DEEP AFFECTION [7]

Posted on

Even I wont become myself tomorrow, there are things I want to be able.. remember everything about you and to feel that your love for me never changes. Donghae

A flower cannot blossom without sunshine. Life cannot live without love. And you are more than a sunshine and love to me. Whoever you are tomorrow there is me, a person who always thinks you are perfect in anyways. – Kibum

Pip.

Kibum termenung setelah ia pastikan sambungan ponselnya tertutup sudah. Ia genggam ponselnya tersebut cukup erat dan merapatkannya di mulutnya. Mungkin tanpa sadar ia melakukannya, karena terlalu memikirkan hal lain..

“Darimana kau tahu bahwa orang yang bernama Eunhyuk ini mengetahui dimana keberadaan Donghae?”

“Kau tidak ingat? Eunhyuk adalah kawan Donghae sewaktu mereka bekerja di bar dulu, Kim Kibum!”

Dengan segenap kesadarannya yang kembali Kibum meraih jaket dan kunci mobilnya seketika. Hari memanglah sudahlah malam. Terlalu banyak menit yang Kibum lewatkan untuk mencerna ungkapan Jaejoong padanya. Maka tak bisa lagi ia menunda waktu. Ia segera pergi..

[CHAPTER 7]

Maka disinilah kaki seorang Kim Kibum menapak. Bersama Kim Jaejoong yang saat ini di sampingnya. Satu pandangan ia berikan, pada tempat dimana dirinya tak pernah menyangka, bahwa Donghae, kekasih hati yang dicarinya sekian lama ini berada disana. Di tempat dimana di dalamnya para penjahat bersarang.

Bahkan jemari Kibum sempat meremas kerah pakaian Eunhyuk tadi malam jika saja Jaejoong tak menahan kepalan tangannya agar tak menyentuh wajah Eunhyuk. Kibum dapat merasakan kala itu, bagaimana bergetarnya tubuh Eunhyuk sambil menjelaskan detail kejadian yang menimpa Donghae, hingga..

“Dia dipenjara setelah membunuh ibunya sendiri! Kabar ini bahkan meluas di seluruh pemberitaan Korea. Apa kalian benar-benar tak pernah mendengarnya sama sekali?”

Kibum mengernyit tak percaya akan kata Eunhyuk yang kembali terngiang di otaknya. Ia tak percaya karena tak mendengar dan tak melihatnya secara langsung. Namun ini wajar, mengingat ia tengah berada di negri lain kala itu, juga keberadaan Jaejoong yang tersembunyi karena masalahnya.

Hingga Kibum akhirnya percaya. Mencoba untuk percaya, setidaknya mengenai alamat penjara dimana kabarnya Donghae berada disana kini. Eunhyuk yang memberikan semua detailnya. Juga alamat dimana kini Kibum menapaki lantainya. Ada sedikit getar hatinya kala menatap tempat tersebut.

Bagaimana Donghae? Baik-baik sajakah ia di dalam sana selama ini?

Semua kecemasan itu terus bergelayut di benak Kibum, hingga akhirnya di sebuah lorong ia terdiam. Langkahnya terhenti. Seluruh tubuhnya merasakan lemas yang begitu memuncak kala mendapati tiga sosok yang tengah berjalan di antara lorong tersebut. Lorong yang begitu redup karena sedikitnya asupan cahaya yang ada.

Namun di antara remang itu Kibum dapat mengenali salah satunya. Dia yang dicarinya. Dia yang begitu Kibum rindui. Dia yang begitu Kibum cintai. Dan dia yang begitu Kibum kasihi!

Kibum meneguk kecut ludahnya..

Bagaimana mungkin Donghaenya benar-benar mengenakan pakaian yang sama dengan narapidana lainnya? Bagaimana mungkin Donghaenya berjalan begitu lunglainya seolah menimbang beban yang berat di punggungnya?!

“Hae..” desah Kibum putus asa, penuh akan kekecewaan. Mungkin saja Jaejoong yang di sampingnya itu dapat mendengarnya. Namun Kibum mana peduli? Ia hanya sedang terpaku pada sosok Donghae yang kini berjalan sambil menundukan wajahnya. Sedang pandangan miris Kibum yang lainnya terhadap Donghae terus mengalir tak berbatas.

Bagaimana bisa tubuh Donghae sekurus itu? Lalu bagaimana bisa rambut yang sering Kibum hisap harumnya itu bisa sebegitu kusutnya? Dan juga kulit itu. Apa saja yang terjadi pada Donghaenya hingga seolah kulit itu tak bercahaya dan teramat pucat?

Perlahan Kibum langkahkan kakinya. Rasa ketidakpercayaannya masih begitu besar. Langkahnya terasa berat bahkan ketika Donghae mulai mendekat padanya. Pandangannya mengatakan, apa dirinya sedang bermimpi saat melihat Donghae kembali di hadapannya?! Tentu semua nyata..

Kibum tersenyum meski kecut terlihat. Ia ingin segera memanggil nama kekasihnya. Ia ingin segera meraih tubuh itu. Memeluknya dan menciumnya. Tak peduli apapun yang terjadi, karena rindu itu begitu membuncah dan berdentuman hebat memenuhi dada Kibum. Namun..

Sosok Kyuhyun mulai terlihat olehnya. Tentu Kibum mengingat segurat wajah itu. Satu bibir lain yang pernah mengecup bibir Donghae dulu. Selalu ia ingat meski ia telah memaafkannya dulu. Namun sekarang?

Kibum menggeram hebat saat mengetahui, Donghae ada bersama Kyuhyun. Kibum kesal! Mengapa Kyuhyun bisa tahu apa yang terjadi sedang dirinya tidak?! Mengapa Kyuhyun yang ada di samping Donghae saat ini, bukan dirinya?! Dan mengapa semua terlihat seolah Donghae lebih memilih Kyuhyun daripada dirinya?

Rasa kesal itu semakin memuncak memanasi ruang hati Kibum. Namun karena beberapa alasan Kibum memilih untuk memikirkan hal terbaik. Ia harus yakin bahwa..

“Aku mencintaimu, Kibumie! Selalu..”

Ungkapan cinta Donghae terngiang di benaknya, seolah menyiram aliran panas di hatinya. Ataukah mungkin yang Kyuhyun sengaja melakukan semua ini?!

Semakin Kibum melangkah kasar. Ia tak sadar saat Donghae mendongakan wajahnya dan melihat ke arahnya dengan bingung. Satu urusan harus Kibum selesaikan sebelum ia menggapai Donghae. Maka setelah tiba, Kibum menarik kerah Kyuhyun dengan kasar. Ia layangkan pukulan kerasnya pada Kyuhyun terus menerus, meski aneh kala ia merasa Kyuhyun sama sekali tak menyahut perlakuan kasarnya.

