do you miss me? I really missed you ㅠㅠ

Kibum memandang Donghae sambil tersenyum pedih. Ia mendekat pada Donghae, lantas menyimpan surat itu di atas nakas, tak mampu lagi untuk melanjutkan membaca kata Donghae di atas kertas putih itu. Ia usap surai Donghae perlahan, lantas mendekat dan berbisik kembali, “aku baik-baik saja. Aku lebih.. lebih merindukanmu sekarang..” lirihnya.

Satu tetes air menetes di atas dagu Donghae. Kibum seperti ingin memberikan nyawanya saja ketika mendekat dan mendengar deru nafas lemah milik Donghae. Hanya ketika ia sendiri ia mampu menangis. Hanya ketika tidak ada yang melihat, maka ia akan menangis. Hanya dirinya dan Donghae yang mampu melihat tangis itu. Seperti saat ini..

Kibum menoleh dengan cepat ke arah lain. Ia usap kasar tangis di wajahnya, lalu memandang jendela dengan rintik-rintik basah, karena hujan ternyata telah turun membasahi bumi. Gelap. Dingin.. Kibum segera menutup tirai. Dia ingat..

Aku tidak suka gelap dan dingin. Aku tidak suka hujan..

Lalu sekali lagi, ketika ia melihat wajah terlelap Donghae, ia tunjukan senyum di antara tangisnya..

“My eyes. My smile. I don’t know how love happens. I don’t know how you have become my shadow. I love you.”

“Aku juga mencintaimu.. aku juga tidak mengerti mengapa kau bisa menjadi satu-satunya yang membuat aku merasakan kehilangan hingga sejauh ini, Hae.. Sayang, kau dengar aku??”

Kibum mengecup lama punggung tangan Donghae. Ia meneteskan lagi air matanya, kali ini di antara tangan Donghae yang diciumnya. Tak bisa. Kibum seperti anak kecil sekarang ini, mudah menangis. Terlebih sepenggal kalimat di sebuah surat berikutnya dari Donghae, baru saja dibacanya.

“Baiklah..” ucapnya sambil menarik tangisnya. “Baik, bahasa asingmu bagus, sayang..” candanya. Namun sekali lagi, ia tak mampu menuntaskan isi surat itu. Berakhir dengan memandang wajah tidur Donghae sepuas yang ia mau.

“Your warm palm. Your soft touch. The way you hold my hand. The weird feeling in my stomach thinking about how great you are. I love you.”

Kali ini Kibum tersenyum membaca surat lain. Sesekali ia memandang Donghae. Wajahnya nampak lebih segar karena bias dari sinar matahari. Langit begitu cerah hari itu, sebagus kabar yang dikatakan Dokter, mengenai peningkatan kesehatan Donghae. Memberikan sedikit celah bagi Kibum untuk tersenyum dan setidaknya bisa sejenak bernafas lega..

Maka dengan berani Kibum membaca semua sisa surat Donghae untuknya, sesekali sambil tersenyum. Tak ada isi surat yang buruk sebenarnya. Semua tergantung pada suasana hati si pembaca, itu saja.

“My rosy cheeks. Your irresistible smile. You said I’m the only one. I’m willingly fall for you. I love you.”

.

“Your gentle smell. Your strong hips. The electricity of your touch. The warmth of your voice. The sparks when we kissed. I love you.”

.

“Your beautiful stare. My shy happiness. If you look up, you will see the brightful sea of clouds. If you look at me, you will see the sea of love. Only for you. I love you.”

.

“Your sweet words. My safe world. I am never somebody else when I’m with you. You are the one I wanna be with. You are the one I couldn’t be with. I’m gasping. Your love. I love you.”

.

“Your lovely hug. My life. I’m laying alone. Hopeless. Tell me how to erase you. To unlove you. To give me space to breath. To be me without you. I tried. I failed. I tried. I failed. I tried. I failed. I can’t help, but.. I love you.”

.

“My dream. All I could ever want and need. I’m the one next to you at every morning. Wake up in your strong arms as you whisper “shh baby, go back to sleep”. Your soft lips would kiss mine, and I would hold you tighter.”

.