Suara bising terdengar seketika. Dari jeritan Jaejoong? Dari halauan seorang penjaga polisi yang sejak tadi ada? Atau dari hantaman Kibum yang tepat mengenai wajah Kyuhyun. Pipinya? Rahangnya mungkin? Kibum tidak peduli! Ia hanya tetap fokus untuk menyalurkan segala kesalnya. Ia terus pukuli Kyuhyun. Bahkan mungkin Kibum tak akan segan memukuli Kyuhyun hingga mati jika saja tak ada yang melerainya.

Satu sunggingan senyum Kibum yang puas terukir kala melihat Kyuhyun tergeletak tak berdaya di atas lantai, dengan bukti darah di wajahnya dan juga di punggung tangan Kibum. Kibum teramat kesal. Ia hempaskan sepasang tangan milik seorang polisi dengan kasar. Ia hampiri tujuan lainnya. Donghae..

Donghae yang begitu bingung dan terlihat ketakutan, memojokan tubuhnya ke arah dinding. Kibum terkesiap melihat seberapa pucat wajah itu. Seberapa pias Donghae saat menatapnya dari balik dua bola mata yang nampak kehilangan sinar hidupnya. Kibum tercekat. Ia tak sempat berkata karena debaran jantungnya terlampau cepat. Kibum merasa, Donghae menatap orang yang baru dilihatnya.

Seperti Donghae yang lain. Kibum tak menginginkan hal tersebut. Ia tahu ‘dia’ adalah Donghaenya. Dia ini adalah Donghae yang tetap miliknya. Dia adalah Donghae yang lalu Kibum dekap tanpa kata. Kibum dekap dengan sangat erat meski tak mengabaikan kelembutan dari sikapnya untuk menenangkan Donghae.

Seketika hembusan nafas lega keluar dari mulut Kibum. Detak jantung yang begitu Kibum rindukan. Bisikan nama yang begitu Kibum rindukan. Ya. Akhirnya Kibum tersenyum kala Donghae memanggil namanya..

“Kibum.. bumie?”

“Hm?” balas Kibum dengan setitik air mata di sudut matanya. Ia begitu terharu mendengar suara Donghaenya kembali.

“Apa aku bermimpi?”

Kibum semakin tersenyum sambil lebih mempererat dekapannya pada tubuh Donghae hanya untuk merasakan kehangatan yang mana Kibum, sempat kehilangan hal tersebut. Ia jawab, “tidak, Hae. Aku disini.. untukmu..”

Sekian lama mereka dalam posisi yang sama, dalam balutan rasa nyaman dan penuh akan kelegaan. Saling mengecap hangat dari tubuh masing-masing. Mendengar deru nafas masing-masing. Begitupun dengan rasa sesal yang Kibum rasakan. dari nafasnya yang mengalun teratur.

Perlahan Kibum menarik dirinya hanya untuk menatap wajah Donghae. Menatap dalam ke arah dua bola mata Donghae, namun ia mengernyit bingung kala dilihatnya Donghae segera merunduk. Tak ingin ditatap olehnya. Tak ingin menatap wajahnya. Maka Kibum kecewa. “Kenapa, Hae? Tatap aku!”

Namun Donghae menggeleng keras sambil menutup erat wajahnya oleh kedua telapak tangannya. Ia katakan, “aku begitu buruk. Aku tak ingin kau menemuiku disaat seperti ini, kumohon..” lirihnya.

Kibum terpaku. Ia raih tangan Donghae. Menjauhkan telapak tangan itu agar tak menghalangi wajah Donghae. “Jadi kau lebih memilih Kyuhyun yang bukan siapa-siapa di banding aku, huh?” ungkapnya. “Apa kau sedang menolak kehadiranku disini, Hae? Lebih baikkah Kyuhyun di banding diriku? Apa sebaiknya aku pergi?”

Nampak Donghae yang menahan nafasnya sambil mendongak untuk menatap Kibum. Ia nampak terkejut akan kalimat Kibum. Apakah akan lebih baik baginya jika Kibum pergi saja? Namun jawaban Donghae adalah sebuah gelengan pelan sambil berusaha menahan tangisnya. Jejak air mata berkumpul di kedua sudut matanya. Ia seperti seseorang yang kebingungan.

“Hm? Aku pergi?” ancam Kibum lagi dalam nada yang halus namun menekan.

Seketika air mata itu turun membasahi kedua pipi Donghae. Donghae, pria manis ini lantas melingkarkan kedua tangannya di leher Kibum. Memeluk Kibum erat. “Ja.. jangan!” jawabnya pada akhirnya, mewakili isi hatinya yang sebenarnya. Donghae menangis tersedu di dada Kibum.

Kibum tersenyum sambil mendesah lega. Ia kecup kening Donghae dengan lembut. “Tentu saja aku tak akan pergi,” tuturnya. “Aku tak peduli pada apa yang telah terjadi. Apa yang telah kau lakukan aku tak akan peduli..”

Sedang di sudut lain Jaejoong mencoba untuk menopang Kyuhyun yang sepertinya kesulitan walau hanya sekedar berdiri akibat luka yang dibuat Kibum di tubuhnya. Meski luka itu bukanlah hal yang menarik. Karena keduanya terpaku akan pertemuan Kibum dan Donghae.

Kyuhyun mengerti, betapa Donghae mencintai Kibum maupun sebaliknya. Lalu dari celah mana ia bisa memasuki hati Donghae jika keadaannya seperti ini? Karena “hati mereka yang sesungguhnya. Aku baru mengetahui dan melihatnya, hyung..” bisiknya pada Jaejoong di sampingnya.

Meski dengan berat hati, pada akhirnya mereka mengantar Donghae menuju selnya. Mungkin ini memang seharusnya terjadi, mengingat Kibum tak mungkin membebaskan Donghae untuk saat ini.

Namun genggaman tangan keduanya begitu erat sesaat pintu gerbang menuju sel itu mendekat. Siapapun menjadi berdebar takut karena harus menyaksikan bagaimana Donghae terkurung disana. Meski aneh karena Donghae tersenyum ringan kali ini. Mungkin karena genggaman tangan Kibum pada tangannya.

Kriet.

Pintu besi itu mulai terbuka. Kibum meneguk kecut ludahnya. Ia mempererat genggamannya disaat tubuh Donghae mulai memasuki jeruji besi itu. Dilihatnya Donghae tersenyum padanya dan menggeleng pelan. Donghae juga berusaha melepaskan genggaman tangan Kibum pada jemarinya. “Jangan takut,” bisik Donghae. “Aku akan baik-baik saja..”

Kibum terlihat enggan melepas tangan Donghae. Wajahnya murung dan nampak cemas. Namun keadaan kembali memaksa mereka untuk terpisah. Sehingga Kibum hanya mampu menatap miris ke arah gerbang besi yang akhirnya membelenggu Donghaenya di dalam sana. “Hae..” panggilnya.

Di dalam sana Donghae kembali menoleh. Nampak guratan sedih di wajah pucat Donghae. Dia yang lalu kembali menghampiri Kibum dengan sedikit tak sabar. Dia yang lalu kembali mengeluarkan tangannya di sela-sela gerbang besi yang kokoh itu. Ia rentangkan tangannya untuk Kibum, meminta Kibum untuk mendekat padanya.

Kibum menyambutnya. Kibum yang lalu kembali menciptakan sebuah pelukan meski terhalang jeruji besi yang dingin. “Aku mencintaimu, Donghae..” bisiknya. Dan Donghae memanggil..

“Kibumie..”

“Ya?”

“Bawa aku..” lirihnya pada Kibum. “Aku takut sendiri..” bisiknya, menumpahkan sebuah ketakutan yang mendalam yang selama ini ia pendam sendiri. “Aku ingin pulang..” isaknya.

Kyuhyun tertegun. Sedikit banyak ia dapat mendengar ucapan Donghae untuk Kibum. Dan ia menyadari, untuk pertama kalinya Donghae mengeluh takut. Untuk pertama kalinya Donghae meminta agar dirinya lepas dari jeruji besi yang selama ini menyekapnya. Semua hanya karena seorang Kibum. Hanya pada Kibumlah Donghae menunjukkan semua yang ada pada dirinya. “Kau benar-benar!” decak Kyuhyun, tersenyum penuh arti dan sedikit meringis kala merasakan perih di mulutnya mulai terasa.

Kibum terlihat menerawang bintang di langit sana. Langit malam yang begitu gelap, namun terkesan indah dalam hiasan bintang yang ada. Mungkin kini hatinya tengah merasa demikian. Hatinya tengah gelap oleh kecemasan, namun nampak sedikit benderang, terobati karena wajah Donghae yang baru saja ditemuinya.

“Maafkan aku untuk semuanya. Untuk tak mengatakan apapun mengenai Donghae padamu. Aku bingung. Karena ia yang memintanya selama ini. Kau tahu? Aku tak pernah sanggup setiap kali melihatnya menangis dan memohon..”

Kibum mengepulkan asap dari rokok yang dihisapnya. Matanya bergerak, menoleh sosok di sampingnya yang sudah hampir mabuk karena minuman-minuman keras yang kini ada di hadapan mereka.

“Wajar jika kau memukulku seperti ini. Aku tak akan membalasmu..”

Kyuhyun yang sedang berbicara kini. Kyuhyun yang berada di samping Kibum kini. Keduanya nampak menghabiskan waktu bersama setelah apa yang terjadi. Meski Kibum masih kesulitan untuk bicara. Meski terdapat beberapa plester berikut bengkak berbercak darah di wajah Kyuhyun.

“Apa kau begitu mencintainya?” tanya Kibum tiba-tiba.

“Menurutmu?”

Kibum menghela nafasnya berulang-ulang. Ditatapnya kembali langit di atas sana. Keduanya memang berada di lur ruangan. “Terima kasih..” ucap Kibum.

“Untuk?”

“Mencintainya. Mengasihinya. Menjaganya hingga sejauh ini. Tapi kau tahu, aku tak dapat..”

“Cukup!” bantah Kyuhyun. “Aku telah menyerah sejak awal, Kibum-ah!”

Kibum diam. Ia tahu sekarang, bahwa Kyuhyun bukanlah pihak yang harus dipersalahkan dan bukanlah sosok yang patut ia anggap sebagai musuh. Kembali ia teringat ucapan Jaejoong sebelum pertemuan ini terjadi.

“Jangan bodoh, Kim Kibum! Kyuhyun telah berusaha untuk menjaga Donghaemu! Seharusnya kau berterima kasih padanya! Dan jangan lagi bertindak gegabah atau kau tak akan bisa mengeluarkan Donghae dari penjara meski kau mengeluarkan seluruh hartamu!”

“Ayahnya adalah kepala polisi. Kurasa cukup jelas bukan? Dan kurasa ia bisa membantumu..”

Kibum nampak ragu meski telah lama menatap Kyuhyun dalam diam. Kyuhyun yang mulai mabuk karena minuman-minuman yang sengaja mereka beli. Di botol berikutnya Kibum hentikan kegiatan Kyuhyun. “Kau benar-benar bisa mengeluarkan Donghae darisana, kan?!” tuntut Kibum.

“Beginikah caramu membujuku, Kim Kibum?!”

Kibum terlihat mendengus, dan Kyuhyun nampak terkekeh pelan. “Kau pikir kenapa aku bisa menjenguk Donghae hyung kapanpun aku mau, huh? Bahkan membawakannya dokter pribadi ketika ia sakit!” terang Kyuhyun, membuat Kibum yakin betapa keberadaan Kyuhyun saat ini begitu berpengaruh untuk Donghaenya.

“Jangan bertele-tele!” tegas Kibum.

“Baiklah! Sebenarnya aku bisa mengeluarkan dia sejak jauh hari. Namun, Donghae hyung yang selalu menolak. Hingga hari ini bahkan, aku baru pertama kali melihatnya memohon agar bebas. Karenamu, mungkin..”

Setelah merasa yakin, Kibum bangkit. “Aku mengandalkanmu, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun hanya mengangguk dalam ketidaksadarannya. “Tunggulah, paling lama hingga minggu depan..”

“Kusarankan, bawa dia ke rumah sakit untuk mengetahui detail penyakitnya.”

“Jangan berbohong!”

“Aku tidak berbohong! Dia sakit!”

Kibum tak ingin merusak hal indah di detiknya saat ini. Bergandengan tangan bersama Donghae, kembali menuju kediaman mereka. Bahkan pintu yang pernah menjadi saksi perpisahan mereka dulu kini kembali menyaksikan sang pemiliknya pulang dengan senyuman.

“Kau merindukannya?”

Donghae mengangguk. Ia menatap kediamannya yang begitu ia rindukan. Matanya berbinar dan langkahnya terkesan terburu-buru untuk menapaki lantai depan rumahnya. Namun belum sempat ia berjalan, Kibum menarik lengannya. Menahan tubuhnya untuk pergi dan..

Satu kecupan kecil terjadi di antara mereka. Donghae tersenyum dengan rona di wajahnya. Namun itu tak membuatnya untuk merasa malu yang berkepanjangan. Karena Donghae selalu menyukai, jika Kibum mencuri satu kecupan di bibir mungilnya. Ia telah terbiasa, meski entah kapan terakhir kali hal itu terjadi. Sudah lama dan Donghae benar-benar merindukannya.

“Ya. Aku merindukannya. Aku merindukan rumah ini, dan juga sangat merindukanmu, Kibumie..”

Kibum tersenyum. Ia suka gerik manja milik Donghae yang terbilang sederhana. Saat dimana Donghae menumpukan kedua tangan di bahunya. Saat dimana dirinya harus menyambutnya, dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Donghae. Dan juga saat dimana Donghae mempertemukan wajah mereka. Mempersempit jarak di antara wajahnya dengan wajah rupawan milik Donghae. Mata mereka bertemu, hingga mata Donghae terpejam disaat kening dan ujung hidung mereka bersentuhan. Donghae, lalu mencium bibirnya mesra meski hanya beberapa detik saja.