“You may go if you must go. Go, and go back to me. I want always stay. Give our love some more time to grow. But, I’m leaving soon. I cannot stop destiny making paths. And I cannot stop world wanting you. Don’t be silly. I was realistic. I loved you.”

.

Kibum melupakan bahwa Donghae masih belum terbangun. Masih dalam satu genggamannya satu surat tersisa. Ia hanya ingin berhenti sejenak dan menunjukan senyum tulusnya pada Donghae. “Mari buat surat yang banyak dalam bahasa asing nanti. Kau berani, huh?”

Eh? Kibum sedikit berjengit ketika mendapati satu tetes keringat di pelipis Donghae. Kibum mengusap satu tetes itu dengan tangannya. Di dagu Donghae juga, ada jejak keringat. Kibum mengambil tisu lantas membersihkan wajah Donghae.

“Kenapa? Apa udaranya terlalu panas, hn?”

“Hae?!”

Dilupakannya satu surat di tangannya sesaat setelah ia melihat kerjapan di kedua mata Donghae. Apa mungkin Donghae terbangun? Kibum hampir saja melonjak kaget, lalu ia menangkup wajah Donghae pelan. “Kau dengar aku, Hae?”

Sedikit..

Ada sedikit pergerakan, bahkan ketika Kibum menggenggam jemari Donghae, ada gerakan disana. Kibum terlalu terkejut, lupa jika dirinya harus segera menghubungi dokter.

“Hae, Donghae? Sayang kau dengar aku??”

Perlahan, kedua kelopak mata yang sayu itu terbuka. Kibum merasa seperti jantungnya melompat keluar saking bahagia. Ia memekik tertahan. Semua ia tahan. Tangisnya berikut senyum bahagianya. Yang dinantinya hanya sedikit kalimat dari mulut Donghae yang tak kunjung hadir.

Kedua mata Donghae hanya menerawang ke atas, ke arah langit-langit tepat di atasnya. Satu kerjapan, lalu ia tersenyum sambil menarik nafasnya panjang. “Ki.. bumie..” bisiknya samar, masih menatap ke atasnya.

“Ya, ini aku..” jawab Kibum bahagia. Satu kebahagiaan lain, karena Donghae mengingatnya kembali.

Bahkan jemari Donghae membalas genggaman jemari Kibum. Donghae nampak tenang di antara senyumnya. “Apa.. ini semua untukku?” ucapnya lagi, masih bernada lemah.

Kibum memandang ke arah Donghae memandang lalu mengangguk. “Ya. Selamat datang kembali, sayang..”

Minho tertegun, ketika ia datang dan membuka pintu ruang rawat Donghae, terdengar bisikan-bisikan yang berasal dari Kibum dan.. dan.. “Donghae hyung kau sadar?!”

Minho memekik kaget dan buru-buru mendekat pada sang hyung, melupakan kapal-kapal kertas yang tergantung tepat di atas terbaringnya Donghae. “Demi Tuhan, hyung kau kenal aku kan sekarang?!” pekiknya dengan mata terbuka sepenuhnya. Jelas-jelas ia melihat pandangan Donghae terarah padanya dan bahkan tersenyum ke arahnya.

“Kemari Minho-ya..?” pinta Donghae lemah, sambil menyambut kedatangan Minho dengan kedua tangan terbuka, siap menyambut saudaranya itu dengan satu pelukan hangat.

Hyung aku merindukanmu..”

Kibum memandang keduanya dengan senyum hangat. Memberikan waktu bagi keduanya untuk saling mencurahkan rindu. Semua masih terasa mimpi baginya. Ia pandangi kapal-kapal kertas yang ia buat dari surat-surat milik Donghae. Sebentuk kapal kecil yang semoga saja, menerbangkan harapannya pada mimpi Donghae sewaktu ia tidur.

Bukan hanya Kibum, bahkan dokterpun heran, mengapa Donghae bisa terbangun dan mengingat semuanya. Sungguh sebuah kebanggan. Kebahagian yang patut disyukuri. Tapi..

Detik berikutnya, ketika Kibum hendak pergi dan memberikan keleluasaan bagi Donghae dan Minho di dalam ruangan berdua saja, bahkan Kibum masih di ambang pintu, Minho tiba-tiba saja berteriak kembali memanggilnya.

“Donghae hyung kenapa? Tiba-tiba saja ia melupakan semuanya dan..” penjelasan Minho pada sang dokter terputus begitu saja. Ia tak berani mengatakan, lantas melihat Donghae yang kembali terlelap dalam sakitnya.

Dokter beserta suster yang menanganinya nampak sibuk, memasangi Donghae alat yang sebelumnya tidak ada. Ada bunyi memekik di seluruh ruangan, kencang menunjukan seberapa lemah jantung itu berdetak sekarang.

Mihno kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa, selain menyeret Kibum yang tak ingin melepas genggaman tangannya pada Donghae. “Hyung serahkan semuanya pada dokter dan kita berdo’a pada Tuhan..”

Kibum melepas tangan Minho dari pundaknya. Tatapannya masih terarah lurus pada kedua mata Donghae yang terpejam. “Lakukan apapun untuknya. Lakukan apapun itu untuk membuatnya terbangun lagi!” teriaknya tak sabar.

“Kami akan berusaha yang terbaik. Beri kami waktu dan mohon anda keluar sebentar..”

Kibum mendengus, lantas melihat deru nafas Donghae di balik masker oksigen. Ia meluluh. Deru nafas yang terlihat itu, memperlihatkan kesulitan dan kesakitan yang ditanggung Donghae saat ini. Maka dengan segenap kesadarannya, juga dengan sedikit berat hati ia melangkah pergi. Mempercayakan Donghaenya pada orang lain..

Kibum menelungkup wajahnya di antara lutut yang ditekuknya. Ia bahkan enggan duduk di kursi tunggu bersama  Minho dan memilih lantai yang dingin. Tak ada kata sedikitpun. Sudah dua jam sejak dirinya meninggalkan Donghae di dalam sana. Kibum bergerak putus asa.

Minho menarik ujung pakaiannya. “Dia akan baik-baik saja, kan?”

Kibum tak mampu mengangguk sedikit saja. Ia terlihat ragu, sangat ragu bahkan. “Kita tunggu hingga-”

Seorang dokter memutus kalimat Kibum. Ia terburu-buru menghampiri Minho dan Kibum, seperti telah mengenalnya. “Dia ingin bertemu denganmu,” tunjuknya pada Kibum.

“Apa.. dia sudah baik-baik saja sekarang? Apa dia sudah siuman lagi?”

Sang dokter nampak ragu, lalu mengatakan “mungkin ini adalah permintaan terakhirnya..”

Grep!

Kibum mencengkram kerah sang dokter cukup kuat. “Kubilang lakukan apapun, berapa kalipun hingga dia sembuh!” teriaknya sangat keras.

Minho resah. “Hyung jangan lakukan itu. Mungkin itu benar..”

Kibum menghempas sang dokter lumayan keras. “Permintaan terakhir katamu? Jika pemintaan terakhirnya adalah bertemu denganku, lalu setelah itu dia pergi, maka aku tidak akan pernah menemuinya!”

“HYUNG!”

“Aku tidak akan pernah menemuinya dan dia akan tetap hidup untuk menungguku! Itu lebih baik!”

“Demi Tuhan hyung..” isak Minho. Ia tak menyangka Kibum berfikir sejauh itu untuk hidup Donghae. Ia mencengkram erat pakaian Kibum sambil menangis. “Jangan lakukan itu padanya, hyung. Kumohon..”

“Lepas! Biarkan aku pergi Minho-ya. Aku tidak ingin menemuinya jika ia harus pergi setelah menemuiku!”

Minho semakin terisak. Sementara Kibum mulai melangkah pergi. “Tidak hyung.. temui dia kumohon!”

Kibum tetap melangkah. Melangkah dengan berat. Sangat berat sampai tak sadar meremas sesuatu dalam genggamannya. Tangisnya mulai bermunculan. Ia mulai terisak. Terlebih, Minho memanggilnya sekali lagi..

“Hyung.. temui dia jika kau masih mencintainya. Aku yakin dia masih sangat mencintaimu..”