“Ciuman selamat datang, hm?” bisik Kibum kemudian. Sekali lagi ia kecup singkat bibir Donghae. Setelahnya ia menarik diri dari pelukan tersebut. Ia genggam kembali tangan Donghae dan menuntunnya menuju kediaman mereka. Sesungguhnya, hari itu adalah hari dimana Donghae terlepas dari hukumannya, dari jeruji besi yang telah lama mengurungnya. Apakah semudah itu hukuman terselesaikan?

Tidak. Tentu saja tidak. Berterima kasihlah mereka kepada seorang Cho Kyuhyun yang telah berusaha untuk melepaskan  Donghae dari hukumannya. Dengan segala alasan atas keadaan fisik Donghae, tentu bersamaan dengan kekuatan dari kekuasaan sang ayah yang dia pertaruhkan. Tak mengapa, karena Kyuhyun mengatakan semua karena Tuhan. Ini takdir Donghae..

Sret.

Donghae menatap Kibum dengan sedikit gugup sambil menutup kembali tubuhnya dengan kemejanya yang masih melekat, namun semua kancingnya telah dilepas Kibum baru saja. “A- apa yang kau lakukan?” tanya Donghae gugup, dan nampak sedikit takut.

Kibum diam, mencoba berfikir akan ekspresi terkejut yang nampak di wajah Donghae. Ada keanehan yang terjadi disana. Kibum masih ingat beberapa menit lalu Donghae kesulitan untuk membuka satu kancing saja pada kemejanya. Ia hanya membantu, dan reaksi Donghae? Membuat Kibum cemas seketika.

Segera Kibum tutupi cemas itu dengan senyumnya sendiri. Ia tersenyum dan mengecup kening Donghae sambil mengusap sayang lengan Donghae. “Maaf, aku tak bermaksud apapun, Hae. Bukankah kau akan mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat di dalam. Mandilah..” titah Kibum sambil membimbing Donghae menuju kamar mandi.

Kibum biarkan Donghae melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan ia bergegas mengambil handuk. Mungkin beberapa menit ia berlalu, hingga mendapati Donghae telah berendam di dalam air hangat ketika ia datang kembali. Ia tersenyum dan menyandarkan dirinya di mulut pintu dengan handuk yang melingkar di lehernya.

Separuh tubuh Donghae terendam air. Ia nampak menekuk kedua kakinya disana. Namun Donghae hanya merundukan wajahnya pada genangan air itu. Seperti memandang riak air yang ditimbulkan oleh tubuhnya sendiri. Tidak melakukan apapun. Hanya terdiam membuat Kibum menarik langkahnya untuk mendekat.

“Apa yang kau pikirkan?”

Donghae menoleh ke samping kanannya. Ia tumpukan kepalanya dalam posisi menyamping pada lutut yang masih ia tekuk. Dia tak menjawab dan hanya menorehkan senyuman tipis di bibirnya pada Kibum.

Kibum membalas. Setelah berhasil mendekat, ia berjongkok di samping bathub yang kini dihuni Donghae. Dalam tatapan yang seolah tak mampu melepas wajah Donghae dari pandangannya, Kibum mengikutsertakan jemarinya agar menyentuh air hangat disana. Ia lalu mengusap satu sisi wajah Donghae dengan tangannya tersebut yang kini telah basah. Mungkin ia membantu Donghae untuk membasuh wajahnya.

“Tak ingin menjawabku?” tanya Kibum lagi di sela kegiatannya. Ia basahi wajah Donghae dengan air dari telapak tangannya dengan lembut, perlahan dan terus menyeka wajah itu.

“Aku hanya merasa nyaman,” jawab Donghae dengan bisikannya, dan terdengar begitu lemah tak bertenaga.

Kibum mendalami sorot mata Donghae. Sesungguhnya ia kehilangan sinar hidup dari kedua mata itu. Kibum kehilangan Donghae yang ceria seperti biasanya. Kibum tak mendengar lagi nada semangat dari kalimat-kalimat Donghae hingga detik tersebut. Sejenak ia mengingat kembali pesan-pesan Kyuhyun padanya..

“Dia sakit, Kim Kibum! Aku tak akan menggatakan sakit apa, sebaiknya kau mencari tahu sendiri. Kau antar dia ke rumah sakit, jika perlu hubungi saja dokter yang kemarin menanganinya sewaktu di dalam sel..”

‘Benarkah?!’ batin Kibum tiba-tiba. Kibum sadar, saat dimana dirinya tengah membasuh punggung Donghae. Mengusapnya perlahan dan sangat lembut. Dapat terasa, sebagaimana kurusnya Donghae kala itu.

“Lalu apa yang sekarang sedang kau pikirkan, Kibumie?” Donghae balik bertanya.

“Aku hanya sedang mengingat, seberapa besar cintaku padamu, Hae..”

“Apa sekarang cintamu padaku berkurang?” Donghae balik bertanya.

Kembali Kibum tersenyum. “Tidak sama sekali!” tuturnya yakin, membuat bibir Donghae melengkung indah. Donghae yang lalu sedikit merubah posisinya. Kedua tangan mencengkram erat sisi bathub dan wajahnya mendongak, hingga bibir basahnya menyentuh permukaan wajah Kibum yang telah begitu dekat sejak tadi.

Saranghae, Kibumie..”

Jelas Kibum tak tahan untuk segera menyetujui ungkapan tersebut. Meski hanya sebatas anggukan singkat. Namun tatapan dalam miliknya, ia yakin Donghae akan mampu mendapatkan nilai cintanya disana. Begitu besar. Kibum lingkupi kedua sisi wajah Donghae dengan telapak tangannya. Terus ditatapnya Donghae dengan penuh haru.

Sayang sekali, karena di detik berikutnya setitik darah dengan jelas dapat Kibum lihat, keluar dari salah satu hidung Donghae. Menetes dan bergabung dengan air hangat disana. Sesungguhnya Kibum merasa jantungnya berdebar kencang saat itu. Namun ia berusaha untuk tenang. Ia berusaha untuk mengusap darah itu dengan jemarinya. “Kita ke rumah sakit besok, ya?” ucapnya sambil menutupi cemasnya sendiri.

Donghae nampak pasrah dalam usapan lembut Kibum di wajahnya. Ia memejamkan kedua matanya cukup lama. Sesungguhnya iapun merasakan aliran darah itu, sehingga kegiatan mandi yang dirasanya nyaman itu terhenti saat itu juga.

Beberapa hari kemudian..

Donghae dan Kibum hanya saling diam. Mereka terduduk di sebuah kursi tunggu di rumah sakit. Tidak seperti biasanya, dimana mereka akan berbagi kehangatan dalam setiap gerak tubuh mereka, kini mereka bungkam seperti enggan bergerak sekalipun. Hanya ada suara gerak langkah dari orang-orang yang berada disana. Juga ada Kibum yang terus saja menggenggam lembaran yang mana itu, adalah sebuah hasil kesehatan milik Donghae yang baru mereka dapatkan.

Diam dalam lamunan masing-masing. Tenggelam dalam pikiran dan banyangan satu sama lain, hingga bahkan menghabiskan berpuluh menit..

“Bumie..” panggil Donghae tiba-tiba, meski sorot matanya masih saja nampak kosong.

“Hm?” balas Kibum.

Donghae menoleh dengan senyum getir di bibirnya. Ia tatap Kibum dengan sendu di matanya. “Tinggalkan saja aku.”

Kibum dapat mengerti dan hanya mengulas senyumnya. “Mengapa kau berharap aku pergi, Hae? Aku tak ingin pergi darimu..”

Desahan pelan keluar dari bibir Donghae, menyiratkan bahwa dirinya benar-benar lelah dan merasa penat dengan semua yang ada. “Aku tak ingin selalu membayangimu. Keadaanku sungguh tidaklah menyenangkan!” candanya kemudian. “Aku akan menyulitkanmu, aku..”

Grep.

Segera Kibum memeluk tubuh Donghae di sampingnya. Ia dekap erat tubuh Donghae dengan kehangatan dan kelembutan disetiap gerakannya. “Kau bicara apa, huh?!” dengus Kibum. “Itu tidak mungkin! Aku tak akan pernah pergi apapun yang terjadi padamu. Tidak akan..”

Donghae hanya mampu menahan isakan tangisnya meski air matanya telah lolos dari kedua matanya. Mengalir dan membentuk jejak di pipinya. Bibirnya bergetar menahan sakitnya. “Tapi aku akan melupakan semuanya, Kibumie.. aku akan melupakanmu! Aku akan menyakitimu!” isaknya.

Dan balasan Kibum? “tak mengapa..” sambil mengulum sebuah senyum tulus di bibirnya. “Akan lebih baik jika kita selalu bersama..”

“Kibumie!” isak Donghae. Ia mengerang karena tangisnya. Ia terisak sambil meremas permukaan baju Kibum, pertanda bahwa dirinya tengah benar-benar terpukul dengan keadaannya sendiri.

“Donghae-shi benar-benar mengidap penyakit tersebut. Alzheimer, adalah suatu keadaan dimana sel-sel otak yang ada di otak perlahan mati. Ini berkaitan dengan ingatan, penilaian dan juga cara berfikir yang nantinya akan sulit dilakukan olehnya. Ia akan semakin kesulitan untuk bekerja ataupun melakukan kegiatannya sehari-sehari. Termasuk daya ingat. Ia akan melupakan semua ingatannya dimulai dari ingatan yang paling baru..”

Semakin Donghae mencengkram baju Kibum. Matanya terpejam erat dengan nafasnya yang memburu. Padahal Kibum tengah membisikannya kata-kata penyemangat saat ini. Namun itu tidak berhasil, mengingat Donghae hanya menggeleng putus asa dan mulai menangis lebih jelas.

“Aku tidak mau! Aku tidak ingin melupakan segalanya! Aku tak ingin melupakanmu, Kibumie..!!”

Donghae terduduk seorang diri setelah tangisnya usai, meski jejak tangis itu masih nampak jelas. Ia duduk seorang diri setelah Kibum meninggalkannya karena harus membeli minuman untuknya. Beruntung ia masih ingat Kibum berkata..

“Aku hanya sebentar! Kau disini dan jangan pergi kemanapun!”

Sehingga Donghae tetap berada di tempatnya. Awalnya, ia memang diam. Terduduk rapih di kursi yang sama seperti semula. Namun, seketika beberapa orang dalam jumlah cukup banyak berdatangan. Mereka menangis, sedikit berteriak dan berjalan panik mengikuti sebuah ranjang dorong yang tengah dihuni oleh seseorang yang seperti tengah meregang nyawa disana. Dan Donghae menegang.

Dalam sekali hentakan Donghae berdiri dengan tegang. Matanya bergerak-gerak menatap takut pada keadaan mencekam yang tengah terjadi di depan matanya. Nafasnya memburu. Bola matanya bergerak gelisah mencari sosok Kibum dengan segera, karena bibirnya terus menggumamkan nama Kibum.

Panik. Donghae nampak sangat panik dan jengah dengan ribut-ribut yang ada. Perlahan kakinya mulai melangkah meninggalkan tempatnya semula.

“Kau dimana?!” resah Donghae sambil terus mencari sosok Kibum.

Kakinya terus melangkah jauh dari tempat yang ia janjikan pada Kibum untuk tetap berada disana. Namun Donghae nampak linglung dan tak memiliki cukup ingatan untuk kembali pada tempatnya semula. Ia nampak ketakutan dalam tiap langkahnya.

Rumah sakit tersebut cukup luas membuat Donghae kelelahan dan pasrah pada akhirnya. Setelah lelah mencari, ia pergi menjauh dari gedung rumah sakit tersebut. Entahlah. Tatapannya begitu kosong, atau mungkin saja iapun telah melupakan janjinya pada Kibum untuk tetap menunggu.

Langkahnya begitu gontai. Ia tapaki jalanan yang entah dimana itu. Sejenak ia meragu. Ia berada dimana? Mengapa bisa berada di tempatnya kini? Dan kemana ia harus pulang? Semua tergambar dari tatapan matanya sendiri.

“Maaf, apakah anda sempat melihat orang ini?”

Kibum tak kalah panik. Setelah mendapati Donghae tak berada di tempatnya semula, Kibum sudah mampu mengira keadaan buruk yang tengah terjadi. Kemana Donghae pergi? Bahkan Kibum tahu Donghae tak membawa ponselnya. Lalu kemana Kibum harus mencari?

Beruntung Kibum menyimpan foto Donghae di dalam dompetnya. Ia tanyakan keberadaan Donghae pada seluruh penghuni rumah sakit jika dikatakan sedikit berlebihan. Ia tanyakan keberadaan Donghae sambil menunjukan ukiran wajah pada foto yang kini dalam genggamannya.

Tak banyak yang melihat, namun seorang petugas keamanan rumah sakit tersebut mengatakan ia melihat Donghae telah meninggalkan gedung rumah sakit. Maka Kibum merasakan dentuman jantungnya semakin berdentum hebat. Ia ingat perkataan seorang dokter yang memberinya penjelasan mengenai penyakit sial itu!

“Bahkan suatu saat nanti, ia akan sering bingung hingga lupa jalan pulang..”

Kibum melangkah dalam cemasnya dengan agak cepat. Ia mengitari sekitaran rumah sakit dengan mobilnya berharap akan dapat menemukan Donghae. Namun semua menjadi sia-sia kala sosok Donghae tak kunjung ia temukan. Ia menjadi menggeram menahan kesalnya dengan cemas yang memuncak memenuhi kepalanya.