Kibum menangis. Ia tetap melangkah dan mencoba menulikan telinganya. Ia ingin mengambil langkah sesuai dengan apa yang dikatakannya. Untuk tidak menemui Donghae, bila kekasihnya itu akan benar-benar pergi setelah bertemu dengannya. Jika benar itu adalah permintaan terakhir Donghae, maka Kibum akan memilih pergi dan membiarkan Donghae tetap hidup menanti kedatangannya. Kim Kibum, kau konyol sekali!

Cukup kuat Kibum meremas sesuatu di tangannya, yang ternyata adalah kertas, surat terakhir Donghae yang belum dibacanya. Tepat di anak tangga ke sepuluh menuju lantai bawah, Kibum memberanikan diri untuk membacanya. Sisa surat terakhir dari Donghaenya..

I love you. Why would I tell you something that you already know. Do you love me still? I do.

Satu penggal kalimat mampu menahan kepergian Kibum. Ia tersenyum konyol. Ternyata Minho benar. Donghae mungkin akan selalu mencintainya. Surat itu, Donghae sendiri yang menulisnya, dan itu artinya dia sendiri yang mengatakannya sendiri. Kibum percaya.

Akhirnya jatuh di anak tangga ke sebelas, Kibum mengurungkan niatnya untuk pergi. Karena menurut Minho, jika dirinya masih mencintai Donghae, maka dirinya harus menemui Donghae sekarang. Dan inilah jawaban dirinya.. Melangkah ke arah berlawanan, untuk kembali. Karena..

Kibum masih mencintai Donghae. Atau mungkin masih sangat sangat sangat mencintai Donghae. Donghaenya..

BRAK!

Suara keras terdengar ketika Kibum datang. Entah apa yang dibuatnya jatuh. Ia hanya berusaha untuk datang lebih cepat. Itu saja. Dan mungkin dirinya tak akan pernah menyesal untuk memutuskan menemui Donghae, karena kini dihadapannya.. Donghae tengah terduduk di atas ranjangnya sambil tersenyum manis.

Seperti biasa..

Senyum tulus yang Kibum rindukan, dan akan dia rindukan.. selamanya.

Kibum melangkah perlahan. “Maaf.. Maafkan aku,” lirihnya.

Donghae nampak mengangguk dan lalu mengulurkan satu tangannya untuk Kibum genggam. “Beruntung kau datang. Aku takut terlambat untuk mengenalimu lagi. Aku takut melupakanmu lagi..”

Kibum segera mendekap Donghae dengan hangat. “Tidak apa-apa. Kau melupakanku akan lebih baik. Hanya saja.. bisakah kau tidak meninggalkanku, Hae?”

Kibum tidak tahu Donghae menangis di balik dadanya. Menangis dalam senyap dan hanya mengangguk-angguk tidak jelas ketika Kibum memintanya untuk tidak pergi. Dia seperti tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan semua bukan terjadi karena kehendaknya, tapi kehendak Tuhan..

“Hn? Kau tidak akan pergi, kan?”

Donghae mengusap dada Kibum. “Aku mencintaimu, Kibumie..”

“Aku sudah tahu,” bisik Kibum. “Semua suratmu telah sampai padaku, dan mengatakan itu semua..”

“Rasanya tidak cukup,” bisik Donghae lagi.

“Tidak. Itu semua sudah cukup bagiku. Aku sudah tahu, aku sudah tahu..”

“Kau mencintaiku, Kibumie?”

Kibum menarik nafas panjang agar suara yang keluar tidak berubah menjadi tangisan yang tak terbendung. Ia katakan “Ya!” dengan tegas. “Iya aku lebih mencintaimu..”

Kibum mengusak rambut Donghae, tetapi Donghae tidak lagi berkata apapun setelah itu. Beban beratpun Kibum rasakan lebih berat. Ia mencelos lantas mencoba memberanikan diri untuk melihat wajah Donghae. “Bangun, sayang..” bisik Kibum. Seperti ada sesuatu yang membuat tenggorokannya perih seketika.

“Lee Donghae bangun!” jerit Kibum.