Gelap.

Hari sudahlah gelap termakan malam dan Kibum menapakan langkahnya dengan tenaga yang tersisa. Ia lemas dan cemas karena belum menemukan Donghae. Polisipun sudah ia hubungi untuk turut membantunya mencari Donghae. Dia berniat untuk pulang sejenak, namun..

Kibum diam. Nafasnya seolah berhenti saat itu juga. Matanya tertuju pada satu titik, dimana itu adalah pada dia yang kini berada tepat di depan gerbang rumahnya. Dia yang tengah berjongkok memeluk tubuhnya sendiri disana. Tiba-tiba Kibum sedikit mempercepat langkahnya. Kibum bahkan menarik keras nafasnya seolah panik. Tangannya terulur untuk membuka jaket yang tengah dikenakannya.

Maka setelah dapat meraih sosok itu, Kibum segera melingkarkan jaketnya pada tubuh tersebut. Lalu tanpa segan Kibum meraih tubuh itu dan memeluknya. “Sedang apa kau disini?” lirihnya kemudian. “Hae?”

Donghae bergerak dalam pelukan Kibum. “Aku tidak tahu,” jawabnya kebingungan. “Apa kau yang mengunci rumah, Kibumie?”

Kibum menghembuskan nafasnya. Terasa lantunan pedih dari hembusan nafas tersebut. Ia bersedih untuk Donghae yang saat ini dalam kebingungan. Ini sedikit tidak baik, meski Kibum tetap harus sedikit bernafas lega. Karena Donghae ditemukan. Karena Donghae masih mengingat dirinya, meski dia tak mengingat apa yang baru saja terjadi. Maka Kibum memilih untuk tidak membahasnya.

Sejenak Kibum menggosok-gosokan telapak tangannya di punggung Donghae. “Dingin?” tanyanya. Tangannya beralih untuk mengusap wajah Donghae yang terasa dingin di kulitnya. “Maaf karena aku membawa kuncinya..” sesal Kibum. Ia bawa Donghae segera untuk memasuki kediaman mereka.

Lagi dan lagi Kibum harus berputus asa. Ia harus berusaha untuk menekan cemasnya kala di ambang pintu rumah mereka, darah segar mengalir dari hidung Donghae. Segera dihidupkannya seluruh lampu di rumah, lalu dibawanya Donghae masuk ke dalam.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kibum dengan nada panik yang akhirnya tak mampu dibendungnya. Donghae tak menjawab. Ia hanya berusaha menyeka darah yang dengan derasnya mengalir di sekitar hidungnya, bahkan mulai menetes membasahi dagunya.

Kibum bergerak cepat. Ia lalu membawa Donghae menuju kamar mandi, membuat darah Donghae menetes di beberapa bagian lantai menuju kamar mandi mereka. Darahnya mengalir deras meski akhirnya berhenti di beberapa menit kemudian. Kibum membersihkan wajah Donghae dari darah, lalu membawa Donghae untuk terduduk sejenak di kursi dekat kamar mandi. “Tunggulah..” titah Kibum.

Donghae hanya menurut. Selebihnya ia dapat menyaksikan, bagaimana saat Kibum melipat bagian bawah celananya. Bagaimana Kibum mendorong sebuah lap pel dengan kakinya untuk membersihkan darah yang berceceran di sekitar lantai rumah mereka. Ada pancaran hangat yang terpancar dari kedua mata Donghae saat melihat Kibumnya seperti demikian.

Maka tak lagi menunggu. Donghae bangkit dari duduknya. Ia dapat melihat punggung Kibum yang tegap itu dengan jelas. Donghae menapakkan kakinya untuk mendekati Kibum, lalu dipeluknya perlahan tubuh Kibum. Menyatukan dadanya, dimana detak jantungnya berada dengan punggung hangat milik Kibum.

Kibum dengan seketika menghentikan kegiatannya. Ia sedikit tersenyum saat terasa Donghae yang semakin memeluk tubuhnya. “Kenapa?” tanyanya kemudian.

“Hanya merindukanmu, apa tak boleh?” bisik Donghae.

Segera Kibum membalik tubuhnya. Ia lalu mendekap tubuh ringkih Donghae sambil mengusap helaian rambut Donghae dengan salah satu tangannya. “Apa sangat rindu?” godanya, dan dapat dirasanya Donghae mengangguk di dadanya.

Donghae lalu mendongak, dan juga berjinjit untuk mendekatkan wajah mereka, hingga menghilanglah sudah jarak di antara dua wajah rupawan itu. Kedua mulut yang lalu melekat dengan tepat, meski singkat. Singkat karena Donghae sibuk merenggut setelahnya. “Kenapa?” tanyanya heran karena Kibum tak menyahut gerak tubuhnya baru saja.

“Apa kau tak merindukanku?”

Kibum mengulum senyumnya. Ia beri kecupan cepat di bibir Donghae untuk meredam keluhan Donghae. Ia lalu beralih untuk mengecup kening Donghae, dan lalu kembali mengecap bibir Donghae. Satu ciuman berdasar rindu yang begitu dalam, sedalam bibir Kibum yang tenggelam dalam kehangatan di bibir Donghae.

Kedua tubuh itu merapat sudah, dan tangan Kibum salah satu pelakunya. Begitu erat mendorong punggung Donghae agar tubuh itu lebih merapat padanya. Satu kata rindu yang tak mampu Kibum ucapkan dan hanya mampu ia buktikan.

“Mh..”

Terdengar desahan pelan dari bibir Donghae. Bibirnya sibuk terjamah bibir Kibum. Begitu rapat dan dalam bibir Kibum menciumnya, dan juga tak henti mengulumnya hingga terasa licin.

Tangan Kibum bergerak di punggung Donghae, merangkak hingga belakang kepala Donghae, menekan bagian itu hingga wajah Donghae semakin dekat dan bibir itu semakin dalam dijamahnya dalam pergerakan kepala yang kerap menjadi cepat.

Satu tangan Donghae meremas bagian depan kaus Kibum, sedangkan tangan lain bertumpu pada bahu Kibum. Mendadak Donghae menjadi lemas merasakan betapa hebat ciuman Kibum. Selalu. Satu sentuhan yang begitu Donghae rindukan dari Kibum.

Terus dan lama peraduan bibir itu berlangsung. Menciptakan decakan basah berikut basah yang nyata di antara bibir dan juga memenuhi dagu mereka. Kedua mata saling memejam meski kedua kaki mereka tidaklah tidur. Bergerak tak sabar untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Bergerak hingga menuju ruangan tidur, dan..

Brak.

Kibum mendorong Donghae di pintu. Ia mencari lima jemari Donghae, untuk kemudian meremas jemari-jemari itu dengan jemari miliknya. Menyalurkan sebagaimana indahnya apa yang terjadi kini. Ciuman yang tiada henti berikut dengan pergerakan kaki mereka, hingga..