Donghae tersenyum. Ia kembali membuka matanya dengan sayu lalu menatap Kibum perlahan. Keringat di wajahnya semakin banyak. Keningnya mengernyit seperti menahan sakit. “Ki.. bumie?”

Tik..

Tik..

Tik..

“Kibumie, Kibumie..”

TBC

Selesai chapter sembilan!!! ^O^ waaaaah.. maaf mengabaikan FF ini begitu lama.🙂 yang masih mau tinggal dibaca aja. Chapter 10-chapter depan kira-kira akan menjadi chapter terakhir dari FF ini^^ do’akan saja semoga cepat dapet ide, dan itu tidak lama lagi. Hhaaa~

Untuk brothership nanti menyusul. Ini THR pertama saya ya, :p Mana dong THR kalian buat saya? hhahahahaha~ ber.can.da!^^

23 thoughts on “DEEP AFFECTION [9]

    Elfishyhae said:
    Juli 23, 2014 pukul 12:28 am

    Huahuhuhuhu. . Hae nya jangan mati, jebbal hikz. . Hikz, , ini benar2 mengharukan eon. Happy end ne? Please! Next nya segera ne! Jangan lama2 eonie. . Fighting.

    donatan144 said:
    Juli 23, 2014 pukul 12:58 am

    Haaa sdih bngt,dri awal ampe akhir adegannya sdih thor gk tega liat pasangn kihae mnderita bgitu,thor jg buat sad ending ya

    dewiikibum said:
    Juli 23, 2014 pukul 1:58 am

    saya ini lagi puasa loh.. tapi kak minahh bikin saya nangissss… hueee.. batal gak yahhh….

    ya ampunn donghaeeekkkkkkkkk… kasian nya kamuuuuu.. hueee

    cinta mereka kerasa banget disini.. hueee.

    klo aku rasa nya tau gimana ending nya… apalagi kk lagi jrg buat ending yg bagus buat hae… hahaaha

    lee gihae said:
    Juli 23, 2014 pukul 2:32 am

    Tik Tik Tik kenp TBC .. Y.Y
    bnran cerita ny dlm bngettt …😥
    donghae ku donghaeku ..😥 :-*
    eonni jgn ada kata “mati” yaa plisss .. happy ending aja ..😥

    hiks kibumie tetap bersama hae mu ya? :”)
    donghae kuu kau harus sembuh sayangg ..😥

    cpt lnjut . . gpl ..
    authornim I love U .. :-*

    kim haena elfish said:
    Juli 23, 2014 pukul 3:03 am

    Tik..tikk..tikkk

    hadweee penasarn terkuras sudah airmataku .🙂
    oeni di tunggu kelanjutanya .
    makasih udah mau lanjytin walau sibuk.

    Fighting. …★★★★

    Tsafa Fishy said:
    Juli 23, 2014 pukul 5:50 am

    Oh itu TBC nya sungguh menyebalkan,, saya ga bisa berkata apa2 karena ini FF complicated banget dan endingnya saya serahkan ke author saja deh…

    THR nya dr aku do’a aja yah semoga sehat selalu, banyak rezeki, dan banyak ide supaya bisa tetep nulis FF

    amyla_rahayu said:
    Juli 23, 2014 pukul 5:52 am

    sedih…:( Ikhlaskan sja Hae Kibummie..! ksihan dia harus sakit bgitu,,,gak tega aku lihatnya,…:(

    Maya Nurhikmah said:
    Juli 23, 2014 pukul 8:11 am

    aduuhhhh nangis… gk kuatt… gk tega…. hikhikk
    atu eon happy end az yah..yah… beri keajaiban bwat kihae, hik..hikk…
    perasaan mereka dalem bnget krasa nyentug jantung rasa.y….
    ahhhh… gk bisa brenti nangis.. gimna ini…

    arumfishy said:
    Juli 23, 2014 pukul 11:18 am

    Haeeee nyaaaa jngannnn ninggalinnn Kibummmm…..g boleh T_T

    Hae ayo kamu pasti bisaaaaaaa

    Sutria ningsih said:
    Juli 23, 2014 pukul 2:05 pm

    Aaaaaaaaa~ bikin orang jadi galau >_< Itu kyu gaada salam perpisahan kah sama donghae