Bruk.

Kibum telah sampai membawa Donghae di dalam kamar dan lalu mendorong pelan tubuh Donghae pada lemari pakaian mereka. Kali ini jemarinya ia gunakan untuk membuka satu persatu kancing milik Donghae. Perlahan tapi pasti, Kibum sibakan kemeja milik Donghae, hingga nampaklah kulit pucat itu.

Kibum tak lelah untuk bergerak. Ia lumat bibir Donghae dengan gemas, lalu turun untuk melumat penuh dagu Donghae, membuat Donghae mengerang sambil memejamkan erat kedua matanya. Ia lalu turunkan bibirnya untuk menyentuh seluruh bagian leher Donghae. Melumat dan menjilat bagian itu dengan gemas.

Kibum benar-benar membuat Donghae dirundung nikmatnya hingga melupakan apapun. Tak Donghae sadari bahwa kala itu satu tangan Kibum tengah membuka pintu lain dari lemari tersebut, lalu meraih satu helai pakaian dari dalam sana. Maka setelah di dapatnya, Kibum kembali mencium kecil bibir Donghae, bersamaan dengan tubuh Donghae yang tiba-tiba tertutup pakaian yang baru.

Huh?

Donghae terlihat bingung saat helaian kain yang dingin itu menyentuh kulitnya bersamaan dengan ciuman Kibum yang berhenti seketika, meninggalkan hembusan nafas Donghae yang masih terlihat cepat dan sedikit tersengal. Ia tatap kedua mata Kibum.

Kibum hanya tersenyum simpul. Ia usap dagu Donghae yang terlihat sedikit basah. “Maaf, kau harus istirahat, sayang..” ucap Kibum. Ia bantu Donghae memakai piyamanya kemudian dalam diam, melupakan apa yang baru saja mereka lakukan, juga meninggalkan raut bingung di wajah Donghae.

Yang ada adalah, Kibum yang kemudian mendorong tubuh Donghae menuju ranjang dan membaringkan Donghae disana. Menyelimuti Donghae kemudian dan lalu mengecup kening Donghae sekilas. “Tidurlah..” titahnya.

Tiba di hari berikutnya..

Kali ini Donghae tengah terduduk dengan kaki terangkat di atas kedua paha Kibum. Sesungguhnya Kibum tengah membantunya memotong kuku di kakinya tersebut. Bahkan Donghae sempat merutuk sebal karena menggunakan sebuah catut saja ia sudah tak becus.

“A- agh! Jangan terlalu dalam, Kibumie. Sakit!” rintih Donghae saat dirasanya Kibum terlalu dalam memotong kuku di kakinya tersebut.

“Begitukah? Maaf,” ucap Kibum dan lalu berganti untuk memotong kuku yang lainnya. Ia begitu tekun dan menjadi terlalu tekun, hingga tersadar saat Donghae terbatuk-batuk kecil. Batuk kecil yang sepertinya tidak berhenti dalam waktu dekat. Kibum menjadi sedikit resah. “Kuambilkan minum ya?”

Donghae menggeleng. Ia menurunkan kedua kakinya dari kaki Kibum dan berniat untuk mengambil minumnya sendiri.

Sedang Kibum mengamati. Ia lihat Donghae yang berjalan dengan sedikit bingung. Donghae yang malah masuk ke dalam kamar mereka, dan lalu keluar sambil mendesah kecil. Terus Kibum amati, hingga Donghae berjalan ke arah dapur, lalu kembali lagi dengan tangan kosong dan membuka- menutup- membuka dan menutup lagi kulkas. Kibum mengerti dan lalu mencoba untuk mendekati Donghae.

“Sebenarnya apa yang kau cari?”

Donghae  menatap bingung. “Gelasnya dimana?” ucapnya benar-benar terlihat kebingungan.

Kibum mencoba untuk tersenyum. Ia raih tangan Donghae dan menarik Donghae untuk duduk kembali di ruang tengah. “Kau duduk saja, biar ku ambilkan,” putus Kibum. Ia bergegas memasuki dapur untuk mengambil gelas, meninggalkan Donghae seorang diri.

Kibumpun mengabaikan suara bel pintu rumah mereka karena seorang tamu sepertinya akan berkunjung. Berujung Donghae yang membukakan pintu. Dengan senyum lembut Donghae menyambut sang tamu. Dengan mantap ia menatap tamunya, meski wajahnya tak menunjukkan bahwa ia mengenal tamunya tersebut. “Siapa? Ada yang bisa saya bantu?” ucap Donghae. “Ah! Atau kau mencari Kibum?” tebak Donghae. Ia yang lalu membuka pintunya cukup lebar untuk membiarkan tamunya masuk.

“Kau teman Kibumie? Silahkan masuk..”

Sosok itu hanya terdiam, terpaku pada apa yang terjadi. Hanya menatap sendu ke arah Donghae dan enggan melangkah.

TBC

Selesai untuk chapter terberat yang saya tulis dari sekian banyak sejarah saya nulis fict satu ini!! :’)) semoga tak begitu banyak typo, semoga tak membuat kecewa meski saya rasa cerita satu ini sangat sedih!!

Sampai bertemu di ‘Deep Affection” chapter selanjutnya.. :)))

24 thoughts on “DEEP AFFECTION [7]

    nia na yesung said:
    November 11, 2013 pukul 6:08 pm

    Jujur Pas Pertama baca sempet Nahan Nafas, Saking Tegang.a #Lebay
    tp akhit.a bs baca Sampe akhir hehehe

    ngebayangin gimn rasa.a suatu saat nanti saya akan dilupain oleh orang yang saya cintai NO
    Tidak Mau, Kasian Kibum Klo Kya g2 Mah

    Please satu Permintaan q Jangan Buat Hae Meninggal Ya😥
    Aku Seneng Bgt Deep Udah Update tp Sedih Jg Bacanya
    Jadi Kepikiran Kelanjutan.a😥
    Aku Pikin ini Chap Terakhir Untung Bukan :3 hehehe

    Yang Bertamu Kerumah.a Hae, Si Kyu Bukan ??
    Kaya.a mah Si Kyu Ya ?

    Aku tunggu Kelanjutan.a aja ya
    Tp Jgn Lama” Aku bs Gilaa nunggu.a heheh .. #Lebay Lagi -_-
    Gomawo Udah Update
    FIGHTING !!^^

    dewiikibum said:
    November 11, 2013 pukul 11:11 pm

    sebenernya aku mau protes.. tapi udah dilarang protes dluan sebelum baca sama kak minah.. hhehee

    haee.. kasian bgd sih kamu.. huee.. jangan jauh jauh dari kibum yah..

    itu siapa yg dateng, atau jangan jangan mantan istrinya yg dateng….

    ANa MariNa Chaniaggo said:
    November 11, 2013 pukul 11:19 pm

    oeni,,,bacanya degan nafas tersendat sendat -lebay
    hanya stu permintaan q jangan buat donghae MATI,kau boleh menyiksanya
    tapi jngan kau bunuh,,cukup di ff lain kau buat mati eoh
    tapi disini jangann,,,,tak kasihan kahh hee
    keep writing ,,,,gomawo..

    rini11888 said:
    November 12, 2013 pukul 3:25 am

    Kasian kyunie…..mg donghae ndk kau bnuh y chingu hehehe…

    Tsafa Fishy said:
    November 12, 2013 pukul 4:47 am

    Chapter ini sedih bgt,, hae udah keluar dr penjara tapi dia skrang sakit hiks…hiks.. Penderitaannya ga berhenti2 mudah2an haenya ga meninggal… Kasian KiHae dr pertama bnyk rintangan.. Itu yg bertamu siapa? Kyuhyun yah??

    Lanjutannya ditunggu ^^

    dydy said:
    November 12, 2013 pukul 9:24 am

    Aaaaaaaaa~
    itu penyakit Donge tambah parah aja..
    kasian Hae, Kyu jg kasian..
    itu penyakit bisa sembuh gak sih?
    lanjut aja deh

    auhaehae said:
    November 12, 2013 pukul 9:39 am

    sediiihhh di bagian ini😥
    knp dongjae jdi gini??
    huweeee gak kebayang klo donghae lupain kibum😦
    kibum jaga donghae nya ya :))

    Amylatul R said:
    November 12, 2013 pukul 12:05 pm

    siapa i2 kira2 yg datng,kyuhyun atau jaejoong,,,?ksihan bnget klau yg dtng i2 kyu,semudah itukah Hae mlupkan kyu,pdhal selma ini yg ngrwat Hae di pnjra kan kyu,,,
    apa nntinya Hae mati jga di ff ini,,???eonni ska bget sich nyiksa Hae,,,

    ida elfishy said:
    November 12, 2013 pukul 1:41 pm

    Donghae,,bertehanlah.
    Spa ja yg tau obat dari penyakitnya donghae,tlong segera ksih tau ke author.,,
    biar hae qu bsa sgra smbuh.

    casanova indah said:
    November 12, 2013 pukul 1:43 pm

    ahh.. syukurlah kibum akhir’a bisa nemuin Donghae..
    tapi kasian amat tuh si Kyuhyun, udah nolongin, cinta bertepuk sbelah
    tangan masih dapat bogem mentah lg dr kibum…
    tapi untunge Kyuhyun ga dendam, jd masih mau bantu kibum buat ngeluarin Hae
    dr penjara..
    Mewek, liat babyHAE udah pikun bin linglung kaya gitu..
    semoga aja dia ga ngelupain kibum selama’a..
    tambah pikun, alamat udah ga ada romantis2an ala Kihae dong.
    Tapi Hae ga akan mati kan???

    lifelocked said:
    November 12, 2013 pukul 1:58 pm

    Kyuhyun kan? Itu pasti kyuhyun yg dtg??!!

    Ugh.. Eonn… Tiap paragraf nya bikin narik napes :3

    dan… Kalimat paling akhir itu… yg ‘enggan mlangkah’ Menurutku adalah kalimat
    terklimaks di chap ini… Feelnya dapet… Seolah yg ngetuk pintu itu aku :3

    ndah951231 said:
    November 13, 2013 pukul 1:30 am

    demi apa part yg ini nyesek banget😥
    Hae tambah lemah dan ingatannya juga semakin berkurang..😥

    eonni, ini daebakkk
    beda banget dari FF-mu yg sebelum2nya..
    ini yg paling nyiksa hati, lebih mending baca yg tersiksa secara fisik lhoo :’D

    itu kyu yg dateng yaa??
    sedih banget kalo kyu jg sampai terlupakan😥
    ohya eon,, kapan minho muncul lagi?😄

    nieacloudsyewon said:
    November 13, 2013 pukul 3:15 am

    Biasany klo yg skt alzheimer itu mati …
    Tp mudah” ada keajaiban dr author supaya Hae ga mati dan kihae bs bersatu …. amin ::>_<::

    Elfishyhae said:
    November 13, 2013 pukul 6:32 am

    Jangan jangan. . . Yg datang? ?

    suhae1005 said:
    November 13, 2013 pukul 11:03 am

    Jangan buat hae mati eonni.. ku mohon .. betapa hancur hati kibum dan hatiku jika kau menuliskan hal terburuk untuk donghae.
    Buat mereka bersama, selalu dan selamanya… buat mereka menikah dan mempunyai anak ^^ ya, ya, ya …

    yolyol said:
    November 13, 2013 pukul 2:46 pm

    kyuhyun!!!

    jgn blg itu kyuhyun yg dtg,ya kan??
    dan donghae melupkannya T.T

    onde…knpa naseb hae semiris ini,pendritaannya tiada berkesudahan.aku bsa bayangkan apa jdnya kibum klu donghae—errr…euung…eumm…ka–kalau Ha–Hae me-meninggal!

    Oh G!! *siapintissuesatutruk

    donghaeelfishynemo said:
    November 14, 2013 pukul 2:24 am

    Daebak sagon buat ffnya..
    Jgn buat donghae mati yaa..

    Gomawo dah update,
    Lanjut jgn lma2 yaa,fighting”

    KimKeyNa said:
    November 14, 2013 pukul 3:58 am

    Wahh,sedih banget,itu tamunya Kyu ya?kasian Hae,untung dia punya Kibum yang sayang banget,ditunggu next chap eon,

    shin Y said:
    November 14, 2013 pukul 11:27 pm

    ya aammpuuunnn,, donghaeKu… huhuhu,, knpa kau mnjdi bgni, bang,,, huhuhu.. sedih..

    yesungs101 said:
    Desember 7, 2013 pukul 2:40 pm

    i like it. keep writing unni-ya. ^^

    laila mubarok said:
    April 5, 2014 pukul 11:56 am

    ah eon kok sekarang kau demen bikin Haeku penyakitan sihh… uuuhhh… -3-

    Nelly Key Donghae said:
    Mei 3, 2014 pukul 5:00 am

    Demi apapun Hae jgn pnh lupakn Kibum.. jebal ~
    Apakah penyakit itu bisa disembuhkan eon ?? g ya ??😥
    Kau beruntung punya Kibum yg telaten merawatmu dan sllu menyayangimu,,,
    tamunya siapa ?? istrinya Kibum ?? Yunho ?? Kyu ??

    Rien ELFishy said:
    Juni 7, 2014 pukul 11:03 pm

    aigo~~ ini chap benar2, y? hae knp harus kena alzheimer~~ cinta kihae benar2 teruji… hm, itu yg dtg kyu, y? aduh, penasaran eon… ><

    ELFarida said:
    Juni 12, 2014 pukul 6:30 am

    Chap ini bner2 bkin hati remuk eon . . .donghae. . Please jngan lupakn kibumie . . .keren eon . .
    Chap slanjutny, ditnggu . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s