    Haebaragi said:
    Juli 23, 2014 pukul 2:21 pm

    Donghae~, tidak! jangan pergi! T.T

    ida elfishy said:
    Juli 23, 2014 pukul 4:39 pm

    tidakkkkk danghae ga bleh matiiiii
    apapun cranya bkin hae sembuh huhuhhhuu
    kasian kibum
    thr pertma? berati ada yg kedua dong?
    kutunggu!!!!!!

    erleenescallps said:
    Juli 23, 2014 pukul 8:58 pm

    haduh.. nyesek.. jadi takut mau liat lanjutannya…

    eLice← said:
    Juli 24, 2014 pukul 5:11 am

    Author eonn, bacanya kok sakit hati yah… Donghaeww kasiaan,Kibumee juga😦
    Cinta mereka benar² diuji *jiaahh bhasa*

    Next, tapi kok mau end???

    yolyol said:
    Juli 24, 2014 pukul 2:37 pm

    donghae-aa…!!!

    hueeee…..jangan tinggalkan aku dan kibuum!! andweee~

    gila ini nyesek banget..mcmnya takdir donghae ngenes banget yah.hidupnya mendrita amit…hiks..hiks…bkin sakit hati aja..hikd…

    ini keren…aku suka! lanjutakan! !

    ELFarida said:
    Juli 25, 2014 pukul 2:20 pm

    Dari awal baca chapter ini, udah bercu2ran airmata eon . . . .T_T .
    Ini ff tersedih yg pernah aku baca . . .
    Eonni bner2 hebat . . Jangan bkin donghae meninggal ya eon, kasian kibummie . .
    Please . . #maksa

    ELFarida said:
    Juli 25, 2014 pukul 2:40 pm

    Dari awal baca chapter ini, airmata udah bercu2ran . . .T_T
    Ini adalah ff tersedih yg pernah aku baca eon. . .
    Eonni bner2 hebat . . .
    Jangan bkin donghae meninggal ya eon, kasian kibummie . ,
    please #maksa . .

    Rien Rainy said:
    Juli 25, 2014 pukul 6:00 pm

    T.T aigo… entah mengapa dichap akhir buat mewek… mianhae eon… jujur y eon aku bca ff ini dri chap 1-chap 9 cuma 1 harian dan baru komen di chap.9 aja… mianhae eon… T.T oya, eon ff.a buat nangis deg degan sama cinta KiHae.a… Hae.a pokok.a jgn meninggalkan Kibum… *maksa
    hehe, aku tunggu deh chap.10.a… for eonni fighting!!!

    laila mubarok said:
    Agustus 2, 2014 pukul 2:17 am

    huwaaaaaaaaaaaaaaaa eoni dah lama banget ga mampir ke wp mu eon..

    adeh banyak banget yang aku harus baca,,
    okeh jaaa eoni aku mau baca yang lain yuah hehehe

    lifelocked said:
    Agustus 2, 2014 pukul 7:06 am

    😣😣😣 kirain lngsung d tamatin di chap ini!! Tau nya msih tbc ;_; ugh teteh~ let them stay together forever 😐 next asap asap 💕

    nia na yesung said:
    Agustus 5, 2014 pukul 12:33 pm

    satu chap lagi ?
    aku harap gak lama ya, Mian baru bs komen🙂
    n mian juga komenan q banyak yang gak bermutu Hehehe
    aku cm bs baca sm menghayati isi cerita.a aja ^^
    dan cm bs kasih semangat Author.a supaya Semangat Nulis ceritanya .
    n biar cepet Update^^
    Tank u dah mau ngelanjutin DEEP.a ya ^^
    semoga akhir ceritanya seperti yang saya harap kan😀

    Kumiko Akemi said:
    Agustus 24, 2014 pukul 12:03 am

    Akhirnya ini fic dilanjut juga, dan gak tanggung-tanggung aku terisak saat membacanya… sumpah sedih banget bener-bener menguras air mataku #mulailebay
    oke itu ajah, aku tunggu next chapternya

    Nelly Key Donghae said:
    September 18, 2015 pukul 6:33 am

    Donghae jangan matiii,, jeballll😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s